• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 H IPERTENSI

2.1.7 Penatalaksanaan Hipertensi

Menurut Update Konsensus Persatuan Hipertensi tahun 2019, Penatalaksanaan hipertensi dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu sebagai berikut:

A. Terapi Nonfarmakologi

Terapi nonfarmakologi dilkakukan dengan beberapa cara, yaitu:

1) Intervensi Pola Hidup

Pola hidup sehat telah terbukti menurunkan tekanan darah yaitu pembatasan konsumsi garam dan alkohol, peningkatan konsumsi sayuran dan buah, penurunan berat badan dan menjaga berat badan ideal, aktivitas fisik teratur, serta menghindari rokok.

2) Pembatasan Konsumsi Garam

Konsumsi garam berlebih terbukti meningkatkan tekanan darah dan meningkatkan prevalensi hipertensi. Rekomendasi penggunaan natrium (Na) sebaiknya tidak lebih dari 2 gram/hari (setara dengan 5-6gram NaCl perhari atau 1 sendok teh garam dapur). Sebaiknya menghindari makanan dengan kandungan tinggi garam.

3) Perubahan Pola Makan

Pasien hipertensi disarankan untuk konsumsi makanan seimbang yang mengandung sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan segar, produk susu rendah lemak, gandum, ikan, dan asam lemak tak jenuh (terutama minyak zaitun), serta membatasi asupan daging merah dan asam lemak jenuh.

4) Penurunan Berat Badan Dan Menjaga Berat Badan Ideal

Terdapat peningkatan prevalensi obesitas dewasa di Indonesia dari 14,8%

berdasarkan data Riskesdas 2013, menjadi 21,8% dari data Riskesdas 2018.

Tujuan pengendalian berat badan adalah mencegah obesitas (IMT >25 kg/m2), dan menargetkan berat badan ideal (IMT 18,5 – 22,9 kg/ m2) dengan lingkar pinggang.

5) Olahraga Teratur

Olahraga aerobik teratur bermanfaat untuk pencegahan dan pengobatan hipertensi, sekaligus menurunkan risiko dan mortalitas kardiovaskular. Olahraga teratur dengan intensitas dan durasi ringan memiliki efek penurunan TD lebih kecil dibandingkan dengan latihan intensitas sedang atau tinggi, sehingga pasien hipertensi disarankan untuk berolahraga setidaknya 30 menit latihan aerobik dinamik berintensitas sedang (seperti: berjalan, joging, bersepeda, atau berenang) 5-7 hari per minggu.

6) Berhenti Merokok

Merokok merupakan faktor risiko vaskular dan kanker, sehingga status merokok harus ditanyakan pada setiap kunjungan pasien dan penderita hipertensi yang merokok harus diedukasi untuk berhenti merokok.

B. Terapi Farmakologi

Terapi farmakologis Ada 9 kelas obat antihipertensi. Diuretik, Beta Blocker, Inhibitor Angiotensin Converting Enzyme (ACEI), Angiotensin Receptor Blockers (ARB), dan antagonis kalsium dianggap sebagai obat antihipertensi utama. Obat-obatan ini, baik sendiri atau dalam kombinasi, harus digunakan untuk mengobati sebagian besar pasien dengan hipertensi karena bukti yang menunjukkan keuntungan dengan kelas obat ini. Strategi pengobatan yang dianjurkan pada panduan penatalaksanaan hipertensi saat ini adalah dengan menggunakan terapi obat kombinasi pada sebagian besar pasien, untuk mencapai tekanan darah sesuai target. Bila tersedia luas dan memungkinkan, maka dapat diberikan dalam bentuk pil tunggal berkombinasi (single pill combination), dengan tujuan untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan.

1) Golongan diuretik

Golongan diuretik bekerja dengan cara menurunkan tekanan darah yang menyebabkan diuresis mengakibatkan turunnya volume plasma. Diuretik yang sering digunakan untuk pasien hipertensi adalah diuretik thiazid (Dipiro, et al., 2008). Obat diuretik dibagi menjadi 3 golongan yaitu diuretik thiazid, diuretik loop, dan diuretik hemat kalium. Diuretik thiazid bekerja dengan cara menghambat transport bersama (symport) NaCl di tubulus ginjal menyebabkan ekskresi Na+ dan Cl- meningkat (Florensia, 2016). Diuretik lengkung bekerja dengan cara menghambat reabsorpsi elektrolit di lengkung henle assendens pada bagian permukaan sel epitel tebal, di permukan sel bagian luminal menyebabkan ekskresi K+, Ca2+, dan Mg2+ meningkat (Yulanda, 2017). Diuretik hemat Kalium bekerja dengan cara menghambat reseptor mineralokortikoid dan influks natrium

melalui kanal ion pada membran lumen di tubulus distal akhir dan duktus kolektivus (Hendarti, 2016).

