• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Kajian Teori

2. Pembentukan Karakter

Hikmah disyariatkan shalat berjamaah menurut Imam Al-Nawawi dapat mempererat kasih sayang dan tali persaudaraan antara sesama muslim. Oleh karena itu, shalat berjamaah disyariatkan untuk dilakukan di masjid dalam satu tempat agar orang Islam dapat bertemu ketika waktu shalat telah tiba. Dengan shalat berjamaah, seorang yang mulanya tidak mengerti hukum agama bisa bertemu dengan orang yang lebih mengerti dan bisa belajar darinya.

Pembentukan karakter perlu dan penting untuk dilakukan oleh lembaga untuk menjadi pijakan dalam penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah. Tujuan pendidikan karakter pada dasarnya adalah mendorong lahirnya siswa yang baik, tumbuh berkembang karakter yang baik akan mendorong siswa tumbuh dengan kapasitas dan komitmennya untuk melakukan segalanya dengan benar dan memiliki tujuan hidup.

Masyarakat juga berperan membentuk karakter siswa melalui orang tua dan lingkungannya.

Beberapa cara dalam proses pembentukan karakter, diantaranya adalah dengan memberikan pendidikan karakter di sekolah, mengenalkan dan membiasakan hal-hal positif pada anak dalam lingkup keluarga dan memberikan pengarahan atau pengertian tentang hal-hal positif yang bisa diterapkan dan dilakukan dalam lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, untuk membentuk karakter positif pada peserta didik diperlukan upaya terencana dan sungguh-sungguh serta strategi yang tepat untuk membentuk karakter yang baik.

Karakter di artikan sebagai kepemilikan aktif dari sifat-sifat karakter yang disebut kebajikan. Endang Sumantri menyatakan, karakter adalah suatu kualitas positif yang dimiliki seseorang, sehingga membuatnya menarik dan atraktif, seseorang yang unusual atau memiliki kepribadian eksentrik.51 Secara terminologis, para ahli mendefinisikan karakter dengan redaksi yang berbeda-beda. Nel Noddings dalam bukunya

51H. Aminullah, Teori Pendidikan Karakter Remaja Dalam Keluarga, (Bnadung: Alfabeta, 2015), 2.

menyatakan: “Character is defined as the possession and active manifestation of those character traits celled virtues”.52 Karakter juga diberi arti a distinctive differenting mark (tanda atau sifat yang membedakan seseorang dengan orang lain).53

Menurut Akhmad Sudrajat karakter yang dikutip oleh Zubaedi adalah kepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat dan berwatak. Karakter merupakan keseluruhan di posisi kodrati dan disposisi yang telah dikuasai secara stabil yang mendefinisikan seorang individu dalam keseluruhan dalam tata prilaku psikisnya yang menjadikannya tipical dalam cara berpikir dan bertindak.54 E. Mulyasa merumuskan karakter dengan sifat alami seseorang dalam merespons situasi yang diwujudkan dalam perilakunya. Karakter juga bisa diartikan sebagai totalitas ciri-ciri pribadi yang melekat dan dapat diidentifikasi pada perilaku individu yang bersifat unik, dalam arti secara khusus ciri-ciri ini membedakan antara satu individu dengan yang lainnya, dan karena ciri-ciri karakter tersebut dapat diidentifikasi pada perilaku individu dan bersifat unik, maka karakter sangat dekat dengan kepribadian individu.55 Definisi ini sama dengan penjelasan Thomas Lickona, karakter mengandung tiga unsur pokok, yaitu mengetahui hal yang baik (knowing the good), menginginkan hal yang baik (decsiring the good), dan melakukan hal yang baik (acting the good).

52Nil Noddings, Educating Moral People : A Caring Alternative To Character Education, (New York : Teachers Collage Press, 2022), 3

53H. Martin Manser, Oxford Learner Pocket Dictionary, (Usa: Oxford University Press, 1995), 218.

54 Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011),

8.

