BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
1. Strategi Penjual Tiram Untuk Meningkatkan Wisata Kuliner di Kabupaten Barru
Indonesia memiliki banyak terumbu karang. Salah satu potensi besar yang berkembang di perairan Indonesia khususnya di Kabupaten Barru Sulawesi Selatan adalah tiram. Produksi kerang, yaitu tiram, mulai menarik perhatian negara tetangga, dan produksinya meningkat setiap tahun. Kualitas dan potensi ekonominya yang menjanjikan telah menarik investor Jepang. Di Jepang, tiram ditanam di Sulawesi Selatan. Pemerintah Kabupaten Barru telah mengadakan perjanjian kerjasama dengan Timor Otsuki Mutiara, salah satu investor Jepang yang telah menanamkan sahamnya untuk meembangun sektor kelautan dengan cara membudidaykana tiram (Wadrianto, 2011).
Pengembangan sektor kelautan di Kabupaten Barru terus dilaksanakan dengan diperbaharuinya pembudidayaan hasil laut, salah satunya tiram yang saat ini sedang digalakkan. Tiram berasal dari wilayah Rajali, dan karena tiram diolah sebagai makanan khas pada abad ke-19 dan dikonsumsi secara luas oleh sebagian besar masyarakat yang bekerja, maka budidaya hasil laut ini dimulai di Barru dan telah berkembang hingga saat ini (Ajeng, 2016).
Pada hari libur, sudah biasa menikmati hidangan utama tiram, yang dipanggang dan ditumbuk sehingga daging tiram dapat dihilangkan. Saat ini ada beberapa daerah lain selain Rajali yang mencari nafkah dari budidaya
tiram, seperti Marsetasi dan Tanete Riaja. Memulai budi daya tiram juga dapat menghasilkan dukungan dari pemerintah daerah dan pariwisata untuk hidangan tiram, yang juga dapat mengarah pada pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, beberapa strategi yang digunakan oleh penjual antara lain:
a. Mempromosikan di media sosial
Salah satu teknologi yang berkembang semakin pesat adalah teknologi internet, dan teknologi dunia maya ini menjadi teknologi yang sedang tren di berbagai bidang. Dengan internet, siapa pun dapat berkomunikasi dengan orang lain di berbagai belahan dunia tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.
Sekarang, siapa pun yang memiliki komputer, smartphone, atau perangkat lain yang terhubung ke internet dapat menjadi bagian dari jaringan komunikasi global (Poetra dan Christantyawati, 2017). Proses transaksi di toko online sangat berbeda. Di toko biasa, jika kita dilayani oleh manusia, sebenarnya hampir sama, bedanya kita dilayani tidak secara tatap muka. Saat berbelanja secara langsung, kita menghabiskan banyak waktu di jalan sementara berbelanja di toko online di mana kita bisa duduk santai dan bahkan berbaring tanpa membuang waktu (Poehler, Christian Tiawati, 2017).
Keputusan konsumen untuk membeli tiram bakar lasari secara online biasanya dipengaruhi oleh mengapa mereka membutuhkan tiram bakar dengan cita rasa tersendiri. Di sisi lain, ada alasan di luar keinginan pembelian sederhana dari konsumen, seperti keinginan untuk mencoba tiram bakar atau rasa ingin tahu tentang tiram bakar di Lajari, di mana iklan sering
muncul. Akibat pemikiran tersebut, para pedagang tiram mulai menjangkau pelanggan melalui promosi melalui iklan di media cetak dan elektronik.
Dengan berkembangnya internet, internet dapat melahirkan jaringan baru yang biasa disebut dengan jejaring sosial. Jejaring sosial adalah media online yang memungkinkan orang untuk terlibat, berbagi, dan membuat konten, termasuk blog, jejaring sosial, Wi-Fi, forum, dan dunia virtual.
Awalnya, jejaring sosial hanya digunakan sebagai sarana komunikasi dengan teman, kolega, dan keluarga. Namun, jejaring sosial tidak hanya digunakan sejauh ini selama pengembangan. Media sosial digunakan untuk menyebarluaskan dan menyediakan berbagai informasi, mulai dari politik, bisnis, pendidikan, makanan, kesehatan, budaya dan hiburan hingga promosi produk.
