• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan

Dalam dokumen abstrak (Halaman 70-75)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

jawab guru. Dengan demikian guru dituntut untuk dapat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris.

Latihan melafalkan kosakata bahasa inggris di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan terutama bagi anak autis kelas VII diberikan sesuai dengan taraf perkembangan mental anak. Teks kosakata yang diberikan dipilih agar dapat menarik minat serta dapat merangsang perkembangan kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris.

Untuk merangsang atau meningkatkan kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris anak autis kelas VII di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan maka dilakukan penelitian dengan media kartu kata bergambar dalam kaitannya dengan peningkatan kemampuan pelafalan kosakata.

Hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan latihan pelafalan kosakata pada anak autis kelas VII di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan tidak hanya pada metode dan media belajar yang diterapkan, tetapi juga pada tingkat kesukaran teks kosakata yang diberikan pada anak saat proses pembelajaran karena tingkat kesukaran teks kosakata yang diberikan juga mempengaruhi kemampuan siswa dalam memahami suatu teks kosakata, termasuk anak autis. Oleh karena itu, dalam hal ini, peneliti memilih teks kosakata yang memiliki tingkat kesukaran yang sama dalam proses pembelajaran untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan atau dengan kata lain untuk menjaga konsistensi dalam proses pembelajaran.

Setelah melakukan penelitian dengan proses belajar mengajar selama 2 bulan terhadap satu orang siswa autis kelas VII di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan, hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan melafalkan kosakata Bahasa Inggris menggunakan (media kartu kata bergambar) pada anak autis kelas VII di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan

mengalami peningkatan yang divisualisasikan melalui grafik batang di bawah ini.  

Gambar 4.7 Grafik Visualisasi Peningkatan Kemampuan pelafalan kosakata bahasa inggris Pada Anak Autis Kelas VII di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan

Keterangan:

Fase baseline (A1) Fase intervensi (B) Fase baseline (A2)

Penelitian ini adalah penelitian subjek tunggal (Single Subject Research) dengan menggunakan desain penelitian A – B – A. Desain A – B – A telah menunjukkan adanya hubungan sebab akibat antara variabel terikat

0   10   20   30   40   50   60   70   80  

1   2   3  

Fase

Nilai 44,48 72.08 75.76

KKM

dan variabel bebas. Adapun prosedur dasarnya yaitu mula-mula target behavior diukur secara kontiniu pada kondisi baseline (A1). Tanpa diberikan perlakuan dengan periode waktu tertentu sampai mencapai data yang stabil, kemudian dilanjutkan pada fase Intervensi (B). Selama fase intervensi target behavior secara kontiniu dilakukan pengukuran sampai mencapai data yang stabil (lovaas, 2003; Tawney dan Gast, 1984) dalam Sunanto, (2005:57).

Setelah pengukuran pada fase intervensi (B), pengukuran pada fase baseline (A2) diberikan. Penambahan kondisi baseline yang kedua (A2)   ini dimaksudkan sebagai kontrol untuk fase intervensi sehingga memungkinkan untuk menarik kesimpulan adanya hubungan fungsional antara variabel bebas dan variabel terikat.

Sehubungan dengan grafik hasil penelitian di atas, dapat terlihat pada data baseline (A1), kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris subjek penelitian berinisial Ms anak autis kelas VII di SLB Negeri Pelambuan Banjarmasin Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan sebesar 44,48. Pelaksanaan fase intervensi (B), pembelajaran pelafalan kosakata dilakukan melalui penerapan media kartu kata bergambar selama sepuluh sesi menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Berdasarkan hasil penelitian, nilai rata- rata yang diperoleh subjek penelitian berinisial Ms anak autis kelas VII di SLB Negeri Pelambuan Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan sebesar 72,08.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hasil intervensi (B) yang dilakukan telah menunjukkan peningkatan kemampuan pelafalan kosakata pada subjek penelitian.

Fase berikutnya adalah melakukan pengumpulan data baseline (A2) setelah melakukan jeda selama dua hari dengan maksud melakukan fase kontrol saat subjek penelitian diberikan intervensi (B). Pada fase baseline (A2) nilai rata-rata kemampuan pelafalan kosakata yang diperoleh subjek penelitian berinisial Ms anak autis kelas VII di SLB Negeri Pelambuan Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan sebesar 75,76 tingat stabilitasnya 100%

hal tersebut disebabkan karena kuatnya daya memori anak tersebut, melihat

nilai rata-rata yang ditunjukkan meningkat dibandingkan pada fase baseline (A1).

Uraian di atas menunjukkan bahwa menggunakan media kartu kata bergambar dapat membantu meningkatkan kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris pada anak autis kelas VII di SLB Negeri Pelambuan Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan. Terlihat pada nilai rata-rata kemampuan pelafalan kosakata sebelum penerapan media kartu kata bergambar sebesar 44,48 menunjukkan masih berada di bawah KKM yang telah ditentukkan.

Sedangkan nilai kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris setelah menggunakan media kartu kata bergambar sebesar 90% menunjukkan telah berada diatas KKM yang telah ditentukan oleh sekolah.

1 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan rumusan masalah, paparan data dan pembahasan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan awal bahasa inggris pada anak autis sebelum menggunakan bahasa inggris, tidak mampu melafalkan kosakata Bahasa Inggris yang baik dan benar, sedangkan untuk kemampuan Bahasa Inggris pada anak autis setelah diberi intervensi berupa media kartu kata bergambar kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris di atas dari nilai rata-rata sebelumnya yaitu 44,48% hingga naik menjadi 72,08%.

Sehingga media kartu kata bergambar efektif meningkatkan kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris pada anak autis kelas VII di SLB Negeri Pelambuan Kalimantan Selatan.

Hasil penelitian telah menunjukkan bahwa menggunakan media kartu kata bergambar efektif meningkatkan kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris siswa autis kelas VII di SLB Negeri Pelambuan Provinsi Kalimantan Selatan.

  B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan, maka peneliti mengemukakan saran-saran sebagai berikut:

1. Dalam mengajarkan mata pelajaran Bahasa Inggris khususnya pembelajaran pelafalan kosakata sebaiknya menggunakan media belajar yang betul-betul dapat memotivasi dan memacu siswa untuk lebih mudah memahami dan mengingat materi pelajaran yang telah diajarkan.

2. Dalam pembelajaran dengan menggunakan media kartu kata bergambar dalam meningkatkan kemampuan pelafalan kosakata, siswa hendaknya diperhatikan setiap tahap-tahap dari pembelajaran yang telah diberikan

yang harus dilalui oleh siswa dengan baik dalam proses pembelajaran sehingga diperoleh hasil yang maksimal.

3. Dalam pembelajaran pelafalan kosakata Bahasa Inggris menggunakan media kartu kata bergambar sebaiknya tidak menggunakan metode mengajar yang bersifat monoton untuk menghindari kesan membosankan bagi murid. Selain itu teks kosakata yang diberikan juga harus diperhatikan, dalam artian tingkat kesulitan teks kosakata hendaknya disesuaikan dengan kemampuan kognitif siswa.

4. Bagi sekolah khususnya SLB Negeri Pelambuan Provinsi Kalimantan Selatan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media kartu kata bergambar dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam meningkatkan kemampuan pelafalan kosakata Bahasa Inggris bagi siswa autis kelas VII.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, M. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: PT.

Rineka Cipta.

Annie, S. (2012). Efektivitas penggunaan media Flashcard dalam meningkatkan penggunaan kosakata Bahasa Jepang. Skripsi pada FPBS UPI Bandung : tidak diterbitkan.

Arikunto, S. (2010). Metode kuantitatif dan kualitatif. J a k a r t a : P T B u m i A k s a r a .

Arsyad, A.(2011). Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Bening.Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang Republik Indonesia No.19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan, dan Undang-Undang Republik Indonesia No.47 Tahun 2008 Tentang Wajib Belajar. Jogjakarta.

Baker Ann dan Goldstein Sharon. (1990). Pronunciation Pairs An Introductory course for students of English. America: Cambridge University Pres.

Danuatmaja Bonny.2003. Anak Autis. Jakarta: Puspa Swara, Anggota Ikapi

Delphie Bandi, 2009. Pendidikan Anak Autistik. Nganjuk Sleman: PT Intan Sejati Klaten.

Depdikbud, 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Ensiklopedi Indonesia, 1980. 2 Cs – Han. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hove.

Geniofam, 2010. Mengasuh dan Mensukseskan Anak Berkebutuhan Khusus.

Jogjakarta: gara ilmu

http://nikodemusoul.wordpress.com/. (online) diakses 19 November 2013) http:// rppguru.files.wordpress.com/.2011/.../ptk-kartu.do

http://overload 84.blog detik.com/2009/07/18/gleen-doman-penemu flashcard/(09/06/2013)

Mansur Hamsi, Agus Pratomo Andi, Imam Yowono, Abdul Rahim, Utomo.

(2013). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Banjarmasin: Pustaka Banua/Universitas Lambung Mangkurat.

Siegel. B. 1996. The World of the Autistic Child. New York: Oxford University Press.

Sudjana, N. 2006. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung. PT Remaja Rosdakarya

Somantri, H.T.S. 1996. Psikologi Anak Luar Biasa. Jakarta: Depdikbud

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung. CV Alfabeta.

Sukmadinata, S. N. 2008. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT remaja Rosdakarya.

Sunanto, J dkk. 2005. Pengantar Penelitian Dengan Subjek Tunggal. CRICED University of Tsukuba.

Sunarni, 2012. Penggunaan Media Boneka Plastic Untuk Meningkatkan Keterampilan Dalam Memakai Baju Berkancing Pada Anak Tunagrahita

Dalam dokumen abstrak (Halaman 70-75)

Dokumen terkait