BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
dengan seseorang yang taat dan patuh pada peraturan yang berlaku serta dapat dikatakan sebagai tindakan kebiasaan seseorang yang konsisten dalam segala tindakan.
Penelitian ini membahas tentang bagaimana penanaman karakter etika budaya di TK Darmawanita Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba. Tujuan dari pendidikan karakter itu sendiri yaitu untuk mendidik anak agar dapat bersikap dan bertindak serta mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka dapat memberikan konstribusi yang positif kepada lingkungannya. Peran guru disekolah dan orang tua yang sangat diperlukan dalam hal menanamkan karakter beretika yang baik sejak usia dini.
Pendidikan karakter bila dihubungkan dengan pendidikan anak usia dini yaitu mempersiapkan anak didik agar memiliki karakter yang baik, dan kelak ketika anak tersebut sudah dewasa hal tersebut sudah menjadi kebiasaan yang akan diterapkan dalam kehidupan sehari-harinya. Kementrian Pendidikan Nasional Republik Indonesia menyatakan harapan dan cita-cita generasi tua terhadap generasi masa depan adalah terciptanya generasi penerus bangsa yang berkualitas serta berkarakter yang baik yang dapat mampu menjaga harkat martabat bangsa. Adapun metode penanaman karakter disiplin di TK Darmawanita Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba yaitu dengan melakukan pembiasaan. Cara ini digunakan untuk meningkatkan karakter anak dalam melakukan aktifitas kesehariannya disekolah sehingga anak menjadi individu yang dapat beretika yang baik dalam segala hal.
Pada bagian ini akan dibahas hasil penelitian penerapan pembiasaan etika budaya untuk menstimulasi karakter anak usia dini kelompok B di TK Darmawanita Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba, cara yang dilakukan guru yaitu dengan memberikan pembiasaan-pembiasaan kepada anak, memberikan contoh atau menjadi teladan untuk anak didiknya, serta memberi nasehat-nasehat kepada anak dalam segala
memotivasi anak agar anak selalu beretika baik untuk menstimulasi karakter anak usia dini.
Adapun metode yang diberikan guru kepada anak didik yaitu dimana harus dilakukan secara terus menerus,konsisten dan diterapkan sehingga mampu terbiasa menerapkan pembiasaan etika budaya untuk menstimulasi karakter anak usia dini seperti beretika yang baik, menghormati guru, memberikan bantuan atau pertolongan kepada orang yang mebutuhkan, malu ketika mengambil barang milik orang lain, malu ketika tidak berkata jujur.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan guru dalam rangka penerapan pembiasaan etika budaya untuk menstimulasi karakter anak usia dini antara lain membiasakan anak patuh dan hormat terhadap orang lain, memiliki sikap yang sopan satun kepada orang yang lebih dewasa, terbiasa beretika yang baik (mengucapkan Tabe, Iye), memberikan bantuan atau pertolongan kepada orang yang membutuhkan, memiliki rasa malu ketika mengambil barang milik orang lain, dan malu ketika tidak berkata jujur. Dengan adanya pembiasaan kecil seperti ini sangat membantu anak dalam memiliki etika yang baik, baik itu disekolah maupun dirumah.
Guru dalam rangka penerapan pembiasaan etika budaya antara lain seperti membiasakan anak beretika yang baik (terbiasa mengucapkan Tabe, Iye), menghormati guru, memberikan pertolongan atau bantuan kepada orang yang membutuhkan, memiliki rasa malu ketika mengambil barang milik orang lain, malu ketika tidak berkata jujur. Hal seperti ini akan melatih anak untuk selalu berbuat baik, berakhlak terpuji baik itu di dalam sekolah maupun diluar sekolah yang akan membuat dirinya menjadi contoh yang baik bagi orang lain, memberikan penjelasan atau memotivasi kepada anak, serta melakukan kerjasama yang baik dengan orang tua anak, sehingga pada saat dirumah apa yang sudah diajarkan di sekolah diajarkan pula dirumah ini
pembiasaan etika budaya dapat dilakukan secara konsisten dalam kehidupan anak.
