• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN

B. Pembahasan Hasil Penelitian

“Iyya’ sibawa mma’na kessi aga aga u jama yang jelas selesai sikolahna anakku, SMP na SMA sukkuru’ ni yang penting engka maneng jamanna, yeko murusu’ anana’e susah ladde apa’na dewullei jokkae, ma’na to kessi dena nullei, silessurengnge mi bantu mita maneng I”(22/11/16)

Artinya :

Saya dan ibunya apa yang bisa di kerjakan dikerjakan yang penting anak saya selesai sekolah, SMP dan SMa sudah syukur sekali yang penting semua bisa kerja, kalau soal urus anak sulit dengan kondisi begini karena saya tidak bisa jalan, dan ibunya juga sudah tidak bisa, kadang saudara yang sedikit bantu kontrol anak-anak”(22/11/16).

pengasuhan anak menunjuk kepada pendidikan umum yang diterapkan, pengasuhan terhadap anak berupa suatu proses interaksi antara orang tua dengan anak. Interaksi tersebut mencakup perawatan seperti dari mencukupi kebutuhan makan, mendorong keberhasilan dan melindungi, maupun mensosialisasi yaitu mengajarkan tingkah laku umum yang diterima oleh masyarakat. Pendampingan orang tua diwujudkan melalui pendidikan cara-cara orang tua dalam mendidik anaknya, cara orang tua mendidik anaknya disebut sebagai pola pengasuhan.

Interaksi anak dengan orang tua, anak cenderung menggunakan cara-cara tertentu yang dianggap paling baik bagi anak. Disinalah letaknya terjadi beberapa perbedaan dalam pola asuh, disatu sisi orang tua harus bisa menentukan pola asuh yang tepat dalam mempertimbangkan kebutuhan dan situasi anak, disisi lain sebagai orang tua juga mempunyai keinginan dan harapan untuk membentuk anak menjadi seseorang yang dicita-citakan yang tentunya lebih baik dari orang tuanya.

Namun ketika berbicara lebih dalam tentang pola asuh penyandang difabel di daerah ini, kebanyakan orang tua menerapkan pola asuh otoriter, meski dalam sehari-hari mereka tanpa sadar menerapkan pola asuh seperti ini, namun pada umumnya orang tua memang kebanyakan melakukan pola-pola seperti ini.

Singkatnya dalam mendidik dan mengasuh anak-anak mereka, mereka tidak mengerti tentang bagaimana pola asuh dan sebagainya, mereka hanya memberikan apa yang bisa mereka berikan dan usahakan untuk anak-anak mereka yang sebahagian masih di bawah umur yang memerlukan dampingan orang tua secara khusus. Persoalan pola asuh yang di terapkan berdasarkan apa yang di dapatkan peneliti dari informasi terkait informan adalah penerapan pola asuh

fleksibel kebanyakan di terapkan oleh keluarga dalam keadaan seperti ini dan tidak menutup kemungkinan mereka selalu mendapatkan bantuan dari saudara, tetangga maupun pihak lainnya dalam hal financial atau sebagainya. Dalam wawancara lain, Ibunya menjelaskan bahwa pada waktu dan keadaan tertentu Ia dapat menjadi lebih keras kepada anaknya, terlebih jika anak sudah mulai susah untuk diberikan arahan secara baik-baik. Salah satu contohnya adalah ketika melanggar aturan, jika masih satu atau dua kali melanggar, Ibu mentolerir dan mengarahkannya dengan cara yang baik dan lemah lembut. Akan tetapi ketika terus menerus terjadi baru Ibu memberikan ketegasan dengan bahasa yang lebih keras kepada anaknya. Hal ini dilakukan agar anak tidak menjadi pribadi yang manja sehingga tidak dapat mandiri kedepannya. Hal ini berbeda dengan sikap orang tua ketika dalam keseharian menjadi sangat lemah lembut saat menghadapi diskusi ringan dengan anak, mendengarkan curhatan atau keluh kesah dan masalah anak serta mendengarkan keinginan atau cita-cita anak. Kurang lebih hal yang di ungkapkan oleh kedua orang tua yang mengalami kecatatan fisik maupun mental dapat menjadi informasi yang penting untuk bagaimana seharusnya memberikan pola asuh yang baik dan tepat bagi anak-anaknya dan memudahkan orang tua penyandang difabel ini dalam hal mengatur dan mengasuh anak- anaknya. Seperti yang di jelaskan oleh Maslow, tentang teori Piramida Maslow yang menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan dasar yakni di gambarkan sebagai berikut :

Kebutuhan-kebutuhan dasar manusia yang menjadi perhatian yakni kebutuhan rasa aman dan perlindungan, setiap manusia memerlukan hal demikian karena umumnya manusia adalah makhluk social yang saling membutuhkan satu sama lain, saling merasa di lindungi dan melindungi agar masing-masing manusia tercipta rasa aman di hatinya dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Tanpa terkecuali orang tua penyandang disabilitas terhadap kebutuhan dasar anak- anaknya. Orang tua ini di tuntut untuk memenuhi beberapa hal dasar dari manusia dan sebagai orang tua wajib memberikan perlindungan, pemahaman, bimbingan dan yang lainnya demi menumbuhkan karakter yang baik untuk anak-anaknya.

Tak terlepas dari itu pula dalam ilmu sosiologi keluarga menjelaskan bahwa yang dikemukakan oleh Goode (Faizal Moh dkk:2013) bahwa “kedudukan utama setiap keluarga ialah fungsi pengantara pada masyarakat besar.” Artinya dalam hal ini keluarga berperan sebagai sarana dasar sosialisasi bagi setiap individu sebelum terjun ke masyarakat. Didalamnya terjadi fase awal individu mengenal masyarakat dan belajar tentang segala hal sehingga mencapai titik yang menjadikan individu

tersebut sebagai makhluk sosial. Secara ideal `peranan orang tua sangat besar dalam membantu jalannya fase awal tersebut. Orang tua pada fungsinya bertugas sebagai guru pertama bagi seorang anak yang mengajarkan anak untuk mengenal dirinya, memahami lingkungan, mengajarkan nilai dan norma, membantu proses perkembangan, dan membentuk kepribadian anak. Maka dari itu, pendidikan dan keluarga merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Pendidikan ibarat darah yang melekat dan terus mengalir dalam kehidupan keluarga. Melalui pendidikan yang baik dan benar dalam keluarga, orang tua sepatutnya dapat mengembangkan potensi anak secara maksimal, karena pada hakikatnya potensi anak itu tidak akan pernah mengalami perubahan dalam arti bahwa anak selalu dapat berpikir, merasa, bertindak dan dapat terus berkembang dari waktu ke waktu. Para keluarga penyandang difabel ini senantiasa memenuhi kebutuhan dasar yang harus diberikan kepada anak anaknya, dengan cara atau dengan hal apapun. Berikut salah satu informan keluarga Puang A mengatakan dalam bahasa penerjemah bahwa :

Nakkeda iyya’ anak-anakku maneng makku toni, manre bawang, u perhatikan to tapi’na de na maladde apa’ anakku de to naisseng aga upau, macca maneng to anakku lisuu alalena, lao massikola sibawa sibawanna, pada-pada tomatoa laingnge murusu’ ananak na” (23/11/16) Artinya :

Katanya, anak-anak saya semua yah begitu, hanya makan, saya perhatikan tapi yah sekedarnya karena anak saya juga kadang kurang faham dengan apa yang saya katakana, tapi semuanya pintar, anak saya kalau malam sudah pulang karena diajar, berangkat ke sekolah berangkat sama teman-temannya, yah sama dengan orang tua lainnya yang mengurus anak-anaknya” (23/11/16)

Salah satu informan yang di temukan saat melakukan sebuah wawancara, sebelum melakukan wawancara peneliti bertanya pada kerabat-kerabat terdekat

yang dapat membantu memperlancar jalannya penelitian guna mendapatkan informasi yang real dari salah satu keluarga ini, karena keluarga ini baik ayah maupun ibu memiliki kondisi yang sangat memprihatinkan serta keadaan ekonomi yang sangat kurang baik, kedua orang tua sebut saja Puang A, memiliki kecacatan yakni tidak dapat berbicara (bisu) dan tidak dapat mendengar dengan baik, untuk itu sulit peneliti mendapatkan informasi yang cukup karena terbatasnya pemahaman tentang bahasa tubuh yang di gunakan informan, untuk itu peneliti mencoba meminta bantuan kepada kerabat dekat yang sering membantu keluarga ini dalam hal mengasuh ke sepuluh anaknya yang sebahagian adalah memiliki umur yang masih harus di perhatikan oleh orang tua pada umumnya. B erdasarkan penerjemah dari kerabat sebut saja La Hare’ di dapatkanlah beberapa informasi terkait bagaimana keluarga ini dalam mengurus ke sepuluh anaknya.

Seorang ahli bernama Edwards (Faizal Moh dkk:2013) mengungkapkan bahwa “pola asuh orang tua dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu: faktor pendidikan, faktor lingkungan tempat tinggal dan faktor budaya masyarakat.” Faktor tersebut sangat menentukan cara orang tua dalam memilih pola asuh yang akan diberikan terhadap anaknya. Pendidikan yang tinggi, lingkungan tempat tinggal yang baik, dan budaya masyarakat yang menjunjung tinggi nilai dan norma akan sangat mempengaruhi serta mendukung jalannya pola asuh orang tua. Pemberian pola asuh akan maksimal ketika orang tua dapat bertindak secara tepat dan efektif.

Artinya orang tua tidak hanya berperan sebagai pendidik saja yang secara terus menerus mengarahkan, mengatur dan mendikte anak, melainkan terkadang dalam waktu dan kondisi tertentu orang tua dapat memainkan perannya dengan penuh

kelemah lembutan sebagai sahabat dari anak, wadah pendengar keluh kesah dan masalah anak serta pemberi motivasi bagi anaknya. Hal ini sangat penting sebab dengan orang tua yang dapat memainkan perannya secara baik dan positif akan membuat orang tua dapat dengan mudah memasuki kehidupan dan perkembangan anaknya sehingga dampaknya akan terbentuk suasana kedekatan yang hangat dan intensif antara keduanya. Ketika hubungan emosional telah terbentuk maka orang tua akan lebih mudah menerapkan pola asuhnya terhadap anak. Akan tetapi pada kenyataannya tidak semua manusia dilahirkan dengan kesempurnaan. Ada diantara manusia yang sejak lahir atau pada saat masa perkembangan mengalami keterbatasan fisik. Hal ini menjadi masalah bagi manusia yang mengalami keterbatasan fisik atau dikenal dengan istilah penyandang difabel. Difabel adalah suatu istilah atau sebutan yang pada dewasa ini sudah mulai digunakan untuk mengganti kata penyandang cacat.

Difabel sendiri didefinisikan sebagai orang yang mengalami keterbatasan fisik. Dengan kata lain para penyandang difabel bukan dipandang sebagai orang yang menyandang cacat, akan tetapi penyandang difabel pada saat ini lebih dipandang sebagai orang-orang yang memiliki kemampuan yang berbeda dengan orang lainnya. Dalam hal ini, (Effendi, 2009, hlm. 36) menjelaskan bahwa

“aktivitas manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar akan efektif apabila mengikutsertakan alat-alat indra yang dimiliki, seperti penglihatan, pendengaran, perabaan, pembau, pengecap, baik dilakukan secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama.” Dengan kata lain ketika salah satu atau lebih fungsi indra terganggu maka dampaknya akan berpengaruh terhadap indra-indra yang lain.

Konsekuensinya tidak dapat dipungkiri akan menghambat kemampuan manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Dengan demikian penyandang difabel memiliki kemampuan yang berbeda, karena biasanya ketika salah satu indra tidak dapat berfungsi maksimal maka satu atau dua indra yang lain akan lebih dominan digunakan.

Kesimpulannya sebagai orang tua memang seharusnya memiliki pola-pola yang harus diterapkan dengan baik dalam keluarganya untuk membentuk sebuah kepribadian yang baik pada anak mereka, beberapa pola asuh yang di perkenalkan dalam hal ini polah asuh otoriter, demokratis dan fleksibel yang berdasarkan hasil penelitian ke tiga pola asuh ini di padu padankan guna membimbing anak-anak para penyandang difabel di daerah Kecamatan Dua Pitue Kecamatan Sidrap.

Penyandang difabel suatu saat akan menjadi orang tua yang mau tidak mau harus mampu memerankan tugas dan fungsinya sebagai orang tua meskipun memiliki kemampuan yang berbeda. Orang tua tunanetra tetap akan berusaha membina keluarga dan anaknya agar menjadi pribadi yang baik dan membanggakan orang tua.

Berdasarkan hasil observasi di lapangan menunjukkan bahwa beberapa kelompok keluarga yang memiliki masalah disfungsional atau tidak berjalannya fungsi-fungsi dalam keluarga dengan semestinya seperti dalam penelitian kali ini tentang Pola Asuh Orang Tua Penyandang Difabel. Dalam kasus orang tua penyandang difabel yang memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-harinya, dalam hal mengasuh anak tidak menutup kemungkinan orang tua tersebut sangat mengalami kesulitan, terlebih ketika mereka tidak mampu

mengasuh anaknya karena memiliki keterbatasan baik di bawah sejak lahir maupun karena kecelakaan dan sebagainya. Dilihat dalam lingkungan sekitar daerah penelitian di lakukan bahwa ada beberapa keluarga yang ditemukan mengalami hal yang sama yakni memiliki keterbatasan dalam hal mengasuh anaknya. Para orang tua penyandang difabel tersebut kebanyakan mengandalkan keluarga dekat yang dapat membantu mereka dalam mengasuh anak-anak mereka, beberapa diantaranya memiliki anak di bawah umur 15 tahun, namun rata-rata di temukan keluarga memiliki banyak anak dan telah berumur kurang lebih 25-30 tahun. Orang tua penyandang difabel pun bermacam-macam, dari 10 informan yang ditemukan bahwa tuna wicara dan tuna daksa adalah jenis difabel yang banyak di temui dalam beberapa keluarga penyandang difabel di lingkungan Kecamatan Dua Pitue. Berikut adalah beberapa gambaran tentang disabilitas yakni penyebab disabilitas secara garis besar, sebab timbulnya disabilitas tubuh dapat disebabkan : Akibat kecelakaan, cacat sejak lahir atau ketika dalam kandungan, cacat yang disebabkan oleh penyakit, kecacatan karena malnutrisi dan keracunan makanan dan minuman, kecacatan karena alcoholism khronis dan penyalahgunaan narkotika, kecacatan disebabkan oleh populasi dan pencemaran lingkungan serta bencana alam.

Dokumen terkait