LITERASI INFORMASI
E. DAFTAR PUSTAKA
2. Pembahasan
a. Perbedaan cara penelusuran informasi
Setiap orang memiliki masing-masing cara tersendiri dalam pencarian informasi. Seperti yang dijelaskan Ellis, seseorang dapat melakukan penelusuran dari tahap Starting (memulai pencarian) hingga tahap Ending (penyelesaian setelah mengumpulkan informasi yang diperoleh) (Meho, 2003). Kuhlthau berpendapat lain, mengenai proses pencarian informasi. Tahapan yang dijelaskan olehnya dimulai dari Insiasi yaitu ketika seseorang mulai menyadari kebutuhan informasinya hingga tahap Presentation (Presentasi) yaitu tahap pemaparan ketika mereka telah menemukan informasi (Laloo, 2002).
Berdasarkan wawancara yang dilakukan mengenai bagaimana masing-masing mahasiswa melakukan penelusuran informasi, diperoleh berbagai macam pendapat. Mahasiswa reguler seperti Mujaddid lebih memilih untuk melakukan penelusuran informasi secara langsung melalui internet menggunakan google.
Dengan menggunakan fasilitas search engine seperti google menurutnya pencarian artikel dapat dilakukan secara lebih praktis dengan cara mengetikkan query secara langsung. Dengan melakukan penelusuran informasi secara langsung melalui internet membuatnya lebih mudah untuk memilih informasi mana yang lebih tepat sesuai dengan kebutuhannya. Mujaddid juga berpendapat bahwa terkadang dia juga menggunakan sumber informasi lain seperti bahan pustaka perpustakaan UWKS atau buku yang dia miliki. Namun hal ini menurutnya kurang efektif karena membutuhkan proses yang lebih lama (Wawancara Mujaddid, November 2016).
Wicaksono sebagai mahasiswa alih jenjang yang juga bekerja sebagai teknisi perpustakaan memiliki pendapat serupa. Menurutnya dengan menggunakan sarana google menjadikan proses penelusuran informasi dapat dilakukan secara lebih mudah. Banyaknya informasi yang diperoleh dari internet menjadikan dia lebih mudah untuk membandingkan informasi yang diperoleh. Dalam penelusuran informasi Wicaksono juga masih sering menggunakan sumber informasi cetak seperti buku yang berfungsi sebagai literatur penguat.
Namun dia juga tetap harus melakukan penelusuran informasi melalui internet terlebih dahulu untuk memudahkan dalam menentukan buku apa yang akan dicari di perpustakaan (Wawancara Wicaksono, November 2016).
131
Berbeda dengan Mujaddid dan Wicaksono, Aprianto sebagai mahasiswa alih jenjang yang tidak bekerja dan Mas’udi sebagai mahasiswa alih jenjang yang bekerja pada bidang non perpustakaan seringkali hanya melakukan penelusuran informasi melalui internet dan tidak menggunakan koleksi bahan pustaka perpustakaan UWKS. Menurut Aprianto penelusuran informasi menggunakan google dipilih karena lebih praktis karena dia dapat mengetikkan secara langsung query yang dituju. Dia bahkan menyatakan bahwa selama ini belum pernah mengunjungi perpustakaan UWKS (Wawancara Aprianto, November 2016).
Mas’udi memiliki juga berpendapat seperti yang disampaikan oleh Aprianto. Menurutnya untuk memenuhi kebutuhan informasi dia hanya melakukan penelusuran informasi melalui internet. Hal tersebut karena jika harus mencari informasi melalui buku kita harus benar-benar telah menentukan informasi seperti apa yang kita butuhkan. Jika menggunakan internet seringkali terdapat banyak pilihan untuk informasi lain yang mungkin lebih baik. Adanya hal ini lebih memudahkan untuk menentukan apakah kita akan melakukan penelusuran informasi secara lanjut atau mengakhiri pencarian (Wawancara Mas’udi, November 2016).