Selalu mengapresiasi setiap perkembangan anak, salah satu contohnya adalah ketika anak mampu memberikan bantuan tanpa diminta, mengakui kesalahan guru akan memberikan pujian serta memotivasi agar anak yang lain dapat meniru perilaku anak yang lain yang sudah mampu memebrikan bantuan tanpa diminta, mengakui kesalahan. Serta memcari faktor penyebab anak yang masih belum bisa memberikan bantuan tanpa diminta. Ketika guru telah berhasil mengetahui faktor penyebabnya kemudian guru dan orang tua mencari solusi yang terbaik untuk dapat menanamkan kepada anak untuk selalu dapat beretika yang baik. Dari hasil penelitian yang dilakukan pada tanggal 15 November 2021 menunjukkan pada hasil observasi pertama, kedua, dan ketiga, keempat dan kelima terlihat penerapan pembiasaan etika budaya untuk menstimulasi karakter anak usia dini kelompok B TK Darmawanita terlihat peningkatan tidak signifikan pada tahap observasi pertama dimana dari 15 anak yang diteliti beretika yang baik (terbiasa menucapkan Tabe, Iye) ada 5 anak memiliki Kriteria Mulai Berkembang (MB), 7 anak memiliki kriteria Berkembang Sesuai Harapan (BSH) dan 3 anak memiliki kriteria Berkembang Sangat Baik (BSB). Pada observasi kedua dimana dari 15 anak yang diteliti menghormati guru terlihat ada 6 anak Mulai Berkembang (MB), 5 anak Berkembang Sangat Harapan (BSH) dan 4 anak Berkembang Sangat Baik (BSB). Pada observasi ketiga dalam memberikan bantuan atau pertolongan kepada orang yang membutuhkan dimana dari 15 anak yang diteliti anak sudah mampu Berkembang Sesuai Harapan (BSH). Pada observasi keempat dimana dari 15 anak yang diteliti malu ketika mengambil barang milik orang lain terdapat 4 anak Mulai Berkembang (MB) dan 11 anak Berkembang Sesuai Harapan (BSH) selanjutnya yaitu pada observasi kelima dimana dari 15 anak yang diteliti malu ketika tidak berkata jujur anak sudah mampu Berkembang Sesuai Harapan. Ini
anak usia dini dapat dikatakan sudah optimal.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan pembiasaan etika budaya di sekolah dapat menstimulasi kemampuan karakter anak, hal tersebut senada dengan teori Pavlov, teori Thomdike yang dikenal dengan teori koneksionisme. Menurut teori ini, dengan memberikan rangsangan (stimulus), maka anak akan mereaksi dengan respon. Hubungan stimulus-respon ini akan menimbulkan kebiasaan-kebiasaan otomatis pada belajar anak yang nantinya akan menimbulkan sikap meniru dengan latihan-latihan yang bersifat continuemaka hubungan tersebut akan menjadi semakin kuat.
Lebih lanjut, Armai Arif (2002: 110) “mengatakan bahwa anak memiliki
“rekaman ingatan” yang kuat dan kondisi kepribadian yang belum matang, sehingga mereka mudah terlarut dengan kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan sehari-hari”.
Oleh karena itu, sebagai awal proses pendidikan, pembiasaan merupakan cara yang sangat efektif dalam menanamkan nilai-nilai moral ke dalam jiwa anak.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa melaluipenerapan pembiasaan etika budaya untuk menstimulasi karakter anak usia dini kelompok B di TK Darmawanita Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba dapat dikatakan bahwa penerapan pembiasaan etika budaya (Tabe, Iye, dan Siri) pada anak sudah mampu berkembang sesuai harapan. Penerapan pembiasaan etika budaya untuk menstimulasi karakter anak usia dini dilakukan dengan pembiasaan.
B. Saran
1. Saran Bagi Guru
Saran Bagi guru Setiap anak memiliki tingkat perkembangan yang berbeda- beda ada anak mudah yang mudah diatur, ada anak yang sulit diatur dan ada anak mudah mengerti apa yang disampaikan dan ada anak yang susah mengerti apa yang disampaikan, untuk itu guru perlu memahami lebih dalam karakter masing-masing anak agar perlakuan yang diberikan mudah diterima anak. Komunikasi antara guru dan orang tua harus senantiasa berjalan dengan lancar agar memudahkan mencapai tujuan yang diinginkan serta pembiasaan etika budaya yang sudah diterapkan anak disekolah dapat pula diterapkan dirumah dan lingkungan sekitar.
2. Saran Bagi Masyarakat
Saran bagi masyarakat agar dapat menjadi sumber pengetahuan baru dan dapat menambah wawasan khasanah keilmuan dari masyarakat atau pembaca.
