• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

Indonesia sudah banyak perempuan yang menduduki jabatan penting dan menjadi seorang pemimpin hal ini disebabkan karena rasa percaya diri yang tinggi dan kemampuan yang dia miliki.

2. Keterkaitannya dengan pandangan agama

Dari sisi penciptaan, laki-laki secara umum memiliki kekuatan fisik melebihi wanita. Laki-laki mampu melakukan berbagai pekerjaan berat yang tidak mampu dikerjakan oleh wanita. Kemudian laki-laki diberi kelebihan akal oleh Allah SWT yang dimaksudkan bahwa laki- laki mampu berpikir panjang dan jauh kedepan, sehingga lebih hati-hati dan lebih tepat dalam mengambil keputusan. “Kami tidaklah mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad) melaikan beberapa orang laki- laki yang kami beri wahyu kepada mereka. Maka Tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui” (QS. Al- Anbiya’ 21:7). Tetapi perempuan sangat dimuliakan karena dialah yang melahirkan seorang pemimpin. Dan perempuan juga dilindungi kehormatannya dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab Ayat 59. “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri- isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

3. Sumber daya manusia yang tersedia

Sumber daya yang dimaksudkan yaitu motivasi kerja, orientasi, perilaku, dan skill. Laki-laki dalam berpikir dan memotivasi lebih fokus,

berdasarkan logika orientasinya kepada hasil, general, dan berpikir kedepan. Sikapnya tegas, objektif, dan fleksibel. Skill ladearship, technical, dan strategic. Sedangkan perempuan dalam memotivasi pola pikirnya meluas, berdasarkan perasaan. Orientasinya fokus pada relasi, detail, dan berpikir pendek. Sikapnya mengandalkan perasaan dan subjektif. Skill administration, relationship. Untuk bagian keamanan dan masalah pekerjaan yang menggunakan fisik serta pekerjaan berat lainnya yang mendominasi adalah seorang laki-laki (Setiawati et al., 2016). Pada porsinya perempuan memang diposisikan pada bagian administrasi karena dalam kemampuan dan energi yang digunakan sesuai dengan kodratnya.

Dari semua hal tersebut dapat disimpulkan bahwa budaya patriarki yang memposisikan perempuan dibawah laki-laki memang masih menjadi kultur atau budaya dalam masyarakat karena apapun pekerjaannya yang lebih diutamakan yaitu kaum laki-laki hal inilah yang menjadi penghambat perempuan dalam menjalani kariernya dalam birokrasi. Merurut teori Max weber tentang impersonalitas yang menyatakan bahwa keadilan dalam hal apapun tanpa memandang jenis kelamin terbantakan karena dalam mempati suatu jabatan masih melihat jenis kelamin dan kemampuan orang tersebut. Sama halnya pada Dinas Perhubungan Kota Makassar memang yang dominan diduduki pengawai laki-laki karena dalam menjalankan tugasnya memerlukan tenaga, dan fisik yang kuat. Maka dari itu sebagaian besar pegawai laki-laki

melakukan pekerjaan lapangan dan pengawai perempuannya mengerjakan bagian administrasi sesuai dengan hasil penelitian yang menunjukkan sebagai berikut:

Pertama, Keadilan dalam birokrasi pada Dinas Perhubungan Kota Makassar masih menganut unsur patriarki yang dimana penempatan pegawai laki-laki lebih dominan daripada perempuan. Selain itu, berdasarkan hasil observasi peneliti bahwa dalam keadilan disini tidak terlaksana dengan baik karena yang mendominasi jabatan structural di Dinas Perhubungan Kota Makassar adalah pengawai laki-laki dengan jumlah 16 orang dan pengawai perempuan berjumlah 6 orang.

Kedua, persamaan dalam mencari pekerjaan pada Dinas Perhubungan Kota Makassar, perempuan ditempatkan untuk pekerjaan rumah tangga saja (domestic service) atau laki-laki sebagai pencari nafkah (breadwinner) tidak sesuai karena siapapun yang memiliki kemampuan, kemauan untuk terus berkembang dan berani untuk ikut dalam birokrasi pemerintahan dapat juga mencari nafkah dan ikut dalam mencapai jenjang karier yang cemerlang.

