BAB VI HAIL PENELITIAN DAN PEMBAHSAN
C. Pembahasan
kehidupan selanjutnya. Dari uraian tersebut dapat di simpulkan bahwa, faktor yang meletarbelakagi para remaja di Desa Tolangi melakukan perkawinan di bawah umur karena masalah ekonomi.
syarat untuk usia perkawinan, pada hakekatnya usia 16 tahun masih termasuk katagori anak-anak belum berusia 18 tahun (delapan belas tahun) pada usia ini masih dikatagorikan anak-anak yang belum mampu membangun rumah tangga.
Setiap anak mempunyai hak dan kewajiban seperti yang tertuang dalam Pasal 4 UU No. 23 Tahun 2002 tentang hak-hak anak yang menyatakan, bahwa:
“setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang dan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”
Pasal 7 ayat 1 No.23 Tahun 2002 menyatakan, bahwa:
“setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat, bakat, demi pengembangan diri”
Kemudian Pasal 13 ayat 1 UU No. 23 Tahun 2002:
“setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali atau pihak lain maupun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan: diskriminasi, eksploitasi baik ekonomi maupun seksual, penelantaran, kekejaman, kekerasan dan penganiayaan, ketidak adilan, perlakuan salah lainnya”
Bahkan orang tua juga mempunyai kewajiban dan bertanggung jawab terhadap anak seperti yang tertulis di Pasal 26 ayat 1 UU No. 23 Tahun 2002:
“orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk : a) Mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak.b) Menumbuh kembangkan anak sesuai dengan kemampuan bakat dan minatnya. c) Mencegah terjadinya perkawinan usia anak”
Dalam Hukum pidana juga mengenal usia belum dewasa dan dewasa.
Yang disebut umur dewasa apabila telah berumur 21 tahun atau belum berumur 21 tahun, akan tetapi sudah atau sudah pernah menikah Hukum pidana anak dan acaranya berlaku hanya untuk mereka yang belum berumur 18 tahun, yang menurut hukum perdata belum dewasa. Yang berumur 17 tahun dan telah kawin tidak lagi termasuk hukum pidana anak, sedangkan belum cukup umur
menurut pasal 294 dan 295 KUHP adalah ia yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum kawin sebelumnya. Bila sebelum umur 21 tahun perkawinannya diputus, ia tidak kembali menjadi "belum cukup umur". dan Anak yang belum menikah.
Batas umur yang dinyatakan dalam KUHP sangatlah rendah yakni 12 tahun (pasal 287 KUHP ayat 2). “penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umur wanita belum sampai 12 tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan pasal 291 dan pasal 294” Jika diasumsikan bahwa batas umur kematangan seksual untuk anak perempuan (ditarik dari Undang- Undang Perkawinan No.1 Tahun 1974) adalah 16 tahun.
Ini berarti bahwa seorang anak perempuan yang berumur 12 tahun di Indonesia dianggap sudah cukup matang untuk berhubungan seks atas dasar suka sama suka namun dia belum boleh menikah secara legal. Dalam konteks perlindungan anak, ini berarti membiarkan anak-anak perempuan yang sudah berumur 12 tahun tapi belum mencapai 16 tahun tidak terlindungi dari eksploitasi seksual Sanksi pidana terhadap mereka yang melakukan ditetapkan terlalu rendah (paling lama 9 tahun penjara – pasal 287), bahkan lebih rendah dari sanksi pidana (paling lama 12 tahun penjara – pasal 285)
“Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan diluar perkawinan, di ancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun”
KUHP hanya mempunyai satu pasal dalam kaitan perdagangan anak untuk tujuan seksual (pasal 297). Pasal ini mengkriminalisasi perdagangan orang anak tapi tidak mendefinisikan perbuatan atau tindakan apa yang
merupakan perdagangan. sedangkan batas umur kematangan seksual harus ditingkatkan setidaknya menjadi sama dengan batas umur kedewasaan untuk menikah
Bahwa berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHPidana) dan Undang-Undang Perlindungan Anak sendiri sudah mempunyai sanksi pidana yang terkait dan dimungkinkan untuk dapat diterapkan kepada pelaku perkawinan dibawah umur tersebut, antara lain :
Pasal 228 KUH Pidana:
“1) Barang siapa dalam perkawinan bersetubuh dengan seorang wanita yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin, apabila perbuatan mengakibatkan luka-luka diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, dijatuhkan pidana penjara paling lama delapan tahun.