Sehingga dapat membuka cakrawala berpikir khususnya tentang pentingnya penerapan pembiasaan etika budaya sehingga menstimulasi karakter anak usia dini.
3. Saran Bagi Peneliti Selanjutnya
Saran bagi peneliti selanjutnya adalah penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk penelitian selanjutnya guna menyempurnakan penelitian yang sudah ada.
Perlu adanya kajian yang mendalam di era modern ini khsusnya pada pembiasaan etika budaya untuk menstimulasi karakter anak karena setiap masa akan mengalami perubahan dan perkembangan. Melihat pentingnya karakter anak usia dini karena anak merupakan generasi penerus bangsa dan aset berharga bagi negara.
DAFTAR PUSTAKA
Agus Wibowo. 2013. Pengertian Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Pustaka pelajar Anisa . 2020. Manfaat Pendidikan Karakter. Yogyakarta: UNY Press
50
http://anggi sopiandi.blogspot.com/2014/pengertian-etika-profesi-dan.html
Armai Arif, 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Pers
Asmani. 2013.Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Diva Press
AZZET, A.M. 2001. Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Cahyaningrum.E.S. 2017. Pengembangan nilai-nilai karakter anak usia dini melalui pembiasaan dan keteladanan.
Dadan Suryana. 2016. Pendidikan Anak Usia Dini Stimulasi dan Perkembangan Anak.
Jakarta: Kencana
Depdiknas.2004 Teknik Penilaian. Jakarta: Puskur.
Depdiknas. 2004.Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 14 tentang Sisrem Pendidikan Nasional. Jakarta:
Ditjen Dikti.
Dony Koesema. 2010. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter. Jakarta: Grasindo
Eka Sapti. 2017.Pengembangan Nilai-Nilai Karakter AUD Melalui Pembiasaan Dan Keteladanan. volume 6.Yogyakarta.
Fadilah dan LilifMualifatuQorida. 2016.ManfaatPendidikan Karakter Anak UsiaDini.
Yogyakarta: Amuz Media
. 2013.Langkah-langkah Etika Budaya. Yogyakarta.
Hamid Patilima. 2013. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta Hasnidah. 2014. Analisa Kebutuhan Anak Usia Dini. Jakarta: Luxima
Iskandar. 2012.Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta Selatan: Referensi (GP Press Group).
Jonh W. Cresswell (2010). Research Design Pendekatan Kualitatif, kuantitatif, dan Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
K. Bertens. 2007. Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka
Kemendiknas. 2011. Pengertian Pendidikan Karakter. Jakarta: Pusat Kurikulum Koesoema, D. 2011. Pendidikan Karakter Strategi Mendidik Anak di Zaman
Globa.Jakarta:Grasindo.
52
Gramedia, Pustaka Utama.
Kurniawan, Syamsul. 2013. Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Lickonah. 2004. Prinsip Pendidikan Karakter Anak Usia Dini. Bandung: Nusa Media Lilis M Adyawati. 2016. Strategi Pengembangan Bahasa. Jakarta: Kencana
Luzna Silviyani. 2016. Penanaman Karakter Religius dan Disiplin di TK Negeri Pembina.Semarang.
Mansur. 2009. Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Moleong Lexy.J.2013. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Karya
Mulyasa.2012. Pengertian pendidikan karakter AUD. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Rahim R. Nilai-Nilai Utama Kebudayaan Bugis. Ujung Pandang Hasanuddin: Press.
Said Hamid. 2010. Prinsip Pendidikan Karakter Anak Usia Dini.
Sitti Umaroh. 2018.Membangun Karakter AUD Melalui Budaya Usia 5-6 Tahun di TK PaudhatulAthfal Nurul Huda Suban Lampung Selatan.
