BAB III METODE PENELITIAN
B. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Secara umum, penelitian dapat diartikan sebagai proses pengumpulan dan menganalisis data atau informasi secara sistematis sehinga menghasilkan kesimpulan yang sah. Kata-kata sistematis dan sah merupakan kata kunci karena mengacu pada suatu pendekatan yang digunakan dalam dunia akademis yang disebut dengan metode ilmiah. 1
Menurut Sugiono, “Metode penelitian adalah cara berpikir yang berbuat yang dipersiapkan dengan baik-baik untuk mengadakan penelitian dan mencapai tujuan penelitian”. Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara umum untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.2
Peneliti menggunakan pendekatan metode kualitatif, karena masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah permasalahan sosial kemasyarakatan (komponen-komponen yang terkandung di dalam
1 M. Toha Anggoro dkk, Metode Penelitian, ( Jakarta: Universitas Terbuka, 2004), Cet. Ke-3, hlm. 11
2 Sugiono, Metode Pendidikan:Pendekatan Kuantitataif, Kualitatif, dan P&D, (Bandung: Alfabeta, 2008), hlm 3
sekolah), untuk memahami interaksi sosial secara mendalam dengan maksud memahami sifat dan maknanya bagi perseorangan yang terlibat di dalamnya. 3
Bogdam dan Taylor sebagaimana yang dikutip oleh Lexy J. Moleong, menyatakan bahwa metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang diamati. Pada metode kualitatif ini peneliti benar-benar memahami kasus yang ada dengan cara mengumpulkan data, melihat langsung keadaan lokasi dan mengambil informasi dari berbagai sumber yang ada di lingkungan sekolah.
Penelitian kualitatif bertujuan untuk mengembangkan makna ber dasarkan data-data lapangan. Penelitian ini dikatagorikan penelitian lapangan (field research) yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang diamati. 4
C. Subjek dan Objek Penilitian 1. Subjek Penelitian
Subjek penelitian dapat ditemukan dengan cara memilih Informan untuk dijadikan Key Informan di dalam pengambilan data di lapangan.3 Dengan demikian, subjek penelitian merupakan sumber informasi dalam mencari data dan masukan-masukan dalam mengungkapkan masalah penelitian, adapun informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi
3 Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), Cet.
Ke-8, hlm. 108
4 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), Cet. Ke- 29, hlm. 4
tentang situasi dan kondisi latar penelitian. Jadi ia harus mempunyai banyak pengalaman tentang latar penelitian.5
Dalam penelitian ini yang menjadi subyek penelitian adalah pengurus Pondok Pesantren Darunnajah yang berjumlah 3 orang, dan pengurus Organisasi Siswa Intra sekolah di Pondok Pesantren Darunnajah. Pemilihan atau pengambilan informan sebagai subyek penelitian adalah secara purposive dan informan yang terpilih sebagai subjek penelitian sekaligus diperlakukan sebagai sampel.
2. Objek Penelitian
Adapun yang menjadi objek penelitian dalam penelitian ini adalah fenomena yang menjadi topic dari penelitian ini yaitu tentang bentuk-bentuk kegiatan yang ada di Pondok Pesantren Darunnajah serta kegitan yang berpengaruh terhadap pengembangan bakat kepemimpinan siswa pada OSDN putri di pondok pesantren Darunnnajah.
D. Sumber Data
Sumber data berasal dari fenomena-fenomena yang berkaitan tentang penelitian di sekolah, dan dari dokumen-dokumen sekolah, seperti: visi dan misi sekolah, program-program dan kegiatan sekolah, tata tertib dan sumber daya yang dimiliki.
Penentuan subyek penelitian tersebut dilakukan secara purposive yaitu teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu, pertimbangan tertentu ini misalnya orang tersebut dianggap paling tahu
5Lexy J. Moleong., Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 90
tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin sebagai penguasa sehingga memudahkan peneliti dalam menjelajahi obyek atau situasi yang diteliti.
Sumber data penelitian ini terdiri dari 2 macam, yaitu data primer dan data sekunder.
1. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah hasil wawancara dengan pembina dan ketua OSDN serta kepala Biro Pengasuhan Santri Putri di Pondok Pesantren Darunnajah.
2. Sumber data sekunder adalah sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data. Sumber data sekunder dalam penelitian ini berasal dari dokumen atau catatan yang dimiliki oleh Pondok Pesantren Daarunnajah.
E. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah berbagai cara yang digunakan untuk mengumpulkan data, menghimpun, mengambil atau menjaring data penelitian. 6 Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling penting dalam suatu penelitian, tanpa menggunakan teknik pengumpulan data akan menyulitkan peneliti dalam mendapatkan data yang sesuai dengan yang diharapkan. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu:
1. Observasi
Observasi adalah metode untuk mengumpulkan data dengan jalan pengamatan dan catatan terhadap fenomena-fenomena yang diteliti.7 Menurut Nana Syaodih, observation atau pengamatan adalah suatu teknik atau cara pengumpulan data dengan jalan mengadakan
6 Emzir, Metodologi Penelitian Pendidikan: Kuantitatif & Kualitatif, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), hlm. 174
7 Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitataif dan R&D,(Bandung:
Alfabeta, 2011), hlm. 156
pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. 8dijelaskan dalam pengertian lain bahwa observasi adalah “ Pengamatan terhadap suatu obyek yang diteliti baik secara langsung maupun tidak langsung untuk memperoleh data yang harus dikumpulkan selama penelitian.9
Berdasarkan jenisnya, observasi dibagi menjadi dua, yaitu observasi langsung dan observasi tidak langsung. Observasi langsung adalah observasi yang dilakukan dimana observer berada bersama obyek yang diselidiki, sedangkan observasi tidak langsung adalah observasi atau pengamatan yang dilakukan tidak pada saat berlangsungnya suatu peristiwa yang akan diteliti, mislanya dilakukan melalui film, rangkaian slide, atau rangkaian foto.
Observasi digunakan untuk mengetahui berbagai informasi terkait suatu kegiatan dengan cara pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang diteliti.10Penulis turun langsung kelapangan dengan mendatangi lokasi penelitian di Pondok Pesantren Darunnajah untuk memperoleh data dan informasi tentang penyelenggaraan, kegiataan, serta pengelolaan OSIS.
2. Wawancara
Selain itu, teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik wawancara. Dalam penelitian ini digunakan metode wawancara karena dalam penelitian ini ingin memperoleh data dari narasumber melalui komunikasi secara langsung.
Sedangkan data yang ingin diperoleh adalah data yang berupa pertanyaan-pertanyaan yang langsung didapat dari narasumber melalui
8 Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan,( Bandung: Remaja Rosda Karya, 2010), hlm. 216
9 Dja’man Satori dan Aan Komariah, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung:
Alfabeta, 2011), hlm. 105
10M. Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif, Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya, (Jakarta: Kencana, 2009), hlm. 115
percakapan. Hal tersebut didukung oleh beberapa pertanyaan para ahli mengenai metode wawancara.
Pengumpulan data melalui teknik wawancara digunakan untuk mengungkapkan masalah sikap dan persepsi seseorang secara langsung dengan sumber data. Oleh karena itu, wawancara dapat dijadikan suatu alat pengumpulan data yang efektif, terutama karena alasan berikut.11
a. Wawancara dapat dilaksanakan untuk setiap individu tanpa dibatasi oleh faktor usia maupun kemampuan membaca.
b. Data yang diperoleh dapat diketahui objektivitasnya, karena dilaksanakan secara hubungan tatap muka
c. Wawancara dapat dilaksanakan langsung kepada responden yang diduga sebagai sumber data.
d. Wawancara dapat dilaksanakan dengan tujuan untuk memperbaiki hasil yang diperoleh, baik melalui observasi terhadap objek manusia maupun bukan manusia.
e. Pelaksanaan wawancara dapat lebih fleksibel dan dinamis, karena dilaksanakan secara langsung sehingga memungkinkan diberikannya penjelasan kepada responden bila suatu pertanyaan kurang dapat dimengerti.
Tujuan digunakan metode wawancara adalah untuk menggali informasi tentang tujuan pendidikan, kurikulum, pembelajaran yang digunakan, proses pelaksanaan pendidikan agama Islam. Sedangkan alat pengumpulan data yang digunakan dalam teknik wawancara berupa pedoman wawancara, yang berisi daftar pertanyaan yang telah disusun peneliti untuk ditanyakan kepada responden dalam suatu wawancara.
11 Maman Abdurahman dan Sambas Ali Muhidin, Panduan Praktis Memahami Penelitian, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2011), hlm. 90
Wawancara ini dilakukan untuk mendapatkan data atau informasi tentang penyelengaraan dan kegiatan OSDN di Pondok Pesantren Darunnajah yang menunjang pengembangan bakat kepemimpinan siswa dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan langsung kepada pihak yang terkait.
3. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya momumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, cerita, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain.
Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film dan lain-lain.12
Dokumentasi digunakan untuk mengetahui latar belakang, visi, misi, dan tujuan Pondok Pesantren Daarunnajah, serta beberapa data pendukung lainnya terkait penyelenggaraan OSIS di Pondok Pesantren Daarunnajah.
