BAB I PENDAHULUAN
F. Kerangka Teori
3. Pelecehan Seksual
19
serta merasa bahwa ada hubungan yang erat antara ia dan keluarganya.25
20
dipergunakan sebagai objek yang berkenaan dengan kegiatan yang berbau seksual. Misalnya, digunakan untuk menstimulasi hasrat pelaku, dijadikan pelampiasan nafsu pelaku, diajak melihat film porno, diperlihatkan aktivitas seksual secara langsung, dan diminta memerankan adegan berbau seks untuk difilmkan.28
Pelecehan menyangkut merusakkan harga diri dan kehormatan seseorang dengan sengaja serta pihak korban biasanya di bawah tekanan dan tidak berdaya. Banyak anak di bawah umur yang belum mengerti sepenuhnya kejadian yang menimpanya. Anak kecil biasanya terlalu polos dan menganggap semua orang baik. Dengan iming-iming seperti permen, kue, ataupun uang, mereka mudah dimanipulasi.
Anak tidak akan merasa terlecehkan walaupaun mereka diminta membuka baju, dibelai, dipijit bagian tertentu, dipanku, atau dipeluk. Mereka menganggap tindakan pelaku merupakan ekspresi kasih sayang terhadap dirinya. Pihak orang tua pun baru menyadari anaknya sebagai korban ketika telah terjadi pelecehan yang sifatnya sudah berat misalnya terjadi perkosaan atau sodomi.
Beberapa bentuk pelecehan yang umumnya terjadi pada anak-anak di lembaga perlindungan anak lombok antara lain pemerkosaan, pelecehan seksual dan sodomi (tindakan seks yang tidak alami yang terdiri atas seks oral ataupun seks anak).29
b. Bentuk-bentuk Pelecehan Seksual 1) Pelecehan seksual Verbal
Wujud pelecehan seksual secara verbal lebih dilakukan dengan perkataan yang ditujukan pada orang lain namun
28Nurul Chomiriah, Pelecehan Anak (kenalan Dan Tangani), (Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2014), h.16-17.
29 Afidah Wahyuni, “Sodomi dalam Perspektif Ulama Fiqih”, al-Mizan, vol. 2, no.
1, (2018), 84.
21
mengarah pada sesuatu yang berkaitan dengan seksual, pelecehan Ini dapat berwujud seperti:
a) Bercandaan, menggoda lawan jenis atau sejenis, ataupun mengajukan pertanyaan seputar seksual Di dalam diskusi atau obrolan yang tidak dikhususkan membahas seputar seksual. Menyampaikan atau menanyakan pada orang lain tentang keinginan secara seksual ataupun kegiatan seksual yang pernah dilakukan oleh orang tersebut, yang membuat orang itu tidak nyaman.
b) Mengkritik atau mengomentari bentuk fisik yang mengarah Pada bagian-bagian seksualitas, misalnya bentuk pantat Ataupun ukuran kelamin seseorang.
2) Pelecehan seksual non verbal
Bentuk pelecehan seksual non verbal merupakan kebalikan dari verbal, apabila dalam pelecehan verbal adalah menggunakan kata-kata ataupun ajakan berbentuk tulisan dalam katagori non verbal ini lebih menggunakan tindakan akan tetapi tidak bersentuhan secara langsung antara pelaku dengan korbanya, misalnya:
a) Memperlihatkan alat kelamin sendiri dihadapan orang lain baik personal ataupun dihadapan umum.
b) Menatap bagian seksual orang lain dengan pandangan yang Menggoda,
c) Menggesek-gesekan alat kelamin ke orang lain.
3) Pelecehan seksual secara fisik
Dalam katagori ini pelecehan seksual antara pelaku dan korban sudah terjadi kontak secara fisik, dapat digolongkan perbuatan yang ringan dan berat misalnya:
Meraba tubuh seseorang dengan muatan seksual dan tidak di inginkan oleh korban perkosaan atau pemaksaan melakukan perbuatan seksual. Memeluk, mencium atau menepuk seseorang yang berorientasi seksual. Bentuk lain
22
pelecehan seksual pada anak selain yang dilakukan Oleh orang dewasa dibagi menjadi beberapa macam, yaitu:
a) Inces
Perilaku seksual yang dilakukan dalam lingkup keluarga dekat dimana dalam keluarga dekat tidak diperbolehkan adanya hubungan perkawinan, misalnya ayah dengan anak, ibu dengan anak, saudara kandung, kakek atau nenek dengan cucu dan juga berlaku antara paman dengan keponakan atau bibi dengan keponakan.30
Dampak dari inces selain meninggalkan trauma, mengganggu perkembangan anak karena belum waktunya melakukan aktifitas seksual juga merusak garis keturunan apabila anak korban pelecehan seksual tersebut hingga mengalami kehamilan, tentunya akan mengalami kebingungan.
