• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pasal 65, Ayat 2 menyebutkan bahwa

Hak Atas Lingkungan

1. Pasal 65, Ayat 2 menyebutkan bahwa

3. Atomic Energy Act sebagaimana diubah dalam tahun 1976 dan Federal Immission Control Act 1974 di Federasi Republik Jerman,

4. di Swiss terdapat ketentuan dalam Federal Atomic Energy Act sebagaimana diubah dalam tahun 1979.

Selain itu, di beberapa negara terdapat pula ketentuan mengenai peran serta masyarakat dalam prosedur perencanaan daerah, dalam kaitannya dengan perlindungan lingkungan. Peran serta itu antara lain pada Nature Protection Act 1976 Republik Federasi Jerman dan Swis Federal Act on Nature Protection 1966.

Begitu pentingnya keberadaan informasi yang akan disampaikan kepada masyarakat, maka dipandang perlu memperhatikan hal-hal mendasar, yaitu:

1. pemastian penerimaan informasi,

2. informasi tepat waktu (timely information), 3. informasi lengkap (comprehensive information),

4. informasi yang dapat dipahami (comprehensible information,) 5. informasi lintas-batas (transfrontier information).

Lothar Gundling mengemukakan beberapa dasar bagi peran serta masyarakat sebagai berikut:17

1. memberi informasi kepada pemerintah,

2. meningkatkan kesediaan masyarakat untuk menerima keputusan, 3. membantu perlindungan hukum,

4. mendemokratisasikan pengambilan keputusan.

Beberapa contoh konkret mengenai bentuk peran serta masyarakat dalam proses pengambilan keputusan administratif, antara lain:

1. analisis mengenai dampak lingkungan, 2. prosedur dan perencanaan perizinan, 3. pembuatan peraturan.

Pasal 65 Ayat 3 UUPPLH merumuskan bahwa: “Setiap orang berhak mengajukan usul dan/atau keberatan terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup.”

Berbagai aktivitas pengelolaan dan perlindungan lingkungan yang membuka pelibatan masyarakat dalam setiap prosesnya dapat dilihat dari beberapa ketentuan berikut:

17 Koesnadi Hardjasoemantri, ibid., h. 112

1. Pasal 25 Butir c UUPPLH yang menyangkut dokumen yang wajib dimuat dalam dokumen Amdal, antara lain mengenai saran masukan serta tanggapan masyarakat tehadap rencana usaha dan/atau kegiatan. Ini menjadi contoh baik adanya sinkronisasi kaidah hukum dalam UUPPLH ini,

2. Pasal 26 Ayat 1 menyatakan dokumen Amdal disusun oleh pemrakarsa dengan melibatkan masyarakat,

3. Pasal 26, Ayat 3 menyatakan pelibatan masyarakat harus dilakukan berdasarkan prinsip pemberian informasi yang transparan dan lengkap serta diberitahukan sebelum kegiatan dilaksanakan.

4. masyarakat berhak mengajukan keberatan terhadap dokumen Amdal (Pasal 26, Ayat 4).

Ketentuan Pasal 65 Ayat 4 UUPPLH menyebutkan: “Setiap orang berhak untuk berperan dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan.” Pasal 65 Ayat 5 menyebutkan pula bahwa: “Setiap orang berhak melakukan pengaduan akibat dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.”

Pasal ini selanjutnya dipertegas dalam Pasal 70 Ayat 2 tentang bentuk peran masyarakat yang salah satunya adalah berupa pengaduan. Proses pengaduan sebagai bentuk peran serta masyarakat terhadap dugaan adanya pencemaran dan/

atau perusakan lingkungan hidup, kemudian berkembang menjadi entry point bagi masyarakat untuk mengajukan langkah-langkah hukum lebih lanjut. Bentuk langkah-langkah hukum itu seperti:

1. hak untuk menggugat sebagaimana diatur dalam Pasal 91 Ayat 1 UUPPLH tentang hak gugat masyarakat bahwa masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan kelompok untuk kepentingan dirinya sendiri dan/atau untuk kepentingan masyarakat apabila mengalami kerugian akibat pencemaran dan/

atau kerusakan lingkungan hidup,

2. Pasal 92 UUPPLH tentang hak gugat organisasi lingkungan hidup, mengatur bahwa dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab perlindungan dan pengelolaan lingkungan, organisasi lingkungan hidup berhak mengajukan gugatan untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup. Meskipun demikian, berbeda halnya pada gugatan masyarakat, maka pada gugatan organisasi lingkungan ini hanya terbatas pada tuntutan untuk melakukan tindakan tertentu tanpa adanya tuntutan ganti rugi, kecuali biaya atau pengeluaran riil,

3. gugatan terhadap keputusan Tata Usaha Negara (Pasal 93 UUPPLH).

Pasal-pasal di atas menegaskan tentang hak bagi setiap orang untuk mengadukan dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.

Pengaduan dari masyarakat itu dapat menjadi sumber informasi penting bagi pemerintah dan pemerintah daerah, dan menggunakannya sebagai bahan untuk mengajukan gugatan ganti rugi dan tindakan tertentu terhadap usaha dan/atau kegiatan yang menyebabkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang mengakibatkan kerugian lingkungan hidup (Pasal 90 UUPPLH).

Secara khusus, Pasal 66 UUPPLH menegaskan bahwa: “Setiap orang yang memperjuangkan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat tidak dapat dituntut secara pidana, maupun digugat secara perdata.” Penjelasan pasal ini menyebutkan: “Ketentuan ini dimaksudkan untuk melindungi korban dan/

atau pelapor yang menempuh cara hukum akibat pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Perlindungan ini dimaksudkan untuk mencegah tindakan pembalasan dari terlapor melalui pemidanaan dan/atau gugatan perdata dengan tetap memperhatikan kemandirian peradilan.”

Ketentuan ini merupakan simbol perlindungan hukum, sekaligus wujud sikap akomodatif UUPPLH terhadap berbagai peran serta masyarakat selama ini.

Pasal 66 UUPPLH ingin melindungi masyarakat yang bermaksud memberikan informasi tentang tindakan-tindakan pencemaran dan perusakan lingkungan, tapi malah menjadi korban penegakan hukum yang tidak adil. Pasal 66 UUPPLH ini berlaku nondiskriminatif terhadap sikap kritis dan masukan masyarakat.

Perlindungan ini biasanya dilaksanakan melalui proses peradilan. Akan tetapi ada pula kemungkinan-kemungkinan lain, seperti hak untuk berperan serta dalam prosedur administratif atau untuk mengajukan ohonan banding kepada lembaga-lembaga administratif yang lebih tinggi.

Akses masyarakat terhadap pengambilan keputusan dan informasi sebagai procedural human rights merupakan prasyarat bagi perwujudan substantive human rights. Hak itu seperti hak atas pembangunan dan hak atas lingkungan yang sehat (termasuk hak untuk hidup dan hak untuk memiiki derajat kesehatan yang memadai). Hak peran serta masyarakat dan informasi (popular participation), sejak lama dijamin keberadaannya dalam instrumen internasional HAM, maupun perlindungan lingkungan.

Sifat dan syarat prinsipil ADS (atur diri sendiri), sebagai salah satu bentuk pendekatan dalam pengelolaan lingkungan, ialah ikut berperan sertanya masyarakat dalam pengambilan keputusan pengaturan dan pengawasan pengelolaan lingkungan hidup untuk menyadarkan masyarakat akan hak dan kewajibannya

ikut serta dalam pengambilan keputusan.18

Hak asasi tentang partisipasi rakyat dijamin dalam Pasal 21 Piagam HAM, hak informasi dalam Pasal 19 Piagam HAM, dan Pasal 19 Konvensi Hak-hak Sipil dan Politik. Kedua instrumen tersebut menjamin hak untuk menyatakan dan mengungkapkan pendapat, dan mendapatkan informasi melalui berbagai upaya dan cara tanpa mempertimbangkan batas negara.

