BAB IV HASIL PENELI TIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
Pembahasan merupakan isi dari hasil analisis data dan fakta yang didapat dilapangan serta sesuai dengan teori yang digunakan, dalam penelitian ini peneliti menggunakan dimensi assessment kinerja menurut Faustino Cardoso Gomes dalam Parawu. Teori tersebut digunakan untuk mengukur sejauh mana kinerja pegawai melalui beberapa indikator diantaranya yaitu : Quantity of work; Quality of work; Job knowledge;
Creativeness; Cooperation; Dependability; Initiative; Personal qualities.
Didalam sebuah organisasi, mengetahui capaian kinerja pegawai berarti berusaha memahami dan mempelajari kinerja yang dimiliki pegawai.
Dengan kata lain, memahami kinerja pegawai menjadi sangat penting atau memiliki nilai yang sangat strategis. Berbagai dimensi dan kriteria yang mengenai informasi kinerja pegawai sangat penting diketahui untuk mengembangkan kemampuan dan pengetahuan dalam rangka peningkatan kinerja pegawai, sehingga menganalisis kinerja hendaknya dapat diterjemahkan sebagai suatu kegiatan assessment untuk menilai, mengukur atau melihat keberhasilan capaian pelaksanaan tugas, fungsi yang dibebankan kepadanya.
Dalam mengukur, menilai atau melihat keberhasilan capaian pelaksanaan tugas pegawai sangat ditentukan oleh fungsi yang diemban oleh pegawai terhadap tugas-tugas yang dilakukan. Dalam fungsi tersebut terkandung suatu tujuan dan sasaran yang akan dicapai oleh organisasi dalam periode waktu tertentu. Tindakan pegawai yang efektif dan efisien akan
memberikan kontribusi yang maksimal bagi organisasi apabila pegawai diarahkan oleh suatu tujuan dan sasaran organisasi. Oleh karenanya, selain memahami kinerja, dibalik kebutuhan untuk bekerja terdapat suatu harapan capaian hasil kerja yang harus dipahami oleh pegawai.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis pada BBPPKS Makassar, maka diperoleh data hasil penelitian dilihat dari dimensi/
indikator sebagai berikut:
1. Pegawai dalam menghasilkan quantity of work di elaborasi kegiatan assessment pegawai dalam peningkatan kinerja pegawai pada BBPPKS Makassar
Quantity of work dari setiap pegawai yang bekerja dalam suatu organisasi menjadi penting saat melakukan kegiatan assessment atau penilaian prestasi kerja pegawai dalam peningkatan kinerja pegawai.
Quantity of work ini digunakan untuk melihat, menilai, memantau dan menentukan berapa banyak jumlah kerja yang dapat dilakukan pegawai dalam suatu periode waktu yang telah ditentukan.
Kegiatan assessment atau penilaian kerja pegawai dalam rangka peningkatan kinerja pegawai ini untuk mengukur sejauh mana pegawai dapat menyelesaikan tanggung jawab yang diberikan kepadanya atau untuk menghitung seberapa banyak output yang dihasilkan saat proses kegiatan pemberian layanan kepada masyarakat penerima manfaat yang berupa kegiatan pelatihan/ diklat. Bentuk upaya dalam menghasilkan
quantity of work atau kuantitas kerja sesuai dengan yang diharapkan salah satunya yaitu mau tidak mau pegawai harus senantiasa melakukan tangungjawab sesuai dengan SKP (sasaran kinerja pegawai), jika tidak nanti akan berpengaruh terhadap penilaian/ assessment, baik penilaian individu maupun penilaian organisasi, selain itu juga setiap pegawai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat penerima manfaat dituntut untuk sanggup memuaskan kebutuhan penerima layanan.
