• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan Hasil Penelitian

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan Hasil Penelitian

nomor 2 yang hanya berjarak beberapa langkah dari rumahnya. Ia membawa gelisa ibu dalam doa-doanya. Hal tersebut tergambar dalam petikan berikut.

“Aku membawa gelisah Emma dalam shalatku. Aku tafakkur berlama-lama di masjid. Mataku terbang di permmukaan karpet berwarna hijau tua yang melapisi masjid besar itu. Masjid Raya, yang dibangun menjadi lebih besar oleh campur tangan Bapak dan kawan-kawan pedagang. Aku selalu merasakan mesjid ini bagai rumahku. Karpet hijau tua itu bagai kerabat yang mengenal baik diriku. Kumaki diriku yang kurang cakap menebak isi kepala Emma. Apa yang bisa kuterjemahkan dari keterangannya?”

(Alberthiene Endah, 2013: 16)

Dari kutipan tersebut tergambar jelas tentang ketergantungan hamba dengan penciptanya. Seluruh masalah Jusuf bermuara pada doa- doa yang ia panjatkan dalam shalatnya. Di situlah tumpuan terakhir segalah permasalahan hidup dilabuhkan.

Dari uraian di atas dapat dikemukakan bahwa dalam novel Athirah, terefleksikan tentang kehidupan sosial budaya masyarakat.

Beberapa diantara kehidupan sosial budaya yang terefleksikan adalah maut, cinta, tragedi, harapan, pengabdian, dan hal-hal transendental.

Tidak hanya menyodorkan kenyataan yang ada dalam masyarakat saja tetapi juga mengolahnya sesuai dengan pandangan-pandangannya.

analisis unsur intrinsik dari segi kuantitasnya, novel Athirah mempunyai alur jamak (plot dan sub-sub plot) yaitu mengisahkan pengalaman hidup, permasalahan, dan konflik yang dihadapi oleh lebih dari seorang tokoh.

Ada urutan peristiwa atau kejadian yang dihubungkan oleh hubungan sebab akibat. Peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan peristiwa yang lainnya (Stanton dalam Nurgiyantoro, 1995: 119). Alur utama dalam novel ini pusat penceritaannya terletak pada tokoh sentral, yaitu Athirah. Sedangkan alur tambahan pada novel ini pusat penceritaanya terletak pada tokoh bawahan, yaitu Jusuf, Mufidah, Haji Kalla, Daeng Rahmat, Bu Mela, Pak Rudi, Abdullah, Abduh, dan Anwar.

Sedangkan dari segi kualitasnya, novel Athirah menggunakan alur longgar, yaitu hubungan antar peristiwa dalam novel ini tidak erat benar sehingga memiliki kemungkinan untuk disisipi alur lain.

Karakter dari masing-masing tokoh dalam novel Athira digambarkan secara analitik yaitu pengarang menceritakan secara rinci watak tokoh-tokohnya. Selain itu, penggambaran karakter tokoh juga diungkapkan secara dramatik yaitu pengarang tidak secara langsung menggambarkan watak tokoh-tokohnya, tetapi menggambarkan tokoh- tokohnya melalui: pelukisan tempat dan lingkungan sang tokoh, mengemukakan atau menampilkan dialog tokoh yang satu dengan tokoh yang lain, dan menceritakan perbuatan dan tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa (Semi, 1993:40).

Dalam novel Athirah , latar menginformasikan tentang situasi baik tempat, waktu, maupun suasana cerita apa adanya (Semi 1993: 46). Latar tempat yang digambarkan oleh pengarang dalam novel ini sebagian besar bertempat di Makassar dan beberapa tempat lain di Bone, Bantimurung, dan Sengkang. Latar waktu secara rinci diceritakan berawal dari tahun 1955 saat itu Athira melihat adanya gelagat perubahan pada suaminya hingga berakhir pada saat Haji Kalla meninggal pada bulan april 1982.

