BAB II LANDASAN TEORI
B. Walimatul „Urs
3. Pelaksanaan Walimatul „Urs
Pada masa Rasulullah sawbeliau selalu melakukan walimatul urs setelah pelaksanaan akad nikah dan hanya memerintahkan sahabat (pengantin pria) yang mampu untuk mengadakan walimatul „urs.18 Hal ini terlihat dalam salah satu hadist berikut:
ىَأَر ص ِبِ نل نَ ضر ٍسَ َ ْنَع .ٍةَرْ ُص َرَ ثَ ٍفْوَع ِنْب ِن ْحْ رل ِدْبَع ىَ َع
: َل َق . ٍبَىَذ ْنِم ٍة َوَ ِنْزَ ىَ َع ًةَأَرْم ُتْج َزَ ت :َل َق ؟ َذى َم :َل َقَ ف د د ب ةع ملج .ٍة َشِب ْوَلَ ِْلَْ َ ،َكَل ُلله َكَر َب
17Ibid., 133.
18Enizar, Pembentukan Keluarga Berdasarkan Hadist Rasulullah Saw, (Metro:
STAIN Jurai Siwo Metro, 2015), 91.
Artinya: “Dari anas, ketika Rasulullah sawmelihat Abd. ar-Rahman ibn
„Auf ada warna kuning, Rasulullah sawbertanya: kenapa kuning-kuning seperti ini? “Abd al-Rahman menjawab: aku baru saja menikahi seorang perempuan dengan mahar emas seberat sebiji kurma. Rasulullah sawmengatakan: semoga Allah memeberikan berkah kepadamu dan adakanlah walimah meskipun hanya dengan seekor kambing”.
Dari hadits diatas, diketahui bahwa Rasulullah sawmemerintahkan kepada pengantin laki-laki yang baru saja menikah untuk melakukan walimatul „urs. Disamping itu, pengantin laki-laki yang diperintah adalah pengantin yang mampu untuk melakukan walimatul „urs tersebut. Dengan demikian pelaksanaan walimatul „urs adalah pengantin laki-laki. Keluarga pengantin laki-laki atau perempuan tidak dibebani untuk mengadakan walimatul „urs anaknya, kecuali jika keluarga pengantin laki-laki atau perempuan dengan kehendak sendiri melakukannya.
Pernikahan sebagai salah satu akad mempunyai konsekuensi hukum terhadap halalnya hubungan antara laki-laki dan perempuan yang sebelumnya haram. Oleh sebab itu, pelaksanaan akad pernikahan tidak boleh disembunyikan darimasyarakat minimal masyarakat sekitarnya.19
Hadits Nabi yang lain bahwa Rasulullah saw menyuruh agar pernikahan itu diberitahukan secara terbuka dan jangan sembunyikan dari masyarakat minimal masyarakat sekitar. Salah satu hadits dijelaskan bahwa pernikahan harus diberitahukan kepada khalayak ramai:
فى هو ج َ َح َ ّنل َذى ْوُ نِ ْعَ :َل َق ص ِّبِ نل ِنَع ضر َةَشِئ َع ْنَع ُغلْ ِب ِوْيَ َع ْوُ بِرْض دج لم )وج م نب (. ِل َبْر
19Enizar, PembentukanKeluarga., 88.
21
Artinya:“Dari Aisyah r.a dari Nabi saw, beliau bersabda, umumkanlah pernikahanini! Rayakanlah di dalam masjid. Dan pukullah alat music rebana untuk memeriahkan (acara)nya”.20
Berdasarkan haditsdiatas, diarahkan agar pernikahan dilaksanakan di masjid, karena masjid biasanya dihadiri oleh jama‟ah untukmelaksanakan ibadah. Diarahkan juga untuk memukul alat kesenian (gendang) waktu pelaksanaan akad nikah, agar menarik perhatian orang bahwa telah terjadi pernikahan.21
Uraian di atas, maka walimah bertujuan untuk memperkenalkan bagi mereka yang telah melaksanakan akad nikah (perkawinan) untuk berumah tangga, agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan oleh ajaran agama Islam 4. Hukum Mengadiri Undangan Walimah
Untuk menunjukan perhatian, memeriahkan dan mengembirakan orang yang mengundang, maka orang yang diundang walimah wajib mendatanginya.Adapun wajibnya mendatangi undangan walimah, apabila:22
a. Tidak ada udzur syar‟i
b. Dalam walimah itu tidak diselenggarakan untuk perbuatan munkar c. Tidak membedakan kaya dan miskin.
