• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Kerangka Pikir

Kalangan pekerja kantoran merupakan salah satu kelompok sosial dalam masyarakat yang rentan terhadap gaya hidup yang sedang berlaku. Bagi pekerja kantoran sendiri mode dan penampilan merupakan hal penting yang mendapat perhatian khusus. Keinginan untuk tampil menarik merupakan dambaan bagi seluruh manusia. Dengan berpenampilan menarik manusia merasa lebih percaya diri dan lebih diterima di masyarakatnya. Masa ketika masyarakat mulai memasuki era modern seperti ini adalah dimana yang namanya keinginan dan kebutuhan telah menjadi sesuatu yang tidak jelas dan semakin sulit dibedakan satu dengan yang lainnya. Ketika gengsi masyarakat lebih mengedepan, berbelanja menjadi sebuah gaya hidup, berbagai fasilitas. Banyak didirikannya online shop menjadi solusi bagi pekerja kantoran berbelanja secara online. Karena, dengan adanya online shop masyarakat dapat berbelanja dimanapun mereka berada, tidak

perlu pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli item yang dibutuhkan, yang diperlukan hanyalah tinggal memesan saja.

Ketika pekerja kantoran melakukan belanja produk-produk online shop pekerja kantoran merasa mudah untuk melakukan transaksi dalam berbelanja tanpa mengganggu aktifitas pekerjaan mereka. Tanpa mempedulikan kekurang dari belanja online itu sendiri. Fenomena ini menimbulkan perilaku konsumtif pada kalangan pekerja kantoran. Perilaku konsumtif tersebut lebih menekankan pengkonsumsian suatu barang bukan karena kegunaan suatu barang namun lebih karena sebatas keinginan saja yang didasarkan adanya peningkatan status, prestise, kelas, yang ingin ditampilkan melalui pengkonsumsian sesuatu. Factor-faktor terjadinya perilaku konsumtif juga mempengaruhi pekerja kantoran untuk berperilaku konsumtif.

Gambar 2.1 Pekerja kantoran

- Kesibukan - Peningkatan status

- Gengsi - Gaya Hidup

Online shopping

Perilaku konsumtif

41 A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian mengenai “Perilaku Konsumtif Pekerja Kantoran Pada Online Shopping Fashion Di Kecamatan Ujung Loe Kabupaten Bulukumba”. ini adalah penelitian kualitatif. Metode kualitatif merupakan suatu prosedur penelitian yang menghasilkan deskripsi dari orang-orang atau perilaku, dalam bentuk kata-kata, baik lisan maupun tulisan.

Salah satu cirri penelitian kualitatif adalah bersifat deskriptif, di mana data dikumpulkan dalam bentuk kata-kata, gambar dan bukan angka-angka. Data-data tersebut lebih banyak bercerita mengenai objek penelitian, sehingga tujuan penelitian dapat tercapai.

B. Lokus Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di beberapa perkantoran di kecamatan Ujung Loe, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan.

C. Informan Penelitian

Informan penelitian ini dilakukan secara Snowball Sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar. Ibarat bola salju yang menggelinding yang lama-lama menjadi besar.

Dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu atau dua orang sampel, tetapi karena dengan dua orang sampel ini belum merasa lengkap terhadap data yang diberikan, maka peneliti mencari orang lain yang dipandang lebih tahu dan dapat

melengkapi data yang diberikan oleh dua orang sampel sebelumnya. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak.

D. Fokus Penelitian

Fokus dalam penelitian ini adalah pekerja kantoran yang melalkukan Prilaku komsumtif pada online shopping di Kecamatan Ujung Loe, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Dan penelitian ini dilakukan selama satu bulan.

