BAB III METODE PENELITIAN
B. Pembahasan
2. Pelanggaran Prinsip Kerja Sama
Tabel 1.2
No. Maksim Kode Data Jumlah
1 Maksim Kuantitas V.08
V.15 V.16
3
2 Maksim Kualitas V.10 1
3 Maksim Relevansi V.18 1
4 Maksim Cara V.05
V.12 V.13 V.17
4
Keterangan :
a. V.08 = Video 8, dan seterusnya
Berdasar pada hasil anaisis data, kepatuhan terhadap prinsip kerja sama padatabel 1.1di atas menunjukkan beberapa pertuturan telah memenuhi ke empat maksim dalam prinsip kerja sama.Tabel 1.1pada nomor 1 jumlah tuturan yang
telah sesuai dengan maksim kuantitas sebanyak 6 tuturan. Pertuturan tersebut telah mematuhi prinsip kerja sama dalam maksim kuantitas karena peserta tutur antara pembeli dan penjual masing-masing memberikan informasi yang diperlukan, tidak berlebihan dan sesuai dengan yang dibutuhkan.Tabel 1.1pada nomor 2 jumlah dialog yang sudah sesuai dengan maksim kualitas sebanyak 1 dialog. Pertuturan tersebut telah mematuhi maksim kualitas karena peserta tutur telah memberikan informasi sesuai dengan fakta yang sebenarnya.Tabel 1.1pada nomor 3 terlihat bahwa semua dialog yang sesuai dengan maksim relevansi sebanyak 4 dialog. Dialog tersebut telah memenuhi aturan maksim relevansi karena baik penutur maupun lawan tutut telah melakukan tuturan telah sesuai dengan masalah yang dibicarakan, nyambung dari awal sampai akhir dialog.
Tabel 1.1pada nomor 4 semua dialog yang sudah sesuai dengan maksim cara ada 2 dialog. Pertututran tersebut telah mematuhi maksim cara karena peserta tutur telah memberikan informasi yang singkat, padat, jelas, tidak membingungkan dan tidak kabur.
Adapun data pelanggaran yang dilakukan terhadap prinsip kerja sama pada tabel 1.2pada nomor 1 di atas menunjukkan bahwa jumlah dialog yang melanggar dari maksim kuantitas sebanyak 3 dialog. Penutur telah melanggar dari maksim kuantitas karena peserta tutur memberikan informasi yang berlebihan yang tidak sesuai dengan yang dibutuhkan.Tabel 1.2pada nomor 2 semua dialog yang tidak sesuai dengan maksim kualitas hanya ada 1 dialog. Pertuturan tersebut telah melanggar maksimkualitas karena peserta tutur memberikan informasi yang tidak didukung oleh fakta yang sebenarnya.Tabel 1.2pada nomor 3
38
menunjukkan bahwa jumlah dialog yang melanggar maksim relevansi sebanyak 1 dialog. Penutur telah melanggar maksim relevansi karena peserta tututr memberikan informasi yang tidak relevan dengan apa yang sedang dibahas, dan tabel 1.2pada nomor 4 jumlah dialog yang tidak sesuai dengan maksim cara ada 4 dialog. Pertuturan tersebut telah melanggar maksim cara karena peserta tutur telah memberikan informasi yang tidak jelas, tersendak-sendak dan kabur.
Berdasarkan analisis data, dapat disimpilkan dari dua tabel di atas bahwa data yang memenuhi prinsip kerja sama lebih besar dari pada data yang melanngar prinsip kerja sama. Jumlah percakapan untuk data yang memenuhi prinsip kerja sama adalah 13 percakapan, dan jumlah data yang melanggar prinsip kerja sama adalah 9 percakapan. Sebagian besar data tentang penerapan prinsip kerja sama di pelelangan paotere Makassar menggunakan bahasa Makassar adalah maksim kuantitas, sedangkan data yang melanggar prinsip kerja sama terjadi pada maksim cara. Jadi, hasil penelitian ini yaitu kesesuaian prinsip kerja sama lebih banyak diterapkan dibandingkan dengan pelanggaran prinsip kerja sama di pelelangan paotere Makassar.
