• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan Hasil Penelitian

Dalam dokumen LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN (Halaman 57-62)

BAB IV. Hasil Penelitian dan

B. Pembahasan Hasil Penelitian

1. Posisi Perempuan dan Hak Reproduksinya Dalam Ideologi Patriarkhi

Dalam ideologi patriarkhi peran perempuan dan laki-laki dibedakan secara tegas seolah tidak bisa dipertukarkan. Perempuan dianggap sebagai warga kelas dua yang dalam berbagai hal disubordinatkan. Peran laki-laki berada di ranah publik sementara perempuan berada di ranah domestik. Dalam ideologi patriarkhi perempuan diposisikan sebagai obyek dan laki-laki sebagai subyek.

Kristeva dalam Oliver (1998), menjelaskan bahwa dalam budaya patriarkhi makna perempuan direduksi ke dalam fungsi ibu atau perempuan direduksi menjadi fungsi reproduksi. Dengan menolak menjadikan fungsi ibu sebagai subyek, budaya ini secara bersamaan menolak perempuan, keibuan, dan femininitas karena semuanya telah tereduksi ke dalam fungsi tersebut. (dalam Handayani, 2013 : 1). Kondisi tersebut menempatkan perempuan pada posisi subordinat, diperlakukan dengan berbagai macam aturan dan berbagai bentuk kontrol yang

50 menempatkan perempuan pada posisi “the other” atau “liyan”. Dengan demikian seringkali perempuan tidak memiliki hak atas dirinya sendiri.

Apabila dikaitkan dengan permasalahan reproduksi perempuan tidak dapat menentukan apa yang seharusnya untuk dirinya. Sementara organ reproduksi menjadi milik perempuan.

Berkaitan dengan hal tersebut, pasangan yang belum mendapatkan keturunan dalam waktu yang lama (7 – 8 tahun perkawinan), secara sosial budaya perempuanlah yang dianggap bermasalah sehingga orang-orang disekitarnya akan mengontrolnya dan mengaturnya dalam berperilaku, mengasup makanan bahkan dalam menentukan posisi tubuh ketika berhubungan seksual. Seperti yang direpresentasikan pada adegan 3 pada analisis film Test Pack di atas.

Apa yang direpresentasikan dalam film test pack merupakan satu realitas yang juga dialami perempuan-perempuan yang dalam perkawinannya mengalami kesulitan memperoleh anak, seperti yang dialami informan SR berikut :

“…..Iya malah saya berobatnya dulu di Guntur (dr. Muluk), dr muhamim, dokter di rumah sakit muhammadiyah itu. Saya dulu diperiksa katanya bagus, sampe dulu bada saya jadi gede gitu gara- gara minum obat. Sampe saya urut juga sama temen saya…..”

(wawancara tanggal 14 agustus 2017, jam 16.00).

Atau informan NN :

“…….kalau program pernah waktu itu setahun minum obat dari dokter, cuman karena lelah nggak ada hasil ya udah berhenti. Udah males sama obat. Jadi emang aku gimana ya, sering putus harapan sih, nyoba program ini setahun nggak ada hasil udahan, prorgam itu 3 kali nggak ada hasil udahan….”(wawancara tanggal 15 agustus 2017, jam 17.00)

Apa yang diungkapkan dua informan di atas menunjukkan perempuan diperlakukan sebagai “liyan” yang tubuhnya dikontrol oleh pihak internal karena adanya tekanan ekternal yang menganggap identitas tubuh perempuan sebagai yang harus dipersalahkan atas kondisi infertilitas dalam perkawinan.

Permasalahan keturunan tidak hanya ditentukan oleh perempuan saja, tetapi juga ditentukan kondisi sperma suami namun dalam realitasnya

51 suami dianggap sebagai pihak yang tak tersentuh kesalahan. Meskipun dalam realitanya laki-laki yang mengalami infertilitas tetapi budaya dan social selalu menutupi kondisi tersebut sehingga perempuanlah (dalam hal ini istri) yang dijadikan kambing hitamnya hingga mereka akan disingkirkan atau diceraikan oleh suaminya. Seperti yang dialami informan SR berikut :

“….kalau laki-laki kan gitu ada apa dipendem aja sendiri. Gengsi kan dia. Coba sekarang dia nikah lagi, sama juga belom punya anak.

…..”(wawancara 14 agustus, jam 16.00).

Apa yang diungkapkan SR menjelaskan bahwa laki-laki tidak akan pernah dengan mudah mengungkapkan kondisi kesuburannya. Mereka cenderung akan menyembunyikan kondisinya karena masyarakat akan mengecapnya sebagai laki-laki yang “tidak berguna”. Kejantanan seorang laki-laki dibuktikan dengan dimilikinya anak dalam perkawinannya.

2. Faktor-faktor penyebab hak reproduksi perempuan tersudutkan secara sosial dan budaya

Eksistensi tubuh manusia secara sosial sangat dipengaruhi oleh kultur dan symbol yang berkembang pada masyarakat tersebut. Oleh karenanya bagaimana tubuh manusia dimaknai, bagaimana peran dan fungsinya akan ditentukan oleh konstruksi social budaya yang membentuknya. Dari perspektif gender laki-laki dan perempuan memiliki eksistensi tubuh yang berbeda, karena budaya membentuknya dengan cara yang berbeda, misalnya saja tubuh seksi memiliki persepesi yang berbeda ditiap budaya, ada budaya yang menganggap tubuh seksi adalah tubuh yang gendut tetapi di lain budaya tubuh lansing merupakan tubuh yang seksi.

Di banyak masyarakat dan budaya, terutama budaya patriarkhi eksistensi perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Ada dua hal penting yang bisa dikaitkan dengan tubuh perempuan, pertama, eksistensi perempuan seringkali diwarnai berbagai paradoks dan ironi yang pada realitanya menunjukan subordinasi dan ketimpangan gender. Ketika hak-

52 haknya belum sepenuhnya terpenuhi, ada pihak lain secara individual maupun kelembagaan merasa memiliki hak atau mendapat kewenangan untuk mendefinisikan, memberi makna, membuat aturan, bahkan melakukan kontrol terhadap tubuh perempuan atas nama kepatutan, kelaziman, atau bahkan atas nama kekuasaan. (Saptandari, 2013:54).

Misalnya saja ketika media mendifinisikan “perempuan cantik”, maka yang dikonstruksikan secara sewenang perempuan cantik adalah perempuan berkulit putih, semampai,berambut panjang terurai.

Pengkonstruksian tersebut tentu saja membuat seoarng perempaun tidak memiliki kewenangan atas dirinya. Keberadaan dirinya ditentukan oleh pihak lain, oleh ideology yang menamakan dirinya patriarkhi dan kapitalis.

Hal penting yang kedua, kuatnya konstruksi dan sistem sosial budaya yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat yang menyebabkan perihal tubuh, seksualitas, kesehatan dan bahkan eksistensi perempuan dipenuhi dengan berbagai permasalahan yang berujung antara lain pada kerentanan kondisi kesehatan mereka. (Saptandari, 2013:54).

Banyak konstruksi budaya yang menentukan aturan-aturan tentang keberadaan perempuan yang seringkali juga dikaitkan dengan identitas tubuhnya. Di beberapa budaya dikenal adanya adat menstrual taboo yang dalam praktiknya berkaitan dengan larangan-larangan tertentu terhadap perempuan seperti larangan berkebun, harus diasingkan dari lingkungan tempat tinggal seperti yang terjadi di Papua. Larangan mengkonsumsi telor dan ikan bagi perempuan yang habis melahirkan dengan alasan- alasan yang seringkali tidak rasional. Sementara sumber makanan tersebut sangat bermanfaat bagi perempuan. Larangan mengkonsumsi makanan-makanan tertentu seperti pisang ambon, timun di Jawa Barat yang konon akan mengganggu kenyamanan sexualitas laki-laki.

Berbagai adat terhadap perempuan di atas menunjukkan bahwa posisi perempuan berada di bawah laki-laki dan harus selalu mengikuti kemauan suami (laki-laki), harus mendahulukan kepentingan suami diatas kepentingan dan keinginannya sendiri. Berdasarkan realita tersebut dapat

53 dikatakan ada suatu kepercayaan yang begitu domionan dalam setiap masyarakat yang memposisikan perempuan menjadi sub-ordinat.

Menurut teori Jaques Lacan, seorang filsuf Perancis,seperti yang dikutip Gadis Arivia dalam “Nega-ra dan Kekerasan Terhadap Perempuan” (Subono ed., 2000: 13-15), yang membahasakan keadaan tersebut sebagai “aturan simbolis”. Menurut Lacan setiap masyarakat diatur melalui serangkaian tanda (symbol) yang saling berkaitan, berperanan dalam ritual yang ada dalam masyarakat. Melalui aturan simbolis itulah mengatur masyarakatnya melalui bahasa masyarakatnya,menginternalisasikan aturan seperti peran gender dan peranan kelas dan terus memproduksi bentuk aturan main yang berlaku.

Selanjutnya dikatakan pula seorang anak perempuan sering mengalami kesulitan menginternalisasikan dalam aturan simbolis yang berlaku dalam masyarakatnya karena anatominya, sehingga merasa dirinya terasing dari aturan simbolis masyarakatnya. Bahkan sering merasa tertekan karena dipaksa harus memahami aturan simbolis tersebut.

Hal itulah yang kemudian oleh Lacan dikatakan bahwa perempuan selalu menjadi “sesuatu yang lain”(the other).

Berdasarkan tesis tersebut dapat difahami bagaimana seringkali hak sexualitas bahkan kesehatan reproduksi perempuan tidak lagi menjadi haknya perempuan secara pribadi tetapi menjadi hak social yang diatur oleh aturan adat dan ideology yang berlaku yaitu ideology patriarkhi.

54 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan terhadap film testpack dapat disimpulkan :

1. Film tersebut merupakan suatu bentuk refleksidari kondisi sosial masyarakat khususnya perempuan, yang di berbagai wilayah masih mengalami diskriminasi, sub ordinat dan kekerasan baik secara fisik, psikis maupun seksualitas.

2. Dalam realitasnya, berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan beberapa informan terkait infertilitas dalam perkawinan, hingga saat ini asumsi yang masih banyak dilakukan perempuanlah penyebabnya. Laki-laki selalu mengelak melakukan pemeriksaan atau menyembunyikan keinfertilitasannya dengan tameng istrinya.

3. Ketersudutan hak sexualitasdan reproduksi perempuan pada dasarnya disebabkan karena masih dianutnya ideology patriarkhi baik di ranah social maupun adat yang berlaku.

B. Saran

Ada beberapa saran yang bisa disampaikan dalam hal ini :

1. Secara akademis masih banyak yang bisa dilakukan untuk menganalisis relasi antara laki-laki dan perempuan di semua ranah kehidupan dengan berbagai teori dan pendekatan. Hal ini dikarenakan relasi yang tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan akan berdampak pada aspek yang lain.

2. Secara praktis dan social, media-media seperti film dapat dijadikan sebagai satu wahana kritis untuk mengubah sudut pandang

55 masayarakat terkait relasi tersebut, sehingga bagi penggiat media seyogyanya memberikan sesuatu yang kritis bagi masyarakat.

Sementara masyarakatpun sebaiknya kritis dalam memilih media

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Irwan. 2002. Mitos Menstruasi: Konstruksi Budaya Atas Realitas Gender. dalam jurnal Humaniora, vol 14 no 1 Februari 2002

Ardianto, Elvinaro dkk.2007. Komunikasi Massa Suatu Pengantar.Edisi revisi.

Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Arivia, Gadis 2000. “Logika Kekerasan Negara Terhadap Perempuan”. Dalam Negara dan Kekerasan Terhadap Perempuan. Jakarta:

Yayasan Jurnal Perempuan dan The Asia Foundation.

Budiman, Kris. 1999. Kosa Semiotika. Yogyakarta : Yogyakarta.

Cangara, Hafied. 2006. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Demartoto, Argyo. 2008. Dampak Infertilitas Terhadap Perkawinan (Suatu Kajian Perspektif Gender). Laporan Penelitian. FISIP Univ Sebelas Maret, Surakarta.

Fakih, Mansour. 1999. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar.

Handayani , Christina Siwi, 2013. “JULIA KRISTEVA Kembalinya Eksistensi Perempuan sebagai Subyek”. Jakarta Komunitas Salihara.

Munfarida , Elya .2009. “Kritik Wacana Seksualitas Perempuan”. dalam Jurnal Yin Yang.Pusat Studi Gender STAIN Purwokerto, Vol.4 No.1 Jan-Jun 2009 pp.122-139. ISSN: 1907- 2791

Nasir .2003. Metode Penelitian.Jakarta : Salemba 4.

Prabasmoro, Aquarini Priyatna.2005. “ Feminisme sebagai tubuh, pemikiran dan pengalaman” .disampaikan pada Forum Studi Kebudayaan,FSRD ITB, 27 Desember 2005.

Pranata, Setia.2009. Infertilitas Di Kalangan Laki-laki Madura; Studi Tentang Permasalahan Sosial Dan Konsekuensi Infertilitas..

dalam Buletin Penelitian Sistem Kesehatan – Vol.

12 No. 4 Oktober 2009: 393–402

Sanusi, Sri Rahayu dan Armi Arma, Sabdul Jalil, 2005. “ Hak Kesehatan

Reproduksi, Definisi, Tujuan Dan Permasalahan”

makalah tidak diterbitkan.

Saputra, Karina. 2013. “Teori Mengurai Makna Kata Melalui Intertekstualitas:

Implikasi Pemikiran Julia Kristeva”

Saptandari, Pinky. 2013. “Tubuh Perempuan dan Eksistensinya” dalam Jurnal BioKultur, Vol.II/No.1/Januari-Juni 2013: 53 – 71.

Sobur, Alex. 2006. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana,Analisis Semiotik dan Analisis Framing.

Bandung: Remaja Rosda Karya.

56 Tinarbuka, Sumbo.2009. Semiotika Komunikasi Visual. Yogyakarta : Jalasutra.

Sumber lain :

http://himapoliban.blogspot.com/2009/01/ideologi.htm http://en.wikipedia.org/wiki/patriarchy

https://desianiyudha.wordpress.com/2014/12/13/perempuan-dalam-semiotika- julia-kristeva/

http://karinssaputra.blogspot.co.id/2013/03/teori-mengurai-makna-kata- melalui.html

Dalam dokumen LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN (Halaman 57-62)

Dokumen terkait