BAB I. PENDAHULUAN
3.7. Keterbatasan Penelitian
4.1.11 Pelaksanaan CSR dan Program Kemitraan
Kegiatan Corporate Social Responsibility Pertamina dilaksanakan sejak Pertamina berdiri. Kegiatan CSR Pertamina merupakan bagian dari kegiatan humas Pertamina. Seiring kondisi riil masyarakat dan kebijakan pemerintah, pada tahun 1993
Pertamina membentuk unit Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi (PUKK) di bawah Direktorat Keuangan. PUKK mengemban misi untuk membantu pinjaman modal usaha dengan bunga ringan bagi usaha kecil dan koperasi sebagai dana bergulir (revolving fund), dan bantuan hibah untuk pelatihan dan pemasaran dengan memanfaatkan dana sebesar 1-5 persen dari keuntungan perusahaan yang menjadi bagian pemerintah.
Unit PUKK pada tahun 1993 diubah pada tahun 1994 sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan No.316/KMK.016/1994 tentang Pedoman Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi melalui Pemanfaatan Dana dari bagian Laba BUMN). Besarnya dana PUKK berasal dari bagian perusahaan atas laba BUMN sebesar 1-5% setelah pajak.
Kemudian direvisi sesuai Keputusan Menteri Keuangan No.60/KMK.016/1996, tanggal 9 Februari 1996 sebesar 1-3% atas laba BUMN setelah pajak.
Perkembangan selanjutnya direvisi kembali sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan BUMN No.216/M-PBUMN/1999 tentang Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), dengan besarnya dana PKBL adalah penyisihan laba perusahaan setelah pajak sebesar 1-5%. Kemudian Unit PKBL direvisi dan didirikan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Negara BUMN No. KEP-236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003 dan kemudian direvisi oleh Peraturan Menteri Negara BUMN No.PER- 05/MBU/2007 tanggal 27 Aprill 2007 dengan tetap berada dibawah Direktorat Keuangan.
Kegiatan PKBL dititikberatkan pada pengembangan Program Kemitraan dan Program Bina lingkungan. Dana untuk Program Kemitraan sebesar maksimal 2 persen dari keuntungan bersih perusahaan dan dana untuk Program Bina Lingkungan maksimal
2 persen dari keuntungan perusahaan. Sesuai peraturan Menteri Negara BUMN dimaksud, pelaksanaan kegiatan PKBL lebih diprioritaskan bagi masyarakat yang berada di sekitar kegiatan perusahaan.
4.2 Peran CSR dan Pengembangan Usaha Kecil Menengah
PT. Pertamina (Persero) memiliki dua lembaga dalam hal penyaluran bantuan kepada masyarakat sebagai wujud kepeduliannya, yaitu PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan). Seperti yang dinyatakan salah satu staf PT. Pertamina (Persero),
“... adanya PKBL berawal dari Undang-undang, Peraturan Pemerintah.
Pertama kali namanya PUKK pada tahun 1993 dan berubah menjadi PKBL sampai dengan sekarang. Terakhir adanya Peraturan Pemerintah 05 tahun 2007. Saya menangani Program Kemitraan. Untuk memberikan pinjaman atau untuk membantu masyarakat yang kurang mampu.
Membantu masyarakat yang mempunyai usaha kecil, kita beri pinjaman kemudian kita bina yang kemudian bisa menjadi besar. Tahun 2003 keluar SK No.236 tentang adanya PKBL (Program Kemitraan Bina Lingkungan). Yang intinya untuk meningkatkan perekonomian...”
(Sumber : Yoke Syamsidar, data lapangan, 2008)
Corporate Social Responsibility (CSR) tidak berada pada posisi yang sama dengan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Jika Corporate Social Responsibility berada pada divisi kelembagaan, maka Program Kemitraan dan Bina Lingkungan berada dibawah naungan direktorat keuangan. Begitu juga dengan dana yang digunakan, CSR untuk menjalankan programnya melalui ABO (Anggaran Biaya Operasional) maka berbeda dengan PKBL yang memang terdapat biaya khusus yaitu 2% dari keuntungan perusahaan. Walaupun dalam penyaluran dana yang didapat berbeda antara PKBL dengan CSR, tetapi tujuan dan fungsi serta manfaatnya sama,
yaitu sama-sama ingin mensejahterakan masyarakat. Untuk dalam jangka waktu ke depan keduanya ini akan digabungkan dengan harapan penyaluran bantuan menjadi lebih efektif dalam melaksanakan penyaluran dana bantuan kepedulian PT. Pertamina
(Persero) terhadap masyarakat.