3) Jika mengakibatkan mati, dijatuhkan pidana penjara paling lama dua belas tahun.”
Dari uraian tersebut diatas disimpulkan bahwa KUHP tegas barang siapa melakukan eksploitasi atau perdagangkan anak dibawah umur untuk kepentingan pribadi ingin mendapatkan sesuatu dengan cara memaksa korban sehingga harus di hukum. Berdasarkan hasil penelitian yang telah di uraikan perkawinan dibawah umur di Desa Tolangi Kecamatan Sukamaju Kabupaten Luwu Utara masih ada beberapa yang melaksanakan perkawinan yang tidak sesuai dengan peraturan perkawinan yang berlaku. Diamna ada sebagian pasangan yang tidak mau mendaftarkan perkawinannya di KUA dikarenakan mereka malas untuk mengikuti prosedur dari Pengadilan Agama untuk mendapatkan dispensasi perkawinan. Mereka seharusnya mendapatkan sangsi
dari perbuatan mereka dikarenakan tidak mengikuti peraturan yang ada tapi disayangkan karena tidak ada tindak lanjut dari perbuatan mereka. Dalam masyarakat di Desa Tolangi ada sebagian masyarakat yang setuju dan ada juga yang tidak. Mereka yang telah melangsungkan perkawinan dibawah umur telah melanggar UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan. Perkawinan yang terjadide Desa Tolangi masih belum sesuai dengan ketentuan Pasal 7 ayat (1) .
Sementara dalam hukum Islam tidak menyebutkan batas usia perkawinan, namun secara umum disebutkan akil baligh yang meliputi lima prinsip yaitu perlindungan terhadap jiwa kedua mempelai, beratanggung jawab, memenuhi kesehatan untuk melahirkan, untuk mendapat keturunan baik dan sehat.
Perkawinan dibawah umur di Desa Tolangi masalah lingkungan atau pergaulan merupakan alasan yang banyak di gunakan oleh banyak kalangan untuk mencari jalan untuk mencari kesibukan dengan berkumpul dengan teman-temannya, meski tak jarang hal tersebut mendatangkan masalah baru dalam kehidupan selanjutnya. Tingginya angka kawin muda dipicu oleh rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat tentang peraturan perkawinan.
Teman dan lingkungan bergaul merupakan salah satu pemandu masa depan, oleh karena memilih teman dan lingkungan bergaul juga sangat penting. Pada fase pertumbuhan anak terkadang mereka beranggapan bahwa mereka kurang di perhatiakan, apalagi bagi keluarga yang memiliki persoalan- persoalan yang kompelit. Dengan masalah yang ada terkadang anak merasa kurang bahagia, diantara masalah tersebut juga terkadang karena ada
komunikasi yang terkadang renggang, atau kurang sepaham. Banyak persoalan yang mengganggu kebahagiaan hidup, adalah masalah hubungan orang tua dengan anaknya yang telah dewasa. Tidak jarang banyak orang tua yang mengeluh terhadap sikap anaknya. Orang tua yang merasa kalau anaknya tiba-tiba menjadi nakal, suka melawan, tidak patuh, dan sering membuat masalah.
Diantara beberapa remaja, yang merasa kurang dimengerti oleh orang tuanya, sehingga mereka menjadi bingung, cemas, dan gelisah. Dengan perasaan itulah mereka mudah terkena pengaruh yang tidak baik dari luar.
Apalagi kalau kita lihat sekarang ini, makin banyak kenyataan hidup yang tidak menyenangkan terutama dalam hal masyarakat modern ini. Dimana agama tidak lagi diindahkan, mungkin akibat teknologi yamg sudah sangat maju.
Keluarga dan rumah merupakan pelabuhan yang aman dan tambatan yang kokoh bagi setiap anggota keluarga terutama remaja. Ayah, ibu, dan anak adalah suatu basis dimana secara teratur dan harmonis seluruh keluarga berkumpul untuk berkomunikasi dan berbincang-bincang baik dalam hal yang menggembirakan ataupun ketika sedanga menghadapi kesulitan.Keluarga merupakan kesatuan daripada masyarakat kecil, yang mempunyai motivasi dan tujuan hidup tertentu dimana ayah, ibu, dan anak mempunyai fungsi dan tanggungjawab saling mengisi.
