• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Tabel 4.8 Data sebaran angket siswa

No. Kategori Skor %

1 Sangat setuju 86%

2 Setuju 72%

3 Rata-rata 0%

4 Tidak setuju 0%

5 Sangat tidak setuju 0%

Berdasarkan tabel 4.8 bahwa terdapat 7 pernyataan yang harus diisi oleh siswa sesuai dengan arahan, ada 5 jenis jawaban dari angket tersebut yang harus dipilih oleh siswa. Dari sebaran angket tentang manfaat buku petunjuk praktikum ini ada 20 siswa yang mengisi angket dengan hasil sebanyak 12 orang memilih Setuju tentang manfaat buku petunjuk praktikum, kemudian ada 8 orang siswa yang menjawab Sangat Setuju dan. Untuk contoh angket dapat dilihat di lampiran 2.

Pengembangan petunjuk praktikum menggunakan metode 4D (define, design, development, disseminate) telah mendapatkan hasil berupa petunjuk praktikum dengan analisis kebutuhan kurikulum pada materi pertumbuhan dan perkembangan kelas XII IPA.

2. Pengaruh air cucian beras dan air kolam ikan

Pengamatan pengaruh fermentasi air cucian beras dan air kolam ikan terhadap produktivitas tanaman cabai rawit dimulai dilakukan tiap minggu sampai tanaman cabai berbuah itu selama 70 hari setelah tanam (HST).

Dari awal pembibitan sampai mendapatkan hasil berupa produkttivitas tanaman cabai rawit, dalam penelitian ini parameter yang akan diukur adalah jumlah buah, jumlah buah yang dipanen, berat basah buah, dan berat kering buah. Berikut pembahasan parameter dalam penelitian ini:

1. Jumlah Buah Tanaman Cabai Rawit

Jumlah buah pada tanaman cabai rawit dengan pemberian pengaruh fermentasi air cucian beras dan air kolam ikan terhadap produktivitas tanaman cabai rawit. Ada 4 perlakuan dalam penelitian ini P0, P1, P2, P3 dan ada masing-masing 6 ulangan. Pada hasil penelitian ini jumlah buah yang paling banyak terdapat pada perlakuan ke-2 (P2) dengan konsentrasi 31% air cucian beras + 31% air kolam ikan dengan jumlah buah sebanyak 238 dengan ulangan sebanyak 6 kali dan hasil jumlah paling sedikit ada pada perlakuan ke-0 (P0) dengan kosentrasi sebanyak 100% air biasa dengan jumlah buah 104.

Jumlah buah terbanyak pada perlakuan ke-2 yaitu dengan konsentrasi 31% memberikan hasil yang terbaik dikarenakan pemberian pupuk organik dan letak perlakuan ini di barisan tengah mempengaruhi dari sebaran serangan hama penyakit, sedangkan jumlah buah paling sedikit yakni perlakuan ke-0 dengan konsentrasi 100% air biasa, dengan hanya diberikan air biasa ke tanaman membuat tanaman

cabai rawit pada perlakuan ini mendapatkan jumlah buah yang paling sedikit.

Berdasarkan penelitian terdahulu dari risky putra sampurna dengan judul pengaruh pemberian pupuk organik cair limbah ikan dan hasil tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.) terdapat jumlah buah yang paling banyak ada pada perlakuan dengan konsentrasi 45% pupuk organik cair ditambahkan dalam 100% air biasa. Pengaruh mikroorganisme tanah dapat membantu dalam proses pertumbuhan dan meningkatkan hasil pada tanaman cabai rawit.34 Mendapatkan hasil yang tidak sama dalam penelitian ini dengan jumlah buah terbanyak ada pada perlakuan dengan pemberian pupuk organik cari sebanyak 31%

ditambahkan ke dalam 100% air biasa.

Jumlah buah pada tanaman cabai rawit ini terdapat beberapa pengaruh dari faktor eksternal seperti serangan hama, intensitas cahaya matahari, hujan dan kandungan mikroorganisme yang terdapat didalam tanah. Serangan hama pada penelitian ini tidak terlalu memberikan dampak yang merugikan dikarenakan dengan melekukan pengamatan setiap hari peneliti bisa mengkontrol serangan hama dengan melakukan tindakan pencegahan lansung sehingga tidak memberikan dampak yang terlalu besar terhadap tanaman cabai rawit.