Box 1 : Deskripsi Program Kemitraan UKM PT. Pertamina (Persero)
• Program ini menggunakan dana dari bagian laba BUMN yang disisihkan 1-2%.
• Program Kemitraan dilaksanakan selama kurun waktu 3-5 tahun.
• Peserta program dipilih oleh pihak Pertamina tetapi ada juga yang mendaftarkan diri menjadi calon peserta
• Peserta terpilih mendapatkan bantuan modal sebanyak yang dibutuhkan oleh calon peserta mitra binaan
• Para peserta sudah melakukan usahanya selama 1 tahun.
• Kekayaan bersih mitra binaan mencapai 200 juta diluar harga tanah dan bangunan.
• Belum pernah mendapatkan bantuan dari BUMN lain.
Box 2 : Kegiatan Program Kemitraan PT. Pertamina (Persero)
• Peminjaman modal
• Pemberdayaan
• Pelatihan
• Pengembangan Usaha
• Pameran
Dalam menjalani CSR tersebut, adanya perencanaan kegiatan tersebut tidak hanya pada kriteria yang harus dijalankan tetapi mengenai dana penyalurannya. Dana yang cukup bagi kelancaran pelaksanaannya dan terciptanya keseimbangan ekonomi.
Mengenai rencana penggabungan antara CSR dengan PKBL dimaksudkan agar lebih
Box 3 : Pelaksanaan Program CSR PT. Pertamina (Persero)
1. Pemberdayaan Masyarakat 2. Pendidikan
3. Kesehatan 4. Bencana alam
Setelah perencanaan dibuat, baik itu perencanaan mengenai kegiatan dan anggaran maka dimulailah pelaksanaan dari perencanaan tersebut. Adapun pelaksanaan beberapa kegiatan program CSR PT. Pertamina (Persero) yaitu :
1. Kemitraan Usaha Kecil Menengah Dalam Bidang Pemberdayaan Masyarakat
Kesejahteraan masyarakat tidak terlepas dari kemampuan masyarakat untuk mendapatkan nilai ekonomi yang lebih dari nafkah yang digelutinya. Beberapa masyarakat bekerja di sektor formal menjadi pegawai negeri, TNI/Polri,serta pegawai swasta yang hasilnya dapat dirasakan secara konsisten, meski terbatas. Namun masyarakat lainnya menggantungkan hidupnya di sektor informal, seperti pedagang, petani, nelayan, dan wirausahawan yang hasilnya belum tentu secara konsisten memberikan rasa aman dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Upaya meningkatkan nilai sektor ekonomi sektor informal tersebut sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti peluang, kemampuan bisnis, serta akses permodalan dan pasar. Kondisi ini secara umum dialami oleh masyarakat dan menyebabkan ekonomi masyarakat terpuruk. Keterbatasan pemerintah dalam menyiapkan sektor formal untuk menampung kebutuhan masyarakat akan pekerjaan
merupakan dorongan bagi pemerintah untuk menciptakan ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan sektor informal. Oleh karena itu, salah satu kebijakan pemerintah adalah mendorong dan membina usaha-usaha kecil dan koperasi di seluruh Indonesia untuk tumbuh dan berkembang menjadi kekuatan ekonomi masyarakat yang sesungguhnya.
Salah satu cara memajukan usaha kecil dan koperasi tersebut adalah pemberian fasilitas pinjaman modal dengan bunga ringan serta dukungan pembinaan usaha serta pemasaran hasil usaha dan jasa mereka. Atas dasar itulah, Pertamina sangat peduli terhadap pemberdayaan masyarakat kecil dan koperasi untuk mandiri. Pemberdayaan yang dilakukan Pertamina meliputi Program Kemitraan dan Bina Lingkungan. Melalui program ini, Pertamina memberikan pinjaman modal usaha, memberikan pembinaan dan pelatihan manajemen usaha, serta membentuk pasar atau jaringan pasar produk dan usaha. Selain itu, Pertamina juga mengadakan kegiatan bakti sosial, seperti pasar murah, pemberian sembako, dan lain sebagainya.