Memilih teman bergaul sangat penting untuk masa depan, sehingga hal ini juga butuh pertimbangan yang matang bagi setiap individu. Meskipun terkadang ada pribadi yang kuat terhadap prinsipnya, akan tetapi hal itu sangat
sedikit jumlahnya. Pada fase remaja, saat itulah terjadi pencarian jati diri, oleh karenanya teman bergaul bisa membawa perubahan besar dalam perubahan jati diri tersebut. Terlepas dar teman bergaul, lingkunga tempat bergaul pula harus di perhatikan betapa banyak pribadi yang terjemus ke jurang yang negatif oleh karena lingkungan yang mereka tempati. Dari kedua hal tersebut penting kiranya untuk di pertimbangkan. Seperti hal yang peneliti amati dan dapatkan melalui observasi dan wawancara, bahwa ada beberapa pelaku perkawinan di bawah umur ini, karena berawal dari kesalahan mereka dalam memilih teman serta membawanya ke lingkugan yang kurang kondusif, atau bisa di katakan lingkungan yang bebas.
Setiap daerah memiliki budayanya masing-masing, hal ini terkadang menjadi keunikan ataupun ciri khas setiap daerah. Beragam budaya tersebut bisa menjadikannya berbeda dengan wilayah yang lain. Selain keunikannya terkadang ada beberapa adat atau kebiasaan yang menjadi budaya yang sebenarnya bersembrangan dengan aturan yang ada, baik aturan hukum maupun aturan agama. Seperti halnya dengan perkawinan, di beberapa daerah di indonesia melegalkan perkawinan meskipun usianya masih tergolong masi sangat muda. Tidak jarang perkawinan pada masyarakat adat bertentangan dengan aturan yag ada di indnesia.
Sama halnya dengan Desa Tolangi yang beberapa masyarakatnya masih mempertahankan budaya turun temurun, sehingga masalah perkawinan pun tidak mengindahkan aturan yang telah di tetapkan oleh pemerintah. Selain itu, budaya malu atau siri’ juga menjadi budaya yang masih di junjung tinggi oleh beberapa masyarkat yang ada di Desa Tolangi. Budaya ini membawa
beberapa masyarakat menikahkan anaknya yang masih tergolong di bawah umur, karena mereka tidak ingin anaknya melakukan hal-hal yang bisa menjadi buah bibir di masyarakat sekitar.
Orang tua menikahkan anak karena mereka kurang mengerti ataupun faham tentang seluk beluk sebuah perkawinan yang ideal. Ia hanya melihat anak sudah besar atau sudah kelihatan dewasa, ia fikir hal seperti itu sudah cukup untuk melangsungkan sebuah perkawinan. Begitu juga dengan anak yang hanya lulus sekolah dasar atau yang masih dalam kondisi belajar baik pada bangku sekolah dasar ataupun pada bangku sekolah menengah pertama, belum begitu luas tentang pendidikan dan pengetahuan yang dimiliki, apalagi mengerti ataupun faham sebuah perkawinan yang ideal, sehingga mau untuk dinikahkan karena masih menuruti sama orang tua, orang tua menginginkan menikahkannya, sebagai seorang anak tidak menolaknya. Dengan anaknya menikah orang tua merasa senang dan bahagia. Sebagai seorang anak tidak dapat untuk menolaknya karena ketika seorang anak tidak mau untuk dinikahkan orang tua merasa kecewa. Ketika seorang anak ingin melanjutkan sekolah tetapi orang tua tidak mengijinkan dengan alasan tidak ada biaya atau alasan-alasan yang lainnya.
Pendidikan sangat penting bagi orang tua maupun anak, karena dengan pendidikan dan pengetahuan yang luas ia dapat mempertimbangkan kembali apa yang mau dilakukan, seperti halnya menikah jika pendidikan ataupun pengetahuan mereka kurang maka ia hanya berfikir pendek. Ia mengira dengan menikahkan anak yang masih di bawah umur dapat menjadi tenang dan senang karena sudah tidak memiliki beban lagi, tetapi jika lebih difahami
mendalam malah kasihan anak masih di bawah umur sudah harus menjalankan yang semestinya belum saatnya mereka lakukan yaitu menjalankan rumah tangga sebagaimana mestinya, itu terjadi karena pendidikan ataupun pengetahuan orang tua maupun anak yang terbatas.