Berdasarkan uji statistika jumlah buah pada tanaman cabai rawit terdistribusi normal dan homogen, sehingga dialnjutkan keuji anova, pada uji anova jumlah buah pada tanaman cabai rawit ini tidak

34 Risky putra sampurna, “pengaruh pemberian pupuk organik cair limbah ikan terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabao rawit (Capsicum frutescens L.)”, fakultas pertanian UPN, jawa timur 2020.

signifikan sehingga Ho diterima dan Ha ditolak. Jadi tidak ada pengaruh dalam pemberian sisa air cucian beras dan air kolam ikan terhadap produktivitas tanaman cabai rawit. Akan tetapi dengan pemberian pengaruh 31% merupaka hasil yang paling optimal dalam penelitian walaupun tidak siginifikan.

2. Jumlah Buah Yang Dipanen

Jumlah buah yang dipanen dari pemberian perlakuan berupa fermentasi sisa air cucian beras dan air kolam ikan terhadap produktivitas tanaman cabai rawit berdasarkan tabel 4.2 dilakukan setelah hari ke- 70 hari setelah tanam (HST) dengan proses panen sebanyak 2 kali.

Jumlah buah yang dipanen paling banyak terdapat pada perlakuan ke-2 dengan konsentrasi 31%

air cucian beras + 31% air kolam ikan dengan jumah buah yang dipanen sebanyak 130 buah. Untuk jumlah buah yang dipanen paling sedikit terdapat pada perlakuan ke-0 dengan konsentrasi 100% air biasa dengan jumlah buah yang dipanen sebanyak 57 buah.

Berdasarkan penelitian terdauhlu fatimatus zahro dalam penelitian perbandingan variasai konsentrsai pupuk organik cair dari limbah ikan terhadap pertumbuhan tanaman cabai rawit (Capsicum annum L.) terdapat jumlah buah terbanyak ada pada perlakuan dengan pemberian pupuk dengan konsentrasi 45%, pupuk organik hasil fermentasi dengan EM4 mengandung mikroba yang membantu dalam proses fermentasi sehingga memiliki hasil dengan keterserapan unsur hara yang tinggi terhadap

tanaman cabai rawit.35 Pada penelitian ini mendapatkan hasil yang paling banyak ada perlakuan dengan pemberian pupuk organik cair dengan konsentrasi 30% sehingga dari penelitian terdahulu tidak sama dari jumlah buah yang di hasilkan.

Pengaruh intensitas cahaya matahari dan serangan hama sangat mempengaruhi jumlah dari buah yang dipanen, rontok buah sebelum dipanen merupakan penyakit yang ada pada penelitian ini yang disebabkan oleh serangan hama. Serangan hama pada buah yang akan dipanen sangat merugikan karna terjadinya pembusukan pada buah sehingga dari seluruh buah cabai ada 31% dari jumlah sudah diinfeksi oleh bakteri pembuskan buah, pembusukan ini disebabkan karna adanya kehadiran bakteri.36 Pemberian pupuk organik cair berupa air cucian beras dan air kolam ikan berdasarkan uji statistika terdistribusi normal dan homogen sedangkan pada uji anova mendapatkan hasil yang tidak signifikan, sehingga menyatakan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak yaitu tidak terdapat pengaruh dari pemberian fermentasi sisa air cucian beras dan air kolam ikan terhadap produktivitas tanaman cabai rawit. Akan tetapi di dalam penelitian ini perlakuan dengan konsentrasi 31% pupuk organik cair memberikan hasil yang paling optimal.

35 Fatimatuz Zahro, “Perbandingan Variasi Kosentrasi Pupuk Organik Cair Dari Limbah Ikan Terhadap Pertumbuhan Tanaman Cabai Merah (Capsicum Annum L.)”, Fakultas Sains UIN Walisongo, Semarang 2018.

