• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Dalam dokumen PROSIDING (Halaman 49-52)

The Role of Children’s Dictionary in Language Acquisition and Reading Interest Development

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Sebagai seorang guru, suatu ketika penulis menjadi pengawas ujian mata pelajaran bahasa Indonesia untuk anak-anak kelas III Sekolah Dasar. Sekolah itu adalah Sekolah SPK (Satuan Pendidikan Khusus) yang lebih banyak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Dalam kertas ujian terdapat gambar beberapa benda. Siswa mengisi titik-titik di samping setiap benda dengan menuliskan nama dan kegunaan benda.

Prosiding SLI 2019 | 11---13 September 2019LEKSIKOGRAFI DAN LITERASI Stetoskop adalah salah satu di antara benda-benda yang ditanyakan kegunaannya.

Pada salah satu kertas jawaban, penulis mendapati tulisan “stetoskop, gunanya untuk mendengarkan hatimu”. Dari perspektif gramatikal, jawaban tersebut tidak keliru. Kata

“jantung” menurut KBBI merupakan sinonim dari kata “hati”. Sangat mungkin siswa tersebut menerjemahkan kegunaan stetoskop dari bahasa Inggris, yaitu “to listen to your heart beat”. Maksudnya barangkali, stetoskop dapat membantu mendengarkan detak jantung. Tentu jawaban tersebut masih dapat diterima. Namun, secara spontan, penulis tersenyum ketika membaca jawaban tersebut karena makna konotatif yang termuat di dalamnya. Dalam bahasa Indonesia, “mendengarkan hati” dapat berarti menangkap suara batin atau memperhatikan sanubari berbicara. Dengan demikian, jawaban tersebut juga dapat memuat makna pragmatis, bergantung pada situasi dan kondisi pada saat kalimat diujarkan.

Pengalaman lain terjadi beberapa tahun lalu, saat penulis masih bekerja sebagai editor bahasa untuk buku anak di sebuah penerbitan. Ketika menerjemahan sebuah buku anak yang menggunakan kata “crew” dalam bahasa Inggris, penulis agak ragu untuk menerjemahkannya sebagai “awak kapal”. Kemudian muncul pertanyaan, apakah pembaca pemula yang menjadi sasaran buku tersebut dapat memahaminya? Padahal buku itu adalah buku cerita yang dirancang untuk anak usia 3—5 tahun, dibuat dari karton tebal (board book), sedikit kata, dan didominasi oleh gambar.

Sebagai pegiat literasi yang kerap membacakan buku atau mendampingi anak-anak membaca buku, dua pengalaman tadi adalah bagian kecil dari pengalaman-pengalaman lain. Penulis sering kali bertemu dengan anak-anak yang kurang akrab dengan kata- kata yang ada dalam buku. Itu terjadi karena setiap bahasa memiliki nuansa, baik lisan maupun tulisan. Kesenjangan ini perlu dijembatani melalui kamus sehingga anak-anak dapat memahami kata-kata yang mereka temukan dalam buku.

1.2 Rumusan Masalah

Literasi erat kaitannya dengan kemampuan menyerap, memahami, dan mengolah informasi. Literasi baca-tulis tidak sekadar persoalan melek huruf, namun juga mengarah pada kemampuan berkomunikasi dan kemahiran berwacana. Dalam peta jalan Gerakan Literasi, literasi baca-tulis diartikan sebagai “pengetahuan dan kecakapan untuk membaca, menulis, mencari, menelusuri, mengolah, dan memahami informasi untuk menganalisis, menanggapi, dan menggunakan teks tertulis untuk mencapai tujuan, mengembangkan pemahaman dan potensi, serta untuk berpartisipasi di lingkungan sosial” (lihat Tim GLN, 2017).

Dengan demikian, jelas bahwa penguasaan kosakata dan pemahaman atas definisi kata atau istilah menjadi hal yang berkaitan erat dengan Gerakan Literasi Nasional. Kamus berperan untuk memperkaya kosakata dan memperkenalkan berbagai definisi yang diperlukan. Kamus tidak hanya identik dengan penguasaan bahasa kedua (L2) bagi anak-

anak, melainkan juga dalam penguasaan bahasa ibu (L1).

Sejauh pengamatan singkat penulis di beberapa toko buku di Jakarta dan berbagai situs penjualan buku di internet (dilakukan dalam kurun waktu bulan Juni—Juni 2019), tampak jelas bahwa kamus untuk anak yang banyak beredar adalah kamus dwibahasa dan tribahasa (bahkan empat bahasa). Sebagian besar merupakan kamus bahasa Inggris- bahasa Indonesia, ditambah bahasa asing lainnya, misalnya bahasa Mandarin atau bahasa Arab.

1.3 Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk memaparkan kebutuhan anak terhadap kamus, sejauh mana kamus berperan dalam perkembangan bahasa anak, dan kamus seperti apa yang dibutuhkan oleh anak, terutama usia pra sekolah (3—5 tahun) dan sekolah dasar (6—12 tahun). Makalah ini ditutup dengan usulan kamus visual ekabahasa yang akan mendukung gerakan literasi bagi anak-anak. Kemampuan dasar dalam menggunakan kamus juga penting bagi anak untuk dapat mencari informasi yang tepat.

1.4 Tinjauan Pustaka

Meskipun tidak terlalu banyak, berbagai penelitian mengenai kamus bagi anak- anak dari berbagai aspek telah dilakukan. Pentingnya penggunakan kamus, khususnya dalam pembelajaran dan pengajaran bahasa, pernah dikaji dalam artikel The Importance of Using Dictionary in Language Learning and Teaching (Sarigul, 2016). Sebelumnya, pada 1987, Wood et.al., meneliti perkembangan leksikal anak usia pra-sekolah dalam mempelajari kosakata baru dengan bantuan gambar. Peran gambar dalam kamus anak pernah dibahas pula dalam makalah Children’s Aid to Children’s Dictionary (Cignoni, et al., 1996). Namun, secara khusus, gambar ini dibuat oleh anak-anak. Cignoni et.al membahas keputusan leksikografis pertama anak dengan melibatkan anak dalam penyusunan kamus:

penggunaan kosakata, pemberian makna, contoh kalimat, termasuk pembuatan gambar.

Konsep klaster dan integrasi pengetahuan dalam kamus anak juga pernah dibahas oleh Barriere dan Popowich (1994). Dalam tulisannya, Barriere memaparkan beberapa tahap dalam Concept Clustering Knowledge Graphs yang strukturnya dibangun dalam Lexical Knowledge Base (LKB). Kamus anak dapat dilihat sebagai batu loncatan untuk memperluas pemahaman terhadap cerita-cerita anak. Penelitian Barriere ini kemudian menjadi disertasi lengkap berjudul ”From a Children’s First Dictionart to a Lexixal Knowledge Base of Conceptual Graphs” yang menyajikan pembahasan cukup lengkap.

Di Indonesia, pernah dilakukan penelitan terbatas pada salah satu Sekolah Menengah Atas di Jawa Timur. Penelitian itu membahas tentang perbandingan penggunaan kamus dwibahasa dan kamus ekabahasa dalam penulisan teks oleh siswa (Asy’ari dan Deanti,

Prosiding SLI 2019 | 11---13 September 2019LEKSIKOGRAFI DAN LITERASI 2015). Kesimpulan penelitian Asy’ari adalah bahwa kedua kamus tersebut dapat membantu anak dalam meningkatkan skor menulis, sehingga guru dapat memberikan keleluasaan kepada siswa untuk memilih kamus yang tepat baginya.

Dari berbagai tulisan yang telah ditelusuri di atas, belum ada yang tulisan khusus yang membahas pemanfaatan kamus ekabahasa dalam bahasa Indonesia, terutama yang berkaitan dengan literasi baca-tulis bagi anak-anak. Oleh karena itu, penulis akan mengisi rumpang tersebut dengan penelitian ini.

Dalam dokumen PROSIDING (Halaman 49-52)