Program ini merupakan upaya memberdayakan ekonomi masyarakat melalui kegiatan usaha dan membuka peluang kerja sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sejak tahun 1993 ssampai 31 Desember 2005 usaha kecil (termasuk koperasi) yang dibina mencapai lebih dari 28.000 dengan nilai pinjaman lebih kurang Rp.515 milliar.
Pada tahun 2005, Pertamina melalui PKBL telah memberikan bantuan pinjaman modal usaha kepada lebih dari 1.850 usaha kecil dan koperasi baik usaha inti maupun
pinjaman modal usaha yang telah disalurkan lebih dari Rp.40 miliar. Sedangkan tahun 2006-2007, Pertamina telah menyalurkan pinjaman modal sebesar 161,59 miliar.
Berkaitan dengan program Konversi Minyak Tanah ke Elpiji 3 kg, Pertamina juga memberdayakan para pengusaha kompor di Pusat Industri Kecil Pulogadung dan Cawang agar tetap bisa beproduksi sesuai dengan permintaan pasar sekarang. Pada tahun ini juga, untuk menyukseskan program ketahanan pangan yang sedang digalakkan Kementerian Negara BUMN, Pertamina bekerjasama dengan PTPN X menyalurkan kredit modal usaha untuk petani tebu rakyat. Dana yang disalurkan tersebut berjumlah Rp.160 miliar dan diharapkan dapat menjangkau 6.000 petani.
Kelemahan dalam manajemen usaha, proses produksi, pengemasan, dan manajemen pemasaran merupakan kelemahan lain yang menjadi salah satu faktor penyebab kegagalan berwirausaha. Oleh sebab itu, untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian para mitra binaan dalam mengelola usahanya, Pertamina memberikan pembinaan dan pelatihan kewirausahaan di bidang pertanian, peternakan, perikanan, maupun manajemen usaha. Kegiatan pelatihan ini telah dirasakan lebih dari 600 mitra binaan Pertamina di seluruh Indonesia.
Tidak hanya mitra binaan saja yang dilatih oleh Pertamina. Pada Maret 2008, Pertamina menyelenggarakan pelatihan ketrampilan untuk para Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Balongan. Program ini dimaksudkan agar para TKW asal wilayah Balongan memiliki kemampuan dan keahlian khusus sehingga dapat bersaing dalam mendapatkan pekerjaan, baik di dalam maupun luar negeri. Pelatihan diikuti oleh 150 peserta, berasal dari 10 desa yang ada di Kecamatan Balongan.
Pertamina juga melakukan program pendampingan bagi para petani yang tergabung dalam Paguyuban Patra Mekar di wilayah kerja Unit Pengolahan VI Balongan. Salah satu anak perusahaan, PT. Pertamina EP Region Jawa, mengadakan pelatihan Budidaya Jamur merang termasuk produk komoditi holtikultura dan sayuran organik yang bernilai gizi tinggi. Selain mengandung protein tinggi, jamur ini mengandung asam amino tak jenuh yang sangat baik untuk kesehatan. Di samping itu limbah dari budidaya jamur merang ini dapat digunakan sebagai bahan baku pupuk organik bagi tanaman produksi petani lainnya.
Program pendampingan lainnya adalah program tunda jual yang diperuntukkan bagi petani Patra Mekar. Program yang dilakukan UP VI Balongan ini dilatarbelakangi oleh kerugian petani yang tidak bisa menjual padi dengan harga tinggi ketika panen raya terjadi.
UP VI juga melatih petani mitra binaannya untuk mengembangkan pola tanam padi dengan metode SRI (System Rice Intentification). Yaitu, budidaya tanaman padi yang intensif dan efisien dengan proses manajemen sistem perakaran yang berbasis pada pengelolaan yang seimbang terhadap tanah, tanaman, dan air sehingga tercipta padi organik non pestisida yang ramah lingkungan dengan harga bersaing.