E. Instrumen Penelitian

Pada penelitian ini, penulis sendiri yang bertindak sebagai instrumen (human instrumen). Hal ini didasari oleh adanya potensi manusia yang memiliki sifat dinamis dan kemampuan untuk mengamati, menilai, memutuskan dan menyimpulkan secara obyektif

Untuk memperoleh hasil penelitian yang cermat dan valid serta memudahkan penelitian maka perlu menggunakan alat bantu berupa pedoman

Gambar, 3.1

wawancara (daftar pertanyaan), pedoman observasi, pensil/pulpen dan catatan peneliti yang berfungsi sebagai alat pengumpul data serta alat pemotret.

F. Jenis dan Sumber Data Penelitian

Data primer dan data sekunder sebagai berikut ;

a) Data Primer merupakan data yang didapatkan dari informan utama yaitu pekerja kantoran yang melakukan online shopping Kecamatan Ujung Loe Kabupaten Bulukumba, Sedangkan

b) Data Sekunder merupakan data pelengkap yang didapatkan dari informan yang dianggap bias memberikan informasi terkait dengan penelitian ini.

G. Teknik Pengumpulan Data

Data adalah penunjang yang sangat penting dalam sebuah penelitian.

Semakin banyak data yang diperoleh maka semakin bagus pula hasil akhir dari suatu penelitian. Dalam penelitian mengenai prilaku komsumtif online shopping para pekerja kantoran ini, peneliti menggunakan beberapa cara dalam mengumpulkan data, yaitu:

1. Observasi langsung yang bertujuan untuk mengumpulkan data awal agar memberikan pengetahuan bagi peneliti tentang prilaku komsumtif yang ada di Kecamatan Ujung Loe Kabupaten Bulukumba.

2. Wawancara (interview), yakni teknik yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dan lebih mendalam sehingga dipastikan kenyataan dari suatu fakta, sehingga didapatkan penjelasan secara langsung dan lebih akurat mengenai penelitian ini.

3. Dokumentasi dilakukan untuk mengumpulkan data dalam bentuk mencatat hasil wawancara lansung, rekaman dan foto atau gambar-gambar dilapangan yang dapat lebih mengakuratkan data penelitian yang berkaitan dengan penelitian pada pekerja kantoran yang melakukan belanja online Kecamatan Ujung Loe, Kabupaten Bulukumba.

H. Analisis Data

Teknik analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalahan alisis data kualitatif deskriptif untuk menginterpretasikan hasil penelitian, baik yang melalui wawancara ataupun observasi langsung. Data penelitian kualitatif tidak berbentuk angka, tetapi lebih banyak berupa narasi, deskripsi, cerita, dokumen tertulis dan tidak tertulis (gambar,foto) ataupun bentuk-bentuk non angkalainnya. Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama dilapangan dan setelah selesai di lapangan. analisis data kualitatif dilakukan dengan menggunakan model interaktif yaitu:

1. Pengumpulan data, data dikumpulkan dari wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasilnya ditulis dalam bentuk catatan lapangan dan disalin dalam bentuk transkrip.

2. Peneliti mengeksplorasi data atau informasi yang telah dikumpulkan dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi tentang Perilaku Konsumtif Pekerja Kantoran Pada Online Shopping Fashion Di Kecamatan Ujung Loe Kabupaten Bulukumba. Peneliti akan menganalisis data atau informasi yang dikumpulkan dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi yaitu dengan mengklasifikasikan data berdasarkan kriteria-kriteria tertentu yang telah

ditentukan oleh peneliti kemudian membandingkan data atau informasi dari setiap sumber-sumber yang peneliti dapatkan dilapangan serta mencari hubungan antara data ataui nformasi yang diperoleh yang ada kaitannya dengan focus penelitian.

3. Menyimpulkan yaitu penarikan kesimpulan dan verifikasi.

I. Teknik Keabsahan Data

Menguji keabsahan data peneliti menggunakan teknik Trianggulasi, yaitu pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut, dan teknik trianggulasi yang paling banyak digunakan adalah dengan pemeriksaan melalui sumber yang lainnya.

