BAB I PENDAHULUAN
G. Tehnik Dan Sistematika Penulisan
Adapun dalam tehnik penulisan skripsi ini, penulis mengacu pada buku pedoman Penulisan skripsi, tesis, dan disertasi, yang diterbitkan oleh Institut Ilmu Al-Qur'ân (IIQ) Jakarta 2011.
Secara keseluruhan penyajian skripsi ini akan memuat empat bab dengan perincian dan sistematika sebagai berikut :
Pada Bab pertama, penulis akan memuat tentang pendahuluan. Pendahuluan ini bermaksud mengantarkan pada pembahasan bab-bab berikutnya. Bab ini memuat latar belakang masalah. Pada bab ini juga menerangkan permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan marah.
Dari permasalahan ini penulis akan mengidentifikasi semua permasalahan yang ada tentang marah kemudian penulis akan membatasi dan merumuskan masalah-masalah yang akan dikaji. Bab ini juga mengandung tujuan dan manfaat penelitian.
Serta membahas tentang metodologi penelitian dan sistematika yang digunakan dalam penulisan ini.
Pada bab kedua barulah Penulis membahas hal-hal yang mengantarkan pada isi dari penulisan ini, penulisan ini meliputi pembahasan yang merupakan deskripsi tentang tinjauan umum mengenai marah dalam perspektif Hadis. Tujuannya untuk memfokuskan landasan penelitian tentang marah.
Pembahasannya akan meliputi pengertian marah, kosa kata marah dalam hadis serta marah dalam sifat kemanusiaan dan KeTuhanan.
Pembahasan yang ketiga ini memuat tentang marah dalam perspektif hadis, bagaimana hadis memandang marah.
Di bab ini juga penulis menganalisa serta mengumpulkan data yang berkaitan tentang marah. Pada bab ini juga menerangkan hal-hal yang berkaitan tentang marah, misalkan balasan bagi orang yang mampu menahan amarah, marah yang bersifat positif dan negatif, serta Anjuran menghindari marah.
Pada bab terakhir ini akan dikemukakan beberapa kesimpulan yang berisikan penegasan jawaban terhadap masalah-masalah yang diutarakan pada bab-bab terdahulu.
Selain itu juga akan dikemukakan sejumlah saran sebagai pijakan sementara untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang berkenaan dengan objek masalah yang dikaji.
Pada bagian terakhir, penulis akan mencantumkan daftar pustaka yang berkaitan dengan penulisan skripsi ini.
29
BAB II
DESKRIPSI UMUM TENTANG MARAH
A. Pengertian Marah
1. Pengertian Marah Secara Bahasa
Marah dalam bahasa Arab yaitu, َةَضَغَاْل atau َظ yang ْيَغَاْل berarti kemarahan.1 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian marah adalah perasaan tidak senang karena diperlakukan tidak sepantasnya.2
Dalam kitab Ihya' Ulumuddin, marah adalah sekam yang tersimpan dalam hati, seperti terselipnya bara di balik abu. Boleh jadi ia merupakan api yang darinya setan diciptakan.3
Secara bahasa Kata َةَضَغ terambil dari kata gha - dha' – ba' اَبْضَغ -ُةَضْغَي berakar dengan huruf-huruf غ, ض, ب, yang mengandung makna dasar keras. Menurut Quraish Shihab, kata
ْب وُضْغَمْلَا berasal dari kata َةَضَغ yang maknanya memberikan kesan keras, kokoh dan tegas. Sikap itu apabila diperankan
1 Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al- Munawir Arab Indonesia (Surabaya : pustaka Progressif,1997), h.1026
2 Tim Pena Prima, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Gita Media Press, 2012), h.515
3 Imâm Al- Ghazali, Ringkasan Ihya' 'ulumuddin, terj.Abdul Rasyad Siddiq, (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2008), h. 238
oleh manusia dinamai amarah. Akan tetapi, bila diperankan oleh Allah Swt, walaupun ghadab diterjemahkan dengan amarah atau murka, namun yang dimaksudkan adalah kehendak-Nya untuk melakukan tindakan tegas dan keras berupa siksaan. Dengan kata lain, ghadab di sisi Allah ialah kehendaknya memberi hukuman kepada orang yang bersalah.
