• Tidak ada hasil yang ditemukan

5. Kebersihan Pakaian

4.2 Pembahasan

Universitas Binawan pada Gambar 4.1d memperlihatkan ciri dari kutu rambut dewasa betina yaitu dengan ditandai dengan bentuk bagian bawahnya yang membentuk huruf V terbalik. Dalam segi ukuran kutu dewasa betina lebih besar dibandingkan dengan kutu dewasa berjenis kelamin jantan.

Kutu dewasa betina berukuran ±3 mm sedangkan kutu dewasa jantan hanya berukuran sekitar ±2 mm.

4.1.3 Analisis Hubungan Personal Hygiene dengan Pedikulosis Kapitis Dalam analisis bivariat peneliti menggunakan uji statistik dengan Chi-Square yaitu peneliti ingin mengetahui terdapat hubungan antara personal hygiene dengan kejadian pedikulosis kapitis pada balita dan anak di lingkungan RT 007 RW 011 Kelurahan Cawang Kramat Jati.

Hasil penelitian bivariat dapat dijelaskan pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.2 Hasil Analisis Bivariat

No. Variabel P-value

1. Penggunaan Sisir 0,001

2. Penggunaan Aksesoris Rambut 0,001

3. Penggunaan Handuk 0,016

4. Penggunaan Shampo 0,078

5. Frekuensi keramas 0,856

Tabel 4.3 Hasil Analisis Personal Hygiene

No. Personal Hygiene

Kejadian Pediculosis

Capitis Total

P-value Positif Negatif

F % F % F %

1. Kurang Baik 18 41,9 12 27,9 30 69,8

0,028

2. Baik 10 23,3 3 7,0 13 30.2

Total 28 65,1 15 34,9 43 100,0

Berdasarkan Tabel hasil uji statistik Chi-Square diperoleh nilai P- value<0,05 pada beberapa variabel yang artinya terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaan sisir, aksesoris rambut dan handuk secara bersamaan dengan pedikulosis kapitis.

Universitas Binawan kapitis dilakukan di laboratorium RS Royal Taruma dengan pembuatan preparat awetan kutu dengan menggunakan KOH 10% dan proses dehidrasi dengan menggunakan alkohol bertingkat. Pembuatan preparat awetan kutu bertujuan untuk mengetahui morfologi pedikulosis kapitis dari setiap sampel yang didapatkan.

Proses clearing dengan menggunakan KOH 10% dapat membuat tubuh dari kutu rambut menjadi transparan hasil ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Iswara ditahun 2017 yang berjudul variasi konsentrasi KOH dan waktu clearing terhadap kuliatas preparat awetan Pediculus humanus var.

captis menyatakan bahwa penggunaan konsentrasu KOH 10% menghasilkan kualitas preparat yang baik.34 Hal tersebut karena kadar pada KOH dalam air akan menghasilkan ion OH‾ secara sempurna yang berfungsi sebagai pereaksi kimia dalam pembuatan preparat awetan kutu rambut. Pereaksi tersebut adalah kalium hidroksida yang dapat digunakan dalam proses penipisan eksoskleton. Eksoskleton terbentuk dari kitin yang berikatan dengan protein.

Penggunaan KOH bertujuan untuk menghilangkan protein pada eksoskleton.

Ion OH‾ yang dihasilkan selama proses deproteinasi memiliki kereaktifan kimia yang tinggi sehingga mampu bereaksi dengan protein. Reaksi tersebut memutus ikatan peptida pada protein menjadi asam amino yang lebih sederhana. Putusnya ikatan peptida dalam protein menyebabkan eksoskeleton serangga menipis.32

Dehidrasi dengan menggunakan alkohol bertingkat bertujuan untuk menarik atau megeluarkan kadar air yang ada pada tubuh kutu rambut. Hal ini juga bertujuan untuk menjaga struktur tubuh kutu rambut agar tidak terjadi perubahan secara tiba-tiba. Jika terjadi kesalahan dalam proses dehidrasi akan menyebabkan tingkat transparan pada jaringan menjadi kurang baik.32 Menurut penelitian yang dilakukan oleh Anisah ditahun 2019 yang berjudul variasi waktu perendaman alkohol pada preparat awetan Ctenocephalides canis menyatakan bahwa perendaman alkohol pada preparat awetan Ctenocepalides canis dengan menggunakkan variasi waktu perendaman alkohol selama 1 x 15 menit menghasilkan kualitas preparat baik dan

Universitas Binawan kejernihan preparat baik. Perendaman alkohol dengan variasi waktu1 x 15 menit juga bertjuan untuk mengurangi kerusakan pada organ tubuh sediaan.35