Ketiga, konsistensi perempuan dalam dunia birokrasi tidak lagi dianggap status politisnya sebagai (inferior) tetapi juga mampu menjadi pemimpin (superior) karena dengan berbagai kualifikasi keahlian yang dimilikinya dianggap mampu untuk masuk ke dunia birokrasi dan mampu memimpin anggota di bawahnya. Kualifikasi keahlian ini juga diimbangi dengan jenjang karier yang telah ia tempuh.

65 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai penerapan birokrasi pemerintahan pada Dinas Perhubungan Kota Makassar berdasarkan Teori Max Weber Impersonalitas Birokrasi (Hardianti, 2018) yaitu:

berdasarkan Keadilan, Persamaan, dan Konsistensi. Maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Pertama, Keadilan dalam birokrasi pada Dinas Perhubungan Kota Makassar masih menganut unsur patriarki yang dimana penempatan pegawai laki-laki lebih dominan daripada perempuan yang dimana jabatan structural yang ditempati pengawai laki-laki berjumlah 16 orang sedangkan pegawai perempuan berjumlah 6 orang.

Kedua, Persamaan dalam mencari pekerjaan pada Dinas Perhubungan Kota Makassar, perempuan ditempatkan untuk pekerjaan rumah tangga saja (domestic service) atau laki-laki sebagai pencari nafkah (breadwinner) tidak sesuai karena siapapun yang memiliki kemampuan, kemauan untuk terus berkembang dan berani untuk ikut dalam birokrasi pemerintahan.

Ketiga, konsistensi perempuan dalam dunia birokrasi tidak lagi dianggap status politisnya sebagai (inferior) tetapi juga mampu menjadi pemimpin (superior) karena dengan berbagai kualifikasi keahlian yang dimilikinya dianggap mampu untuk masuk ke dunia birokrasi dan mampu

memimpin anggota di bawahnya. Kualifikasi keahlian ini juga diimbangi dengan jenjang karier yang telah ia tempuh.

B. Saran

Untuk meningkatkan birokrasi pemerintahan yang ideal, maka peneliti menyarankan:

1. Pemerintah seharusnya memberikan aturan-aturan maupun regulasi terhadap keterwakilan perempuan dalam birokrasi agar tercapainya keseimbangan dan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan.

2. Perlunya transparansi dalam pemilihan jabatan stuktural yang jelas sehingga siapapun baik laki-laki maupun perempuan dapat meningkatkan kualitas dirinya untuk menempati jabatan yang lebih tinggi.

3. Kepada peneliti selanjutnya, perlu mengkaji perkembangan ilmu pengetahuan dan teori sosial yang baru dan kemudian kuatkan dengan data apa yang diteliti.

67

DAFTAR PUSTAKA

Adnan, M. F. (2016). Reformasi Birokrasi Pemerintahan Daerah dalam Upaya Peningkatan Pelayanan Publik. 12(2).

Anggara. (2015). Perbandingan Administrasi Negara. CV Pustaka Setia.

Firdaus, F., & Oktisari, D. (2018). Birokrasi Dan Implementasi Program. Jurnal Ecoment Global, 3(2), 30.

Hardianti, H., Mustari, N., & Parawu, H. E. (2018). Pengaruh Impersonalitas terhadap Kepuasan Masyarakat di RSUD Syeh Yusuf Kabupaten Gowa.

Matra Pembaruan, 2(2), 123–137.

Kollo, F. L. (2017). Budaya Patriarki dan Partisipasi Perempuan dalam Bidang Politik. Prosiding Konferensi Nasinal Kewarganegaraan III, November, 320–318.

Masniyah, I. (2018). Aplikasi Teori Birokrasi dan Patologi Max Weber pada Pemerintahan Desa Kerangkulon Wonosalam Demak. 82.

Moleong. (2015). Metodologi Penelitian Kualitatif. PT. Remaja Rosdakarya.

Murniati. (2015). Perempuan dalam Perspektif Agama Budaya dan Keluarga.

Mustafa, D. (2015). Birokrasi Pemerintahan. CV. Alfabetta.

Nurcahyo, A. (2016). Relevansi Budaya Patriarki Dengan Partisipasi Politik Dan Keterwakilan Perempuan Di Parlemen. Agastya: Jurnal Sejarah Dan Pembelajarannya, 6(01), 25.

Nurfitriyani. (2018). Isu Patriarki Pada Perempuan Dalam Birokrasi Lokal (Studi Kasus Di Kelurahan Antang Kota Makassar. Sosiologi.