Hak untuk bebas berkumpul (the right to freedom of association) dan hak untuk menyampaikan pendapat tanpa rasa takut (right to freedom of expression) merupakan hak asasi yang dijamin keberadaannya dalam Piagam HAM, maupun kovenan Hak-hak Sipil dan Politik. Hak-hak ini penting dijamin keberadaannya dalam mewujudkan hak berperan serta dalam pengelolaan lingkungan. Keterkaitan hak-hak tersebut sangat erat dengan hak masyarakat untuk berperan serta dalam pengelolaan lingkungan sebagai upaya mendapatkan hak atas lingkungan hidup yang baik, hak membangun dan hak mendapatkan derajat kesehatan yang memadai.

Kemerosotan mutu lingkungan mengancam hak hidup manusia (right to life). Right to life ini dijamin dalam Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (Pasal 4). Hal ini diperkuat dengan Pasal 9 Ayat 1 Undang- Undang No. 39 Tahun 1999 tentang HAM bahwa setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup, dan meningkatkan taraf kehidupannya. Dengan demikian, terjadinya degradasi lingkungan dapat mengakibatkan terjadinya pelanggaran HAM.19

Dengan demikian, secara normatif, UUPPLH sudah sejalan dengan atau mengadopsi Prinsip 10 Deklarasi Rio 1992, yang pada prinsipnya menekankan pentingnya demokratisasi dan peranserta masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup.

Menurut Siti Sundari Rangkuti, dengan hak atas lingkungan yang baik dan sehat, perlu dimengerti secara yuridis dan diwujudkan melalui saluran sarana hukum, sebagai upaya perlindungan hukum bagi warga masyarakat di bidang lingkungan hidup.20 Perlindungan hak asasi ini, misalnya, dapat dilaksanakan dalam bentuk hak untuk mengambil bagian dalam prosedur hukum administrasi, seperti peran serta (inspraak, public hearing) atau hak banding (beroep) terhadap

18 Otto Soemarwoto, Atur Diri Sendiri: Paradigma Baru Pengelolaan Lingkungan Hidup (Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 2004) h. 176.

19 Majda El Muhaj, Dimensi-dimensi HAM: Mengurai Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya (Rajawali Pers, Jakarta, 2008) h. 204.

20 Siti Sundari Rangkuti, Hukum Lingkungan dan Kebijaksanaan Lingkungan Nasional. (Airlangga University Press, Surabaya, 2005) h. 275.

penetapan administratif (keputusan tata usaha negara).

Pengaturan tentang keterlibatan masyarakat sebagai bagian elementer dari proses demokrasi lingkungan, dituangkan pada Pasal 70 UUPPLH, yang terdiri atas 3 ayat dan 8 butir. Antara lain mengatur hak yang sama bagi masyarakat untuk berperan aktif dan seluas-luasnya dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Ketentuan ini, secara implisit mengatur pula tentang hak pada masyarakat, yang pada hakikatnya tidak terlepas dari kaitannya dengan hak dari setiap orang.

Pasal 70 UUPPLH merefleksikan konsep demokrasi pada tataran yang luas dan menyeluruh, karena dalam banyak hal, masyarakat terkadang dibatasi peranannya (cenderung bersifat pasif dan formalitas belaka) dalam berbagai pengambilan keputusan, yang notabene untuk kepentingan masyarakat itu sendiri.

Mengkaji peran yang dapat dilakukan masyarakat berupa: pengawasan sosial, pemberian saran, pendapat, usul, keberatan, pengaduan, penyampaian informasi dan/atau laporan, secara substansial masih memerlukan pengaturan lebih lanjut agar tidak sekadar prosedural yuridis, tetapi dapat menyentuh makna substansial juridisnya. Selama ini peran serta masyarakat hanya dikenal dalam penyusunan Amdal. Jauh-jauh hari sudah pernah dipertegas oleh Mas Achmad Santosa21 bahwa hak-hak hukum (legal right) untuk masyarakat terlibat dalam proses pengambilan keputusan publik belum memadai. Penguatan demokrasi lingkungan melalui penguatan hak-hak masyarakat tersebut menjadi perlu dan penting untuk menjaga dan menghargai kearifan-kearifan lokal yang pluralistis.