Sebelum menganalisa data lebih lanjut perlu diperiksa keabsahan data yang dikumpulkan agar supaya keabsahan data yang diperoleh peneliti benar-benar sah atau absah. Seperti yang dikemukakan oleh Moleong dalam bukunya Metode Penelitian Kualitatif (2002:178), yang mengungkapkan bahwa pemeriksaan keabsahan data dapat dilakukan melalui beberapa cara satu diantaranya adalah dengan teknik trianggulasi yang meliputi tiga unsur, yaitu:

1. Sumber

Mengecek kembali data yang diperoleh dengan informasi dokumen serta sumber informasi untuk mendapatkan derajat kepercayaan adanya informasi dan kesamaan pandang serta pemikiran.

2. Metode

Metode digunakan untuk mendapatkan keabsahan dalam penulisan hasil penelitian, dalam pemerolehan data peneliti mendapatkan dari beberapa informasi, maka dari itu perlu adanya pengabsahan data yang didapat agar dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

3. Teori

Penggunaan teori dalam bentuk trianggulasi berdasarkan anggapan fakta tertentu tidak dapat diperiksa derajat kepercayaan dengan satu teori. Hal ini tidak mungkin dilakukan peneliti yang hanya menggunakan satu teori.

Dalam penelitian ini digunakan beberapa sumber buku sebagai acuan teoritis (referensi), sehingga benar-benar dapat dibandingkan antara teori yang satu dengan yang lain sekaligus dapat menambah wawasan pengetahuan sebagai faktor pendukung dalammenyelesaikan tesis. Dengan membandingkan beberapa teori serta didukung dengan data yang ada, sehingga peneliti dapat melaporkan hasil yang penelitian yang disertai penjelasan-penjelsan sebagaimana yang ditentukan. Dengan demikian akan menambah derajat kepercayaan data yang ada.

Diantara ketiga sumber diatas, peneliti terapkan hanya pada sumber untuk memeriksa keabsahan data. Hal ini dilakukan dengan mencocokkan data dari berbagai sumber, antara lain peneliti mencoba menggali tentang Perilaku Konsumtif Pekerja Kantoran Pada Online Shopping Fashion Di Kecamatan Ujung Loe Kabupaten Bulukumba dengan sumber primer masyarakat yang bermata pencaharian sebagai pekerja kantoran, serta mencari teori dari beberapa sumber buku.

J. Jadwal Penelitian

Jadwal penelitian pelaksanaankegiatan ini disesuaikan jadwal sebagai berikut:

No Jenis Kegiatan

Bulan Ke Ket

I II III IV V VI

1. Menyusun Proposal Penelitian 2. Konsultasi Proposal Penelitian

3. Seminar Proposal Penelitian 4. Pelaksanaan penelitian 5. Interpertasi dan analisis data 6. Penulisan Skripsi

7. Konsultasi Skripsi 8. Penyajian ujian Skripsi

48 A. Sejarah Kabupaten Bulukumba

Mitologi penamaan “Bulukumba“, memiliki banyak versi, salah satunya adalah konon bersumber dari bahasa Konjo (Suku Konjo, Suku Asli Penduduk Bulukumba) yaitu “Bulukumpa” yang dalam bahasa Indonesia berarti “masih gunung milik saya atau tetap gunung milik saya“. Nama ini ini di gunakan pertama kali oleh salah satu Amma Towa yang ketika beliu berdiri di “Jojjolo“(salah satu wilayah adat Gellarang Jojjolo) beliau ditanya tentang keberadaan salah satu bukit yang berada dalam wilayah Desa Bonto Mangiring hari ini, yang mana beliau mengatakan„ Bulukumpa “bahwa wilayah itu masih menjadi wilayah dari kekuasaan Ammatoa , bahkan menjadi salah satu nama kecamatan di Bulukumba yaitu kecamatan Bulukumpa.