Dasar hukum wajibnya mendatangi undangan walimah adalah hadist Nabi sawsebagai berikut:
. َكَرَ ت َء َش ,َمِ َط َء َش ْنِ َلإ .ْبِجُيْ َ ف ِم َ طل َلَِ ْمُك ُدَحَ َيِعُد َذِ
ىِر َخُبل ُه َ َر(
)
20Ibid., 88-89.
21Ibid.,89.
22Tihami, Sohari Sahrani, Fikih Munakahat: Kajian Fikih Nikah Lengkap, (Jakarta:
Rajawali Press, 2014), 133.
Artinya: “Jika salah seorang diantaramu diundang makan, hendaklah dijabbah (dikabulkan), jika ia menghendaki makalanlah, jika ia menghendaki tinggalkanlah.” (HR. Bukhari dan Ahmad)23
َكَرَ ت ْنَمَ : َل َق َم َ َ ِوْيَ َع ُلله ى َص ِلله ْوُ َر نَ َةَرْ َرُى ِبَِ ْنَع ْدَقَ ف َةَوْع دل
)م م ه ر( . ُوَلْوُ َرَ لله ىَصَع
Artinya: Dari abu hurairah r.a bahwa Rasulullah Saw Telah bersabda:
“Barangsiapa tidak menghadiri undangan, sesungguhnya ia telah durhaka kepada Allah dan Rasulnya.” (HR Bukhari)24
Ada Ulama yang berpendapat bahwa hukum menghadiri undangan adalah wajib kifayah. Namun ada juga ulama yang mengatakan Sunnah, akan tetapi pendapat pertamalah yang lebih jelas. Adapun hukum mendatangi undangan selain walimah, menurut jumhur ulama adalah sunnah muakkad.
Sebagian golongan Syafi‟i berpendapat wajib. Akan tetapi, Ibnu Hazm menyangkal bahwa pendapat ini dari jumhur sahabat dan tabiin karena hadist-hadits diatas memberikan pengertian tentang wajibnya menghadiri undangan, baik undangan mempelai maupun walinya.25
Secara rinci, undangan itu wajib didatangi apabila memenuhi syarat sebagai berikut:26
a. Pengundangnya mukalaf, merdeka, dan berakal sehat.
b. Undangannya tidak dikhususkan kepada orang-orang kaya saja, sedangkan orang miskin tidak
23Al-Hafizh Ibn Hajar Al-Asqolani, Bulughul Maram: Hadist Hukum-Hukum Syariat Islam, (Surabaya: Bintang Usaha Jaya, 2011), 430.
24Ibid., 431.
25Ibid., 135.
26Ibid., 136.
23
c. Undangan tidak ditujukan hanya kepada orang yang disenangi atau dihormati.
d. Pengundangnya beragama Islam (pendapat yang lebih sah) e. Khusus pula dihari pertama (pendapat yang terkenal)
f. Belum didahului oleh undangan lain. Kalau ada undangan lain, maka yang pertama harus didahulukan.
g. Tidak diselenggarakan kemungkarandan hal-hal lain yang menghalangi kehadirannya.
h. Yang diundang tidak ada unzur syarak
Memperhatikan syarat-syarat tersebut, jelas bahwa apabila walimah dalam pesta perkawinan hanya mengundang orang kaya saja, hukumnya adalah makruh.Nabi Muhammad Saw bersabda:
ْأَ ْنَم َ ُ َ نُْيُ ِةَمْيِلَوْل ِم َ َط ُّرَش :َل َق .م.ص ِلله َل ْوُ َر نَ َةَرْ َرُى ِبَِ ْنَع َلله ىَصَع ْدَقَ ف َةَوَع دل ُبُِيُ َْلَ ْنَمَ َى َبْأَ ْنَم َ ْ يَلِ ىَعْدُ َ َ ْ يِت َل ْوُ َرَ
ًضْ َأ ٌمِ ْ ُم ُوُجَرْخَأ.ُو
.
