Hukum Islam dapat dipahami dengan sebagai hukum yang bersumber pada al-Qur’an dan Sunnah dengan melalui proses ijtihad.
Kedua sumber hukum Islam tersebut didukung oleh akal fikiran, dari sinilah hukum Islam memegang peranan penting dalam pembaharuan dan pengembangan hukum Islam. Pengembangan hukum tersebut dinamakan dengan ijtihad, adapun ijtihad ini memegang peran penting dalam pengembangan pembaharuan hukum Islam, sehubungan dengan hal ini al-Syahrastani berkata bahwa: naṣṣ al-Qur’an dan Sunnah itu terbatas jumlahnya, sedangkan permasalahan yang memerlukan hukum tidak terbatas banyaknya, oleh karena itu diperlukan ijtihad untuk memacahkan masalah yang tidak ada hukumnya dalam naṣṣ tersebut. 95
Dengan demikian, perlu pemahaman makna ijtihad secara etimologi yang berarti sungguh-sungguh dalam menggali hukum Islam. Kata ijtihad berasal dari kata dasar jahada, yang bermakna:
95 Al-Shahrastānī: al-Milal wa Niḥal, (Mesir: Mustafā al-Bābi al-Ḥalabī, 1967), 199.
B A B I I
Mengerahkan segala kemampuan dalam mewujudkan sesuatu.96 Pengertian ijtihad di atas mengandung berbagai macam pernyataan sebagaimana yang telah dikemukakan ulama’, di antara mereka ada yang mengartikan dengan merumuskan secara intregral yang menyangkut segala aktifitas keilmuan dalam berbagai macam kehidupan. Sedangkan pengertian ijtihad secara terminologi menurut ahli ushul fiqh hanya dibatasi pada masalah fiqh saja, hal ini sebagaimana ungkapan yang dikemukakan oleh al-Ghazālī (450-505H/1058-1111) memberikan difinisi sebagai berikut:
97
.ِةَي ِعْ َّش�لا ِم َك ْح ل ِج� ِ َأ ْلِعْلا ِبَلَط ِن� ُهَع ْسُو ِدَِت�ْجحُ ْلا ُل ْذَب
Mencurahkan kemampuan seorang mujtahid dalam rangka memperoleh hukum-hukum Shar’ī.
Rumusan di atas lebih bersifat umum dan tidak menjelaskan lapangan ijtihad, namun dari kalimat di atas dapat dipahami mujtahid dalam ijtihadnya itu hanya terbatas pada masalah- masalah yang ẓanni sedangkan masalah-masalah yang qaṭ’ī sudah tidak perlu lagi diijtihadkan lagi atau dengan kata lain, dari difinisi tersebut dapat dipahami sebagai berikut:
1. Pengerahan segala kemampuan, tenaga, fikiran, waktu maupun biaya dalam rangka mewujudkan suatu keinginan.
2. Ijtihad yang mungkin dapat dilakukan oleh seorang mujtahid yaitu yang telah memenuhi persyaratan sebagai seorang mujtahid dan bukan sembarang orang yang asal berijtihad.
96 Wahbah Zuhaili: al-Wasīṭ fī Uṣūl al-Fiqh al-Islāmi,(Damaskus: Dār al-Kitāb, 1978), 480.
97 Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazālī, al-Mustaṣfā min ilmi al- Uṣūl. (Beirut: Dār al-Kutub al-Islāmiyah, 1993),: 342.
3. Ijtihad yang dilakukan oleh seorang mujtahid itu yaitu ketentuan hukum yang menyangkut tingkah laku manusia dalam kaitannya dengan pengamalannya terhadap ajaran agama Islam. 98
Dalam pandangan ahli ushul fiqh, yang dimaksud dengan mujtahid itu adalah seseorang yang ahli dalam bidang fiqh, yaitu ijtihad yang dalam bidang hukumnya bersifat parktis (amali), sedangkan ijtihad yang tidak berhubungan dengan masalah- masalah yang menyangkut tingkah laku mukallaf, adalah ijtihad yangberhubungan dengan masalah teoritis saja, sehubungan dengan masalah ini al-Syaukani berpendapat bahwa: ijtihad yang dilakukan oleh ahli kalam adalah ijtihad yang dikelompokkan sebagai al-Ḥukm al-‘Ilmī99 dan dalam definisi ini bukan bersifat hukum yang praktis (amali).
