BAB II LANGKAH-LANGKAH EVALUASI
B. PELAKSANAAN
56│ Dr. Mindani, M.Ag mengalami kesulitan untuk menentukan nilai siswa.
Dalam evaluasi ada dua acuan penilaian yang bisa dipakai oleh siswa itu Penilaian Acuan Norma (PAN) dan Penilaian Acuan Patokan (PAP). Pemakaian kedua acuan ini harus disesuaikan dengan ketentuan pihak yang berwenang , yang biasanya dicantumkan dalam kurikulum yang sedang berlaku .
6. Menentukan frekuensi
Kegiatan terakhir yang dilakukan dalam tahap perencanaan adalah menentukan frekuensi atau jadwal evaluasi. Pada tahap ini evaluator harus memuturkan berapa kali evaluasi akan dilakukan dan kapan evaluasi tersebut akan dilakukan.
Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ( PAI ) │57 1. Pengumpulan data
Pengumpulan data adalah kegiatan mengumpulkan segala informasi dari objek evaluasi. Kegiatan mengumpulkan data ini dilakukan untuk memenuhi tujuan evaluasi yang telah ditetapkan. Data yang terkumpul nantinya tergantung pada teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data, apakah teknik tes ataupun non tes.
Pengumpulan data ini terdiri dari beberapa kegiatan. Kegiatan pertama adalah melaksanakan ujian atau membagikan alat ukur kepada siswa untuk dijawab. Setelah dijawab langkah ke-2 adalah memeriksa jawaban siswa dengan membandingkan antara jawaban yang diberikan oleh siswa dengan kunci jawaban soal, dari hasil pemeriksaan ini nantinya akan dihasilkan skor berupa angka. Kedua kegiatan ini dalam pengertian evaluasi terdahulu disebut dengan kegiatan pengukuran.
Dalam melakukan pengukuran, seringkali terjadi kekeliruan kekeliruan. Sudijono mengemukakan ada beberapa sumber penyebab dan jenis error (kekeliruan) yang dapat terjadi dalam pengukuran. Jenis, sumber penyebab, dan jenis error tersebut dapat diringkas dalam matriks sebagai berikut:
58│ Dr. Mindani, M.Ag SUMBER
PENYEBAB TERJADINYA
ERROR
LATAR BELAKANG TERJADINYA ERROR
JENIS ERROR
Alat evaluasi (alat pengukur) hasil belajar
Butir-butir soal yang dikeluarkan dalam tes tidak mencerminkan atau tidak merupakan wakil yang representatif dari keseluruhan bahan pelajaran yang seharusnya diteskan.
Sampling error
Evaluator / tester (guru, dosen, penguji)
Evaluator (tester) bertindak kurang teliti atau kurang cermat dalam penghitungan angka-angka
Scoring error dan rangking error Suasana batin yang
menyelimuti diri evaluator:
resah, susah, murung, dan sebagainya.
Sifat "pemurah" atau "pelit"
yang melekat pada diri evaluator.
Evaluator terpengaruh oleh hasil penilaian yang diberikan teman sejawatnya (hallo effect).
Evaluator terpengaruh oleh hasil tes yang dicapai peserta didik pada waktu yang lalu (kesan masa lalu).
Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ( PAI ) │59 Peserta
didik/peserta tes (testee)
Peserta tes (testee) bermain tebak
terka/berspekulasi/melakukan kerjasama yang tidak sehat di dalam mengerjakan soal-soal tes.
Guessing error
Kondisi fisik, kondisi psikis, dan nasib sial yang menimpa diri testee pada saat berlangsungnya tes/evaluasi hasil belajar.
Scorring error
Situasi testing Suasana gaduh, kacau, bising, pengawasan tes terlalu ketat atau terlalu longgar.
Scorring error (Sumber: Sudijono:2003)
Disamping pendapat diatas Mochtar Buchori juga mengemukakan sumber-sumber kekeliruan atau kesesatan data. Mochtar Buchori dalam Nurkancana dan Sunartana menyatakan bahwa sumber sumber kesesatan bisa saja berasal dari hal-hal berikut ini yaitu:
1) Kurang sempurnanya alat evaluasi. alat evaluasi yang kurang sempurna seperti alat yang tidak valid, konstruksi alat yang jelek, pedoman atau petunjuk yang tidak jelas, dan lain sebagainya bisa menyebabkan orang yang dievaluasi tidak
60│ Dr. Mindani, M.Ag memahami alat ukur dengan baik.
Kekurangpahaman peserta evaluasi dengan alat ukur akan menimbulkan kesalahan dalam menjawab atau memberikan data sehingga dengan sendirinya data yang terkumpul menjadi data yang salah juga.
2) Pelaksanaan prosedur evaluasi yang kurang baik.
Pelaksanaan prosedur evaluasi juga menyumbang terhadap keakuratan data. Apabila evaluasi dilaksanakan dengan baik maka data yang diberikan juga cenderung baik, dan sebaliknya apabila evaluasi berjalan kurang baik, misalnya siswa saling mencontek, suasana tempat evaluasi yang kurang nyaman, maka data yang didapatkan sangat mungkin mengandung kesalahan-kesalahan.
3) Kurang sempurnanya pencatatan hasil evaluasi.
Terkadang evaluator karena satu dan lain hal bisa saja melakukan kesalahan dalam melakukan pencatatan skor siswa. Kesalahan pencatatan skor seperti salah menjumlah, akan membuat data yang didapatkan juga salah. (Nurkancana dan Sunartana:1992)
Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ( PAI ) │61 2. Verifikasi data
Data akan diolah dalam evaluasi harus merupakan data yang akurat dan benar. Data yang benar akan mengantarkan evalator untuk membuat keputusan benar. Sebaliknya, data yang salah akan membuat evaluator mengambil keputusan-keputusan yang salah pula. Guna mengetahui apakah data yang telah dikumpulkan dan akan diolah tersebut benar atau malah mengandung kesalahan maka diadakan verifikasi data.
Verifikasi data pada dasarnya adalah suatu kegiatan menyelidiki dan memeriksa keadaan data yang terkumpul dari kegiatan pengumpulan data.
Pemeriksaan itu biasanya dilakukan dengan cara memilah-milah mana data yang benar dan mana data yang kurang atau tidak benar berdasarkan standar data yang telah ditetapkan.
Apabila data yang dikumpulkan terbukti semuanya benar maka data tersebut bisa dilanjutkan untuk diolah.
Namun, adakalanya data yang dikumpulkan mengandung kesalahan-kesalahan. Kesalahan pada data bukan tidak mungkin terjadi, untuk itu bila kita melihat kejanggalan-kejanggalan pada data maka data tersebut harus diverifikasi, jangan langsung diolah.
62│ Dr. Mindani, M.Ag Data yang salah biasanya memberikan indikasi tertentu. Nurkancana dan Sunartana menyatakan tanda- tanda kesesatan yang bisa kita jadikan pedoman diantaranya ada dua yaitu:
1) Apabila data yang kita hadapi memberikan gambaran yang sangat berbeda dengan gambaran gambaran yang telah kita peroleh sebelumnya.
2) Apabila distribusi data yang diperoleh jauh sekali menyimpangnya dari kurva normal.
Apabila tanda-tanda tersebut diatas ditemui maka evaluator harus meneliti kira-kira dari manakah sumber kekeliruan yang telah terjadi. Untuk menentukan dari mana sumber kesesatan maka evaluator tinggal mempertimbangkan sumber sumber kesesatan seperti yang telah dikemukakan pada tahap pengumpulan data.
Dari pertimbangan terhadap sumber kesesatan, evaluator bisa melakukan tindak lanjut yang diperlukan seperti pengulangan pengumpulan data jika data salah secara keseluruhan atau tindakan-tindakan yang lain.
Apabila data telah selesai mengalami verifikasi, maka data dapat diolah lebih lanjut.
Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ( PAI ) │63 3. Mengolah dan menganalisis data
Mengolah dan menganalisis data pada dasarnya adalah memberi makna terhadap data sehingga data tersebut lebih dapat "berbicara". Dalam mengolah dan menganalisis data ini bisa digunakan teknik statistik maupun non statistik, tergantung jenis data yang akan diolah.
Pengolahan dan analisis data ini biasanya untuk memberikan gambaran umum tentang data, sehingga dapat memberikan informasi informasi yang lebih lengkap dan berharga. Gambaran umum tentang data ini biasanya dapat diberikan apabila data telah diolah dengan memasukkan ke dalam tabel, grafik, dilakukan penghitungan penghitungan seperti penghitungan rata- rata, standar deviasi, dan sebagainya.
4. Menginterpretasi dan menarik kesimpulan
Menginterpretasi adalah menafsirkan data yang telah didapatkan. Interpretasi sebenarnya merupakan pemberian makna verbal dari data yang telah diolah.
Kalau yang akan di interpretasi adalah skor hasil belajar siswa maka hasil dari interpretasi ini akan menghasilkan nilai siswa. Kegiatan interpretasi inilah yang dalam istilah evaluasi disebut dengan kegiatan penilaian (evaluasi).
64│ Dr. Mindani, M.Ag Melakukan interpretasi terhadap hasil belajar anak tidak dapat dilakukan bebas sesuai kemampuan evaluator. Interpretasi tersebut harus berdasarkan atau berpedoman kepada standar tertentu. Standar dalam interpretasi skor menjadi nilai biasanya tergantung standar penilaian yang dipakai, apakah penilaian acuan norma (PAN) atau penilaian acuan patokan (PAP).
Apabila nilai anak telah diketahui maka berdasarkan nilai tersebut dapat diambil kesimpulan atau keputusan terhadap peserta evaluasi dalam bentuk penentuan lulus atau tidak lulus, tuntas atau tidak tuntas, kompeten atau tidak kompeten, dan lain sebagainya.