• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemilihan Umum (General Election)

kepentingan kelompo-kelompok masyarakat, karena itu, DPRD dalam masyarakat majemuk betul-betul dalam posisi independen. Netralitas sebagai wakil rakyat didaerah sangat pentingan dan besar pengaruhnya dalam membangun dan merumuskan kebijakan yang lebih demokratis. DPRD sebagai simbol politik pemersatu masyarakat dalam dalam suatu wilayah hukum administratif yang menjunjung tinggi integritas persatuan dan kesatuan bangsa di tanah air.

wakil-wakil mereka diparlemen, termasuk para pimpinan pemerintahan.

Kepastian bahwa hasil pemilihan itu mencerminkan kehendak rakyat diberikan oleh seperangkat jaminan yang tercantum dalam peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pemilihan umum. Dengan demikian inti dari Pemilihan umum bahwa dengan demikian Rakyatlah yang berdaulat, yang memegang kekuasaan tertinggi dalam Negara untuk menentukan cara bagaimana ia harus diperintah dan memilih pemimpinnya yang lebih berjiwa demokratis. Karena pemilu adalah sebagai perwujudan partisipasi politik yang luas yang melibatkan beragam stratifikasi sosial tanpa adanya sekat-sekat diskriminatif, namun justru memberikan hak politik yang sama oleh semua warga negara. Oleh karena itu, pemilihan umum di suatu negara yang menganut sistem demokrasi adalah sesuatu keharusan dalam membangun kekuatan civil society, karena kedaulatan berada pada gemgaman rakyat. Dengan jalur pemilihan pemimpin baik secara kolektif maupun individual merupakan jalur formal mekanisme politik yang demokratis.

Lahirnya pemimpin melalui proses pemilihan umum berarti membangun seleksi pemimpin sebagai pilihan rakyat.

CETRO, menekankan setidaknya 7 kriteria dalam menilai sistem pemilihan umum yang obyektif:

1. Akuntabilitas (Accountability). Suatu sistem pemilu dapat menghasilkan akuntabilitas yang dapat diukur melalui tingkat ketanggapan pemerintah terhadap tuntutan publik dan kemampuan publik untuk mengakhiri suatu pemerintahan yang tidak akuntabel melalui pemilu.

2. Keterwakilan (Representativeness). Sistem pemilu dapat menghasilkan pemerintah yang secara luas mewakili kepentingan pemilih.

3. Keadilan (Fairness). Sistem pemilu dapat memperoleh kepercayaan tinggi dari para peserta pemilu dan pemilih bahwa proses pemilihan secara sistematis dan dalam pelaksanaannya tidak akan diskriminatif terhadap mereka. Hal ini akan meningkatkan dukungan terhadap hasil pemilihan umum.

4. Persamaan hak-hak untuk setiap pemilu. Suatu sistem pemilu dapat memberi bobot suara yang sama bagi setiap pemilih.

5. Menciptakan pemerintahan yang efektif dan akomodatif. Sistem pemilu dapat menghasilkan stabilitas dalam pemerintahan yang memungkinkan menajemen negara yang efektif. Sistem pemilihan juga diharapkan dapat mendukung konsultasi dan kompromi yang memadai antara kekuatan-kekuatan politik.

6. Perkembangan partai-partai dan perwakilan lokal yang amat kuat secara relatif. Sistem pemilihan dapat menghasilkan keseimbangan antara partai-partai politik dan besarnya kontrol yang dimiliki pemilih terhadap tindakan-tindakan mereka.

7. Sistem menyediakan akses melalui kesederhanaan dan refleksi pilihan warga negara yang relatif tepat. Sistem pemilu dapat memungkinkan pemilih untuk mengeskpresikan pilihan mereka secara akurat dengan cara yang cukup sederhana untuk dipahami oleh semua pemilih.

Reilly dan Reynolds mengelompokkan jenis-jenis pemilu dalam tiga kelompok besar yaitu: Pluralitas-mayoritas, Semi-proporsional, dan proporsional. Kemudian, dalam tiga kelompok besar ini, ada sepuluh ‘anak kelompok”, sebagai berikut:

Sistem Pluralitas-Mayoritas o First Past the Post (FPTP) o Block Vote (BV)

o Alternative Vote (AV), dan

o Sistem Dua Putaran, Two-Round System (TRS).