Berdasarkan teori yang digunakan oleh peneliti dengan mengunakan teori assessment kinerja menurut Faustino Cardoso Gomes dalam (Parawu, 2020) dan penelitian terdahulu oleh Riski Putri Amelia, Achmad Alim Bachri, Jamaluddin dalam (Amelia et al., 2020) dilihat dari kecepatan kerja setiap pegawai pada BBPPKS Makassar. Kecepatan kerja menunjukkan sejauh mana capaian kuantitas/ banyaknya hasil kerja pegawai dalam melaksanakan tupoksinya meliputi ketepatan, kelengkapan dan kesesuaian. Selain itu quantity of work juga bisa melihat sejauh mana hasil pekerjaan yang dilakukan, upaya apa yang diusahakan untuk meningkatkan quantity of work, dan apakah upaya-upaya yang dilakukan sudah membuahkan hasil terhadap peningkatan quantity of work dalam balai. Quantity of work yang dihasilkan pegawai di BBPPKS Makassar pada program yang telah dijalankan seperti pelatihan/ diklat selalu melibatkan masyarakat penerima manfaat layanan. Masyarakat penerima layanan ini sangat berpengaruh terhadap keberhasilan capaian quantity of work dipelaksanaan program yang di telah rencakan sebelumnya.
Hal terpenting lainnya dalam melihat quantity of work pada BBPPKS Makassar adalah kepastian mendapatkan pelayanan berupa jawaban atas sebuah permintaan. Ketersediaan pegawai dalam menjawab dan menyelesaikan semua permintaan/ tuntutan layanan masyarakat penerima manfaat yang cukup baik harus didukung oleh pimpinan dengan berpedoman pada SKP (sasaran kinerja pegawai) yang telah disepakati.
Akurasi atau ketepatan jumlah output pelayanan di BBPPKS Makasar cukup baik namun terkadang juga masih terjadi ketidakakuratan dalam penyelesaian target indikator kerja yang harus direalisasikan.
Kepala BBPPKS Makassar dapat menjawab dan meyelesaikan rencana program dengan baik, dengan dibantu oleh pegawai di BBPPKS Makassar yang selalu berusaha untuk fokus dalam penyelesaian tangungjawab pekerjaan sesuai dengan tupoksi masing-masing, berusaha menjawab setiap permintaan layanan walaupun jika suatu saat ada permintaan yang tidak sesuai dengan tupoksi pegawai, pegawai akan mengarahkan ke bagian yang berwenang.
Analisis tersebut senada juga dengan pendapat Mangkunegara dalam (Nala & Nastia, 2020) menyatakan bahwa hasil kerja secara kualitas maupun kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Pemimpin kantor juga harus mampu memimpin bawahannya dengan baik, memberi motivasi, dan mampu mengarahkan para bawahannya tersebut.
Teori mengenai indikator quantity of work yang dikemukakan oleh Faustino Cardoso Gomes dalam Parawu ini sangat cocok untuk diterapkan diBalai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial Makassar karena kantor balai ini merupakan salah satu organisasi pelayanan publik (public services), yang memenuhi harapan dan memuaskan pengguna jasa layanan mengenai kinerja dalam bentuk pelatihan/ diklat yang tentu sangat dibutuhkan dan berguna untuk menilai seberapa jauh pelayanan yang dapat diberikan oleh organisasi itu. Realitas ini tidak hanya untuk proses pemenuhan harapan masyarakat terhadap layanan, namun juga untuk menjaga kesanggupan organisasi menghasilkan jumlah output sesuai dengan yang direncanakan.
2. Dalam menghasilkan quality of work pegawai di elaborasi kegiatan assessment pegawai dalam peningkatan kinerja pegawai pada BBPPKS Makassar
Berdasarkan teori yang digunakan oleh peneliti dengan mengunakan teori assessment kinerja menurut Faustino Cardoso Gomes dalam Parawu dan penelitian terdahulu oleh Riski Putri Amelia, Achmad Alim Bachri, Jamaluddin dalam (Amelia et al., 2020) dilihat dari pengetahuan dan keahlian dalam memberikan pelayaan oleh pegawai serta pelaksanan dan penyelesaian tugas. Pada kantor tersebut sudah mampu menyelesaikan tugas dengan cukup baik sesuai dengan bidang kerja/ tupoksi masing- masing. Pegawai BBPPKS Makassar selalu mendapat arahan, bimbingan dan pemimpin juga selalu memantau kerja yang dilakukan oleh pegawai
untuk mewujudkan hasil kualitas kerja yang memuaskan. Pegawai berusaha mencari jawaban atas permasalahan yang ada dan jika ada jawaban atau pelayanan yang dirasa belum memberi kepuasan terhadap penerima layanan maka pegawai berusaha untuk mencarikan solusi dengan cara bertanya kepada pegawai lain yang sekiranya dapat membantu dalam mencapai kualitas seperti yang diharapkan penerima layanan.
