INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
72
III. Periode 2006-‐2010
Ada beberapa rekening yang ditutup, ada yang ditutup dan dananya diserahkan ke SKD sebagai Dana Lestari ITB dan ada pula yang diserahkan pengelolaannya ke Direktorat Keuangan.
Dari hasil audit oleh kantor akuntan publik (KAP Heliantono) untuk Laporan Keuangan ITB tahun berikutnya yaitu Laporan Keuangan ITB BHMN 2007 mendapat opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP). Ini merupakan peningkatan prestasi keuangan ITB, di mana opini tahun sebelumnya adalah disclaimer (tidak dapat memberikan pendapat) yang diberikan oleh KAP HERS. Dari catatan KAP diperoleh informasi bahwa penyebab pengecualian tersebut adalah belum dilaksanakan program Imbalan Pasca Kerja di ITB.
Mulai ITB BHMN maka kebutuhan sumber daya manusia baru dengan mengangkat pegawai non PNS, disebut Pegawai ITB BHMN. Hal ini dilakukan karena dalam PP 155/200 disebutkan bahwa PNS di ITB BHMN diberi waktu maksimal 10 tahun, artinya ITB BHMN ke depan tidak ada PNS lagi. Struktur dan sistem penggajian Pegawai ITB BHMN disamakan dengan PNS, oleh karena itu maka untuk persiapan dana pensiun seperti halnya PNS dipotong dari gaji. Hal ini yang menyalahi aturan pasca kerja. Untuk instansi yang mengangkat pegawai tetap maka instansi tersebut wajib mengalokasikan anggarannya untuk dana pasca kerja, dan tidak boleh dipotong dari gaji pegawai yang bersangkutan. Untuk perhitungan imbalan pasca kerja perlu dilakukan oleh Konsultan A k t u a r i a y a n g m e m i l i k i sertifikat untuk menghitung besaran dana pasca kerja tersebut. Pada tahun anggaran 2007 ITB BHMN melalui Direktorat Kepegawaian mulai menganggarkan dana pasca kerja sesuai perhitungan a k t u a r i s d a r i K o n s u l t a n Aktuaria. Untuk dana yang terkumpul dari potongan gaji pegawai ITB BHMN yang semula disimpan di salah satu perusahaan Aset Manjemen (dalam bentuk Reksa Dana) diserahkan kembali kepada pegawai ITB BHMN, apakah diteruskan sebagai investasi pribadi atau ditutup akunnya dan dananya diambil oleh pegawai terkait.
Setelah melalui diskusi
yang cukup hangat dan
dengan pertimbangan
yang matang agar tercapai
akuntabilitas di bidang
keuangan, maka Pimpinan
I T B w a k t u i t u
mengeluarkan keputusan
Rektor berkaitan dengan
k e b i j a k a n r e k e n i n g
tunggal. Kebijakan yang
cukup berani.
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
74
Untuk periode ini ITB membuka penerimaan pegawai baru, dengan status awal pegawai ITB BHMN, untuk bidang Keuangan mulai direkrut sejumlah pegawai baru baik berlatar belakang pendidikan Diploma III ataupun S1 bidang Akuntansi/Keuangan, dan penempatan pegawai baru ini tidak hanya ditempatkan pada Direktorat Keuanagan ITB tetapi juga di semua unit kerja yang dirasa memerlukan tambahan tenaga keuangan. Direktorat Keuangan juga terus menerus bekerja sama dengan UPT PMO melakukan pelatihan-‐
pelatihan baik dengan materi tentang sistem keuangan ITB BHMN maupun materi pemakaian Oracle Financial.
Pada tahun 2007 dan 2008 Sistem Keuangan dan SOP Keuangan disempurnakan melalui IMHERE Poject B2B dengan dana dari World Bank dan ITB (sebagai pendamping), dan mulai tahun 2008 sampai pertengan 2009 Direktorat Keuangan ITB dalam menjalankan tugas dan fungsinya mendapat bantuan dari Ketua MWA waktu itu berupa pendampingan oleh Konsultan Manajemen Keuangan TASS Consulting, agar Sistem Keuangan ITB selanjutnya semakin lebih baik lagi.