Penguatan demokrasi lingkungan juga penting untuk menjaga kearifan lingkungan yang selama ini dipandang sebelah mata dalam pengambilan kebijakan lingkungan hidup. Pemberdayaan masyarakat dalam pengambilan keputusan demi kepentingan umum dan mendorong pemanfaatan setiap informasi lingkungan, diharapkan menjadi pilar penting dalam mewujudkan sustainable development.22

Pasal 70, Ayat 1 UUPPLH tentang peran masyarakat menyebutkan bahwa: “Masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan aktif dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.”

21 Mas Achmad Santosa, Good Governance & Hukum Lingkungan (Jakarta, 2001) h. 55.

22 Nomensen Sinamo, Hukum Lingkungan Indonesia (PT Pustaka Mandiri, Tangerang, 2010) h. 1

Bentuk-bentuk peran masyarakat dapat berupa:23 1. pengawasan sosial,

2. pemberian saran, pendapat, usul, keberatan, pengaduan, dan/atau, 3. penyampaian informasi dan/atau laporan

UUPPLH juga memuat ketentuan yang memberi hak kepada masyarakat untuk mengajukan gugatan perwakilan kelompok untuk kepentingannya sendiri dan/atau masyarakat apabila mengalami kerugian akibat pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.24 Selain hak gugat masyarakat, UUPPLH juga memberi hak gugat kepada organisasi lingkungan hidup untuk mengajukan gugatan untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup.25 Tetapi, hak gugat dibatasi hanya pada tuntutan untuk melakukan tindakan tertentu, tanpa adanya tuntutan ganti rugi, kecuali biaya atau pengeluaran riil.26

Secara implisit, Pasal 93 Ayat 1 UUPPLH sesungguhnya mengatur pula adanya hak atas lingkungan dalam bentuk gugatan administratif terhadap keputusan tata usaha negara yang terkait dengan izin lingkungan, yaitu dokumen Amdal, UKL-UPL, dan izin usaha/kegiatan. Adanya pengaturan tentang hak gugat masyarakat dan hak gugat organisasi lingkungan hidup dalam UUPPLH merupakan penjabaran dari semangat yang diusung oleh undang-undang tersebut, bahwa:27

“Penguatan demokrasi lingkungan melalui akses informasi, akses partisipasi, dan akses keadilan, serta penguatan hak-hak masyarakat dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.”

Dilihat dari sudut bentuk dan isinya, formulasi hak atas lngkungan bersifat hak asasi klasik karena menghendaki penguasa tidak campur tangan terhadap kebebasan individu untuk menikmati lingkungan hidupnya. Ditinjau dari bekerjanya, hak itu mengandung tuntutan yang bersifat hak asasi sosial, karena sekaligus diimbangi dengan kewajiban kepada pemerintah untuk menggariskan kebijaksanaan dan melakukan tindakan yang mendorong peningkatan upaya pelestarian kemampuan lingkungan hidup. Di samping itu, hak atas lingkungan

23 Pasal 70 Ayat 2 UUPPLH

24 Pasal 91 Ayat 1 UUPPLH

25 Pasal 92 Ayat 1 UUPPLH

26 Pasal 92 Ayat 2 UUPPLH

27 Penjelasan Umum butir (h) UUPPLH

hidup yang baik dan sehat harus pula diimbangi dengan kewajiban memelihara lingkungan hidup dan mencegah, serta menanggulangi kerusakan dan/atau pencemarannya.

Untuk menjamin terlaksananya hak asasi setiap orang, negara harus menjamin terpenuhinya hak setiap orang untuk memperoleh lingkungan hidup yang baik dan sehat. Sebagai hak setiap orang, tentunya secara bertimbal-balik pula mewajibkan semua orang untuk menghormati hak orang lain untuk memperoleh lingkungan yang baik dan sehat itu. Jadi, di satu sisi setiap orang berhak atas lingkungan yang baik dan sehat. Tetapi di sisi lain setiap orang juga wajib menjaga dan menghormati hak orang lain untuk mendapatkan dan menikmati lingkungan hdup yang baik dan sehat itu. Demikian pula bagi negara. Di satu sisi dibebani kewajiban tanggung jawab untuk menjamin lingkungan hidup yang baik dan sehat. Di sisi lain negara juga berhak menuntut setiap orang untuk menghormati hak orang lain. Apabila perlu, memaksa setiap orang untuk tidak merusak dan mencemari lingkungan hidup yang menjadi kepentingan bersama.