Jadi, murka Allah adalah siksa atau ancaman siksa-Nya.4 Marah merupakan antonim ( lawan kata ) hilm (murah hati). Amarah selalu mendorong umat manusia bertingkah buruk dan jahat. Apabila takluk terhadap luapan amarahnya, seseorang bisa saja menyakiti orang–orang terdekatnya.5 Menurut Albin Seorang pakar psikologi dalam buku manajemen emosi mengungkapkan bahwa rasa marah merupakan emosi yang sangat sukar bagi setiap orang, baik dalam hal menerima ataupun untuk mengungkapkannya. Rasa marah menunjukkan bahwa suasana perasaan tersinggung oleh seseorang atau sesuatu sudah tidah baik.6
4 Qurais Shihab,Tafsir Al -Misbah, Ensiklopedia Al -Qur'ân, (Jakarta : lentera Hati, 2007)
5 Muhammad Kâmil Hasan Al-Mahami, Ensiklopedi Tematis Al- Qur'ân, terj.Ahmad Fawaid Syadzili,( Jakarta: Kharisma Ilmu, 2005), h.98
6 Triantoro Safaria dan Nofrans Eka Saputra, Manajemen Emosi (Sebuah panduan Cerdas Bagaimana MengeloLa Emosi Positif DaLâ m Hidup Anda), (Jakarta : Bumi Aksara, 2009), h. 74
2. Pengertian Secara Terminologi
Marah secara istilah adalah emosi yang sering dilakukan dalam percakapan sehari-hari, dapat juga dikatakan . Banyak perilaku yang menyertai emosi marah, mulai dari tindakan diam atau menarik diri, hingga tindakan agresif yang bisa mencederai atau mengancam orang lain. Pemicunya sangat beragam, dari hal- hal yang sangat remeh hingga yang memberatkan.
Pada umumnya, emosi marah pada manusia dikenali melalui perubahan raut muka (merah padam), nada suara berat, anggota badan bergetar, atau sedia menyerang. Tanda- tanda ini tidak selalu sama pada setiap orang. Adakalanya orang sangat marah tetapi tidak menunjukkan agresivitas tinggi atau ketika ia marah, gejalanya sengaja ditutupi karena alasan tertentu.7
Marah juga termasuk hal yang menjauhkan kesabaran dan bertolak belakang dengannya. Karena sabar merupakan senjata ampuh bagi orang yang selalu melakukan kebaikan di jalan Allah.
7Hude Darwis, Emosi Dasar Manusia DaLam Al-Qur'ân, (Jakarta: Penerbit ErLâ ngga, 2006), h.162 -163
B. Marah dalam Terminologi Hadis 1. Kata Ghadab
Kata ghadab merupakan bentuk mashdar. Bentuk ini dengan berbagai isytiqaqnya 8. Kosa kata ghadab dalam kitab hadis disebutkan dengan bentuk lafadz yang berbeda-beda, yakni dengan menggunakan bentuk fi'il mudhari', isim mashdar, isim fa'il, isim maf'ul, fi'il amar, isim tafdhil, atau bentuk mufrad dan jamak. Dalam kitab shahih bukhari disebutkan menggunakan fi'il mudhari' .
"Telah menceritakan kepadaku Yahya bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr yaitu Ibnu Ayyasy dari Abu Hashin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah
8 Mengeluarkan satu bentuk kata dari kata yang Lâ in karena adanya persesuaian arti meLâ lui perubahan Lâ fadz. KaLâ ngan ahli nahwu isytiqaq hanya terbatas pada empat bentuk, yaitu isim fa'il, isim maf'ul, sifat musyabbahah, dan isim tafdhil. Akan Tetapi bagi ahli sharaf, isytiqaq dikembangkan menjadi Fî'il madhi, Fî'il mudhari', Fî'il amar, isim mashdar, isim zaman, isim makan, dan isim alat. Lihat Amin Ali Al- Sayyid. Fî 'ilm ash-sharFî ( Mesir : Dar al- Maarif,1971), h.23
9 Abu Abdullâh Muhammad Ibn Ismâ'îl, Shahîh Bukhârî, kitab adab, ( Mesir : Dar Al-Hadis, 2004), h.78
radliallahu 'anhu bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam; "Berilah aku wasiat?" beliau bersabda: "Janganlah kamu marah."
Laki-laki itu mengulangi kata-katanya, beliau tetap bersabda: "Janganlah kamu marah."(HR.Bukhari).
( ) jangan marah. maksudnya adalah, jauhilah semua sebab-sebab yang membawa kepada kemarahan, atau jangan melakukan sesuatu mengikuti dorongan kemarahan.
Marah ialah ledakan di dalam jiwa yang akan menyebabkan berlakunya balas dendam.
