BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Penyajian Hasil Penelitian dan Pembahasan
2. Pemberatan Sanksi Pidana dalam Tindak Pidana
1459/Pid/B/2013/PN.Mks Perspektif Asas Keadilan.
a. Hal-hal yang Memberatkan dan Meringankan94
Pertimbangan hukum dalam putusan Pengadilan merupakan bentuk dari pertanggujawaban Hakim atas apa yang diputuskannya adalam amar putusan, sehingga segala sesuatu yang diputuskan di dalam amar putusan harus dipertimbangkan dengan baik dalam pertimbangan hukum yang termuat di dalam putusan.
Berdasarkan Pasal 197 KUHAP, dalam hal Hakim menjatuhkan putusan berupa putusan pemidanaan, salah satu hal yang termuat dalam putusan adalah “Keadaan yang memberatkan dan yang meringankan terdakwa”. Konsekuensi tidak dicancumkannya hal tersebut mengakibatkan putusan batal demi hukum. KUHAP tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan keadaan yang memberatkan dan hal yang meringankan. Peraturan lain yang sedikit menjelaskan hal itu adalah Pasal 8 Ayat (2) UU RI No, 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang menentukan bahwa “Dalam mempertimbangkan hukuman berat ringannya pidana tersebut, Hakim wajib memperhatikan dengan baik dan hajat dari terdakwa”
Berdasarkan surat putusan Pengadilan Negeri Makassar yang memerikasa dan mengadili perkara Nomor: 1459/Pid/B/2013/PN.Mks,
94 Putusa n Penga dila n Negeri Ma ka ssa r No. 1459/Pid/B/2013/PN.Mks, 18
Hakim dalam membertimbangkan hukuman berat dan ringanya dan memberikan keadilan yang seadil-adilnya. Diantara itu sebagai berikut:
1) Menimbang bahwa sebelum menjatuhkan pidana kepada Terdakwa, perlu dipertimbangkan hal-hal yang memberatkan yaitu:
a) Terdakwa telah merusak masa depan saksi korban;
b) Terdakwa telah membuat saksi korban truma seumur hidup;
2) Menimbang bahwa sebelum menjatuhakan pidana kepada terdakwa, perlu dipertimbangkan hal-hal yang meringankan yaitu:
a) terdakwa berlaku sopan dipersidangan;
b) Terdakwa mengakui perbuatannya sehingga memperlancar jalannya persidangan;
c) Terdakwa menyesali perbuatannya.
b. Amar Putuasan95
1) Menyatakan Terdakwa MUDDIN DG. KULLE terbukti secara sah dana meyakinkan bersalah melakukan tidak pidana “Memaksa anak melakukan persetubuhan terhadap anak”;
2) Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa MUDDIN DG,KULLE oleh karena itu dengan pidana penjara selama 8 (delapan) tahun dan denda Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah) subsidar 3 (tiga) bulan kurungan;
3) Menetapkan bahwa masa penahanan yang telah dijalani oleh Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatukan;
95 Putusa n Penga dila n Negeri Ma ka ssa r No. 1459/Pid/B/2013/PN.Mks, 18-19.
4) memerintahkan kepada Terdakwa tetap berada di dalam tahanan;
5) membebani Terdakwa mambayar biaya perkara sebesar Rp 3.000 (tiga ribu rupiah)
c. Analisis Pemberatan Sanksi Pidana dalam Tindak Pidana Pemerkosaan Anak Kandung dalam Perkara Pengadilan Negeri Makassar Nomor: 1459/Pid/B/2013/PN.Mks Perspektif Asas Keadilan
Maka tindakan ini secara sadar melakukan pemerkosaan terhadap anak kandung sendiri padahal dalam asas hukum asas Errare humanum est, turpe in errope perseverare: Kekeliruan itu manusiawi, tapi tidak boleh senantiasa berbuat keliru (berbuat salah), perbuatan ini dilakukan dengan cara sengaja bukan secara tindak pidana secara tiba- tiba. Asas In criminalibus, probationes bedent esse luce clariores:
Dalam perkara pidana, bukti harus lebih terang dari cahaya/seterang cahaya. Asas Ut sementem feceris, ita meted: Siapa yang menabur, ia yang menuai, sehingga siapa yang melakukan maka ia yang harus bertanggungjawab. Asas unus testis nullus testis (satu saksi, bukan saksi) sebagaimana diatur di Pasal 185 ayat (2) KUHAP, yaitu:
Keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya.