55 E. Mulyasa, Manajemen Pendidikan Karakter, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012),3-4

Sedangkan menurut Ahmad Tafsir, karakter merupakan perilaku yang dilakukan secara otomatis. Definisi karakter seperti ini sama dengan definisi akhlak dalam pandangan ilmuwan Muslim. Al-Ghazali menyatakan, akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dapat memunculkan perbuatanperbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pertimbangan dan pemikiran Menurut Ibn Miskawaih, akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya melakukan perbuatan- perbuatan tanpa melalui pertimbangan pemikiran terlebih dahulu.

Sementara itu, Ahmad Amin mengatakan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang melahirkan bermacam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.56

Berdasarkan penjelasan para ahli di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa karakter adalah sifat yang menetap, stabil, dan khusus yang melekat dalam diri seseorang yang membuatnya bersikap dan bertindak secara otomatis, tidak dapat dipengaruhi oleh keadaan, dan tanpa memerlukan pemikiran/pertimbangan terlebih dahulu.

Thomas lickona (1991) Character, observes cpntemporary philosopher Michael Novak, is “a compatible mix of all those virtues indsentified by religious traditions, literary stories, the sages, and persons of commen sensedown through history”.57

56 Muchtar Sholihin & Anwar Rosyid, Akhlaq Tasawuf, (Bandung: Nuansa Cendekia, 2006), 17-18.

57 Thomas Lickona, Education For Character, (Cortland, New York, April 1991)

Karakter menurut filsuf kontemporer, Michael Novak adalah campuran yang kompatibel dari semua kebijakan yang diidentifikasi oleh tradisi agama, orang bijak dan orang-orang yang memiliki akal sehat.

Thomas Lickona, karakter adalah upaya membentuk kepribadian manusia melalui proses pendidikan yang melibatkan tiga ranah:

pengetahuan moral (moral knowing), perasaan moral (moral feeling), dan tindakan moral (moral action), sehingga perbuatan mulia bisa terukir menjadi Ihabit of mind, heart, and hands.58.

Gambar 2.1

Teori Sistem karakter Thomas Lickona

58 Thomas Lickona, Educating For Character: How Our School Can Respect and Responsibility, (New York: Bantam Books, 1992), 80

Perasaan Moral:

(1) Dimensi (2) Harga Diri (3)Empati (4) Cinta Kebaikan (5)

Kontrol Diri dan (6) Rendah Hati

Pengetahuan Moral:

(1) Kesadaran Moral (2) Pengetahuai Nilai Moral (3) Memahami Sudut

pandang lain (4) Penalaran Moral (5) Pembuatan kepustakaan

(6) Pengetahuan

Tindakan Moral:

(1) Kompetensi (2) Keinginan (3)

Kebiasaan

Berikut adalah penjelasan sistem karakter yang dirumuskan oleh Thomas Lickona.

a. Pengetahuan Moral (Moral Knowing)

Pengetahuan moral (moral knowing) adalah kemampuan mengetahui, memahami, mempertimbangkan, membedakan dan menginterpretasikan jenis-jenis moral yang harus dilakukan dan yang mesti ditinggalkan.

1) Kesadaran moral (moral awareness). Kesadaran moral secara sederhana artinya melek moral atau ketajaman (dalam menangkap/melihat) moral, antonimnya adalah buta moral.

2) Mengetahuan nilai moral (knowing moral values). Pengetahuan nilai moral adalah kemampuan memahami berbagai nilai-nilai moral seperti menghargai kehidupan dan kemerdekaan, tanggung jawab terhadap orang lain, kejujuran, keadilan, toleransi, penghormatan, disiplin diri, integritas, kebaikan hati, berbelas kasih, dan keberanian.

3) Memahami sudut pandang lain (perspective taking). Memahami sudut pandang lain adalah kemampuan menerima sudut pandang orang lain, memahami sebuah situasi sebagaimana orang lain memahaminya, mengimajinasikan bagaimana orang lain berpikir, mereaksi, dan berperasaan.

