• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

70

Menurut Ibu Sri menyatakan bahwa “pengalungan pada tari paduppa itu hanya sebagai tanda penghargaan kepada tamu yang jauh yang datang di Soppeng, penghargaan tamu agung tapi tdk berlaku dicara pengantin”

(wawancara pada tanggal 02 Juli 2019)

Berdasarkan ketiga narasumber dapat di simpulkan bahwa makna pengalungan yang di lakukan pada saat penjemputan tamu sebagai simbolik penghargaan tamu dan cenderamata kepada tamu. Pengalungan juga hanya di peruntuk kepada acara-acara yang kedatangan pimpinan sedangkan di acara pernikahan tidak melakukan pengalungan karna yang di sambut disitu kedua mempelai yang menajdi raja dan ratu sehari. Pengalungan di lakukan sebelum menarikan Tari Padduppa hanya iringan musik yang di mainkan. Pengalungan hanya dilakukan untuk dua atau tiga orang yang dikalungi Setelah pengalungan barulah dimulai dengan sambutan Tari Paduppa.

71

sebagai hal yang saling melengkapi. Bosara merupakan piring khas Suku Bugis Makasar di Sulawesi Selatan.

1. Eksistensi Tari Paduppa di Kabupaten Soppeng

Tari Paduppa sering ditarikan pada saat acara penting untuk penyambutan raja-raja dengan suguhan kue-kue sebanyak dua kesera. Tarian ini juga sering ditarikan saat menyambut tamu agung, pesta adat dan perta pernikahan. Ini menggambarkan bahwa suku bugis kedatangan tamu yang senantiasa menghidangkan bosara sebagai tanda kesyukuran dan kehormatan.

Tari Paduppa itu berasal dari bahasa Bugis yang artinya bertemu, Tari Paduppa yaitu tari penjemputan tamu yang diciptkan oleh Andi Sitti Nurhani Sapada yang disuguhkan saat kedatangan tamu waktu beliau masih menjadi Ibu Bupati Sidrap ditahun 70an. Tari Paduppa yang di ciptakan oleh ibu Andi Sitti Nurhani Sapada dengan cara menciptkan gerakan dengan menyesuaikan melodi lagu yang populer saat itu. Paduppa artinya pa’dupang sebagai ikon kesakralan yang biasa digunakan sebagai media ritual. Beliau sering menggunakan tarian tersebut sebagai tari pembuka pertunjukan untuk permohonan berkah meskipun untuk permohonan tarian tersebut bukanlah sebagai pengubung antara masyarakat dan leluhur.

Tari Paduppa memliki macam dan corak gerak yang terkadang terlihat seperti untaian pola – pola gerak yang seperti dikenal dan pernah di tampilkan. Gerakan yang terlihat asing atau aneh menambah kepekaan pengamatan yang biasa mengidentifikasi dari sisi jenis gerakannya, apakah itu gerak keseharian atau gerak yang telah mengalami strilisasi. Gerak dalam bahasa bentuk menjadi pola- pola gerak dari seorang penari (Sumandinyo, 2010: 25)

72

Tari Paduppa selalu diiringi dengan musik tradisional yang menjadi salah satu ciri khas budaya Suku Bugismenggunakan alat-alat tradisional yang ada di Sulawasi Selatan yang mudah di mainkan dari segala umur baik itu anak-anak maupun orang dewasa. Adapun alat-alat yang digunakan pengirin Tari Paduppa antara lain sebagai berikut :

Gambar 5.1 Gendang

Rangkanya terbuat dari kayu campaga yang dikuatkan dengan ikatan rotan.

Bagian yang dipukul terbuat dari kulit kambing jantan. Gendang ini sering digunkan pada acara penganting dan sebagai iringan tarian

Gambar 5.2 Kecapi

Kecapi merupakan salah satu alat musik petik. Kecapi biasanya digunakan untuk

73

memperkaya suara-suara yang dihasilkan dalam musik-musik tradisional. Kecapi memliki beberapa senar yang dimainkan dan dipetik secara horizontal Sulawesi

Selatan yang digunakan untuk mengiringi sebuah tarian.

Gambar 5. 3. Suling

Suling juga digunakan sebagai iringan musik pada sebuah tarian musik pada sebuah tarian dengan alunan alunan nada yang merdu membuat penari lemah lembut dalam menari.