Masalah ekonomi juga merupakan alasan yang di gunakan oleh banyak kalangan untuk mencari jalan pintas untuk menyelesaikannya, meski tak jarang hal tersebut mendatangkan masalah baru dalam kedupan selanjutnya. Tingginya angka kawin muda dipicu oleh rendahnya kemampuan ekonomi masyarakat atau kesulitan ekonomi, maka agar tidak terus membebani secara ekonomi karena orang tua juga tidak sanggup lagi membiayai pendidikan anak, orang tua mendorong anaknya untuk menikah agar bisa segera mandiri. Sayangnya, para gadis ini juga menikah dengan pria berstatus ekonomi tidak jauh beda, sehingga malah menimbulkan kemiskinan baru.
Dari hasil penelitian di atas ada terdapat beberapa pro dan kontra yang terjadi didalam masyarakat mengenai perkawinan dibawah umur diaman ada yang masyarakat yang mengikuti peraturan perkawinan yang berlaku dan ada juga yang hanya melakukan perkawinan dari segi agama saja dengan mengeyampingan peraturan perkawinan. Dalam masyarakat memang selalu terjadi perbedaan pola pikir atau pandangan, menurut pandangan mereka itu baik maka itulah yang mereka ikuti. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Ilman laman Hal yang melatar belakangi terjadinya perkawinan di bawah umur ini di dominasi oleh faktor ekonomi, di mana sebagian besar warga yang
sebagian besar petani belum mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhannya sehingga menjadikan hal ini sebagai solusi, meskipun beberapa diantaranya menimbulkan akibat yang tidak sesuai yang di harapkan. sedangkan hasil penelitian yang bisa saya sampaiakn di sini yang menjadi faktor utama terjadinya perkawinan dibawah umur yaitu karena lingkungan yang bebas yang menjerumuskan anak-anak kedalam pergaulan yang tidak baik.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah peneliti uraikan sebelumnya, maka dapat peneliti simpulkan bahwa :
1. Perkawinan di bawah umur di Desa Tolangi dimana dari 8 pelaku perkawinan dibawah umur hanya 1 orang saja yang terdaftar di KUA dan mengikuti peraturan hukum perkawinan 7 oarang lainnya tidak terdaftar di KUA mereka hanya menikah berdasarkan agama tidak mengikuti peraturan hukum yang ada. Perkawinan dibawah umur yang terjadi di Desa Tolangi Kecamatan Sukamaju Kabupaten Luwu Utara dikarenakan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat dan rendahnya pengetahuan mengenai hukum perkawinan yang berlaku.
2. Perkawinan di bawah umur di Desa Tolangi Dari 8 pelaku perkawinan dibawah umur 5 diantaranya dikarenakan faktor sosial atau lingkungan, 1 karena faktor ekonomi dan 2 orang lagi dikarenakan takut akan perzinahan.
Faktor yang mempengaruhi perkawinan di bawah umur ini di Desa Tolangi Kecamatan Sukamaju Kabupaten Luwu Utara dominasi oleh faktor lingkungan dalam hal ini banyak sekali terjadi kesalahan akibat salah memilih teman serta lingkungan mereka bergaul, karena tak jarang hal ini membawa mereka pada perilaku yang negatif, sebagian kecil masyarakat yang masih mempertahankan budaya sehingga faktor Siri’ (malu) menjadi alasan mengapa orangtua memilih menihkan anaknya.
B. Saran
Untuk menaggulangi atau mengurangi pelaksanaan perkawinan dibawah umur umur berdasarkan penelitian, maka harus dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Perlu adanya sosialisasi mengenai Undang-Undang Nmor 1 tahun 1974 tentang perkawinan pada masyarakat agar mereka mengetahui dan punya kesadaran hukum. Sosialisasi ini sebaiknya dilakukan oleh para pejabat pemerintah desa maupun pejabat yang berwenang.
2. Menumbuhkan semangat pendidikan hukum bagi generasi muda yang dalam hal ini harus dimulai dari peran orang tua pertama yang penting dalam pergaulan dan perkembangan anak.
3. Perlu adanya peran aktif pemerintah setempat, tokoh agama, tokoh-tokoh masyarakat yang sangat berperan penting dalam menumbuhkan semangat pendidikan baik generasi muda maupun orang tua, agar orang tua selalu memberikan motovasi kepada anaknya akan pentingnya pendidikan bagi pengembangan dini.
DAFTAR PUSTAKA
Rosnidar,S, 2016, Hukum Keluarga, Jakarta: Raja Grafindo persada
R. Soebekti & R. Tjitrosudibio, 2007. Kitan Undang-Undang Hukum perdata.
Jakarta. Pradnya Paramita.