Berdasarkan data reponden positif pedikulosis kapitis diperoleh hasil sebesar 65,1% dari 43 responden. Hasil ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Anifah tahun 2018 yang menyatakan bahwa sebesar 58,6%

anak-anak di Sekolah Dasar MI NU 59 Sendang Dawung positif pedikulosis kapitis.25 Anak-anak usia Sekolah Dasar lebih banyak terinfeksi pedikulosis kapitis dibandingkan anak usia sekolah menengah (remaja). Anak usia sekolah menengah bisa menjaga kebersihan rambut karena umumnya anak remaja sudah lebih bisa mengerti dari pada anak sekolah dasar. Tingkat pengetahuan seseorang mempengaruhi cara orang merawat diri.3

Berdasarkan data reponden yang melakukan keramas kurang dari 2 kali dalam 1 minggu diperoleh hasil sebesar 58,1% dari 48 reponden. Keramas sebaiknya dilakukan 3 kali dalam 1 minggu sehingga kulit kepala dan rambut tetap terjaga kebersihannya, sebab bila terlalu jarang keramas minyak/sebum yang dikeluarkan kelenjar lemak akan membuat kulit kepala menjadi lembab dan kotor.23 Berdasarkan analisis dari uji Chi-Square pada frekuensi keramas dengan kejadian pedikulosis kapitis diperoleh hasil p-value 0,856 yang berarti tidak terdapat hubungan yang bermakna antara frekuensi keramas dengan kejadian pedikulosis kapitis. Frekuensi keramas yang baik tidak memiliki peran yang signifikan pada kejadian pedikulosis kapitis. Hasil ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Suweta tahun 2021 di SD 6 Darmasaba yang memperoleh p-value sebesar 0,274 yang artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna antara frekuensi keramas dengan pedikulosis kapitis.29 Penelitian lain yang dilakukan oleh Nurdiani tahun 2020 di Pondok Pesantren Sirojan dan Penduduk RW 03 Kelurahan Pondok Ranggon yang memperoleh p-value 0,11 yang artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara frekuensi keramas dengan pedikulosis kapitis.6 Transmisi pedikulosis kapitis masih dapat terjadi walaupun pada orang dengan frekuensi keramas yang baik. Prevalensi frekuensi keramas yang baik pada anak-anak dengan

Universitas Binawan pedikulosis kapitis masih dapat menyebabkan rasa gatal yang ditimbulkan oleh infestasi kutu kepala dan mengganggu aktivitas sehari-hari.29

Berdasarkan data reponden yang menggunakan shampo pada saat keramas diperoleh hasil sebesar 86% dari 43 responden.Penggunaan shampo saat keramas berfungsi untuk membersihkan sel kulit mati atau kotoran yang menempel. Selain itu, shampo juga dapat menyehatkan kulit dan rambut karena shampo dilengkapi dengan adanya vitamin. Kandungan pada shampo yang ingin digunakan dapat disesuaikan dengan jenis kulit kepala setiap individu.23 Berdasarkan analisis dari uji Chi-Square pada penggunaan shampo dengan kejadian pedikulosis kapitis diperoleh hasil p-value 0,078 yang berarti tidak terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaan shampo saat keramas dengan kejadian pedikulosis kapitis. Penggunaan shampo ssaat keramas tidak memiliki peran yang signifikan pada prevalensi infestasi pedikulosis kapitis. Hasil ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Nurdiani tahun 2020 di Pondok Pesantren Sirojan Mustaqim dan Penduduk RW 03 Kelurahan Pondok Ranggon yang memperoleh p-value 0,21 yang artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaan shampo pada saat keramas dengan kejadian pedikulosis kapitis.6 Perawatan rambut dengan menggunakan shampo merupakan cara yang umum digunakan untuk merawat rambut dan kulit kepala. Shampo memiliki efek penting yaitu melembabkan rambut, membersihkan dari kotoran, mengangkat minyak dan mencegah ketombe. Pada penelitian yang dilakukan di kota Dhaka menunjukan bahwa anak-anak yang mencuci rambut dengan rutin menggunakan shampo memiliki prevalensi terinfeksi sebesar 40%, sedangkan anak-anak yang tidak menggunakan apapun saat mencuci rambut memiliki prevalensi peduculosis capitis sebesar 85%.27 Namun, pada penelitian ini kemungkinan ada faktor lain yang menjadi penyebab anak-anak di lingkungan RT 007 RW 011 K elurahan Cawang banyak yang positif pedikulosis kapitis meskipun penggunaan shampo saat keramas sudah diterapkan.

Universitas Binawan Berdasarkan data reponden yang menggunakan sisir secara bersamaan diperoleh hasil sebesar 60,5% dari 43 responden. Berdasarkan teori, penularan pedikulosis kapitis terutama terjadi melalui kontak langsung yang erat dari kepala ke kepala. Penggunaan sisir secara bersamaan akan membuat telur bahkan kutu dewasa menempel pada sisir sehingga akan tertular.31 Berdasarkan analisis dari uji Chi-Square pada penggunaan sisir secara bersamaan dengan kejadian pedikulosis kapitis diperoleh hasil p-value 0,001 yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaan sisir secara bersamaan dengan pedikulosis kapitis. Penggunaan sisir secara bersamaan memiliki peran yang signifikan pada prevalensi infestasi pedikulosis kapitis.