Keberhasilan usaha kecil dan operasi untuk mengembangkan pinjaman modal usaha tergantung pada keberhasilannya menuai hasil usahanya melalui pemasaran berbagai produk dan jasa. Tidak semua pelaku usaha mampu menciptakan pasar atau lemah dalam mengakses pasar. Oleh karena itu, Pertamina juga memberikan bantuan
jaringan pasar produk dan usaha dengan cara mengikutsertakannya dalam pameran- pameran yang bersifat lokal, nasional, maupun internasional. Dengan mengikuti pameran, diharapkan para mitra binaan dapat dengan mudah membuka akses ke pasar nasional maupun internasional. Sampai saat ini lebih dari 150 mitra binaan yang telah mendapatkan kesempatan memasuki pasar dan memungkinkan terjadinya transaksi antara mereka dan konsumen.
Begitu juga dengan PKBL Upms I Medan selaku Koordinator Area-I mulai melaksanakan program ketahanan pangan sesuai dengan Surat Edaran Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Sofyan A. Djalil, Nomor: SE-04/MBU/2008 tentang Bantuan PKBL-BUMN untuk pangan tahun 2008. Dalam rangka membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pangan sera upaya untuk meningkatkan kesejahteraan atau pendapatan masyarakat.
Dengan demikian Meneg BUMN mengimbau BUMN agar dalam pelaksanaan PKBL di tahun 2008 memperhatikan, membantu ketersediaan pangan bagi masyarakat kurang mampu atau berpenghasilan rendah, dengan memberikan bantuan langsung, membantu pendidikan atau pelatihan masyarakat pada bidang/keahlian khusus, selanjutnya meningkatkan penyaluran pinjaman dana program kemitraan kepada usaha mikro-kecil, petani penyedia pangan dan usaha kecil bidang pengolahan pangan.
Kondisinya saat ini, permasalahan petani semakin sulit. Selain anjloknya harga pasar komoditi hasil panen, petani seakan terjepit, tak bisa dipungkiri karena petani memang butuh modal awal sejak dari musim tanam sampai pada pembelian pupuk untuk keberhasilan panen yang memadai. Situasi ini menjadi perhatian yang sangat
penting, dan sebagai langkah awal program Meneg BUMN, pada tanggal 2 Mei 2008, PKBL Upms I Medan mensosialisasikan program ini kepada 24 kelompok tani di Desa Tanag Abang, Kecamatan Galang, Sumatera Utara. Ke-24 kelompok tani ini mewakili 364 yang terdapat di kecamatan di Deli Serdang, Kecamatan Bangun Purba, Galang dan Kecamatan Lubuk Pakam. Setelah sebelumnya dilakukan sosialisasi pada tanggal 28 April 2008, PKBL Pertamina Upms I Medan melakukan survei ke Kecamatan Galang mengenai kesiapan petani akan diberikan pinjaman modal.
Setelah melakukan survei, selanjutnya pihak PKBL Upms I PT. Pertamina Medan, pada tanggal 3 Juni 2008, melakukan pelatihan terhadap petani sekaligus penyerahan bantuan berupa alat-alat pertanian yang memiliki teknologi canggih secara simbolis kepada 364 petani tersebut.
2. Pendidikan
Dalam bidang pendidikan, masalah yang ditemui adalah rendahnya kualitas penyelenggaraan pendidikan, seperti kondisi fisik bangunan sekolah dan perlengkapan pendidikan yang tidak memadai, ketersediaan perpustakaan sekolah, serta kualitas tenaga pendidik. Masalah lainnya yang penting adalah rendahnya kemampuan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi akibat ketidakberdayaan ekonomi.
Program CSR Pertamina di bidang pendidikan dengan tema Cerdas Bersama Pertamina melingkupi kualitas dan akses pendidikan sebagai berikut :
a. Peningkatan kualitas pendidikan melalui pembangunan atau rehabilitasi sekolah.