36 Yoga Aji Handoko’ “Isolasi Dan Karakterisasi Biokimia Bakteri Pembusuk Buah Cabai Rawit”, Program Studi Agroteknologi, Universitas Keristen Satya Kencana, Jawa Tengah, 2020

3. Berat basah buah cabai rawit

Pengukuran berat basah buah cabai rawit dilakukan sebanyak dua kali dikarenakan proses panen buah pada penelitian ini sebanyak 2 kali panen kemudian ditotalkan untuk mendapatkan berat basah secara keseluruhan, pengukuran menggunakan timbangan digital dan dilaksanakan pengukuran dirumah sendiri.

Berat basah buah, dengan pemberian perlakuan berupa fermentasi sisa air cucian beras dan air kolam ikan terhadap produktivitas tanaman cabai rawit terdapat jumlah berat basah terbanyak buah cabai rawit ada pada perlakuan ke-2 dengan kosentrasi 31%

air cucian beras + 31% air kolam ikan dengan berat 233 gr, kemudian data berat basah buah cabai rawit paling rendah ada pada perlakuan ke-0 dengan konsentrasi 100% air biasa dengan berat sebesar 111 gr.

Pada penelitian terdahulu dari Makrawati dengan judul pengaruh pemberian air cucian beras terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman tomat (Solannum lycipersichum L.), terdapat berat basah buah terbanyak ada pada perlakuan dengan pemberian 60% air cucian beras, sedangkan pada penelitian ini berar basah buah cabai rawit ada perlakuan dengan pemberian konsentrasi 31% air cucian beras dan air kolam ikan.

Hasil yang berbeda dari penelitian sebelumnya ini diduga disebabkan oleh air cucian beras karna didalam air cucian beras ada kandungan sulfur yang dimana sulfur ini berfungsi membantu dalam prsoses sintesis protein dan bagian asam amino sistein, sulfur

membantu stabilisasi struktur protein serta membantu mengurangi terjadinya serangan penyakit.37

Pengaruh kelembapan udara dan intensitas cahaya matahari sangat mempengaruhi hasil penimbangan pada berat basah buah cabai rawit, dalam penelitian ini setelah buah dipanen dilakukan penimbangan lansung pada buah agar mendapatkan hasil yang maksimal, ukuran buah dan berat buah dapat dipengaruhi oleh tinggi tanaman.38

Hasil uji statistika berupa uji anova menghasilkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak yaitu tidak adanya pengaruh dari fermentasi sisa air cucian beras dan air kolam ikan terhadap produktivitas tanaman cabai rawit. Data yang tidak signifikan pada uji anova tidak menutupi hasil yang paling baik pada berat berat basah ada pada perlakuan dengan konsentarsi 31%

yang paling optimal.

4. Berat Kering Buah Cabai Rawit

Berat kering tanaman cabai rawit, dengan pemberian perlakuan berupa fermentasi sisa air cucian beras dan air kola ikan terhadap produktivitas tanaman cabai rawit dengan perlakuan sebanyak 4 perlakuan (P0, P1, P2, P3) dan masing-masing ulangan ada 6. Sebelum menghitung berat kering buah cabai rawit terdapat perlakuan yang diberikan kepada buah cabai yaitu buah cabai yang masih basah harus dijemur dibawah sinar matahari lansung selama 7 hari sampai kadar air pada buah cabai benar-benar

37 Makrawati, “Pengaruh Pemberian Air Beras Terhadap

Pertumbuhan Dan Produktivitas Tanaman Tomat (Solannum Lycopersychum L.)” Jurusan Pendidikan Biologi, UHO. Februari 2017

38 Desi Natalia Edowai, “Mutu Cabai Rawit (Capsicum Frutescens L.) Pada Tingkat Kematangan Dan Suhu Ang Berbeda Selama Penyimpana”, Jurusan Teknologi Pertanian, Universitas Papua, Papua Barat, 2018

berkurang dengan berat cabai setengah dari berat cabai yang masih basah.