Sejarah yang lain tentang Mitologi penamaan “Bulukumba“, konon bersumber dari dua kata dalam bahasa Bugis yaitu “Buluku“ dan “Mupa” yang dalam bahasa Indonesia berarti “masih gunung milik saya atau tetap gunung milik saya“. Mitos ini pertama kali muncul pada abad ke – 17 Masehi ketika terjadi perang saudara antara dua kerajaan besar di Sulawesi yaitu kerajaan Gowa dan kerajaan Bone. Di pesisir pantai yang bernama “tanahkongkong“, disitulah utusan Raja Gowa dan Raja Bone bertemu, mereka berunding secara damai dan menetapkan batas wilayah pengaruh kerajaan masing-masing. “Bangkeng Buki”,

yang merupakan barisan lereng bukit dari Gunung Lompo Battang diklaim oleh pihak kerajaan Gowa sebagai batas wilayah kekuasaannya mulai dari Kindang sampai ke wilayah bagian timur. Namun pihak kerajaan Bone berkeras mempertahankan Bangkeng Buki sebagai wilayah kekuasaannya mulai dari barat sampai ke selatan. Berawal dari peristiwa tersebut kemudian tercetuslah kalimat dalam bahasa Bugis “Bulukumpa”, yang kemudian pada tingkatan dialeg tertentu mengalami perubahan proses bunyi menjadi “Bulukumba”

Sejarah yang lain tentang penamaan “Bulukumba“, konon masih bersumber dari dua kata dalam bahasa Bugis yaitu “Buluku“ dan “Mupa” yang dalam bahasa Indonesia berarti “masih gunung milik saya atau tetap gunung milik saya“. Mitos ini pertama kali muncul pada abad ke – 16 Masehi ketika terjadi perang saudara antara dua kerajaan besar di Sulawesi yaitu kerajaan Gowa dan kerajaan Bone. Dan di batas Bukit yang bernama Karampuang Raja Bone masih mengklaim bahwa bukit Karampuan (Wilayah ini didekat perbatasan Kab. Bulukumba dan Kab. Sinjai mengklaim masih Bukitnya, yang merupakan barisan lereng bukit dari Gunung Lompo Battang,oleh pihak kerajaan Gowa sebagai batas wilayah kekuasaannya.

Namun pihak kerajaan Bone berkeras mempertahankan sebagai wilayah kekuasaannya mulai dari barat sampai ke selatan. Berawal dari peristiwa tersebut kemudian tercetuslah kalimat dalam bahasa Bugis “Bulukumupa”, yang kemudian pada tingkatan dialeg tertentu mengalami perubahan proses bunyi menjadi

“Bulukumba”

Sejarah diatas memang perlu dikaji kembali, akan tetapi salah satu bukti pendukung ini adalah bahwa jauh sebelum pemekaran desa Bulo-bulo menjadi desa Salassa’e dan pemekaran desa Salassa’e menjadi Desa Bonto Mangiring di salah satu dusunnya ada dusun yang bernama dusun Bulukumpa. Dan didesa ini memiliki situs yang disebut Batu Tujua (tempat Pelantikan para raja yang akan berkuasa). Sejarah ini membantah tentang penamaan Bulukumba yang lain yang sesungguhnya jauh dari Dominasi Kerajjan Bone atau Kerajaan Gowa. Konon sejak itulah nama Bulukumba mulai ada, dan hingga saat ini resmi menjadi sebuah kabupaten.

(Seharusnya kita memang mengkaji nama Bulukumba dari segi Historis dan keberadaan suatu tempat berdasarkan nama dan tempat, Untuk yang meyakini sejarah yang lain, mari kita bersama-sama melakukan kajian Ilmiah kembali.

Peresmian Bulukumba menjadi sebuah nama kabupaten dimulai dari terbitnya Undang-undang nomor 29 tahun 1959, tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II di Sulawesi, yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bulukumba nomor 5 tahun 1978, tentang Lambang Daerah. maka ditetapkanlah hari jadi Kabupaten Bulukumba, yaitu tanggal 4 Februari 1960 melalui Peraturan Daerah nomor 13 tahun 1994.