4) Penalaran moral (moral reasoning). Penalaran moral adalah memahami makna apa itu bermoral dan mengapa harus bermoral?.

Dalam pandangan Lickona, penalaran moral anak-anak itu terus berkembang, mereka belajar apa yang dapat dianggap sebagai alasan moral yang baik dan alasan moral yang buruk.

5) Keberanian mengambil keputusan (decision making). Biasanya Orang menghadapi masalah atau dilema moral.

6) Pengetahuan pribadi (self knowledye). Mengetahui diri sendiri merupakan jenis pengetahuan moral yang paling sulit untuk diperoleh, namun hal ini perlu bagi pengembangan karakter.

b. Perasaan Moral (Moral Feeling)

Perasaan moral (moral feeling) adalah kemampuan merasa bersalah dan merasa harus/ wajib untuk melakukan tindakan moral. Jika kita merasa bersalah karena melakukan perbuatan jahat, atau merasa harus/wajib menolong orang lain yang membutuhkan bantuan kita berarti kita memiliki perasaan moral. Perasaan moral sebagai pilar kedua pendidikan karakter memiliki enam komponen, yaitu:

1) Mendengarkan hati nurani (conscience). Menurut Lickona, hati nurani memiliki dua sisi. Pertama, sisi kognitif berupa pengetahuan tentang apa yang baik dan buruk. Kedua, sisi emosional berupa perasaan harus/wajib melakukan apa yang baik dan perasaan bersalah melakukan apa yang jahat. Lickona berpendapat, sisi emosional hati nurani telah banyak diabaikan dalam dunia pendidikan, padahal ia menuntut setiap individu untuk berbuat sesuai dengan hati nuraninya.

2) Harga diri (self-estcem), Harga diri adalah kemampuan merasa bermartabat karena memiliki kebaikan atau nilai luhur. Menurut Lickona, banyak studi yang menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki harga diri yang tinggi lebih kuat terhadap tekanan dari teman-teman sebaya dan lebih mampu mengikuti putusan mereka sendiri dibandingkan dengan anak-anak dengan harga diri yang rendah.

3) Empati (empathy). Empathy adalah memiliki kepekaan terhadap derita atau orang lain. Pada intinya, empati adalah identifikasi diri pada keadaan orang lain. Empati membantu kita keluar dari diri sendiri dan masuk ke dalam diri orang lain.

4) Cinta kebaikan (loving the good). Cinta kebaikan merupakan bentuk tertinggi dari karakter. Lickona berkeyakinan, ketika orang-orang sudah mencintai kebaikan, mereka pasti senang melakukan kebaikan.

5) Kontrol diri (self kontrol). Kontrol diri adalah kemampuan mengendalikan diri sendiri ketika emosi datang secara berlebihan, seperti ketika sedang marah. Kontrol diri juga bisa di artikan dengan kemampuan mengekang kesukaan diri.

6) Rendah hati (humility). Rendah hati adalah sisi afektif dari pengetahuan diri. Lickona berkeyakinan, rendah hati membantu kita mengatasi rasa bangga (sombong). Rasa bangga adalah sumber arogansi, prasangka, dan merendahkan orang lain. Rasa bangga

yang berlebihan menyebabkan kemarahan dan menutup munculnya sikap memaafkan..

c. Tindakan Moral (Moral Acting)

Tindakan moral (moral acting) merupakan hasil atau outcome dari dua bagian karakter sebelumnya.Untuk menggerakkan seseorang dalam melakukan tindakan moral atau mencegah seseorang untuk tidak melakukannya kita perlu memperhatikan tiga komponen karakter, yaitu:

1) Kompetensi (competence). Kompetensi adalah kemampuan meng, ubah perasaan moral menjadi tindakan moral yang efektif.

2) Keinginan (will). Keinginan adalah kemauan kuat untuk melaku.

kan apa yang menurut kita harus dilakukan.