Jika kita amati secara lebih lanjut, mahasiswa reguler dan mahasiswa alih jenjang yang bekerja di perpustakaan seringkali masih juga menggunakan media informasi berupa buku, meskipun mereka lebih sering menggunakan media internet. Yang menarik yaitu para mahasiswa ini menjadikan koleksi buku sebagai sumber penguat setelah ia melakukan penelusuran informasi melalui internet. Menurut mereka internet dapat membantu dalam tahapan penelusuran informasi yang dikenal sebagai browsing dalam teori Ellis dan tahap memilah yang dikenal sebagai differentiating. Informan lain yang merupakan mahasiswa alih jenjang yang tidak bekerja dan yang bekerja pada bidang non perpustakaan, menjelaskan bahwa mereka hanya melakukan penelusuran informasi melalui internet. Hal ini memudahkan mereka untuk memulai pencarian informasi (starting), melakukan penelusuran informasi (browsing) dan menentukan untuk melakukan penelusuran lanjut atau mengakhiri kegiatan penelusuran dan memeriksa informasi yang diperoleh (ending).
b. Penggunaan internet dan search engine
Internet sebagai fasilitas dalam proses penelusuran informasi menciptakan berbagai kemudahan bagi setiap individu. Sebagai media penelusuran informasi internet memiliki banyak keunggulan dibanding dengan media konvensional. Menurut Joing dalam (Yusup, 2010) beberapa keunggulan dari internet yaitu:
a. Internet memberikan kemudahan bagi penggunanya dalam hal pengoperasian, dimana pengguna hanya perlu mengklik tombol atau simbol yang mereka butuhkan.
b. Internet memberikan kecepatan dan ketepatan dalam pengiriman data.
c. Internet memberikan kapasitas penyimpanan data yang lebih besar dibanding dengan media konvensional.
d. Internet menjamin kerahasiaan data dari penggunanya. Pemakai internet akan mendapatkan fasilitas password untuk mengakses internet, di mana hanya dirinya yang mengetahui, sehingga pihak lain tidak bisa menggunakan akun internet sebelum mengetahui password yang dirahasiakan tersebut.
e. Internet lebih efisien dan efektif. Penggunaan internet lebih murah dan cepat dibanding media lainnya seperti faksimil yang memerlukan biaya dan waktu.
Dengan menggunakan internet setiap individu dapat memanfaatkan berbagai media yang dapat membantu dalam proses penelusuran informasi. Media tersebut diantaranya yaitu search engine seperti google.
Google menjadi salah satu media yang diminati karena menawarkan cara yang mudah dan menyediakan fitur- fitur yang dapat digunakan untuk membatasi informasi yang diinginkan seseorang. Sehingga penelusuran informasi yang dilakukan melalui google dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat (Purwono, 2008).
Melalui google seseorang dapat melakukan pencarian informasi dengan cara basic search ataupun advance search.
132
Berdasarkan wawancara yang dilakukan tiga dari para mahasiswa sebagai informan menyatakan bahwa dalam penelusuran informasi melalui internet dengan sarana google, mereka lebih suka melakukan pencarian secara langsung (basic search). Menurut mereka cara ini dipilih karena lebih mudah dan cepat (Wawancara Mujaddid, Arpianto dan Mas’udi, November 2016).