Tidak semua sekolah di Indonesia berdiri dan digunakan untuk kegiatan belajar mengajar dalam kondisi yang layak. Banyak diantaranya yang membutuhkan renovasi dan kelengkapan fasilitas pendidikan. Data Departemen Pendidikan Nasional 2005 menunjukkan bahwa setidaknya 70 persen dari 150.000 SD Negeri dalam kondisi rusak parah. Sekolah-sekolah tersebut membutuhkan perbaikan dan ketersediaan perlengkapan belajar agar pendidikan berjalan dengan optimal dan berkualitas.
Menyadari bahwa fasilitas belajar merupakan hal penting dalam kegiatan pendidikan yang berkualitas, pada tahun 2006-2007 Pertamina telah membantu renovasi lebih dari 51 unit bangunan sekolah dari tingkat SD sampai dengan SMP di sekitar kegiatan Pertamina, beserta perlengkapan pendidikan seperti peralatan laboratorium, sarana komputer, olah raga, dan lain-lain.
b. Peningkatan kecerdasan dan wawasan pengetahuan masyarakat melalui penyediaan buku-buku bacaan untuk perpustakaan sekolah atau komunitas taman bacaan anak.
Pertamina berkomitmen untuk meningkatkan kecerdasan dan wawasan pengetahuan bagi masyarakat melalui bantuan penyediaan buku-buku bacaan anak untuk perpustakaan-perpustakaan sekolah atau komunitas taman bacaan anak.
Penyediaan buku-buku yang memadai, baik dari segi koleksi maupun jumlah diharapkan dapat menumbuhkembangkan minat baca khususnya di kalangan anak-anak dan pelajar. Pertamina pun mengajak para pekerja untuk turut berperan dalam upaya pengumpulan buku bacaan akan untuk disumbangkan pada komunitas-komunitas taman bacaan anak di sekitar daerah operasi Pertamina.
Sampai tahun 2006, perusahaan telah mendedikasikan 5 unit perpustakaan mandiri yang dikelola atas prakarsa dan swadaya masyarakat serta menyumbangkan lebih dari 7.500 eksemplar buku. Selain itu, Pertamina juga memberikan fasilitas kegiatan olahraga di beberapa universitas. Bekerjasama dengan universitas yang bersangkutan, pada tahun 2008 ini Pertamina mendirikan Pertamina Hall di Universitas Indonesia. Gedung olahraga itu untuk kegiatan futsal, voli, basket, dan senam.
Pertamina juga memberikan bantuan berupa fasilitas yang sama kepada universitas lain seperti Universitas Gajah mada (UGM) Yogyakarta, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Institut Teknologi Surabaya (ITS).
Fasilitas lain yang didedikasikan bagi dunia pendidikan adalah Bengkel Kampus Enduro. Pada Mei 2008, Pertamina bekerjasama dengan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) mendirikan bengkel ini di lingkungan kampus ITS. Dengan adanya bengkel tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan mekanis mahasisea Teknik Mesin dan melatih intuisi bisnis mahasiswa di bidang otomotif. Bantuan yang sama juga akan diberikan untuk perguruan tinggi lainnya.
Bantuan beasiswa juga diberikan untuk membantu masyarakat dalam upaya memperoleh pendidikan formal, terutama memenuhi program wajib belajar 12 tahun serta memberikan beasiswa bagi mahasiswa-mahasiswa perguruan tinggi yang berprestasi namun mengalami kesulitan biaya untuk menempuh pendidikan. Sampai tahun 2007, 14.992 siswa menerima beasiswa Pertamina, siswa SD 9.786 orang, SMP 2.744 orang, SMA 1.914 orang dan 448 orang untuk S1. Pendidikan ini diharapkan menjadi bekal untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Selain pendidikan formal,
Pertamina memberikan bantuan pendidikan keterampilan kepada lebih dari 2.000 orang anak putus sekolah. Pertamina juga membangun sekolah alternatif bagi anak-anak putus sekolah sehingga tidak ketinggalan dengan siswa lainnya yang dapat bersekolah di sekolah formal. Dengan bekal keterampilan, diharapkan anak-anak putus sekolah dapat membuka peluang kerja untuk memperolah nafkah hidupnya. Bantuan ini diharapkan dapat menekan tingkat pengangguran yang terjadi di wilayah operasi Pertamina.
Pertamina juga memiliki program untuk menambah wawasan masyarakat Indonesia tentang pengelolaan sumber daya minyak dan gas bumi Indonesia, khususnya dan global pada umumnya, serta minimnya pemahaman tentang Pertamina sebagai perusahaan minyak dan gas bumi nasional. Program ini diharapkan membuat generasi muda sebagai calon pemimpin Indonesia lebih bijaksana dalam mengelola dan memanfaatkan kekayaan alam untuk kemakmuran rakyat sebesar-besarnya serta menumbuhkan kebanggaan dan rasa memiliki terhadap Pertamina yang selama ini berperan penting dalam pembangunan nasional.
Program ini dikenal dengan Pertamina Youth Program, sebagai bagian dari Cerdas Bersama Pertamina, dan diluncurkan sejak tahun 2003. Setiap tahunnya, Pertamina mengundang intelektual muda atau aktivis kampus dari berbagai penjuru Indonesia untuk hadir dalam program ini. Mereka mendapatkan wawasan baru tentang kegiatan minyak dan gas bumi serta energi terbarukan, serta lebih mengenal kenijakn pemerintah tentang pengelolaan dan pengusahaan minyak dan gas bumi serta energi terbarukan. Sampai dengan tahun 2008, kegiatan ini telah diikuti oleh lebih dari 200
mahasiswa dari 69 kampus di Indonesia seperti Sumatera, Jawa, Bali, NTT, NTB, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Demikian pula, menumbuhkembangkan wawasan dan pengetahuan generasi muda kampus tentang Pertamina beserta bisnisnya menjadi latar belakang kegiatan Pertamina Goes to Campus. Hal itu tidak hanya bagian dari program komunikasi, tetapi juga bagian dari tanggungjawab sosial perusahaan kepada stakeholders, khususnya generasi muda kampus. Program ini dimulai tahun 2006, dan dilaksanakan di tiga daerah yaitu Medan-Universitas Sumatera Utara, Yogyakarta- Universitas Gajah Mada, dan Makassar-Universitas Hasanuddin. Dalam kegiatan ini, partisipasi mahasiswa mencapai lebih dari 2.000 orang.
3. Kesehatan
Indonesia memiliki beberapa problem kesehatan, diantaranya minimnya fasilitas pelayanan kesehatan, terbatasnya akses terhadap pengobatan, serta masalah gizi anak dan ibu. Kualitas pelayanan kesehatan dan kondisi kemampuan masyarakat tersebut mempengaruhi kualitas hidup mereka, khususnya generasi muda. Oleh karena itu, Pertamina merancang beberapa program CSR di bidang kesehatan, diantaranya :
a. Pertamina Sehati (Kesehatan untuk Anak Tercinta dan Ibu)
Program ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas kesehatan anak di bawah lima tahun (balita) dan ibu hamil/menyusui. Pertamina telah meluncurkan Pertamina Sehati sejak tahun 2004, program ini meliputi peningkatan pelayanan kesehatan dan mempermudah akses kesehatan bagi anak balita dan ibu hamil/menyusui. Program ini
meliputi pembinaan posyandu serta pemeriksaan kesehatan dan gizi balita dan ibu hamil/menyusui. Pertamina memberikan bantuan peningkatan kualitas layanan kesehatan dengan merenovasi fasilitas kesehatan yang tidak memadai di sekitar unit operasi Pertamina, mengadakan penyuluhan gizi dan kesehatan. Lebih dari 3.000 anak balita dan 650 ibu hamil/menyusui telah menerima manfaat dari program Pertamina Sehati, melalui pembinaan lebih dari 116 unit posyandu binaan di sekitar kegiatan Pertamina.