3) Kebiasaan (habit). Kebiasaan adalah melakukan sesuatu secara berulang-ulang. Dalam pandangan Lickona, moral/karakter seseorang sangat ditentukan oleh kebiasaan (habit) yang dilakukannya.59

Dalam konteks pembahsan karakter, Lickona membagi tiga jenis karakter menjadi tiga bagian tahapan yang di dalamnya memuat masing- masing nilai dan moral, yaitu mengetahui moral, merasakan moral dan tindakan moral, ketiganya saling berkaitan sebagai kesatuan sistem.

Apabila seseorang telah mengetahui sebuah moral, maka kemudian dihayati dengan meraskan keberadaan moral, dan untuk melakukan tindakan sesuia dengan moral dan nilai akan lebih mudah.

59 Thomas Lickona, Mendidik Untuk Mendidik Karakter, Educating For Character: How Our School Can Respect and Responsibility, (New York: Bantam Books, 1992), 85-99.

Konsepsi pendidikan karakter dalam sudut pandang global memiliki makna sebagai pendidikan yang berbasis karakter ”Character is abaout good choice and positive actions. It is about doing the right thing. Character show itself in your behavior. Character involves your conscience. Character taps into your judgment, your heart, and yout thinking”.60 Pendidikan yang berkarakter adalah pilihan yang baik dan tindakan positif untuk membangun sebuah kebenaran. Karakter dalam pendidikan menunjukkan perilaku yang hakiki karena melibatkan hati nurani.

Dalam rangka memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter, di sekolah,keluarga maupun masyarakat, pemerintah telah mengidentifikasi 18 (delapan belas) nilai yang bersumber agama, budaya dan falsafah bangsa. Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter tersebut jika dideskripsikan sebagai berikut:

Tabel 2.2

18 nilai-nilai Pendidikan Karakter Dalam Kemendiknas No Nilai–nilai

Karakter Deskripsi

1 Religius Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleransi terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2 Jujur Perilaku berdasarkan pada upaya berdasarkan diri sebagai oarang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan perbuatan.

3 Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4 Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

60 Nancy Stevenson, Young Person’s Character Education Handbook, (United States Of

America: JIST Publishing, 2006),1.

5 Kerja keras Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatsi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

6 Kreatif Berfikir dan melakukan sesuatu untuk menhasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

7 Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak bergantung pada orang lain dalam menyelesaikan barbagai tugas-tugasnya.

8 Demokratis Cara berfikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

9 Rasa Ingin Tahu

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang di pelajarinya, dilihat, dan di dengar

10 Semangat Kebangsaan

Cara berfikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya

11 Cinta Tanah Air

Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi dan politik bangsa.

12 Menghargai Prestasi

Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati 13 ke-berhasilan orang lain

13 Bersahabat / Berkomunikatif

Sikat dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

14 Cinta Damai Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lainmerasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.

15 Gemar Membaca

Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

16 Peduli Lindungan

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17 Peduli Sosial Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

18 Tanggung Jawab

Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya ia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Dari 18 nilai-niali karakter di atas, tiga diantaranya yang ingin dibahas oleh peneliti dalam penelitian ini, yakni religius, disiplin dan tanggung jawab.

1) Karakter religius

Kata religius memang tidak selalu identik dengan kata agama, kata religius lebih tepat diterjemahkan sebagai keberagamaan, keberagamaan lebih melihat aspek yang ada dalam lubuk hati nurani pribadi seseorang.61 Karakter religius berasal dari kata religi di ambil dari bahasa asing yaitu religion yang memiliki arti agama yaitu sebuah keyakinan akan adanya suatu kekuasaan di atas manusia, sementara makna religius adalah merupakan sifat yang melekat pada diri seorang. Religius merupakan salah satu nilai karakter yang diartikan sebagai sikap dan perilaku taat kepada agama yang dianut.