Data terbanyak pada berat kering buah cabai rawit ada pada perlakuan ke-2 dengan konsentrai 31%

air cucian beras + 31% air kolam ikan dengan berat sebesar 55,49 gr, dan data yang paling sedikit ada pada perlakuan ke-0 dengan konsentrasi 100% air biasa dengan berat sebesar 24,6 gr.

Hasil uji statistika berupa uji anova menghasilkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak yaitu tidak adanya pengaruh dari fermentasi sisa air cucian beras dan air kolam ikan terhadap produktivitas tanaman cabai rawit. Data yang tidak signifikan pada uji anova tidak menutupi hasil yang paling baik pada berat berat basah ada pada perlakuan dengan konsentarsi 31%

yang paling optimal.

Pengaruh intensitas cahaya matahari dan kelembapan udara sangat mempengaruhi dari berat kering buah cabai rawit di karenakan untuk mendapatkan hasil buah yang kering sangat mengandalkan bantuan dari cahaya matahari, setelah kering daya simpan buah cabai rawit bisa sampai 7 bulan lamanya.39

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas tanaman cabai rawit yaitu selain dari intensitas cahaya matahari dan curah huja, dalam penelitian ini ada beberapa penyakit yang ditemukan yaitu :

1. Kutu kebul (Myzus Persicae Zulcer)

Hama kutu daun dapat merusak dengan menyerap nutrisi daun dan merusak jaringan dan mengakibatkan pertumbuhan menjadi tidak normal,

39 Ibid, Desi Natalia Edowai

daun yang terserang oleh kutu kebul ini mengakibatkan daun menjadi lapuk karna cairan mansi yang dihasilkan kutu dapat menghambat proses fotosintesis pada daun.40

Kutu daun ini menyerang daun tanaman cabai sehingga dapat mempengaruhi dari pertumbuhan tanaman, karna dalam penelitian ini jumlah tanaman cabai tidak terlalu banyak cara menghilangkan dengan diusap-usap dan dibersihkan kutu daun dengan air biasa sampai benar-benar bersih di setiap daun, letak dari kutu daun ini biasanya ada di bagian bawah daun, berwarna putih dan hidup berkelompok.

Resiko dari penelitian lapangan pada tanaman cabai tidak dapat dihindari dari serangan kutu daun ini.

Kutu kebul (Myzus Persicae Zulcer) terdapat pada perlakuan ke-0 ulangan 2 dan 3, dan pada perlakuan ke-1 pada ulangan ke 4.

2. Pembusukan buah

Pembusukan buah yang diakibatkan oleh bakteri lansung menyerangke bagian buah dari cabai rawit, dampak yang diberikan oleh serangan bakteri ini adalah buah cabai mengalami pembusukan kemudian rusak dan tidak bisa dimanfaatkan, sebagai negara tropis tingkat intensitas cahaya dan hujan yang turun juga dapat membuat buah menjadi busuk sebelum dipanen.

Gejala awal dari serangan bakteri ini adalah adanya bitnik-bintik ekcil warna hitam dibagian buah yang kemudain menyabar dan bisa menular, bakteri

40 Alfindra, “Pengaruh Lama Penyimpanan Tepung Daun Sirih Hutan (Piper Aduncum L.) Dalam Mengendalikan Hama Kutu Daun Persik (Myzus Persicae Zulcer) (Homoptera: Aphididae) Pada Tanaman Cabai (Capsicum Annum L.)”, Fakultas Agrikultur, Universitas Riau, Riau.

ini tidak hanya menyerang bagian buah, pada bagian pucuk, daun dan batan juga terdapat infeksi dari bakteri ini, sehingga dapat merusak tanaman.41 Pembusukan buah pada penelitian ini terdapat pada perlakuan ke-1 ulangan 1 dan 2, dan perlakuan ke-0 pada ulangan ke 3 dan 4.

3. Keriting daun

Keriting daun pada tanaman cabai rawit sering dijumpai, keriting daun cabai dimana keadaan pada daun cabai yang menjadi keriting, kuning, kurus dan rontok, keadaan keriting daun menyebabkan nutrisi dan hasil dari fotosintesis tidak dapat diolah secara maksimal, tanaman tidak tumbuh lebat dan dapat mengganggu produktivitas cabai rawit.