b) Pedofilia
Kelainan seksual yang ditandai dengan rasa ketertarikan seksual orang yang telah masuk dalam usia dewasa terhadap anak-anak, hal ini bisa diakibatkan karena 2 faktor yaitu akibat pengalaman masa kecil seseorang yang tidak mendukung tingkat perkembangannya atau pengalaman seseorang yang pada masa kecilnya yang pernah menjadi korban pelecehan oleh seorang pedofil juga.
c) Pornografi Anak
Layaknya pornografi pada umumnya pornografi pada anak juga hampir sama, hanya saja anak-anak yang menjadi objek atau subjek dari pornografi tersebut, contoh sederhana adalah anak-anak di paksa melihat atau mendengar gambar, video, atau
30 Sri Maslihah, Play Therapi Dalam Identifikasi Kasus Kekerasan Seksual Pada Anak, (Bandung, Universitas Pendidikan Indonesia 2017). H.24.
23
tindakan seksual secara nyata bahkan termasuk membaca tulisa-tulisan yang mengarah pada aktivitas seksual, hal ini karena patut diduga bahwa seorang anak belum sewajarnya menerima informasi seksual.
d) Extrafamilial Sexual Abuse
Extrafamilial sexual abuse dilakukan bukan dalam lingkup keluarga melainkan dalam lingkup umum seperti sekolah, penitipan anak, ataupun tempat bermain.
c. Penyebab Terjadinya Pelecehan Seksual
Begitu mengkhawatirkan tindak pelecehan seksual disekitar kita. tidak ada asap kalau tidak ada api. Begitu pula, meningkatnya kasus pelecehan seksual akhir-akhir ini, pasti ada sebab-sebabnya.
Beberapa hal yang diperkirakan menyumbang kasus ini adalah sebagai berikut.31
1) Media masa
Media, baik cetak maupun elektronik, yang banyak mengekspose masalah seksual secara terbuka dan bebas.
Berita yang mengusung tema kekerasan seksual yang termat fulgar ketika mengusungnya, menjadikan orang makin “tumpul” perasaannya terhadap para korban dan adanya kecendrungan untuk meniru. Masyarakat kita memang sedang “sakit”. Informasi yang disuguhkan dan menjadi berita pun tidak sehat untuk dikonsumsi.
Kecendrungan masyarakat untuk “menselebritikan” para penjahat, membuat pelaku kejahatan yang tiba-tiba merasa terkenal menjadi bangga, serta perasaan yang berdosa dan bersalah pun meluntur.
31Nurul Chomiriah, Pelecehan Anak (kenalan Dan Tangani), (Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2014), h.16-17.
24
2) Peran Ibu Yang Makin Berkurang
Pada saat sekarang, banyak wanita yang memilih berkarir pada berprofesi sebagai ibu rumah tangga.
Kurangnya penghargaaan atas profesi sebagai ibu rumah tangga menyebabkan wanita memilih bekerja di luar rumah. Selain alas an tersebut, tuntutan ekonomi yang memaksa wanita ikut berkiprah di dunia kerja karena sang suami belum bias menutup semua kebutuhan hidup keluarga.
Dalam Islam, tugas pertama seorang wanita adalah sebagai ibu. Ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya.
Peryataan tersebut tidak hanya slogan atau himbauan yang kosong belaka. Para ahli melakukan berbagai penelitian tentang hubungan yang semestinya antara anak dan ibunya serta efek yang ditimbulkan apabila anak tidak mendapatkan hubungan yang hangat dengan sang ibu, Di dalam dekapan dan perlindungan serta pengawasan sang ibu, anakanak akan merasa aman dan tentram. Anak-anak yang mendapat cukup cinta kasih seorang dan dekapan yang hangat, akan merasakan rasa aman dan dicintai. Hasilnya akan tumbuh rasa percaya kepada ibunya. Selanjutnya, ia akan membentuk hubungan yang hangat pula dengan orang-orang di sekitarnya.