B. Pembahasan
Dalam berinteraksi sosial antar individu dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan bahasa Indonesia ataupun bahasa lainnya selalu terdapat prinsip kerja sama. Prinsip kerja sama adalah bahwa komunikasi bahasa relative cukup, relative factual, relevan, jelas dan kompleks. Grice dalam ( I made Rai Arta, 2016:141 ) mengemukakan bahwa di dalam prinsip kerja sama itu, setiap
penutur mematuhi empat maksim percakapan yakni maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim pelaksanaan/cara.
Berdasarkan data dari hasil penelitian yang telah diuraikan sebelumnya, telah diketahui bahwa yang mematuhi prinsip kerja sama yang terdiri dari empat maksim percakapan yaitu maksim kualitas, maksim kuantitas, maksi relevansi dan maksim cara. Selain itu, ditemukan juga dialog yang melanggar prinsip kerjasama yakni maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi dan maksim cara.
Bentuk-bentuk dialog yang sudah sesuai dan yang melanggar maksim kerja sama akan disajikan dalam tabel berikut.
1. Korpus Data dan Deskripsi Data Representasi Kesesuaian Prinsip Kerja Sama Penjual dan Pembeli di Pelelangan Paotere Makassar
Tabel 1.3
No Maksim Data Dialog Deskripsi Analisis 1 Maksim
Kuantitas
Seorang pembeli menunjuk cumi yang berarti menanyakan harganya dan penjual menjawab sesuai harga yang ditentukan. Sambil melihat- lihat cumi yang kelihatan segar pembeli menunjuk cumi yang lainnya dan mengatakan yang ini dan langsung dijawab oleh si penjual bahwa yang dia tunjuk sama segarnya.V.02
Pada dialog ini dapat dilihat bahwa penjual menjawab sesuai yang ditanyakan dan dibutuhkan oleh pembeli dalam artian penjual memberikan informasi yang cukup dan memadai pada setiap tahapan pertuturan.
Seorang pembeli datang menanyakan harga dengan menunjuk udang yang ada
ditumpukan si penjual langsung menjawab sesuai harga yang ditentukan dan pembeli meng-iakan dengan
mengatakan satu kilo.V.04
Pada dialog ini dapat dilihat bahwa penjual menjawab sesuai yang
ditanyakan dan dibutuhkan oleh pembeli dalam artian
penjual memberikan informasi yang cukup
dan memadai pada
40
setiap tahapan pertuturan.
Seorang pembeli menanyakan harga ikan bolu penjual lalu menjawab sesuai harga yang ditentukan kemudian pembeli
meminta si penjual untuk menambahkan ikannya lalu penjual menambahkannya.
V.06
Pada dialog ini dapat dilihat bahwa penjual menjawab sesuai yang
ditanyakan dan dibutuhkan oleh pembeli dalam artian
penjual memberikan informasi yang cukup
dan memadai pada setiap tahapan
pertuturan.
Seorang pembeli datang menunjuk ikan mairo yang ada dalam keranjang sambil bertanya harga mairo tersebut.
Si penjual menjawab sesuai harga yang ditentukan.V.09
Pada dialog ini dapat dilihat bahwa penjual menjawab sesuai yang
ditanyakan dan dibutuhkan oleh pembeli dalam artian
penjual memberikan informasi yang cukup
dan memadai pada setiap tahapan
pertuturan.
Seorang pembeli datang menanyakan harga ikan layang
dan penjual langsung menjawab sesuai harga yang
ditentukan.V.19
Pada dialog ini dapat dilihat bahwa penjual menjawab sesuai yang
ditanyakan dan dibutuhkan oleh pembeli dalam artian
penjual memberikan informasi yang cukup
dan memadai pada setiap tahapan
pertuturan.
