• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penanaman Nilai

Dalam dokumen penanaman nilai pendidikan karakter siswa (Halaman 44-49)

B. Kajian Teori

1. Penanaman Nilai

Penanaman merupakan proses (perbuatan atau cara) menanamkan.11 Dalam artian bagaimana usaha seorang guru dalam menanamkan nilai yakni dalam penelitian ini adalah nilai pendidikan karakter kepada peserta didik.

Thomas Lickona menyebutkan lima jenis pendekatan karakter diantaranya adalah (1) Pendekatan penanaman nilai (Incultion approach) (2) Pendekatan perkembangan moral kognitif (Cognitif moral development approach) (3) Pendekatan analisis nilai (Values analisis approach) (4) Pendekatan klarifikasi nilai (Values clarification approach) dan (5) pendekatan pembelajaran berbuat (Action learning approach). Salah satu pendekatan yang telah dsebutkan oleh Thomas Lickona adalah penanaman nilai atau juga bisa disebut dengan internalisasi nilai yakni penggabungan

11 WJS. Purwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia,(Jakarta : Balai Pustaka, 1984),

895

atau penyatuan sikap, standar tingkah laku, pendapat, dan seterusnya di dalam kepribadian, atau penyatuan nilai dalam diri seseorang, atau dalam bahasa psikologi merupakan penyesuaian keyakinan, nilai, sikap dan aturan-aturan baku pada diri seseorang.12 Dalam proses internalisasi atau penanaman nilai menurut Muhaimin, ada beberapa tahap diantaranya :13 1) Tahap transformasi nilai

Pada tahap ini guru sekedar menginformasikan nilai-nilai yang baik dan kurang baik pada siswanya, yang semata-mata merupakan komunikasi verbal, transformasi merupakan perpindahan atau pergeseran suatu hal ke arah yang lain atau baru tanpa mengubah struktur yang terkandung di dalamnya, meskipun dalam bentuk yang baru telah mengalami perubahan.14

2) Tahap Transaksi Nilai

Yakni suatu tahap pendidikan nilai dengan jalan melakukan komunikasi dua arah, atau interaksi antar siswa dengan guru yang bersifat interaksi timbal balik. Internaslisasi nilai tidak cukup diajarkan melalui pembelajaran saja, akan tetapi bisa diajarkan melalui pembiasaan-pembiasaan yang diterapkan dilembaga

3) Tahap Transinternalisasi

Yakni tahap ini jauh lebih dalam dari pada transaksi. Ditahap ini bukan hanya dilakukan komunikasi verbal lagi tetapi sudah

12 Gunawan, Islam Nusantara dan Kepesantrenan (Yogyakarta: Interpena, 2016), 177

13 Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah (Bandung: Rosda Karya, 2008), 301

14 Yunus Rasyid, Nilai-nilai Kearifan Lokal (Local Genius) Sebagai Penguat Karakter Bangsa (Yogyakarta: Deepublish, 2014), 15

berkaitan dengan sikap mental dan kepribadian yang berperan secara aktif. Dengan demikian hal yang perlu dilakukan untuk menetralisir adanya kecendrungan siswa untuk meniru apa yang menjadi sikap mental dan kepribadian dari seorang guru.15

Sedangkan nilai Nilai berasal dari bahasa latin vale‟re yang artinya berguna, mampu akan berdaya, berlaku, sehingga nilai diartikan sebagai sesuatu yang dipandang baik, bermanfaat dan paling benar menurut keyakinan seseorang atau sekelompok orang.16

Nilai sebagai sesuatu yang abstrak menurut Raths, mempunyai sejumlah indikator yang dapat kita cermati, yaitu:

1) Nilai memberi tujuan atau arah (goals or purposes) kemana kehidupan harus menuju, harus dikembangkan atau harus diarahkan.

2) Nilai memberikan aspirasi (aspirations) atau inspirasi kepada seseorang untuk hal yang berguna, yang baik, yang positif bagi kehidupan

3) Nilai mengarahkan seseorang untuk bertingkah laku (attitudes), atau bersikap sesuai dengan moralitas masyarakat, jadi nilai itu memberi acuan atau pedoman bagaimana seharusnya seseorang harus bertingkah laku.

