BAB IV PEMBAHASAN
4.2 Dukungan Sarana dan Prasarana Dalam Program Revitalisasi Perikanan
4.2.1 Pelabuhan Perikanan / Pangkalan Pendaratan ikan (PPI)
62 Salah satu elemen yang sangat penting untuk mendukung kelancaran operasional kegiatan perikanan tangkap serta kegiatan revitalisasi tuna di Sulawesi Tengah adalah tersedianya prasarana pendukung untuk tempat berlabuh atau bersandar bagi kapal-kapal perikanan serta tempat untuk mendaratkan ikan hasil tangkapan. Prasarana dimaksud berupa Pelabuhan Perikanan atau Pangkalan Pendaratan Ikan sebagai tempat atau pangkalan untuk memperoleh pemenuhan kebutuhan bagi kapal-kapal perikanan.
Pembangunan dan pengembangan pelabuhan Perikanan/PPI diharapkan dapat mendukung pengembangan industri perikanan yang berwawasan Agribisnis yang akan memberikan nilai tambah bagi produk yang dihasilkan. Fungsi Pelabuhan Perikanan/Pangkalan Pendaratan Ikan, sebagai berikut:
1. Sebagai pusat pengembangan masyarakat nelayan dan pertumbuhan ekonomi nelayan.
2. Tempat berlabuh kapal perikanan 3. Tempat pendaratan ikan hasil tangkapan
4. Tempat pelayanan dan memperlancar kegiatan operasional kapal perikanan 5. Pusat pelaksanaan pembinaan dan penanganan mutu hasil perikanan
6. Pusat pemasaran dan distribusi hasil perikanan
7. Pusat pelaksanaan penyuluhan dan pengumpulan data perikanan 8. Tempat pelaksanaan pengawasan (MCS).
Berdasarkan hal tersebut telah dibangun beberapa PPI yang masing-masing ditempatkan di tiga (3) zona pengelolaan perikanan tangkap yakni zona I laut Sulawesi dan Selat Makassar telah dibangun dan dikembangkan PPI Donggala, zona II Perairan Teluk Tomini PPI Paranggi dan PPI Malenge di Kepulauan Togean serta zona III Perairan Teluk Tolo PPI Kolonedale.
PETA LOKASI PELABUHAN PERIKANAN/PPI (Propinsi Sulawesi Tengah)
ZONA I KOTA PALU KAB. DONGGALA
KAB. TOLITOLI KAB. BUOL
ZONA II KAB. PARIGIMOUTONG
KAB. POSO KAB. BANGGAI KAB. TOJO UNAUNA
ZONA III KAB. BANGGAI KAB. BANGKEP KAB. MOROWALI
63 Gambar 3. Peta Lokasi Pelabuhan Perikanan/PPI
Krisis ekonomi yang berkepanjangan, diikuti oleh kenaikan harga bahan Bakar Minyak (BBM) sangat terasa di segala aspek lini kehidupan masyarakat. Dalam kondisi perekonomian masyarakat yang sangat memprihatinkan saat ini, kenaikan BBM semakin menambah beban masyarakat yang sampai saat ini masih juga menanggung beban krisis ekonomi.
Kenaikan harga BBM akan mengakibatkan efek dominan di masyarakat, baik secara ekonomi maupun sosial politik kebijakan menaikan harga BBM juga akan menimbulkan kerawanan sosial di masyarakat. Di tengah kehidupan sosial-ekonomi yang parah yang semakin terhimpis krisis, kebutuhan hidup semakin meningkat, sementara daya beli masyarakat semakin rendah, yang akan menimbulkan ketidakstabilan sosial- ekonomi dan keamanan.