Agama seperti yang dikutip Nuruddin menurut Frazer merupakan sistem sesuai dengan tingkat kognisi seseorang dengan kepercayaan yang mengalami perubahan dan perkembangan.62

Religius itu sendiri sangat erat hubungannya dengan sikap dan prilaku yang dekat dengan hal-hal spiritual. Sedangkan kegiatan religius yang dapat diajarkan kepada siswa di sekolah yang bisa dijadikan pembiasaan diantaranya: berdo'a atau bersyukur (ungkapan syukur dapat diwujudkan dalam hubungan seseorang dengan sesama dengan membangun persaudaraan tanpa adanya perbedaan), melaksanakan kegiatan di mushollah (salat berjama'ah. mengaji, dan

61 Muhaimin, Dkk. Pradikma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama

Islam Di Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), 288.

62 Nuruddin, dkk, Potret Kearifan Hidup Masyarakat Samin dan Tenggar: Agama Tradisional (Yogyakarta: LKS, 2003), 126.

lain sebagainya, hal tersebut bisa berdampak pada moral dan etika siswa).

a) Tujuan karakter religius

Menurut Fitriyatul Munawaroh sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW mengemukakan bahwa pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pribadi moral dan akhlak. Tujuannya yakni untuk membentuk keperibadian manusia yang lebih baik dalam pengetahuan dan keterampilan.

b) Nilai-nilai karakter religius

Pendidikan karakter religius merupakan pendidikan yang menekankan nilai-nilai religius, seperti nilai ibadah, nilai jihad, nilai amanat, nilai ikhlas, akhlak dan kedisiplinan serta keteladanan. Pendidikan karakter religius umumya mencakup pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai ketuhanan atau ajaran agama. Dalam indikator keberhasilan pendidikan karakter, indikator nilai religius dalam proses pembelajaran umumnya mencangkup mengucapkan salam, berdo'a sebelum dan sesudah belajar. melaksanakan ibadah keagamaan, dan merayakan hari besar keagamaan.63

2) Karakter Disiplin

Disiplin pada hakekatnya merupakan suatu ketaatan yang sungguh-sungguh yang didukung oleh kesadaran untuk menunaikan

63 Fitriyatul Munawaroh, Internalisasi Karakter Religius Di Pondok Pesantren Tahfidz Al-

Khoiriyah Curahkalong Bangsalsari Jember, (Tesis: IAIN Jember 2020)

kewajiban serta perilaku menurut aturan yang berlaku dalam suatu lingkungan tertentu.64 Disiplin sebagai tindakan yang menunjukkan tertib dan patuh pada berbagai ketentuan serta peraturan.65 Disiplin adalah perilaku sosial yang bertanggung jawab dan fungsi kemandirian yang optimal dalam suatu relasi sosial yang berkembang atas dasar kemampuan mengelola atau mengendalikan, memotivasi dan indenpendensi diri.66 Salahuddin dalam bukunya Mulyasa bahwa disiplin sebagai tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh terhadap berbagai ketentuan dan peraturan.67

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa disiplin merupakan perilaku atau tindakan individu yang menunjukkan taat tertib pada aturan yang berlaku.

Indikator dari nilai disiplin menurut Kemendiknas ada beberapa indikator, diantaranya:

a) Datang sekolah dan masuk kelas tepat waktu b) Melaksanakan tugas-tugas tepat waktu c) Duduk pada tempat yang telah ditetapkan d) Menaati peraturan

e) Berpakaian sopan dan rapi

64 Sugeng Haryono, “Pengaruh Kedisiplinan Siswa dan Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ekonomi”, Jurnal Ilmiah Kependidikan Vol. 3 No. 3.

65 Kementrian Pendidikan Nasional, Pengembangan Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa, (Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional, 2010), 9.