Gambar 5.4. Pui- pui

Pui-pui merupakan alat musik tradisional yang digunakan mengiring pementasan seni tradisi yang berasal dari Sulawesi Selatan dan dimainkan dengan cara ditiup.

74

Pakaian yang digunakan yaitu baju bodo yang merupakan pakaian tradisonal perempuan Suku Bugis. Baju bodo berbentuk segi empat, biasanya berlengan pendek. Baju bodo tidak hanya berfungsi sebagai penghias tubuh tapi juga berfungsi sebagai kelengkapan suatu acara atau tarian. Aksesoris yang digunakan di kepala yaitu mahkota atau bando (saloko), sanggul berhiaskan 2 tusuk bunga dan anting panjang/(bangkarak)

Properti yang digunakan dalam tarian ini yaitu Bosara merupakan piring khas suku bugis Makassar di Sulawesi Selatan. Bahan dasar bosara berasal dari besi dan dilengkapi dengan penutup khas seperti kobokan besar, yang balut kain berwarna terang, yaitu warna merah, biru, hijau dan kuning. Diberikan ornamen kembang keemasan di sekelilingnya. Bosara pada awalnya terbuat dari kerangka bambu yang kemudian disiikan piring sebagai tempat kue atau makanan penutup lainnya sedangkan penutup bosara dari keranga bambu yang kemudian dilapisi dengan kain di tambah manik-manik pada pinggir penutup bosara sehingga sangat menarik dan mewah. Bosara biasanya diletakkan di meja dalam rangkaian acara tertentu, khusus acara yang bersifat tradisional dan sarat dengan nilai- nilai budaya.

Pada penelitian yang dilakukan M.Zulham yang berjudul Makna Simbol Tari Paduppa (Tari Selamat Datang ) Kota Palopo, Tari Paduppa yaitu tari yang dibuat untuk menjemput para raja-raja, bangsawan, tamu-tamu penting, yang Bosaranya berisikan beras dan lilin. Beras diartikan sebagai pakkuru sumange sedangkan lilin diartikan sebagai pencerah atau petunjuk jalan menuju kebahagian rumah tangga. Baju bodo merupakan baju tradisional bugis, baju bodo juga merupakan baju tertua di dunia. Untuk pasangan baju bodo digunakan sarung

75

sutera dan assesoris lainnya digunakan perhiasan lainya seperti bando bunga, gelang panjang, kalung, dan anting-anting.

Terkait dengan penelitian yang saya lakukan dari hasil wawancara menjadikan penguat dari penelitian sebelumnya yang hanya menggambarkan sebagian besar dari Makna dan Simbol Tari Paduppa. Makna dan nilai yang menjadi temuan ini akan memperdalam pengetahuan tentang nilai yang terkadung setiap gerakan inti dalam tarian tersebut. Ini menjadi pembelajaran yang lebih muda dipahami khususnya masyarakat di Kabupaten Soppeng.

2. Makna dan nilai Tari Paduppa di Kabupaten Soppeng

Makna merupakan pengertian-pengertian (conceptions) yang dihayati seseorang mengenai apa yang lebih penting atau kurang penting, apa yang lebih baik atau kurang baik, dan apa yang lebih benar atau kurang benar.Sedangkan Nilai adalah konsepsi (tersurat atau tersirat, yang sifatnya membedakan individu atau ciri-ciri kelompok) dari apa yang diinginkan, yang memengaruhi tindakan pilihan terhadap cara, tujuan antar dan tujuan akhir. Defenisi ini berimplikasi terhadap pemaknaan nilai-nilai budaya. (Mulyana, 2004:1)

Menurut Syarifuddin Daeng Tutu Kata pa’duppa itu berasal dari bahasa Bugis yang artinya bertemu. Tari Paduppa yaitu tari penjemputan yang diciptakan oleh Andi Nurhani Sapada yang disuguhkan saat kedatangan tamu waktu beliau masih menjadi Ibu Bupati Sidrap ditahun 70. Tari ini diciptakanoleh Andi Nurhani Sapada dengan cara menciptaka gerak dengan menyesuaikan melodi lagu yang populer saat itu. Lagu yang menjadi mus iringan yaitu lagu Bugis yakni Anak Ma‟bura Malik dan Ongkona Sidengreng. Instrument musik yang digunakan yaitu Gendang, Suling,

76

dan Kacaping. Seiring perkembangannya, tarian tesebut direkam dan dibagikan kebeberapa sekolah untuk dijadikan bahan ajaran.