Selanjutnya jika ditelusuri Ijtihad ulama’ uṣūl al-Fiqh sebagian ulama’ ada yang berijtihad namun tidak melakukan Istinbat, melainkan ijtihad taṭbīqī dalam ijtihad taṭbīqī itu dimungkinkan untuk tidak memberlakukan naṣṣ tertentu dikarenakan adanya naṣṣ lain yang menghendaki demikian. Misalnya ‘Umar bin Khaṭṭāb melarang laki-laki muslim menikah dengan wanita ahli kitab, dengan alasan khawatir akan menimbulkan fitnah bagi wanita muslimah. Padahal naṣṣ al-Qur’an membolehkannya. 100
Yang dijadikan dasar hukum bagi para sahabat untuk menikah dengan wanita ahli kitab adalah firman Allah dalam surat al-Maidah:
98 Ahmad Zahro, Lajnah Bahtsul Masa’il Nahdlatul Ulama’ 1926-1999, Tela’ah kritis Terhadap Keputusan Hukum Fiqh. (Disertasi, Yogyakarta, 2001), 3.
99 Al-Shawkānī, al-Irshād al-Fuhul ila Tahqiq al-Haqqi min Ilmi al-Uṣūl. (Sura- baya: Maktabah Ahmad ibn Sa’ad Ibn Nabhan, tt), 250.
100 Fathi al-Darimi: al-Manāhij al-Uṣūliyyat fi al-Ijtihād bi al-Ra’yi fi al-Tashrī‘’ie al-Islāmi, (Damaskus: Al-Syirkat al-Muttahidat, 1985), hlm: 11. dan juga li- hat: Muhammad al-Baltaji: Manhaj ‘Umar bin Khaṭṭāb fi Tashrī‘’ Dirāsat Mus- tauibah li Fiqh ‘Umar wa Tandzimatih. (Mesir: Dār al-Salām, 2003), 322.
“Pada hari Ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan[402] diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu Telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (Tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi. 101
Dari ayat di atas, banyak sahabat yang menghalalkan nikah dengan wanita-wanita ahli kitab, seperti Usman nikah dengan wanita Nasrani yang bernama Naylah binti Qarāfishah al- Kalbiyah, Ṭalḥaḥ bin Ubaydillah nikah dengan wanita Yahudi dari Syam, dan lain-lainnya. Yang jelas, para sahabat tidak ada yang mengharamkan menikah dengan kaum naṣṣrani. Tidak ada naṣṣ yang melarang menikah dengan kaum naṣṣrani, jika ada larangan, sudah barang tentu para sahabat tidak akan melakukannya.
Larangan ‘Umar bin Khaṭṭāb kepada para sahabat untuk menikah kepada selain wanita muslimah Arab itu bermula dari penaklukkan kaum muslimin menduduki kota Madain, sehingga di kota tersebut bertambah banyak wanita Muslimahnya, ada yang mengawini wanita setempat, seperti sahabat Hudzaifah yang sekaligus sebagai panglima perang, ia mengawini wanita setempat, dan lain sebagainya, kemudian ‘Umar bin Khaṭṭāb mengirim surat agar ia menceraikan wanita tersebut, akan tetap Ḥudhaifah tidak akan menceraikan sebelum ‘Umar memberikan alasan terlebih dahulu, setelah ‘Umar bin Khaṭṭāb memberikan alasan kenapa ia melarangnya, barulah Hudzaifah menceraikannya. Dari peristiwa ini, dapat diambil pelajaran bahwa ijithad ‘Umar bin Khaṭṭāb yang
101 A. Hassan: Tafsir al-Furqan. (Surabaya: al-IKhwan, 2004), 210.
melarang sahabat mengawini perempuan non Arab yang muslimah itu disebabkan karena ‘Umar bin Khaṭṭāb merasa khawatir saja bahwa sahabat hanya tertarik kepada wajah kecantikannya saja, walau halal, namun wanita tersebut baru saja dikenalnya.
Inilah sebab yang menghawatirkan ‘Umar. Kekhawatirannya itu menunjukkan bahwa ‘Umar bin Khaṭṭāb sangat hati-hati dalam menjaga kemaslahatan kaum Muslimin, sebab jika hal itu dibiarkan berlarut-larut, maka akan menimbulkan banyak masalah dikalangan kaum Muslimin. 102
Dengan pemahaman tersebut, maka ijtihad itu merupakan kegiatan yang tidak mudah untuk dilakukan, sehingga ahli ushul fiqh memberikan beberapa syarat bagi orang yang akan melakukannya, dan syaral- syarat yang dikemukakannya itu menyangkut penekanan yang berbeda, disamping syarat yang telah disepakatinya. Sehubungan dengan hal ini al-Ghazālī telah memberikan syarat bagi orang yang melakukan ijtihad, yang secara garis besarnya dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
1. Penguasaan terhadap materi hukum yang terdapat dalam sumber utama ajaran Islam, berikut penguasaan terhadap ilmu alat bahasa untuk memahami sumber utama tersebut.
2. Yang kedua ini termasuk syarat pelengkap, yaitu: mengetahui nāsikh mansūkh yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadits , juga mengetahui cara untuk menyeleksi atau mengklasifikasikan hadits sebagai sumber hukum Islam. 103
B. Asal Usul Nama Majlis Ulama’ PERSIS dan