Muslim adalah seorang insan yang mempunyai sifat-sifat yang mulia, lemah lembut, tidak menyakiti sesama manusia sabar di atas kesusahan, menahan kemarahan ketika orang lain melakukan kesalahan terhadap dirinya dan bermanis muka dalam keadaan apapun. Inilah wasiat yang disarankan oleh Rasulullah SAW. kepada sahabat yang meminta nasihat darinya. Wasiat yang dapat memenuhi tujuan dari pertanyaan itu. Rasulullah Saw. memberikan wasiat kepadanya dengan hanya menggunakan ungkapan yang ringkas, tetapi terhimpun
padanya segala kebaikan dan menghalangi segala kejahatan, yaitu kalimat " jangan marah".10
Memperhatikan bentuk hadis ini, Nabi Muhammad SAW. dalam setiap memberi nasihat, selalu melihat orangnya.
Orang yang suka marah, dinasihati agar jangan marah, orang yang tidak sabar, dinasihati supaya bersabar. Dengan kalimat lain bentuk hadis tersebut dapat dinyatakan: jangan kamu berbuat sesuatu yang menyebabkan kemarahanmu".
Marah yang ditimbulkan dari luapan nafsu (emosi) dari syetan yang berusaha keras menggoda seorang Muslim namun, ia dapat memeranginya, berarti ia telah menjadi orang kuat yang mampu menguasai dirinya.11
Penjelasan itu tercantum dalam hadis Abu Hurairah yang dikutip oleh Imam Muslim. sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :
10 Mustafâ al- Bughâ Muhyiddin, Al- WâFî, terj. Muhammad Asri dkk, Syarh Hadis 40 Imâm Nawâwî, ( KuaLâ Lumpur : 1995), Cet.
1. H.156
11 Muhammad Thâlib, Sifat Dan Sikap Tercela Dalam Islam, ( Surabaya: Bina Ilmu,1983). h.11-13
12
"Orang yang kuat bukanlah dengan bergulat, namun orang yang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah." (HR. Muslim) (apa yang kamu anggap orang yang tak terkalahkan diantara kamu ? mereka berkata, orang yang tidak dapat dirobohkan oleh siapapun).
( bukanlah yang kuat itu yang mampu mengalahkan orang lain). Ash- Shura'ah artinya orang yang merobohkan orang lain dengan kekuatannya. Adapun As- Shur'ah adalah kebalikannya, yaitu orang yang dirobohkan orang lain.
Yang dimaksud kuat dalam hadis ini artinya kuat dalam arti moril, yaitu kesanggupan untuk melawan hawa nafsunya, mencegah dari berbuat kejahatan, serta menahan nafsu, menyerang banyak lawannya dan mengalahkan kemauan yang diinginkan banyak orang. Hadis ini mengisyaratkan bahwa melawan nafsu itu lebih sukar daripada mengalahkan musuh.
12Muslim bin Hajjâj Al- Qusyairi An-Naisaburi, Shahîh Muslim, babu fadhlu man yamliku nafsahu 'indal ghadabi, juz 8, ( Beirut : Dar Al- Fîkr, t.t ) h. 30
ْةَضْغَت َلا لاق (jangan marah). Maksud dan Makna sabda Nabi Muhammad Saw adalah menjauhi sebab-sebab yang menimbulkan kemarahan dan jangan mendekati hal-hal yang mengarah kepadanya, karena marah dapat menyebabkan sikap saling memutuskan hubungan dan menghalangi sikap lemah lembut dengan sesama.
Seseorang yang yang bersikap rendah hati, maka akan selamat daripada buruknya kemarahan. Nabi Muhammad SAW telah mengatakan "jangan marah" kebaikan dunia dan akhirat, sebab marah dapat menyebabkan sikap saling memutuskan hubungan dan menghalangi sikap lemah lembut dengan sesama. 13
Marah ialah dorongan hati yang keluar berupa tindakan balas dendam terhadap orang lain. Hadis ini memberi bimbingan bahwa jika ada suatu perkataan yang menyebabkan kemarahan dan keinginan untuk cepat-cepat membalas dendam terhadap orang yang menyebabkan marah. Maka hendaknya dorongan nafsu seperti ini dicegah dan dihilangkan.
Rasa marah merupakan naluri manusia, yang bisa timbul bila ada suatu maksud yang terhalang atau terintangi.
