BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
yang berpengalaman. ( Nurchaeranib, Budaya Suku Bugis Mappadendang.
http://Nurchaeranib. Blogspot. Com /2012/12/ Budaya-Suku-Bugis- Mappadendang. html 24-04-2014 )
Sedangkan menumbuk dibadan lesung adalah mereka perempuan atau laki-laki yang sudah mahir dengan menggunakan bambu atau kayu yang berukuran setinggi badan orang atau penumbuknya. Seiring dengan nada yang lahir dari kepiawaian para penumbuk, biasanya dua orang laki-laki melakukan tari pakarena. Adapun tata cara Mappadendang yaitu pertama; 4 orang perempuan sebagai indo padendang yang menggunakan baju bodoh memegang Alu dan menumbukkan Alu tersebut kesebuah palungeng (dulang) dengan bergantian sehingga mengeluar sebuah irama yang unik dan dapat membuat orang bergoyang. 3 orang laki-laki sebagai ambo padendang yang Ma’benra dan sesekali mengeluarkan tarian yang khas seperti pencat silat.
perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama (Doyle Paul Johson. 1986:181).
Solidaritas masyarakat desa parenring kecamatan lilirilau kabupaten soppeng dapat kita lihat dari pembagian tugas dalam melaksanakan tradisi Mappadendang dimana masyarakat turut berpartisipasi secara sukarela dengan menyumbangkan uang demi mencukupi dana yang dibutuhkan dalam tradisi tersebut, dan ada juga yang pergi mencari padendang untuk di sewa, karena sudah tidak banyak lagi orang yang lincah dalam melakukan mappadendang, maka masyarakat pergi mencari padendang untuk di sewa pada saat acara dimulai. Selain itu, masyarakat juga bekerjasama dalam pembuatan baruga kecil, dalam pembuatan bilik baruga dan tempat untuk memasang alat padendang, kita dapat melihat masyarakat bekerjasama dalam menyelesaikan baruga kecil yang akan dipakai pada saat acara dimulai.
Kerjasama dalam tradisi mappadendang memang sangat dibutuhkan karena akan meringankan pekerjaan yang dilakukan, selain meringankan pekerjaan juga mempererat ikatan persaudaraan antar masyarakat karena dengan bekerjasama setiap individu akan selalu berinteraksi dan saling membantu dalam memecahkan persoalan-persoalan untuk mencapai tujuannya, sehingga akan terjalin juga komunikasi-komunikasi yang dimana semua itu akan menambah rasa persaudaraan.
Aktifitas tradisi Mappadendang di desa parenring kecamatan lilirilau memang selalu bekerjasa dalam pelaksanaan ritual baik dalam persiapan maupun dalam pelaksanaan ritual tersebut.
2. Tradisi Mappadendang
Tradisi dalam bahasa Arab berasal dari kata A’datun ialah sesuatu yang terulang-ulang atau Isti’adah ialah adat istiadat yang berarti sesuatu yang terulang-ulang dan diharapkan akan terulang lagi. Tradisi adalah adat kebiasaan dilaksanakan secara turun temurun yang masih dilaksanakan oleh masyarakat dan memberi manfaat bagi kehidupannya (Zuhairi Misrawi.2004:16).
Berbicara mengenai Tradisi, hubungan antara masa lalu dan masa kini haruslah lebih dekat. Tradisi mencakup kelangsungan masa lalu di masa kini ketimbang sekedar menunjukkan fakta bahwa masa kini berasal dari masa lalu. Kelangsungan masa lalu di masa kini mempunyai dua bentuk, material dan gagasan, atau objektif dan subjektif. Menurut Tasikuntan, tradisi berasal dari kata “traditium” pada dasarnya berarti segala sesuatu yang di warisi dari masa lalu. Tradisi merupakan hasil cipta dan karya manusia objek material, kepercayaan, khayalan, kejadian, atau lembaga yang di wariskan dari sesuatu generasi ke generasi berikutnya. seperti misalnya adat-istiadat, kesenian dan properti yang digunakan.
Mappadendang adalah sekelompok orang yang menumbukkan sebuah Alu ke lesung sehingga mengeluarkan sebuah nada dan disertai gerakan. Mappadendang juga merupakan upacara adat menumbuk padi yang sering dilakukan orang bugis. Mereka menyebutnya nampu ase lolo. Dalam upacara ini hadir para muda-mudi, terutama dari golongan orang terpandang.