Hasil ini berlawanan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurdiani tahun 2020 di Pondok Pesantren Sirojan Mustaqim dan Penduduk RW 03 Kelurahan Pondok Ranggon yang memperoleh p-value 0,41 yang artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaan sisir secara bersamaan dengan pedikulosis kapitis.6 Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Suweta tahun 2021 di SD No. 6 Darmasaba yang memperoleh p-value sebesar 0,065 yang artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaan sisir secara bersamaan dengan pedikulosis kapitis.29 Penggunaan sisir bersama dapat menjadi salah satu mode transmisi kutu kepala secara tidak aktif dan berpeluang besar menjadi mode transmisi kutu rambut.30

Berdasarkan data reponden yang tidak menggunakan handuk secara bersamaan diperoleh hasil sebesar 69,8% dari 43 responden. Handuk yang digunakan secara bersamaan akan membuat telur bahkan kutu dewasa melekat pada handuk dan akan menulari orang-orang yang menggunakan handuk bersama.5 Berbagi handuk dapat memfasilitasi kutu rambut untuk bertransmisi secara langsung melalui kontak antar kepala yang intens terutama jika salah seorang tersebut menderita pedikulosis kapitis.31 Berdasarkan analisis dari uji Chi-Square pada penggunaan handuk secara bersamaan dengan kejadian pedikulosis kapitis diperoleh hasil p-value 0,016 yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaan handuk secara bersamaan dengan pedikulosis kapitis. Penggunaan handuk secara

Universitas Binawan bersamaan memiliki peran yang signifikan pada prevalensi infestasi pedikulosis kapitis. Kutu rambut dewasa dapat hidup di luar kulit kepala selama 1-2 hari, sedangkan telurnya dapat bertahan sampai seminggu.

Apabila seseorang yang terkena infestasi pediculus humanus var.capitis dan menggunakan handuk yang bersamaan akan membuat telur bahkan kutu dewasa melekat pada handuk dan akan menulari orang-orang yang menggunakan handuk bersama.5

Berdasarkan data reponden yang tidak menggunakan aksesoris rambut secara bersamaan diperoleh hasil sebesar 65,1% dari 43 responden. Salah satu faktor penularan kutu rambut yaitu dengan kontak tidak langsung, melalui benda seperti aksesoris rambut yang dipakai bersama yang telah terkontaminasi kutu rambut (kutu dewasa, nimfa, ataupun telur).31 Berdasarkan analisis dari uji Chi-Square pada aksesoris rambut secara bersamaan dengan kejadian pedikulosis kapitis diperoleh hasil p-value 0,001 yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaan aksesoris rambut secara bersamaan dengan pedikulosis kapitis. Penggunaan aksesoris rambut secara bersamaan memiliki peran yang signifikan pada prevalensi infestasi pedikulosis kapitis. Hasil ini berlawanan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suweta tahun 2021 di SD 6 Darmasaba yang memperoleh p- value sebesar 0,065 yang artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara penggunaan aksesoris rambut secara bersamaan dengan pedikulosis kapitis.29 Penggunaan aksesoris rambut akan membuat telur bahkan kutu rambut dewasa menempel pada aksesoris tersebut. Apabila seseorang menggunakan aksesoris rambut yang ada kutu rambut atau telur yang hidup akan tertular.24

Berdasarkan data reponden dengan personal hygiene yang kurang baik diperoleh hasil sebesar 69,8% dari 43 responden.Dari penelitian yang sudah dilakukan masih banyak orang tua (wali) dari anak yang diteliti belum menerapkan personal hygiene dengan baik contohnya dari menjaga kebersihan rambut dan perlengkapan pribadi seperti sisir, handuk dan aksesoris rambut yang digunakan. Berdasarkan analisis dari uji Chi-Square pada personal hygiene dengan kejadian pedikulosis kapitis diperoleh hasil p-

Universitas Binawan value 0,028 yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara personal hygiene dengan pedikulosis kapitis. Personal hygiene memiliki peran yang signifikan pada prevalensi infestasi pedikulosis kapitis. Hasil ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Hadi tahun 2018 di Pondok Pesantren Ma'hadul Muta'alimin yang memperoleh p-value sebesar 0,016 yang artinya terdapat hubungan yang bermakna antara personal hygiene dengan pedikulosis kapitis.4 Kurangnya kesadaran untuk menjaga personal hygiene dapat meningkatkan terjadinya kejadian pediculosis kapitis. Apabila personal hygiene dapat dilaksanakan dengan baik maka kejadian pedikulosis kapitis dapat dicegah.4

36

Universitas Binawan BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait