• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemungutan Zakat …

Dalam dokumen TAFSIR AHKAM IBADAH (Halaman 137-141)

Terdapat perintah Allah SWT di dalam Al-Quran, agar Nabi SAW dan atau pemerintah memungut zakat dari para muzakki. Dalam konteks ini Allah SWT berfirman dalam surat al-Taubah ayat 103,

138

➔



⚫◆❑

⬧

➔⬧➔

⧫➔◆



◆

◼⧫



⬧❑◼

⬧

⚫

◆

☺

 .ميلاع

.

Aambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Asbab al-Nuzul Ayat

Ada riwayat mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan suatu kaum yang telah betobat. Mereka berpendapat bahwa untuk mengiringi tobat itu, mereka akan bersedekah. Sesuai dengan ayat ini Nabi SAW menyuruh mereka bersedekah.

Ibnu ‘Abbas mengatakan, Abu Lubabah dan sahabat-sahabatnya datang untuk bertobat dan menyerahkan harta mereka kepada Nabi SAW. Mereka berkata, “Ya Rasululah, ini harta kami, maka terimalah harta kami ini.” Lalu Nabi berkata, “Aku tidak disuruh mengambil harta kamu sedikit pun.” Kemudian Allah menurunkan ayat ini. Abu Lubabah adalah salah seorang yang menentang Nabi dari Bani Quraizah dan belakangan ikut memerangi Nabi pada Perang Tabuk. Ketika bertobat Dia berkata,

“Ya Rasulullah, Sesungguhnya sebagai bukti tobatku, aku menyerahkan semua hartaku dan aku tinggalkan kampung kaumku yang menyebabkan aku berdosa.” Nabi SAW berkata,” Cukuplah engkau serahkan sepertiga.” (Ibnu al-‘Arabi, II, 1988:

578).

Dalam ayat ini terdapat perintah Allah, agar Nabi memungut shadaqah (harta) dari orang-orang mukmin. ةـق دص مهلاوما نم ذـخ Menurut al-Qurthubi (VIII, t.t: 244), terdapat perbedaan penafsiran berkenaan dengan shadaqah yang dimaksud yang disuruh memungutnya. Ada yang mengatakan, maksudnya ialah shadaqah fardhu atau zakat. Ini adalah pendapat Juwaibir yang berasal dari pendapat Ibnu ‘Abbas. Ada pula yang berpendapat. Hal ini dikhususkan terhadap orang-orang diturunkan ayat ini. Nabi SAW mengambil sepertiga harta mereka. Ayat ini tidak ada kaitannya sedikit pun dengan zakat yang difardhukan. Oleh karena itu, Imam Malik mengatakan, Bila seseorang hendak menyedekahkan seluruh hartanya, cukup baginya mengeluarkan sepertiga hartanya. Karena Beliau berpegang dengan hadits Abu Lulabah. Dengan berpedoman kepada pendapat pertama ini, maka khithab ayat ini hanya ditujukan kepada Nabi SAW. Tidak boleh lagi bagi selain Beliau mengambil shadaqah. Hal ini menjadi gugur dengan kematian Beliau. Dan berdasarkan pendaat ini, menjadi patokan bagi orang-orang yang enggan membayar zakat untuk tidak membayar zakat pada masa Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq. Abu Bakar mengatakan, Demi Allah, Sungguh Aku benar-benar memerangi orang-orang yang membedakan kewajiban shalat dan zakat.

Ibnu al-‘Arabi (II, 1988: 576) mengatakan bahwa pendapat yang mrngatakan khithab ayat ini hanya ditujukan kepada Nabi SAW, tidak ada hubungannya dengan

139

selain Beliau adalah pendapat yang bodoh terhadap Al-Quran, lalai dari jalan syar’iat, mempermainkan agama, dan picik dalam pemikiran. Sesungguhnya khithab ayat-ayat Al-Quran tidak ditujukan kepada satu objek saja, tapi ke berbagai objek. Pertama, khithab yang ditujukan kepaada semua umat yang beriman seperti firman Allah Ta’ala dalam surat al-Maidah ayat 6, ةلاصلا ىلا متمق اذا اونمْا نيذلا اهي ْا اي (Wahai segala orang beriman, bila kamu sekalian hendak mendirikan shalat), dan seperti firman-Nya, اي