Omara, A. (2016). Perempuan, Budaya Patriarki, dan Representasi. Mimbar Hukum, 2(4), 148–165.

Prakoso. (2018). Relasi Kuasa Perempuan pada Budaya Patrilinealistik Untuk Mengambil Keputusan dalam Lembaga Birokrasi ( Studi Kasus Sekretariat Pemerintahan Kabupaten Aceh Utara ).

Ramadhanti, R. (2018). Politik dan Birokrasi Pemerintahan. Jurnal Trias Politika, 2(1), 96.

Sakina, A. I., & A., D. H. S. (2017). Menyoroti Budaya Patriarki Di Indonesia.

Share : Social Work Journal, 7(1), 71.

Setiawan Ikwan. (2016). PATRIARKI: Masyarakat, budaya, dan negara dalam kuasa lelaki. Matatimoer Institute.

Setiawati, Anindityo, Niam, Wanodyanti, & Hakimi. (2016). Isu Perbedaan Jenis Kelamin Dalam Manajemen Sumber Daya Manusia (pp. 6–12).

Sugiyono. (2015). Memahami Penelitian Kualitatif. Alfabeta.

Ulfah, N. Z. (2018). POLA KOMUNIKASI ORGANISASI DPRD SUKOHARJO (Studi Deskripstif Kualitatif Karakteristik Birokrasi DPRD Sukoharjo berdasarkan Teori Birokrasi Max Webber).

Umamah, C. (2019). Konsep Birokrasi Menurut Max Weber Perspektif Etika Ibnu Miskawaih. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–

1699.

Wardani, E. H. (2015). Belenggu-Belenggu Patriarki: Sebuah Pemikiran Feminisme Psikoanalisis Toni Morrison Dalam “the Bluest Eye.” Fakultas Ilmu Budaya, 1–45.

Wawan Risnawan. (2017). Fungsi Birokrasi Dalam Efektivitas Pelayanan Publik.

Ilmu Administrasi Negara, 4(1).

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi

Peraturan Walikota Makassar Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Uraian Tugas Jabatan Struktural Dinas Perhubungan Kota Makassar

69

L A M

P

I

R

A

N

Gambar 1.

Kantor Dinas Perhubungan kota makassar

Gambar 2.

Wawancara dengan Kepala Sub Bagian Perencanaan Dan Pelaporan

Gambar 3.

Wawancara dengan Kepala Seksi Monitoring dan Pengelolaan Data

Gambar 4.

Wawancara dengan Kepa Seksi Transportasi Publik

Gambar 5.

Wawancara dengan Kepala Seksi Pemaduan Moda dan Teknologi Perhubungan

Gambar 6.

Wawancara dengan Kepala Seksi Pengoperasian Sarana Dan Prasarana Perhubungan

Gambar 7.

Wawancara dengan Kepala Seksi Promosi dan Edukasi Keselamatan Berlalu Lintas

Gambar 8.

Surat Permohonan Izin Penelitian Dari LP3M Unimuh

Gambar 9.

Surat Izin Penelitian Dari PTSP Kota Makassar

Gambar 10.

Surat Izin Penelitian dari BKBP Kota Makassar

Gambar 11.

Surat Keterangan Telah Meneliti Di Dinas Perhubungan Kota Makassar

Gambar 12

Surat Keterangan Bebas Plagiat

RIWAYAT HIDUP

KARTINI KHARISMA NUR, Lahir di Ujung Pandang (Makassar) pada tanggal 27 April 1999. Penulis adalah seorang anak tunggal yang merupakan buah kasih sayang dari pasangan Muh. Nur Shidiq dan Meigy Mandagi. Penulis mulai memasuki jenjang pendidikan Sekolah Dasar pada tahun 2005 di SD Negeri 1 Sangatta Utara dan tamat pada tahun 2011. Pada tahun 2011, penulis melanjukan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 1 Sangatta Utara dan tamat pada tahun 2014. Pada tahun 2014, penulis melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Sangatta Utara dan tamat pada tahun 2017. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar (UNISMUH) dengan mengambil Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dan tamat sebagai alumni pada tahun 2022 dengan gelar sarjana (S.AP). Penulis sangat bersyukur dan berbahagia, karena telah menyelesaikan pendidikan dan berkesempatan untuk menambah ilmu pengetahuan yang nantinya dapat diamalkan dan dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Dokumen terkait