Keriting daun dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti kurangnya air, kurang perawatan dan serangan dari serangga-serangga, cara pengendalian dari penyakit keriting daun ini adalah dengan cara memotong bagian daun yang sudah terkena penyakit keriting daun sehingga membuat tanaman memproduksi cabang baru yang masih belum terkena oleh penyakit keritng daun. Keriting daun pada penelitian ini terdapat pada perlakuan ke-0 ulangan 2 dan 3, perlakuan ke-1 ulangan 3, perlakuan ke-2 ulangan 1, dan perlakuan ke-3 ulangan ke 3 dan 5.

1. Pengembangan menjadi petunjuk praktikum

Setelah penelitian tentang produktivitas tanaman cabai rawit kemudian hasilnya ini akan dikembangkan menjadi pandaun praktikum bagi kelas XII IPA yang dilaksanakan di pondok pesantren Al-Islahuddyn Kediri

41 Ibid, Yoga Aji Handoko

Lombok Barat, dengan metode sebar angket tentang manfaat buku petunjuk praktikum.

Kegiatan praktikum didasarkan pada keterampilan proses ilmiah, yaitu anak didik bisa menemukan fakta, meciptakan sendiri konsep ilmiah, teori dan sikap, sehingga berdampak positif pada kualitas Pendidikan dan produk Pendidikan.42

1. Analisis kebutuhan

Analisis kurikulum berdasarkan penelitian ini terdapat pada materi pertumbuhan dan perkembangan tanaman, prkatikum biologi pada kelas XII IPA dilakukan untuk memenuhi kurikulum sehingga diperlukan petunjuk praktikum sebelum melakukan praktikum.

Berdasarkan hasil observasi awal dengan mewawancarai guru pamongn bahwa panduan praktikum biologi sangat dibutuhkan oleh siswa karena jika hanya mengandalkan buku LKS masih tidak sesuai dengan praktikum yang akan dilaksanakan. Dari siswa sendiri mengatakan bahwa kebutuhan buku petunjuk praktikum sangat di perlukan untuk menambah wawasan pengetahuan tentang materi yang akan dipraktikkan.

2. Merancang petunjuk praktikum

Merancang petunjuk praktikum menggunakan metode 4D (Define, Design, Develop, Dissaminate) yaitu pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran, observasi pendahuluan dilakukan sebelum pembuatan petunjuk praktikum ini dengan melakauakn survei lapangan langsung ke sekolah

42Hartono, “Penegmbangan Buku Panduan Praktikum Kimia Hidrokarbon Berbasis Keterampilan Proses Sains Pada SMA”, 87-93, 2014

untuk menyesuaikan kebutuhan belajar dengan siswa itu sendiri.43

Setelah data awal terkumpul kemudian ke tahap perancangan buku petunjuk praktikum yang didesain sesuai dengan orientasi pada pemebelajaran biologi kelas XII, desain mulai dari cover, kata pengantar, daftar isi, tata tertib praktikum, format penulisan laporan, alat dan bahan, lembar tugas siswa.

Tahapan berikutnya ialah penegmbangan yang sudah divalidasi oleh para ahli dalam hal ini guru pamong madrasah, stelah melakuakn pengujian tahap awal dan menerima masukan dari ahli dan revisi petunjuk praktikum kemudian ke tahap berikutnya yakni penyebarluasan dengan cara di bagikan langsung ke siswa kelas XII IPA MA Putra Pondok Pesantren Al-Islahuddyny Kediri Lombok Barat.

Tentang buku petunjuk praktikum biologi materi pertumbuhan dan perkembangan.

3. Pengembangan

Berdasarkan data hasil angket siswa bahwa terdapat 7 pernyataan yang harus dipilih oleh siswa, dan jumlah siswa yang mengikuti pengisian angket ini ada 20 siswa dari kelas XII, terdapat 5 jawaban yang harus dijawab yaitu STS (Sangat Tidak Setuju), TS (Tidak Setuju), R (Ragu-ragu), S (Setuju), dan SS (Sangat Setuju).