Fiat Justitia ruat caelum artinya Hendaklah keadilan ditegakkan, walaupun langit akan runtuh. Kalimat ini diucapkan oleh Lucius Calpurnius Piso Caesoninus. Null and volid: batal demi Hukum.
Bahasa Hukumnya: void ab initio (tidak sah dari awal). Definisi keadilan tertua yang dirumuskan oleh Para ahli hukum zaman romawi, berbunyi demikian: "Justitia est constans et perpetua voluntas jus suum cuique tribuendi”, artinya: “Keadilan adalah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya”.
Pemerkosaan bukanlah sebuah masalah yang bisa dianggap dengan mudah, bukan seperti membalik tangan, tetapi dalam menindak lanjuti hukuman pemerkosaan membutuhkan prosedur yang sistematias dan selektif. Dalam hal ini peneliti memberikan gambaran bahwa ada indifikasi atau syarat pemerkosaan itu mudah terjadi pada lingkungan sekitar, yakni pemerkosaan dapat berkembang karena adanya keringanan hukuman yang diberikan kepada pelaku. Para pelaku akan sangat senang sekali apabila hukuman yang diberikan oleh hakim itu tidak memberikan efek jera kepada sipelaku, kedua yakni tidak ada prosedur yang menegaskan bahwa apabila keluarga kandung yang melakukan tindak pidana pemerkosaan itu diberatkan hukumannya dan denda yang paling tinggi karena dia tidak melindungi keluarganya sendiri yang di mana seharusnya keluarga (ayah) adalah pelindungan terakhir bagi anaknya.
Seperti yang saya jelaskan dalam kerangka konseptual bahwa dalam pasal 76 D terkait dengan panghapusan kekerasan terhadap anak di bawah umur atau anak kandung itu sud ah jelas secara asas Legalitas
maka didukung dengan Asas Ut sementem feceris, ita meted: Siapa yang menabur, ia yang menuai, sehingga siapa yang melakukan maka ia yang harus bertanggungjawab.
Sedangkan menurut pandangan asas keadilan dalam perspektif filsafah hukum meyakini bahwa alam semesta diciptakan dengan prinsip keadilan, sehingga dikenal dengan Stoisisme norma hukum alam primer yang bersifat umum menyatakan bahwa: Berikanlah kepada setiap orang apa yang menjadi haknya (Unicuique suum tribuere), dan jangan merugikan seseorang (Neminem laedere), Cicero juga menyatakan bahwa hukum dan keadilan tidak ditentukan oleh pendapat manusia akan tetapi oleh alam.96
Jika batasan tersebut dipakai oleh badan yang berwenang dalam membuat suatu aturan, maka aturan yang dibuat tersebut akan bersesuaian dengan Asas Ultra posse neno obligator: Seseorang tidak akan dibebani melebihi kemampuannya, sehingga terbentuk suatu keseimbangan antara kemampuan seseorang dengan aturan yang dibuat. Sebenarnya untuk penerapan sanksi maksimum bisa saja tegas dengan hukuman berat, tapi Hakim harus bisa menentukan kepantasan hukuman bagi orang yang melanggar agar sesuai dengan perbuatannya.
96 Ansori, Abdul Ga fur, Filsafat Hukum Sejarah, Aliran dan Pemaknaan, (Yogya ka rta : University of ga ja h ma da, 2006), 102.