Secara yuridis formal Kabupaten Bulukumba resmi menjadi daerah tingkat II setelah ditetapkan Lambang Daerah Kabupaten Bulukumba oleh DPRD Kabupaten Bulukumba pada tanggal 4 Februari 1960 dan selajutnya dilakukan pelantikan Bupati Pertama yaitu Andi Patarai pada tanggal 12 Februari 1960.

B. Keadaan Geografis

Kabupaten Bulukumba merupakan salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang terletak terletak di bagian selatan dengan jarak kurang lebih 153 kilometer dari ibukota Propinsi Sulawesi Selatan (Makassar). Secara geografis, Kabupaten Bulukumba terletak antara 5o20” sampai 5o40” lintang selatan dan 119o58” sampai 120o28” bujur timur. Di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Sinjai, sebelah timur dengan Teluk Bone, sebelah selatan dengan Laut Flores dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Bantaeng.

Kabupaten Bulukumba secara administratif terbagi menjadi 10 kecamatan meliputi 27 kelurahan dan 99 desa dengan luasan sekitar 1 154.7 km² atau sekitar 2.5 persen dari luas wilayah Sulawesi Selatan. Kecamatan Gantarang dan Bulukumpa merupakan dua wilayah kecamatan terluas masing-masing 173.5 km² dan 171.3 km²

(sekitar 30 persen dari luas kabupaten), sedangkan Kecamatan Ujung Bulu yang merupakan pusat kota kabupaten memiliki luas wilayah terkecil yaitu 14.4 km² atau hanya sekitar 1 persen.

Kabupaten Bulukumba memiliki keistimewaan tersendiri dari aspek geografisnya dimana kondisi wilayahnya ada yang bergunung, bergelombang dan rata serta memiliki garis pantai dengan panjang kurang lebih 128 km dan luas lautan kurang lebih 921.6 km² yang berbatasan langsung dengan Laut Flores pada bagian selatan dan Teluk Bone pada bagian timur. Kabupaten Bulukumba memiliki wilayah dengan ketinggian bervariasi dari 0 meter dpl hingga di atas 1000 m. Sebagian besar wilayahnya berada pada ketinggian 0 sampai 500 m dpl, dimana terdapat 7 kecamatan yang merupakan daerah pesisir yaitu Gantarang, Ujung Bulu, Ujung Loe, Bonto Tiro, Bonto Bahari, Kajang dan Herlang. Kecamatan Ujung Bulu 100 persen wilayahnya berada pada ketinggian 0 sampai 25 m dpl dan hanya Kecamatan Kindang yang memiliki ketinggian di atas 1000 m dpl dengan luasan sekitar 34 persen dari luas kecamatan tersebut.

Tabel 5 Luas Wilayah Kabupaten Bulukumba Dirinci menurut Kecamatan Tahun

Jenis utama tanah yang ada di Kabupaten Bulukumba yaitu:

1. Latosol seluas 55 600 ha (48.15 persen) tersebar pada Kecamatan Bonto Bahari, Bonto Tiro, Bulukumpa, Gangking, Herlang, Kajang dan Ujung Bulu serta sebagian pada masing-masing Kecamatan Rilau Ale, Kindang dan Ujung Loe.

2. Mediteran seluas 18 277 ha (15.79 persen) tersebar di Kecamatan Gantarang dan Ujung Bulu.

3. Laterik seluas 14 206 ha (15.79 persen) tersebar di Kecamatan Ujung Bulu.

4. Regosol seluas 13 495 ha (11.69 persen) tersebar di Kecamatan Bonto Tiro, Gantarang, Herlang, Kajang, Ujung Bulu, Kindang dan Ujung Loe.

5. Andosol seluas 7 452 ha (6.43 persen) tersebar di Kecamatan Bulukumpa dan Gantarang.

6. Aluvial seluas 5 320 (4.60 persen) tersebar di Kecamatan Bonto Bahari. Gantarang, Kajang, Ujung Bulu, Kindang dan Ujung Loe.