Deklarasi Rio berawal dari Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan (The United Nations Conference on Environment and Development) yang dilaksanakan di Rio de Janeiro, Brasil pada tanggal 3-14 Juni 1992. Deklarasi ini berisi 26 (dua puluh enam) prinsip yang mendasari perlindungan dan pemenuhan HAM atas lingkungan yang sehat dan bersih.

Hak atas lingkungan hidup yang sehat dan baik merupakan bagian tak terpisahkan dari eksistensi kemartabatan manusia. Harus dipahami munculnya pengakuan universal tentang hak atas lingkungan hidup menyiratkan pandangan yang maju terhadap pemenuhan HAM yang holistik dan integral. Dengan lingkungan hidup yang sehat, manusia dapat menikmati hak-hak dasar lainnya.

Dengan lingkungan hidup yang sehat, manusia bisa mencapai standar kehidupan yang layak.

Hak atas lingkungan hidup merupakan hak fundamental manusia. Hak itu melekat sebagai yang memperkuat konstruk kehidupan manusia. Hak atas lingkungan hidup yang bersih, menurut Tomuschat dalam bukunya Human Rights Between Idealism and Realism, termasuk dalam kategori generasi ketiga.28 Ada tiga jenis hak dalam kategori ini, yakni:

1. hak atas pembangunan (right to development), 2. hak atas perdamaian (rights to peace),

3. hak atas lingkungan hidup yang bersih (rights to a clean environment).

28 Majda El Muhaj, Op.Cit., h. 204

Ketiga hak-hak tersebut di atas tergolong dalam generasi ketiga HAM dan disebutnya sebagai hak solidaritas (solidarity rights). Kelebihan pengaturan HAM (termasuk hak atas lingkungan) dalam konstitusi memberikan jaminan yang sangat kuat,. Perubahan dan atau penghapusan satu pasal dalam konstitusi, seperti dalam ketatanegaraan Indonesia, mengalami proses yang sangat berat dan panjang.

Proses-proses itu antara lain melalui amandemen dan referendum, sedangkan kelemahannya karena sesuatu yang diatur dalam konstitusi hanya memuat aturan yang bersifat global.

Lebih dari itu, keterjaminan HAM dalam konstitusi dan peraturan perundang-undangan secara baik akan menjadi peluang besar bagi terwujudnya penegakan hukum dan HAM secara bertanggung jawab dan berkeadilan.29

29 Ibid., h. 71-72. Lihat juga pada penjelasan umum butir 2 paragraf 4 UUPPLH yang menyebutkan bahwa lingkungan hidup Indonesia harus dilindungi dan dikelola dengan baik berdasarkan asas tanggung jawab negara, asas keberlanjutan, dan asas keadilan.

Daftar Pustaka

Aspan, Zulkifli. (2012) Konstitusionalisasi Hak Atas Lingkungan dalam Perkembangan HAM di Indonesia. Ringkasan Disertasi, Fakultas Hukum Univ. Airlangga,Surabaya.

Asshiddiqie, Jimly. (2009) Green Constitution:Nuansa Hijau UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jakarta: Rajawali Press.

El Muhaj, Majda. (2008) Dimensi-dimensi HAM: Mengurai Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya. Jakarta: Rajawali Press.

Hardjasoemantri, Koesmadi. (2009) Hukum Tata Lingkungan, Edisi Kedelapan.

Cetakan ke-20. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Machmud, Syahrul. (2012) Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia. Yogyakarta:

Graha Ilmu.

Rahmadi, Takdir. (2011) Hukum Lingkungan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Rangkuti, Siti Sundari. (2005) Hukum Lingkungan dan Kebijaksanaan Lingkungan Nasional. Surabaya: Airlangga University Press.

Santosa, Mas Achmad. (2001) Good Governance & Hukum Lingkungan. Jakarta Soemarwoto, Otto. (2004) Atur Diri Sendiri: Paradigma Baru Pengelolaan

Lingkungan Hidup. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Lingkungan