Rasa marah bisa diketahui dengan merahnya muka dan mata
13 Ibn Hajar Al -AsqaLâ nî, Fathul Bârî, (Jakarta : Pustaka Azzam, 2011), h. 400-401
karena darah yang terbakar. Marah yang terpendam bisa terwujud caci dan maki dibelakang orang yang dimarahinya dan marah yang dikeluarkan dalam tindakan bisa berupa pembunuhan pemukulan dan lain sebagainya.
Amarah dan syahwat terkadang patuh sepenuhnya pada hati, adakalanya amarah dan syahwat membantu dan mengiringi hati dengan baik dalam perjalanannya. Adakalanya menentang, melawan, dan menghancurkan hati sehingga menjadi celaka dan tersesat dari jalan yang akan menghantarkannya pada kebahagiaan abadi.14
2. Kata Ghaidza
Amarah adalah sifat yang tak jauh dari setiap insan, namun bila amarah itu dapat dikendalikan alangkah lebih baik nilainya dimata manusia maupun dimata Allah Swt. Sebuah pepatah kuno mengatakan "orang yang tidak bisa marah itu bodoh , tapi orang yang tidak mau marah itu bijak". Tidak mau marah tidak berarti tidak marah atau tidak punya rasa marah.
tidak mau marah berarti mengendalikan marah.15
14Faid Kasyani, Al-Haqâiq Fî Mahâsin Al- AkhLâ q, terj. Husain Al- Kaff (Jakarta :Sadra International Institute, 2014), Cet. Ke-1. h.55
15 Muhammad Zakâ Al- Farisi, Agar Hidup Lebih Hidup, (Bandung : Simbiosa Rekatama Media, 2008), h. 69
Oleh karena itu Rasulullah Saw pun sangat menganjurkan kepada umatnya untuk mengendalikan amarahnya. Karena amarah itu bila dikembangkan akan menimbulkan kehancuran bagi orang-orang disekitarnya.
Seperti pecahnya kerukunan antar tetangga, kelurga dan tentunya masih banyak dampak yang ditimbulkan dari sifat tercela itu. Rasulullah Saw bersabda:
"Telah menceritakan kepada kami dari Ibnu Sarh, dari Ibnu Wahab dari Said yaitu putra Abu Ayyub dari Abu Marhum dari Sahl bin Mu'adz dari ayahnya, bahwa Rasulullah SAW bersabda barang Siapa dapat menahan amarah sementara ia mampu untuk meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di depan para makhluk hingga ia dipersilahkan untuk memilih bidadari yang ia kehendaki."(HR.Abu Daud)
16 Nâshiruddin Muhammad, Shahîh Sunan Abu Daûd, terj. Ahmad Taufîk Abdurrahmân,(Jakarta: Pustaka Azzam, 2006), h.303
Hadis diatas menjelaskan bahwa menahan amarah itu sangat mulia. Karena akan mendapatkan balasan kemuliaan pula dari Allah. Imam Al-Thoyyibi berkata, kenapa menahan amarah dimuliakan? karena itu adalah bentuk perlawanan pada nafsu yang notabennya selalu mengajak pada keburukan.
Oleh karena itu, Allah memujinya dalam firman -Nya17 Allah berfirman:
ن ارمع ل ا ةر وس) 3]
431 [ (
"(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan". (QS. Ali-'Imran [3]:134)
Seperti halnya sebuah pedang bermata dua, ada sisi positif dari amarah, ada pula sisi negatifnya. Seseorang yang tidak memiliki amarah juga bukan manusia utuh. Ia tidak
17 Ibn Qayyim Al- Jauzi, ' Aunul Ma'bûd syarh Sunan Abu Daûd, (Kairo : Dar- Al Hadis, 2001), h. 183
punya daya juang dalam menghadapi permasalahan atau tantangan hidup. Tidak memiliki semangat hidup, tidak memiliki keinginan untuk maju. Hanya impian-impian kosong, tanpa ada keinginan sungguh-sungguh untuk menggapainya.
Ketika sesuatu terjadi dalam diri, ia hanya diam menerima. Ketika mendapat cobaan, mudah sekali menyerah.
Tidak ada api dalam diri untuk menggerakkan fisiknya, berusaha berubah menjadi orang yang lebih baik. Amarah juga memiliki sisi negative yang tak kalah dahsyat dan sangat merusak. Mereka adalah orang-orang yang berdarah dingin, Karena terlalu sering mengumbar nafsu amarah. Tidak ada satupun diantara orang- orang seperti itu yang berhasil dalam hidupnya. Jika mereka mempunyai kekayaan melimpah, hidupnya tidak pernah tenang . Misalnya para tokoh terkenal, antara lain Adolf Hitler, Abu Jahal, Abu lahab dan lain sebagainya.18
Sekuat apapun iman seseorang, kalau ia termasuk seorang pemarah, maka bisa rusak akhlaknya, dan marah akan menimbulkan rasa penyesalan dikemudian hari.