Dengan kemudahan akses informasi berupa internet, banyak pelaku wisata kuliner di Rajali menggunakan media sosial untuk memenuhi fungsi komunikasi (menjalin komunikasi dengan konsumen) dan fungsi penjualan.
Media sosial kini telah menjadi media untuk mempromosikan produk.
Pengguna menggunakan fungsi obrolan grup di Twitter, Facebook, Instagram dan BBM untuk tujuan ini. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pedagang tiram di Rajali yang memilih media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram sebagai media untuk menampilkan profil mereka, membangun interaksi dengan konsumen, dan mempromosikan produk mereka.
Penggunaan media sosial sebagai media iklan dan promosi penjualan oleh pedagang tiram bakar merupakan pilihan yang dapat meminimalisir anggaran
promosi, dan jika dibandingkan dengan beriklan melalui media cetak, audio dan audio visual, beriklan melalui media sosial (internet) tentu jauh lebih murah dan efisien.
Swastha mendefinisikan strategi sebagai "seperangkat rencana yang menggambarkan bagaimana para pedagang dapat mencapai tujuannya"
(Hermawan, 2012:33) Menurut W. Y. Stanton, strategi adalah promosi barang dan jasa yang dapat memenuhi kebutuhan pembeli aktual maupun potensial dan distribusi, serta termasuk sistem yang terkait dengan perencanaan dan target harga (Hermawan, 2012: 33). Strategi komunikasi pemasaran adalah langkah kreatif dan berkesinambungan yang diambil oleh perusahaan untuk mencapai tujuan pemasaran terbaiknya guna memaksimalkan kepuasan pelanggan. Strategi komunikasi pemasaran adalah cara untuk mewujudkan misi, tujuan dan sasaran perusahaan.
Poetra dan Christantyawati (2017:34-35) menjelaskan bahwa penggunaan internet sebagai media penjualan di era modern ini membuat manusia senantiasa ingin berubah dan berkembang untuk memenuhi segala tuntutan era global. Perubahan pola jual beli online di internet kini semakin marak dan telah menjadi kebutuhan atau gaya hidup masyarakat di era modernisasi, menguntungkan kedua belah pihak. Baik pembeli, konsumen, maupun penjual, pengelola, bisa mendapatkan keuntungan dari media toko online, yang menguntungkan kedua belah pihak. Febriani (2017:242) berpandangan bahwa perilaku konsumen yang loyal terhadap produk tentu saja menguntungkan bagi produsen, karena konsumen terus berupaya untuk
mencari produk yang diinginkannya. Akan tetapi, jika konsumen selalu sulit menemukan produk yang diinginkannya, lama kelamaan konsumen akan mencoba merek lain. Di sisi lain, perilaku konsumen yang tidak loyal, yaitu membeli sesuatu yang bukan kebiasaan, memerlukan perhatian serius.
Dalam pengelolaan sistem komunikasi pemasaran, diperlukan strategi dan desain program penjualan yang efektif dan efisien. Promosi penjualan merupakan bagian penting dari strategi komunikasi pemasaran suatu perusahaan, dan promosi penjualan menurut Hermawan (2012:128-129) adalah proses penambahan nilai pada suatu produk dalam jangka waktu tertentu untuk mendorong konsumen untuk membeli, meningkatkan efektifitas penjualan dan mendorong upaya tenaga penjualan (produk yang ada) untuk meningkatkan penjualan. Ini adalah kegiatan pemasaran yang mengusulkan nilai produk (diperoleh dari nilai produk yang ada saja).
Dengan demikian, promosi harus ditangani secara hati-hati, bukan hanya karena persoalan cara berkomunikasi kepada konsumen, tetapi juga karena besarnya biaya yang dikeluarkan oleh pelaku usaha. Tentu saja, hal ini harus dikondisikan oleh kompetensi pelaku bisnis atau perusahaan.
