B. Pembentukan Masyarakat Islam
kecuali kehidupan akhirat.” Maka ampunilah orang-orang Anshor dan Muhajirin.” Beliau juga bersabda, “Para pekerja ini bukanlah para pekerja Khaibar. Ini adalah pemilik yang paling baik dan paling suci.” Sabda beliau ini semakin memompa semangat para sahabat dalam bekerja, sehingga salah seorang diantara mereka berkata, “Jika kita duduk saja sedangkan Rasulullah SAW bekerja, itu adalah tindakan orang yang tersesat.” Sementara di tempat itu ada kuburan orang-orang musyrik, puing-puing reruntuhan bangunan, pohon kurma dan sebuah pohon lain. Maka beliau memerintahkan untuk manggali kuburan-kuburan itu, meratakan puing-puiing bangunan, memotong pohon dan menetapkan arah kiblatnya yang saat itu masih menghadap ke arah Baitul Maqdis.
Dua pinggiran pintunya dibuat terlebih dahulu dari batu, dindingnya dari batu bata yang disusun dengan lumpur tanah, atapnya dari daun kurma, tiangnya dari batang pohon, lantainya dibuat menghampar dari pasir dan kerikil-kerikil kecil, pintunya ada tiga. Panjang bangunannya ke arah kiblat hingga ke ujungnya ada seratus hasta dan lebarnya juga hampir sama. Adapun fondasinya kurang lebih tiga hasta.
Sebelum agama Islam datang telah menjadi kebiasaan bagi suku-suku Arab menyediakan suatu tempat untuk pertemuan. Di tempat itu mereka mempertontonkan sihir, mengadakan upacara perkawinan, berjaul beli, dan lain-lain sebagainya. Setelah agama Islam datang, Rasulullah SAW bermaksud hendak mempersatukan suku-suku bangasa ini, dengan jalan menyediakan suatu tempat pertemuan. Di tempat ini semua penduduk dapat bertemu untuk mengerjakan ibadat dan pekerjaan-pekerjaan atau upacara-upacara lain. Maka Nabi mendirikan sebuah Masjid, dan diberi nama
”Baitullah”.
Masjid itu bukan hanya untuk tempat shalat semata, tetapi juga merupakan sekolahan bagi orang-orang muslim untuk menerima pelajaran Islam dan bimbingan-bimbingannya, sebagai
balai pertemuan dan tempat untuk mempersatukan berbagai unsur kekabilahan, tempat untuk mengatur segala urusan, tempat berbagai upacara dan sebagai gedung parlemen untuk bermusyawarah. Disamping itu, masjid juga difungsikan sebagai tempat tinggal orang-orang Muhajirin yang miskin yang datang ke Madinah tanpa memiliki harta, tidak mempunyai kerabat, dan masih belum berkeluarga. Masjid ini memegang peranan besar untuk mempersatukan kaum muslimin dan mempertalikan jiwa mereka.
2. Membuat Perjanjian
Isi Piagam Madinah (Madinah Charter). Sejarah menunjukan bahwa Nabi Muhammad SAW dan umat Islam, selama kurang lebih 13 tahun di Makkah terhitung sejak pengangkatan beliau sebagai Rasul, belum mempunyai kekuatan dan kesatuan politik yang menguasai suatu wilayah. Umat Islam menjadi suatu komunitas yang bebas dan merdeka setelah hijrah ke Madinah, kota yang sebelumnya di kenal sebagai Yastrib.
Tidak lama sesudah hijrah, Nabi Muhammad SAW membuat suatu piagam politik untuk mengatur kehidupan bersama di Madinah yang dihuni oleh beberapa macam golongan. Beliau memandang adanya peraturan pokok tata kehidupan bersama di Madinah agar terbentuk kesatuan hidup diantara seluruh penghuninya. Kesatuan hidup yang baru di bentuk itu dipimpin oleh Muhammad SAW sendiri menjadi kepala negara yang berdaulat. Dengan demikian di Madinah Nabi Muhammad SAW bukan lagi hanya mempunyai sifat Rasulullah, tetapi juga sifat kepala negara.
Para ahli sejarah menyebut naskah politik ini dengan sebutan yang macam-macam seperti W.Montgomery menamainya ”the Constitutiaon of Medinah”, R.A Nicholson “Charter”, Majid Khanduri “treaty” Philip K. Hitti Grement, Zainal Abidin Ahmad
“Piagam”, dan “As-Shohifah” adalah nama yang di sebut dalam teks piagam. Di tetapkannya piagam politik ini merupakan salah satu dari siasat Rasul sesudah hijrah ke Madinah untuk membina kesatuan hidup berbagai golongan warga Madinah. Dalam piagam itu di rumuskan kebebasan beragama, hubungan antar kelompok, kewajiban mempertahankan kesatuan hidup dan lain-lainnya.
Berdasarkan isi piagam Madinah itulah warga Madinah yang majemuk, secara politis di bina dibawah pimpinan Muhammad SAW.
Betapa tinggi nilai piagam ini, Nur Kholis Majid mengatakan:
“Bunyi naskah konstitusi (Piagam Madinah) itu sangat menarik, ia memuat pokok-pokok pikiran yang dari sudut pemikiran modern sangat mengagumkan. Dalam konstitusi itulah untuk pertama kalinya di rumuskan ide-ide yang kini menjadi pandangan hidup modern. Perjanjian itu berupa :
1. Ditetapkan dan diakui kemerdekaan tiap golongan untuk memeluk dan menjalankan agamanya
2. Setiap penduduk bertanggung jawab dan memikul kewajiban bersama untuk menyelenggarakan keamanan dan membela serta mempertahankan negeri terhadap ancaman dan serangan musuh di manapun juga datangnya
3. Urusan pribadi atau perorangan, perkara-perkara kecil kelompok non muslim tidak harus melibatkan pihak- pihak lain
4. Setiap bentuk penindasan di larang
5. Segala bentuk pertumpahan, pembunuhan, dan penganiayaan di haramkan
6. Tidak satu kelompokpun di perkenankan mengadakan persekutuan dengan kafir Quraisy atau memberi
perlindungan kepada mereka atau membantu mereka mengadakan perlawanan terhadap masyarakat Madinah 7. Muhammad, Rasulullah menjadi kepala republik
Madinah dan memegang kekuasaan peradilan tertinggi 8. Seluruh masyarakat yang turut menandatangani piagam
ini bersatu membentuk kesatuan kebangsaan. Perjanjian ini di kenal dengan piagam Madinah.
Munawir Sadjali menuliskan bahwa batu-batu besar yang telah di tetapkan oleh Piagam Madinah sebagai landasan bagi kehidupan bernegara untuk masyarakat majemuk di Madinah itu adalah sebagai berikut :
a. Semua penduduk umat Islam meskipun berasal dari banyak suku, tapi merupakan satu komunitas.
Hubungan antar sesama anggota komunitas Islam dan antara komunitas-komunitas lain didasarkan atas prinsip-prinsip
b. Bertetangga baik
c. Saling membantu dalam menghadapi musuh d. Membela yang teraniaya
e. Saling menasehati
f. Menghormati kebebasan beragama dan piagam itu sebagai konstitusi agama Islam yang pertama tidak menyebut agama negara. Dalam piagan Madinah juga memberikan suatu kelonggaran kepada kelompok lain serta memaksakan suatu ajaran paham baru kepada Non Muslim salah satu prinsip yang di junjung oleh Nabi adalah prinsip kebebasan.
3. Mempersaudarakan Golongan
Mempersatukan Antar Golongan. Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar dengan ikatan yang lebih kuat lagi. Generasi dari kalangan Muhajirin
dinikahkan dengan generasi dari kalangan Anshar. Di mana saat itu kalangan Muhajirin berada dalam situasi yang sangat memerlukan bantuan untuk meringankan segala beban hidup di tempat yang asing, dengan kondisi ekonomi yang masih lemah, dan pengaruh psikologis lantaran berpisah dengan keluarga besar mereka di Mekkah. Langkah ini merupakan bentuk sikap yang lurus, kesempurnaan Nubuwah Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam, kematangan politik beliau, dan kebijaksanaan yang dapat diterima semua kalangan. Walhasil, melalui konsep persaudaraan seperti itu masyarakat Islam Madinah saling menyatu dan menjadi satu tubuh untuk sama-sama memikul beban yang ditanggung. Pembaruan ajaran agama di Era Jahiliyah. Ketika persatuan mereka tumbuh baik dan kokoh, itu artinya mereka juga akan siap untuk memikul beban pengumuman perang melawan seluruh umat yang berseberangan dengan Islam, memerangi orang yang dekat ataupun yang jauh dari kalangan musyrikin dan kafir. Allah „azza wa jalla berfirman:
َا َمِبَللَّئََ َّ َّ
ن ِإَ فَْ
إ ۡو َهَ تنئَ ِن ِإَ
فَللََّۥُِۚ َِّ هُ ُّ
لُ كَ ُنيِّ
دلئََ نوُ
ك َي َوَٞ ةنَۡ
ت ِفََ نوُ
كَ تَ َ
لََ ََّتّ َحَ ۡمُ هوُ
ل ِت َ ق َو
َٞ ن ِصَبَ َنوُل َم ۡعَي
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Anfal: 39).
d. Pembinaan dan Perluasaan
Pembinaan dan Perluasan Wilayah. Didalam piagam Madinah banayak kalimat yang menunjukan perlunya keamanan dan ketertiban di tegakkan antara lain : kaum muslimin harus kompak menghadapi dan menghukum orang yang melakukan pelanggaran, berbuat dzalim, menunjukan sikap permusuhan atau membuat kerusuhan (Pasal 13), perlindungan Allah SWT adalah satu atau merata (Pasal 15), kaum Yahudi dan Muslimin saling bantu dalam menghadapi musuh (Pasal 37).
Dalam memelihara keamanan dan petahanan diwilayah kekuasaannya, Muhammad SAW membentuk dan mengirim satuan-satuan ekspedisi kedaerah-daerah sebelah luar kota Madinah. Sasaran ekpedisi tampaknya lebih banyak ditunjukkan kepada pasukan-pasukan Quraisy yang memang semenjak sejak sebelum Hijrah ke Madinah dalam kondisi permusuhan sehingga banyak terjadi peperangan dan bentrokan antara kaum muslimin dan kaum Quraisy Makkah.
Dari kronologi kegiatan dan peristiwa di atas jelas bahwa usaha pembinann ketertiban yang di lakukan Nabi Muhammad SAW penuh dengan tantangan dan hambatan. Dengan penuh kesungguhan hambatan dan itu dapat di hadapi, dan secara bertahap keaman dan ketertiban di wilayah yang telah dikuasainya dapat di wujudkan. Keberhasilannya diraih secara bertahap.
Berpusat di Madinah, negara teokrasi Islam meluas ke seluruh Arabiah. Nabi Muhammad SAW membentuk suatu pemerintahan berdasarkan visi kenabiannya.