Sofia. 2005. Pengertian Anak Usia Dini. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Soerjono Joekanto. 2004. Budaya. Jakarta: Bhatara Karya Aksara Sugiyono (2007). Metode Penelitian Kualitatif PT Gramedia, Jakarta Suseno. 2007.Manfaat Etika Budaya. Jawa: Balai Pustaka
Tamrin. 2014.Kesatuan Berbahasa Bugis Pada Masyarakat Sulawesi Selatan. vol.9 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Undang-Undang SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional), 2003. Pendidikan Anak Usia Dini Pasal 01. Jakarta: Sinar Grafika
W.J.S Poerwadarrminta. 2000. Pengertian Etika Budaya. Jakarta: Balai Pustaka Zubaedi. 2011. Fungsi Karakter Anak UsiaDini. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
L A M
P
I
R
A N
Kisi- Kisi Langkah Pelaksanaan Wawancara
1. Menentukan pertanyaan yang akan dijawab sesuai masalah yang akan diteliti 2. Mengidentifikasi sasaran pewawancara yang dapat menjawab dengan baik
pertanyaan-pertanyaan wawancara
3. Menentukan tipe wawancara yang praktis dan dapat menghasilkan informasi yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan
4. Merancang dan membuat daftar pertanyaan sesuai dengan masalah yaitu pembiasaan etika budaya
5. Melakukan kegiatan wawancara
6. Mencatat hasil wawancara dengan partisipan pada lembar pedoman wawancara
Instrument Wawancara Narasumber : M (Wali Kelas B1) Hasil Tanggal Wawancara : 15 November 2021
Lokasi Wawancara : Jl Moncongbuloa Kalimporo
No. Pertanyaan Hasil Wawancara
1
Bagaimana ibu mengenalkan pembiasaan etika budaya pada anak?
Say Mengenalkan pembiasaan etika budaya itu dengan cara menjelaskan terlebih dahulu etika yang ada di Kajang
2
Bagaimana ibu memberikan contoh pembiasaan etika budaya tabe, iye dan siri yang baik dan benar?
Saya sebagai guru memberikan contoh pembiasaan etika budaya Tabe, Iye dan Siri itu dengan mempraktikan langsung dikelas maupun diluar kelas
3
Apakah anak member bantuan ketika dimintai pertolongan oleh orang lain (guru atau teman)?
Anak-anak disini ketika dimintai pertolongan ada yang langsung memang merespon ada juga yang tidak merespon
4
Apakah ibu rutin melakukan pembiasaan etika budaya untuk membuat anak dapat beretika tabe, iye dan siri?
Pastinya rutin, karena untuk membiasakan anak melakukan pembiasaan etika budaya itu harus rutin supaya anak juga terbiasa
5
Bagaimana cara ibu membuat anak dapat menyadari akibat bila tidak beretika budaya yang baik?
Cara saya untuk membuat anak untuk dapat beretika yang baik itu dengan cara memberitahu anak apa saja akibatnya bila tidak patuh kepada orang tua contohnya seperti mendapatkan dosa
6 Apakah ibu membuat peraturan agar anak selalu beretika budaya yang baik?
Kalau berbicara tentang peraturan itu pastinya ada yah, supaya anak juga mau melakukan pembiasaan itu sendiri supaya apa yang diinginkan dari pembiasaan ini
bisa dicapai.
7
Bagaimana cara ibu menerapkan budaya tabe kepada anak agar anak membungkukkan badan dan menurunkan tangan di samping lutut ketika lewat didepan orang yang lebih tua darinya?
Cara menerapkan budaya tabe dengan membungkukkan badan kepada anak itu dengan memberikan contoh serta selalu juga memberikan bimbingan kepada anak untuk selalu membungkukkan badan atau mappatabe ketika lewat di depan orang lain.
8
Bagaimana cara ibu menerapkan budaya iye kepada anak agar sopan ketika berbicara kepada orang yang lebih tua?
Dengan cara memberikan contoh kepada anak terlebih dahulu setelah itu anak mempraktikkan di kelas terlebih dahulu contohnya itu seperti pada saat absen anak diajarkan untuk menyebut kata iye hadir.
9
Bagaimana cara ibu menerapkan etika budaya siri agar anak memiliki rasa malu?
Dengan cara menjelaskan kepada anak tentang etika budaya malu seperti malu ketika tidak berkata jujur, malu ketika tidak mengerjakan tugas, dan malu ketika mengambil barang milik orang lain.
10 Bagaimana cara ibu menegur anak yang lupa mengucapkan tabe ketika melewati orang yang lebih tua darinya?
Ketika anak lupa mengucapkan kata tabe atau membungkukkan tangan itu biasanya saya langsung menegur anak dengan kata sederhana contohnya: “si A lupa yah bilang tabe sama ibu besok tidak lupa lagi yah nak”.
11 Apakah anak menegur teman apabila lupa melakukan tabe?
Kadang saya lihat ada anak yang menegur teman bila lupa mappatabe tapi semua yah.