Sedangkan latar suasana yang digambarkan pengarang dalam nove ini adalah latar sosial budaya masyarakat Bugis yang majemuk, dengan kondisi latar belakang pendidikan, profesi dan tingkat ekonomi yang berbeda. Di sini latar berfungsi sebagai pendukung alur dan perwatakan.

Gambaran situasi yang tepat akan membantu memperjelas peristiwa yang sedang di ceritakan.

Hubungan antara tema dan amanat dalam novel Athirah sangat erat. Tema merupakan ide sentral dalam cerita sedangkan amanat adalah penjelas ide tersebut (Semi, 1993: 42). Dalam novel Athirah memiliki tema jamak, artinya dalam novel ini memiliki lebih dari satu tema. Tema dalam novel ini terdiri dari satu tema mayor dan beberapa tema minor. Dengan demikian amanat dalam novel ini hakikatnya merupakan penjelasan tema- tema yang ada. Setiap tema memiliki pesan moral tersendiri dan itulah yang menjadi amanat dalam novel ini.

Dengan pendekatan sosiologi sastra, penelitian terhadap novel Athirah difokuskan pada masalah kehidupan sosial budaya masyarakat

Bugis yang terefleksikan dalam novel ini meliputi kematian, cinta, tragedi, harapan, pengabdian, dan hal-hal transendental. Dari hasil analisis data diungkapkan bahwa kematian adalah sesuatu yang tidak dapat diduga kedatangannya. Penyebab terjadinya kematian pun bermacam-macam.

Kematian bisa terjadi karena usia yang sudah tua, dibunuh, kecelakaan, ataupun karena penyakit. Oleh karena itu kita harus selalu siap untuk menerima kematian ini (Sulaeman 1998:87).

Masalah cinta juga terefleksikan dalam novel Athirah. Kisah cinta dua pasang tokoh yaitu kisah cinta Athirah dengan Haji Kalla dan kisah cinta Mufidah dengan Jusuf cukup banyak memberi pesan moral. Cinta merupakan salah satu permasalahan kehidupan yang sangat kompleks.

Hal ini terlihat dari banyaknya permasalahan-permasalahan hidup yang berhubungan dengan cinta (Muhammad 1998: 29). Oleh karena itu, dalam mencintai harus didasari dengan tulus dan ikhlas. sebab hanya dengan ketulusan, cinta akan tetap kokoh. Ketulusan cinta yang diperakan oleh Athirah kepada keluarganya membuat keluarga ini tetap eksis hingga akhir hayatnya, meskipun keluarga ini dirundung dengan prahara poligami. Demikian halnya ketulusan cinta yang diperagakan oleh Jusuf, berkat pelajaran yang di dapat dari pengalaman orang tuanya ia dapat mempertahankan keutuhan keluargnya.

Tragedi adalah masalah kehidupan yang juga tereflesikan dalam novel Athirah. Setidaknya ada tiga tragedi yang paling mengesankan dalam novel ini yaitu saat Haji Kalla memilih untuk berpoligami, saat

perahu yang ditumpangi Athirah dan anak-anaknya terbalik saat pulang berwisata dari sebuah pulau kecil yang tidak jauh dari Pantai Losari, dan tragedi penolakan yang diterima Jusuf ketika pertama kali mengungkapkan perasaanya kepada Mufidah. Respon penulis terhadap tragedi adalah bahwa tragedi adalah suatu kejadian yang menyedihkan dan tidak dapat dihindarkan. Tragedi yang menimpa seseorang akan memengaruhi kondisi kejiwaannya. Oleh karena itu, dalam menyikapi tragedi harus dibarengi dengan keimanan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan (Sulaeman: 1989: 66).

Masalah harapan, adalah hal yang juga terefleksikan dalam novel Athirah. Harapan besar Jusuf untuk menjadikan Mufidah sebagai pendamping hidupnya harus melewati perjuangan yang sangat luar biasa.

