Torang (2013) menunjukkan kompleksitas merujuk pada tingkat diferensiasi yang ada di dalam sebuah organisasi. Diferensiasi berarti bahwa sebuah organisasi tersusun dari banyak unit yang berbeda yang mengerjakan pekerjaan yang berbeda dan menggunakan metode yang berbeda pula.
Kompleksitas suatu organisasi disebabkan terutama karena bagian-bagian atau unit-unit kerja yang ada di dalam organisasi itu memiliki berbagai macam variasi dalam kompleksitasnya. Dalam uraian terdahulu mengenai perluasan vertikal maupun horizontal telah dikemukakan bahwa bertambahnya kegiatan dan volume tugas-tugas yang dijalankan organisasi menyebabkan terjadinya perluasan tersebut. Ada tiga elemen kompleksitas yang diketahui, yaitu diferensiasi horizontal dan diferensiasi vertikal.
Kompleksitas adalah banyaknya tingkat diferensiasi yang dilakukan dalam pembagian kerja (division of labor) (Han & goleman, daniel; boyatzis, Richard; Mckee, 2019). Pada umumnya organisasi pemerintah memiliki kompleksitas yang tinggi karena beragamnya tugas dan fungsi yang dijalankan.
Kompleksitas merujuk pada tingkat diferensiasi (pemisahan tugas-tugas) yang ada pada suatu organisasi. Semakin kompleks organisasi, semakin dibutuhkan koordinasi, kontrol, dan komunikasi yang efektif bagi unit-unit yang ada sehingga para pimpinan bisa memastikan bahwa setiap unit bekerja dengan baik.
a. Diferensiasi horizontal
Diferensiasi horizontal mempertimbangkan tingkat pemisahan horizontal di antara unitunit. Diferensiasi horizontal merujuk pada tingkat diferensiasi antara unit-unit berdasarkan orientasi para anggotanya, sifat dari tugas yang mereka laksanakan, dan tingkat pendidikan serta pelatihannya. Dapat dikatakan bahwa semakin banyak jenis pekerjaan yang ada dalam organisasi yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang istimewa, semakin kompleks pula organisasi tersebut.
Diferensiasi horizontal adalah pemisahan tugas-tugas unit-unit organisasi berdasarkan perbedaan orientasi unit organisasi, tugas, fungsi, pendidikan, keahlian dan sebagainya. Pada organisasi pemerintah, diferensiasi horizontal diantaranya:
1) Visi dan misi pemerintah pusat atau daerah;
2) Urusan pemerintahan yang diselenggarakan;
3) Kewenangan yang dimiliki; dan
4) Pengelompokkan bidang tugas organisasi.
b. Diferensiasi Vertikal
Diferensiasi vertikal merujuk pada kedalaman hirarki struktur.
Diferensiasi meningkat, demikian pula kompleksitasnya, karena jumlah tingkatan hierarki di dalam organisasi bertambah. Makin banyak tingkatan yang terdapat di antara top management dan tingkat hierarki yang paling rendah, makin besar pula potensi terjadinya distorsi dalam komunikasi, dan makin sulit mengkoordinasi
pengambilan keputusan dari pegawai manajerial, serta makin sukar bagi top management untuk mengawasi kegiatan bawahannya.
Diferensiasi vertikal merujuk pada tingkat hierarki organisasi. Semakin tinggi tingkat hierarki didalam struktur organisasi, maka kompleksitasnya akan semakin tinggi dan potensi distorsi komunikasi dari manajemen tingkat tinggi hingga unit organisasi paling rendah akan semakin besar. (Han & goleman, daniel;
boyatzis, Richard; Mckee, 2019) Satu hal yang perlu diperhatikan dari diferensiasi ini adalah rentang kendali, yaitu seberapa banyak unit organisasi yang dapat dibentuk secara efektif oleh unit organisasi yang diatasnya.
Dalam hasil wawancara dalam kompleksitas dinas pendidikan kabupaten jeneponto hal ini sesuai dengan bidang yang terdapat pada dinas pendidikan yang ada pada setiap unit kerja, masing-masing tugas telah diorganisir seefektif mungkin sehingga diupayakan agar tidak ada lagi pegawai yang bekerja tidak sesuai dengan bidangnya. Semua ASN yang ada dalam organisasi dinas pendidikan kabupaten jeneponto sudah tersusun masing – masing pekerjaannya dengan banyaknya unit kerja didalamnya dan pekerjaan yang berbeda dalam setiap bidangnya, dan juga dilihat dari program kerja yang akan dilaksanakan dalam dinas pendidikan kabupaten jenponto yang akan dilaksanakan di dalam bidangnya.
Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto, bahwa metode yang digunakan sejauh ini masih fleksibel. Metode yang digunakan untuk menyelesaikan prosedur kerja tergantung dengan jenis pekerjaan yang ingin diselesaikan. Prosedur kerja mengikut pada jenis pekerjaan sehingga biasanya terdapat metode yang berbeda
untuk semua jenis pekerjaan. dinas pendidikan kabupaten jeneponto maka dapat disimpulkan bahwa untuk megukur lama atau tidaknya suatu pekerjaan dapat terselesaikan tergantung pada kerja sama yang dimiliki setiap unit kerja.
2. Formalisasi
Formalisasi Menurut Torang (2013), formalisasi merujuk pada tingkat sejauh mana pekerjaan di dalam organisasi itu distandardisasikan. Jika sebuah pekerjaan sangat diformalisasikan, maka pemegang pekerjaan itu hanya mempunyai sedikit kebebasan mengenai apa yang harus dikerjakan, bilamana smengerjakannya, dan bagaimana ia harus melakukannya. Formalisasi merupakan suatu ukuran tentang standardisasi. Karena kebijakan dari seseorang di dalam pekerjaannya berbanding terbalik dengan jumlah perilaku yang diprogramkan lebih dahulu oleh organisasi, maka makin besar standardisasi, makin sedikit pula jumlah masukan mengenai bagaimana suatu pekerjaan harus dilakukan oleh seorang pegawai. Penghematan yang diperoleh dari formalisasi juga tidak boleh diabaikan. Makin besar formalisasi tersebut, makin sedikit pula kebijaksanaan yang diminta dari pemegang jabatan. Hal ini relevan, karena kebijaksanaan memerlukan biaya.
Formalisasi merupakan suatu kondisi dimana aturan-aturan, prosedur, instruksi, dan komunikasi dibakukan. Formalisasi yang tinggi akan meningkatkan kompleksitas. Formalisasi merupakan sesuatu yang penting bagi organisasi karena dengan standardisasi akan dicapai produk yang konsisten dan seragam serta mengurangi kesalahan-kesalahan yang tidak perlu terjadi. Formalisasi akan mempermudah koordinasi antar bagian/unit organisasi dalam menghasilkan suatu
produk atau jasa (Han & goleman, daniel; boyatzis, Richard; Mckee, 2019).
Formalisasi di dalam restrukturisasi organisasi merupakan suatu proses penyeragaman melalui aturan-aturan, prosedur, instruksi dan komunikasi yang telah dibakukan.
Dalam hasil wawancara formalisasi Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto dalam melaksanakan tugas maupun yang lainnya diikat dan diatur sesuai dengan aturan yang ada di pemerintah daerah atau peraturan bupati yang ada di jeneponto. Output dari peraturan bupati itulah yang kemudian di laksanakan oleh dinas pendidikan. Tidak bisa dipungkiri bahwasanya memang perilaku setiap orang dalam organisasi itu beda, tapi kita tidak boleh menyalahkan hal tersebut. Tugas kita adalah meminimalisir keegoisan yang ada dalam organisasi, misalnya dalam suatu pekerjaan ketua bidang menginginkan metode ini untuk menyelesaikan hal tersebut,
Tetapi disisi lain ada staff yang tidak menginginkan menggunakan metode tersebut dan ini bukan hal yang jarang terjadi, pasti sering kali terjadi. Dan hasil kinerja ASN pun dilihat prosesnya sejauh mana dalam melkasanakan setiap pekerjaannya yang disesuaikan setiap jabatan/bidangnya dalam hal ini sangatlah berkaitan dengan formalisasi dalam organisasi khususnya pada dinas pendidikan kabupaten jeneponto yang dimana semua ASN dalam organisasi dapat di koordinir dalam proses pelaksanaan tugasnya.
3. Sentralisasi
Sentralisasi menurut B.N. Marbun dalam bukunya Kamus Politik (2007:350) mengatakan bahwa sentralisasi yang paham nya kita kenal dengan sentralisme adalah pola kenegaraan yang memusatkan seluruh pengambilan keputusan politik ekonomi, social di satu pusat. Sentralisasi adalah seeluruh wewenang terpusat pada pemerintah pusat. Berdasarkan definisi diatas bisa kita interpretasikan bahwa sistem sentralisasi itu adalah bahwa seluruh decition (keputusan/Kebijakan) dikeluarkan oleh pusat, daerah tinggal menunggu instruksi dari pusat untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan yang telah digariskan menurut undang-undang. Sentralisasi banyak digunakan pemerintah sebelum otonomi daerah. kelemahan sistem sentralisasi adalah dimana sebuah kebijakan dan keputusan pemerintah daerah dihasilkan oleh orang-orang yang berada di pemerintah pusat sehingga waktu untuk memutuskan suatu hal menjadi lebih lama.
Han & goleman, daniel; boyatzis, Richard; Mckee, (2019) Sentralisasi adalah tingkat dimana kewenangan (authority) dalam pengambilan keputusan- keputusan organisasi berada pada manajemen tingkat tinggi. Sentralisasi dapat diartikan sebagai tingkatan pengkonsentrasian kekuasaan secara formal.
Sentralisasi dapat menurunkan tingkat kompleksitas dan menyederhanakan struktur organisasi. Semakin sederhana struktur organisasi akan semakin gesit gerak dan perkembangannya. Sedangkan bagi organisasi yang strukturnya besar, sentralisasi dapat mengakibatkan organisasi tersebut bergerak lamban. Di sisi lain, bertolak belakang dari sentralisasi adalah desentralisasi, yaitu pelimpahan
wewenang pengambilan keputusan kepada unit organisasi tingkat bawah yang berada dekat dengan masyarakat. Desentralisasi menciptakan banyak spesialisasi atau kekhususan.
Dalam hasil wawancara sentralisasi dinas pendidikan kabupaten jeneponto dalam rana organisasi itu diserahkan penuh kepada kepala dinas dalam pegambilan keputusan, apabila kepala dinas tidak ada bisa diserahkan kepada sekretaris kecuali dalam keadaan tertentu. Dalam rana pengambulan keputusan dalam unit kerja atau suatu kelompok kerja bisa diserahkan wewenang kepada kepala bidangnya dan inilah kaitannya sentralisasi dalam organisasi yang dimana pemberan hak sepenuhnya kepada pusat ketika rana organisasi diserahkan kepala dinasnya dan ketika ada pengambilan keputusan dalam rana pelaksanaan kerja itu diserahkan kepada masing masing unit kerja untuk memutuskannya kecuali megarah pada organisasi itu sendiri.
73 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pegolahan data dari penelitian ini, maka dari itu penulis menyimpulkan bahwa Fungsional Struktur Organisasi Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto telah terstruktur dan penempatan jabatan tenaga kerja sudah sesuai dengan bidangnya. Dapat dilihat dari kompleksitas bahwasanya berbagai jenis pekerjaan yang dilakukan oleh setiap unit kerja pada organisasi Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto tergantung pada program kerja yang ada pada Dinas Pendidikan tersebut. Metode yang digunakan untuk menyelesaikan prosedur kerja tergantung dengan jenis pekerjaan yang ingin diselesaikan.
Artinya, aktivitas kerja dalam Dinas Pendidikan sudah terarah dan memiliki tujuan dan untuk megukur lama atau tidaknya suatu pekerjaan dapat terselesaikan tergantung tingkat keberhasilan unit kerja dalam organisasi pada kerja sama yang dimiliki setiap unit kerja.
Peraturan dalam melaksanakan tugas peraturan perangkat daerah nomor 04 tahun 2016 hanya saja tidak terjabarkan peraturannya. Adapun perilaku setiap individu menjadi masalah yang cukup serius dalam organisasi. Dinas pendidikan kabupaten jeneponto memiliki unit kerja dengan karakteristik yang berbeda pula, namun dengan adanya karakteristik tersebut diupayakan agar dalam pelaksanaan prosedur kerja terdapat satu pemahaman yang sama.
Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto memiliki proses pengambilan keputusan dimana berpusat pada pimpinan atau kepala dinas itu sendiri.
74
Sistematika yang lain apabila kepada dinas tidak sedang berada di daerah atau sedang berada diluar kota maka pengambilan tersebut dimandatkan oleh
sekretaris penanggung jawab umum dalam organisasi. Pengambilan keputusan ini Namun dalam beberapa keadaan para ketua bidang juga dapat mengambil keputusan untuk para pegawainya. Hal itu tidak terlepas dari koordinasi yang dilakukan oleh kepala dinas dan ketua bidang.