4) Nilai itu menarik (interests), memikat hati seseorang untuk dipikirkan, untuk direnungkan, untuk dimiliki, untuk diperjuangkan dan untuk dihayati.

15 Muhaimin, Strategi Belajar Mengajar (Surabaya: Citra Media, 1996), 153

16 Sutarjo Adisusilo, Pembelajaran Nilai- Karakter: Kontruktivisme dan VCT Sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2010), 56

5) Nilai mengusik perasaan (feelings), hati nurani seseorang ketika sedang mengalami berbagai perasaan atau suasana hati, seperti senang, sedih, tertekan, bergembira, bersemangat dan lain – lain.

6) Nilai terkait dengan keyakinan atau kepercayaan (beliefs and convictions) seseorang, suatu kepercayaan atau keyakinan terkait dengan nilai – nilai tertentu.

7) Suatu nilai menuntut adanya aktivitas (activities), perbuatan atau tingkah laku tertentu sesuai dengan nilai tersebut, jadi nilai tidak berhenti pada pemikiran, tetapi mendorong atau menimbulkan niat untuk melakukan sesuatu sesuai dengan nilai tersebut.

8) Nilai biasanya muncul dalam kesadaran, hati nurani atau pikiran seseorang ketika yang bersangkutan dalam situasi kebingungan, mengalami dilema atau menghadapi berbagai persoalan hidup (worries, problems, obstacles).

Penanaman nilai pada para siswa membutuhkan metode dalam menyampaikan sehingga para siswa dapat menerapkan dalam kehidupannya. Beberapa metode pendidikan menurut Abdurrahman An Nahlawi sebagaimana dikutip oleh Heri Gunawan yang dapat dijadikan metode dalam penanaman nilai diantaranya yaitu :

1) Metode Uswah atau keteladanan, merupakan metode yang lebih efektif dan efisien, karena siswa pada umumnya cenderung meniru gurunya, metode ini sangat efektif untuk menanamkan nilai, disini guru menjadi panutan utama bagi murid-muridnya dalam segala hal.

Misalnya kasih sayang, senyum ceria, lemah lembut dalam berbicara, disiplin beribadah, dan tentunya bertingkah laku yang baik. Metode ini sangat efektif untuk diterapkan dalam menanamkan nilai pada peserta didik karena tanpa guru yang memberi contoh, tujuan pengajaran akan sulit tercapai.

2) Metode Hiwar atau percakapan, adalah percakapan silih berganti antara dua pihak atau lebih melalui tanya jawab mengenai suatu topik, dan dengan sengaja diarahkan kepada satu tujuan yang dikehendaki 3) Metode Qishah atau cerita, dalam penanaman nilai di sekolah, kisah

sebagai pendukung pelaksanaan penanaman nilai yang sangat penting karena dalam kisah terdapat keteladanan dan edukasi.

4) Metode Amtsal atau perumpamaan, yakni cara penggunaan metode ini dengan ceramah atau membaca teks.

5) Metode pembiasaan, adalah sesuatu yang sengaja dilakukan secara berulang-ulang agar sesuatu itu dapat menjadi kebiasaan. Metode pembiasaan berintikan pengalaman karena yang dibiasakan adalah sesuatu yang diamalkan

6) Metode „Ibrah atau Mau‟idzah. „Ibrah berarti suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia ke intisari sesuatu yang disaksikan, dihadapi dengan nalar dan menyebabkan hati mengakuinya.

Mau‟idzah adalah nasihat yang lembut yang diterima oleh hati dengan cara menjelaskan pahala atau ancaman.

7) Metode Targhib dan Tarhib atau janji dan ancaman. Targhib adalah janji terhadap kesenangan, kenikmatan akhirat yang disertai dengan bujukan. Sedangkan Tarhib adalah ancaman karena dosa yang dilakukan. metode ini bertujuan agar orang mematuhi peraturan Allah.17

Dalam dokumen penanaman nilai pendidikan karakter siswa (Halaman 44-49)