BAB IV HASIL STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN
4.3 Pemaparan fokus studi
Setelah dilakukan pengkajian pada pasien diare, penulis telah melakukan pengkajian dan didapatkan hasil data subyektif yaitu
pasien mengatakan pasien mengalami BAB 10x/hari, mual dan muntah ketika makan, pasien mengatakan lemas, terdapat nyeri tekan pada area abdomen kiri, keluarga mengatakan pasien minumnya sedikit dan tidak mau makan. Kemudian dari data obyektifnya pasien nadi 107x/menit, tekanan darah 126/79 mmHg, turgor kulit lebih dari 2 detik, membran mukosa kering, volume urine 500 ml/24 jam, hematokrit meningkat, pasien tampak gelisah, pasien tampak sulit tidur tampak lemas dan lesu.
4.3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN
Berdasarakan pengkajian yang dilakukan pada pasien diare, penulis melakukan analisa data dan penegakan diagnosa. Didapatkan hasil data subyektif : pasien mengatakan muntah ketika makan dan minum, pasien mengatakan lemas. Data obyektif : nadi 107x/ menit, nadi teraba lemah, tekanan darah 126/79 mmHg, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, volume urine menurun 500ml/ 24 jam, hematokrit meningkat 51.5 %. Berdasarkan hasil analisa data dapat ditegakkan diagnosa hivopolemia berhubungan dengan kehilangan cairan aktif dibuktikan dengan frekuensi nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, volume urin menurun, hematokrit meningkat (D.0023). Adapun diagnosa lainnya antara alain nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologi dan gangguan pola tidur berhubungan dengan tidak familiar dengan peralatan tidur.
4.3.3 INTERVENSI KEPERAWATAN
Setelah dilakukan tindakan keperrawatan selama 3x24 jam pasien dengan keseimbangan cairan dapat meningkat dengan kriteria hasil:
keseimbangan cairan (L.05020) yaitu dehidrasi menurun, tekanan darah membaik 120/80 mmHg, membran mukosa membaik, mata cekung membaik, turgor kulit membaik. Intervensi keperawatan yang dilakukan adalah standar intervensi keperawatan indonesia (SIKI) meliputi terapi manajemen hipovolemi (I.03116) seperti:
a. Observasi
1) Periksa tanda dan gejala hipovolemi 2) Monitor intake output cairan
b. Terapeutik
1) Hitung kebutuan cairan
2) Berikan asupan cairan oral (ORS dan madu) c. Edukasi
1) Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral d. Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian cairan IV isotonis 2) Kolaborasi pemberian cairan IV hipotonis 4.3.4 IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Setelah menyusun intervensi keperawatan mengenai diagnosa hipovolemi, dilakukan implementasi hari pertama pada tanggal 23 februari 2021 mulai pukul 10.00 WIB yaitu memeriksa tanda dan
gejala hipovolemi, menghitung kebutuhan cairan, memberikan terapi oral rehydration salt dan madu, dan memberikan kolaborasi cairan iv isotonis. Mengkaji kembali respons pasien terhadap pemberian ORS dan madu yang telah diberikan kepada pasien. Terapi ORS dan madu ini diberikan setiap kali pasien mengalami BAB, untuk takaran pemberian terapi ORS dan madu ini sebanyak 200 ml untuk larutan garam untuk dpenganti natrium serta kalium yang hilang dan ditambahkan 5 ml madu untuk pengganti glukosa yang hilang, pada hari pertama ini pasien mengalami diare sebanyak 10 kali untuk pemberian ORS dan madu sebanyak 5 gelas dalam 1 shift dipagi hari untuk siang dan malam dilanjutkan oleh keluarga. Penulis melakukan pengkajian fisik awal pada pasien memeriksa tingkat dehidrasi dan didapatkan turgor kulit kurang dari 2 detik, tekanan darah rendah 126/79 mmHg, mukosa bibir kering, mata cekung. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami dehidrasi ringan – sedang.