3) Kehidupan Beragama Yang Kurang Ditanamkan Dalam Keluarga Atau Adanya Dekadensi
Agama merupakanbenteng untuk mencegah manusia berbuat keji dan mungkar sehinggar mencelakanya dirinya dan orang lain. Oleh karena itu, agama mutlak ditanamkan untuk anak sejak dini. Inijuga merupakan suatu keharusan peran orang tua untuk memberikan contoh yang baik dalam mengerjakan semua perintah agama tanpa terkecuali.
25 4) Lingkungan Yang Salah
Lingkungan ini meliputi kehidupan bertetangga, lingkungan sekolahnya, ataupun lingkungan pergaulan yang dipilih oleh sanganak. Demikian juga, lingkungan sekolah. Para orang tua jangan asal comot sekolah bagi anak-anaknya. Pilih sekolah yang sesuai dengan misi dan visi keluarga sehingga sekolah sebagai pendidik kedua setelah keluarga akan tampak hasilnya. Misalnya, lokasi sekolah yang berdekatan dengan diskotik, klub malam, tempat biliard, gedung bioskop atau tempat hiburan dewasa lainnya. Tempat - tempat ini umumnya menyajikan pemandangan yang kurang layak ditonton oleh anak kecil.
Teman-teman sepergaulan anak juga sangat berpengaruh, banyak anak yang berasal dari keluarga baik-baik memilih teman yang memberi pengaruh buruk, akhirnya menjadi anak dengan pribadi yang buruk.
Pengaruh teman sepergaulan sangat besar karena waktu anak banyak dihabiskan bersama teman-temannya.
5) Pernah jadi korban
Sudah singgung diatas bahwa anak dan remaja yang pernah menjadi korban pelecehan seks, atau perkosaan cenderung menjadi pelaku aktivitas seks karena m meraa kecanduan atau menikmati seks itu sendiri. Di sisi lain, juga karena merasa “sudah basah tercebur sekalian”.32 6) Mereka Lemah Secara Fisik
Bukan sekali dua kali kita mendengar kasus perkosaan pada anak usia 5 tahun, 3 tahun. Tidak terbataspada anak perempuan saja, melainkan juga anak lelaki. Ingat kasus Robot gedek dan Babe yang menyodomi sekian banyak anak kemudian
32Marry Magdalena, Melindungi Anak Dari Seks Bebas, (Jakarta: PT. Gramedia Widiarsana, 20100, h.33.
26
membunuhnya. Anak-anak dan remaja, dalam hal ini pada kisaran usia 3 hingga 16 tahun, di anggap sebagai sasaran empuk karena secara fisik mereka masih lemah, sehingga akan sulit melawan dengan tenaga yang ala kadarnya itu. Jangankan orang dewasa, oleh teman yang usiannya hanya lebih tua 2-3 tahun saja mereka akan mudah dipojokkan.
d. Dampak Pelecehan Seksual
Dampak pelecehan seksual yang dialami korban adalah dalam masa pertumbuhan dan perkembangan nya setiap waktu ia mengalami ketakutan bertemu orang yang seusia pelaku, dan bahkan ia menjadi emosional ketika melihat seorang lelaki dan dari emosional ini menyerang psikisnya korban menjadi pendiam, kadang menamgus sendiri histeris jika mengingat kembali kejadian yang menimpanya tentu saja emosional sudah sangat terganggu dengan adanya kejadian pedofilia yang pernah menimpa dirinya.
G. Metode Penelitian
1. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian Kualitatif Deskriptif dengan pendekatan studi kasus.
Penelitian studi kasus adalah penelitian yang meneliti fenomena kontemporer secara utuh dan menyeluruh pada kondisi yang sebenarnya, dengan menggunakan berbagai sumber data.33 Penelitian memusatkan diri secara intensifpada satu objek tertentu yang mempelajarinya sebagai suatu kasus.Peneliti menggunakan jenis penelitian ini untuk mengatasi emosional remaja korban pelecehan seksual.
33Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif: Teori dan Praktik, (Jakarta: Bumi Aksara, 2016) h.121.