Sistem Semi Proporsional o Sistem Paralel

o Limited Vote (LV)

o Single Non-Transferable Vote (SNTV).

Sistem Proporsional

o Representasi Proporsional Daftar, RP Daftar, o Mixed Member Proportional (MMP), dan o Single Transferable Vote (STV)

Dalam sistem pemilu yang disajikan dibawah ini adalah Pemilu dengan Sistem Representasi Proporsional, Representasi Proporsional Daftar (List Proportional Representation) dan Sistem Semi – Proporsional (Pito dkk, 2006).

o Pemilu Dengan Sistem Representasi Proporsional. Sistem ini disebut juga sebagai sistem pemilihan multi-member constituency atau sistem perwakilan berimbang dengan menggunakan distrik-distrik wakil majemuk, jumlah wakil yang terpilih untuk suatu distrik ditentukan oleh presentase suara sah yang diraih oleh partai atau kandidat peserta pemilu dalam distrik tersebut. Sistem pemilihan proporsional adalah sistem pemilihan umum di mana kursi yang tersedia di parlemen pusat untuk diperebutkan dalam sutau pemilihan umum, dibagikan kepada partai-partai/ golongan-golongan politik yang turut dalam pemilihan tersebut sesuai dengan imbangan suara yang diperolehnya dalam pemilihan yang bersangkutan.

o Representasi Proporsional Daftar (List Proportional Representation).

Tujuan awal sistem proporsional respresentation, adalah untuk menghasilkan lembaga perwakilan di mana proporsi kursi-kursi yang

dimenangkan oleh tiap-tiap partai kurang lebih merefleksikan proporsi jumlah suara yang diperoleh tiap-tiap partai. Kandidat-kandidat dipilih dari distrik-distrik dengan wakil majemuk. Negara secara keseluruhan mungkin merupakan satu daerah pemilihan tempat para wakil dipilih, atau mungkin ada beberapa daerah pemilihan kabupaten/kota atau regional darimana para wakil dipilih. Semakin besar jumlah daerah pemilihan yang digunakan, semakin kecil kemungkinan komposisi lembaga perwakilan akan mencerminkan proporsi suara yang dimenangkan oleh tiap partai. Semua bentuk Representasi Proporsional memiliki karateristik umum sebagai berikut:

1. Partai memberikan daftar kandidat yang sama jumlahnya dengan kursi yang tersedia di daerah pemilihan.

2. Para pemilih untuk satu partai. Jumlah kursi yang diperoleh tiap-tiap partai ditentukan oleh dan secara langsung berkaitan dengan proporsi jumlah suara yang diperolehnya di daerah pemilihan yang bersangkutan.

3. Julah kursi yang diperoleh tiap-tiap partai dapat ditentukan dengan menggunakan rumus yang dapat berupa metode “sisa terbanyak” (largest remainder) atau metode “rata-rata tertinggi”

(highhest average). Setia cara yang berbeda dalam perhitungan suara ini menimbulkan hasil yang sedikit berbeda dalam hal jumlah wakil yang terpilih dari tiap-tiap partai politik.

4. Mungkin ada persyaratan yang harus dipenuhi partai (theresholds) agar dapat diikutsertakan dalam pembagian kursi misalnya, memperoleh presenates suara minimal tertentu.

Varian-varian Representasi Proporsional (RP) daftar dapat dibedakan berdasarkan pemilihan kandidat yang terpilih untuk mengisi kursi yang dimenangkan oleh tiap-tiap partai, yaitu:

1. Daftar tertutup: Kursi yang dimenangkan partai politik diisi dengan kandidat-kandidat sesuai dengan rangking mereka dalam daftar kandidat yang ditentukan oleh partai. Biasanya hanya nama partai yang dimunculkan dalam surat suara dalam sebuah distrik pemilihan jamak, meskipun urutan kandidat-kandidat dalam daftar partai biasanya diumumnkan dan biasanya tidak dapat diubah setelah tanggal nominasi ditentukan. Oleh karena itu, partai politik memiliki kekuasaan yang cukup besar dalam penentuan kandidat partai yang terpilih untuk mengisi kursi- kursi yang tersedia. Dalam hal ini para kandidat memiliki keterikatan tertentu dengan partai dan pimpinannya atau pada pra-pemilihan terikat pada pimpinan sayap partai yang bersangkutan.