Pertamina juga berperan aktif dalam berbagai kegiatan penyuluhan Inisiasi Dini yang diprakarsai oleh PBB. Salah satunya berperan aktif dalam kegiatan pernyataan komitmen 1000 ibu hamil untuk Inisiasi Menyusu Dini (IMD) setelah bayi lahir, yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC) pada tahun ini. Atas kepeduliannya ini, Pertamina mendapatkan MDGs Award 2007 kategori Reduce Child Mortality yang diserahkan oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla.
b. Bakti Sosial Kesehatan
Bakti sosial kesehatan berupa pemeriksaan kesehatan dan pengobatan massal/gratis bagi masyarakat sekitar kegiatan operasi Pertamina. Konsultasi dan pengobatan ditujukan kepada penderita penyakit ringan juga pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut serta operasi katarak dan bibir sumbing. Termasuk juga pemberian bantuan 3000 kacamata untuk siswa-siswi SMP yang membutuhkan tetapi dari keluarga tidak mampu.
c. Donor Darah
Kegiatan kemanusiaan keluarga besar Pertamina sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan pertolongan darah. Program donor darah rutin dilaksanakan tiga bulan sekali di seluruh unit operasi Pertamina. Dalam kegiatan ini Pertamina bekerjasama dengan Palang Merah Pusat maupun Daerah.
d. Khitanan Massal
Selain beasiswa yang diberikan untuk anak-anak yatim piatu maupun anak-anak dari keluarga pra sejahtera, Pertamina juga melakukan khitanan massal untuk mereka.
Untuk menyenangkan hati, mereka juga mendapatkan buah tangan berupa baju kok, sarung dan uang saku. Kegiatan ini dilakukan di seluruh unit operasi Pertamina dan anak perusahaan.
e. Pertamina untuk Anak Indonesia
Pembentukan karakter manusia Indonesia harus dimulai dari lingkungan keluarga dan sekolah serta sejak anak-anak. Hal ini termasuk penempatan karakter yang cinta kebersihan dan kesehatan. Di bidang ini Pertamina tidak hanya memberikan bantuan sarana dan fasilitas, tetapi juga penyuluhan kepada anak sekolah dengan kampanye anak Indonesia cinta lingkungan sekolah bersih dan sehat serta bantuan vaksin dan pengobatan gigi gratis.
Banyak sarana umum khususnya sekolah yang tidak terjaga keberhasilannya di mana secara estetis hal itu tidak nyaman dan tidak baik bagi kesehatan anak didik.
Pertamina sangat peduli dengan kondisi ini, sehingga bantuan renovasi terutama sekolah dasar juga diprioritaskan untuk menjaga kebersihan fasilitas toilet di lingkungan sekolah
yang dibantu. Kegiatan kampanye dan penyuluhan ini telah dimulai pada Dasar 2005 dengan diluncurkannya program Pertamina untuk anak Indonesia dengan tema Anak Indonesia Peduli Lingkungan Sekolah yang Bersih dan Sehat. Kegiatan ini telah dilaksanakan di 14 SDN di sekitar Jakarta yang dekat dengan kegiatan Pertamina, seperti SDN Cempaka baru 1 dan 2 Jakarta Pusat, SDN Tugu 1,2,3,4,5,6 dan SDN Lagoa 1,2,3,4,5,6 Jakarta Utara, serta SLTP 183 Jakarta Pusat.
4. Bencana Alam
Beberapa tahun terakhir ini, Indonesia terus menerus dilanda musibah bencana alam. Mulai dari Tsunami yang melanda Aceh dan sekitarnya di penghujung tahun 2004 sampai banjir yang melanda beberapa daerah di Indonesia. Dengan semangat kebersamaan dan ingin membantu sesama anak bangsa, Pertamina menyingsingkan lengah mengerahkan seluruh daya dan upaya yang ada untuk membantu para korban bencana alam. Mengibarkan bendera “Pertamina Peduli”, Pertamina bergerak bersama beberapa lembaga, seperti ACT (Aksi Cepat Tanggap).
Kegiatan gempa bumi dan tsunami di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara pada akhir tahun 2004 meluluhlantakkan semua. Fasilitas umum hancur, termasuk fasilitas distribusi BBM milik Pertamina yang ada di Meulaboh dan Krueng Raya. Ratusan ribu jiwa melayang, termasuk sejumlah pekerja Pertamina dan anggota keluarganya. Bantuan senilai Rp. 15 miliar dikucurkan untuk membantu korban bencana tsunami tersebut. Pengumpulan bantuan sukarela dari para pekerja di seluruh lini Pertamina juga dilakukan. Bantuan ini disalurkan dalam bentuk pemberian makanan, minuman, obat-obatan, pendirian dapur umum, pembukaan poliklinik