Hasil penelitian mengenai assessment/ penilaian kinerja pegawai pada kualitas kerja dapat dilihat bahwa pegawai dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan masyarakat penerima layanan merasa terpuaskan akan kebutuhan. Mengenai tangung jawab pekerjaan, pegawai dituntut semaksimal mungkin melaksanakan pekerjaan yang dibebankan.
Beban kerja yang dibagikan secara merata kepada pegawai dalam melaksanakan tugas dan fungsinya serta penyelesaian pekerjaan sesuai dengan tupoksi masing-masing. Kualitas capaian beban kerja yaitu cara untuk mengetahui tinggi rendahnya kinerja pegawai, yang mana dapat dilihat sejauh mana pegawai dapat menyelesaikan pekerjaan dengan kualitas atau mutu yang baik. Kualitas ini dapat dilihat dari kerapian, ketelitian kerja atau tingkat kesalahan yang dilakukan oleh pegawai dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Berdasarkan data yang diperoleh dilapangan dan dari hasil wawancara penulis bahwa kualitas yang dihasil pegawai sudah cukup baik alasannya karena masyarakat penerima manfaat layanan sudah merasa terpuaskan oleh pelayanan yang telah disediakan.
Para pegawai selalu memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan standart yang sudah ditentukan kantor/ instansi, dalam melaksanakan tupoksi mereka jika ada kesalahan pemimpin akan senantiasa mengarahkan, memantau, mengecek/ mencocokkan dan melakukan penilaian perilaku kepada masing-masing pegawai agar output mereka dapat dipertahankan maupun ditingkatkan lagi.
Hal ini juga senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Mila Muliawati Sapta Juniar Nala dan Nastia dalam (Nala & Nastia, 2020), dengan kesimpulan bahwa kualitas pekerjaan yang dihasilkan oleh para pegawai dapat dikatakan cukup baik apabila masyarakat penerima layanan menilai hasil hasil pelayanan yang diberikan dirasa memuaskan.
Selain anggapan mengenai kualitas layanan yang memuaskan, dalam menilai dan mengupayakan peningkatan quality of work dibutuhkan kehadiran sumber daya manusia yang mumpuni. Sumber daya manusia yang memiliki keahlian tersendiri dalam setiap bidang kerja masing- masing. Dengan adanya sumber daya manusia yang tepat diposisi atau kedudukan maka sebuah pelayanan akan dapat memberikan suatu solusi terkait permasalahan yang ada.
Pemilihan pegawai yang mampu menempati posisi sesuai dengan keahliannya tentu disertai dengan kemampuan pegawai dalam penyesuaian kebutuhan yang telah diharapkan. Pegawai diharapkan mampu menyesuaikan dirinya dengan keperluan masyarakat penerima layanan
entah melalui penugasan pendidikan oleh kantor atau pengembangan diri secara tersendiri. Pengembangan ini juga akan berdampak terhadap kualitas kerja pegawai karenanya yang mana tugas pokok dan fungsi pekerjaan dapat dipahami secara baik oleh para pegawai dan selain itu juga, akan mendapatkan penilaian tersendiri dari masyarakat baik penilaian individu maupun penilaian organisasi.