2. Daftar terbuka: Pemilih memilih partai politik yang mereka sukai dan dalam partai politik tersebut, juga memilih kandidat yang mereka inginkan untuk mengisi kursi yang dimenangkan oleh partai tersebut. Biasanya, jumlah kandidat dalam daftar partai yang ditampilkan dalam surat suara adalah dua kali jumlah kursi yang tersedia. Dengan sistem ini ada kemungkinan untuk mengubah urutan daftar kandidat di dalam daftar calon. Para pemilih secara umum dapat memilih kandidat-kandidat dalam daftar suatu partai sebanyak kursi yang tersedia. Memilih kandidat dari partai-partai yang berbeda (ticket splitting) biasanya tidak diperbolehkan.

3. Daftar bebas: Setiap partai menentukan daftar kandidatnya, dengan partai dan kandidat ditampilkan terpisah dalam surat suara. Pemilih dapat memilih dari daftar partai sebagaimana adanya, atau mencoret atau mengulangi nama, membagi pilihan mereka di antara daftar-daftar partai atau memilih nama daftar manapun dengan membuat daftar mereka sendiri dalam sebuah surat suara kosong.

o Sistem Semi-Proporsional: Sistem semi proporsional merupakan sistem yang mengkonversi suara menjadi kursi dengan hasil yang berada di antara proporsionalitas sistem Perwakilan Proporsional dengan mayoritarian dari sistem mayoritas-pluralitas. Dalam sistem ini, partai politik yang tidak mendapat dukungan suara terbanyak masih dapat memperoleh perwakilan. Namun sistem ini tidak dirancang untuk memberikan alokasi perwakilan sesuai dengan presentase suara yang diperoleh partai politik seperti sistem Representasi Proporsional. Tiga macam sistem pemilu dalam kelompok ini yang digunakan untuk pemilihan para anggota legislatif adalah Single Non-Transferable Vote (SNTV), sistem Paralel (atau campuran), dan Limited Vote (LV).

Tabel 06

Sistem Pemilihan Umum Yang Digunakan Negara-Negara Jenis

Sistem

Sistem Distrik

Sistem Mayoritas

Sistem Semi- Proporsio nal

Sistem Proporsiona l

Sistem Campuran

Negara- negara yang menggu nakan

Banglades, Kanada, India, Jamaika, Malawi, Mongolia, Nepal,

Australia, Perancis, Mali, Singapura, Ekuador, Papua Nugini,

Yordania, Gibraltar, Spanyol, Libanon

Argentina, Austria, Belgia, Brasil, Bulgaria, Chili, Kolombia,

Bolivia, Jerman, Hongaria, Italia, Bolivia, Jepang, Lithuania,

Thailand, Inggris, AS

Afrika Tengah, Mesir

Kosta Rika, Republik Ceko, Denmark, Filandia, Yunani, Irlandia, Israel, Latvia, Madagaskar , Mozambik, Belanda, Norwegia, Indonesia

Meksiko, Selandia Baru, Panama, Filipina, Rusia, Korea Selatan, Taiwan, Ukraina, Venezuela.

Sumber: Toni Andrianus Pito dkk, 2006

Salah satu sistem pemilihan umum yang dipergunakan Indonesia dalam rekruitment politik secara kolektif (pemilihan legislatif) periode 2009 – 2014 adalah Representasi Proporsional Daftar Terbuka (RP Daftar Terbuka) yang menghasilkan elite politik lokal yang berkecimpung dalam dunia politik lokal, yaitu Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Seleksi politik lokal termasuk yang paling demokratis selama Indonesia Merdeka, dan salah satu buah dari pembaharuan politik yang selama kurang lebih 32 tahun dalam kungkungan sistem politik otoritarianisme rezim orde baru. Kali ini, pemilihan umum legislatif yang diikuti oleh banyak Partai Politik dengan persaingan ketat dalam perolehan suara baik ditingkat nasional maupun pada level lokal. Namun demikian, partai politik yang memiliki pengalaman segudang dalam politik praktis di era orde baru masih menempati peringkat teratas dan tak tertandingi oleh partai-partai baru lainnya.