Hasil audit oleh akuntan publik (KAP Heliantono & Rekan) atas Laporan Keuangan ITB BHMN Tahun Anggaran 2008, yang disampaikan pada bulan April 2009, merupakan pertama kali ITB mendapat Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Suatu prestasi
y a n g t i d a k m u d a h d i c a p a i , membutuhkan kepercayaan diri membangun sistem, ketekunan dan kerjasama yang baik secara internal m a u p u n e k s t e r n a l ( T A S S Consulting) dalam waktu yang cukup panjang.
Hasil Laporan Keuangan ITB 2008 d e n g a n o p i n i W a j a r Ta n p a Pengecualian, merupakan hasil kersa sama semua unit kerja baik UKP (Direktorat dan Lembaga) ataupun UKA (Fakutas/Sekolah dan Program Studi) khususnya yang menangani bidang keuangan dan khususnya di Direktorat Keuangan di mana semua staf yang dengan semangat tinggi menyelesaikan semua tugas dalam upaya untuk mencapai hasil opini yang lebih baik dari tahun sebelumnya.
Suatu prestasi yang
tidak mudah dicapai,
m e m b u t u h k a n
k e p e r c a y a a n d i r i
membangun sistem,
k e t e k u n a n d a n
kerjasama yang baik
s e c a r a i n t e r n a l
maupun eksternal
(TASS Consulting)
dalam waktu yang
cukup panjang.
Meskipun opini ITB WTP atas Laporan Keuangan Konsolidasi ITB 2008, yang merupakan konsolidasi dari tiga satuan SAk, SKD, dan SUK, tetapi masih ada opini salah satuan organisasi (SUK) yang masih mendapat opini Wajar Dengan Pengecualian. SUK ITB mendapat opini WTP baru pada Laporan Keuangan pada tahun anggaran 2010.
Paket perangkat lunak Oracle Financial (v 10i) yang awalnya hanya modul General Ledger yang diaktixan dengan berjalannya waktu terus dilakukan pengembangan versi, maka mulai tahun 2006 sampai dengan 2008 ditingkatkan menjadi v 11i dan mulai 2008 dengan v 12i. Mulai tahun 2008 diaktixan modul Oracle Account Payable (AP) dan Oracle Fixed Asset dan mulai tahun 2009 ditambah modul Account Receivable (AR) dan Oracle Cash Management. Untuk Modul Oracle Business Intelegence AP, AR dan Inventory diaktixan mulai 2010. Selain Oracle Financial mulai tahun 2009 diintegrasikan dengan Oracle Purchasing dan Oracle Inventory yang dioperasikan oleh Direktorat Logistik dan Direktorat Sarana Prasarana.
Pada tahun 2010 merupakan tahun “guncangan” untuk semua PT BHMN.
Mengapa disebut demikian karena UU Badan Hukum Pendidikan atau UU No.
9 Tahun 2009, pada tanggal 3 Maret 2010 dibatalkan/dicabut dari perundangan negara oleh Mahkamah Konstitusi (MK), padahal UU 9/2009 merupakan payung hukum dari PP 155 ITB BHMN (serta PP PT BHMN lainnya).
Pemerintah pada awal 2010 (28 Januari 2010) telah menerbitkan Perpres No.
17 Tahun 2010 tetang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, maka dengan dicabutnya UU No. 9/2009 oleh MK, maka Pemerintah terpaksa harus melakukan revisi Perpres 09/2010 menjadi Perpres 17/2010 pada September 2010 dan semua PTNBH dimasukkan ke dalam kategori PT yang diselenggarakan oleh pemerintah (PTP). Konsekuensi dari status PTP maka sepenuhnya harus mengikuti sistem keuangan pemerintah kembali.