Artinya: “dari abu Hurairah r.a bahwa Nabi Muhammad Saw Bersabda,
“Makanan yang paling jelek adalah pesta perkawinan yang tidak mengundang orang yang mau datang kepadanya (miskin), tetapi mengundang orang yang enggan datang kepadanya (kaya). Barangsiapa tidak menghadiri undangan, maka sesungguhnya ia telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.” ( HR Muslim)27
27Al-Hafizh Ibn Hajar Al-Asqolani, Bulughul maram, 431.
Dari riwayat lain juga disebutkan:
ََلَ ىَعْدُ ِةَمْيِلَوْل ُم َ َط م َ ط ُّرَش :َل َق َةَرْ َرُى َبَِ نَ
ُءَرَقُ ْل ُكَرْ تُ َ ُء َينغَ
)ىر خبل ه ر(
Artinya: “ sesungguhnya Abu Hurairah berkata:” sejelek-jeleknya makanan ialah makanan walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya akan tetapi meninggalkan orang-orang miskin.” ( HR. Bukhari)28
5. Hikmah Walimah
Diadakan walimah dalam pesta perkawinan mempunyai beberapa keuntungan (hikmah), antara lain sebagai berikut:29
a. Merupakan rasa syukur kepada Allahswt
b. Tanda penyerahan anak gadis kepada suami dari kedua orang tuanya c. Sebagai tanda resminya adanya akad nikah
d. Sebagai tanda memulai hidup baru bagi suami istri e. Sebagai realisasi arti Sosiologi dari akad nikah
f. Sebagai pengumuman bagi masyarakat, bahwa antara mempelai telah resmi menjadi suami istri sehingga masyarakat tidak curiga terhadap perilaku yang dilakukan oleh kedua mempelai.
Disamping itu, dengan adanya walimatul „urs kita dapat melaksanakan perintah Rasulullah sawyang menganjurkan kaum muslimin untuk
28Ibnu hajar As Qolani, Fathul Baari Penjelas Kitab Shahih Al Bukhari Pembahasan Nikah,(Jakarta: Pustaka Azzam, 2015), 493.
29 Tihami, Sohari Sahrani, Fikih Munakahat: Kajian Fikih Nikah Lengkap, (Jakarta:
Rajawali Press, 2014)., 151.
25
melaksanakan walimatul „urs walaupun hanya dengan menyembelih satu ekor kambing.
C. Aspek Sosiologi Hukum Islam dalam Walimatul ‘Urs
Sosiologi hukum Islam adalah cabang dari sosiologi atau sosiologi hukum yang meneliti mengapa masyarakat berhasil mematuhi hukum Islam dan mengapa mereka gagal mematuhi hukum Islam tersebut, serta faktor sosial yang mempengaruhinya.30 Sehingga dalam hukum Islam, pengaruh budaya atau sosial memiliki tempat khusus dalam pembahasan yang disebut
„urf atau adat kebiasaan. Jika masyarakat sudah memiliki norma yang dapat mewujudkan keadilan dan ketertiban, maka hukum itu dapat diberlakukan dalam Islam.