Demikan halnya harapan Haji Kalla kepada Jusuf untuk meneruskan usahanya. Lebih awal Jusuf sudah ditempa dengan kiat-kiat memajukan usaha. Setiap manusia selalu memiliki harapan yang terbaik untuk dirinya.

Namun, kemampuan manusia hanya terbatas pada harapan, yang menjadi penentu adalah Allah, Swt. Oleh karena itu, manusia harus berupaya maksimal untuk mewujudkan harapannya. Setelah ikhtiarnya sempurna baru menyerahkan segalanya kepada Sang penentu takdir (Sulaeman: 1989: 82).

Dalam novel Athirah, masalah pengabdian terefleksikan pada pengabdianJusuf mendampingi ibu dalam memimpin saudara-saudaranya karena ayahnya memilih untuk berpoligami adalah sebuah tanggung

jawab besar. Hal ini sudah dilakoni Jusuf meskipun usianya pada saat itu baru 14 tahun, usia yang masih tergolong anak-anak. Inilah awal Jusuf ditempa dengan sikap tanggung jawab yang besar. Demikian halnya pengabdian Athirah kepada suaminya. Meskipun ia dimadu, tetapi pengabdian dan penghargaan kepada suaminya tetap dijalankan dengan ikhlas. Pengabdian terhadap keluarga juga dilakukan Mufidah dalam membantu perekonomian keluarganya dengan kuliah sambil bekerja.

Masalah pengabdian memang membutuhkan pengorbanan. Oleh karena itu, pengabdian harus dilaksanakan secara penuh dan ikhlas. Pengabdian yang tidak dilakukan secara penuh dan ikhlas akan membuat kekecewaan (Sulaeman: 1989: 93).

Dalam novel Athirah juga terrefleksikan hal-hal transendental.

Secara bahasa dalam istilah filsafat transendental berarti suatu yang tidak dialami tapi dapat diketahui, suatu pengalaman yang terbebas pada fenomena, namun berada dalam gugusan pengetahuan seseorang.

Menonjolkan hal-hal yang bersifat kerohanian, sukar dipahami, gaib, dan abstrak (Moeliono, 1990: 959). Dalam istilah agama diartikan suatu pengalaman mistik atau supernatural karenanya berada diluar jangkauan dunia materi. Komunikasi transendental memang tidak pernah dibahas secara luas, cukup dikatakan bahwa komunikasi transendental adalah komunikasi antara manusia dengan Tuhan, dan karenanya masuk dalam bidang agama. Kepercayaan terhadap Tuhan telah membantu memberi semangat manusia dalam menjalankan tugasnya sehari-hari. Menerima

nasib yang tidak baik, bahkan berusaha mengatasi kesukaran-kesukaran yang banyak dan berusaha mengakhirinya. Dalam kehidupan, manusia tidak terlepas dari hal-hal yang bersifat kerohanian.

108

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Setelah melakukan analisis terhadap novel Athirah karya Alberthiene Endah, maka penulis dapat merumuskan kesimpulan bahwa berdasarkan strukturnya, novel Athirah memperlihatkan adanya hubungan antarunsur yang membangun karya sastra dari dalam karya sastra tersebut. Rangkaian kejadian dalam novel Athirah yang disusun menggunakan alur kronologis dan pada tahap-tahap tertentu cerita disusun dengan sorot balik (flashback) membutuhkan para pelaku yang terlibat di dalamnya. Peristiwa demi peristiwa yang dialami tokoh-tokoh yang ada dalam novel Athirah ini membentuk sebuah jalinan peristiwa sehingga terbentuklah alur cerita. Di sinilah letak keterjalinan antara alur dan penokohan karena alur tidak akan terbentuk tanpa adanya tokoh yang diceritakan dan bergerak dalam rangkaian ceritanya. Dalam novel Athirah ini, latar tempat mempunyai peran penting dalam penyusunan alur cerita. Alur cerita terbentuk karena peristiwa-peristiwa yang dialami oleh tokoh-tokohnya dan tokoh-tokoh itu dihubungkan oleh latar tempat awal mereka bertemu yaitu di SMA Negeri 3 Makassar. Dari sekolah inilah peristiwa demi peristiwa yang dialami oleh tokoh-tokohnya diceritakan. Di sinilah letak keterjalinan antara latar dengan alur dan penokohan. Tema yang merupakan gagasan pengarang diwujudkan dalam jalinan alur,

