BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Pembahasan
21
4.1.6. Kualitas Air
Data kualitas air ini diambil dengan cara pengukuran setiap minggu selama penelitian yaitu 35 hari atau selama 5 minggu. Data rata-rata kualitas air pada penelitian ini disajikan dalam bentuk tabel, dimana dapat dilihat pada Tabel 8, sebagai berikut:
Tabel 8. Parameter Kualitas Air
Perlakuan Parameter Nilai Standar
Sumber Keterangan A Suhu 28-30°C 26-32°C (BSN,2011) Sesuai B Salinitas 29-30 ppt 28-34 ppt (BSN,2011) Sesuai C pH 7.0-7.3 7.0-8.5 (BSN,2011) Sesuai D Nitrat (NO3) 0.03-0.08 0.01-0.7 ( Kamla, 2011) Sesuai E Fosfat (PO4) 0.06-0.09 0.10-0.20 (Kamla, 2011) Sesuai Hasil pengukuran parameter kualitas air selama penelitian cukup mendukung untuk kehidupan rumput laut karena kualitas air pada media pemeliharaan berada dalam kisaran optimal untuk pemeliharaan rumput laut Kappaphycus alvarezii.
22
laut tersebut terserang penyakit ice ice yang dimana melemahnya rumput laut ditandai dengan cabang-cabang tanaman sedikit, keseluruhan tanaman menjadi pucat dan kaku serta permukaan thallus menjadi kasar. Pada keadaan stress rumput laut akan membebaskan substansi organik yang menyebabkan thallus berlendir dan merangsang bakteri tumbuh melimpah sehingga terjadinya pengurangan bobot yang disebabkan rontoknya thallus yang sudah terinfeksi penyakit.
Menurut (Rochmady, 2015), perbedaan pertumbuhan berat mutlak pada masing-masing perlakuan juga didukung oleh adanya unsur hara yang cukup di media pemeliharaan untuk menunjang rumput laut. Penelitian Kotta (2020) juga menjelaskan hasil penelitiannya bahwa berat bibit yang berbeda juga menghasilkan pertumbuhan yang berbeda.
4.2.2. Laju Pertumbuhan Harian (Spesific Growth Rate /SGR)
Hasil laju pertumbuhan harian tertinggi yaitu pada setiap perlakun memberikan hasil yang berbeda nyata dimana (p<0,05). Menurut pendapat (Hamid, 2009) bahwa pertumbuhan rumput laut disebabkan karena nutrisi yang terkandung dalam air tercukupi untuk pertumbuhan.
Pertumbuhan rumput laut juga dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam meliputi ketersediaan unsur hara (makro dan mikro), suhu, pH dan salinitas dalam media, sedangkan faktor luar meliputi cahaya Matahari melalui proses fotosíntesis. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Isnan setyo
& Kurniastuti, 1995) bahwa pertumbuhan rumput laut erat kaitannya dengan ketersediaan unsur hara yang serta kondisi lingkungan perairan yang meliputi cahaya, suhu dan pH air serta salinitas pada perairan. Kualitas perairan berupa unsur N, P, dan K juga merupakan faktor yang penting dalam pertumbuhan rumput laut dan untuk pembentukan cadangan makanan berupa kandungan zat-zat organik seperti karbohidrat, protein, dan lemak. Menurut (Kushartono et al., 2009; Mukhlis et al., 2016) unsur Nitrogen merupakan unsur yang paling banyak dibutuhkan rumput laut, nitrogen diperlukan sebagai penyuplai energi dalam proses fotosintesis dimana pada pupuk cair ini terdapat nutrisi N sebesar 3,23 % dan P sebesar 3,29 %. Hal ini sesuai dengan pendapat (Nursyam, 2013), regenerasi sel
23
pada setiap eksplan hingga membentuk thalus yang utuh hanya dapat terjadi jika eksplan hidup pada media yang memiliki kandungan nutrient yang cukup.
Menurut (Erpin et al., 2013). Apabila kegiatan budidaya rumput laut memperoleh penambahan laju spesifik diatas 3% maka dapat dikatakan kegiatan budidaya rumput laut menguntungkan.