Menjalankan promosi mengutamakan peningkatan intensitas nilai barang dan jasa, yang mencakup berbagai aspek manajemen pemasaran, seperti peningkatan kualitas produk, kualitas layanan distribusi distributor dan kualitas layanan pelanggan. Khususnya, program promosi termasuk diskon, pendanaan biaya iklan dan bonus dari distributor. Cara ini cenderung membentuk citra yang lebih positif dari produk yang ditawarkan. Berbagai
informasi tentang seseorang, organisasi, atau produk disebarluaskan kepada publik menggunakan media, gratis dan tanpa pengawasan sponsor; Riyadi, Sufa, dan Susilo (2017) menjelaskan bahwa citra positif tiram bakar yang ditawarkan berdampak positif pada penjualan. Oleh karena itu, promosi adalah kegiatan komersial untuk memperkenalkan tiram panggang kepada publik dan mendorong mereka untuk berbelanja.
b. Keunggulan produk tiram yang berbasis seni budaya
Wisata masak tempura tiram berbasis budaya dan seni lokal dinilai memiliki keunggulan dibandingkan wisata masak lainnya. Pertama, letakkan tiram yang akan dimakan di atas batu dan kocok hingga cangkangnya terbuka. Anda kemudian bisa memakan daging tiram langsung dengan tangan atau dengan sendok. Proses ini tidak mudah, tetapi Anda tidak akan menyesalinya. Rasa dan aroma tiram bakar benar-benar menggigit lidah, tergantung selera, tiram bakar lebih enak disantap dengan nasi wangi atau nasi putih. Meski tampilannya mungkin kurang laku, pengalaman kuliner khas Barro ini memiliki cita rasa istimewa yang dijamin bikin ketagihan, dan penambahan tiram bakar ke Lajari menciptakan ikatan pribadi karena mencerminkan akar budaya Kabupaten Barro itu sendiri.Jika memakannya dengan Lacquer Mango, Anda bisa merasakan cita rasa tiram lasari goreng dengan cita rasa yang unik.
Kedua, mengunjungi dan mencicipi Lazari Oyster Oyster Tour adalah tanda bahwa Anda telah mengunjungi daerah Kabupaten. Ketiga, budaya lokal, wisata kuliner bakar tiram Lazari, merupakan sarana solidaritas antar
daerah dan kebanggaan bagi Kabupaten Barru. Hal tersebut merupakan demonstrasi keunggulan tiram bakar yang dapat menunjukkan identitas budaya yang menjadi ciri khas Kabupaten Barroux berbeda dengan Kabupaten lainnya..
c. Wisata kuliner yang berbasiskan keindahan alam
Wisata kuliner tiram bakar adalah proyek untuk bersama-sama menghasilkan produk dan jasa yang dibutuhkan oleh wisatawan, berdasarkan keindahan alam dan kearifan lokal, dengan menggunakan unsur budaya dan kearifan lokal sebagai sumber daya pariwisata. Memasak merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, sehingga merupakan bagian dari destinasi wisata yang tidak bisa diabaikan. Gastronomi juga merupakan daya tarik khusus ketika mengunjungi suatu destinasi wisata. Masakan yang memanfaatkan kearifan wilayah ini sangat diminati oleh para wisatawan domestik dan mancanegara. Masyarakat kita semakin menyadari perlunya menyegarkan diri dengan perjalanan rekreasi ke tujuan wisata yang sekarang berkembang pesat.
Hal ini karena campuran wisatawan asing dan domestik, wisatawan asing dan lokal, dapat diperkirakan akan menyebabkan benturan budaya dan masalah sosial di antara mereka, terutama di antara penduduk setempat.
Negara-negara dengan jumlah wisatawan asing yang tinggi hampir selalu mengalami perubahan budaya dan penurunan cara hidup tradisional. Oleh karena itu, kesepakatan bersama diperlukan untuk memastikan bahwa pengembangan pariwisata tidak mengasingkan budaya dan semangat lokal.
Oleh karena itu, pengembangan pariwisata perlu direncanakan sejalan dengan pengembangan budaya dan sosial.
Globalisasi adalah penyebab utama kebangkitan kembali identitas budaya lokal di banyak bagian dunia. Hal ini sejalan dengan pernyataan Anthony Gidden (2011) bahwa semakin homogenisasi gaya hidup masyarakat melalui globalisasi, semakin tergantung mereka pada nilai-nilai yang lebih dalam seperti agama, seni, budaya, sastra, lembaga sosial dan adat istiadat.