18 Muhammad Abdurrahmân, Lâ Taghdab, h. 8-9
C. Marah dalam Sifat Kemanusiaan dan Ketuhanan
1) Marah Sifat Kemanusiaan
Dalam penciptaan-Nya manusia dibagi menjadi empat susunan. Karena itu, dalam dirinya terdapat empat jenis sifat dan karakter : ke-buas-an, ke-binatang-an, ke-setan-an, serta Ke-Tuhanan. Jika dikuasai amarah, manusia akan bertindak layaknya binatang buas yang kerap memusuhi, membenci, dan menyerang manusia dengan pukulan dan caci maki. Jika dikuasai syahwat, ia akan bertindak seperti binatang rakus.
Jika dalam dirinya terdapat sentuhan Tuhan, niscaya ia akan mengklaim bagi dirinya sifat KeTuhanan, ia akan menyukai kekuasaan, keistimewaan, wewenang atas segala urusan, otoritas seraya melepaskan diri dari ikatan kehambaan, serta kerendahan hati, ia menyukai pengetahuan ihwal semuanya, bahkan mengklaim sebagai berilmu dan menguasai hakikat segala urusan, ia senang disebut orang berilmu dan berwajah muram saat dijuluki orang bodoh. Sifat keTuhanan meliputi dorongan mengetahui semua hakikat dan menguasai semua makhluk lewat kekuatan dan dalam dirinya terdapat keinginan untuk itu.19
19Muhsin Âqil, Al-Haqâiq Fî Mahâsin Al- AkhLâ q, terj. Husain Al- Kaff ( Jakarta :Sadra International Institute, 2014), Cet. Ke-1. h. 55
Kemarahan orang yang temperamental, misalnya, tidaklah selalu dipicu oleh setting sosial atau faktor alam, melainkan oleh karakternya yang memang temperamental.
Meskipun sifat marah menjadi ciri khas manusia dan semua makhluk, namun potensi marah juga dimiliki Allah Swt . Sementara itu, tidak ada standar baku untuk memastikan kapan, kenapa, dan bagaimana marah bisa terjadi. Suatu peristiwa belum tentu memicu kemarahan pada individu yang berbeda, bahkan boleh jadi peristiwa yang sama dalam waktu yang berbeda melahirkan perbedaan emosi pada individu yang sama.
Sedangkan murka Allah bersifat konstant, yakni hanya tertuju pada segala tindak kemungkaran.20 Terkait dengan hal ini Allah Swt. berfirman :
5} {
20 http://muslim.or.id/akhLâ q-dan-nasehat/atasi-marahmu-gapai- ridho-rabbmu. diakses pada tgl 25 November. Pkl.11.30.wib.
"Katakanlah: "Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, Yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi[424] dan (orang yang) menyembah thaghut?". mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus."( QS. Al- Maidah [5]: 60)
Kemarahan dapat mengubah manusia menjadi gunung berapi dahsyat yang lidah apinya berkobar menakutkan.
Karenanya kita dapat menyaksikan lidah orang yang marah berbicara dengan bahasa kasar dan kata-kata tercela, dan dapat menyaksikan bahwa tangan-tangan orang yang marah siap untuk memukul atau bahkan membunuh.21
Dalam buku manajemen emosi disebutkan, penyebab orang marah sebenarnya dapat datang dari luar maupun dalam diri orang tersebut. Oleh karena itu secara garis besar sebab yang menimbulkan marah terdiri atas faktor fisik dan faktor psikis.
21 Sayyid Mahdi as Sadr, Mengobati Penyakit Hati, Meningkatkan Kualitas Diri, terj. Ali Ibn Yahya ,(Jakarta: Pustaka Zahra, 2005), h.28
Hati laksana cermin yang dapat dipengaruhi rangkaian sifat tersebut dan pengaruhnya akan terpantul di dinding hati.
Pengaruh terpuji itu akan menjernihkan dan mencerahkan hati, sehingga kebenaran akan menjelma dengan jelas, serta hakikat agama seperti yang diharapkan. Sedangkan pengaruh tercela seperti asap hitam yang menjadikan cermin hati buram.