27 2. Lokasi Penelitian
Lokasi yang di pilih oleh peneliti adalah Lembaga Perlindungan Anak Lombok Utara. Adapun alasan kenapa peneliti memilih lokasi tersebut sebagai berikut:
a. Memudahkan peneliti dalam mendapatkan data di lapangan karena lokasi penelitian ini berkaitan erat dengan lokasi tempat tinggal korban.
b. Melihat cara yang digunakan Lembaga Perlindungan Anak Lombok Utara dalam menyelesaikan setiap permasalahan berkaitan dengan Pelecehan Seksual termasuk kasus Pedofilia.
3. Sumber dan Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:
a. Data Primer
Data primer adalah data yang diambil dari Sumber utama lapangan.34 Data yang didapatkan berupa tulisan-tulisan hasil wawancara yang yang telah dilakukan bersama korban. Setelah melakukan wawancara dengan korban, Peneliti nantinya akan mendapatkan berbagai info mengenai Pelecehan Seksual yang dialami korban guna menunjang lancarnya proses wawancara.
b. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang didapat dari sumber informasi yang kedua.35 Data ini didapatkan dengan cara mengamati, membaca dan mendengarkan. Data sekunder yang digunakan oleh Peneliti adalah informasi yang didaptkan secara lain yaitu orang tua korban itu sendiri karena mungkin tidak semua kejadian akan mampu diceritakan karena itu masalah yang sangat besar bagi korban.
Sumber data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan sumber data primer dan sumber data Sekunder:
34 H.M. Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial & Ekonomi,(Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, 2013), hal.128.
35 Ibid,.Burhan Bungin, h.128.
28 1) Sumber Data Primer
Dalam penelitian ini, sumber data primernya adalah korban itu sendiri yang mengalami pelecehan seksual yang berjumlah lima orang.
2) Sumber Data Sekunder
Sumber yang menjadi data sekunder dalam penelitian ini adalah konselor, keluarga korban dan korban itu sendiri yang mengetahui bagaimana kejadian itu sendiri.
4. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data-data yang diperlukan, ada berbagai metode yang peneliti gunakan seperti, observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai berikut:
a. Model observasi
Dimana metode yang paling dasar, karena dengan cara ini peneliti melakukan pencatatan dan pengamatan dan dalam proses mengamati semua bentuk penelitian fenomena sosial secara sisitematis. Dalam penelitian metode observasi yan peneliti gunakan adalah observasi partisifatif, yaitu observasi dimana observer benar-benar turut serta mengambil bagian dalam kegiatan yang dilakukan oleh seorang atau objek yang diamati.36 Peneliti memfokuskan observasi pada bimbingan dan konseling anak yang mengalami pelecehan seksual.
b. Wawancara
Wawancara adalah kegiatan tanya-jawab yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu pihak pewawancara dan pihak yang diwawancarai dengan tujuan mendapatkan hasil jawaban pada fenomena tertentu.37 Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan
36Susilo Rahardo dan Gudnanto, Pemahaman Individu Teknik Non Tes, (Jakarta:
Bumi Aksara, 2016) h. 160
37Lexi J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi, (Bandung:
Alfabeta, 2012)hal.175
29
dan terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.38 Dalam halini, peneliti sebagai pewawancara yang akan mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai atau narasumber memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan maka peneliti menggunakan wawancara tidak terstruktur. Menurut Sugiono, wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas, bebas, di mana peneliti peneliti tidak menggunakan menggunakan pedoman pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.39 Digunakan agar data-data yang kurang jelas dapat ditanyakan ditanyakan kembali kembali kepada responden. Sehingga data yang diperoleh lengkap dan valid. Adapun infoman yang akan diwawancarai adalah konselor LPA Lombok Utara, orang tua korban, dan anak yang menjadi korban.
c. Dokumentasi
Sejumlah besar fakta data tersimpan dalam bahan yang berbetuk dokumentasi. Biasanya berbentuk surat-surat, catatan harian, laporan dan Foto.40 Data yang akan peneliti gunakan pada saat proses dokumentasi ini adalah remaja yang dijadikan sample data nantinya akan di dokumentasikan menggunakan foto.
5. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah pencarian atau menyusun data secara sistematik menurut bagian-bagian nya hubungan anatara penelurusan data melalui catatan saaat dilapanga, analisis data mencakup kegiatan dengan mengorganisasikan, memilah dan menemukan apa yang penting dan
38Meleong, Metodologi Penelitian, h. 185
39Meleong, Memahami Penelitian, h. 74
40Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif Teori & Praktik,(Jakarta: Bumi Aksara, 2016) h.175
30
apa yang mesti dipejari.41 Peneliti menggunakan Beberapa teknik yaitu reduksi data, penyajian data (data Display), dan conclusion drawing/verification. Berikut rinciannya :
a. Reduksi data kegiatan yang akan terus terjadi selama penelitian berlangsung. Hal ini karena data yang didapat selama penelitian tidak dapat diketahui bagaimana perkiraannya. Maka dari itu, peneliti harus melakukan reduksi guna memperkirakan informasi.
b. Penyajian Data (Data Display)
Setelah semua data yang didapat telah diprediksi, maka data yang sudah dipilahdiuraikan dalam bentuk yang menyesuaikan data kebutuhan peneliti untuk mempermudah peneliti untuk mengkondisikan dan menentukan langkah selanjutnya. data yang telah disajikan dalam penelitian ini adalah data tentang reamaja yang mengalami pelecehan seksual
c. Conclusion Drawing/Verification
Hasil akhir dari gambaran bagaimana temuan penelitian ini perkembangan emosional anak korban pelecehan seksual.
6. Uji Keabsahan Data
Sebenarnya, keabsahan data tujuan nya untuk menghasilkan seberapa kepercayaan akan keakuratan dari Hasil penelitian. Beberapa cara untuk menunjukkan keabsahan data:
a. Perpanjangan Keikutsertaan
Maksud dari perpanjangan keikutsertaan adalah peneliti berlama-lama di lapangan. Keikutsertaan peneliti berlangsung lama dan berkelanjutan tujuan memperpanjang keikutsertaan adalah untuk mengumpulkan data sebanyak-banyaknya.
Karenanya peneliti kualitatif memiliki waktu yang bersama dengan informan dilapangan.42 Perpanjangan keikutsertaan juga dapat mengurangi kesalahan dalam beberapa konteks. Seperti,
41 Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif Teori & Praktik, (Jakarta: Bumi Aksara, 2016) h.210
42 Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif,(Jakarta: Kencana Pradana, 2012), hal.262.
31
meminimalisir kesalahan, mengkonpensasikan pengaruh dari beberapa kejadian yang terjadi atau yang tidak biasa. Dengan kata lain adalah pengaruh sesaat.43
b. Ketekunan Pengamatan
Agar mendapatkan hasil pengamatan yang teliti dan rinci, lalu orientasinya pada tidak diragukan lagi keabsahan datanya, maka peneliti hendaknya tekun pada pengamatan. Ketekunan ini bermaksud menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari dan memusatkan diri padahal-hal tersebut secara rinci. Semakin tekun peneliti dalam melakukan pengamatan maka derajat keabsahan data telah ditingkatkan pula.
c. Triangulasi
Merupakan teknik yang digunakan untuk memeriksa keabsahan data. Pemeriksaan ini memanfaatkan sesuatu yangterdapat pada luar lingkungan penelitian. Hal ini dilakukan untuk membandingkan data tersebut dengan data yang ada di luar.
7. Sistematika Pembahasan
Secara garis besar penelitian ini dibagi menjadi beberapa bab pembahasan yang disusun terurut mulai dari awal hingga akhir.
Proposal penelitian hingga skripsi tersusun berurut dan saling berkaitan satu sama lain. Ada beberapa pembahasan yaitu:
Pada bab pertama adalah judul, latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, ruang lingkup, setting penelitian, telaah pustaka, kerangka teori, metode penelitian, sistematika pembahasan, rencana jadwal kegiatan penelitian dan daftar pustaka. Sedangkan bab kedua terdapat paparan data dan temuan pada ruang lingkup Lembaga Perlindungan Anak Lombok Utara. Selanjutnya bab ketiga adalah pembahasan lanjutan dari paparan data bedasarkan kajian teoretik dari hasil penerapan
43Lexi J.Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi, hal.327.
32
Bimbingan dan Konseling Islam terhadap emosional remaja korban pelecehan seksual di Lembaga Perlindugan Anak Lombok Utara.
Dan hasil pembahasan ini nantinya direfleksikan isi pembahasan bab. Dan bab terakhir yaitu bab keempat adalah penutup yang Di dalamnya mencakup kesimpulan dan saran dari Skripsi ini.
