• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pasal Dua: Definisi Ijtihad, Dan Tempat Ijtihad

Dalam dokumen Asrama Di Pondok Wanita (Halaman 117-126)

Al Imam As Sam’aniy الله همحر berkata: “Dan ijtihad itu adalah: mencurahkan kerja keras untuk mengeluarkan hukum-hukum dari dalil pendukungnya yang menunjukkan kepada hukum tadi dengan penelitian yang menyampaikan kepada hukum tadi. (“Qawathi’ul Adillah Fil Ushul”/karya As Sam’aniy/2/hal. 302).

Al Imam Az Zarkasyiy Asy Syafi’iy الله هللللمللللحر berkata:

Ijtihad secara bahasa adalah: wazan ifti’al dari jahd, yaitu:

kesulitan, dan juga kemampuan. Dan hal itu mengharuskan untuk istilah tadi (yaitu: ijtihad) dikhususkan dengan perkara yang di dalamnya ada kesulitan, agar perkara-perkara yang bersifat pasti dan diketahui secara pasti dari syariat ini, keluar (tidak termasuk) dari istilah tersebut, karena perkara yang bersifat pasti tadi tidaklah sulit untuk didapatkan. Dan tiada keraguan bahwasanya yang demikian itu termasuk dari hukum-hukum syariat.

Dan secara istilah, ijtihad adalah: mencurahkan kemampuan untuk meraih (mengetahui) suatu hukum syar’iy yang bersifat amaliy (pengamalan lahiriyyah, bukan aqidah –

pen), melalui jalan istimbath (mengambil faidah pemahaman dari dalil –pen).

Maka ucapan kami: “Mencurahkan” yaitu: di mana si pelaksananya (mujtahid –pen) merasakan kelemahan pada dirinya sendiri untuk menambah usaha pencarian, sehingga dia tidak terkena celaan yang diakibatkan oleh sikap kurang dalam pencarian.

Dan keluar dari istilah “Syar’iy” adalah: lughawiy, aqliy dan hissiy (yang bersifat bahasa Arab, akal dan indrawi), maka (orang yang menelusuri hukum-hukum yang terkait dengan tiga perkara ini) menurut para fuqaha tidak dinamakan sebagai mujtahid.

Demikian pula orang yang mencurahkan kemampuannya untuk meraih hukum syar’iy yang bersifat ilmiy (akidah, bukan amaliy –pen), (tidak dinamakan sebagai mujtahid –pen) sekalipun terkadang dinamakan sebagai mujtahid menurut para ahli kalam.

Dan kami hanyalah mengatakan “Melalui jalan istimbath”, agar keluarlah (tidak termasuklah -pen) dengan yang demikian itu: usaha mencurahkan kemampuan untuk meraih hukum-hukum dari nash-nash yang bersifat jelas, atau dengan cara menghapal masalah-masalah, atau dengan cara meminta ilmu dari seorang mufti, atau dengan cara menyingkapkan hukum-hukum tadi dari buku-buku, karena amalan macam ini walaupun dinamakan sebagai ijtihad juga, namun hal itu secara bahasa saja, bukan secara istilah.”

(Selesai dari “Al Bahrul Muhith”/Az Zarkasyiy/8/hal. 73).

Al Allamah Alauddin Al Bukhariy Al Hanafiy الله هلللمحر berkata: “Ijtihad yang sempurna adalah: si mujtahid mencurahkan kemampuannya di dalam pencariannya, yang mana dia sampai merasakan dirinya itu lemah dan tidak mampu menambahkan usaha pencarian lagi.

Sebagian ulama mengungkapkan bahwasanya: ijtihad adalah mencurahkan kerja keras untuk bersungguh-sungguh mengeluarkan hukum-hukum dari pendukung-pendukungnya yang menunjukkan pada kesimpulan hukum-hukum tadi, dengan melakukan penelitian yang menyampaikan kepada kesimpulan tadi.

Ada yang mengatakan: ijtihad adalah usaha untuk mencari kebenaran dengan mengamati alamat-alamat yang menunjukkan pada kebenaran tadi.