Suhu rata-rata berkisar 23.82⁰C sampai 27.68⁰C dan berdasarkan analisis menggunakan Smith-Ferguson termasuk klasifikasi lembab atau agak basah. Daerah dengan curah hujan tertinggi terdapat pada wilayah barat laut dan timur sedangkan pada daerah tengah memiliki curah hujan sedang dan pada bagian selatan curah hujannya rendah. Perincian wilayah dengan kisaran curah hujan sebagai berikut :

1. Curah hujan antara 800-1000 mm/tahun meliputi Kecamatan Ujung Bulu, sebagian Gantarang, sebagian Ujung Loe dan sebagian Bonto Bahari.

2. Curah hujan antara 1000-1500 mm/tahun meliputi sebagian Kecamatan Gantarang, sebagian Ujung Loe dan sebagian Bonto Tiro.

3. Curah hujan antara 1500-2000 mm/tahun meliputi Kecamatan Gantarang, sebagian Rilau Ale, sebagian Ujung Loe, sebagian Kindang, sebagian Bulukumpa, sebagian Bonto Tiro, sebagian Herlang dan Kajang.

4. Curah hujan di atas 2000 mm/tahun meliputi Kecamatan Kindang, Rilau Ale, Bulukumpa dan Herlang.

Sungai di Kabupaten Bulukumba sebanyak 32 aliran sungai yang terdiri dari sungai besar dan kecil. Jumlah panjang sungai seluruhnya mencapai 603.50 km.

Sungai-sungai tersebut sebagian besar dimanfaatkan untuk sumber air bersih dan pengairan sawah dengan luas wilayah yang dilayani 23 365 ha. Debit air dari 32 sungai tersebut terbesar yaitu Sungai Bialo 14.2 m³/detik, Sungai Balantieng 13.3

m³/detik, Sungai Bijawang 7.5 m3/detik dan Sungai Sangkala 5 m³/detik dan selebihnya memiiki debit di bawah 3 m³/detik. Hulu dari Sungai Bialo dan Bijawang adalah Gunung Lompobattang sedangkan hulu Sungai Balantieng berasal dari Gunung Bawakaraeng. Ketiga sungai tersebut yang memiliki debit air terbesar semuanya bermuara di Laut Flores.

Kabupaten Bulukumba memiliki keistimewaan dari kondisi wilayah yang bervariasi. Karakteristik yang dimiliki baik dari segi topografi, kemiringan lahan, dan iklim merupakan peluang yang berpotensi untuk mengembangkan berbagai komoditi pertanian yang dapat dilihat dari luasan penggunaan lahan. Penggunaan lahan merupakan penggolongan dalam memanfaatkan lahan secara umum.

C. Penduduk

Penduduk Kabupaten Bulukumba tahun 2010 berjumlah 394 746 jiwa yang tersebar di 10 (sepuluh) kecamatan. Dari sepuluh kecamatan, Kecamatan Gantarang yang mempunyai jumlah penduduk terbesar yaitu 70 301 jiwa. disusul Kecamatan Bulukumpa sebanyak 50 835 jiwa. Hal ini disebabkan karena kedua kecamatan tersebut memiliki luas wilayah terbesar di Kabupaten Bulukumba. Sedangkan jumlah penduduk terkecil terdapat pada Kecamatan Bonto Tiro dan Bonto Bahari dengan jumlah penduduk sebanyak 22 808 jiwa dan 23 976 jiwa.

Kepadatan penduduk Kabupaten Bulukumba pada tahun 2010 mencapai 342.32 orang per km2. Kecamatan yang paling padat penduduknya adalah kecamatan Ujung Bulu yaitu 3 332.83 orang per km². Hal ini terjadi karena kecamatan tersebut

merupakan ibukota Kabupaten Bulukumba dan aktivitas yang tinggi dengan jumlah penduduk relatif besar dan luas wilayah terkecil. Untuk tingkat kepadatan penduduk terkecil terdapat di Kecamatan Kindang yaitu 200.42 orang per km2. Berdasarkan kondisi geografis, umumnya Kecamatan Kindang merupakan wilayah perbukitan dan memiliki hutan lindung terluas di Kabupaten Bulukumba sehingga kondisi tersebut menyebabkan kurangnya penduduk yang bermukim di kecamatan tersebut.