90 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti dapat menyimpulkan sebagai berikut:
1. Bahwa dalam Pertimbangan Hakim (Ratio Decidendi) Putusan Pengadilan Negeri Makassar Nomor:1459/Pid/B/2013/PN.Mks telah sesuai, Dalam menjatuhkan pidana terhadap terdakwa, majelis Hakim memiliki banyak pertimbangan yang terungkap dalam persidangan dan dituangkan dalam berkas putusan perkara. Selain yang menjadi korban adalah anak kandung terdakwa, majelis Hakim juga mempertimbangkan kondisi anak korban yang diakibatkan oleh perbuatan terdakwa tersebut. Hal itu merupakan hal-hal yang memberatkan untuk terdakwa, namun dalam perkara tersebut majelis Hakim juga mempunyai pertimbangan yang dapat meringankan terdakwa diantaranya adanya pengakuan (tidak menutupi fakta-fakta hukum), adanya penyesalan terhadap perbuatan yang dilakukan, serta terdakwa belum pernah dipidana. Sedangkan dalam perspektif hukum positif dan hukum pidana Islam, perbuatan pemerkosaan yang dilakukan oleh Terdakwa termasuk dalam perbuatan yang dilarang oleh Undang- Undang dalam Syariat Islam dengan mendapatkan hukuman. sanksi yang sesuai dengan bentuk perbuatannya.
2. Sebenarnya untuk penerapan sanksi maksimum bisa saja ditegaskan dengan hukuman berat, tapi hakim harus bisa menentukan kepantasan
hukuman bagi orang yang melanggar agar sesuai dengan perbuatannya sebagaimana dalam asas ultra posse none obligator: seseorang tidal akan di bebani melebihi kemampuan seseorang dengan aturan yang di buat, sedangkan menurut pandangan asas keadilan dalam perspektif filsafah hukum menyakini bahwa alam semesta diciptakan dengan perinsip keadilan, sehingga dikenal sitosisme norma hukum alam primer yang bersifat umum menyatakan bahwa: berikanlah kesetiap orang apa yang menjadi hanya.
B. Saran
Berdasarkan dari perkara putusan Pengadilan Negeri Makassar Nomor:
1459/Pid/B/2013/PN.Mks, peneliti menyarankan kepada:
1. Hendaknya kepada majelis Hakim untuk bener-bener berlaku seadil- adilnya dalam memberikan putusan dan lebih peka terhadap f akta-fakta dalam persidangan dan mampu menjadi penegak hukum yang bijak.
2. Hendaknya kepada orang tua agar melindungi anak-anaknya bukan malah merusak masa depan anak, karena perlindungan orang tualah yang menjadi perlindungan sebenarnaya bagi anak-anaknya.
92
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku :
Abdul Gafur, Ansori, 2006, Filsafat Hukum Sejarah, Aliran dan Pemaknaan, Yogyakarta: University of gajah mada.
Anderson Stacey, Coelum Fiat Justitia Ruat, 2001, Demi Keadilan Sekalipun Langut Runtuh, Malang IKADIN: Universita Muhammahdiyah Malang.
Arif Badar Nawawi, 2014, Metodologi Penelitian Hukum Normatif dalam Justifikasi Teori Hukum, Jakarta: Kencana Prenada Group Media.
Az-Zuhaili Wahbah, 2011, Fiqih Islam Wa Adillatuhu, Gema Insan Darul Fikir.
Departemen Agama RI, 2006, Al-Qur‟an dan Terjemahnya, Bandung: CV.
Pustaka Agung Harapan.
Deni Darmawan, 2014, Metode Penilitian Kualitatif, Bandung: PT Rosdakarya.
Djazuli, 1997, Fiqih Jinayah: Upanya Menanggulagi Kejahatan Dalam Islam, Jakarta: Pt. Raja Grafindo Persada.
Dkk Shinta Agustina, 2010, Persepsi Aparat Penegak Hukum Tentang Pelaksanaan Asas Lex Specialis Derogat Legi Generali Dalam Sistem Peradilan Pidana, Laporan Penelitian, Padang: LPPM-Unand.
Effendi Erdianto, 2011, Hukum Pidana Indonesia-Suatu Pengantar, Bandung: PT Refika Aditama.