Implementasi hari kedua pada tanggal 24 februari 2021 pukul 10.00 WIB yaitu memonitor intake output cairan, memberikan cairan oral ( Oral Rehydration Salt dan madu) untuk takaran pemberian terapi ORS dan madu ini sebanyak 200 ml untuk larutan garam untuk penganti natrium serta kalium yang hilang dan ditambahkan 5 ml madu untuk pengganti glukosa yang hilang, pada hari kedua pasien mengalami diare sebanyak 6 kali dalam sehari untuk terapi ORS dan
madu diberikan sebanyak 3 gelas saat shift pagi dan 3 gelas ketika siang-sore dilanjutkan oleh keluarga, mengkaji kembali respon pasien terhadap efek dari pemberian ORS dan madu terhadap tingkat diare, serta mempertahankan lingkungan yang tenang dan nyaman
Implementasi hari ketiga pada tanggal 25 februari 2021 pukul 08.30 WIB yaitu menganjurkan memperbanyak asupan oral (ORS dan madu) mengkolaborasikan pemberian cairan iv hipertonis, mengajarkan keluarga teknik pemberian dan peracikan cairan oral rehydartion salt dan madu agar terapi dapat diteruskan dirumah. Untuk takaran pemberian terapi ORS dan madu ini sebanyak 200 ml untuk larutan garam untuk penganti natrium serta kalium yang hilang dan ditambahkan 5 ml madu untuk pengganti glukosa yang hilang, pada hari ketiga ini pasien mengalami diare sebanyak 3 kali dalam sehari untuk pemberian ORS dan madu sebanyak 2 gelas shift dipagi hari, dan 1 gelas siang dan malam dilanjutkan oleh keluarga. Kemudian penulis melakukan penelitian akhir dengan memerika kembali tanda – tanda vital pasien dan didapatkan hasil dehidrasi menurun, tekanan darah 130/80 mmHg, membran mukosa lembab, mata cekung membaik, serta turgor kulit kembali dalam 2 detik. Dari hasil tersebut dapat diambil keputusan tingkat dehidrasi pada pasien sudah menurun.
4.3.5 EVALUASI KEPERAWATAN
Pada evaluasi hari pertama 23 februari 2021, masalah hipovolemi berhubungan dengan kehilangan cairan aktif pada pasien belum
teratasi karena dari evaluasi didapatkan respon subyektif pasien yaitu pasien mengatakan mual dan muntah ketika makan dan minum, sedangkan untuk respon obyektif pasien nadi 107x/menit, nadi teraba lemah, tekanan darah 126/79 mmHg, turgor kulit buruk (dehidrasi sedang), membran mukosa kering, mata cekung. Dengan melanjutkan intervensi monitor intake dan output cairan, memberikan cairan oral (ORS dan madu)
Pada evaluasi hari kedua tanggal 24 februari 2021, masalah hipovolemi berhubungan dengan kehilangan cairan aktif pada pasien belum teratasi, dengan respon subyektif pasien yaitu pasien mengatakan masih sedikit merasa mual dan mutah tetapi sudah berkurang, dan respon obyektifnya pasien nadi 88x/menit, tekanan darah 107/98 mmHg, turgor membaik, membran mukosa lembab, mata cekung berkurang. Dengan melanjutkan intervensi menganjurkan memperbanyak asupan oral, mengkolaborasi pemberian cairan iv.
Pada evaluasi hari ketiga pada tanggal 25 februari 2021 masalah hipovolemi berhubungan dengan kehilangan cairan aktif pada pasien sudah teratasi, dengan didapatkan respon subyektif yaitu pasien mengatakan mual muntah pasien sudah berkurang. Respon obyektifnya pasien nadi 80x/menit, tekanan darah 130/0 mmHg, turgor elastis, membran mukosa lembab, mata cekung berkurang,
maka didapakan hasil penurunan pada tingkat dehidrasi yang dialami pasien.