BAB 4 PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
C. PEMBAHASAN DAN TEMUAN
1. Praktik Penyaluran Kredit Multiguna pada Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Kantor Cabang Pembantu Babat
Dari hasil wawancara diatas, diketahui bahwa dalam proses pemberian kredit oleh Bank Jatim Kantor Cabang Pembantu Babat dibagi dalam beberapa tahap, yaitu:
a. Tahap permohonan kredit
Perlu diketahui sebelumnya bahwa ada beberapa sasaran dari pemberian kredit ini yaitu PNS, CPNS, Pegawai/Calon Pegawai BUMN/BUMD, Anggota TNI/POLRI, Anggota Legislatif, Karyawan Perusahaan Swasta, Pensiunan dan Purnawirawan, P3k, Tenaga Kontrak, Tenaga Honorer dan perangkat desa. Dengan plafond pinjaman yang ditawarkan maksimal hingga Rp1.000.000.000,-. Dan adapun dokumen- dokumen yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:
1) Formulir permohonan kredit multiguna.
2) Rekomendasi surat dari Kepala Dinas atau Perusahaan.
3) Fotokopi masing-masing dua lembar KTP, KK, NIP, dan Karpeg.
4) Pas foto warna sebanyak dua lembar.
5) SK terakhir dan SK Pengangkatan PNS atau pegawai tetap.
6) SK besarnya gaji atau pendapatan yang ditetapkan bendahara dan diketahui Kepala Dinas atau Perusahaan.
7) Surat Kuasa memotong dan menyalurkan gaji (dari debitur kepada bank).
90
8) Surat pernyataan bendahara yang menyatakan kesediannya untuk memotong gaji sebagai cicilan pinjaman yang diketahui oleh Kepala Dinas atau Perusahaan.
9) Persyaratan lain sesuai dengan ketentuan Bank Jatim.
b. Tahap verifikasi kredit
Berkas kredit multiguna dikirimkan ke petugas administrasi kredit dalam bentuk formulir aplikasi dan persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon debitur. Jika konsumen tidak dapat menyerahkan semua persyaratan pinjaman seperti yang diminta oleh bank, mereka akan segera dihubungi dan diberikan jangka waktu untuk memenuhinya.
Pengajuan kredit pelanggan harus ditolak jika melewati jangka waktu yang ditentukan.
Account Officer kemudian menerima berkas pengajuan kredit untuk digunakan sebagai dasar penentuan plafon kredit yang dikemas dalam bentuk wawancara. Petugas AO melakukan evaluasi awal mengenai kelengkapan berkas yang diserahkan dan apakah sesuai dengan standar Bank Jatim, kemudian akan dilakukan wawancara sebagai bagian dari penilaian yang dilakukan oleh AO. Selain itu, wawancara mendalam dilakukan untuk melihat realitas situasi terkait dengan jaminan yang akan diberikan nasabah berupa rekening gaji, SK pengangkatan karyawan dan SK terakhir, serta surat kuasa pemotongan gaji. Tujuan wawancara ini adalah untuk menentukan jumlah pinjaman maksimum dan untuk mempelajari lebih lanjut tentang karakter nasabah.
91
Selain untuk mengenal karakter, tujuan wawancara ini juga menerapkan prinsip analisis kredit yaitu 5C (character, capital, capacity, collateral, condition of economic). BI Checking juga dilakukan dengan menggunakan SLIK (Sistem Layanan Informasi Keuangan) yang disediakan oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) yang tentunya hanya bisa diakses oleh kalangan tertentu saja. Data yang diperoleh dari hasil wawancara dipergunakan oleh petugas AO dalam menyusun rekomendasi kredit untuk diajukan kepada analis kredit.
c. Tahap realisasi kredit
Account Officer (AO) mengirimkan kepada analis kredit berkas yang berisi informasi aplikasi kredit calon debitur bersama dengan temuan wawancara pada tahap ini. Berdasarkan prinsip perkreditan yang baik dan menunjukkan konsep kehati-hatian, analis kredit memutuskan untuk menerbitkan catatan berupa nota yang dinyatakan dalam bentuk yang diterima oleh calon debitur sebagai berikut:
1) Layak atau tidak kredit tersebut diberikan.
2) Besaran limit kredit yang diberikan.
3) Jangka waktu pelunasan kredit.
Surat Kuasa Pengurangan Gaji (SKPG) dan Surat Persetujuan Permohonan Kredit (SPPK) yang berisi tentang ketentuan perkreditan, termasuk jangka waktu pelunasan fasilitas kredit dan tujuan penggunaan kredit yang dinyatakan dengan jelas akan dibuat setelah permohonan kredit disetujui. Setelah itu, akan diproses lebih lanjut oleh petugas
92
Administrasi Kredit dan dibukukan dalam buku realisasi kredit. Petugas AO memberikan informasi biaya administrasi, menjelaskan syarat-syarat perjanjian kredit, dan memberi calon debitur salinan untuk dibaca. Calon debitur harus menandatangani perjanjian kredit sebelum dapat dicairkan dan harus diberitahukan kepada pimpinan bank dengan dokumen kredit lainnya.
d. Tahap pencairan dan pelunasan kredit
Petugas Administrasi Kredit (ADK) akan membuat nota kredit yang selanjutnya akan disampaikan kepada nasabah agar kredit dapat dicairkan setelah semua berkas lengkap dan telah mendapat izin dari analis kredit. Dana dari pencairan kredit dapat diterima dalam bentuk cash atau juga bisa langsung disalurkan melalui rekening tabungan yang telah dimiliki di bank jatim.
Nasabah melunasi kredit dalam angsuran tiap bulannya menggunakan mekanisme pemotongan gaji sesuai dengan ketentuan dasar perjanjian yang menentukan besarnya cicilan. Setelah nasabah memenuhi seluruh kewajibannya dan kredit yang dipinjam telah dilunasi, maka dokumen agunan yang diberikan kepada bank dapat diambil kembali oleh nasabah.
Banyaknya pembagian tahap ini dimaksudkan agar terpenuhinya unsur-unsur dalam pemberian sustu kredit. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Kasmir dalam bukunya yang berjudul Dasa-Dasar
93
Perbankan yang mengatakan bahwa unsur- unsur pemberian kredit ada 5, yaitu: 93
a. Kepercayaan
Kepercayaan merupakan suatu keyakinan bagi si pemberi kredit dalam hal ini pihak bank bahwa kredit yang diberikan (baik berupa uang, barang atau jasa) benar-benar diterima kembali dimasa yang akan datang sesuai jangka waktu kredit. kepercayaan diberikan oleh bank sebagai dasar utama yang melandasi mengapa suatu kredit berani diberikan. Untuk mendapatkan kepercayaan ini, Bank Jatim Kantor Cabang Pembantu Babat melakukan prinsip analisis kredit 5C (Character, Capacity, Capital, Collateral, dan Condition of Economic), pengumpulan berkas-berkas yang telah menjadi ketentuan, dan wawancara oleh petugas Account Officer yang hasilnya akan diserahkan kepada analis kredit.
b. Kesepakatan
Kesepakatan antara pemberi kredit dengan penerima kredit dituangkan dalam suatu perjanjian dimana masing-masing pihak menandatangani hak dan kewajibannya masing-masing. Kesepakatan ini kemudian dituangkan dalam akad kredit dan ditandatangani kedua belah pihak sebelum kredit diberikan. Setelah mendapatkan kepercayaan dari calon debitur, maka bank dalam hal ini petugas Administrasi Kredit (ADK) akan membuatkan beberapa perjanjian
93 Kasmir, Dasar-Dasar Perbankan, 114-115.
94
kredit yang ditandatangani dan dilaksanakan dikemudian hari oleh kedua pihak.
c. Jangka waktu
Jangka waktu adalah tenggang waktu yang diberikan oleh pihak bank untuk pengembalian suatu kredit. Pengembalian setiap kredit berbeda-beda sesuai dengan yang telah disepakati sebelumnya. Jangka waktu tersebut bisa berbentuk jangka pendek (< 1 tahun), jangka menengah (1-3 tahun), dan jangka panjang (> 3 tahun). Dalam hal ini kredit multiguna menyediakan jangka waktu pembayaran hingga 20 tahun sesuai dengan plafond pinjaman yang diberikan dan status kepegawaian masing-masing debitur.