Senada dengan yang disimpulkan oleh Riski Putri Amelia, Achmad Alim Bachri, Jamaluddin dalam (Amelia et al., 2020) hasil kerja pegawai berdasarkan kualitas pekerjaan yang diselesaikan bergantung pada pemahaman para pegawai dengan tugas pokok dan fungsinya. Ini akan berpengaruh terhadap penyelesaian pekerjaan tersebut. Standar operasional pelaksanaan (SOP) sebuah kantor yang didalamnya mencakup uraian tugas dari masing-masing pegawai harus dipahami dengan baik agar harapan mengenai kualitas dapat dicapai secara memuaskan.
Teori mengenai indikator quality of work yang dikemukakan oleh Faustino Cardoso Gomes dalam Parawu ini sangat cocok untuk diterapkan diBalai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial Makassar karena kantor balai diharapkan memiliki kualitas sesuai dengan perkembangan kebutuhan pelayanan terutama untuk kualitas pelatihan/diklat. Dalam memahami dan mengusai kualitas kinerja, teori ini berupaya menjelaskan dan menjabarkan perlunya menjaga kualitas didalam melakukan pekerjaan. Tantangan mengenai perkembangan permintaan layanan mengharuskan organisasi atau perusahaan
memerhatikan semua kualitas output yang dihasilkan. Realitas ini menjadikan keharusan organisasi penyesuaian kualitas maupun kemampuan diri dalam menghadapi tantangan pelayanan.
3. Penerapan job knowledge di elaborasi kegiatan assessment pegawai dalam pe ningkatan kinerja pegawai pada BBPPKS Makassar
Menurut Gomes (Parawu, 2020) menyatakan bahwa dalam melakukan penilaian terhadap kinerja pegawai/ karyawan yang berdasarkan deskripsi perilaku yang spesifik, maka ada beberapa dimensi atau kriteria yang perlu mendapat perhatian salah satunya yaitu job knowledge. Luasnya pengetahuan mengenai pekerjaan dan ketrampilan yang dimiliki selama bekerja merupakan unsur terpenting yang harus diperhatikan dalam mencapai keberhasilan pelayanan organisasi. Dalam suatu kantor biasanya ditemui kendala pegawai yaitu mengenai kompetensi yang dimiliki, bahwa kompetensi yang dimiliki menjadi kendala tersendiri bagi pegawai khususnya pegawai tetap/ organik, mengenai kurang mampu menguasai teknologi sehingga pegawai masih mengunakan pegawai kontrak yang lebih kompeten dibidang ilmu teknologi. Pelaksanaan tanggungjawab kerja dari pegawai untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan maksimal dibidang pelayanan masyarakat terutama pelatihan/diklat serta assessment atau penilaian tentang capaian target kerja yang telah dan akan dilaksanakan sehingga pemahaman kerja pegawai dan intruksi pimpinan mengenai pekerjan yang dilaksanakan akan dapat dijalankan dengan baik.
Hasil observasi peneliti, Pegawai di BBPPKS Makassar sudah sesuai penempatan bidang kerja masing-masing, penempatan pegawai telah sesuai dengan kualifikasi tanggung jawab dari pekerjaan masing-masing.
Mereka ditempatkan dijabatan mereka masing-masing karena sudah sesuai formasi jabatan, latar belakang pendidikan, dan mereka juga sudah mengikuti beberapa pelatihan. Dalam pelatihan tersebut, pengetahuan yang bersifat inisiatif pegawai ini dikembangkan setiap tahunnya dengan mengikuti diklat-diklat maupun pelatihan yang jumlah jam pelatihannya sudah ditentukan oleh kantor yaitu minimal 20JP (jam pelatihan) pertahun.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Riski Putri Amelia, Achmad Alim Bachri, Jamaluddin dalam (Amelia et al., 2020) dalam penyediaan pelayanan yang baik sikap dari para pemimpin seperti berkomitmen dalam memimpin juga memengaruhi kinerja para pegawai. Para pemimpin diharapkan memberikan kesempatan dan dukungan terhadap pengembangan wawasan pegawainya, sehingga dengan demikian tentunya akan meningkatkan capaian kinerja sumber daya manusia yang ada.
Mengenai teori indikator job knowledge yang dikemukakan oleh Faustino Cardoso Gomes dalam Parawu ini cocok untuk diterapkan diBalai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial Makassar karena kantor balai diharapkan memiliki pegawai yang mumpuni dalam setiap pekerjaannya. Pegawai dalam pelaksanaan tanggung jawab kerjanya selalu membutuhkan pengetahuan dan keterampilan mengenai pekerjaan yang diemban. Semakin rumit dan banyaknya permintaan layanan
merupakan tantangan yang semakin hari dihadapi oleh perusahaan, sehingga mengharuskan organisasi untuk memantau keahlian para pegawainya. Kenyataan ini menjadi mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan pelayanan publik (publik service).
4. Penerapan creativeness di elaborasi kegiatan assessment pegawai dalam peningkatan kinerja pegawai pada BBPPKS Makassar
Menurut Gomes dalam (Parawu, 2020) menyatakan bahwa dalam melakukan assessment/ penilaian terhadap kinerja pegawai mengenai creativeness yang berarti keaslian gagasan yang dimunculkan dan beberapa tindakan untuk menyelesaikan persoalan yang timbul merupakan unsur terpenting dalam menjawab setiap tantangan yang ada. Gagasan yang kreatif dimulai dari berfikir untuk menemukan ide. Ide tersebut bisa saja suatu gagasan yang sederhana namun dapat memunculkan suatu solusi yang tepat bagi suatu permasalahan. Ini seperti yang diungkapkan oleh Mathis dan Jackson dalam (Amelia et al., 2020) kemampuan individual seorang pegawai itu mencakup bakat, minat dan faktor kepribadian. Untuk tingkat keterampilan merupakan bahan mentah yang dimiliki oleh seseorang berupa pengetahuan, pemahaman, kemampuan, kecakapan interpersonal dan kecakapan teknis. Dengan demikian, kemungkinan seorang pegawai mempunyai kinerja yang baik, jika kinerja pegawai tersebut memiliki tingkat keterampilan baik, pegawai tersebut akan menghasilkan capaian kinerja yang baik pula.
Dapat dikatakan bahwa untuk memajukan sebuah organisasi tentunya setiap pegawai dituntut memiliki ide-ide yang bersifat kreatif dan ide tersebut dapat disesuaikan dengan kriteria penilaian kebutuhan suatu inovasi dengan perkembangan teknologi dan harus disesuaikan sesuai dengan kebutuhan yang ada di BBPPKS Makassar.
Kemampuan dalam memunculkan suatu gagasan seorang pegawai dalam menyelesaikan tugas yang telah ditentukan sehingga mencapai daya guna dan hasil yang maksimal. Selanjutnya, seorang pegawai juga harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, mereka yang gaptek (gagap teknologi) diharuskan untuk mengembangkan kemampuan diri entah melalui pelatihan-pelatihan, media informasi seperti internet/
belajar dari anak-anak milenial sehingga pegawai dapat menempatkan diri sesuai dengan gagasan yang mereka kemukakan serta para pegawai mampu menghadapi tantangan dengan penuh tanggungjawab serta fasih berkomunikasi dengan baik mengenai pelayanan dengan tujuan untuk tetap menjaga produktifitas saat kerja. Disimpulkan dari observasi yang telah dilakukan oleh peneliti, didalam bekerja para pegawai BBPPKS Makassar sudah mampu memunculkan gagasan/ ide kreatif yang dapat memberikan solusi terkait permasalahan yang datang dalam melaksanakan pekerjaan sesuai dengan tugas dan tanggungjawab, dan juga adanya kesempatan untuk pengembangan diri seperti tugas belajar maupun pelatihan sesuai dengan ketentuan 20JP (Jam Pelatihan) pertahun yang mampu mengembangkan dan menyalurkan creativenes masing-masing pegawai.
Sehingga terjadi ketidakbenaran jika para pegawai organisasi tidak dapat menyelesaikan permasalahan dengan cara tindakan seperti pemberian jawaban atau solusi mengenai permasalahan yang datang.
Mengenai teori indikator creativeness yang dikemukakan oleh Faustino Cardoso Gomes dalam Parawu ini juga sesuai diterapkan untuk melakukan assessment pegawai alasannya dalam setiap pertemuan baik saat rapat maupun menghadapi permasalahan pegawai selalu ditunjukan untuk menghasilkan gagasan yang baik. Gagasan-gagasan ini diharapkan mampu menghasilkan solusi bagi permasalahan yang ada. Hal inilah yang menjadikan pegawai harus memiliki creativeness yang kreatif.
5. Cooperation pegawai di elaborasi kegiatan assessment pegawai dalam peningkatan kinerja pegawai pada BBPPKS Makassar
Cooperation dari setiap pegawai yang bekerja dalam suatu organisasi menjadi hal yang penting untuk meningkatkan kinerja pegawai.
Cooperation ini merupakan kesediaan pegawai untuk bekerja sama dengan orang lain sesama anggota organisasi. Bentuk kerjasama ini meliputi kesanggupan pegawai melakukan kerjasama dalam memperkenalkan visi misi kantor, sosialisasi tupoksi, orientasi program kegiatan, serta partisipasi yang melibatkan stakeholder dan masyarakat penerima manfaaat layanan sehingga terciptakan koordinasi kerja seperti yang telah diharapkan.
Suatu tindakan peyesuaian diri seorang pegawai yang bertujuan untuk bekerja sama dalam menjalankan pelayanan masyarakat merupakan suatu dinamika yang berkaitan dengan sosialisasi visi, misi, tupoksi, progam dan kegiatan suatu organisasi. Kerjasama dengan sesama anggota organisasi sangat ditentukan pula oleh kemampuan pegawai dalam menyesuaikan diri baik penyesuaian diri dengan lingkungan maupun dengan perkembangan kebutuhan yang diperlukan. Untuk mengembangkan dan melakukan bentuk komunikasi mengenai pelayanan ataupun mengenai penyesuaian lingkungan maka diperlukan suatu kerja sama antar sesama pegawai yaitu bertukan informasi, saling bersosialisasi, dan saling berpartisipasi disetiap kegiatan lainnya. Wujud dari cooperation pegawai yang dapat dilakukan berupa keharusan pegawai dalam menjalankan pekerjaannya untuk menciptakan, menjaga keharmonisan kerja melalui aktivitas tolong menolong/ sharing ketika pelayanan berlangsung, saling menyampaikan/ berbagi informasi, saling menghormati terhadap gagasan saat pemberian jawaban atas permasalahan dan selalu bersikap toleransi dalam melayani penerima manfaat layanan baik secara internal maupun eksternal dalam bidang pelayanan pada BBPPKS Makassar.
Berdasarkan pembahasan diatas, hal ini didukung oleh teori dan konsep terkait pentingnya cooperation dalam penyelesaian kinerja pegawai sesuai tugas pokok dan fungsinya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat penerima manfaat yang datang untuk pelatihan, diklat
atau permintaan kebutuhan yang lain. Teori yang menjelaskan tentang pentingnya cooperation ini dikemukakan oleh Gomes dan juristo dalam (Pujiwidodo, 2016), Gomes dan Juristo mengatakan dan menyimpulkan bahwa kerjasama tim sangat berkaitan dengan hal-hal baru yang telah ditemukan terkait dengan kepuasan kerja. Artinya pegawai dalam melakukan kerjasama pasti akan dapat menemukan satu atau lebih jawaban atas permasalahan berupa solusi karena telah bertukar/ sharing pendapat dan pemikiran.
Keberhaasilan kinerja dari pegawai BBPPKS Makassar dikatakan tidak dihasilkan dari kerja secara sendiri, melainkan bekerja secara bersama-sama/ gotong royong/ saling berkaitan. Kemampuan dan pengetahuan pegawai tidak selamanya sama, ditemukan ada perbedaan antara pegawai berpengalaman dalam menjalankan pekerjaan dengan yang belum berpengalaman. Pegawai yang berpengalaman dapat dilihat dari lamannya dia berkarier sesuai masa kerjanya, sikap penguasaan dan pemahaman terhadap suatu pekerjaan, tingkat profesionalisme dan kehandalan dalam melayani pelayanan. Dengan adanya perbedaan tersebut itulah pegawai menjalankan, menyelesaikan tugas diharuskan mengikuti aturan sesuai sistem untuk saling bekerja sama dan kerjasama tersebut dilakukan dengan profesional berdasarkan keahlian masing-masing pegawai serta dijadikan menjadi suatu kesatuan untuk memudahkan semua proses pekerjaan pada BBPPKS Makassar sehingga dapat menyebabkan koordinasi kerja yang baik.
Teori mengenai indikator cooperation yang dikemukakan oleh Faustino Cardoso Gomes dalam Parawu ini cocok untuk diterapkan diBalai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial Makassar karena kantor balai dalam penyediaan pelayanan selalu menggunakan sistem yang menuntut pegawai kerja sama sehingga sebagai pegawai yang memberikan layanan dapat menciptakan koordinasi kerja yang cukup baik.
Pemantauan sikap dan perilaku pegawai ini tidak lain untuk mempertahankan kekompakan, mempercepat penyelesaian pekerjaan dan juga untuk mempertahankan maupun meningkatkan hasil keluaran/output.
6. Dependability pegawai di elaborasi kegiatan assessment pegawai dalam peningkatan kinerja pegawai pada BBPPKS Makassar
Berdasarkan teori yang digunakan oleh peneliti dengan mengunakan teori assessment pegawai oleh Gomes dalam (Parawu, 2020) dan penelitian terdahulu oleh Mila Muliawati Sapta Juniar Nala dan Nastia dalam (Nala & Nastia, 2020) dapat dilihat sikap untuk bertindak sesuai dengan ketentuan atau norma yang berlaku dilingkungan organisasi seperti dari sikap kesadaran dan kepercayaan dalam hal kehadiran. Masing- masing pegawai dalam penyelesaian tugas, sikap kesadaran akan tanggung jawab harus diperhatikan karena hal inilah yang menentukan suatu organisasi dapat dikategorikan mampu menghasilkan output dengan tepat waktu dan baik atau tidak.
Sikap kesadaran dan kepercayaan dalam hal kehadiran ini menjadi penting dalam memberikan pelayanan yang cepat dan tepat misalnya keseriusan dalam memberikan pelayanan yang baik, bekerja dengan serius dan penuh empati yang tinggi, berupaya mencapai target kerja yang diharapkan. Ketepatan waktu sangat berguna dalam organisasi, kerena menyangkut kepercayaan dari pengguna jasa layanan. Menyelesaikan kegiatan pelatihan atau kegiatan pelayanan yang lain di BBPPKS Makassar untuk menghasilkan kinerja yang baik harus bisa menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Waktu penyelesaian permintaan jasa layanan di BBPPKS Makassar telah berjalan dan terlaksana dengan baik sesuai dengan standart pelayanan seharusnya, permintaan layanan dipenuhi oleh pegawai dan telah diselesaikan sesuai dengan prosedur. Hal ini tidak lain karena sikap dan kesadaran masing-masing pegawai mengenai aturan jam keluar masuk kerja terutama dalam hal kehadiran.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti, pada pelayanan di BBPPKS Makassar setiap pegawai harus mengikuti standart aturan ketepatan waktu datang yang telah ditentukan oleh kantor, para pegawai terkait dengan sikap dan kesadaran dalam hal kehadiran bekerja mereka semua sudah mencerminkan sikap dan kesadaran yang cukup baik.
Selain itu, dari hasil wawancara dan observasi yang dilakukan oleh peneliti dengan penerima manfaat layanan, dapat disimpulkan bahwa dimensi dependability para pegawai bisa dikatakan cukup baik dan efektif, para penerima manfaat mengatakan bahwa sewaktu mengikuti pelatihan