Dan ada yang mengatakan: ijtihad adalah usaha seorang faqih untuk menghabiskan kemampuannya demi menghasilkan suatu persangkaan terhadap suatu hukum syar’iy.

Disebutkan lafazh “Faqih” untuk menghalangi orang lain masuk ke situ, karena kerja keras seorang ahli nahwu atau ahli kalam yang tidak punya fiqih demi mendapatkan hukum dalam bidang yang disebutkan tadi (ilmu nahwu atau ilmu kalam –pen); tidaklah dinamakan sebagai ijtihad.

Dan disebutkan lafazh “Demi menghasilkan suatu persangkaan” untuk menghalangi masuknya kerja keras yang diarahkan untuk menghasilkan ilmu (sampai tingkat pasti, bukan sekedar persangkaan –pen), seperti usaha dia untuk

mencari nash di dalam suatu kejadian, dan dia berjaya mendapatkan nash tadi.

Dan disebutkan “Hukum syar’iy” untuk menghalangi masuknya hukum akal, indra, tradisi dan sebagainya.

Dari tafsir ijtihad, menjadi dikenallah Mujtahid, dan apa itu perkara yang diijtihadkan.

Maka Mujtahid adalah orang yang memiliki sifat ijtihad.

Dan perkara yang diijtihadkan adalah hukum syar’iy yang tidak memiliki dalil yang pasti, karena mustahil diperlukannya ijtihad yang bersifat zhanniy (persangkaan) padahal sudah ada dalil pasti dalam perkara tersebut, maka cukuplah hukum itu dihasilkan dari dalil yang pasti tadi.”

(Selesai dari “Kasyful Asrar”/Alauddin Al Bukhariy/7/hal. 135).

Ini adalah ucapan yang jelas menunjukkan bahwasanya ijtihadnya seorang faqih itu berlaku pada masalah yang tidak punya nash (dalil pasti). Adapun perkara yang memiliki nash yang jelas, maka tidak boleh ada ijtihad lagi padanya; karena hukum dari perkara tadi telah ada dan dikenal. Maka tidak ada ijtihad dalam masalah yang sudah punya nash tentang itu.

Al Imam Ahmad Bin Hamdan Al Harraniy Al Hanbaliy الله هللللملللحر berkata: “Dan setiap hukum yang terbentuk oleh suatu dalil zhanniy, maka dia itu bersifat ijtihadiy.” (“Shifatul Fatwa”/Al Harraniy/hal. 53).

Al Allamah Ibnul Muwaqqat Al Hanafiy الله هلللللملللللحر berkata: “... karena dalil yang bersifat qath’iy itu tidak boleh ada ijtihad di dalamnya.” (“At Taqrir Wat Tahbir ‘Ala Tahriril Kamal Ibnil Humam”/Ibnul Muwaqqat/3/hal. 291).

Al Imam Muhammad Az Zarkasyiy Asy Syafi’iy الله همحر berkata: “Tidak ada ijtihad di dalam perkara-perkara yang qath’iy (pasti).” (“Tasyniful Masami’ Bi Jam’il Jawami’”/Az Zarkasyiy/4/hal. 563).

Al Allamah Ibnu Badran Ad Dimasyqiy Al Hanbaliy الله هللللمللللحر berkata tentang penjelasan makna ijtihad: “Dan ucapan kami “Di dalam mencari suatu persangkaan”

mengisyaratkan bahwasanya tidak ada ijtihad dalam perkara-perkara yang bersifat qath’iy.” (“Al Madkhal Ila Fiqhil Imam Ahmad Bin Hanbal”/hal. 368).

Al Imam Sahnun Al Malikiy الله هللمحر berkata tentang masalah diyat hidung: “Tidak ada ijtihad di dalamnya, karena hidung itu telah datang di dalamnya pembagian yang telah ditentukan.” (“Al Mukhtasharul Fiqhiy”/Ibnu ‘Arafah/10/hal.

67).