d. Risiko
Risiko kredit macet atau tidak tertagihnya suatu kredit dapat muncul karena adanya jangka waktu. Risiko meningkat secara proporsional dengan jangka waktu pinjaman.
e. Balas jasa
Balas jasa adalah keuntungan dari pemberian suatu kredit. Balas jasa ini dinamakan bunga pada bank konvensional. Bank menerima balas jasa berupa bunga maupun biaya administrasi kredit yang juga menghasilkan keuntungan bagi bank. Besarnya bunga untuk kredit multiguna ini adalah 0,49% perbulannya.
Selain itu Bank Jatim Kantor Cabang Pembantu Babat juga menerapkan prinsip analisis kredit 5C. Adapun prinsip analisis kredit
95
yang diterapkan oleh Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur adalah sebagai berikut:
a. Character (karakter)
Untuk mengetahui seberapa baik niat calon debitur untuk melunasi kewajibannya pada waktu yang dijadwalkan, seseorang harus mengevaluasi karakternya. Evaluasi karakter calon debitur dianggap sebagai komponen penting karena memberikan wawasan tentang kepribadian seseorang dan kemauan untuk mengembalikan utangnya. Karakter, integritas, dan reputasi pribadi calon debitur merupakan faktor-faktor yang menjadi pertimbangan Bank Jatim dalam melakukan kajian untuk menentukan apakah calon debitur tersebut dapat dipercaya dan layak untuk diberikan kredit atau tidak.
Untuk menentukan layak atau tidaknya calon debitur menerima kredit yang diajukan, Bank Jatim secara cermat mempertimbangkan karakter dan itikad baiknya.
b. Capacity (kemampuan)
Dengan evaluasi kemampuan ini, pihak bank berharap dapat mengukur seberapa besar kemampuan calon debitur untuk melunasi utangnya dengan menggunakan uang yang diperolehnya. Dalam hal ini Bank Jatim sedang menjabarkan persyaratan pengajuan kredit multiguna salah satunya adalah slip gaji dari instansi yang akan dikaitkan dengan besaran limit kredit calon debitur, dan berkoordinasi dengan bendahara instansi untuk memberikan kuasa pemotongan gaji.
96
Sebagai bukti pemotongan pembayaran cicilan kredit, bendahara masing-masing instansi akan meminta laporan pemotongan gaji debitur setiap bulannya.
c. Capital (modal)
Laporan keuangan calon debitur akan menjadi bahan evaluasi oleh pihak bank. Laporan keuangan calon debitur berbentuk slip gaji dan harus dilengkapi kop perusahaan atau instansi dan ditandatangani oleh perwakilan hukum dari perusahaan atau lembaga tempat mereka bekerja. Jumlah pendapatan yang diperoleh calon debitur dapat digunakan sebagai kriteria untuk menilai berapa banyak limit kredit yang dapat diberikan oleh bank dan kemampuan calon debitur untuk membayar kembali hutangnya.
d. Collateral (jaminan)
Sekalipun kredit multiguna termasuk dalam kategori kredit aman, bank wajib meminta jaminan dari kredit yang telah dicairkan.
Tujuan penilaian agunan ini adalah untuk menurunkan risiko di masa mendatang. Bank Jatim menggunakan jaminan berupa SK pengangkatan pegawai negeri atau pegawai tetap dan SK terakhir calon debitur saat memberikan kredit multiguna.
e. Condition of economic (kondisi perekonomian)
Dengan memantau perkembangan ekonomi melalui media massa, seperti berita di surat kabar dan televisi, kemudian dikaitkan dengan keadaan, lokasi, dan pekerjaan calon debitur di masa yang
97
akan datang, Bank Jatim mengamati perkembangan ekonomi yang mungkin terjadi dan yang dapat mempengaruhi pekerjaan calon debitur.