12 Apakah anak tersenyum ketika
bertemu dengan orang lain? iye anak sudah lumayan ramah 13 Apakah anak bertutur kata baik
ketika berbicara dengan orang lain?
Sebagian anak sudah mulai bisa bertutur kata baik ketika berbicara seperti kepada temannya, mulai saling berbagi dengan kata yang lembut
14
Bagaimana guru menjadi teladan sehingga anak dapat berusaha menaati aturan yang telah disepakati?
Cara saya menjadi teladan itu dengan cara berusaha menjadi contoh yang baik seperti membuang sampah pada tempatnya, menaruh sepatu pada rak sepatu.
15 Bagaimana guru menjadi teladan Cara saya menjadi teladan untuk
akibat bila tidak sopan? menyadari akibat bila tidak sopan itu dengan cara membuat peraturan yang akan membuat anak untuk tidak melakukan kesalahan contoh peraturan yang saya berikan itu apabila ada yang tidak sopan maka orang itu akan menghafalkan surah-surah pendek atau bernyanyi didepan kelas.
16
Bagaimana guru memberikan nasehat siri sehingga anak merasa malu saat datang terlambat ke sekolah?
Saya memberikan nasehat siri kepada anak dengan memotivasi anak atau memberikan reward kepada anak yang datang tepat waktu
17
Bagaimana guru memberikan nasehat sehingga anak menyadari akibat bila tidak hormat kepada orang yang lebih tua?
Dengan cara menginatkan bila anak tidak hormat atau lupa hormat kepada orang lain, jadi tidak ada nasehat khusus.
18
Bagaimana guru menjelaskan budaya siri agar anak tidak mengambil barang milik orang lain?
Untuk menjelaskan budaya siri kepada itu pastinya tidak mudah, jadi kami menjelaskannya dengan cara bertahap setiap harinya agar anak juga bisa mengerti maksud kita.
19 Apakah anak meminta maaf ketika telah melakukan kesalahan?
Soal meminta maaf ketika melakukan kesalahan itu baru beberapa anak
20 Bagaimana cara guru menjelaskan kepada anak agar selalu menolong orang lain?
Tidak ada cara khusus yah untuk menjelaskan kepada anak untuk selalu menolong orang lain paling cuma memberikan nasehat-nasehat bahwa membantu orang lain itu disukai Allah dan mendapatkan pahala, itu saja sih yang biasa saya jelaskan kepada anak
Bagaimana cara guru menjelaskan budaya iye kepada anak agar selalu mengatakan iye ketika dipanggil?
Sama dengan menjelaskan budaya siri, yang dimana kami sebagai gurunya itu menjelaskan secara bertahap lalu langsung menerapkannya
22 Bagaimana cara guru menjelaskan kepada anak agar selalu meminta maaf ketika melakukan kesalahan?
Dengan cara menasehati anak tersebut dan memberitahu kepada orang tua anak untuk mengajarkan anak untuk selalu mengakui kesalahannya ketika
ketika melakukan kesalahan jadi dengan cara seperti itu akan membuat anak untuk terbiasa ketika telah melakukan kesalahan selalu untuk meminta maaf.
23
Bagaimana cara ibu mengajarkan anak mengucapkan tabe ketika hendak memotong pembicaraan atau mengatakan sesuatu kepada orang lain?
Menjelaskan bagaimana cara kita bersikap kepada orang yang lebih tua cara kita berbicara kepada orang tua.
Instrument Wawancara Narasumber : I (Orang Tua Murid) Hasil Tanggal Wawancara : 15 November 2021
Lokasi Wawancara : Jl Moncongbuloa Kalimporo
No Pertanyaan Hasil Wawancara 1
Bagaimana ibu mengenalkan pembiasaan etika budaya pada anak?
Dengan cara membiasakan anak untuk beretika yang baik seperti mengucapkan iye ketika dipanggil 2 Bagaiman cara ibu membuat anak
selalu menerapkan pembiasaan etika budaya?
Dengan cara langsung menerapkan pembiasaan tersebut dalam kehidupan sehari-hari anak
3 Bagaimana cara ibu mengajarkan kepada anak mengucapkan tabe ketika hendak memotong pembicaraan atau mengatakan sesuatu kepada orang lain?