latar, dan penokohan sehingga amanat yang ingin disampaikan pengarang dapat sampai kepada pembaca. Jalinan peristiwa yang terbentuk tersebut dijadikan langkah awal untuk pembahasan selanjutnya pada analisis sosiologi sastra.

Sebagai sebuah karya sastra, novel Athirah merupakan refleksi kehidupan, yaitu pantulan respon pengarang tentang kehidupan sosial budaya. Latar sosial budaya dalam novel ini adalah kehidupan sosial budaya masyarakat Bugis. Kehidupan sosial budaya yang tercermin dalam novel ini meliputi maut, cinta, tragedi, harapan, pengabdian, dan hal-hal transendental. Persoalan maut dilukiskan dalam novel Athirah ini dengan dua peristiwa yaitu saat peristiwa kematian Athirah dan kemudian disusul oleh sang suami, Haji Kalla yang hanya berselang tiga bulan dari kematian Athirah. Permasalahan cinta yang terefleksikan dalam novel Athirah ini adalah cinta yang diartikan sebagai keinginan untuk berkorban, melindungi, serta mengayomi orang yang dicintai. Perwujudan cinta dalam bentuk persaudaraan yang saling mendukung dan membantu sebagaimana kisah cinta Jusuf dan Mufidah. Tragedi yang terlukis alam novel Athirah ini di antaranya adalah tragedi yang menimpa Athirah dan anak-anak atas perkawinan kedua yang dilakukan oleh suaminya. Tragedi selanjutnya adalah saat perahu yang ditumpangi Athirah dan anak- anaknya terbalik saat pulang berwisata dari sebuah pulau kecil tidak jauh dari Pantai Losari. Kejadian itu membuat panik Jusuf. Respon penulis terhadap tragedi adalah bahwa tragedi adalah suatu kejadian yang

menyedihkan dan tidak dapat dihindarkan. Tragedi yang menimpa seseorang akan memengaruhi kondisi kejiwaannya. Oleh karena itu, dalam menyikapi tragedi harus betul-betul dibarengi dengan keimanan agar tidak tejadi hal-hal yang tidak diinginkan. Harapan yang dimiliki oleh manusia dilukiskan dalam novel Athirah lewat harapan para tokohnya. Di antaranya adalah harapan Jusuf yang sangat besar untuk menjadikan Mufidah sebagai pendamping hidup. Selanjutnya adalah harapan Haji Kalla kepada Jusuf untuk meneruskan usaha niaga yang telah dirintis dengan susah payah. bahwa setiap manusia selalu memiliki harapan yang terbaik untuk dirinya. Namun, kemampuan manusia hanya terbatas pada harapan, yang menjadi penentu adalah Allah, Swt. Oleh karena itu, manusia harus berupaya maksimal untuk mewujudkan harapannya.

Setelah ikhtiarnya sempurna baru menyerahkan segalanya kepada Sang penentu takdir. Dalam novel Athirah tercermin beberapa peristiwa yang menggambarkan pengabdian manusia. Pengabdian terhadap terhadap keluarga yang diperagakan oleh Jusuf mendampingi ibunya dalam memimpin saudara-saudaranya karena ayahnya memiliki rumah tangga yang kedua. Selain itu, pengabdian yang tulus juga di tunjukkan oleh Athirah kepada suaminya meskipun dalam kondisi dimadu. Sedangkan hal-hal transendental yang terefleksi dalam novel ini bahwa manusia tidak terlepas dari hal-hal yang bersifat kerohanian. Hal ini juga tercermin dalam novel Athirah. Hubungan antara manusia dengan Tuhannya terlihat pada kebiasaan Haji Kalla dan Jusuf melaksanakan Shalat di Mesjid

Raya, bahkan oleh Jusuf menganggap bahwa Masjid Raya adalah rumah keduanya. Di tempat ini ia selalu mengadu dan menumpahkan doa- doanya.