Upacara adat ini biasanya dilaksanakan pada musim setelah panen dan
dilakukan oleh muda-mudi dengan berpasang-pasangan. Upacara ini dipimpin oleh orang tua yang sudah berpengalaman dalam melakukan mappadendang.
Menurut penulis, tradisi Mappadendang memiliki hal yang dapat dipertahankan yaitu dalam hal melestarikan budaya dan tetap menjaga hubungan silaturahmi antara masyarakat serta meningkatkan solidaritas masyarakat, akan tetapi penulis tidak sependapat dengan kepercayaan masyarakat yang berpandangan bahwa tradisi mappadendang merupakan merupakan suatu ritual tolak bala untuk ketenangan desa tersebut. Karena yang dapat memberi ketenangan hanyalah Allah SWT.
Awal sebelum dimainkan acara Mappadendang itu pertama sanro bersama masyarakat yang terlibat dalam tradisi Mappadendang itu pergi kesebuah sumur yang sering disebut sare papa dengan membawa makanan berupa baje, sokko, sawa, dan lain-lain untuk dibaca karena dari sumur itulah yang menjadi sumber adanya Mappadendang. Setelah selesai di baca kemudian dibawalah makanan tersebut ketempat pembuatan baruga padendang untuk dimakan bersama. Setelah baruga selesai maka dimulailah tradisi Mappadendang itu. Biasanya Komponen utama dalam Mappadendang terdiri atas enam perempuan, 4 pria, bilik baruga, lesung, Alu, dan pakaian tradisional, baju bodo. Mappadendang pada mulanya dimainkan oleh gadis dan pemuda serta masyarakat biasa.
Para perempuan yang beraksi dalam bilik baruga disebut pakkindona. Kemudian pria yang menari dan menabur bagian ujung lesung disebut pakkambona. Bilik baruga terbuat dari bambu, serta memiliki pagar
dari anyaman bambu yang disebut walasoji. Personil yang bertugas dalam memainkan seni menumbuk lesung ini atau Mappadendang dipinpin oleh dua orang, masing-masing berada di ulu atau kepala lesung lesung guna mengatur ritme dan tempo irama dengan menggunakan alat penumbuk yang berukuran pendek tersebut di atas, biasanya yang menjadi pengatur ritme adalah mereka yang berpengalaman. ( Nurchaeranib. 2012 )
Sedangkan menumbuk dibadan lesung adalah mereka perempuan atau laki-laki yang sudah mahir dengan menggunakan bambu atau kayu yang berukuran setinggi badan orang atau penumbuknya. Seiring dengan nada yang lahir dari kepiawaian para penumbuk, biasanya dua orang laki-laki melakukan tari pakarena. Adapun tata cara Mappadendang yaitu pertama; 4 orang perempuan sebagai indo padendang yang menggunakan baju bodoh memegang Alu dan menumbukkan Alu tersebut kesebuah palungeng (dulang) dengan bergantian sehingga mengeluar sebuah irama yang unik dan dapat membuat orang bergoyang. 3 orang laki-laki sebagai ambo padendang yang Ma’benra dan sesekali mengeluarkan tarian yang khas seperti pencat silat.
Menurut masyarakat desa parenring kecamatan lilirilau kabupaten soppeng tradisi mappadendang ini dilakukan untuk menjaga hubungan silaturahmi antar masyarakat karena ketika mappadendang dilakukan masyarakat bersama-sama datang untuk menyelesaikan Mappadendang tersebut.
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam penyelenggaraan Tradisi Mappadendang, diantaranya :
a. Pakaian yang dikenakan dalam Tradisi Mappadendang :
1) Biasanya mengenakan pakaian adat yang telah ditentukan.
2) Bagi wanita diwajibkan untuk memakai baju bodo.
3) Laki-laki memakai lilit kepala namun ada juga yang tidak memakainya serta berbaju kuning atau sesuai yang telah ditentukan setiap daerah.
b. Alat yang digunakan dalam Tradisi Mappadendang :
1) Lesung panjangnya berukuran kurang lebih 1,5 meter dan maksimal 3 meter. Lebarnya 50 cm Bentuk lesungnya mirip perahu kecil namun berbentuk persegi panjang.
2) Enam batang alat penumbuk yang biasanya terbuat dari kayu yang keras atau pun bambu berukuran setinggi orang dan ada dua jenis alat penumbuk yang berukuran pendek, kira-kira panjangnya setengah meter.