Paling dengan menegur anak kalau tidak boleh memotong pembicaraan orang dewasa itu saja sih
4 Bagaimana cara ibu menjelaskan kepada anak agar selalu menolong orang lain?
Dengan cara pembiasaan jadi ketika ketika anak melihat atau dimintai pertolongan itu langsung membantu
5 Bagaimana cara ibu menjelaskan budaya iye kepada anak agar selalu iye ketika dipanggil?
Karena di sekolah juga diajarkan jadi saya tidak terlalu menjelaskan paling saya menegur anak apabila dia lupa
6 Bagaimana cara ibu membuat anak agar anak tidak terlambat datang ke sekolah?
Biasanya anak kalau malam cepat disuruh tidur dan cepat dibangunkan saat pagi untuk siap- siap ke sekolah
7 Apakah ibu menegur anak apabila tidak bertutur kata yang baik kepada orang yang lebih tua?
Iye, saya akan mennegur anak apabila tidak bertutur kata yang baik agar anak menyadari bahwa dengan perkataan seperti itu adalah kata yang tidak baik untuk diucapkan
8 Bagaimana cara ibu menerapkan budaya tabe kepada anak agar anak membungkukkan badan dan menurunkan tangan di samping lutut ketika lewat didepan orang yang lebih tua darinya?
Menjelaskan kepada anak bahwa saat lewat didepan orang lain itu harus mappatabe.
9 Apakah ibu memberikan contoh pembiasaan etika budaya yang baik dan benar?
Iye saya memberikan contoh pembiasaan etika yang baik
10 Apakah anak meminta maaf ketika
telah melakukan kesalahan? Kadang meminta maaf kadang juga tidak tapi biasanya saya mengingatkan kalau salah itu harus meminta maaf atau mengakui kesalahan.
LEMBAR OBSERVASI ETIKA BUDAYA ANAK
Nama Anak : M I
Jenis Kelamin : Laki-laki
Aspek yang diamati Realisasi Keterangan
BB MB BSH BSB Beretika yang baik
(terbiasa mengucapkan tabe, iye)
✓
Malu ketika mengambil barang milik orang lain
✓ Memberikan bantuan
orang yang membutuhkan
✓
Menghormati guru ✓
Malu ketika tidak berkata jujur
✓
Keterangan
No Kategori
1. BB (Belum Berkembang) 2. MB (Mulai Berkembang)
3. BSH (Berkembang Sesuai Harapan) 4. BSB (Berkembang Sangat Baik)
LEMBAR OBSERVASI ETIKA BUDAYA ANAK
Nama Anak :A F
Jenis Kelamin : Laki-laki Apek yang
diamati
Realisasi Keterangan
BB MB BSH BSB
Beretika yang baik (terbiasa
mengucapkan tabe, iye)
✓
Malu ketika mengambil barang milik orang lain
✓
Memberikan bantuan
atau pertolongan ✓
membutuhkan Menghormati guru
✓
Malu ketika tidak
berkata jujur ✓
Keterangan
No Kategori
1. BB (Belum Berkembang) 2. MB (Mulai Berkembang)
3. BSH (Berkembang Sesuai Harapan) 4. BSB (Berkembang Sangat Baik)
LEMBAR OBSERVASI ETIKA BUDAYA ANAK
Nama Anak : H
Jenis Kelamin : Laki-laki
Aspek yang diamati Realisasi Keterangan
BB MB BSH BSB Beretika yang baik
(terbiasa mengucapkan tabe, iye)
✓
Malu ketika mengambil barang milik orang lain
✓
Memberikan bantuan atau pertolongan kepada orang yang membutuhkan
✓
Menghormati guru ✓
Malu ketika tidak
berkata jujur ✓
No Kategori 1. BB (Belum Berkembang) 2. MB (Mulai Berkembang)
3. BSH (Berkembang Sesuai Harapan) 4. BSB (Berkembang Sangat Baik)
LEMBAR OBSERVASI ETIKA BUDAYA ANAK
Nama Anak : H F
Jenis Kelamin : Laki-laki
Aspek yang diamati Realisasi Keterangan
BB MB BSH BSB Beretika yang baik
(terbiasa mengucapkan tabe, iye)
✓
Malu ketika mengambil
barang milik orang lain ✓ Memberikan bantuan
atau pertolongan kepada
orang yang
membutuhkan
✓
Menghormati guru ✓
Malu ketika tidak
berkata jujur ✓
Keterangan
No Kategori