33 BAB II
PAPARAN DATA DAN TEMUAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Sejarah singkat lahirnya LPA Lombok Utara peraturan Bupati tentang pembentukan unit pelaksana teknis daerah perlindungan perempuan dan anak pada dinas sosial, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak kabupaten Lombok Utara bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 20 ayat (3) peraturan Menteri dalam Negeri nomor 12 tahun 2017 tentang pedoman pembentukan dan klasifikasi Cabang Dinas dan unit pelaksana teknis daerah dan sesuai surat rekomendasi dari pemerintah provinsi Nusa Tenggara Barat tanggal 30 September 2021 perihal rekomendasi pembentukan UPTD Lembaga Perlindungan Anak (LPA), maka perlu menetapkan peraturan Bupati tentang pembentukan Unit Pelaksana teknis daerah perlindungan perempuan dan anak Pada Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan peraturan Bupati ini dibentuk UPTD LPA kelas A pada dinas sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak kabupaten Lombok Utara.44
Geografis Lembaga Perlindungan Anak Lombok Utara letak geografis terletak di tengah kecamatan Tanjung yang merupakan wilayah pedesaan dan jauh dari akses perkantoran batas wilayahnya adalah :
Sebelah timur berbatasan dengan JalanRaya Tanak Song Desa Jenggala Kecamatan Tanjung. Sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Akses Persawahan jauh di dalam permukiman rumah warga.
Selanjutnya sebelah utara berbatasan dengan Masjid Al Ikhlas Tanak Song. Dan terakhir sebelah selatan berbatasan dengan Kolam Renang Anak dan Wahana Bermain Desa Jenggala.
Melihat letak geografis tempat pembangunan nya yang sangat strategis sehingga sangat cocok digunakan untuk mengembangkan proses bimbingan terhadap anak-anak yang mengalami berbagai kasus
44Observasi Tanggal 5 Februari 2022, dilingkunganLPPA Lombok Utara.
34
untuk direhabilitasi nantinya karena jauh dari keramaian sehingga bisa lebih menenangkan,dimana juga ada akses untuk merelaksasi fikiran karena ada akses sawah hijau, jika saat proses bimbingan ibadah berdekatan juga dengan masjid dan jika proses bimbingan bermain bisa menggunakan kolam renang dan wahana bermain anak sehingga proses bimbingan bisa lebih maksimal nantinya.45
1. Dasar Hukum dan Kelembagaan Pembentukan Lembaga Perlindungan Anak Lombok Utara.
Bupati Lombok Utara Provinsi Nusa Tenggara Barat Keputusan Bupati Lombok Utara Nomor 2814 09.2/Dinsos PP&PA/2020 Tentang Pembentukan Dan Penetapan Pengurus Lembaga Perlindungan Anak Kabupaten Lombok Utara Periode Tahun 2020- 2025 Bupati Lombok Utara.
Bagan Struktur Organisasi Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Anak Kabupaten Lombok Utara.46
Susunan organisasi UPTD LPA terdiri atas:
a) Kepala UPTD LPA
b) Sub Bagian Tata Usaha; dan c) Konselor.
45Observasi Tanggal 5 Februari 2022, dilingkungan LPPA LPPA Lombok Utara.
46ProfilLPPA Lombok Utara, tahun 2019
35
1.1 Bagan Struktur Organisasi Lembaga Perlindungan Anak Kabupaten Lombok Utara
Struktur organisasi UPTD LPA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Iampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini47. Sebagaimana Tugas dan Fungsi yaitu:
a. Kepala LPA Lombok Utara
Mempunyai tugas melaksanakan sebagian teknis dinas di bidang layanan perlindungan perempuan dan anak yang mengalami masalah kekerasan, diskriminasi, perlindungan khusus dan masalah Iainnya.
Kepala LPA dipimpin oleh seorang Kepala LPA yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Dinas.
Kepala LPA mempunyai tugas memimpin, dan mengendalikan LPA dalam menyelenggarakan layanan perlindungan bagi
47Profil LPPA Lombok Utara, tahun 2019
KEPALA Bagiarti, SH
KONSELOR Nurhayati, S.Pd, Tien Amalia, S.Pd,
Devi Aulia, S.Pd.
SUB BAGIAN TATA USAHA Agus Rahadi, SH
Iwan Dahlan Kirniatun Hairul Anam