4.2.3. Pertumbuhan Panjang Thallus (cm)
Nilai rata-rata laju pertumbuhan panjang thallus selama 35 hari memberikan hasil bahwa pada perlakuan A dan B berbeda nyata (p<0,05). Hasil parameter pertumbuhan panjang thallus dapat dilihat pada lampiran 3. Menurut Yuliana (2013), rumput laut berbeda dengan tumbuhan darat, rumput laut tidak memiliki akar untuk menyerap nutrien, sehingga ketersediaan nutrien yang ada di sekitar thallus akan sangat mempengaruhi pertumbuhan. Kekurangan nutrien biasanya akan menyebabkan rumput laut yang dipelihara akan kerdil. Selanjutnya juga dijelaskan bahwa pertumbuhan rumput laut memerlukan nutrien untuk pembentukan jaringan baru atau dalam hal ini pembentukan tunas agar tetap dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Menurut Yuliana (2013), eksplan yang hidup pada media yang memiliki kandungan nutrien yang cukup, akan tetap memiliki potensi untuk melakukan regenerasi sel pada setiap eksplan, sehingga membentuk thallus yang utuh (plantlet).
Menurut pendapat Hendrajat (2008) menyatakan bahwa adanya penambahan ukuran panjang rumput laut disebabkan rumput laut tersebut sudah memasuki tahap perpanjangan sel, karena tersedianya unsur hara dari pupuk yang diberikan sudah cukup untuk pertumbuhan dikarenakan jumlah nitrogen yang tinggi berpengaruh terhadap pertumbuhan (berat dan panjang) rumput laut. Komposisi pupuk cair ini mengandung C- Organik 6,23%, N 3,23%, P2O5 3,29%; K20 5,95%; S04 0,2%;
Mg 0,3%; CaO 0,07%; C/N Rasio 0,71%; Fe 42,25 ppm; Trace elemen (Cu, B, Mo, Mn, Zn dan Co) macam hormon (Cytokinin, IAA, dan Giberelin) 17 asam amino, Asam Organik.
24
4.2.4. Perhitungan Jumlah Thallus
Pada tabel 5 menunjukkan bahwa pertumbuhan jumlah thallus mengalami penurunan di akhir pemeliharaan hal ini disebabkan timbulnya penyakit ice-ice dimana telah terlihat dari perubahan warna pada beberapa bagian thallus menjadi pucat dan bercak putih yang kemudian meluas pada bagian ujung thallus . pemudaran warna pada thallus yang telah ditemukan selama penelitian ini juga ditemukan dalam penelitian Darmayanti (2003), Aris (2009), dan Arisandi et al., (2011). Gejala klinis selanjutnya adalah munculnya lendir pada thallus dan pada media pemeliharaannya. Diduga gejala ini berkaitan dengan kepadatan bakteri yang melimpah serta diduga karena disebabkan adanya kemampuan eksplan untuk memperbaiki jaringannya yang terpotong namun sulit untuk sembuh. Sependapat dengan penelitian sebelumnya yakni pada penelitian Arisandi et al., (2011) menunjukkan bahwa rumput laut dalam keadaan stress akan membebaskan substansi organik yang menyebabkan thallus berlendir dan memicu pertumbuhan thallus, terjadi perubahan warna tubuh, berlendir, tubuh semakin melunak, dan cabang thallus menjadi patah.
Hasil pengamatan morfologi menunjukkan bahwa, gejala awal infeksi mulai terlihat setelah masa pemeliharaan sekitar 25 hari. Ditandai dengan perubahan warna tanaman menjadi pucat secara keseluruhan, kemudian thallus menjadi bening, dan akhirnya seluruh tanaman menjadi keputih-putihan. Jaringan tanaman pada bagian yang terkena penyakit menjadi lunak dan hancur, sedangkan bagian thallus yang terinfeksi akan retak dan putus kemudian jatuh di media pemeliharaan.
Selanjutnya kematian pada thallus tersebut diduga sterilisasi eksplan, penyembuhn luka yang masih belum sempurna akibat pemotongan pada ujung thallus yang kurang baik pada bibit yang menyebabkan bibit rumput laut tersebut berlendir kemudian mengalami kematian.
4.2.5. Tingkat Kelangsungan Hidup (Survival Rate/SR)
Tingkat kelulusan hidup merupakan persentase rumput laut yang berhasil bertahan hidup dari keseluruhan rumput laut yang dipelihara, tingkat kelangsungan hidup rumput laut dipengaruhi oleh faktor internal yaitu disebabkan oleh faktor
25
genetik dan eksternal yaitu faktor lingkungan. Pada setiap perlakuan menunjukan hasil yang identic pada setiap perlakuan.