Adapun Hambatan yang biasa dihadapi masyarakat dalam Tradisi Mappadendang yaitu dari segi dana dalam pembiayaan tradisi tersebut, karena tradisi yang ada di desa parenring kecamatan lilirilau kabupaten soppeng tidak mendapat dana dari perimentah setempat dan pelaku padendang yang disebut pa’dembo dan pa’bendra sudah kurang dikarenakan pa’dembo dan pa’benranya sudah sangat tua dan tidak bisa Mappadendang selain itu adapula yang sudah meninggal. Anak dari pa’dembo dan pa’benra tersebut yang merupakan penerusnya belum lincah
memainkan Alu dalam Mappadendang. Dengan adanya hambatan–
hambatan tersebut, Maka ketua adat dan masyarakat setempat membiayai tradisi mappadendang tersebut dengan melibatkan kontribusi masyarakat.
Kontribusi masyarakat disini ialah dengan menyumbangkan uang, membawa beras dan membawa makanan. Penyumbangan uang oleh masyarakat kemudian dikumpulkan untuk menyewa pa’dembo dan pa’benra karena di desa lain masih banyak pa’dembo dan pa’benra yang lincah dalam Mappadendang.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian penulis, maka dapat diambil kesimpulan bahwa:
1. Tradisi Mappadendang telah dilakukan sejak zaman nenek moyang. Tradisi mappadendang dilakukan masyarakat sebagai bentuk rasa syukur atas keberhasilannya dalam memanen padi dan merupakan wadah bersosialisasi antar sesama masyarakat serta mempererat hubungan sosial sesama masyarakat.
2. Dalam tradisi Mappadendang dapat meningkatkan hubungan sosial sesama masyarakat desa parenring kecamatan lilirilau kabupaten soppeng dan masyarakat desa tetangga selain itu tradisi Mappadendang juga merupakan suatu hiburan bagi masyarakat setempat dan sekitarnya. Tradisi Mappadendang juga meningkatkan sifat dan sikap kerjasama atau solidaritas masyarakat semakin tinggi. Dalam tradisi Mappadendang masyarakat juga memberi kontribusu berupa uang, beras, telur, serta kue tradisional untuk dimakan bersama dalam acara Mappadendang. Dengan adaynya tradisi mappadendang hubungan sosial masyarakat semakin meningkat dan sikap kotong royong masyarakat semakin tinggi dengan nilai kebersamaan yang tercipta. Selain itu proses ritual mappadendang juga memberikan kontribusi
dalam peningkatan hubungan masyarakat setempat dengan masyarakat dari desa tetangga.
3. Hambatan yang biasa dihadapi masyarakat dalam tradisi mappadendang yaitu pembiayaan atau dana tradisi tersebut, karena tradisi mappadendang ini tidak mendapat biaya dari pemerintah setempat dan pelaku padendang yang disebut dengan pa’dembo dan pa’bendra sudah kurang. Maka tuan rumah dan masyarakat setempat membiayai tradisi mappadendang tersebut dengan melibatkan kontribusi masyarakat. Kontribusi masyarakat disini yaitu dengan menyumbangkan uang, membawa beras, dan membawa makanan. Penyumbangan uang yang oleh masyarakat kemudian dikumpulkan untuk menyewa pa’dembo dan pa’bendra karena di desa lain masih banyak pa’dembo dan pa’bendra yang lincah dalam Mappadendang.
B. Saran
Dengan menyadari, bahwa tradisi mappadendang sangat penting dipertahankan, karena merupakan bagian identitas dari suku bugis dan kekayaan budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Diharapkan kepada masyarakat maupun pemerintah setempat tetap harus menjaga dan mempertahankan budaya- budaya lokal sebagai wujud melestarikan karya budaya Bugis karena peran pemerintah dan masyarakat sangat dibutuhkan.
DAFTAR PUSTAKA
Anhari, Masykur. Ushul Fiqh, Surabaya: Diantama, 2008.
Bungin, H. M. Burhan, Sosiologi Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2016).
Kinloch, Graham C. Perkembangan dan Paradigma Utama Teori Sosiologi, Bandung: CV Pustaka Setia. 2009.
Khalil, Rasyad Hasan. Tarikh Tasryi ; Sejarah Legislasi Hukum Islam, Jakarta:
Amzah, 2005.