Program penggalangan dana lestari semakin ditingkatkan antara lain melalui program Kampanye Cinta ITB yang diselenggarakan dalam berbagai bentuk antara lain penerbitan majalah, penyebaran flyer, pemasangan booth/
presentasi di acara pameran ITB, presentasi pada acara-‐acara temu alumni di berbagai fakultas/sekolah/prodi dan acara pertandingan golf. Pada tahun 2007 ditetapkan Duta SKD sebanyak 14 orang yang umumnya adalah Ketua Alumni Jurusan/ Departemen yang dibekali satu set kit yang berisi Compact Disc (CD) untuk presentasi pengenalan SKD ITB dan penggalangan dana lestari, brosur,formulir pengiriman donasi dan sebagainya Pada akhir 2008 Dana Lestari ITB meningkat cukup baik mencapai Rp 6,8 Milyar.
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
76
Pada tahun 2009 dilakukan pengiriman Formulir Autodebed yang disebar ke 5.000 alumni, yang mengejutkan bagi pengelola SKD ITB adalah hasil penyebaran formulir tersebut yaitu yang kembali tidak lebih 20 lembar Formulir dan dana yang diperoleh dari autodebed tersebut tidak lebih dari Rp 29 juta. Selain penyebaran formulir Cinta ITB juga diselenggarakan program SMS Donasi, masuk 485 SMS dan dana yang diperoleh 2,5 juta rupiah saja.
Program ini hanya berjalan beberapa bulan saja, tidak berlanjut lagi karena semua program pengumpulan dana melalui SMS tidak lagi diperkenankan oleh pemerintah.
Diselenggarakan juga penggalangan dana bekerjasama dengan Fakultas/
Sekolah yang akan dijadikan Dana Lestari tetapi hasil investasinya akan dapat menambah RKA Fakultas/Sekolah terkait, dan mulai dikenalkan jenis Dana Lestari yang disebut Dana Lestari Bersyarat. Untuk Dana Lestari Bersyarat hasil investasi yang diperoleh diberikan sesuai syarat atau keinginan pihak Donatur. Sedangkan untuk Dana Lestari (tidak bersyarat) hasil investasi selain untuk mendukung operanal SKD, juga untuk menambah pokok dana lestari itu sendiri (top-‐up) dan diserahkan ke SAk ITB menambah alokasi penerimaan ITB. Dana Lestari ITB dirasa kurang menunjukkan peningkatan secara eksponensial, maka pada medio 2019 Pimpinan ITB Bersama MWA merintis Program Penamaan Gedung untuk ditawarkan ke Donatur yang bersedia memberikan donasi menjadi Dana Lestari ITB setiap Gedung sebesar 25 milyar rupiah dan diselesaikan bertahap selama 5 tahun mulai tahun 2010. Setelah melalui pendekatan kepada tokoh-‐tokoh pemerintah serta pengusaha (dari kalangan alumni ITB) dan pembahasan yang cukup panjang, maka MWA bersama Pimpinan ITB waktu itu menetapkan 4 Gedung yaitu Labtek I sampai dengan IV diberi nama sesuai dengan permintaan 4 Donatur Gedung tersebut. Dari program penamaan gedung inilah maka jumlah Dana Lestari ITB meningkat cukup signifikan setiap tahunnya. Pada akhir tahun 2010 Dana Lestari ITB mencapai angka 61 Milyar rupiah, peningkatan yang cukup tinggi dibanding Total Dana Lestari ITB pada tahun-‐tahun sebelumnya.
Pada April 2010 penulis menyelesaikan tugasnya sebagai Direktur Keuangan ITB, dan selanjutnya ditugaskan sebagai Staf Ahli di Kantor Wakil Rektor Keuangan, Perencanaan dan Pengembangan (WRURK).
MWA bersama Pimpinan ITB waktu itu menetapkan 4 Gedung yaitu Labtek I sampai dengan IV diberi nama se suai d e ng an permintaan 4 Donatur Gedung tersebut. Dari p r o g r a m p e n a m a a n gedung inilah maka jumlah D a n a L e s t a r i I T B m e n i n g k a t c u k u p signifikan setiap tahunnya.