Menurut Syarifuddin Daeng Tutu, beliau mengatakan bahwa Pa’duppa arti pa’dupang (bahasa maskassar) yang artinya Dupa. Dupa dalam kebudayaan suku Makassar dianggap sebagai ikon kesakralan yang biasa digunakan sebagai media ritual. Para penari membawa dupa yang merupakan representas semacam sifat kesakralan dan kepercayaan tua masyaraka Sulawesi Selatan. Andi Nurhani Sapada sering menggunakan tarian tersebut sebagai tari pembuka pertunjukan untuk permohonan berkah meskipun tarian tersebut bukanlah sebagai penghubung antara masyarakat dan leluhur.

Tari Paduppa sekarang ini tidak punya tujuan atau orientasi karya. Artistik yang dimunculkan seperti tidak punya dasar kebudayaannya. Contoh kasus yang dipaparkan adalah kostum yang telalu dibuat-buat, Selain itu warna kostum tidak lagi diperhatikan sementara dalam budaya Makassar warna kostum masing- masing mempunyai makna tersendiri. Selain itu beliau juga mengungkapkan bahwa penari yang sering ia jumpai diberbagai acara sudah tidakditemukan Wirasa, Wirama, Wiraga, Harmonisasi, dan Komposisi, sementara kesemua hal ini merupakan unsur yang terpenting dalam seni tari. Ketika menarika tarian, penari membawa bosara, diisi beras, buah pinang, daun sirih serta lilin dibagian tengah yang memiliki kesan sakral sangat terasa. Untuk gerakan, hampir keseluruhan gerakan dalam tarian ini adalah gerakan menyebar beras (isi dari bosara) sebagai tanda penghormatan.

77 3. Kaitan Teori

NO

Rumusan Masalah

Interpretasi Analisa Kaitan Teori

1 Bagaimana Eksisten Tari Paduppa

Tari Paduppa di Kabupaten Soppeng sejak zaman dahulu di laksanakan, hanya orang-orang

bangsawan tetapi sekarang ini sudah

banyak yang

mengadakan Tari Paduppa baik itu di acara perkawinan atau acara kantor yang kedatangan tamu dari luar Sulawesi.

Berdasarkan hasil analisa peneliti eksistensi Tari Paduppa di Kabupaten

Soppeng itu ada dari sejak zaman dahulu

dilaksanakan, hanya saja orang- orang bangsawan

yang bisa

melakukan Tari Paduppa sekarang ini bukan hanya bangsawan saja tapi sudah banyak yang mengadakan Tari Paduppa dari berbagai

Menurut Peter L Berger

Terbagi menjadi 3 Tahapkonsep dialektika fundamental : a. Tahap

eksternalisasi : proses

pencurahan diri manusia secara terus-menerus ke dalam dunia melalui

aktivitas fisik dan mental.

b. Tahap

objektivitas : tahap aktivitas manusia

78

kalangan baik itu

di acara

perkawinan atau acara kantor yang kedatangan tamu

dari luar

Sulawesi.

menghasilkan suatu realita objektif yg berada diluar diri manusia.

c. Tahap internalisasi : tahap ketika realitas objektif hasil ciptaan manusia diserap oleh manusia kembali.

Berdasarkan dengan teori ini dapat di

kaitkan dengan esksistensi Tari Paduppa bahwa munculnya Tari Paduppa

diciptakan oleh seorang

perempuan yang di

79

dikenal Hj. Andi Sitti Nurhani Sapada. Tari paduppa sering m tarian tersebut sebagai tari pembuka

pertunjukan untuk permohonan berkah

meskipun tarian tersebut bukanlah sebagai

penghubung antara

masyarakat dan leluhur. Tapi dengan Tari Paduppa dapat menggambarkan aktivitas rasa kesyukaran.

Setiap gerakan- gerakan yang ada

80

dalam tarian terkandung makna tersendiri. Maka dari itu Tari Paduppa yang sudah ada pada zaman dahulu kini masih dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat, pada saat acara-acara penting untuk menyambut tamu di Sulawesi Selatan

2 Bagaimana Makna dan Nilai Tari Paduppa

Tari Padupa ataupenjemputan, kata pa’duppa itu berasal dari bahasa Bugis yang artinya bertemu.

