• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendahuluan

Dalam dokumen PDF Ilmu Pendidikan Dasar-dasar (Halaman 128-133)

BAB 8 KONSEP TEORETIS TENTANG PEMIKIRAN PENDIDIKAN

8.1 Pendahuluan

Pendidikan merupakan suatu kebutuhan dalam kehidupan manusia. Pendidikan juga ditujukan untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai dan standar etika bagi generasi penerus bangsa, agama dan bangsa. Dalam dunia pendidikan terdapat banyak persamaan dan perbedaan dalam konsep pendidikan, sehingga kita harus melihat visi dan misi suatu lembaga Pendidikan, termasuk masalah teoretis yang dilaksanakan suatu Lembaga pendidikan. Masalah teoritis muncul antara lain disebabkan oleh perbedaan ilmu pendukung yang digunakan serta perbedaan konseptual dalam ilmu pendukung. Beberapa pemikir pendidikan hanya memasukkan filsafat, psikologi, dan sosiologi dalam perumusan konsep dan desain pendidikan, sementara pemikir lain juga menggunakan referensi lain, seperti politik, ekonomi, sains dan teknologi, dan lain-lain.

Ilmu pengetahuan atau pendidikan merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan dengan berbagai modelnya, diarahkan untuk memberikan orientasi kepada manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, konsep dan realisasi pendidikan harus selalu diperbarui untuk memenuhi kebutuhan zaman yang selalu berubah dan dinamis. Pendidikan harus diarahkan,

bukan hanya tentang kebahagiaan hidup setelah mati, tetapi juga kebahagiaan hidup di dunia, sebagai persipaan untuk masa depan (Mansur: 2016).

Dalam penggunaan ilmu di luar pendidikan, banyak model yang digunakan tergantung pada perbedaan perspektif yang ada di dalam ilmu-ilmu tersebut. Ada yang menggunakan filsafat sebagai acuan kajian filsafat, ada pula para pemikir pendidikan yang menggunakan perspektif berbeda untuk memberikan pandangannya tentang komponen-komponen pendidikan. Misalnya, pandangan bahwa orang tidak perlu dididik karena semuanya ditentukan oleh bakatnya (nativisme), sebagian menggunakan gagasan bahwa orang perlu dididik (empirisme) dan ada juga yang berpandangan bahwa pendidikan dipengaruhi oleh lingkungannya (konvergensi). Perspektif yang berbeda ini akan memengaruhi pembuatan kebijakan dan desain serta implementasi pendidikan.

Perbedaan pendapat dalam psikologi memiliki efek yang sama dengan perbedaan dalam filsafat. Keputusan kebijakan yang berkaitan dengan tujuan pendidikan, materi, metode, penilaian, dan lain-lain akan berbeda jika pemikiran pendidikan menggunakan dasar psikologis atau menggunakan perspektif kognitif. Perspektif psikologi perilaku menekankan bahwa tujuan pendidikan adalah pembentukan perilaku objektif dan penggunaan metode mekanis, sedangkan perspektif kognitif menekankan pendidikan kapasitas yang tidak berwujud (mental), lebih menekankan pada pemahaman.

Perbedaan pendapat dalam bidang psikologi ini juga menjadi sumber masalah yang belum terselesaikan.

Indonesia memiliki faktor pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terintegrasi dengan berbagai

tentang pendidikan sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan yang ditetapkan. Isu-isu teoretis tersebut di atas, akan menjadi hambatan dalam implementasi pendidikan karena pengaruhnya terwujud dalam bentuk seringnya perubahan kebijakan pendidikan dilakukan.

Roesminingsih dan Sunarso (2016) mengklasifikasi lima masalah kesalahan pendidikan, yaitu:

1. Kelemahan teknis, berpandangan bahwa disiplin hanya bisa diajarkan dengan paksaan,

2. Kesalahan sistem, misalnya yang paling banyak dipelajari adalah sekolah,

3. Kesalahan teoretis, contoh pengajaran dipahami sebagai transmisi pengetahuan,

4. Salah menerapkan, misalnya gagasan bahwa semakin banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang, semakin bahagia dia, dan

5. Kesalahan filosofis, seperti gagasan bahwa kesuksesan tergantung pada aspek keterampilan yang dipelajari (mengabaikan aspek etika).

Tirtarahardja (2005) juga mengklasifikasikan masalah pendidikan ke dalam tiga kelompok, yaitu:

1. Masalah operasional, yaitu masalah yang berkaitan dengan pelaksanaan

Pengajaran, misalnya kesalahan dalam pemilihan metode pengajaran, pemilihan dan/atau penggunaan bahan, 2. Masalah struktural atau tata kelola, misalnya terkait

dengan sistem pendidikan

Yang digunakan dan koordinasi kebijakan, dan

3. Masalah fundamental misalnya yang mendasar yaitu masalah teoritis filosofis, dan sebagainya.

Secara umum Roesminingsih dan Susarno (2005) mengatakan, tujuan pendidikan adalah untuk membina dan mengembangkan potensi peserta didik. Dengan berkembangnya kecerdasan dan potensi pribadi setiap anak memiliki pengetahuan, kreativitas, kemampuan fisik dan mental yang baik, akhlak yang baik (karakter), kemandirian dan menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab.

Menurut Mas'ud Muhammadiah, dkk (2022), proses pendidikan kepribadian didasarkan pada keseluruhan psikologis yang mencakup seluruh potensi individu (kognitif, afektif, psikomotor) dan keseluruhan fungsi sosiokultural dalam kerangka interaksi keluarga dan sekolah. Profil karakter dalam konteks semua proses psikososial dan budaya dapat dikelompokkan menjadi: 1) perasaan (perkembangan mental dan emosional); 2) pikiran (perkembangan intelektual); 3) kinestetik (perkembangan fisik dan motorik); dan 4) rasa dan karsa (pengembangan emosi dan kreativitas). Proses ini saling berhubungan dan melengkapi satu sama lain secara holistik dan runtut, secara konseptual membentuk nilai luhur bangsa Indonesia.

Tujuan pendidikan juga tertuang dalam undang-undang Republik Indonesia (Roesminingsih dan Susarno, 2005), antara lain:

1. Tujuan pendidikan menurut Undang-Undang Nomor 2 tahun 1985 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakal, sehat jasmani dan rohani, berakhlak mulia, mandiri, berbudi pekerti dan berintegritas serta bertanggung jawab kepada negara.

2. Menurut Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 Pasal 3 tentang sistem pendidikan nasional menyatakan, tujuan

bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

3. Menurut MPRS No. 2 tahun 1960, tujuan pendidikan adalah membentuk manusia seutuhnya yang berjiwa kemanusiaan berdasarkan ketentuan yang dipersyaratkan dalam pembukaan UUD 1945 dan isi UUD 1945.

Di sisi lain, fungsi pendidikan adalah mengembangkan kemampuan, membentuk watak, kepribadian, sehingga peserta didik menjadi pribadi yang berharga. Menurut Horton dan Hunt dalam Dewi Wulansari, (2009: 93), lembaga pendidikan dan yang berhubungan dengan fungsi pendidikan adalah sebagai berikut:

1. mempersiapkan setiap anggota masyarakat agar dapat mencari nafkah,

2. mengembangkan minat dan bakat seseorang untuk kepuasan pribadi dan kepentingan umum,

3. membantu melestarikan budaya yang ada di masyarakat, dan menanamkan keterampilan yang diperlukan untuk berpartisipasi secara demokratis. Sedangkan menurut David Popenoe dalam Mas’ud Muhammadiah (2020), fungsi pendidikan adalah:

a. untuk mewariskan budaya dari satu generasi ke generasi lainnya,

b. mendidik peserta didik tentang peran sosial,

c. memastikan terjadinya intraksi sosial di masyarakat, d. lembaga pendidikan mengajarkan sifat-sifat

kepribadian, dan

e. menjadi sumber inovasi di masyarakat.

Dalam dokumen PDF Ilmu Pendidikan Dasar-dasar (Halaman 128-133)