Linda Sari “Solidaritas Sosial Masyarakat dalam Tradisi Mappadendang pada Suku Bugis di Kelurahan Empagea Kecamatan Wattang Sidenreng Kabupaten Sidenreng Rappang”. Skripsi ini berisi penelitian yang mengkaji solidaritas sosial masyarakat dalam tradisi mappadendang, 2017.
Masri, Abd.Rasyid. Perubahan sosial Efektifitas Komunikasi dan Dakwa, Makassar: Alauddin University Press. 2012.
Ma’arif, Ahmad Syafie. Menembus Batas Tradisi, Menuju Masa Depan Yang Membebaskan Refleksi Atas Pemikiran Nurcholis Majid, Jakarta : Paramadina, 2006
Misrawi, Zuheri. Menggugat Tradisi Pergulatan Pemikiran Anak Muda Nu dalam Nurhalis Madjid Kata Pengantar, Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
2004.
Nurchaeranib. Budaya Suku Bugis Mappadendang. http://Nurchaeranib.
Blogspot.Com /2012/12/ Budaya-Suku-Bugis-Mappadendang. html 24-04- 2014.
Nyori, Alam, Syamsu. Pangkep Dalam Kerifan Budaya Lokal. Cet. 1; Makassar:
Pustaka Refliksi, 2009.
Paul Doyle Johnson, Teori Sosiologi Klasik & Modern Jilid II. Jakarta:
Gramedia. 198
Pranowo, Bambang. Islam Faktual Antara Tradisi Dan Relasi Kuasa , Yogyakarta:Adicipta Karya Nusa, 1998
Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: PT RajaGrafindo. 2012.
Sajogyo. Sosiologi Pedesaan, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 1995.
Shadily, Hasan. Sosiologi Untuk Masyarakat Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.1983.
Sunarto, Kamanto Pengantar Sosiologi (edisi Revisi) Jakarta: Lembaga Penerbit Faklutas Ekonomi Universitas Indonesia. 2004
Wirawan, Teori-Teori Sosial Dalam Tiga Paradigma; Fakta Sosial, Definisi Sosial & Perilaku Sosial, Jakarta: Kencana Prenadamedia Group. 2012.
Nurchaeranib, Budaya Suku Bugis Mappadendang.http://Nurchaeranib. Blogspot.
Com /2012/12/ Budaya-Suku-Bugis-Mappadendang. html 24-04-2014.
https://www.rakyatbugis.com/2014/12/budaya-suku-bugis-mappadendang- pesta.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Mappadendang
LAMPIRAN
PEDOMAN WAWANCARA
1. Bagaimana pendapat Bapak / Ibu tentang tradisi mappadendang ?
2. Sebelum pelaksanaan acara mappadendang apa saja yang harus disiapkan oleh masyarakat ?
3. Siapa saja yang terlibat dalam pelaksanaan mappadendang ? 4. Apa saja yang harus dilakukan sebelum mappadendang ? 5. Mengapa mesti melakukan tradisi mappadendang setiap tahun ?
6. Bagaimana bentuk solidaritas masyarakat dalam tradisi mappadendang ? 7. Bagaimana pembagian kerja dalam tradisi mappadendang ?
8. Bagaimana proses pelaksanaan tradisi mappadendang ?
9. Apa saja kendala yang dihadapi dalam melakukan tradisi mappadendang ? 10. Apakah dengan diadakannya tradisi mappadendang ini bisa meningktkan
solidaritas masyarkat?
LEMBAR OBSERVASI
NO. Aspek Yang di Amati YA TIDAK
1.
Tata cara Mappadendang
Memakai pakaian Tradisional
Memakai pakaian berwarna
berwarna hitam/merah Kekompakan dalam
penumbukan alu ke sebuah lesung
2.
Kerjasama Masyarakat dalam melaksanakan Tradisi Mappadendang
Kerjasama dalam membuat tempat padendang
Bekerjasama dalam membangun baruga kecil
Bekerjasama dalam
mempersiapkan
alat yang
digunakan pada saat
mappadendang Bekerjasama dalam
membersihkan lokasi yang akan ditempati pada saat
mappadendang
3.
Aktifitas yang dilakukan dalam Tradisi Mappadendang
Melakukan tarian
pada saat
mappadendang Penumbukan gabah di sebuah lesung dengan diiringi bersama gendang.
DOKUMENTASI