E.Fernando Manullang, 2007, Menggapai Hukum Berkeadilan, Jakarta: Buku Kompas.
Farid Andi Zailani Abidin, 2007, Hukum Pidana I, Jakarta: Sinar Grafika.
Fuady Munir, 2004, Anatomi Kejahatan Kerah Putih, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.
Gunadi Ismu, Efendi Jonaedi, 2014, Cepat dan mudah memahami Hukum Pidana, Jakarta: Kencana.
Hakrisnowo, 2000, Hukum Pidana Perpektif Kekerasan terhadap Wanita, Jogjakarta: Jurnal Studi Indonesia.
Hasan Mustofa, Saebani Beni Ahmad, 2013, Hukum Pidana Islam Fiqih Jinayah Dilengakapi Dengan Kajian Hukum Pidana Islam, Bandung: Pustaka Setia.
Hiariej Eddy O.S., 2014, Prinsip-Perinsip Hukum Pidana, Yogyakarta: Cahaya Atma Piustaka.
Irsan Koesparmono, 1995, Kejahatan Susila dan Pelecehan dalam Perspektif Kepolisian, Yogyakarta: Tp.
Jamhari M. Said, Efektifitas dan Efesieansi Hukuaman Had Tentang Zian dalam Pidana Islam dan Hukuman Penjara pada Hukum Positif, Al-Adalah, (10 Januari 2012).
Karim, 2020, Karakteristik Penyelesaian Perkara Tindak Pidana Ringan Melalui Restorative Justice, Surabaya: Graha Indah.
Kansil Cst, 2009, Kamus Istilah Hukum, Jakarta: Gramedia Pustaka.
Kelsem Hans, 2006, Teori Umum Tentang Hukum dan Negara, Bandung: Nusa Media.
Lamintang P.A.F, 1997, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indinesia, PT Citra Aditnya Bakti: Bandung.
Mangkepriyanto Extrix, 2019, Pidana Umum dan Pidana Khusus Serta Ketertiban Undang-Undang Perlindungan Sanksi dan Korban, Guepedia Publisher.
Mahrus Ali, 2015, Dasar-Dasar Hukum Pidana, Jakarta.
Marjuki Peter Mahmud, 2005, Penelitian Hukum, Jakarta: Kencana.
Mahkamah Agung RI, 2004, Pedoman Perilaku Hakim (Code Of Counduct), Kode Etika Hakim dan Makalah Bekaitan, Pusdiklat Teknis, Jakarta:
Peradilan M.A R.I.
Muslich Ahmad Wardi, 1990, Fiqih Sunnah, Bandung: Alma’arif.
Moeljetno, 2008, Asas-asas Hukum Pidana, Jakarta: Rineka Cipta.
M. Abadul Kholiq sebagaimana dikutip dalam Mahrus Ali, Dasar-Dasar Hukum Pidana, Jakarta: Sinar Grafika.
Mudzakkir sebagaimana dikutip dalam Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barakatullah, 2005, Politik Hukum Pidana: Kajian Kebijakan Kriminalisasi dan Dekriminalisasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajaran.
Mulyadi Lilik, 2007, Kapita Selekta Hukum Pidana, Kriminologi, dan Viktimologi, Jakarta: Djambata.
Muhammad, Al-Namir Izat, 1984, Jara’im al-Ird Qanun al-Uqubat al-Misri, Dar al-Arabia lil-Mausu’at.
Muslich Ahmad Wardi, 2005, Hukum Pidana Islam, Jakarta: Sinar Grafika.
Nashriana, 2011, Perlindungan Hukum Pidana Bagi Anak di Indonesia, Jakarta:
PT. Raja Granfido Persada.
Purwoleksono Didik Endro, 2016, Hukum Pidana, Serabaya: Airlangga University Prees Kampus C Unair.
Purnomo Setiadi Akbar dan Husni Usman, 1998, Metodologi Penelitian Sosial, Jakarta: Bumi Aksara.
Remmelink Jan, 2003, Hukum Pidana, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Riwayat al-Tirmizi dalam Jami’at Tirmizi, no.Hadis 1454. Beliau berkata, Hadis Hassan gharib sahih.
Rusianto Agus, 2016, Tindak Pidana dan Pertanggung jawaban Pidana,Jakarta:
Kencana.https://books.googel.co.id/book?id=YphPDwAAQBAJ&printsec
=frontcoverdandq=saksi+pidan+dalam+sistem+hukum+di+indinesia+tenta ng+pemerkosaan&hl+id&sa=X&ved+2ahUKEwiorr_V9v4AhVBUnwKH ShcBrAQ6BAgIEAU#v=onepage&p&f=false.
R. Soesilo, 1995, Kitab Undang-Undang HukumPidana(KUHP) Serta Komentar- Komentarnya Lengkap PasalDami Pasal, Politeia: Bogor.
Saepul Rochman, Wardiono, Septarina Budiwati, Nuswardhani, 2018, Hukum Perdata, Sukarta: Muhammadiyah University Press.
Santoso Topo, 1997, Seksualitas dan Pidana, Jakarta: In Hill.
Said Muhammad Fachri, 2018, Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dalam Perspektif Hak Asasi Manusia, Cendekia Hukum, 1.
Setyawati Iwiek, 2000, Wanita dan Konflik Bersenjata. Dalam Achie Sudiarti Luhulima, Pemahaman Bsentuk-Bentuk Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan dan Alternatif Pemecahannya, Jakarta: PT. Alumni.
Sholehuddin, 2003, Penegakan Sistem Hukum Pidana Ditinjau dari Hukum Pidana Indonesia, serta menemukan Ide Dasar Double Track System dan Implementasiny, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sri Mamudji dan Soerjono Soekanto, 1983, Penelitian Hukum Normatif. Suatu Tinjauan singkat, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sugiyono, 2016, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&T, Alfabeta:
Bandung.
Suparjidno, 2004, Asuhan keperawatan Keluarga Aplikasi dalam Praktik, Jakarta:
Buku Kedokteran.
Sulaiman M. Munandar, 2010, Kekerasan terhadap Perempuan, Bandung: PT Refika Aditama.
Tjirosoedibio Subektidan, 1973, Definisi dalam Kamus Hukum, Jakarta: PT.
Pradnya Paramida.
Togat, 2003, Hukum Pidana Materiil, Malang: UUM Press.
Tim Penyusun, 2021, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, Jember: Kiai Haji Achmad Siddiq Jember Press.
Utrechet E,1959, Pengertian dalam Hukum Indonesia, Jakarta: Balai Buku Ichtiar.
Wahid Abdul dan Irfan Muhammad, 2011, Perlindungan Terhadap Korban Kekerasan Seksual(Advokasi atas hak Asasi Perempuan), Bandung:
Refika Aditama.
Witanto D.Y., 2012, Hak dan Kedudukan Anak Luarkawain, Jakarta: Kencana.
Sumber Skripsi :
Diva Reva Angara Harahap, 2019, Tinjauan Kriminologi Pencabulan yang Dilakukan Ayah Terhadap Anak Kandung (Studi di Polisi Sektor Delitua), (Medan: Universitas Muhammahdiyah Sumatera).
Diwi Yoga Bayu Sektiaji, 2020, Pelaksanaan Pidana Pelaku Perkosaan Terhadap Anak Kandung (Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Mungkid), (Majelang, UNI Muhammadiya).
Imanuel Sembiring, 2018, Tinjauan Yuridis Terhadap Tindak Pidana Ayah yang Memerkosa Anak Kandungnya Secara Berulang (Studi Putusan No:
92/PID./SUS/2013/PN.SLW), (Medan: Universitas Sumatra Utara).
Suci Dwi Damayanti, 2020, “Penerapan Sanksi Bagi Pelaku Pemerkosaan Saudara Kandung di Desa Pulau Kecamatan Muara Tembasi Kabupaten Batanghari di Tinjau Dari Hukum Pidana Islam”, (Jambi: UIN Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin).
Sumber Jurnal :
Adpnara Firman Floran, Prinsip Kebebasan Hakim dalam Memutus Perkara sebagi Amanah Konstitusi, (Jurnal Konstitusi, 17 juli, 2022).
Ashadi L.Diab, Peranan Hukum Sebagai Social Control, Social Engineering dan Social Welfare, Jurnal Al-‘Adl. Vol. 7 No. 2, Juli 2014, 53- 60.
https://ejurnal.iainkediri.ac.id/al-adl/article/view/219/209.
Bachtiar S. bachri, Meyakinkan Validitas Data Melalui Triangulasi pada Penelitian Kualitatif, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Lidah Watan, Temologi Pendidikan , vo. 10 No. 1, April 2010.
Wempi Jh. Kumendong , kemungkinan Penyidikan Delik Aduan Tanpa Penagduan, Jurnal Hukum Unstrat. Vol. 23/No.9/April/2017.
https://81298-ID-kemungkinan-penyidikan-delik-aduan-tanpa.pdf.
Sumber Perundang-undangan:
Indonesia, 2007, KUHAP dan KUHP, Jakarta: Sinar Grafika.
R. Soesilo, 1995, Kitab Udang-Undang Hukum Pidana (KUHP), (Bogor:
Politeia).
Sekretariat Negara RI, Undang-Undang Nomor.28 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.
Sekretariat Negara RI, Undang-Undang Nomor. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.
Sekretariat Negara RI, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.
Undang-Undang Nomor.3 Tahun 1997, Tentang Peradilan Anak.
Sumber Internet :
file:///C:/Users/Yup/Downloads/2463-Article%20Text-11068-1-10-20200926.pdf.
https://doktorhukum.com/alasan-diberatkannya-hukuman-pidana-seorang- terdakwa/, diakses pada tanggal 23 Desember 2021.
Kamus Besar Bahasa Indonesia https://kbbi.web.id/pemberataan.
(Diakses pada tanggal 21Juni 2022).
Kamus Besar Bahasa Indonesia https://kbbi.web.id/pelaku.
(Diakses pada tanggal 19 Juli 2022)
Hukum Pembe
ratan
sanksi terhadap pelaku pemerko saan keluarga kandung dalam putusan
pengadilan negeri Makassar Nomor:
1459/Pid/B/201 3/PN.Mks)
Penerapan pemberian putusan hukuman maksimal kepada pelaku pemerkosaan terhdap keluarga kandung sebagai bentuk keadilan dan efek jera untuk para pelaku dimasa mendatang
1. Pandangan keluarga korban terhadap tidak pidana pemerkosaan dalam putusan pengadilan negeri Makassar.
2. Prospek pemberatan bagi
pelaku pemerkosaan keluarga kandung.
1. Putusan Hakim Nomor:
1459/Pid/B/2013/PN.Mks.
2. Undang- Undang Hukum Pidana (KUHP)
3. Undang-Undang
Perlindungan Anak (UUPA) 4. Asas-asas Hukum Pidana
1. Penelitian Hukum yuridis normatif ; 2. Pendekatan Perundang-
Undangan (statute approach);
3. pendekatan kasus (Case Appoarch);
4. pendekatan konseptual (Comparative
Appoarch);
5. Teknik pengumpulan bahan hukum
menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research);
6. Teknik analisis bahan hukum menggunakan analisis deskriptif, komparatif, evaluasi, dan argumentasi terhadap bahan hukum yang didapatkan.
1. Apakah
Pertimbangan Hukum Hakim (Ratio
Decidendi) Pada Putusan Pengadilan Negeri Makassar Nomor:1459/Pid/B/2 013/PN.Mks Telah Sesuai Dengan Ketentuan Hukum Positif dan Prinsip Pidana Islam?
2. Apakah Pemberatan Sanksi Pidana dalam Tindak Pidana Pemerkosaan Anak Kandung dalam Perkara Pengadilan Negeri Makssar Nomor:
1459/Pid/B/2013/PN.
Mks Telah Sesuai Dengan Asas Keadilan?