مكيلع بتك اونمْا نيذلا اهيْا ا

مايصل . (Wahai segala orang beriman, diwajibkan kepadamu

berpuasa. Q.S. 2: 183). Kedua, khithab yang ditujukan khusus kepada Nabi saja, tidak bersekutu dengan yang lain, baik di segi lafazh maupun di segi makna, seperti firman-Nya, كل ةلـفان هب دـجـهتـف ليلا نمو (Dan pada sebahagian malam bersembahyang tahajjudlah engkau, sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Q.S. 17: 79). Demikan juga firman Allh dalam surat al-Ahzaab ayat 50, نم ْوملا نو د نم كل ةصلاخ (Sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin). Maka kedua ayat ini semata-mata ditujukan kepda Nabi, tdak bersekutu dengan siapa pun pada kedua ayat ini, baik di segi lafazh maupun pada makna. Ketiga, khithab yang dikhususkan kepada Nabi secara makna dan pengaplikasiannya berserikat dengan umatnya, seperti firman Allah Ta’ala yaitu مشلا كولدـل ةلاصلا مـقْا (Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir.Q.S. 17: 78) Maka semuanya (baik Nabi maupun umatnya) dikhithab untuk mengerjakan shalat bila sudah tergelincir matahari. Begitu juga firman-Nya, للهاب ذـعتساف نْارقلا تْارـق اذاف (Apabila engkau membaca Al-Quran, hendaklah meminta perlindungan kepada Allah. Q.S. 16; 98). Maka semuanya (baik Nabi maupun ummatnya) di-khithab untuk ber-ta’awudz bila hendak membaca Al-Quran..

Dan firman-Nya, ةلاصلا مهل تمقْاف مهيف تنك اذاو (Dan apabila engkau berada di tengah- tengah mereka (sahabatmu) lalu engkau hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka. Q.S. 4: 102). Demikian juga semua orang takut melaksanakan shalat dikhithab melaksanakan shalat khauf. Demikian juga halnya dengan ayat sebelumnya, Firman Allah SWT, اهب مهيكزتو مهرهطـت ةـ قدص مهلاوما نم ذـخ ditujukan kepada Nabi dan umatnya. Sama juga halnya dengan firman Allah Ta’ala yang berbunyi قتا ىبنلا اهيْاي الله dan firman-Nya ءْاسنلا متقلط اذا ىبنلا اهي ْاي . Kedua ayat terakhir ini, walaupun yang dikhithab Nabi, tapi ditujukan pada Nabi beserta umatnya.

Dari keterangan tersebut dapat dipahami bahwa walaupun ayat 103 surat al- Taubah itu dalam bentuk mufrad, tapi instruksinya tidak saja ditujukan kepada Nabi SAW. Artinya, kewajiban memungut zakat dalam ayat ini bukan saja ditujukan kepada Nabi sebagai Rasul utusan Tuhan dan sebagai Kepala Negara bagi umatnya, tapi juga ditujukan kepada umatnya, dalam hal ini kepada Pemerintah yang sedang berkuasa.

Dalam konteks tersebut, Pemerintah Republik Indonesia membentuk lembaga BAZ (Badan Amil Zakat) untuk memungut dan menyaurkan zakat.

Al-Jashshash (III, 1993, 225-226) menjabarkan lebih lanjut mengenai orang yang diperintahkan Allah SWT untuk memungut zakat. Menurutnya, Firman Allah Ta’ala yang berbunyi ةقدص مهلاوما نم ذـخ menunjukkan bahwa tanggung jawab memungut zakat itu didelegasikan kepada Imam (Pemerintah). Bila seorang muzakki menyerahkan zakatnya secara langsung kepada orang-orang miskin, tidaklah memadai. Karena hak Imam adalah suatu keniscayaan untuk memungut zakat, tidak ada jalan untuk menggugurkannya. Dulu Nabi SAW mengangkat para pegawai pemungut zakat ternak dan menginstruksikan agar mereka memungutnya di lokasi.