2) Golongan β-bloker

Beta bloker (β-blocker) merupakan obat pilihan pertama dalam tatalaksana hipertensi pada pasien dengan penyakit jantung koroner terutama yang menyebabkan timbulnya gejala angina. Obat golongan ini akan bekerja mengurangi iskemia dan angina karena efek utamanya sebagai inotropik dan kronotropik negatif. Dengan menurunnya frekuensi denyut jantung maka waktu pengisian diastolik untuk perfusi koroner akan memanjang. β-blocker juga menghambat pelepasan renin di ginjal yang akan menghambat terjadinya gagal jantung. β-blocker kardioselektif (β1) lebih banyak direkomendasikan karena tidak memiliki aktifitas simpatomimetik intrinsik (PERKI, 2015).

3) Golongan Angiotensin Converting Enzym (ACE) Inhibitor

ACE Inhibitor merupakan pilihan obat lini pertama yang bekerja dengan memblok konversi angiotensin I menjadi angiotensin II. Dimana angiotensin II ini merupakan suatu zat vasokonstriktor kuat yang selanjutnya dapat menstimulasi sekresi aldoseteron. ACE inhibitor juga menghambat degradasi bradikinin (Dipiro, et al., 2008).

4) Golongan Calcium Channel Blocker (CCB)

Mekanisme Calcium Channel Blocker (CCB) dalam menurunkan tekanan darah yaitu dengan menyebabkan relaksasi otot jantung dengan cara menghambat Kalsium masuk di pembuluh darah dimana Kalsium ini dibutuhkan untuk kontraksi otot. Pada otot polos, ketika kanal Kalsium tersebut dihambat maka akan menyebabkan penurunan influks Kalsium sehingga menghasilkan tonus

melemah dan terjadi relaksasi pada otot polos vaskular. Relaksasi ini adalah bentuk dari terjadinya vasodilatasi, sehingga tekanan darah dapat menurun (Hendarti, 2016).

Golongan CCB ini dibagi menjadi 2 jenis yaitu dihidropiridin dan non- dihidropiridin. Golongan dihidropiridin bersifat vaskuloselektif. Artinya golongan dihidropiridin ini bekerja dengan menginhibisi kanal Kalsium pada otot polos vaskular dibandingkan dengan otot jantung. Sehingga obat ini lebih banyak digunakan untuk terapi hipertensi.

5) Golongan Angiostensin II Reseptor Blocker

Efek Angiotensin II Reseptor Blocker (ARB) hampir sama dengan ACE inhibitor, hanya saja berbeda pada mekanisme kerjanya, dosis, dan efek samping yang ditimbulkan. ARB bekerja dengan cara memblok reseptor angiotensin tipe 1 (AT1) dimana reseptor ini dapat menyebabkan vasokontriksi, pelepasan aldosteron, aktivasi simpatetik, pelepasan hormon antidiuretik, dan kontriksi arteriol eferen dari glomerulus (Dipiro, et al., 2008).

Efek yang ditimbulkan akibat inhibisi reseptor AT1 ini berupa vasodilatasi, penurunan retensi natrium, dan peningkatan Kalium darah. ARB tidak seperti ACE inhibitor yang menghambat enzim pengubah angiotensin sehingga tidak terjadi inhibisi degdradasi bradikinin dan bradikinin tetap menjadi metabolit inaktif. Hal inilah yang menyebabkan ARB tidak menimbulkan efek samping batuk kering seperti ACE inhibitor (Hendarti, 2016).

6) Golongan Sentral α2 Reseptor Agonis

Klonidin dan metildopa merupakan contoh obat dari golongan ini. Obat dari golongan ini menurunkan aliran simpatetik dari pusat vasomotor di otak dan

meningkatkan tonus vagal. Penurunan aktivitas simpatetik, bersamaan dengan meningkatnya aktivitas parasimpatetik, dapat menurunkan denyut jantung, cardiac output, total peripheral resistance, aktivitas palsma renin, dan refleks baroreseptor. Klonidin sering digunakan untuk hipertensi yang resisten, sedangkan metildopa adalah obat lini pertama untuk hipertensi pada kehamilan (Depkes, 2006).

7) Golongan 𝜶1 Blocker

Golongan ini bekerja pada pembuluh darah perifer dan menghambat pengambilan katekolamin pada sel otot halus, menyebabkan vasodilatasi sehingga dapat menurunkan tekanan darah. Contoh obat dari golongan ini yaitu prazosin, terazosin, dan doxazosin. Obat ini memblok reseptor post sinaptik α1 adrenergik di tempat kapsul prostat, menyebabkan relaksasi dan berkurang hambatan keluarnya aliran urin (Depkes RI, 2006).

8) Golongan Vasodilator

Hidralazin dan minoksidil adalah contoh obat dari golongan vasodilator arteri langsung. Obat golongan ini bekerja dengan merelaksasi langsung otot polos arteriolar, namun tidak menyebabkan vasodilatasi pada pembuluh darah vena. Kedua obat ini juga menyebabkan penurunan tekanan perfusi yang kuat dimana akan mengaktifkan refleks baroreseptor (Depkes RI, 2006).

Dokumen terkait