Berbeda dengan ketiga pendapat lainnya, Wicaksono sebagai mahasiswa alih jenjang yang juga bekerja sebagai tenaga teknis perpustakaan menjelaskan bahwa dalam penelusuran informasi dia lebih memilih menggunakan metode advance search. Metode ini digunakan jika dia ingin mencari artikel seperti e-journal dalam bentuk file pdf atau word. Menurutnya fitur-fitur yang disediakan oleh google sebenarnya sangat membantu agar kegiatan penelusuran informasi dapat dilakukan secara maksimal dan informasi yang ditentukan lebih akurat. Selain melakukan pembatasan bentuk file, dia juga membatasi file yang dicari dengan fitur kata yang serupa atau kata yang tidak diinginkan muncul (Wawancara Wicaksono, November 2016). Hal ini seperti yang disampaikan oleh Purwono yang menjelaskan bahwa dalam penggunaan google, penelusuran informasi dapat dilakukan secara sistematis (systematic searching), yang meliputi cara-cara bagaimana menggunakan kata kunci (keyword), frase, subjek dokumen, menggunakan logika Boolean (Boolean logic) serta fasilitas-fasilitas penelusuran lain yang tersedia pada masing-masing serach engine. Strategi penelusuran informsi ini diperlukan karena: 1. Informasi yang tersedia sangat banyak, 2. Untuk memperoleh informasi yang relevan, 3. Untuk mengehemat waktu pencarian, 4. Untuk mempermudah pencarian (Purwono, 2008).
c. Pemanfaatan fasilitas perpustakaan dalam penelusuran informasi
Untuk menunjang kegiatan pendidikan dan penelitian, perpustakaan perguruan tinggi menyediakan berbagai sumber informasi yang dapat digunakan oleh para user. Beberapa koleksi tersebut seperti yang dijelaskan dalam Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi yaitu adanya literatur-literatur pendukung pendidikan dan penelitian, majalah-majalah ilmiah, dan koleksi lain dalam bentuk tercetak ataupun elektronik (2009).
Berdasarkan hasil wawancara mengenai sarana perpustakaan yang digunakan sebagai sarana penelususran informasi, para informan menjelaskan bahwa: 1. Mujaddid sebagai mahasiswa reguler dan Wicaksono sebagai mahasiswa alih jenjang yang juga bekerja sebagai tenaga teknis perpustakaan seringkali juga mneggunakan koleksi buku atau media cetak lainnya yang disediakan oleh perpustakaan saat mereka merasa informasi yang diperoleh dari internet kurang relevan. Bagi mereka koleksi cetak perpustakaan juga dapat digunakan sebagai sumber referensi penguat atau pelengkap data yang dibutuhkan. Wicaksono menambahkan bahwa terkadang dia juga memanfaatkan fasilitas e-journal yang disediakan oleh perpustakaan UWKS (Wawancara Mujaddid dan Wicaksono, November 2016).
Pendapat lain yang disampaikan oleh Aprianto yang merupakan mahasiswa alih jenjang yang tidak bekerja dan Mas’udi sebagai mahasiswa alih jenjang yang bekerja pada bidang non perpustakaan menjelaskan bahwa menurut mereka informasi yang diperoleh dari internet sudah cukup lengkap. Pada internet mereka telah dapat menemukan dengan mudah artikel atau jurnal yang diinginkan (Wawancara Aprianto dan Mas’udi, November 2016).
d. Alternatif sumber lain dalam mencari informasi
Dalam penelusuran informasi seseorang dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber. Sumber informasi ini tentu saja tidak hanya dalam bentuk buku maupun artikel yang mereka peroleh dari internet.
Dalam penelusuran informasi, menurut Rozinah sumber informasi juga dapat berasal dari pustakawan, teman ataupun dosen (Rozinah, 2012). Hal ini seringkali dilakukan jika seseorang mengalami kesulitan dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan.
133
Berdasarkan jawaban yang diperoleh dari Mujaddid yang merupakan mahasiswa reguler, saat dia mengalami kesulitan dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan seringkali dia bertanya pada kakak tingkat atau teman pada jurusan lain yang dia anggap memahami tema tersebut. Dia juga menjelaskan bahwa terkadang dia juga bertanya pada dosen pengajar saat apa yang ditanyakan pada orang lain dirasa masih kurang memenuhi kebutuhan informasinya (Wawancara Mujaddid, November 2016).
Tiga informan lain menjelaskan bahwa saat mereka mengalami kesulitan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan mereka lebih suka bertanya pada teman satu kelas yang mereka anggap memahami materi tersebut. Yang berbeda yaitu yang dilakukan oleh Wicaksono sebagai mahasiswa alih jenjang yang juga bekerja sebagai tenaga teknis perpustakaan. Seringkali dia juga bertanya pada pustakawan saat kesulitan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan. Di sisi lain Mas’udi sebagai mahasiswa alih jenjang yang bekerja pada bidang non perpustakaan selain bertanya pada teman dia juga terkadang bertanya pada dosen (Wawancara Wicaksono, Aprianto dan Mas’udi, November 2016).
e. Kendala dalam Penelusuran Informasi
Berbagai macam hambatan yang dapat ditemui dalam proses penelusuran informasi. Menurut Wilson hambatan tersebut terdiri dari hambatan internal dan eksternal. Hambatan internal yang dimiliki seorang pencari informasi diantaranya yaitu hambatan kognitif dan psikologis, hambatan demografis, hambatan interpersonal, dan hambatan fisiologis. Sedangkan yang termasuk hambatan eksternal seperti keterbatasan waktu, hambatan geografis, dan hambatan yang berkaitan dengan karaktetristik sumber informasi. Selain itu faktor lingkungan juga menjadi penghambat dalam penelusuran informasi (Rahman, 2013: 19).
Hambatan yang ditemui oleh para informan sangat bervariasi. Mujaddid sebagai mahasiswa reguler manyatakan hambatan yang ditemui dalam proses penelusuran informasi selama ini yaitu e-journal yang disediakan oleh perpustakaan UWKS terbatas. Hal ini menjadikan dia harus melakukan penelusuran informasi dari universitas-universitas lain ataupun mencari artikel yang dibuka untuk umum (Wawancara Mujaddid, November 2016). Wicaksono sebagai mahasiswa alih jenjang yang juga bekerja sebagai tenaga teknis perpustakaan menambahkan bahwa koleksi yang disediakan oleh perpustakaan UWKS selama ini cenderung monoton dan terbatas. Selain itu koleksi yang disediakan juga tidak cukup up to date untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa (Wawancara Wicaksono, November 2016).
Mas’udi sebagai mahasiswa alih jenjang yang bekerja pada bidang non perpustakaan memiliki hambatan lain. menurutnya hambatan yang dialami yaitu berkaitan dengan kesibukannya, sehingga dia merasakan keterbatasan waktu dalam proses penelusuran informasi. Dia juga berpendapat bahwa selama ini pemahaman penelusuran jurnal yang dimiliki melalui internet sangat minim dan perpustakaan juga tidak pernah malakukan kegiatan pelatihan pengguna dalam penelusuran jurnal online (Wawancara Mas’udi, November 2016).
Aprianto sebagai mahasiswa alih jenjang yang belum pernah mengunjungi perpustakaan UWKS menyatakan bahwa bahkan dia tidak mengetahui apakah perpustakaan UWKS memiliki jurnal online yang disediakan kepada mahasiswa. Hal ini menurutnya karena tidak adanya sosialisasi yang dilakukan oleh pihak perpustakaan terkait koleksi dan layanan yang disediakan (Wawancara Aprianto, November 2016).
Berkaitan dengan kendala-kendala yang dihadapi oleh informan dalam kegiatan penelusuran informasi ini secara keseluruhan mereka menjelaskan bahwa hambatan yang mereka temui yaitu terkait dengan hambatan keterbatasan waktu, kurangnya pengetahuan mengenai penelusuran dan penggunaan e-journal dan adanya keterbatasan koleksi yang disediakan oleh perpustakaan UWKS. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Wilson bahwa faktor lingkungan dimana seseorang berada terkadang menjadikan adnaya hambatan dalam kegiatan penelusuran informasi. Hambatan tersebut seperti keterbatasan koleksi yang disediakan oleh perpustakaan (Rozinah, 2012).
134 D. Simpulan dan Rekomendasi