Seorang pembeli menanyakan harga ikan tyna kepada penjual, lalu penjual menjawab
sesuai dengan harga yang ditentukan.V.20
Pada dialog ini dapat dilihat bahwa penjual menjawab sesuai yang
ditanyakan dan dibutuhkan oleh pembeli dalam artian
penjual memberikan informasi yang cukup
dan memadai pada setiap tahapan
pertuturan.
2 Maksim Kualitas
Penjual menawarkan dagangannyasambil memperlihatkan insan ikan yang dijualnya bertanda masih
segar kemudian pembeli menanyakan harga dari ikan itu
lalu penjual menjawab sesuai harga yang telah ditentukan.
V.11
Pada dialog ini dapat dilihat bahwa penjual memberikan informasi kepada pembeli yang didukung dengan fakta bukan mengada-ada
3 Maksim Relevansi
Pembeli datang menanyakan hargaikan cakalang lalu penjual menjawab sesuai harga
yang ditentukan kemudian pembeli maminta untuk ditambahkan ikannya.V.01
Pada dialog ini dapat dilihat bahwa penjual dan pembeli saling memberikan informasi
yang sesuai dengan topik pembahasan yang
dibicarakan Pembeli datang menanyakan
harga layang kecil dan penjual langsung menjawab sesuai
harga yang ditentukan, kemudian pembeli menunjuk ikan yang lain dengan spontan
penjual menjawab bukan.
Pembeli pun menawarkan harga yang lebih murah dari harga yang ditentukan.V.14
Pada dialog ini dapat dilihat bahwa penjual dan pembeli saling memberikan informasi
yang sesuai dengan topik pembahasan yang
dibicarakan.
Pembeli datang menanyakan hargaikan langsung dijawab oleh penjual dengan harga
yang telah ditentukan. Si pembeli telah meminta harga yang lebih di bawah dari pada
harga yang telah ditentukan oleh penjual kemudian penjual
menjawab bahwa harga ikan tersebut tidak bisa kurang.
V.21
Pada dialog ini dapat dilihat bahwa penjual dan pembeli saling memberikan informasi
yang sesuai dengan topik pembahasan yang
dibicarakan
Seorang pembeli datang menanyakan harga ikan katombo kemudian penjual
Pada dialog ini dapat dilihat bahwa penjual
dan pembeli saling
42
menjawab dengan harga yang telah ditentukan. Pembeli meminta untuk ditambahkan sedikit ikannya dan penjualpun merespon dengan mengatakan
tunggu yang berarti akan menambahkannya.V.22
memberikan informasi yang sesuai dengan topik pembahasan yang
dibicarakan
4 Maksim Cara
Penjual menawarkan dagangannya dengan harga
yang sudah ditentukan kemudian penjual menawar
harga yang lebih di bawah, penjual menggelengkan kepala
memberi sinyal bahwa harga yang diminta oleh pembeli
tidak cocok.V.03
Pada dialog ini dapat dilihat bahwa setiap pernyataan penjual selalu memberikan jawaban yang jelas, tidak membingungkan
pembeli dan tidak bertele-tele Seorang pembeli datang
menanyakan harga cumi dan penjual menjawab dengan harga yang sudah ditentukan.
Pembeli pun menginginkan membeli satu kilo.V.07
Pada dialog ini dapat dilihat bahwa setiap pernyataan penjual selalu memberikan jawaban yang jelas, tidak membingungkan
pembeli dan tidak bertele-tele
2. Korpus Data dan Deskripsi Data Refresentasi Pelanggaran Prinsip Kerja Sama Penjual dan Pembeli di Pelelangan Paotere Makassar
Tabel 1.4
No Maksim Data Dialog Deskripsi Analisis 1 Kuantitas Seorang pembelii
menanyakan harga layang, penjual menjawab sesuai
harga yang ditentukan.
Saat pembeli mengiakan harga tersebut pembeli
bertanya apakah ada tambahan ikannya dan
langsung dijawab oleh
Pada dialog ini dapat dilihat bahwa penjual memberikan informasi yang berlebihan yang
tidak sesuai yang diinginkan oleh pembeli
penjual, tidak ada tambahan, kalau mau besok datang kembali.
V.08
Seorang pembeli datang menanyakan harga ikan
selir, karena penjual memiliki dua tempat ikan
sehingga penjual menanyakan kembali yang
mana, kemudian pembeli memperjelas ikan yang mana yang ingin diketahui
harganya dan penjual menjawab sesuai yang sudah ditentukan.V.15
Pada dialog ini dapat dilihat bahwa penjual memberikan informasi yang berlebihan yang
tidak sesuai yang diinginkan oleh pembeli
Seorang pembeli menanyakan harga dari ikan selir yang masih bertumpuk sambil melihat-
lihat ikan ditumpukan.
Penjual lalu menyebutkan harga dan mengatakan bisa
dibagi dua sambil mengajukan pilihan kepada pembeli yang mana
ingin dipilih.V.16
Pada dialog ini dapat dilihat bahwa penjual memberikan informasi yang berlebihan yang
tidak sesuai yang diinginkan oleh pembeli
2 Maksim
Kualitas
Seorang pembeli datang menanyakan harga ikan layang yang menumpuk lalu penjual menjawab dengan harga yang ditentukan. Penjual meminta dengan harga yang lebih di bawah dengan spontan penjual menjawab sudah habis.
V.10
Pada dialog ini dapat dilihat bahwa penjual memberikan informasi
yang tidak sesuai dengan kenyataan
dengan kata lain penjual memberikan informasi yang tidak diikuti dengan fakta.
3 Maksim
Relevansi
Seorang pembeli menanyakan harga ikan
Pada dialog ini dapat dilihat bahwa tuturan
44
ade-ade, sambil memilih- milih ikan ade-ade yang
ada dikeranjang dan penjual tidak langsung
menjawab pertanyaan pembeli, tetapi diminta untuk melihat-lihat dahulu.
Kemudian penjual menyambung dengan memberitahu harga yang
telah ditentukan.V.18
penjual tidak sesuai.
Pertanyaan pembeli tidak langsung dijawab oleh penjual melainkan
mempromosikan dagangannya yang lain.
4 Maksim
Cara
Seorang pembeli menanyakan harga udang, sambil melihat-lihat udang yang ada ditumpukan dan penjual menjawab dengan
harga yang sudah ditentukan. Saat sudah
mengetahui harganya pembeli menawar dengan
harga yang lebih rendah dan penjual mengiakan sambil mengambil udang dan menimbangnya.V.05
Pada dialog ini dapat dilihat bahwa ketika pembeli menanyakan harga penjual langsung menjawab dengan harga yang ditentukan tetapi bertanya balik kepada
pembeli hal ini dianggap penjual terlalu
bertele-tele tidak focus pada pokok pembicaraan.
Seorang pembeli menanyakan harga udang
dan penjual langsung menjawab sesuai harga
yang telah ditentukan kemudian pembeli memberitahu penjual bahwa yang akan dia beli
dua kilo dan penjual bertanya ulang tentang
kepastian berapa yang akan ingin dibeli.V.12
Pada dialog ini dapat dilihat bahwa ketika pembeli menanyakan harga penjual langsung menjawab dengan harga yang ditentukan tetapi bertanya balik kepada
pembeli hal ini dianggap penjual terlalu
bertele-tele tidak focus pada pokok pembicaraan.
Seorang pembeli datang menanyakan harga ikan kepada si penjual. Penjual langsung menjawab sesuai
Pada dialog ini dapat dilihat bahwa ketika pembeli menanyakan harga penjual langsung
harga yang telah ditentukan namun pembeli meminta untuk mengganti
salah satu ikan yang ditunjuknya karena merasa
sedikit busuk.V.13
menjawab dengan harga yang telah ditentukan
tetapi bertanya balik kepada pembeli hal ini dianggap penjual terlalu
bertele-tele tidak focus pada pokok pembicaraan.