Sosiologi hukum membahas tentang pengaruh timbal balik antara perubahan hukum dan masyarakat. Perubahan hukum dapat mempengaruhiperubahan masyarakat, dan sebaliknya perubahan masyarakat dapat menyebabkan terjadinya perubahan hukum.31
Tujuan sosiologi adalah untuk mendapatkan pengetahuan yang sedalam-dalamnya tentang masyarakat, karena sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk mendapatkan fakta-fakta masyarakat yang
30Mochamad Sodik, Sosiologi Hukum Islam Dan Refleksi Sosial Keagamaan, (Yogyakarta: Press UIN Sunan Kalijaga, 2011), 52.
31Soerjono Soekamto, Pengantar Sosiologi Hukum, (Jakarta: Bharata Karya Aksara, 1977), 17.
mungkin dapat dipergunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan yang terjadi dalam masyarakat.32
Manfaat sosiologi hukum untuk memahami bekerjanyahukum dalam masyarakat dapat dilihat dari fungsi hukum itu dalam masyarakat. Fungsi hukum yang dimaksud dapat diamati dari beberapa sudut pandang seperti fungsi hukum sebagai sosial kontrol didalam masyarakat, fungsi hukum sebagai alat untuk mengubah masyarakat, fungsi hukum sebagai simbol pengetahuan, fungsi hukum sebagai instruman politik, dan fungsi hukum sebagai alat integrasi.33
Proses perubahan yang terjadi dalam masyarakat merupakan suatu gejala yang umum, bahwa perubahan tersebut terutama akan mengenai gejala sosial yang dinamakan hukum. Tanpa disadari perubahan yang terjadi dibidang-bidang lainnya akan berpengaruh terhadap nilai-nilai yang berkaitan dengan hukum. Terkadang hukum sebagai kaidah maupun perilaku memberi bentuk dan tata tertib pada bidang lainnya, seperti ekonomi, pendidikan, pembangunan desa dan sebagainya.34 Salah satu kecendrungan pemikiran hukum yaitu teori sosiologis, yang terutama membahas hubungan antara prinsip-prinsip tersebut dalam masyarakat.35
Aspek sosiologi hukum dimaksudkan untuk melihat hukum sebagai gejala sosiologis dan berusaha menjelaskan bahwa hukum tidak semata-mata
32 Azmi Siradjuddin, Sosiologi Hukum ( Metro : STAIN Jurai Siwo Metro, 2016), 9
33Zainudin Ali, Sosiologi Hukum, ( Jakarta: Sinar Grafika, 2006), 8.
34 Soerjono Soekanto dan Soleman B. Taneko, Hukum Adat Indonesia, cet. Ke-6 ( Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), 370.
35 Ibid. 371.
27
merupakan gejala normatif yang bersifat statik dan arti perubahan atau merupakan gejala yang berharga mati. Sosiologi hukum menjelaskan suatu praktik hukum didalam kehidupan sosial masyarakat terjadi.36 Hubungan timbal balik antara hukum dengan gejala-gejala sosial lainnya dapat diketahui dengan mempelajari fenomena sosial dalam masyarakat yang tampak aspek hukumnya.37
Walimatul „Urs merupakan realisasi arti sosiologis dari akad nikah.
Mengadakan Walimatul „Urs Sunnah Hukumnya bagi pengantin sesuai dengan kemampuannya, karena Rasulullah SAW. juga mengadakan Walimatul „Urs pada saat menikahi istri-istrinya, dan beliau memerintahkan para sahabatnya untuk mengadakan Walimatul „Urs.38 Dengan demikian, aspek sosiologi hukum dari Walimatul „Urs dalam kehidupan masyarakat dapat dilihat dari tujuan Walimatul „Urs itu sendiri, yakni untuk mengumumkan telah terjadinya pernikahan sebagai fenomena sosial dalam masyarakat yang mengandung hukum sunnah bagi pengantin yang mengadakan.
36 Zainuddin Ali, sosiologi hukum (Jakarta: sinar Grafika, 2006), 8.
37Ibid, 13-15
38 Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, Ensiklopedia Fiqih Wanita, terj. Achmad Zaeni Dahlan dan Sandi Heryana ( Depok: Pustaka Khazanah Fawa‟id, 2016), 257.