Dari ke 20 siswa yang mengisi angket terdapat 86% memilih setuju tentang manfaat buku panduan praktikum, kemudaian ada 72% yang memilih sangat setuju.

43 Hartono, Zulaiha. “Pengembangan Buku Panduan Praktikum Kimia

Hidrokarbon Berbasis Keterampilan Proses Sains Pada SMA”. 87 - 93, 2014.

Pembelajaran ilmu biologi tidak akan terlepas dari yang namanya praktium karna kebanyakan ilmu biologi merupakan ilmu tentang alam yang harus dipelajari lansung ke alam dan bukan hanya belajar didalam kelas saja.44

44 Mila Putri, “Pengembangan Buku Penuntun Praktikum Struktur dan Fungsi Tumbuhan dengan Model Argument-Driven Inquiry (ADI)”, Pendidikan Biologi FKIP Universitas Lampung, April 2018.

BAB V KESIMPULAN A. Kesimpulan

Berdasarkan rumusan masalah dan hasil analisis data dan pembahasan dalam panelitian ini dapat disimpulkan bahwa:

Fermentasi air cucian beras dan air kolam ikan terhadap produktivitas tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.) tidak berpengaruh secara signifikan. Produktivitas tertinggi terdapat pada perlakuan ke-2 dengan konsentrasi 31% air cucian beras + 31% air kolam ikan.

Pengembangan menjadi petunjuk praktikum dengan metode 4D mendapatkan respon sebanyak 86% siswa memilih sangat setuju dan 72% siswa memilih setuju tentang petunjuk praktikum.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas ada beberapa saran yang ingin disampaikan peneliti yaitu :

1. Bagi petani untuk lebih memanfaatkan pupuk organik dalam proses menanam cabai rawit karna selain ramah lingkungan juga harga yang murah.

2. Bagi peneliti selanjutnya untuk lebih mengembangkan penelitian ini menjadi lebih baik.

3. Bagi dunia Pendidikan bahwa manfaat dari panduan praktikum sangat beguna pada saat melakukan proses praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

A Yassi Pertumbuhsn Dan Produksi Tiga Varietas Cabai Dengan Aplikasi Pupuk Organic Cair, Universitas Hasanudin, 2020.

Alfindra, Pengaruh Lama Penyimpanan Tepung Daun Sirih Hutan (Piper Aduncum L.) Dalam Mengendalikan Hama Kutu Daun Persik (Myzus Persicae Zulcer) (Homoptera:

Aphididae) Pada Tanaman Cabai (Capsicum Annum L.), Fakultas Agrikultur, Universitas Riau, Riau.

Aulia Abdul Rahman, Respons Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Kedelai Terhadap Pemberian Pupuk Organik Cair Dan Mulsa, Vol. 5, No. 1, 2017.

Darwin pangaribuan, aplikasi pupuk organik cair dan anorganik terhadap pertumbuhan produksi, dan kualitas pasca panen jagung manis ( zea mays var. saccharatha sturt.) 59-67, april 2017.

Desi Natalia Edowai, Mutu Cabai Rawit (Capsicum Frutescens L.) Pada Tingkat Kematangan Dan Suhu Ang Berbeda Selama Penyimpana, Jurusan Teknologi Pertanian, Universitas Papua, Papua Barat, 2018

Doni Anggara. Pengaruh Campuran Jenis Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Tanaman Sawi (Brassica Juncea L.) 2017.

Dwi Setia Wati. Pertubuhan Vegetatif Tanaman Cabai Merah (Capsicum Annum L.) Secara Hidroponik Dengan Nutrisi Pupuk Organik Cair Dari Kotoran Kambing. Faultas

Tarbiyah Dan Keguruan Universitas Isalm Negeri Raden Intan Lampung. 2018.

https://www.google.com/search?q=gambar+tanaman+cabai+rawi t+akar+batang+dan+daun diakses pada tanggal 21 maret 2022 jam 11:25 am

Hidayat, T. Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica Juncea L.) Pada Inceptisol Dengan Aplikasi Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit Riau, 1-14, 2013.

Kamhar, Nasrulloh, Nabila. “Wawancara”, Praya 10 Desember 2021

Makra Wati, “Pengaruh Pemberia Air Beras Terhadap Pertumbuhan Dan Produktivitas Tanaman Tomat (Solanum Lycopersicum L.)”, Dosen Jurusan Pendidikan Biologi UHO Jurnal Ampibi 2 Hal. 49-56 Februari 2017

Marianne Reynalde Mamondol, “Respon Beberapa Komoditas Sayuran (Tomat, Cabai Rawit, Dan Ketimun) Terhadap Kombinasi Pemberian Bokashi Dan Air Limbah Cucian Beras”, Fakultas Pertanian Universitas Kristen Tentena Jurnal Envira Vol. 1 No. 1 Juni 2016.

Milawatilalla, “Potensi Air Cucian Beras Sebagai Pupuk Organic Pada Tanaman Seledri (Apium Grapeoles L.) Jurnal Agropolitan”, Vol 5, No 1, Juli 2018.

Moh Atoilah, Hayatul Rahmi, Ani Lestari, Uji Efektivitas Pemberian Fermentasi Air Cucian Beras Terhadap Pertumbuhan Tanaman Caisim (Brassica Jucea L. ) Varieatas Tosakan, Vol. 7, No. 3, Juni 2021.

Muinudinillah, Basyri. 2016 “Al-Quran Al-Khalimah The Wisdom Tafsir, Perkata, Tajwid”. Tim Riels Grafika:

Surakarta. Hal. 140.

Ngantung. Respon Tanaman Sawi Hijau (Brassica Juncea L.) Terhadap Pemberian Pupuk Organik Dan Anorganik Di Kelurahan Rurukan Kecamatan Tomohon Timur Eugina 24(1), 44-52, 2018.

Nikodemus Lede. Respon Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Cabai Rawit (Capsicum Annum L.) Terhadap Penggunaan Trichokompos Pada Pemupukan Berimbang. Program Setudi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Respati Indoesia.

Nurlaili, Respon Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Cabai Rawit (Capsicum Annum L) Pada Pemberian Pupuk NPK Majemuk, Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian, Universitas Baturaja Sumatra Selatan, Maret 2021.

Pujo Ary Prasetyo, “Pengembangan Petunjuk Praktikum Biologi Berbasis Guide Inquiry Materi Interaksi Mahluk Hidup Dengan Lingkungan”, Program Studi Pendidikan Biologi Universitas PGRI Ronggolawe Tuban, Proceeding Biology Education Conference Vol. 14 No. 1 Oktober 2017.

Sarina, “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cabai Merah Didesa Kampung Melayu Kecamatan Bermani Ulu Kabupaten Rejang Labong”, Fakultas

Pertanian Universitas Prof. Dr. Hazairin SH, Bengkulu Jurnal Agroqua, Vol. 13, No. 2 Desember 2015

Suandi Said, Aplikasi Air Kotoran Ian Lele Dan Rendaman Kotoran Kambing Terhadap Pertumbuhan Tanaman Selada (Lactuca Sativa L.) Program Studi Akroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Ichsan Gorntalo, Indonesisa, Apri 2020.

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D, Halaman 7-8, 2011.

Suparto H, Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya, Pemanfaatan Limbah Kolam Ikan Sebagai Sumber Hara N Bagi Pertumbuhan Dan Hasil Jagung Manis (Jea Mays Saccharata) Dilahan Gambut, Vol. 17, No. 2. 2016.

Yoga Aji Handoko, Isolasi Dan Karakterisasi Biokimia Bakteri Pembusuk Buah Cabai Rawit, Program Studi

Agroteknologi, Universitas Keristen Satya Kencana, Jawa Tengah, 2020

Zahra Mila Putri, “Pengembangan Buku Penuntun Praktikum Struktur Dan Fungsi Tumbuhan Dengan Model Argument- Driven Inqury (ADI)”, Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Lampung, April 2018

Zulaiha, Hartono, Pengembangan Buku Panduan Praktikum Kimia Hidrokarbon Berbasis Keterampilan Proses Sains Pada SMA 87-93, 2014.

Dalam dokumen pengaruh fermentasi air cucian beras dan (Halaman 59-72)

Dokumen terkait