2. Penerapan manajemen risiko kredit dalam mengatasi kredit macet yang timbul dari peyaluran kredit multiguna pada Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Kantor Cabang Pembantu Babat
Penyaluran kredit multiguna tidak terlepas dari berbagai risiko terutama risiko kredit. Oleh karena itu, pihak Bank Jatim Kantor cabang Pembantu Babat mengambil beberapa langkah dalam mengatasi kredit macet adalah sebagai berikut:
a. Tahap identifikasi risiko
Pada tahap ini, Banak Jatim Kantor Cabang Pembantu Babat menerapkan prinsip kredit 5C (Character, Capacity, Capital, Collateral, dan Condition of Economic) untuk lebih mengenal calon debitur yang telah mengajukan permohonan kredit melalui sebuah wawancara yang dilakukan oleh petugas Account Officer. Selain itu, pemeriksaan berkas secara teliti juga dilakukan agar tidak ada persyaratan yang tertinggal untuk dipenuhi.
b. Tahap munculnya risiko
Dalam penyaluran Kredit Multiguna ini terdapat beberapa permasalahan yang biasanya terjadi, diantaranya yaitu :
1) Auto debet yang tidak berfungsi secara otomatis.
2) Debitur meninggal dunia.
98
3) Debitur memiliki hutang di bank lain.
4) Debitur terkena Pemutusan Hubungan Kerja.
c. Tahap mengelola risiko
Pada tahap ini, ada beberapa langkah yang diambil oleh Bank Jatim Kantor Cabang Pembantu Babat untuk mengelola permasalahan yang terjadi, diantaranya yaitu:
1) Untuk auto debet kredit yang tidak berfungsi secara otomatis Bank Jatim Kantor Cabang Pembantu Babat menyelesaikannya dengan memeriksa kembali pembayaran angsuran yang dilakukan secara Auto Debet telah berfungsi atau tidak, jika pembayaran angsuran secara Auto Debet tidak berfungsi maka akan dilakukan pemindah bukuan secara manual dari rekening tabungan debitur ke rekening pinjaman debitur.
2) Untuk debitur yang meninggal dunia, mempunyai hutang di bank lain, dan terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) Bank Jatim Kantor Cabang Pembantu Babat mengambil langkah penyelesaian dengan jalan asuransi. Asuransi ini diambil karena jaminan yang diserahkan berupa SK tidak bisa dilelang atau dijual. Setelah itu, akan dilakukan penyelesaian kredit bermasalah berupa kombinasi antara rescheduling dan restructuring kredit dengan cara perubahan syarat-syarat perjanjian kredit dan mengubah jadwal pembayaran kredit.
d. Tahap meminimalisir risiko
99
Tahap meminimalisir risiko dilakukan untuk mengurangi kemungkinan risiko yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Pencegahan awal yang dilakukan adalah pembentukan Direksi yang bertugas untuk mengatasi risiko di kantor pusat yang diketuai oleh Direktur Kepatuhan. Untuk membantu Direktur Kepatuhan Bank membentuk Satuan Kerja Manajemen Risiko (SKMR) yaitu Divisi manajemen risiko yang bertanggung jawab kepada Direksi untuk melakukan fungsi evaluasi pengolahan risiko secara independen.
Selain itu, dari pihak Kantor Cabang Pembantu Babat membentuk divisi yang menangani kredit adalah Analis kredit, Account Officer, Administrasi kredit, dan Pimpinan Cabang sebagai pihak yang berwenang dalam pengambilan keputusan untuk menyetujui dan mengesahkan permohonan kredit. peningkatan Sumber Daya Manusia juga dilakukan untuk peningkatan kualitas staff yang telah dan akan bekerja di Bank Jatim. Kerjasama dengan pihak asuransi juga dilakukan untuk mengcover terlebih dahulu kredit yang bermasalah. Bank jatim kantor pusat juga menetapkan plafond maksimal untuk pengajuan kredit yang dilakukan oleh debitur untuk masing-masing Kantor Cabang yaitu sebesar Rp1.000.000.000-. untuk pinjaman yang lebih banyak bisa langsung mengajukan ke kantor pusat.
Beberapa tahapan yang diambil ini diharapkan agar risiko yang timbul dapat segera dikelola dan diminimalisir oleh devisi manajemen risiko Bank Jatim sehingga risiko tersebut tidak menimbulkan kerugian
100
untuk Bank Jatim. Selain itu dengan adanya manajemen risiko, Bank Jatim dapat lebih menumbuhkan pemahaman pengawasan tentang berbagai risiko kredit, yang merupakan fungsi penting dalam setiap aktivitas bank. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Fahmi Irham dalam bukunya yang berjudul Manajemen Risiko yang mengatakan bahwa untuk mengimplementasikan manajamen risiko secara efektif, terdapat beberapa langkah yang harus ditempuh oleh perusahaan, yaitu:94
1) Identifikasi risiko
Pada titik ini, manajemen perusahaan mengambil langkah dengan mengenali semua jenis risiko yang dihadapi dan mungkin dialami perusahaan di masa mendatang.
2) Mengidentifikasi bentuk-bentuk risiko
Pada titik ini diharapkan manajemen perusahaan telah mampu mengidentifikasi bentuk dan format potensi risiko. Dimungkinkan untuk memberikan penjelasan menyeluruh tentang jenis risiko yang diuraikan di sini, termasuk fitur risiko dan mekanisme pemicunya.
3) Menempatkan ukuran-ukuran risiko
Pada titik ini manajemen perusahaan telah menetapkan ukuran atau skala yang akan digunakan, khususnya metodologi penelitian yang akan diterapkan.
94 Irham, Manajemen Risiko, 3.
101 4) Menempatkan alternatif-alternatif
Manajemen perusahaan telah memproses data pada tahap ini.
Setelah itu, temuan pengolahan data dirangkum dalam bentuk kualitatif dan kuantitatif, bersama dengan efek atau pengaruh potensial.
5) Menganalisis setiap alternatif
Pada titik ini, masing-masing alternatif diperiksa dari berbagai sudut pandang dan hasil alternatif juga disampaikan.
6) Memutuskan satu alternatif
Diharapkan para manajer perusahaan sudah memiliki pemahaman yang detail dan mendalam pada tahap ini. Karena sebelumnya telah banyak alternatif yang diberikan dan dijelaskan baik secara lisan maupun tertulis.
7) Melaksanakan alternatif yang dipilih
Tahap ini manajer perusahaan telah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) yang lengkap dengan informasi biaya. Pengeluaran SK ini tentunya setelah pemilihan alternatif dan diverifikasi serta dibentuk tim untuk melaksanakannya.
8) Mengontrol alternatif yang dipilih
Tim manajemen dan manajer perusahaan telah mengadopsi solusi yang dipilih pada tahap ini. Tanggung jawab utama manajer perusahaan adalah menjaga kontrol yang ketat untuk mencegah munculnya berbagai risiko yang tidak diinginkan.
102
9) Mengevaluasi jalannya alternatif yang dipilih
Tim manajemen sekarang secara rutin melapor kepada manajer perusahaan setelah alternatif diterapkan dan kontrol telah diterapkan.
Pelaporan tersebut berupa data fundamental dan teknis baik secara lisan maupun tulisan.
103 BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti terkait dengan pengelolaan manajemen risiko kredit terhadap penyaluran Kredit Multiguna pada Bank Pemangunan Daerah Jawa Timur Kantor Cabang Pembantu Babat maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1. Kredit Multiguna merupakan suatu produk perbankan andalan Bank Jatim yang ditujukan untuk masyarakat dengan penghasilan tetap dan berstatus sebagai PNS, CPNS, Pegawai/Calon Pegawai BUMN/BUMD, Anggota TNI/POLRI, Anggota Legislatif, Karyawan Perusahaan Swasta, Pensiunan dan Purnawirawan, Tenaga Kontrak, Tenaga Honorer dan perangkat desa.
Praktik penyaluran Kredit Multiguna pada Bank Jatim Kantor Cabang Pembantu Babat melalui beberapa tahap, yaitu: tahap permohonan kredit, tahap verifikasi kredit, tahap realisasi kredit, dan tahap pencairan dan pelunasan kredit. Dengan banyaknya tahapan penyaluran kredit ini diharapkan dapat membangun kepercayaan antara pihak bank dengan calon debitur dan debitur mampu menyelesaikan kewajibannya membayar angsuran hingga lunas.