Menurut Sulistiani dan Yani (2014), kondisi sumber eksplan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan kultur. Sumber eksplan yang digunakan untuk kultur sebaiknya adalah rumput laut dari hasil seleksi dengan karakter pertumbuhan rumpun yang subur, bebas penyakit, dan bebas epifit. Eksplan yang digunakan dalam kultur jaringan rumput laut adalah jaringan muda yang sedang aktif tumbuh dan membelah diri (jaringan meristematik).
Penggunaan pupuk organik baik digunakan pada pertumbuhan makroalga dan nutriennya dapat diserap dan dimanfaatkan pada makroalga seperti K. alvarezii.
Adapun beberapa fenomena yang muncul pada akhir pemeliharaan diduga kemungkinan menurunnya kemampuan hidup pada bibit rumput laut diduga karena disebabkan adanya kemampuan dari potongan thallus untuk memperbaiki jaringannya yang terpotong namun sulit untuk sembuh sehingga menyebabkan mati. Kematian tersebut diawali dengan media yang terlihat keruh, potongan thallus mulai memutih ujungnya dan berlendir kemudian mati. Selain itu kematian pada bibit kemungkinan juga dapat disebabkan oleh kemampuan adaptasi potongan thallus terhadap pemberian hormon pada media pemeliharaan yang digunakan.
Yang mana masing-masing hormon dalam komposisi pada pupuk mempunyai komposisi nutrien yang berbeda. Apabila ketersediaannya berlebihan maka dapat menghambat atau bersifat racun yang dapat membuat eksplan mati. Hal ini sesuai dengan pendapat Malingkas (2002) bahwa unsur hara yang berlebihan akan mengakibatkan racun bagi tanaman. Kematian ini juga kemungkinan diakibatkan oleh guncangan dari aerasi yang terus menerus selama pemeliharaan. Hal ini sesuai dengan pendapat (Huang et al., 1998) yang menyatakan bahwa guncangan dari aerasi dengan intensitas yang tinggi selama pemeliharaan serta pergantian air media pemeliharaan secara periodik dapat membunuh sel-sel filamen kalus yang mengakibatkan penurunan sintasan.
Hasil kelangsungan hidup selama pemeliharaan menunjukkan hasil yang baik dimana menunjukkan pemeliharaan bibit yang diperkaya dengan pupuk organik cair memperlihatkan pertumbuhan dan pembentukan tunas yang lebih baik, hal ini
26
disebabkan karena kebutuhan nutrien dapat dipenuhi dan dapat memacu pertumbuhan rumput laut tersebut.
4.2.6. Kualitas Air
Kisaran kualitas air selama 35 hari penelitian masih berada pada kisaran yang optimal untuk pemeliharaan rumput laut Kappaphycus alvarezii. Kondisi air pada media pemeliharaan rumput laut yang sesuai akan memberikan pertumbuhan dan kelangsungan hidup rumput laut yang baik (Wijayanto et al. 2011; Nadlir et al.
2019). Hasil pengukuran suhu berkisar antara 28-30.7⁰C. Kisaran suhu tersebut sesuai dengan syarat budidaya rumput laut. Hal ini sesuai dengan pernyataan Yudasmara (2014) yang menyatakan bahwa suhu yang baik untuk rumput laut adalah 27,5⁰C.
Tinggi rendahnya suhu perairan dipengaruhi oleh penetrasi cahaya yang masuk kedalam perairan. Nilai salinitas pada media pemeliharaan bibit rumput laut ini hasil yang didapatkan berkisar antara 29-30 ppt. Salinitas tersebut sudah sangat baik untuk pertumbuhan rumput laut, hal ini sesuai dengan pernyataan dari BSN (2011), nilai salinitas untuk menunjang pertumbuhan rumput laut berkisar anatara 28-34 ppt. Hasil pengukuran derajat keasaman atau pH pada wadah pemeliharaan didapatkan hasil berkisar anatara 7,0-7,3. Kisaran pH sesuai dengan kebutuhan rumput laut. Menurut Arjuni et al., (2018) menyatakan bahwa hampir seluruh rumput laut menyukai kisaran pH 6.8-9.6.
Menurut Kamla (2011) bahwa kandungan fosfat sangat baik bila berada pada kisaran 0,10-0,20 mg/1 sedangkan nitrat dalam kondisi berkecukupan biasanya berada pada kisaran antara 0,01- 0,7 mg/1. Dengan demikian dapat dikatakan perairan tersebut mempunyai tingkat kesuburan yang baik dan dapat dapat digunakan untuk kegiatan budidaya laut.