D. Tenaga Kerja dan Perindustrian

Penduduk usia kerja (PUK) merupakan penduduk yang berumur 15 (lima belas) tahun ke atas. Penduduk usia kerja terdiri dari angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Mereka yang termasuk dalam angkatan kerja adalah penduduk yang bekerja atau sedang mencari pekerjaan sedangkan bukan angkatan kerja adalah mereka yang bersekolah, mengurus rumah tangga atau melakukan kegiatan lain.

Penduduk usia kerja di Kabupaten Bulukumba pada tahun 2015 berjumlah 276 540 jiwa yang terdiri dari 126 438 laki-laki dan 150 102 perempuan. Penduduk usia kerja yang masuk angkatan kerja berjumlah 183 755 jiwa atau 66.45 persen dari seluruh penduduk usia kerja.

Penduduk Kabupaten Bulukumba dengan status mencari pekerjaan (Apply Job) tercatat 13 686 jiwa dari seluruh angkatan kerja. Dari angka tersebut tercatat tingkat pengangguran terbuka (rasio antara pencari kerja dan jumlah angkatan kerja) di Kabupaten Bulukumba pada tahun 2015 sebesar 7.45 persen yang menunjukkan adanya peningkatan sekitar 1.74 persen dari 5.71 persen tahun 2014.

No Angkatan Kerja 2014

Penduduk angkatan kerja yang bekerja di lapangan usaha pertanian menyerap tenaga kerja terbanyak baik pada tahun 2014 maupun 2015. Akan tetapi, pada tahun 2015 jumlah pekerja mengalami penurunan sebesar 10.58 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sama halnya dengan lapangan usaha perdagangan, rumah makan dan hotel yang mengalami penurunan jumlah pekerja sebanyak 25 978 orang pada tahun 2014 menjadi 22 471 orang. Hanya lapangan usaha industri pengolahan yang mengalami peningkatan sebesar 32.67 persen.

No Lapangan Usaha Tahun2014

58

KONSUMTIF PEKERJA KANTORAN

A. Adanya Proses Stimulus

Online shop atau toko online merupakan sarana atau toko yang menawarkan barang dan jasa lewat internet. Konsumen pada online shop dapat melihat barang-barang secara langsung baik dalam bentuk gambar atau foto-foto dan dalam bentuk video. Biasanya, barang yang dijual oleh online shop merupakan barang-barang yang limited edition serta biasa tidak ada di toko-toko atau pasaran. Sehingga, kondisi yang demikian ini semakin membuat orang tertarik untuk kemudian berbelanja online. Saat ini, media sosial berupa instagram, Facebook, line dan media sosial lainnya memang sedang menjadi trend dikalangan muda-mudi. Instargram maupun facebook dan media sosial lainnya merupakan media yang digunakan untuk share foto-foto maupun short video. Fungsi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk mengunggah foto-foto produk online shop dengan dilengkapi klasifikasi barang serta price dari produk tersebut. Hal ini membuat setiap orang yang sedang mengakses media sosial akan langsung dapat melihat produk yang dijual dalam online beserta klasifikasi dan harga produk tersebut. Hal tersebut akan semakin mempermudah konsumen untuk memilih produk yang disukai. Sebab, dalam media sosial seperti instagram dan facebook juga dapat diketahui beberapa produk dari

beberapa online shop dalam waktu yang bersamaan. Ini merupakan manfaat yang dapat diperoleh oleh konsumen dari online shop.

Berdasarkan wawancara dari informan bahwa pekerja kantoran merasa sangat mudah beebelanja dengan adanya online shop ini, seperti yang diungkapkan

Berdasarkan wawancara dari informan bahwa pekerja kantoran merasa sangat mudah beebelanja dengan adanya online shop ini, seperti yang diungkapkan