66 Daryanto Dan Suyatri Darmiyatun, Implementasi Pendidikan Karakter Di Sekolah, (Yogyakarta: Gava Media, 2013), 49.

67 E. Mulyasa, Manajemen Pendidikan Karakter, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), 60.

f) Mengingatkan teman yang melanggar peraturan dengan ajakan yang baik dan sopan.68

Adapun indikator disiplin menurut Jamal Ma‟mur, diantaranya:69

a) Disiplin waktu

Disiplin waktu adalah menggunakan serta memanfaatkan waktu dengan efektif. Menggunakan waktu secara efektif maksudnya menggunakan waktu setepat mungkin. Sedangkan efisien disini berarti rapi, cermat, paling sesuai, tepat, hemat waktu, hemat biaya dan hemat tenaga.70 Disiplin waktu sangatlah penting, orang-orang yang memiliki disiplin waktu yang tinggi merupakan ciri-ciri orang yang beruntung. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur‟an surat Al Ashr ayat 1-3



































Artinya: Demi masa. Sesungguhnya manusia itu bebar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang beriman dan beramal sholeh dan nasehat-menasehate supaya mentaati kebenaran dan nasehat-nasehati supaya menetapi kesabaran (Al-Ashr ayat 1-3).71

68 Kementrian Pendidikan Nasional, Pengembangan Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa,(Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional 2010), 33.

69Jamal Ma‟mur Asmani, Tips Menjadi Guru Inspiratif, Kreatif, Dan Inovatif, (Yogyakarta:

Diva Press, 2013), 91.

70 Pius A. Paratanto Dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola Surabaya, 2001), 129.

71 Departemen Agama Republik Indonesia, Al Qur’an dan Terjemah, Surah Al-Ashr,1-3, 601.

Pada ayat di atas, Allah Swt mengingatkan kita bahwa bagaimana pentingnya waktu dalam kehidupan serta memberikan manfaat yang besar.

b) Disiplin aturan

Aturan merupakan perangkat yang berisi ketentuan atau patokan yang dijadikan pedoman yang menghasilkan keputusan yang telah disepakati dalam suatu organisasi yang bersifat mengikat, membatasi, mengatur dan harus ditaati serta harus dilakukan untuk menghindari hukuman dami menciptakan ketertiban, keteraturan dan kenyamanan.

Kajian tentang disiplin aturan menurut agama banyak tertuang dalam Al-Qur‟an dan Hadis yang banyak mengandung perintah displin dalam arti ketaatan pada peraturan yang telah ditentukan sebagaimana dalam surat An-Nisa ayat 59.



























































Artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatlah Rasul-Nya dan kepada Ulil Amri di antara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur‟an) dan Rasul (unnah), jika kamu bener-bener beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yamg demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q.S. An-Nisa ayat 59).72

72 Departemen Agama Republik Indonesia, Al Qur’an dan Terjemah, Surah An-Nisa ayat 59, 87.

Pada ayat di atas, memberikan penegasan bahwa bagaimana setiap ummatnya diperintahkan untuk menaati aturan-aturan yang sudah ditetapkan oleh Allah, Rasulnya dan para pemimpin yang ada karena yang demikian ini, merupakan disiplin dalam aturan.

c) Displin sikap

Dalam bahasa arab sikap disebut akhlak. Sikap merupakan kecenderungan untuk bertindak, berpersepsi, berfikir dan kecenderungan untuk menghadapi objek, ide, situasi serta nilai.

Objek sikap bisa berupa benda, orang, tempat, gagasan, ataupun situasi serta kelompok. Dalam implementasinya disiplin sikap membutuhkan contoh secara konkrit dan aplikatif. Didalam Al- Qur‟an istilah disiplin sikap biasa disebut uswah hasanah, Uswah hasanah berarti keteladanan yang baik.

Dalam usia perkembangan anak banyak ditentukan oleh keadaan lingkungan dimana ia berada. Sebab dia akan meniru dan mencontohkan apa yang sering dilihat dan didengarnya. Dengan demikian lingkungan adalah salah satu faktor yang menentukan sifat, karakter dan tingkah laku seseorang. Oleh itu apabila dalam suatu lingkungan tata cara atau peraturan yang senantiasan ditaati oleh setiap anggota baik dalam rumah tangga maupun dalam lingkungan maka dengan sendirinya akan melahirkan manusia sopan dan bertingkah laku yang baik sesuai dengan peraturan dan tata cara yang berlaku.