Seorang pembeli yang telah selesai memilih ikan cepa
menanyakan harganya kepada penjual. Penjual menjawab dengan harga yang telah ditentukan kemudian bertanya ulang
tentang harganya untuk memastikan apakah harga
itu memang benar.
Pembeli melanjutkan dengan menawar harga yang lebih di bawah dari
yang telah ditentukan.
V.17
Pada dialog ini dapat dilihat bahwa ketika pembeli menanyakan harga penjual langsung menjawab dengan harga yang ditentukan tetapi bertanya balik kepada
pembeli hal ini dianggap penjual terlalu
bertele-tele tidak fokus pada pokok pembicaraan.
Berdasarkan korpus tabel data hasil penelitian di atas telah ditemukan dialog yang mematuhi prinsip kerja sama dan ditemukan pula pelanggaran prinsip kerja sama yang terdiri dari empat maxim yaitu maxim kuantitas, kualitas, relevansi, dan maxim cara. Bentuk-bentuk dialog yang sudah sesuai danyang melanggar maxim kerja sama akan dianalisis dan dibahas sebagai berikut.
1. Pelaksanaan prinsip kerja sama
Prinsip kerja sama yang dilakukan dalam penggunaan bahasa Makassar di pelelangan paotere Makassar meliputi empat maksim yaitu, maksim kuantitas,
46
maksim kualitas, maksim relevansi dan maksim cara. Berikut ini akan dipaparkan mengenai jenis-jenis prinsip kerja sama tersebut.
a. Kesesuain Maksim Kuantitas
Maksim kuantitas menginginkan setiap peserta tutur menyampaikan informasi yang cukup dan sesuai yang dibutuhkan oleh mitra tutur. Jika peserta tutur memberikan informasi yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan mitra tutur, maka pertuturan tersebut dianggap telah mematuhi maksim kuantitas.
Beberapa tuturan penjual padatabel 1.3(V.02), (V.04), (V.06), (V.09), (V.19) dan (V.20) termasuk ke dalam penerapan maksim kuantitas karena penjual telah memberikan informasi yang cukup dan sesuai yang dibutuhkan, dalam artian bahwa setiap pembeli bertanya maka penjual langsung menjawab sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pembeli. Jadi, penjual telah memberikan informasi yang cukup dan memadai pada setiap tahapan pertuturan dengan pembeli.
Hal ini sesuai dengan pendapat Wijana dalam ( Ferdian Achsani, 2019:153) menyatakan bahwa untuk memenuhi tuntutan prinsip kerja sama dalam berkomunikasi, penutur memberikan informasi sebanyak yang dibutuhkan oleh mitra tutur.
b. Kesesuaian Maksim Kualitas
Maksim kualitas menghendaki setiap peserta tutur memberikan informasi yang benar dan logis, menyampaikan sesuatu yang nyata dan sesuai fakta sebenarnya di dalam aktifitas bertutur. Fakta itu harus di dukung dan didasarkan pada bukti-bukti yang jelas.
Tuturan penjual padatabel 1.3(V.11) termasuk ke dalam penerapan maksim kualitas karena saat pembeli akan menanyakan harga ikan, sebelumnya penjual menawarkan ikannya dengan memperlihatkan insan ikan yang menandakan bahwa ikan tersebut masih segar. Dalam artian bahwa yang disampaikan oleh penjual adalah memang fakta dan sesuai dengan kenyataan.
Hal ini sudah sesuai dengan pendapat Rahardi dalam ( Ferdian Achsani, 2019:157 ) mengatakan bahwa seorang penutur diharapkan dapat menyampaikan sesuai yang nyata dan sesuai fakta yang sebenarnya di dalam bertutur. Pendapat Rahardi ini memberikan penjelasan bahwa dengan maksim kualitas ini, seorang peserta tutur diharapkan dapat menyampaikan sesuatu yang nyata dan sesuai dengan fakta yang sebenarnya di dalam aktifitas bertutur. Fakta kebahasaan yang demikian itu harus didukung dan didasarkan pada bukti-bukti yang jelas, konkrit, nyata dan terukur. Maka sebuah tuturan akan dapat dikatakan memiliki kualitas yang baik apabila sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya, tidak mengada-ada.
c. Kesesuaian Maksim Relevansi
Maksim relevansi mengharapkan setiap peserta tutur dapat memberikan informasi yang relevan atau berhubungan dengan topic pembicaraan. Jika peserta tutur mampu memberikan informasi yang relevan dan ada hubungan atau kaitannya dengan pembicaraan sebelumnya pada setiap tahapan pertuturan, maka dianggap telah mematuhi maksim relevansi.
Tuturan penjual padatabel 1.3(V.01), (V.14), (V.21), (V.22) ini termasuk ke dalam penerapan maksim relevansi karena peserta tutur saling memberikan informasi dan percakapan berlangsung nyambung dari awal sampai akhir
48
percakapan. Dikatakan relevan karena tuturan penjual masih ada hubungannya dengan topik pembicaraan sebelumnya dan mereka juga memiliki pengetahuan yang sama.
Hal ini sudah sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Hermaliza dalam ( Ferdian Achsani, 2019:157 ) mengatakan bahwa maksim relevansi mengharuskan setiap peserta percakapan memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah pembicaraan.Pendapat Hermaliza tersebut mengatakan bahwa maksim relevansi mengharuskan setiap peserta pertuturan memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah yang dibicarakan sebelumnya.
d. Kesesuaian Maksim Cara
Maksim cara ialah maksim yang setiap peserta tutur diharapkan mampu memberikan informasi yang jelas dan langsung, tidak ambigu, dan tidak membingungkan. Jika selama proses pertuturan berlangsung, peserta tutur mampu menjalankan salah satu syarat yang diajukan dalam maksim cara, maka dapat dikatakan bahwa proses pertuturan yang dilakukan tersebut telah mematuhi maksim cara.
Tuturan penjual padatabel 1.3(V.03), (V.07) ini termasuk ke dalam penerapan maksim cara karena setiap pertanyaan dari pembeli atau penjual, penjual ataupun pembeli selalu memberikan jawaban yang jelas untuk meyakinkan pembeli bahwa jika pembeli ingin mengambil satu tumpukan ikan akan memberinya dengan harga 75 saja. Dan saat pembeli kembali menawar, penjual dengan singkat mengatakan tidak bisa pada permintaan pembeli.
Hal ini sesuai dengan pendapat Cummings dalam ( Ferdian Achsani, 2019:158 ) yang berbunyi maksim cara ialah seorang penutur harus mampu bertutur secara langsung, jelas dan tidak kabur. Pendapat tersebut menjelaskan bahwa maksim cara ini mengharuskan penutur atau mitra tutur berbicara secara langsung, tidak kabur, tidak ambigu, tidak berlebih-lebihan dan runtut.
2. Pelanggaran Prinsip Kerja Sama
Apabila di dalam berkomunikasi terdapat penutur yang memberikan informasi atau jawaban yang berlebihan, salah, tidak relevan, tidak jelas dan ambigu, maka secara prinsip kerja sama telah terjadi pelanggaran. Hal ini biasa terjadi karena adanya tujuan-tujuan tertentu yang sengaja dilakukan oleh peserta komunikasi ataupun peserta tutur tidak mengerti apa yang disampaikan oleh mitra tutur. Pelanggaran prinsip kerja sama yang dilakukan dalam penggunaan bahasa Makassar di pelelangan paotere Makassar juga meliputi empat maksim, yaituMaksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansidan maksim cara.
a. Pelanggaran Maksim Kuantitas
Pelanggaran terhadap maksim kuantitas terjadi apabila peserta tutur memberikan informasi yang berlebihan, tidak cukup dan tidak sesuai dengan kebutuhan lawan tuturnya.
Padatabel 1.4percakapan pertuturan di atas kalau diperhatikan secara seksama melanggar prinsip kerja sama pada maksim kuantitas karena tuturan pada (V.08), (V.15), (V.16) penjual memberikan informasi secara berlebihan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masing-masing mitra tutur. Hal ini tidak sesuai
50
dengan teori Grice yang mengatakan jangan memberikan informasi yang berlebihan melebihi kebutuhan.
Teori Grice tersebut menjelaskan bahwa di dalam maksim kuantitas, seorang penutur diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup, relative memadai dan sesingkat mungkin sesuai dengan kebutuhan. Informasi yang demikian itu tidak boleh melebihi informasi yang sebenarnya dibutuhkan mitra tutur. Tuturan yang tidak mengandung informasi yang sungguh-sungguh diperlukan mitra tutur, dapat dikatakan melanggar maksim kuantitas dalam prinsip kerja sama.
b. Pelanggaran Maksim Kualitas
Maksim kualitas mengharapkan setiap peserta tutur memberikan informasi yang benar, logis dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Jika terdapat peserta tutur yang memberikan informasi yang salah, mengada-ada, tidak logis dan tidak didukung dengan bukti-bukti yang jelas maka bisa dikatakan melanggar dari maksim kualitas.
Tuturan penjual padatabel 1.4(V.10) termasuk dalam pelanggaran maksim kualitas karena saat pembeli meminta ikan tersebut dengan harga tiga puluh, penjual memberikan jawaban bahwa yang harga tiga puluh sudah habis padahal masih banyak tumpukan ikan yang di jualnya. Dalam artian bahwa tuturan penjual disini mendorong pembeli untuk membeli ikan yang harga empat puluh. Secara logika memang yang harga tiga puluh sudah habis tapi bisa saja penjual mengambil beberapa ikan di tumpukan dengan menaksir jumlah ikan yang sesuai harga yang diinginkan oleh si pembeli.
Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Yule dalam ( Ferdian Achsani, 2019:155 ) yang mengatakan bahwa penutur dilarang untuk mengatakan sesuatu jika tidak memiliki bukti yang nyata. Pendapat tersebut memberikan penjelasan bahwa dengan maksim kualitas ini, seorang peserta tutur diharapkan dapat menyampaikan sesuatu yang nyata dan sesuai dengan fakta yang sebenarnya di dalam aktifitas bertutur. Fakta kebahasaan tersebut harus didukung dan didasarkan pada bukti-bukti yang jelas, konkrit, nyata dan terukur. Sebuah tuturan akan dapat dikatakan memiliki kualitas yang baik apabila tuturan itu sesuai dengan faktanya dan sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya, tidak mengada-ada, tidak dibuat- buat, tidak direkayasa. Jadi, sesuai dengan maksim ini selalu berusahalah mengatakan yang sebenarnya.
c. Pelanggaran Maksi Relevansi
Agar pembicaraan selalu relevan, diharapkan setiap peserta tutur mampu memberikan informasi yang jelas dan langsung, tidak ambigu dan membingungkan. Jika terdapat peserta tutur yang tidak paham dengan konteks saat ujaran terjadi, maka ujaran tersebut melanggar dari maksim relevansi.
Pertuturan di atas melanggar prinsip kerja sama pada maksim relevansi karena tuturan penjual padatabel 1.4(V.18) tidak sesuai. Pertanyaan dari pembeli tidak langsung dijawab oleh penjual, bahkan penjual menyuruh pembeli untuk melihat-lihat terlebih dahulu. Hal ini dianggap tidak relevan dengan apa yang dituturkan oleh penutur sehingga tidak memenuhi maksim relevansi atau melanggar ketentuan maksim relevansi.