Dan Al Allamah Abdul Wahhab Bin Ali Al Baghdadiy Al Malikiy الله همحر di dalam bantahannya terhadap orang yang keliru dalam masalah ghashab (perampasan): “... Maka hal itu adalah seperti ijtihad bersamaan dengan adanya nash, karena hal itu tidak berfaidah.” (“Al Ma’unah ‘Ala Madzhab Alimil Madinah”/Al Baghdadiy/hal. 1212).

Dan Al Imam Abu Ishaq Asy Syairaziy Asy Syafi’iy همحر الله berkata: “Urusan syariat maka dia itu ada dua jenis: jenis

yang mana boleh berjtihad di dalamnya, dan jenis yang mana tidak boleh berjtihad di dalamnya.

Adapun jenis yang mana tidak boleh berjtihad di dalamnya; maka dia itu juga ada dua jenis lagi:

Yang pertama: perkara yang telah diketahui secara sangat pasti dari agama Rasulullah ﷺ, seperti shalat fardhu, zakat yang wajib, dan juga diharamkannya zina, homoseksual, minum khamr dan yang lainnya. Maka barangsiapa menyelisihi sedikit saja dari yang demikian itu maka sungguh dia telah mendustakan Allah ta’ala dan Rasul-Nya ﷺ di dalam berita keduanya, maka dia dihukumi sebagai orang kafir.

Yang kedua: perkara yang tidak diketahui secara sangat pasti dari agama Rasulullah ﷺ, seperti hukum-hukum yang pasti dengan ijma’ para Sahabat dan fuqaha berbagai negeri, akan tetapi hukum-hukum tadi tidak sampai diketahui secara sangat pasti dari agama Rasulullah ﷺ, maka kebenaran dalam masalah itu adalah satu saja, yaitu apa yang telah disepakati oleh orang-orang. Maka barangsiapa menyelisihi dalam sedikit saja dari masalah tadi setelah dia tahu hukumnya, maka dia dihukumi sebagai orang fasik.

Adapun perkara yang mana boleh berijtihad di dalamnya maka dia itu adalah masalah-masalah yang mana

para fuqaha negeri-negeri memperselisihkannya menjadi dua pendapat, ... dan seterusnya(35)”.

(Selesai dari “Al Luma’ Fi Ushulil Fiqh”/Asy Syairaziy/hal. 72).

Al Imam Al Qairawaniy Al Malikiy الله همحر berkata:

“Dan termasuk dari perkataan Ahlussunnah adalah:

“Sesungguhnya orang yang ijtihadnya menyampaikannya kepada kebid’ahan itu tidak diberi udzur, karena para Khawarij berijtihad di dalam melakukan penakwilan, lalu mereka tidak diberi udzur; karena mereka dengan takwil mereka itu melakukan pemberontakan terhadap para Sahabat, maka Nabi ملاسلا هيلع menamakan mereka sebagai orang-orang yang keluar dari agama ini.” (“Al Jami’ Fis Sunan Wal Adab”/Al Qairawaniy/hal. 121/ cet. Ar Risalah).

Al Imam Kamaluddin Muhammad Bin Abdil Wahid As Siwasiy yang terkenal sebagai Ibnul Humam الله همحر berkata

(35) Penulis –Abu Fairuz الله هقفو– berkata: Yaitu: ketika dalil yang jelas terhadap suatu masalah itu tidak ditemukan, di situlah para ulama boleh berijtihad.

Al Imam As Sarkhasiy Al Hanafiy الله همحر berkata: “...Hanya saja kami syaratkan dalam masalah itu bahwasanya ra’yu itu dipakai ketika keinginan untuk mendapatkan jawaban dari wahyu itu sudah habis, dan itu seperti apa yang disyaratkan pada umat ini dalam beramal dengan ra’yu, hendaknya dia memaparkannya pada Al Kitab dan As Sunnah. Jika tidak didapatkan penjelasannya dari situ, maka ketika itulah mereka boleh berijtihad dengan ra’yu.”

(“Ushulus Sarkhasiy”/2/hal. 95-96).

tentang perselisihan para ulama di sebagian masalah mudabbar: “Dan ijtihad di dalam perkara tadi tidak mu’tabar (tidak terpandang), bahkan ijtihad itu sendiri adalah keliru karena dia tadi berbenturan dengan zhahir dari nash.”

(“Fathul Qadir”/Ibnul Humam/6/hal. 458).

Al Imam Az Zarkasyiy Asy Syafi’iy الله همحر berkata:

“Adapun jumhur umat ini, maka mereka berkata:

Sesungguhnya masalah-masalah ini, di dalamnya ada perkara-perkara yang mana ijtihad tidak diperbolehkan di dalamnya. Dan di antaranya juga ada yang tidak sampai ijtihad itu dilarang.

Perkara yang mana ijtihad tidak diperbolehkan di dalamnya adalah perkara-perkara yang dalil-dalil tentangnya itu bersifat pasti, karena kita mengetahui secara sangat pasti bahwasanya perkara tadi termasuk dari agama Nabi ةلاصلا هيلع ملاسلاو, seperti wajibnya shalat lima waktu dan puasa Ramadhan, dan diharamkannya zina dan khamr. Dan orang yang keliru di dalam masalah ini adalah kafir, karena dia mendustakan Allah ta’ala dan Rasul-Nya.

Dan di antara perkara tadi ada yang tidak sampai demikian(36), seperti bolehnya menjual pasir, diharamkannya menjual babi. Orang yang keliru di dalamnya adalah berdosa namun sampai tidak kafir.

Adapun masalah-masalah yang di dalamnya boleh ada ijtihad, maka dia adalah masalah yang diperselisihkan, seperti

(36) Abu Fairuz الله هقفو berkata: yaitu: tidak boleh ijtihad di dalamnya, namun orang yang keliru di dalamnya tidak sampai kafir.

wajibnya zakat pada harta anak kecil, ditiadakannya kewajiban shalat witir, dan sebagainya yang mana nash-nash di dalam masalah furu’ (percabangan) tadi itu tidak ada, dan dalil-dalil di dalam masalah-masalah tadi itu rumit, dan keputusan di dalam masalah tadi kembali pada ijtihad, maka orang yang keliru dalam masalah tadi tidak berdosa.”

(Selesai dari “Al Bahrul Muhith”/8/hal. 140).

Dan ini adalah keterangan yang jelas, bahwasanya ijtihad yang mu’tabar (terpandang) adalah ijtihad yang terjadi pada masalah-masalah yang di dalamnya itu tidak ada dalil yang jelas, maka orang yang keliru dengan ijtihadnya di dalam masalah seperti tadi tidak berdosa. Adapun di dalam masalah yang mana dalilnya itu jelas, berupa nash (suatu ketetapan yang tidak memiliki kecuali satu makna saja –pen), maka tidak boleh di dalamnya itu orang masih berijtihad untuk mencari hukm yang lain. Maka orang yang keliru dan menyelisihi hukum nash tadi di dalam masalah-masalah tersebut boleh jadi berdosa, dan boleh jadi lebih buruk daripada itu.

Dan seorang hakim apabila dia menghukumi dengan hukum yang menyelisihi kebenaran di dalam perkara yang tidak boleh ada ijtihad di dalamnya; hukumnya boleh dibatalkan.

Al Imam Al Hafizh Amirul Mukminin fil hadits, Muhammad Bin Isma’il Al Bukhariy الله همحر berkata dalam

“Shahih” beliau: Bab: Jika seorang pegawai atau hakim berijtihad lalu dia keliru dan menyelisihi Rasulullah tanpa ilmu, maka hukumnya tertolak, berdasarkan sabda Nabi:

َم « ْن َع ِم َع َل َم َل ْي ًلَ

َس َل ْي َع َأ ْم ِه ُر َن َف ا َو ُه َر ٌّد

» .

“Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang mana urusan (syariat) kami tidak ada di atasnya, maka amalannya tadi tertolak.”

Maka beliau meriwayatkan hadits dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah امهنع الله يضر:

أ ن لوسر

ِللها

Dalam dokumen Asrama Di Pondok Wanita (Halaman 117-126)