Tari Paduppa yaitu tari penjemputan

Berdasarkan hasil analisa peneliti Tari Paduppa itu gerakan yang di tarikan di dalamnya ada makna yang terkandung yaitu

Menurut Herbert Blumer untuk tujuan tertentu Terkait dengan teori yang di gunakan

menjadi pokok perhatian dari

81 yang diciptakan oleh Andi Nurhani Sapada yang oleh Andi Nurhani Sapada yang disuguhkan saat kedatangan tamu Pa’duppa artinya pa

’dupang (bahasa maskassar) yang artinya Dupa.

Dupa dalam

kebudayaan suku Makassar dianggap sebagai ikon kesakralan yang biasa digunakan sebagai

media ritual. Para penari membawa dupa

yang merupakan representasi Makna keseluruhan dari Tari

makkasiriwing yang artinya gerakan

penobaan, akkalabbing artinya

penghargaan pada raja, soro sappu yaitu istiadat bangsawan, dilanjutkan gerakan mappasoro

anjangan artinya mengakhiri tarian dan massimang artinya mohon diri. Tari paduppa mempunyai nilai yang terkandung yang bersifat moral, budaya, religius.

analisis sosiologi dari teori interaksi simbolik.Ciri khas dari interaksi simbolik terletak pada penekanan manusia dalam lansung antara stimulus -response, tetapi di dasari pada pemahaman makna yang di berikan terhadap tindakan orang lain melalui

penggunaan

simbol-simbol dan interpretasi yang pada akhirnya tiap individu tersebut akan berusaha saling memahami

maksud dan

tindakan masing-

82

Terkait dengan teori yang di gunakan menjadi pokok perhatian dari analisis sosiologi dari teori interaksi simbolik.Ciri khas dari interaksi simbolik terletak pada penekanan manusia dalam lansung antara stimulus -response, tetapi di dasari pada pemahaman makna yang di berikan terhadap tindakan orang lain melalui penggunaan simbol- simbol dan interpretasi yang pada akhirnya tiap individu tersebut akan

Paduppa itu gerakan yang di tarikan di dalamnya ada makna yang terkandung yaitu makkasiriwing

yang artinya

gerakan penobaan, akkalabbing artinya penghargaan pada raja, soro sappu yaitu istiadat bangsawan, dilanjutkan gerakan mappasoro anjangan artinya mengakhiri tarian dan massimang artinya mohon diri.

masing untuk mencapai

kesepakatan bersama

83

berusaha saling memahami maksud dan tindakan masing-masing untuk mencapai kesepakatan bersama

Teori interaksi simbolik adalah hubungan antara simbol dan interaksi.

Orang bertindak berdasarkan makna simbolik yang muncul dalam sebuah situasi tertentu. Sedangkan simbol adalah reprensati dari sebuah fenomena, dimana simbol sebelumnya sudah disepakati bersama dalam sebuah kelompok dan digunakan untuk mencapai sebuah kesamaan makna bersama. Simbol dibedakan menjadi dua. Simbol Verbal (penggunaan kata-kata atau bahasa, contohnya kata motor itu mempresentasikan tentang sebuah kendaaraan beroda dua). Simbol non verbal (lebih menekannya pada bahasa tubuh atau bahasa isyarat) contoh: lambaikan tangan, anggukan kepala, gelengan kepala.

Semua itu tadi mempunyai makna sendiri-sendiri yang dapat dipahami oleh individuindividu.Yang dimaksudkan penulis adalah adanya hubungan antara teori simbolik dan kesenian Tari Paduppa di Sanggar Seni. Jika dilihat dari setiap bentuk gerakan, sya‟ir, pola lantai, kostum, serta properti yang mengandung makna simbol tertentu didalamnya.

84 BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Sebagai penutup tulisan ini penulis dapat menyimpulkan dari pembahasan yaitu :

1. Eksisitensi Tari Paduppa di Kabupaten Soppeng itu dari sejak zaman dahulu dilaksanakan, hanya saja orang-orang bangsawan yang dapat mengadakan Tari Paduppa tetapi beriringnya waktu sekarang ini sudah banyak masyarakat Soppeng yang melakukan Tari Paduppa baik itu dari kalangan biasa maupun kalangan atas, pada saat acara perkawinan atau acara kantor yang kedatangan tamu dari luar Sulawesi.

2. Makna dan Nilai Tari Paduppa di Kabupaten Soppeng Tari Paduppa yaitu tari penjemputan, kata pa’duppa itu berasal dari bahasa Bugis yang artinya bertemu. Tari Paduppa yaitu tari penjemputan yang diciptakan oleh Andi Nurhani Sapada yang oleh Andi Nurhani Sapada yang disuguhkan saat kedatangan tamu Pa’duppa artinya pa’dupang (bahasa maskassar) yang artinya Dupa. Dupa dalam kebudayaan suku Makassar dianggap sebagai ikon kesakralan yang biasa digunakan sebagai media ritual. Para penari membawa dupa yang merupakan representasi . Makna keseluruhan dari Tari Paduppa itu gerakan yang di tarikan di dalamnya ada makna yang terkandung yaitu makkasiriwing yang artinya gerakan penobaan, akkalabbing artinya penghargaan pada raja, soro sappu yaitu istiadat bangsawan, dilanjutkan

74

85

gerakan mappasoro anjangan artinya mengakhiri tarian dan massimang artinya mohon diri. Tari Paduppa mempunyai nilai yang terkandung yang bersifat moral, budaya, religius

B. Saran

Berangkat dari kesimpulan Makna Dan Nilai Tari Paduppa Dalam Taridisi Suku Bugis Di Kabupataen Soppeng mengemukakan saran-saran sebagai berikut :

1. Diharapkan kepada pemerintah agar lebih memberikan perhatian kepada kebudayaan yang ada di Kabupaten Soppeng sekarang ini, agar tejaga tidak hilang dan masih bisa diwarisi menerus selanjutnya.

2. Kepada masyarakat agar lebih bisa mnegetahui apa makna dan nilai tari paduppa dalam tradisi suku bugis di Kabupaten Soppeeng 3. Kepada mahasiswa agar lebih bisa melestarikan budaya suku bugis pada Tari Paduppa pada proses penyambutan tamu di Kabupaten Soppeng.

86

DAFTAR PUSTAKA

Arista, D. (2015). Transparansi informasi situs web pemerintah daerah di sulawesi selatan sebagai implementasi keterbukaan informasi publik. Mahassar:

Skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin.

Afrizal. (2014). Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rajawali Pers

Ambar. (2017). Teori Interaksi Simbolik. (online) https://pakarkomunikasi.com/teori- interaksi-simbolik. Diakses Selasa, 25 Juni 2019

Christian Pelras. (2006). Manusia Bugis.Jakarta : Nalar

Elly m. Setiadi dkk. (2013). Ilmu sosial budaya dasar. Bandung:Prenada Media Group. hal.27.

Gani Nur Pramudyo. (2015). Etika Ilmiah dan Penelitian.Universitas Brawijaya Hosnan, M., & Warits, A.(2011). Aksiologi dalam Dimensi Filsafat Islam.

Mangiri, I. (2018). Analisis Tata Guna Lahan Di Kabupaten Soppeng Berbasis Gis Menggunakan Citra Sentinel 2.

Rizal. (2015). Tari dari Sulawesi Selatan.(online). http://muhrhyzal.co.id/2015_0 1_01_archive.html diakses pada tanggal 09 April 2019

Saskia. (2018). Pengertian Budaya dan Unsur-Unsurnya.

http://sosiologis.com/pengertian-budaya. (online) diakses selasa 09 April 2019

Satriawan, M. (2018). Kajian Aksiologi: Elaborasi Nilai-Nilai Moral Dalam Konsep Mekanika Sebagai Upaya Untuk Membentuk Generasi Emas Yang Berkarakter.

Sazali, H. (2012). Etika Penelitian. (online) http://kampungsharing.com diakses rabu 10 April

Sedyawati, E., & Damono, S. D. (2010). Seni dalam masyarakat Indonesia:

bunga rampai. Gramedia.

Sugiyono. (2017). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan RD. Bandung Alafabeta

Suriasumantri, J. S. (1988). Filsafat ilmu. Jakarta: Sinar Harapan.

Sumandinyo, Y. 2010. Kajian Tari Teks Dalam Konteks. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.

87

Susanto, N. A. (2014). DIMENSI AKSIOLOGIS DARI PUTUSAN KASUS

“ST”. JurnalYudisial, 7(3), 213-23

Sukman, F. F. (2014). Makna Simbolik Tari Paolle Dalam Upacara Adat Akkawaru Di Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan (Doctoral dissertation, Penciptaan Dan Pengkajian ISI Yogyakarta)

Soekanto, soerjono .(2013). sosiologi suatu pengantar,cetakan ke-45.

Jakarta:Rajawali Pers. Hal.212

Wahya, dkk. (2013). Kamus Bahasa Indonesia. Bandung: Ruang Kata

Yaya badriya. (2018). Unsur-unsur Keindahan Seni Tari Terlengkap. (online).

https://ilmuseni.com/seni-pertunjukan/seni-tari/unsur-unsur-keindahan-seni- tari. Diakses Selasa, 09 April 2019

Zulham, M. (2018). Makna Simbol Tari Paduppa (Tari Selamat Datang) Kota Palopo. Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra, 3(2).

88

L

A

M

P

I

R

A

N

89

PEDOMAN WAWANCARA

A. EKSISTENSI TARI PADUPPA

1. Apa yang anda ketahui tentang Tari Paduppa

2. Apakah anda pernah melihat Tari Paduppa di lakukan di Soppeng 3. Siapa yang menciptakan Tari Paduppa

4. Berapa jangka waktu Tari Paduppa dilakukan 5. Apakah Tari Paduppa memiliki pengiring

6. Busana apa yang dikenakan saat melakukan tari paduppa 7. Properti yang digunakan apa saja ?

B. MAKNA DAN NILAI

1. Apa makna setiap gerakan bagian inti 2. Apa makna dari penaburan

3. Apa makna dalam beras yang dilakukan 3x 4. Berapa jumlah penari dalam tari paduppa 5. Umur berapakah bisa melakukan Tari Paduppa 6. Apa makna dari pengalungan

90

Daftar Nama-nama Informan

Nama : Rosmiati Noor

Umur : 47 Tahun

Pekerjaan : PNS

Pendidikan : S1

Nama : Farida

Umur : 53 Tahun

Pekerjaan : PNS

Pendidikan : S1

Nama : Srimuliani

Umur : 58 Tahun

Pekerjaan : PNS

Pendidikan :

91

DOKUMENTASI WAWANCARA

(Wawancara Ibu Nur)

92

(Wawancara Ibu Farida)

(Wawancara Ibu Sri)

93

(Pakaian Yang Digunakan Tari Paduppa )

(Bosara Yang Digunakan Tari Paduppa)

94

TARI PADUPPA

( Penjemputan Pada Saat Kedatangan Tamu)

95

(GERAKAN AWAL )

96

97

(PROSES PENABURAN )

( GERAKAN AKHIR )

98

RIWAYAT HIDUP

Anisah Aah Marfuah dilahirkan di Soppeng pada tanggal 26 Agustus 1997, anak ke dua dari lima bersaudara dan merupakan anak dari H. Pannaco M.Si dan Hj. Marwa S.Pd. Alamat lengkap Jl. Merdeka kelurahan lapajung kecamatan lalabata Kabupaten WatanSoppeng. No HP. 082293159220. Penulis mulai menempu pendidikan sekolah dasar pada tahun 2004 dan lulus pada tahun 2009 di Sekolah Dasar Negeri 166 Laburawung Kabupaten Soppeng. Kemudian penulis

melanjutkan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 1 WatanSoppeng

Kabupaten Soppeng dan lulus pada tahun 2012 dan lulus SMA pada tahun 2015 di SMA N 1 Soppeng Kabupaten Soppeng. Setelah lulus SMA, penulis melajutkan S1 di Universitas Muhammadiyah Makassar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) jurusan Pendidikan Sosiologi melalui Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Pengalaman organisasi penulis pernah memasuki organisasi PMR pada saat SMP dan pada saat SMA penulis memasuki organisasi PMR dan pada tingkat Universitas penulis pernah aktif di sebuah organisasi kampus yaitu Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada tahun 2017,

organisasi Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sosiologi (HMJ) pada tahun 2017 dan Lembaga Kreatifitas Ilmiah Mahasiswa-Penelitian dan Penalaran

(LKIM-PENA) pada tahun 2018.

Dalam dokumen SKRIPSI - Universitas Muhammadiyah Makassar (Halaman 70-84)

Dokumen terkait