B. Saran

Hal-hal yang perlu penulis sampaikan sebagai saran terhadap pembaca antara lain:

1. Novel Athirah adalah nove berlatar belakang lokal Sulawesi Selatan yang ditulis dan diterbitkan oleh penerbit nasional, ini perlu dibaca karena novel ini mengetengahkan bagaimana besarnya pengaruh seorang ibu dalam membentuk karakter anak. Aneka nasihat kehidupan yang juga disajikan dalam buku ini.

2. Ada baiknya dilakukan penelitian lanjutan terhadap novel Athirah, tentunya dengan teori, pendekatan, dan metode yang berbeda sehingga dapat memberikan variasi dalam khasanah penelitian sastra Indonesia.

3. Novel ini sarat dengan nilai pendidikan atau edukasi sehingga penelitian lanjutan terhadap novel ini disarankan menggunakan pendekatan yang berkaitan dengan nilai edukasi.

112

Andriani Yelmi. 2011. Perubahan Sosial dalam Novel Negeri Perempuan Karya Wisran Hadi. Padang: Universitas Andalas.

Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Endah, Alberthiene. 2013. Athirah. Jakarta: Noura Books.

Esten, Mursal. 1989. Kesusastraan: Pengantar Teori dan Sejarah.

Bandung: Angkasa.

Faruk, HT. 1994. Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Jassin, HB. 1985. Tifa Penyiar dan Daerahnya. Jakarta: Gunung Agung.

Junaso, Shintya. 2008. Refleksi Kaum Marginal dalam Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata. Semarang: Balai Bahasa Jawa Tengah.

Junus, Umar. 1983. Resepsi Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta:

Gramedia.

Luxemburg, J van. 1984. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia.

Moeliono, Anton M dkk 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:

Balai Pustaka.

Moleong, L.J. 1994. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Muhammad, Abdul Kadir. 1988. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Fajar Agung.

Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yokyakarta: Gadjah Mada University Press.

Pramudya, Ardiyonsih. 2012. Problem Sosial Novel Orang-orang Proyek Karya Amad Tohari. Surakarta: Univesitas Sebelas Maret.

Santosa, Puji. 1993. Ancangan Semiotika dan Pengkajian Sastra.

Bandung: Angkasa.

113

Sayuti, Suminto A. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta:

Gama Media.

Semi, M. Atar. 1984. Kritik Sastra. Bandung: Angkasa.

. 1993. Anatomi Sastra. Bandung: Angkasa.

Soekanto, Sarjono. 1981. Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: Universitas Indonesia.

Subroto, 1992. Penelitian Kwalitatif. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sudjiman, Panutti. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.

Sulaeman, Munandar. 1998. Ilmu Budaya Dasar: Suatu Pengantar.

Bandung: Refika Aditama.

Sumardjo, Jakob. 1982. Masyarakat dan Sastra Indonesia. Yogyakarta:

Nur Cahaya.

Syani, Abdul. 1993. Sosiologi dan Perubahan Masyarakat. Jakarta:

Pustaka Jaya.

Tarigan, Henry G. 1998. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.

Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta:

Pustaka Jaya.

Wallek, Rene & Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan (Terjemahan Melani Budianta). Jakarta: Gramedia.

Waluyo, Herman J. 1994. Pengkajian Cerita Fiksi. Surakarta: UNS Press.