140

Inilah makna yang dinyatakan Nabi kepada utusan suku Tsaqif, agar mereka jangan bersusah payah, artinya mereka tidak dibebani mengambil binatang ternak dari orang yang berzakat, tetapi orang yang berzakat itu yang akan menyerahkan zakatnya kepada mereka di tempat tinggal mereka. Demikian juga halnya berkenaan dengan zakat buah-buahan. Adapun zakat harta diserahkan kepada Rasululah, Abu Bakar,

‘Umar, dan Utsman. Kemudian Utsman pernah berpidato, Bulan ini adalah bulan kamu berzakat. Siapa di antara kamu berutang, bayarlah utangnya. Kemudian baru setelah itu ia mengeluarkan zakatnya dari harta yang tersisa. Maka Allah menetapkan mereka menyalurkannya kepada orang-orang miskin. Oleh karena itu, gugur hak Imam untuk memungut zakat harta, karena Imam telah mengadakan perjanjian dengan pegawai-pegawai yang adil. Maka merekalah yang akan meneruskannya kepada umat.

Selanjutnya al-Jashshash (III, 1993: 215-216) menjelaskan bahwa terdapat perbedaan pendapat tentang yang dimaksud dalam ayat tersebut, Apakah berkenaan dengan zakat fardhu atau kaffarat dari dosa yang ditimpakan kepada pelakunya?

Diriwayatkan dari al-Hasan bahwa ayat ini bukanlah berkaitan dengan zakat yang difardhukan, tapi sebagai kaffarat. Sedangkan yang lain berpendapat bahwa ayat ini berkaitan dengan zakat yang difardhukan. Pendapat yang benar adalah yang mengatakan ayat ini berkaitan dengan zakat yang difardhukan. Karena tidak mungkin ada ketentuan golongan tertentu ini saja yang diwajibkan Allah bersedekah (bayar kaffarat) dalam ayat ini. Dengan demikian, jelaslah bahwa semua manusia sama di mata hukum dan di segi ibadah, dan tidak ada kewajiban selain zakat yang difardhukan pada harta semua orang.

Dalam menanggapi perbedaan pendapat ini, penulis lebih cenderung kepada pendapat yang kedua yang menyatakan bahwa ayat مهيـكزـتو مـهرـهطـت ةـ قدص مهلاوما نم ذ ـخ

اهب

tidak saja ditujukan kepada Nabi, tapi juga sekaligus kepada umatnya. Artinya, tugas memungut zakat dari umat Islam ditujukan kepada Nabi SAW sehingga Belaiu mengangkat para amil zakat. Zakat merupakan pendapatan belanja Negara yang utama pada masa itu, di samping ghanimah, fa’, dan jizyah, yang kesemuanya disimpan di Baitulmal. Setelah Beliau meninggal, tugas ini diemban oleh para Khulafa’ al- Rasyidin.

Jadi, salah satu tugas Pemerintah ialah memungut zakat dari para muzakki, sebagaimana diisyaratkan ayat di atas. Di samping itu, terdapat prakteknya pada masa Nabi. Sewaktu mengangkat Mu’adz bin Jabal sebagai Gubernur di Yaman, salah satu tugas yang Beliau rekomendasikan kepadanya ialah untuk memungut zakat dari orang-orang kaya yang sudah menganut agama Islam. Dalam kontek ada riwayat mengatakan,

الله ىلص ىبنلا نْا ابـع نبا نـع اعم ثـعب ملسو هيـلع

ف نميـلا ىلا اذ ـ

كذ ـ حلا ر ـد : هيـفو ثي

فا دـق الله نا ـت

ـ دص مهيلع ضر ق

ـ ت مهلاوما ىف ة ْى اـيـنـغا نم ذـخ ْو ـ

.مهْىارـقـف ىف درـتـف مه

م ـت ـ ف ـ .هيلـع ق

Dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi SAW mengutus Mu’adz ke Yaman, maka dia menyebutkan suatu hadits, yaitu bahwa Allah sungguh telah mewajibkan zakat berkenaan dengan harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya

141

diserahkan kepada orang-orang miskin. Hadits ini disepakati al-Bukhari – Muslim.

Dalam dokumen TAFSIR AHKAM IBADAH (Halaman 137-141)