Makin banyak asap hitam, maka makin hitam dan gelap hati seseorang hingga akhirnya tertutup secara keseluruhan dari Allah, itulah tombol penutup dan gumpalan kegelapan.
Sesungguhnya hati ibarat rumah dengan beberapa pintu, dari masing-masing pintu dapat dimasuki apapun. Hati juga laksan cermin yang memantulkan berbagi gambar yang saling tumpah tindih, atau seperti telaga yang menghasilkan sejumlah anak sungai yang terus menerus mengalir tanpa henti.22
Manusia cenderung memberi respon terhadap emosi marah dengan mengarahkan permusuhan kepada rintangan- rintangan yang menghalangi pemenuhan motif-motifnya atau perwujudan tujuan-tujuannya, baik rintangan-rintangan tersebut berupa manusia, materi ataupun ikatan-ikatan sosial.
Namun seringkali kemarahan itu dialihkan kepada orang lain yang sebenarnya bukan orang-orang yang merintangi
22 Muhsin Aqil , Al-Haqâiq Fî Mahâsin Al- AkhLâqî, h. 58-59
perwujudan tujuannya, bukan pula penyebab sebenarnya yang membuat timbulnya kemarahan itu.23
Setiap orang menyikapi kemarahan secara berbeda- beda. Secara umum, ketika marah manusia terbagi ke dalam tiga golongan, berlebihan, menafikan, dan menyikapinya dengan bijak. Tidak ada kebaikan pada orang yang berlebihan ketika marah, karena ia tak lagi memerlukan pertimbangan akal dan ajaran agama. Tidak ada pula orang yang menafikan amarah, karena ia berarti tak lagi ada gairah dan mekanisme pertahanan diri.24
Sesungguhnya penolakan terhadap marah itu akan menghilangkan sakit akal yang ada pada manusia. Orang yang dapat menolak marah akan menjadi orang yang bijaksana dan sabar di dalam meneliti dari segala segi melalui akalnya. 25
Gambaran tentang hari akhir harus selalu ditanamkan dalam pikiran sedemikian rupa sehingga bisa menjadikan manusia bersungguh-sungguh, bukannya sembrono dan lalai dalam hidupnya. Ini yang merupakan pokok dari kesalehan
23 Ahmad Husain Ali Salim, Al Maradh Wa Asy-Syifa Fî Al- Qur'ân, terj. Muhammad Al- Mighwar, (Jakarta : Asta Buana Sejahtera, 2006), Cet. 1, h. 89
24 Jamal Muhammad El- Zaky, Fushul Fi thibb Al- Rasul, terj.
Dedi SeLâ met Riyadi,(Jakarta : Penerbit zaman, 2001), Cet. Ke-1, h.106
25 Hasan Ayyûb, As- Sulukul Ijtimâ'i Fil IsLâ m, Alih bahasa:
Tarmana Ahmad Qasim dkk,( Bandung: Trigenda Karya, 1994), Cet. Ke-1.
h. 102
dalam islam.26 Oleh karena itu hamba-hamba Allah Swt yang bertakwa, meskipun mereka tidak luput dari sifat marah, akan tetapi karena manusia selalu berusaha melawan keinginan hawa nafsu, maka mereka pun selalu mampu meredam kemarahan mereka karena Allah Swt.27
2) Marah Sifat KeTuhanan
Bagi manusia yang melakukan kufr, yakni mereka yang dengan keras kepala menolak untuk berserah diri ke hadapan Tuhan, dan juga kepada mereka yang sungguh-sungguh lalai dan lengah yang menghabiskan waktu mereka dalam senda gurau dan bermain-main, tidak memikirkan akhirat. Dengan kata lain, orang-orang yang masa bodoh dan lalai, maka Tuhan menunjukkan wajah-Nya yang lain terhadap orang- orang seperti itu. Disini Allah merupakan Tuhan yang keras, yang akan membalas di Hari pengadilan, yang balasannya sangat pedih Tuhan yang membalas dendam, yang kemarahan- Nya akan melemparkan siapa saja kedalam kebinasaan. Pokok persoalan dari semua ini adalah konsep eskatologis hari pengadilan, dimana Tuhan yang menguasai segala sesuatunya
26 Agus Fahri Husen, ReLa si Tuhan dan Manusia,( Yogyakarta:
Tiara Wacana, 2003), h.261
27http://muslim.or.id/akhLâq-dan-nasehat/atasi-marahmu-gapai- ridho-rabbmu.diakses pada tgl 25 November. Pkl.11.30.wib.