2. Terjadinya kredit macet akibat dari risiko kredit yang dialami disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: sistem auto debet tidak berfungsi secara otomatis, debitur meninggal dunia, debitur memiliki hutang dengan bank lain, dan debitur terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Langkah yang diambil
104
untuk mengatasi risiko kredit ini adalah dengan beberapa tahap sebagai berikut: tahap identifikasi risiko, tahap terjadinya risiko, tahap mengelola risiko, dan tahap meminimalisir risiko, sehingga dihasilkan penyelesaian untuk masalah-masalah diatas yaitu berupa pengecekan ulang terhadap sistem pembayaran auto debet apakah sudah bisa berfungsi atau tidak, jika belum bisa berfungsi maka akan dilakukan pemindah bukuan secara manual dari rekening tabungan debitur ke rekening pinjaman debitur. Sedangkan untuk permasalahan debitur meninggal dunia, memiliki hutang di bank lain, terkena PHK, maka akan diselesaikan dengan jalan asurasi, karena jaminan utama dalam hal ini SK debitur tidak bisa dilelang atau dijual. Setelah itu, akan dilakukan restructuring dan rescheduling untuk mengatur jadwal pembayaran beserta syarat-syarat pembayarannya.
B. Saran
Dari hasil penelitian yang menyebutkan bahwa pengelolaan manajemen risiko kredit terhadap penyaluran Kredit Multiguna pada Bank Pemangunan Daerah Jawa Timur Kantor Cabang Pembantu Babat, maka dapat diberikan saran sebagai berikut:
1. Dengan tersalurnya Kredit Multiguna ini, diharapkan bisa membantu permasalahan ekonomi yang terjadi di masyarakat, dikarenakan Kredit Multiguna ini bersifat kredit komsumtif dengan persyaratan yang cukup mudah. Meskipun begitu, Kredit Multiguna yang telah disalurkan dapat membawa profit yang lebih untuk Bank Jatim.
105
2. Perbaikan kembali untuk sistem auto debet yang terkadang tidak berfungsi secara otomatis, agar debitur bisa selalu tepat waktu dalam membayarkan angsurannya.
106
DAFTAR PUSTAKA
A.Putri. Hakim M.S. Bramanti G.W. 2018. Evaluasi pelaksanaan credit risk management pada PT. BPR X. Jurnal: jurnal Sains dan Seni POMITS Vol.
7, No. 1.
Amalina, Aqmar. 2018. Analisis Sistem Akuntansi Pemberian Kredit Multiguna Sebagai Salah Satu Upaya Meminimalisir Kredit Bermasalah (Studi pada PT. Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk Kantor Cabang Pembantu Dringu). Jurnal Administrasi Bisnis.
Arikunto, Suharsini. 2014. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan ke Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta.
Bachri, Syaiful, Pimpinan Kantor Cabang Pembantu Babat, Wawancara, 10 Agustus 2020.
Darmawi, Herman. 2008. Manajemen Risiko. Jakarta: Bumi Aksara
Desda, Mia Muchia, Yunista. 2019. Analisis Penerapan Manajemen Risiko Kredit Dalam Meminimalisir Kredit Bermasalah Pada PT. BPR Swadaya Anak Nagari Bandarejo Simpang Empat Periode 2013-2018. Jurnal MBIA p- ISSN 2086-5090, e-ISSN: 2655-8262 Vol. 18, No. 1.
Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Salinan Peraturan Otoritas Jasa Keuanga Nomor 18/POJK.03/2016 tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum.
Esmanto, Hadi. Petugas Account Officer, Wawancara, 08 Oktober 2020.
Fahmi, Irham. 2016. Manajemen Risiko: Teori, Kasus, dan Solusi (Edisi Revisi.
Bandung: Alfabeta.
Hasan, Nurul Ichsan. 2014. Pengantar Perbankan. Jakarta: Referensi (Gaung Persada Press Group).
Idroes, Ferry N. 2008. Manajemen Risiko Perbankan: Pendekatan Pemahaman 3 Pilar Kesepakatan Basel II Terkait Aplikasi Regulasi dan Pelaksanaannya di Indonesia. Jakarta: Rajawali Press.
Idroes, Ferry N. Sugiarto. 2006. Manajemen Risiko Perbankan: Dalam konteks kesepakatan Basel dan Peraturan Bank Indonesia. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Ikatan Bankir Indonesia. 2013. Memahami Bisnis Bank. Jakarta: Gramedia pustaka Utama.
Insani, Talentitya Ryzabella. 2019. Mitigasi risiko pembiayaan modal usaha tanpa agunan pada akad mudarabah (Studi di PT BPRS Sarana Prima Mandiri Kantor Pusat Pemekasan). Tesis: Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Jannah, Aisyatul. 2018. Analisis manajemen risiko pembiayaan KPR iB Muamalat dengan akad Musyarakah Mutanaqishah pada PT. Bank Muamalat Kantor Cabang Pembantu (KCP) Situbondo. Skripsi: Institut Agama Islam Negeri Jember.
Jauhari, Hari Awal. Petugas Administrasi Kredit, Wawancara, 07 Oktober 2020.
Kasmir. 2016. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya: Edisi Revisi 2014. Jakarta:
Rajawali Pers.
107
Kasmir. 2016. Dasar-Dasar Perbankan: Edisi Revisi 2014. Jakarta: Rajawali Pers.
Khoiriyah, Muniatul. 2019. Manajemen risiko pada produk Kredit Usaha Rakyat (KUR) (studi kasus di PT. Bank BRI Syariah Kantor Cabang Bandar Lampung). Skripsi: Institut Agama Islam Negeri Metro
Kurniawati, Puput Rizki. 2018. Penerapan manajemen risiko kredit pada kredit modal kerja di PT. BPR Bumi Hayu Ambulu Jember. Skripsi: Institut Agama Islam Negeri Jember.
Keputusan Direksi Bank Nomor 056/182/DIR/ MJR/KEP tanggal 7 September 2017 tentang Pedoman Pelaksanaan Kebijakan Manajemen Risiko.
Kuncoro, Mudrajat. Suhardjono, 2002, Manajemen Perbankan, BPFE, Yogyakarta.
Kementerian Agama. 2008. Al-Qur’an: Tajwid dan Terjemahan. Depok: Cahaya Qur’an.
Moleong, Lexy J. 2009. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Mulyati, Etty. 2016. Kredit Perbankan: Aspek Hukum dan Pengembangan Usaha Mikro Kecil dalam Pembangunan Perekonomian Indonesia. Bandung: PT.
Refika Aditama.
Musdalifa. 2020. Implementasi Manajemen Risiko dalam Mengurangi Kredit Macet di BTN Parepare (Analisis Manjemen Syariah). Skripsi: Institut Agama Islam Negeri Parepare
Permatasari, Dila. 2019. Analisis Prosedur Pemberian Kredit pada PT. BPR Bank Jatim Kabupaten Ponorogo. Skripsi: Universitas Negeri Yogyakarta
Ramli, Soehatman. 2010. Manajemen Risiko dalam Perspektif K3 OHS Risk Management. Jakarta: Dian Rakyat.
Rika. 2019. Analisis penerapan manajemen risiko untuk meminimalisir risiko kredit macet pada PT. Bank Sumut Kantor Pusat Medan. Skripsi:
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.
Ronga, Omega Bless. 2015. Pembiayaan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) TBK cabang Tondano terhadap Sektor Pertanian. Manado: e-Jurnal Universitas Sam Ratulangi
Sa’adah, Aminatus. 2015. Analisis Sistem Pemberian Kredit Multiguna Dalam Upaya Meningkatkan Pengendalian Kredit (Studi pada PT.Bank Jatim Tbk Cabang Lamongan. Jurnal Administrasi Bisnis.
Satori, Djam’an. Aan Komariah. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif.
Bandung: Alfabeta.
Setiawan, Agung Wahyu. Kepala Penyelia Kredit, Wawancara, 12 Agustus 2020.
Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung:
Alfabeta.
Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Sujarweni, Wiratna. 2015. Metodologi Penelitian Bisnis dan Ekonomi.
Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Sustainability Report 2015 PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk