• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penatalaksanaan

Dalam dokumen NO Aspek Yang Dinilai 1 (Halaman 30-35)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Konsep Medis

2.2.8 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan Hipertensi menurut Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI (2014) dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1) Menggunakan obat-obatan, seperti amlodipine dan captopril. untuk pemilihan obat, dosis obat, frekuensi minum obat serta penggunaan obat- obatan Hipertensi disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter keluarga anda.

2) Memodifikasi gaya hidup dapat dilakukan seperti membatasi jumlah asupan garam tidak lebih dari seperempat sampai setengah sendok teh atau setara dengan 6 gram/hari, menurunkan berat badan (bagi yang mengalami obesitas), menghindari minuman berkafein, merokok, minum minuman

beralkohol, dan pada penderita Hipertensi juga disarankan untuk melakukan olahraga seperti jalan, lari, jogging, bersepeda santai selama 20-25 menit dengan freuensi 3-5x/minggu. Dan juga disarankan untuk istirahat cukup sekitar 6-8 jam/hari serta dapat mengendalikan stress.

Ada beberapa makanan yang harus dihindari oleh penderita Hipertensi seperti berikut:

1) Makanan yang berkadar lemak jenuh tinggi seperti otak, minyak kelapa, gajih/lemak.

2) Makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium seperti biskuit, crackers, keripik dan makanan kering yang asin.

3) Makanan dan minuman dalam kaleng seperti sarden, sosis, kornet, soft drink, sayuran serta buah-buahan dalam kaleng,

4) Makanan yang diawetkan seperti dendeng, asinan sayur/buah, abon, ikan asin, pindang, udang kering, telur asin, selai kacang.

5) Susu full cream, mentega, margarine, keju mayonnaise, serta sumber protein hewani yang tinggi kolesterol seperti daging merah (sapi/kambing), kuning telur, kulit ayam).

6) Bumbu-bumbu seperti kecap, maggi, terasi, saus tomat, saus sambal, tauco serta bumbu penyedap lain yang pada umumnya mengandunggaram natrium. Alkohol dan makanan yang mengandung alkohol seperti durian, tape.

2.2.9 Pelaksanaan Keperawatan Gerontik di Panti Sosial Tresna Werdha

Cara Mempertahankan Kemampuan Aktifitas Sehari-hari Pada Lansia meliputi :

1) Exercise Atau Olahraga Bagi Lansia Sebagai Individu Atau Kelompok Aktifitas fisik adalah gerakan tubuh yang membutuhkan energi; seperti berjalan, mencuci, menyapu dan sebagainya. Olah raga adalah aktifitas fisik yang terencana dan terstruktur, melibatkan gerakan tubuh berulang yang bertujuan untuk meningkatkan kebugaran jasmani.

Latihan senam aerobik adalah olah raga yang membuat jantung dan paru bekerja lebih keras untuk memenuhi peningkatan kebutuhan oksigen. Contoh:

berjalan, berenang, bersepeda atau senam, dilakukan sekurang-kurangnya 30 menit dengan intensitas sedang, dilakukan 5 kali dalam seminggu, 20 menit dengan intensitas tinggi dilakukan 3 kali dalam seminggu, kombinasi 20 menit intensitas tinggi dalam 2 hari dan 20 menit intensitas sedang dalam 2 hari.

Latihan penguatan otot adalah aktifitas yang memperkuat dan menyokong otot dan jaringan ikat. Latihan dirancang supaya otot mampu membentuk kekuatan untuk menggerakkan dan menahan beban seperti aktivitas yang melawan gravitasi (gerakan berdiri dari kursi, ditahan beberapa detik dan

dilakukan berulang-ulang). Penguatan otot dilakukan 2 hari dalam seminggu dengan istirahat untuk masing-masing sesi dan untuk masing-masing kekuatan otot.

Fleksibilitas dan latihan keseimbangan adalah aktifitas untuk membantu mempertahankan rentang gerak sendi (ROM) yang diperlukan untuk melakukan aktifitas fisik dan tugas sehari-hari secara teratur.

Manfaat Olahraga :

(1) Meningkatkan kekuatan jantung sehingga sirkulasi darah meningkat.

(2) Menurunkan tekanan darah.

(3) Meningkatkan keseimbangan dan koordinasi.

(4) Mencegah jatuh & Fraktur.

(5) Memperkuat sistem imunitas.

(6) Meningkatkan endorphin zat kimia di otak menurunkan nyeri sehingga perasaan tenang & semangat hidup meningkat.

(7) Mencegah obesitas.

(8) Mengurangi kecemasan dan depresi.

(9) Kepercayaan diri lebih tinggi.

(10) Menurunkan risiko terjadinya penyakit kencing manis, Hipertensi dan jantung.

(11) Memfasilitasi pemenuhan kebutuhan tidur.

(12) Mengurangi konstipasi.

(13) Meningkatkan kekuatan tulang, otot dan fleksibilitas.

2) Terapi Aktifitas Kelompok

Terapi aktifitas pada lansia sebagai individu/kelompok dengan indikasi tertentu. Terapi aktifitas kelompok (TAK) merupakan terapi yang dilakukan oleh kelompok bersama-sama dan berdiskusi satu sama lain yang dipimpin atau diarahkan oleh seorang terapis.

Tujuan dari Terapi Aktifitas Kelompok : (1) Mengembangkan stimulasi persepsi.

(2) Mengembangkan stimulasi sensoris.

(3) Mengembangkan orientasi realitas.

(4) Mengembangkan sosialisasi.

Jenis Terapi Aktifitas Kelompok Pada Lansia meliputi : (1) Stimulasi Sensori (Musik)

Musik dapat berfungsi sebagai ungkapan perhatian, kualitas dari musik yang memiliki andil terhadap fungsi-fungsi dalam pengungkapan perhatian terletak pada struktur dan urutan matematis yang dimiliki. Lansia dilatih dengan mendengarkan musik terutama musik yang disenangi.

(2) Stimulasi Persepsi

Klien dilatih mempersepsikan stimulus yang disediakan atau stimulus yang pernah dialami. Proses ini diharapkan mengembangkan respon lansia terhadap berbagai stimulus dalam kehidupan dan menjadi adaptif. Aktifitas berupa stimulus dan persepsi. Stimulus yang disediakan: seperti membaca majalah, menonton acara televisi. Stimulus dari pengalaman masa lalu yang

menghasilkan proses persepsi lansia yang mal adaptif atau destruktif, misalnya kemarahan dan kebencian.

(3) Orientasi Realitas

Lansia diorientasikan pada kenyataan yang ada disekitar klien, yaitu diri sendiri, orang lain yang ada disekeliling klien atau orang yang dekat dengan klien, dan lingkungan yang pernah mempunyai hubungan dengan klien.

Demikian pula dengan orientasi waktu saat ini, waktu yang lalu, dan rencana ke depan. Aktifitasnya dapat berupa : orientasi orang, waktu, tempat, benda yang ada disekitar dan semua kondisi nyata.

(4) Sosialisasi

Klien dibantu untuk melakukan sosialisasi dengan individu yang ada disekitar klien. Sosialisasi dapat pula dilakukan secara bertahap dari interpersonal (satu per satu), kelompok, dan massa. Aktifitas dapat berupa latihan sosialisasi dalam kelompok.

2.3Konsep Asuhan Keperawatan Pada Lansia Dengan Hipertensi 2.3.1. Pengkajian Keperawatan

Pengkajian keperawatan adalah catatan tentang hasil pengumpulan data yang didapat dari klien untuk mendapatkan informasi, membuat data tentang klien dan catatan tentang kesehatan klien. Pengkajian yang komprehensif akan membantu dalam identifikasi masalah-masalah yang dialami klien (Dinarti dan Mulyanti, 2017).

1) Identitas atau Biodata

Untuk mengetahui identitas klien, yang biasanya meliputi, nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, staus perkawinan, pendidikan terakhir, pekerjaan sebelumnya, alamat sebelum masuk panti, tanggal masuk panti, alasan asuk panti, tanggal pengkajian, riwayat penyakit pasien, riwayat, genogram, riwayat lingkungan hidup, riwayat rekreasi, status kesehatan saat ini, wisma, kamar dan nama penanggung jawab.

2) Riwayat Masuk Panti

Alasan masuk panti : Menjelaskan cerita atau alasan bagaimana proses klien sampai berada dan bertempat tinggal dipanti.

3) Riwayat Keluarga

Menggambarkan tentang silsilah keluarga (nenek, kakek, ibu, ayah,orang tua, saudara kandung, pasangan dan anak), biasanya digambarkan sampai tiga generasi.

4) Riwayat Pekerjaan

Menjelaskan tentang pekerjaan sebelum masuk wisma, pekerjaan saat ini dan sumber-sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup klien.

5) Riwayat Lingkup Hidup.

Menggambarkan lingkungan hidup klien seperti tipe tempat tinggal, jumlah kamar, jumlah orang yang tinggal dengan klien, nomor telepon dan alamat.

6) Riwayat Rekreasi

Menjelaskan hobby klien, keaktifan dalam organisasi dan pengisian waktu luang.

7) Sumber/Sistem Pendukung

Meliputi perawat, klinik, farmasi dan dokter.

8) Deskripsi harian khusus kebiasan ritual tidur.

Biasanya menjelaskan kegiatan yang membuat klien nyaman yang dilakukan klien sebelum tidur.

9) Status kesehatan saat ini

Menjelaskan tentang status kesehatan satu tahun yang lalu, status kesehatan lima tahun yang lalu dan keluhan-keluhan yang dirasakan hingga saat ini serta mengetahui cara mengatasi keluhan tersebut.

(1) Obat-obatan

Menjelaskan obat apa saja yang dikonsumsi klien, dosis, cara penggunaan, siapa yang meresepkan dan tanggal pemberian resep.

(2) Status imunisasi

Menjelaskan status imunisasi klien dari bayi hingga saat ini.

(3) Nutrisi

Menjelaskan tentang jenis makanan yang dimakan, apakah adanya alergi makanan, makanan apa yang dianjurkan, makanan apa yang dilarang dan jenis makanan yang harus dibatasi oleh klien, serta apakah terjadi peningkatan berat badan atau penurunan berat badan.

10)Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik adalah suatu proses memeriksa tubuh dan fungsinya, dari ujung kepala sampai ujung kaki (head to toe), untuk menemukan adanya

tanda-tanda dari suatu penyakit. Pemeriksaan fisik biasanya menggunakan teknik seperti inspeksi (melihat), auskultasi (mendengar), palpasi (meraba) dan perkusi (mengetuk).

Pada pemeriksaan kepala dan leher meliputi bentuk kepala, kulit kepala, tulang kepala, jenis rambut, warna rambut, pola penyebaran rambut, kelainan, struktur wajah, warna kulut. Kemudian pemeriksaan ada mata meliputi kelengkapan dan kesimetrisan, kelopak mata/palpebral, kornea mata, konjungtiva dan sclera, pupil dan iris, ketajanan penglihatan/ visus, tekanan bola mata dan kelainan yang ada pada mata.

Kemudian pada hidung meliputi cuping hidung, lubang hidung, tulang hidung dan septum nasi. Pada telinga meliputi bentuk telinga, ukuran telinga, ketegangan telinga, lubang telinga, ketajaman.

Pada mulut dan faring meliputi keadaan bibir, keadaan gusi dan gigi, keadaan lidah, palatum atau langit-langit dan orofaring. Kemudian pada leher meliputi posisi trakea, tiroid, suara, kelenjar lympe, vena jugularis dan denyut nadi karotis.

Pemeriksaan payudara dan ketiak meliputi ukuran dan bentuk payudara, warna payudara dan aerola, axilla dan klavikula serta kelainan-kelainan lainnya pada ketiak dan payudara. Pemeriksaan thotaks/dada/tulang belakang meliputi inspeksi (bentuk thoraks dan penggunaan otot bantu pernafasan), palpasi (vocal premitus), perkusi dada dan auskultasi (suara nafas, suara ucapan dan suara nafas tambahan).

Pemeriksaan jantung meliputi inspeksi dan palpasi jantung, perkusi batas jantung (basic jantung, pinggang jantung, apeks jantung). Auskultasi pada jantung ( bunyi jantung 1, bunti janutng 2, bunyi jantung tambahan, bising/murmur dan frekuensi bunyi jantung).

Pemeriksaan abdomen saat inspeksi meliputi bentuk abdomen, benjolan/massa, dan bayangan pembuluh darah. Saat auskultasi adalah mendengarkan bising atau peristaltik usus. Saat palpasi meliputi nyeri tekan, benjolan/massa, pembesaran hepar, lien dan titik Mc. Burney. Saat perkusi meliputi suara abdomen dan pemeriksaan asites abdomen.

Pemeriksaan kelamin dan sekitarnya pada anus dan perineum meliputi pubis, meatus uretra dan kelainan lainnya. Sedangkan pada anus dan perineum meliputi lubang anus, kelainan pada anus dan keadaan perineum.

Pemeriksaan muskuluskeletal meliputi kesimetrisan otot, pemeriksaan oedema, kekuatan otot dan kelainan punggung dan ekstremitas serta kuku.

Pemeriksaan integuman meliputi kebersihan, kehangatan, tekstur, warna, turgor, kelembapan dan kelainan pada kulit/lesi. Pemeriksaan nerologis meliputi tingkat kesadaran atau GCS, dan tanda rangsangan otak atau meningeal sign. Kemudian pemeriksaan syaraf otak (N1-NXII), fungsi motoric, fungsi sensorik, dan reflex baik fisiologis maupun patologis.

2.3.2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinis sebagai akibat dari masalah kesehatan yang sudah terjadi maupun yang masih beresiko. Diagnosa keperawatan sejalan dengan diagnosa medis, sebab dalam mengumpulkan data, yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosa keperawatan ditinjau dari keadaan penyakit dalam diagnosa medis (Dinarti dan Mulyanti, 2017).

Diagnosa yang mungkin muncul pada penderita Hipertensi menurut Nanda Nic-Noc (2015) yang telah dimodifikasi dengan SDKI (2016) meliputi : 1) Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis. (D0077) 2) Gangguan pola tidur berhubungan dengan kurangnya kontrol tidur.

(D0055)

3) Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan. (D0056) 4) Resiko jatuh dibuktikan dengan usia >65 tahun. (D0143)

5) Defisit pengetahuan tentang Hipertensi berhubungan dengan ketidaktahuan menemukan sumber informasi. (D0111)

6) Ansietas berhubungan dengan kurang terpapar informasi. (D0080)

2.3.3. Rencana Keperawatan

Perencanaan keperawatan adalah suatu rangkaian kegiatan penentuan langkah-langkah pemecahan masalah dan prioritasnya, perumusan tujuan, rencana tindakan dan penilaian asuhan keperawatan pada klien berdasarkan analisis data dan diagnosa keperawatan (Dinarti dan Mulyanti, 2017).

Tabel 2.2 Sumber Intervensi Buku Nanda Nic-Noc 2015

Diagnosa

keperawatan Kriteria hasil Intervensi keperawatan Nyeri akut

berhubungan dengan agen pencedera fisiologis.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nyeri teratasi dengan kriteria hasil :

1. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan teknik non farmakologi untuk mengurangi nyeri dan mencari bantuan).

2. Melaporkan bahwa nyeri

berkurang dengan

menggunakan managemen nyeri.

3. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri).

4. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang.

5. Tanda-tanda vital dalam rentang normal. TD 120/80, nadi 60-100x/menit, Perafasan 16-24x/menit dan suhu 36,5-37,5OC.

1.1Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri klien.

1.2Lakukan pengkajian

nyeri secara

komprehensif

termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan factor presipitasi.

1.3Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan.

1.4Kontrol lingkungan

yang dapat

mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan.

1.5Ajarkan teknik non farmakologi.

1.6Kolaborasikan untuk pemberian obat analgetik.

Gangguan pola tidur

berhubungan dengan kurangnya kontrol tidur

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan Gangguan pola tidur teratasi dengan kriteria hasil : 1. Jumlah jam tidur dalam

rentang normal 6-8 jam/hari.

2. Pola tidur kualitas dalam batas normal.

3. Menyatakan perasaan segar sesudah tidur atau istirahat.

4. Mampu mengidentifikasi hal-hal yang dapat meningkatkan tidur.

5. Konjungtiva tidak anemis.

2.1Kaji jam tidur klien.

2.2Monitor waktu makan dan miunm klien dengan waktu tidur.

2.3Ciptakan lingkungan yang nyaman.

2.4Anjurkan klien minum susu hangat sebelum tidur.

2.5Diskusikan dengan klien tentang teknik tidur.

2.6Jelaskan pentingnya tidur yang adekuat.

2.7Kolaborasikan untuk

pemberian terapi farmakologi

(pemberian obat tidur).

Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi keleleahan yang berarti setelah melakukan aktifitas dengan kriteria hasil :

1. Mampu melakukan activity daily living secara mandiri.

2. Berpartisipasi dalam aktifitas fisik lain tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan pernafasan.

3. Mampu berpindah : dengan atau tanpa alat bantuan.

4. Status respirasi : pertukaran gas dan ventilasi adekuat.

3.1Bantu klien untuk mengidentifikasi aktifitas yang mampu dilakukan.

3.2Bantu untuk memilih aktifitas konsisten yang sesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan sosial.

3.3Bantu untuk mendapatkan alat bantuan aktifitas seperti tongkat, kruk dan kursi roda.

3.4Bantu klien untuk mengembangkan motivasi diri dan pengetahuan.

3.5Bantu klien untuk membuat jadwal latian di waktu luang.

Resiko jatuh

dibuktikan dengan usia >65 tahun.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi jatuh dengan kriteria hasil :

1. Gerakan terkoordinasi : kemampuan otot untuk bekerja sama secara volunteer untuk melakukan gerakan yang bertujuan.

2. Kejadian jatuh : tidak ada riwayat jatuh.

3. Pengetahuan : pemahaman terhadap pencegahan jatuh.

4. Perilaku pencegahan jatuh : tindakan individu atau pemberi asuhan keperwatan untuk meminimalkan faktor resiko yang dapat memicu jatuh di lingkungan

4.1Mengidentifikasi Defisit kognitif atau fisik klien yang dapat meningkatkan potensi

jatuh dalam

lingkungan tertentu.

4.2Mengidentifikasi perilaku dan factor yang mempengaruhi resiko jatuh.

4.3Mengidentifikasi karakteristik

lingkungan yang dapat meningkatkan potensi untuk jatuh, missal lantai licin dan tangga terbuka.

4.4Anjurkan klien untuk memnggunakan.

individu. tongkat atau alat pembantu berjalan.

4.5Memantau

kemampuan untuk mentransfer dari tempat tidur ke kursi dan demikian pula sebaliknya.

4.6Ajarkan klien jatuh untuk meminimalkan cidera.

Defisit pengetahuan tentang Hipertensi berhubungan dengan ketidaktahuan menemukan sumber informasi

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan defisit pengetahuan teratasi dengan kriteria hasil : 1. Klien dan keluarga

menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan.

2. Klien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar.

3. Klien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya.

5.1Kaji pengetahuan klien.

5.2Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan klien tentang proses penyakit yang spesifik.

5.3Gambarkan proses penyakit dengan cara yang tepat.

5.4Identifikasikan kemungkinan

penyebab dengan cara yang tepat.

5.5Gambarkan tanda dan gejala yang biasa

muncul pada

penyakit, dengan cara yang tepat.

5.6Sediakan informasi untuk klien dengan carayang tepat.

5.7Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.

Ansietas berhubungan dengan kurang

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan klien tidak cemas

6.1Identifikasi tingkat kecemasan.

6.2Gunakan pendekatan

terpapar informasi.

dengan kriteria hasil :

1. Klien mampu

mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas.

2. Mengidentifikasi,

mengungkapkan dan menunjukkan tekhnik untuk mengontrol cemas.

3. Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktifitas menunjukkan berkurangnya kecemasan.

yang menenangkan.

6.3Pahami perspektif klien terhadap situasi stress.

6.4Temani klien untuk memberikan

keamanan dan

mengurangi takut.

6.5Dorong klien untuk mrngungkapkan perasaan, ketakutan dan persepsi.

6.6Anjurkan untuk menggunakan teknik relaksasi.

6.7Jelaskan prosedur dan semua yang dirasakan saat prosedur.

2.3.4. Implementasi Keperawatan

Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu pasien dari masalah status kesehatan yang dihadapi kestatus kesehatanyang baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan. Proses pelaksanaan implementasi harus berpusat kepada kebutuhan klien, faktor-faktor lain yang mempengaruhi kebutuhan keperawatan, strategi implementasi keperawatan, dan kegiatan komunikas (Dinarti dan Mulyanti, 2017).

2.3.5. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir dari rangkaian proses keperawatan yang berguna menilai apakah tujuan dari tindakan keperawatan yang telah dilakukan tercapai (Dinarti dan Mulyanti, 2017).

BAB III

METODE PENULISAN

3.1Pendekatan

Jenis penulisan ini adalah deskriptif dalam bentuk studi kasus untuk mengeskplorasi masalah asuhan keperawatan pada klien lansia dengan Hipertensi di Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan asuhan keperawatan yang meliputi: Pengkajian Keperawatan, Diagnosa Keperawatan, Perencanaan Keperawatan, Pelaksanaan Keperawatan, Evaluasi Keperawatan.

3.2Subyek Penulisan

Subyek dalam penulisan ini adalah dua orang klien lansia dengan Hipertensi di Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda dengan kriteria subyek sebagai berikut :

1. Lansia dengan rentang usia 60-80 tahun.

2. Lansia yang kooperatif dan dapat diajak komunikasi.

3. Klien yang tidak memiliki gangguan kognitif.

4. Lansia dengan Hipertensi sedang (diastol >160 mmHg dan diastol >100 mmHg).

3.3 Batasan istilah (Definisi Operasional)

Lansia adalah seseorang yang berusia 60 tahun keatas yang kurang dapat memenuhi kebutuhannya secara mandiri baik secara jasmani, rohani dan sosial.

31

Lansia yang menjadi subyek studi kasus ini bertempat tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri samarinda. Yang memenuhi kriteria subyek di atas.

Hipertensi adalah keadaan tekanan darah yang meningkat dimana sistol >140 mmHg dan diastol >90 mmHg. Klien yang diambil dalam studi kasus ini adalah klien yang mengalami Hipertensi sedang (sistol >160 mmHg dan diastol >100 mmHg).

3.4 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian kasus dilakukan di Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda. Lama waktu Studi Kasus ini adalah selama 3-6 hari.

3.5 Prosedur Studi Kasus

Tahap awal prosedur penulisan ini, diawali dengan penyusunan proposal oleh mahasiswa dengan menggunakan metode studi kasus. Setelah dikonsultasikan dan mendapat persetujuan pembimbing, serta mendapatkan izin dari pihak Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda, maka akan dilanjutkan dengan kegiatan pengumpulan data. Setelah itu adalah menentukan diagnosa keperawatan, kemudian dilakukan intervensi atau perencanaan. Selanjutnya adalah melakukan implementasi dari perencanaan tersebut hingga yang terakhir adalah melakukan evaluasi dari kegiatan yang telah dilakukan.

3.6 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 3.6.1 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam studi kasus ini :

1) Wawancara (hasil anamnesis berisi tentang identitas klien, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, dahulu, dan keluhan yang masih dirasakan sekarang). Sumber data dari klien, keluarga dan perawat lainnya.

2) Observasi atau monitor.

3) Pemeriksaan fisik (dengan pendekatan: inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi /IPPA) pada sistem tubuh klien.

4) Dokumentasi dilakukan setiap hari setelah melakukan asuhan keperawatan pada klien Hipertensi dan dilakukan menggunakan Asuhan Keperawatan Gerontik.

3.6.2 Instrumen Pengumpulan Data

Alat atau instrumen pengumpulan data menggunakan format pengkajian Asuhan Keperawatan Gerontik Poltekkes Kemenkes Kaltim.

3.7 Keabsahan Data

Sumber data yang didapat langsung dari klien, sehingga data yang didapat tersebut menjadi valid. Selanjutnya data tersebut diobservasi untuk mencocokkan apakah data yang didapat tersebut sesuai dengan hasil observasi yang dilakukan oleh penulis.

3.8 Analisis Data

Pengolahan data menggunakan analisis deskriptif. Analisa deskriptif adalah metode yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan data yang terkumpul untuk membuat suatu kesimpulan (Notoadmojo, 2010).

Analisis data dilakukan sejak awal studi kasus, sejak pengumpulan data sampai semua data terkumpul. Analisis data dilakukan dengan cara mengemukakan fakta, selanjutnya membandingkan dengan teori yang ada, dan selanjutnya dituangkan dalam narasi pembahasan. Teknik analisis yang digunakan dengan cara menarasikan jawaban-jawaban dari penulis, yang diperoleh dari hasil wawancara, yang dilakukan untuk menjawab rumusan masalah studi kasus.

Teknik analisis digunakan dengan cara observasi oleh penulis dan studi dokumentasi, untuk menghasilkan data. Yang selanjutnya diinterpretasikan dan dibandingkan dengan teori yang ada sebagai bahan untuk dijadikan saran dalam perencanaan,

BAB IV

HASIL STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN

4.1Hasil Studi Kasus

4.1.1 Gambaran dan Lokasi Studi Kasus

Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri yang terletak di Jalan Mayjend Sutoyo Rt.29 No. 01 Samarinda, awalnya merupakan Unit Pelaksana Teknis Depsos RI, seiring dengan Era Otonomi Daerah Sesuai dengan SK Gubernur Kaltim No. 16 thn 2001 Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda menjadi Unit pelaksana Teknis Daerah (UPTD) pemerintah provinsi Kalimantan Timur di bawah naungan Dinas Sosial Prov. Kaltim. Kemudian diperkuat kembali dengan peraturan Gubernur Kaltim No. 17 tahun 2009 Tentang Organisasi dan Tata Kerja UPTD pada Dinas Sosial Prov. Kaltim yang memberikan pelayanan Kesejahteraan Sosial kepada Lanjut Usia Terlantar.

UPTD Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda memiliki area seluas 22.850 M2 serta dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memiliki jumlah 37 bangunan, serta dapat melayani klien sesuai dengan daya tampung yang ada yakni sekitar 120 orang. Dalam pelaksanaannya untuk mencapai tujuan dan sasaran selalu didasarkan pada peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah RI diantaranya UU No. 13 thn 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia dan UU RI No. 11 thn. 2009 tentang kesejahteraan sosial, sehingga para Lansia dapat menikmati kehidupan yang tentram secara lahir dan batin serta mampu melaksanakan fungsi sosialnya dengan baik.

35

Dalam dokumen NO Aspek Yang Dinilai 1 (Halaman 30-35)

Dokumen terkait