Potensi perikanan tangkap Indonesia diperkirakan mencapai Potensi perikanan tangkap Indonesia diperkirakan mencapai 6.28 juta ton per tahun dengan jumlah tangkapan yang diperbolehkan sebesar 5.01 juta ton atau 80% dari MSY (Maximum Sustainable Yield). Jumlah tangkapan hingga saat ini mencapai 3.50 juta ton sehingga tersisa peluang sebesar 1.50 juta ton/tahun. Potensi perikanan tangkap tersebut diperkirakan memiliki nilai ekonomi US$ 15.10 milyar. Potensi ini tersebar dalam sepuluh wilayah pengelolaan perikanan yang meliputi Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) Selat Malaka, Laut Cina Selatan, Laut Jawa, Selat Makassar dan Laut Flores, Laut Banda, Laut Seram dan Teluk Tomini, Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik, Laut Arafura, Samudera Hindia A (Barat Sumatera) dan Samudera Hindia B (Selatan Jawa dan Nusa Tenggara) (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2003). Selanjutnya. Olii (2007) mengatakan bahwa potensi perikanan wilayah Teluk Tomini sebesar 590.620 ton per tahun namun tingkat pemanfaatannya sebesar 197.640 ton per tahun (33,46%). Adapun potensi perikanan pelagis besar sebesar 39.420 ton (Tuna) per tahun dan tingkat pemanfaatanya sebesar 37,01%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan
64 bahwa tingkat eksploitasi sumberdaya perikanan pelagis di perairan Teluk Tomini diduga belum optimal atau masih underfishing sehingga masih dapat dikembangkan.Secara geografis perairan Teluk Tomini terletak pada 3 daerah administrasi provinsi dan 10 kabupaten. Dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 32 tahun 2004, dijelaskan bahwa kewenanangan pengelolaan sumberdaya pesisir provinsi sejauh 12 mil dan wilayah kabupaten sejauh 4 mil. Ini berarti bahwa setiap provinsi dan kabupaten dapat menyusun rencana strategis pengelolaan sumberdaya perikanan secara sendiri-sendiri sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh undang-undang. Hal ini akan berdampak kurang baik bagi keberlanjutan sumberdaya perikanan karena setiap daerah berusaha untuk memanfaatkan sumberdaya tersebut sebesar-besarnya. Selain itu karena sumberdaya ikan pelagis bersifat dinamis dan dapat berpindah-pindah dari daerah perairan kabupaten/provinsi yang satu ke perairan kabupaten/provinsi lainnya sehingga memungkinkan nelayan yang berada di suatu kabupaten/provinsi akan menangkap ikan di perairan kabupaten/provinsi lainnya. Data dibawah ini produksi ikan tuna.
Tabel 12. Produksi Ikan Tuna PPI Labuan Bajo Kabupaten Donggala Tahun 2012
No. Bulan
JENIS IKAN
Tuna Cakalang Baby Tuna Tongkol
Kg Nilai
Kg Nilai
Kg Nilai
Kg Nilai
(Rp 1000) (Rp 1000) (Rp 1000) (Rp 1000)
1 April
9,087
272,610
1,850
27,750
2,950
59,000
8,050
161,000
2 Mei
10,041
281,148
4,150
60,175
2,500
46,250
8,150
138,550
3 Juni
22,852
639,856
1,700
22,950
2,410
44,585
6,050
102,850
4 Juli
20,632
577,696
5,500
71,500
2,400
44,400
5,600
95,200 5 Agustus
2,076
62,280
10,000
140,000
4,075
77,425
7,350
132,300 6 September
2,256
67,680
11,840
165,760
4,525
85,975
7,545
135,810 7 Oktober
-
-
48,900
293,400 -
-
11,900
95,200 8 Nopember
43,921
1,301,608
2,695
48,870
2,476
51,356
5,645
107,865 9 Desember
2,370
71,100
21,805
327,075
5,490
109,800
9,400
141,000 Jumlah 113,235 3,273,978 108,440 1,157,480 26,826 518,791 69,690 1,109,775
65
Grafik 2 : Produksi Ikan Tuna di PPI Labuan Bajo Kab Donggala Tahun 2012
Upaya untuk melakukan pengeloaan bersama antar propinsi telah dimulai pada tahun 2003 ketika dicanangkan Gerakan Nasional Pembangunan Kelautan dan Perikanan (Gerbang Mina Bahari), namun baru dapat terwujud dalam bentuk penandatangan kesepakatan oleh tiga gubernur provinsi Sulut, Gorontalo dan Sulteng pada tanggal 19 Mei 2009. Terdapat 4 kesepakatan yang disetujui ketiga gubernur tersebut yaitu :
1. Menetapkan rencana strategis pengelolaan Teluk Tomini secara terpadu dan berkelanjutan sebagai dokumen perencanaan pembangunan daerah.
2. Pelaksanaan pengelolaan Teluk Tomini secara terpadu dan berkelanjutan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan menerapkan strategi pengelolaan secara konsisten dan konsekuen.
3. Penguatan kelembagaan pengelolaan Teluk Tomini secara terpadu dan berkelanjutan untuk melaksanakan koordinasi, integrasi, sinergitas program/kegiatan dan evaluasi bersama.
4. Peningkatan alokasi anggaran untuk pengelolaan Teluk Tomini secara terpadu dan berkelanjutan melalui APBD ketiga provinsi, APBD Kabupaten/Kota, dukungan APBN; penggalangan dunia usaha, masyarakat serta kerjasama internasional.
Sumberdaya perikanan pelagis di perairan Teluk Tomini masih diduga underfishing, untuk itu diperlukan konsep pengembangan perikanan untuk mencapai laju eksploitasi optimum. Besarnya laju eksploitasi optimum sangat bergantung kepada pembuat kebijakan (Panayotou, 1982 dan Koswara, 2009). Selama ini kebijakan
66 pengelolaan sumberdaya perikanan pelagis di perairan Teluk Tomini dilakukan secara parsial berdasarkan pendekatan kewilayahan geografis belum dilakukan secara terpadu berdasarkan pendekatan kawasan ekologis. Dalam keadaan yang masih underfishing, sumberdaya perikanan pelagis di perairan Teluk Tomini selayaknya dikelola secara terpadu untuk menjamin keberlanjutannya.