115

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran 1

SINOPSIS NOVEL “ATHIRAH”

ATHIRAH

Berawal sejak tahun 1955, sebuah percakapan sederhana yang membawa perubahan besar dalam hidup kami. Itulah kali pertama aku (Jusuf) melihat ibuku (Athirah) disakiti dunia. Ada perasaan tidak enak yang hadir sebagai pertanda. Ibuku, perempuan paling tentram yang aku kenal, mendadak mengalirkan gelombang gelisah. “Ayahmu (Haji Kalla) aneh belakangan ini, Jusuf. Kau lihat gerak-geriknya. Ia menyisir rambutnya hampir setiap jam.Memakai krim rambut berulang-ulang hingga wanginya mencolok. Sering keluar tanpa kopiah.” Aku tercenung awal percakapan yang aku belum kumengerti arahnya. Selanjutnya kulihat wajahnya membatu. Matanya lurus terhunus ke depan. Aku mengenal hati emma. Ia tak pernah membiarkan kulitnya membiasakan emosi sedikit pun. Ini adalah kali pertama aku melihat rona keberatan di wajahnya.

“Jika ada perubahan bapak, apakah itu sesuatu yang perlu dikhawatirkan, Emma (Athirah)?” Aku bereaksi sopan. Kupikir, ada hal yang perlu kupahami dari perempuan. Bagaimana mereka mengelolah

kegelisahan. Emma tak bicara. Beberapa detik kemudian wajahnya melembut.

Percakapan dengan Emma siang itu adalah awal dari perjalan batinyang tak pernah kuduga akan datang pada hidupku. Aku membawa gelisa Emma dalam salatku. Aku tafakkur berlama-lama di masjid. Aku tak pernah membayangkan ada sesuatu yang buruk di rumahku. Seharusnya rumahku adalah pelabuhan damai. Tak pernah ada penjelasan dari Emma tentang apa yang ia gelisahkansetelah percakapan yang membingungkan aku.

Banyak di antara kita, khususnya orang Bugis Makassar mengenal sosok Athirah hanya sebagai ibu dari Pak Jusuf Kalla, di mana padanya beliau mengabadaikan namanya di salah satu sekolah yang terkemuka di kota Makassar. Dari bapak, Pak Jusuf Kalla belajar tentang perdagangan, kegigihan, Kemandirian, dan kejujuran. Tapi banyak yang tidak pernah tau dari Emma pak Jusuf Kalla belajar arti sebuah kesetiaan, keikhlasan dan rasa tanggung jawab.

Sosok seorang ibu sangat tegar mengetahui suaminya menikah lagi dan memilih tinggal di rumah keduanya. Mengharuskan dia harus lebih mandiri, mengasuh ke sepuluh anaknya menjadi ibu sekaligus sebagai bapak untuk mereka. Mengingat bapaknya telah memiliki keluarga baru lagi.

Berbagai gejolak rumah tangga yang harus dihadapinya, bersama Pak Jusuf tanggung jawab dibebankan oleh bapaknya menjaga Emma dan adik-adiknya. Pada umur masih sangat mudahnya tugas itu harus dia jalankan yaitu di umur 16 tahun. Hanya dengan Jusuf, Emma Athirah menentramkan keadaan rumah bahwa semua baik-baik saja ada bapak atau tak ada bapak. Emma Athirah sanggat tangguh, keadaan mengharuskan beliau meredam emosi hati melanjutkan hidup dengan separuh hati yang hilang.

Emma Athirah dengan pengenalannya tentang kain sutra yang dia dapat dari Emma Kerra yaitu ibunya dari kecil, mewujudkan impiannya dengan berbisnis kain sutra. Rumah di Jalan Andalas diubahnya menjadi butik kain sutra. Tak ada papan terpasang di depan rumah. Semuanya dari mulut ke mulut ibu Athirah mengenal beberapa orang penting di kota Makassar dari orang pemerintahan sampai ibu-ibu pengajian dan pengusaha.

Selain itu pula Emma Athirah mengeluti bisnis angkutan Cahaya Bone, Bisnis berjalan dengan baik di balik gejolak rumah tangganya.