Demikian pula, dari perspektif lokal, ketika dunia menjadi lebih homogenisasi, tradisi endogen menjadi semakin penting. Di Indonesia, nilai strategis budaya lokal telah memberikan dorongan bagi berbagai daerah untuk mengembangkan potensi lokalnya dalam pengembangan pariwisata, termasuk makanan. Namun demikian, perlu juga diperhatikan bahwa aset alam dan budaya, termasuk makanan tradisional, perlu dilindungi dan dilestarikan sehingga menjadi daya tarik bagi destinasi pariwisata nasional dan internasional. Salah satunya telah dipatenkan untuk menghindari kemungkinan diklaim sebagai properti budaya di negara lain. Jika dikaitakan dengan hasil yang telah ditemukan (Siti Magfirah, 2021) terdapat hasil penelitian yang tidak jauh berbeda yaitumembuat konsep wisata edukasi yang menarik, membuat tarif paket eduwisata untuk mempermudah mengunjung dalam memilih kegiatan edukasi jamur tiram yang diinginkan dan mempertahankan daya tarik pengunjung. Alternative strategi menggunakan suatu analisis membuat wisata edukasi yang sangat menarik yang berbasiskan pada keindahan alam.
Berkaitan dengan teori perilaku sosial Max Weber, sangat erat kaitannya dengan strategi penjual tiram dalam pengembangan wisata kuliner, yaitu para pelaku yang melakukan tindakan rasional berbasis nilai, yaitu strategi penjualan untuk meningkatkan masakan. Pariwisata, dengan maksud untuk memperoleh nilai dari masyarakat, c) perilaku emosional, yaitu aktor yang menggunakan emosi untuk menerapkan strategi penjualan sukarela kepada konsumen oleh masyarakat atau pengunjung d. perilaku tradisional, penerapan strategi penjualan masih saya terbiasa menggunakan cara saya sendiri.
2. Dampak dari Strategi Penjual Tiram di Kabupaten Barru
Setiap bisnis yang digeluti oleh pembuat tiram bakar tentu memiliki visi. Prospek adalah istilah umum untuk bisnis yang dilakukan di masa depan.
Siapa pun penjualnya, ia pasti akan memikirkan bisnis yang sedang dilakukan sekarang. Hal ini karena bagaimanapun cara bisnis yang dijalankan, tidak lepas dari permintaan pengunjung, terlepas dari apakah prospek bisnis tersebut bertahan dan dijalani tergantung dari strategi penjual tiram bakar itu sendiri atau tidak.
Ada banyak cerita tentang memulai bisnis yang bisa diambil pelajarannya. Seringkali kita terkejut menyaksikan kesuksesan seorang wirausahawan. Terkadang kita tidak mengetahui proses seorang penjual tiram panggang yang sukses, tetapi jika ada lika-liku dalam perjalanan menuju kesuksesan wirausaha, tentu saja tidak sedikit kisah sedih di balik kesuksesan seorang penjual tiram panggang. Bahkan sebelum membuka toko tiram
panggang, seorang pedagang tiram panggang perlu jeli dalam memilih usaha yang tepat untuk dijalankan terlebih dahulu, seperti membaca situasi dan kondisi lokasi saat ini dan mencari usaha yang memiliki nilai tambah.
Akan tetapi seringkali penjual peram bakar mengalami suatu hal penurunan ekonomi namun berkat kegigihan keberanian kesabaran ketekunan dan kepandaiannya mengelola suatu strategi penjualan dari waktu ke waktu selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil yaitu meningkatnya pendapatan ekonomi yang dialami oleh masyarakat serta banyaknya pengunjung dalam hal ini melakukan suatu kunjungan terhadap sektor wisata yang ada di Kabupaten Barru.
Bila dikorelasikan dengan teori Max Weber tentang tindakan sosial tersebut sangat erat kaitannya dengan dampak dari strategi penjual tiram dalam meningkatkan wisata kuliner yaitu: a) tindakan rasional bersifat instrumental yang dimana aktor mencapai suatu tujuan-tujuan yang diinginkan seperti peningkatan pendapatan serta banyaknya pengunjung yang dating b.) tindakan rasional berdasarkan nilai yaitu aktor dalam melackukan dampak dari strategi penjualan dalam meningkatkan wisata kuliner dengan maksud untuk mendapatkan nilai masyarakat, c.) tindakan afektif yaitu aktor menggunakan sebuah perasaan sehingga apa yang mereka inginkan dapat tercapai seperti peningkatan pendapat, dan d.) tindakan tradisional, yang dimana dampak strategi penjual tiram bakar dapat meningkatkan pendapatan mereka.