Rafi’Udin.2001.Mendambakan Keluarga Sakinah.semarang: Intermesa
Sukri, Khaeruddin dkk. 2014. Pedoman Penulisan Skripsi, Makassar:Panrita Press Syarifudin Amir,2006, Hukum Perkawinan Islam Di Indonesia:Antara Fiqih Munakahat dan Undang-Undang perkawinan, Jakarta: Kencana Soemiyati, 2017. Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan,
cetakan ke 2. Bandung. Banjar Maju.
Sugiyono. 2017. Metode Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Sudarsono, 2005. Hukum Perkawinan Nasional, Jakarta:Rineka Cipta.
Soimin Soedharyo. 2002, Hukum Orang dan Keluarga, Jakarta:Sinar Grafika.
Wahono D dan Surini A.S, 2004. Hukum Perkawinan dan Keluarga di Indonesia.
Jakarta;Fakultas hukum Universitas Indonesia.
Zainudin,A, 2006. Hukum perdata islam di indonesia, jakarta:Sinar Grafika Ilham,L. 2017. Perkawinan dibawah umur di dikelurahan purangi kota Palopo.
Skripsi.makassar: Universitas Negeri Makassar
Winarsih.2015.Relevansi Sosio Yuridis Mediasi Penal Bagi Masyarakat Pedesaan.semarang.Univesitas Negeri Makassar
yulinis,w. 2015.Tinjauan yuridis terhadap perkawinan dibawah umur (study kasus kecamatan mapia kabupaten dogiyai provinsi papua menurut UU Nomor 1 Thun 1974), skripsi.Makassar: Universitas Indonesia Timur Perundang-undangan :
Hamzah,Andi, 2005. KUHP & KUHAP. PT Rinek a Cipta
Kitab lengkap KUHPer, KUHAPer. KUHP, KUHAP, KUHD. Pustaka Yustisia Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek Staatsblad Nomor 23 Tahun 1847)
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang hak-hak anak
Instruksi Presiden No 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam
LAMPIRAN
PEDOMAN WAWANCARA Pelaku perkawinan dibawah umur
1. Apakah yang anda pahami tentang perkawinan di bawah umur ? 2. Pada umur berapakah anda memutuskan untuk menikah ?
3. Apakah yang menjadi alasan anda untuk memutuska melakukan perkawinan di bawah umur?
4. Pada saat memutuskan menikah, apakah anda berstatus pelajar atau telah putus sekolah?
5. Apakah keputusan menikah muda ini adalah pilihan anda atau ada pengaruh atau tekanan dari luar?
6. Apakah ada masalah yang anda alami dalam perkawinan yang anda jalani?
7. Apakah ada Dampak yang anda rasakan dalam perkawinan anda jalani dengan umur yang masih muda?
8. Apakah perkawinan anda terdaftar di KUA?
Orang tua pelaku perkawinan dibawah umur
1. Apa yang menjadi alasan bapak/ibu untuk menikahkan anaknya?
2. Berapa umur anak bapak/ibu pada saat di nikahkan?
3. Apa yang anda ketahui tentang perkawinan dibawah umur?
4. Bagaimana peranan anda sebagai rang tua dalam menghadapi anaknyayang melangsungkan perkawinan yang masih dibawah umur?
5. Apakah keputusan untuk menikah tersebut adalah kerelaan dari anaknya sendiri?
6. Apakah anak bapak/ibu terdaftar di KUA?
7.
Informan Tambahan
1. Apa yang anda ketahui tentang perkawinan dibawah umur?
2. Bagaimana peranan anda terhadap perkawinan dibawah umur?
3. Mengapa masyarakat di Desa Tolangi masih ada yang menikahkan anak dibawah umur?
4. Faktor apa yang menyebabkan mereka masih maenikahkan anak dibawa umur?
5. Bagaimana pandangan anda tentang perkawinan di bawah umur di Desa Tolangi?
6. Apakah masih banyak perkawinan di bawah umur yang terjadi di Desa Tolangi?
WAWANCARA DENGAN PELAKU PERKAWINAN DIBAWAH UMUR
MT 14 tahun RT 15 tahun
SN 12 tahun CD 15 tahun
SC 15 tahun RF 15 tahun
SY 15 tahun AD 15 tahun
WAWANCARA DENGAN ORANG TUA DAN INFORMAN TAMBAHAN
PEDOMAN WAWANCAR