Tuhan merahmati segala usahanya, semua bisnis yang dia jalankan mampu mengobati segala sakit hatinya, mampu membantu menopang ekonomi keluarganya.

Jusuf remaja tumbuh di tengah gejolak rumah tangga orang tuanya penuh badai, tumbuh di tengah poligami yang dilakukan bapaknya,

tumbuh di tengah gejolak hati Emmanya sangat perih, mau tidak mau sangat mempengerahui untuk mengenal kawan wanita seusianya.

Novel ini juga meceritakan kisah awal pertemuan Pak Jusuf dan Ibu Mufidah. Yang dibumbui oleh aroma asmara anak muda. Pertemuan awal dan pegejaran Pak Jusuf sungguh membuat pembaca tersenyum senyum sendiri hehehe. Semua berawal di bangku SMA 3 Makasar.

Sosok seorang begitu pendiam, dingin dan orangnya sangat halus. Seperti itulah Mufidah di kenal. Belum pernah malamku berjalan dengan kegelisahan yang asing. setelah Emma yang sangat merana yang membuat sulit tidurku. Memikirkan Mufidah, malamku bagai di ayun-ayun, Mufidah... Mufidah aku harus mengenalmu. Lebih cepat lebih baik.

Tidak mudah mendapatkan cinta Mufidah mengingat Jusuf berasal dari orang tua yang berpoligami, dan Mufidah telah ada calon dari orang tua, tapi Jusuf tidak mundur sekalipun, “kau tidak akan melihat indahnya puncak jika Kau tak melewati beberapa tanjakan”. Sabar!

Hampir tiap pulang sekolah menemani Mufidah pulang tidak dengan naik skuternya, karena Mufidah tidak ingin naik skuter untuk diantar pulang, jadinya di tengah panas matahari Makassar Jusuf mendorong skuternya dan Mufidah berjalan di sisinya, begitu seterusnya.

Hari berganti hari waktu berlalu begitu cepat, Mufidah tidak sekalipun menunjukkan perasaannya ke Jusuf. Ketegasan Pak Jusuf Kalla terlihat dari pengambilan-pengambilan keputusan. Ternyata dalam

urusan hati pun demikian . Akhir dari pengejarannya, suatu sore Jusuf bertandang ke rumah Mufidah di berinya dia kartu hijau dan merah. “Ida jika engkau memilih kartu hijau itu kau mencintaiku dan kartu merah kau menolakku dan tidak mencintaiku. Mufidah diam terpaku. Lama dia memandang kartu itu.aku bersabar. kemudian perlahan tangannya mengambil kartu hijau. membawanya, dan menghilang di kamar. Mufidah menerima cinta Jusuf.

Yang cukup mengelikan Pak Jusuf kalla Menikah dengan memakai baju adat Makassar dan Ibu Mufidah mengenakan baju Minang.

Satu yang tidak biasakan? Selama kebersamaan Mufidah dan Emma ia banyak belajar tentang cara berumah tangga, sementara Emma sendiri merasa sangat terhibur dengan kehadiran Mufidah sebagai anggota keluarga yang baru. Sementara itu, diluar dugaan Bapak (H. Kalla) juga cocok dengan Mufidah dalam berbagi rasa. Kehadiran Mufidah, diam- diam menjadi tempat curhat Bapak tentang keluarga keduanya. Pesan dari Bapak Jusuf (H. Kalla), jaga Mufidah dengan baik, jangan engkau lakukan apa yang telah aku lakukan kepada Emma. Sungguh penyesalan itu di bawa Pak Kalla sampai Emma Athirah harus duluan meniggalkannya dari dunia setelah menjalani operasi karena komplikasi penyakit diabetes dan sirosis atau pengerasan hati yang dideritanya.

Sejak sepeninggalan Athirah, Pak Haji Kalla seakan tak semangat lagi menjalani hari-harinya. Ia betul-betul larut dalam suasana duka yang mendalam. Bahkan, banyak orang mengatakan bahwa cahaya di wajah

Dokumen terkait