28
Metode merupakan unsur yang sangat signifikan dalam hal percapaian suatu tujuan. Metode penelitian berarti cara atau strategi bagaimana sebuah penelitian mampu membuahkan hasil yang memuaskan yakni hasil penelitian yang objektif terstruktur dan akurat. Oleh karenanya pada tataran ini perlu disampaikan hal-hal berikut.
A. Jenis Dan Sifat Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dikaji penelitiadalah penelitian lapangan(field research),yaitu penelitian yang dilakukan dilapangan atau dilokasi penelitian, suatu tempat yang dipilih sebagai lokasi untuk menyelidiki gejala objektif yang terjadi dilokasi tersebut, yang dilakukan juga untuk penyusunan laporan ilmiah.1 Oleh karena itu, penelitian yang peneliti kaji merupakan penelitian lapangan, dengan melakukan penelitian diDesa Gayuh Rejo Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah. Terkait Dengan “Tinjauan Sosiologi Hukum Keluarga Islam Terhadap Pergeseran Makna dan Esensi Walimatul „Urs”.
1Abdurahman Fathoni, Metodelogi Penelitian dan Tehnik penyusunan Skripsi, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2011), h. 96
29
2. Sifat penelitian
Sifat penelitian dalam skripsi ini bersifat Deskriptif, yaitu penelitian yang bertujuan menggambarkan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu, penelitian ini menggambarkan situasi atau kejadian.2
Menurut Zainudin Ali, penelitian Deskriptif adalah penelitian yang terdiri atas satu Variabel atau lebih. Namun, tidak saling bersinggungan sehingga disebut penelitian bersifat deskriptif.3 Untuk itu peneliti dalam melakukan penelitian menggunakan dua variabel yaitu Walimatul „Urs dan Pergeseran Makna dan esensinya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan Fenomenologi, fokus model pendekatan fenomenologi adalah pengalaman yang dialami oleh individu.
Bagaimana individu memaknai pengalamannya tersebut berkaitan dengan fenomena tertentu yang sangat berarti bagi individu yang bersangkutan.
Pengalaman yang dibahas disini bukan sekedar pengalaman yang biasa, melainkan pengalaman yang berkaitan dangan struktur dan tingkat kesadaran individu secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena model pendekatan Fenomenologi memfokuskan pada pengalaman pribadi individu, subjek penelitiannya adalah orang yang mengalami langsung kejadian atau fenomena yang terjadi, bukan individu yang hanya mengetahui suatu fenomena secara tidak langsung atau melalui media tertentu.4
2Sumadi Suryabrata, metode penelitian , ( jakarta: Rajawali press, 2012), 75
3Zainuddin Ali, metode penelitian hukum, (jakarta: Sinar Grafika, 2009), 11
4Ghony dan Fauzan,metode penelitian kualitatif, ( Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2012), 59
B. Sumber Data
Sumber data didalam penelitian adalah subyek dari mana data dapat diperoleh. Menurut lofland sumber data dalam penelitian utama kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen-dokumen, sumber data tertulis, foto, dan lain-lain. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan beberapa sumber data, baik itu sumber primer ataupun sekunder. Sumber data Primer adalah sumber pertama dimana sebuah data dihasilkan5. Sumber Data Primernya yaitu Kepala Desa, tokoh masyarakat, Tokoh Agama, dan pihak penyelenggara Walimatul „Urs.
Sedangkan Sumber data sekunder adalah sumber data kedua sesudah sumber data primer. Sumber data sekundernya yaitu buku Fiqih Munakahat, Kompilasi Hukum Islam, buku pembentuk keluarga berdasarkan hadist Rasulullah saw. Serta buku-buku lain yang relevan dengan masalah penelitian ini.
C. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data pada dasarnya merupakan suatu kegiatan operasional agar tindakannya masuk pada pengertian penelitian yang sebenarnya. Bagi peneliti, terutama petugas lapangan sangat ditentukan oleh alat-alat yang tersedia, sehingga dengan matangnya persiapan baik teori maupun pengalaman, sangat berpengaruh pula pada hasil pengumpulan data.6
5 Burhan Bugin, Metodologi Penelitian Sosial Dan Ekonomi ( jakarta: kencana, 2013), 129
6 P. Joko Subagyo, Metode penelitian dalam teori dan praktek, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2011), 37
31
Seperti yang peneliti kaji sekarang, menggunakan penelitian deskriptif, dengan demikian pengumpulan datanya adalah metode wawancara dan dokumentasi.
1. Wawancara
Wawancara atau interview adalah suatu bentuk komunikasi verbal jadi semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi.7 Dalam wawancara pertanyaan dan jawaban diberikan secara verbal.
Biasanya komunikasi ini dilakukan dalam keadaan saling berhadapan namum komunikasi dapat dilaksanakan melalui telephone. Sering interview dilakukan antara dua orang tetapi dapat juga sekaligus diinterview dua orang atau lebih.
Teknik wawancara ini dimaksudkan untuk memperoleh data yang akurat dari sumber data primer yang dibutuhkan untuk penelitian, wawancara akan dilakukan dengan narasumber untuk mendapatkan informasi tentang penerapan Tinjauan Sosiologi Hukum Keluarga Islam terhadap Pergeseran Makna dan Esensi Walimatul Urs‟ di Desa Gayuh Rejo Kecamatan Gunung Sugih.
2. Dokumentasi
Dokumen merupakan rekaman kejadian masa lalu yang ditulis atau dicetak mereka berupa catatan anekdot, surat, buku harian, dan dokumen-dokumen. Metode ini dilakukan dengan mengumpulkan data- data yang terkaitTinjauan Sosiologi Hukum Keluarga Islam terhadap
7 S. Nasution, Metode Research,111.
Pergeseran Makna dan Esensi Walimatul Urs‟ di Desa Gayuh Rejo Kecamatan Gunung Sugih. Dokumentasi ini digunakan untuk memperkuat data yang dikumpulkan sebagai bukti nyata guna mendapatkan data yang diperlukan secara maksimal.
3. Observasi
Observasi atau pengamatan merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara melihat dan mengamati secara langsung objek penelitian dengan memiliki tujuan tertentu. Observasi digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan.8
Perananan penelitian dalam pengamatan penelitian ini adalah dengan partisipasi sebagai pengamat (pemeran serta dalam pengamat).
Perananan peneliti sebagai pengamat dalam hal ini tidak sepenuhnya sebagai pemeran serta tetapi melakukan fungsi pengamatan peranan demikian masih membatasi para subjek menyerahkan dan memberikan informasi terutama yang bersifat rahasia.9 Oleh karena itu, dalam hal ini pengamat membatasi aktivitas pengamatan.
Adapun dalam penelitian ini, peneliti akan mengamati pergeseran walimatul „urs yang ada didesa Gayuh Rejo kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah
8Burhan Bungin, penelitian kualitatif, .118
9Lexi J. Melong, metodelogi penelitian, 177
33
D. Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif. Penelitian kualitatif atau naturalisticinquiry adalah prosedur penelitian yang mengahasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang- orang dan perilaku yang dapat diamati, demikanlah pendapat Bogdan dan Guba.10 Analisis data bisa diartikan sebagai upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mencari dan menemukan pola, menemukan yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.
Data yang telah terkumpul dianalisis secara induktif, dan berlangsung secara terus menerus. Analisis data yang dilakukan meliputi mereduksi data, menyajikan data, diplay data, manarik kesimpulan dan melaksanakan verifikasi.11 Oleh karena itu, didalam penelitian ini peneliti menggunakan metode berpikir induktif yaitu analisis yang berangkat dari data-data kasus yang diperoleh dari narasumber kemudian menarik sebuah kesimpulan umum mengenai Tinjauan Sosiologi Hukum Keluarga Islam terhadap Pergeseran Makna dan Esensi walimatul Urs‟ di desa Gayuh Rejo Kecamatan Gunung Sugih.
10 Uhar Suharsaputra, Metode Penelitian, (Bandung: Pt Refika Aditama, 2012), 181.
11Ibid., 216.
34
A. Gambaran Umum Desa Gayuh Rejo Kecamatan Gunung Sugih 1. Sejarah Desa Gayuh Rejo
Berdasarkan data yang diperoleh peneliti terhadap dokumentasi profil desa Gayuh Rejo, peneliti mendapatkan data bahwa desa gayuh Rejo mulai dibuka pada tahun 1957 pada awalnya desa Gayuh Rejo ini adalah terdiri dari hutan belantara pada waktu itu progam pemerintah untuk pemerataan penduduk maka warga dari masyarakat dari pula jawa ditransmigrasikan ke pulau sumatra.
2. Kondisi Wilayah Desa Gayuh Rejo
Kelurahan Gunung Sugih Raya memiliki luas wilayah 15,946 Ha terdiri dari 8 kepala lingkungan dan 28 RT dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
a. Sebelah utara berbatasan dengan kecamatan Seputih jaya b. Sebelah timur berbatsan dengan desa Gunung Sari
c. Sebelah selatan berbatasan dengan desa Terbanggi Agung d. Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Padang Ratu
Secara Geografis Desa Gayuh Rejo merupakan daerah dengan jarak dari desa Gayuh Rejo
a. Kepusat Pemerintah kecamatan 3 KM b. Jarak antar Ibu kota Kabupaten 3 KM
35
c. Jarak dari ibu kota provinsi 70 KM d. Jarak dari ibu kota Negara 270 KM 3. Keadaan Penduduk
Penduduk Desa Gayuh Rejo terdiri atas berbagai suku bangsa (Heterogen), tidak hanya masyarakat bersuku Lampung terdapat banyak suku lainya seperti suku Jawa, suku Batak bahkan suku sunda yang berdomisili di Desa Gayuh Rejo. Menurut data yang peneliti peroleh jumlah penduduk yaitu berjumlah 5527. Yang terdiri dari 2803 laki-laki dan 2724 perempuan.
Kemudian mengenai agama yang dianut oleh masyarakat desa Gayuh Rejo yaitu Beragama Islam. Dari jumlah jiwa yang tinggal didesa Gayuh Rejo, semua Masyarakat menganut Agama Islam.
Tabel 4.1
Jumlah Penduduk menurut RT di Desa Gayuh Rejo
No Kelompok RT Jumlah Jiwa
1 Lingkungan 1 693 Jiwa
2 Lingkungan 2 1486 Jiwa
3 Lingkungan 3 538 Jiwa
4 Lingkungan 4 502 Jiwa
5 Lingkungan 5 701 Jiwa
6 Lingkungan 6 703 Jiwa
7 Lingkungan 7 423 Jiwa
8 Lingkungan 8 476 Jiwa
Jumlah 5527Jiwa
Sumber: Profil Desa Gayuh Rejo
Berdasarkan tabel di atas, maka dapat diketahui bahwa untuk jumlah penduduk bila dilihat dari kelompok Ketua Lingkungan dapat disimpulkan untuk jumlah penduduk yang ada pada masing kelompok
ketua lingkungan tersebut paling banyak adalah pada kelompok Dari Lingkungan 2 yaitu berjumlah 1486 jiwa.
Tabel 4.2
Jumlah Penduduk Menurut Agama yang Dianut Masyarakat Desa Gayuh Rejo
No Agama Jumlah Jiwa
1 Islam 5493 Jiwa
2 Kristen 34 Jiwa
3 Hindu -
4 Budha -
Jumlah 5527 Jiwa
Sumber: Profil Desa Gayuh Rejo
Berdasarkan tabel di atasdapat dilihat bahwa mayoritas masyarakat di desa Gayuh Rejo menganut agama Islam dengan 1462 jiwa, agama kristen 34 jiwa, agama hindu - jiwa, dan agama Budha - jiwa.
4. Keadaan Sosial Ekonomi
Hampir sebagian penduduk yang ada di desa Gayuh Rejo memiliki mata pencarian diantaranya sebagai PNS, Pedagang, Petani, dan Buruh yang secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.3
Mata Pencaharian Masyarakat Desa Gayuh Rejo No Mata Pencarian Jumlah (Orang)
1 PNS 247 Jiwa
2 Pedagang 1458 Jiwa
3 Petani 2632 Jiwa
4 Buruh 56 Jiwa
Jumlah 4393 Jiwa
Sumber: Profil Desa Gayuh Rejo
37
Pada tabel di atas, maka dapat diketahui bahwa jumlah penduduk berdasarkan mata pencarian yang ada didesa Gayuh Rejo yang terbagi menurut jenis pekerjaannya, yaitu penduduk yang bekerja sebagai PNS yang sebanyak 105 orang dan untuk penduduk yang bekerja sebagai pedagang yaitu sebanyak 247 orang, untuk penduduk dengan pekerjaan petani sebanyak 785 orang,untuk penduduk dengan pekerjaan buruh sebanyak 56 orang. Dalam tabel di atas maka terlihat jelas bahwa jumlah penduduk pada masing-masing bagian pekerjaan paling banyak didominasi oleh penduduk yang memiliki pekerjaan sebagai petani.
5. Pendidikan
Tingkat pendidikan yang dimiliki oleh penduduk desa Gayuh Rejo yang secara rinci dapat dilihat berdasarkan tabel berikut ini:
Tabel 4.4
Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan Masyarakat Desa Gayuh Rejo
No Pendidikan Jumlah
Penduduk
1 Sarjana 231 Jiwa
2 SMA 3371 Jiwa
3 SMP 886 Jiwa
4 SD 301 Jiwa
5 Tidak bersekolah 743 Jiwa
Jumlah 5527Jiwa
Sumber: Profil Desa Gayuh Rejo
Tabel di atas menerangkan bahwa jumlah penduduk didesa Gayuh Rejo berdasarkan tingkat pendidikan yaitu terbagi dari penduduk yang memiliki tingkat pendidikan sarjana berjumlah 64 orang, SMA berjumlah
853 orang, SMP berjumlah 109 orang, SD berjumlah 125 orang, dan yang tidak bersekolah berjumlah 335 orang. Dilihat dari jumlah penduduk menurut tingkat pendidikannya tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa penduduk yang ada didesa Gayuh Rejo didomisili oleh pendidikan SMA yaitu berjumlah 853 Jiwa.
6. Keadaan Sosial Keagamaan dan Sosial Kebudayaan
Mayoritas masyarakat desa Gayuh Rejomenganut agama Islam.
Akan tetapi masih ada masyarakat desa Gayuh Rejo yang belum tahu benar tentang arti Islam itu sendiri. Hal ini dibuktikan dengan masih diadakanya tradisi dalam kehidupan masyarakat. Yang paling menonjol disini adalah pada pelaksanaan pernikahan, kematian dan kelahiran. Pada pelaksanaan upacara-upacara tersebut pasti selalu tersedia makanan dan acara kenduri. Hanya saja pada saat sekarang ini, pelaksanaan upacara- upacara tersebut sudah disisipi dengan hal-hal yang bersifat Islami, yaitu pada waktu upacara selalu dilakukan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur‟an dan diakhiri dengan pembacaan doa oleh Kyai. Dengan adanya perpaduan antara adat istiadat dengan ajaran Islam ini, maka adat istiadat masyarakat tetap terpelihara dan ajaran Islam bisa dijalankan oleh masyarakat. Dan demi untuk menunjang sarana beribadah, didesa Gayuh Rejo terdapat satu 9 masjid dan 12 buah mushola.1
1Wawancara bapak Yudi selaku seketaris kelurahan Gunung Sugih Raya, 23 Oktober 2019