F. Teknik Analisis Data
Setelah data yang diperlukan terkumpul langkah selanjutnya adalah menganalisis data. Teknik analisis data adalah pencarian atau pelacakan pola-pola. Analisis data kualitatif adalah pengujian sistematik dari sesuatu untuk menetapkan bagian-bagiannya, hubungan antar kajian, dan hubungan terhadap keseluruhannya.
12 Sugiono, Metode Pendidikan : Pendekatan Kuantitatif, Kualitataif, dan P&D, hlm.
240
Pengumpulan data itu sendiri juga ditempatkan sebagai komponen yang merupakan bagian integral dari kegiatan analisis data.13
Analisis data kualitatif dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung dan setelah pengumpulan data dalam periode tertentu.
Dalam analisis data ini peneliti menganalisis hasil observasi, wawancara dan dokumentasi yang telah dikumpulkan.
13 Burhan Bungin, Analisis Data Penelitian Kualitatif (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005),hlm. 69
51
A. Gambaran umum Pondok Pesantren Darunnajah 1. Sejarah Pondok Pesantren Darunnajah
Pondok Pesantren Darunnajah adalah lembaga pendidikan Islam swasta (non pemerintah), berdiri dilahan 5 hektar yang diwakafkan oleh K.H. Abdul Manaf Mukhayyar dan didirikan Pondok Pesantren bersama dua orang yaitu H. Qamaruzzaman dan K.H. Mahrus Amin pada tanggal 1 April 1974.
Pesantren tersebut menggunakan sistem kurikulum terpadu, menyediakan sistem berasrama 24 jam, pengajaran bahasa Arab dan bahasa Inggris secara intensif serta pendidikan karakter untuk para santri. Secara lengkap sejarah Pesantren Darunnajah dilalui dengan beberapa periode sebagai berikut:
a. Periode Cikal Bakal (1942-1960)
Pada tahun 1942 K.H. Abdul manaf Mukahayyar mempunya madrasah Al Islamiyah di petunduhan palmerah jakarta barat. Tahun 1959 tanah dan madrasah di gusur untuk perluasan komplek perkampungan olah raga sea games, yang sekarang dikenal dengan komplek olah raga senayan. Untuk melanjutkan cita-citanya, maka diusahakanlah tanah di Ulujami Tangerang Jawa Barat. Tahun 1960 didirikan yayasan kesejahteraan masyarakat islam (YKMI), dengan tujuan agar diatas tanah tersebut didirikan pesantren.
Periode ini disebut periode cikal bakal, dan modal pertama berdirinya Podok Pesantren Darunnajah.
b. Periode Rintisan (1961-1973)
Pada tahun 1961 K.H. Abdul Manaf membangun gedung madrasah enak lokal diatas tanah wakaf. Ide mendirikan pesantren didukung oleh H.
Qamaruzzaman keponakannya yang saat itu sedangmenyelesaikan sekolahnya di Yogyakarta. Untuk pengelolaan pendidikan diserahkan kepada Ust. Mahrus Amin, Alumnus KMI Gontor yang mulai menetap di jakarta pada tanggal 2 Februari 1961. Karena banyaknya rintangan dan hambatan, maka pendidikan belum bisa dilaksanakan di Ulujami, tetapi dilaksanakan dipetukangan bersama beberapa tokoh masyarakat diantaranya Ust. Abdillah Amin dan H. Ghozali, bekerja sama dengan YKMI. Tanggal 1 agustus 1961, Ust Mahrus Amin mulai membina Madrasah Ibtiraiyah Darunnajah dengan jumlah santri 75 orang, kemudian tahun 1964 membuka Tsanawiyah dan TK Darunnajah.
Pada tahun 1970 ada usaha memindahkan pesantren ke petukangan, tetapi mengalami kegagalan. Pesantren pernah mencoba menampung kurang lebih 9 anak dari Ulujami dan Petukangan, yakni antara tahun 1963, 1964, kemudian baru 1972 menampung kurang lebih 15 orang anak petukangan.
Namun kedua usaha ini tidak dapat dilanjutkan dengan berbagai kesulitan yang timbul. Tahun 1965 Darunnajah telah berhasil mempertahankan tanah wakaf di Ulujami dari berbagai rongrongan, antara lain BTI (Barisan Tani Indoesia) pada masa pemberontakan PKI.
c. Periode Pembinaan dan Penataan (1974-1987)
Pada tanggal 1 April 1974, dumulai dengan didirikannya Pesantren Darunnajah Ulujami. Mula-mula pesantren mengasuh 3 orang santri, sementara Tsanawiyah petukangan yang dipindah ke Ulujami untuk meramaikannya. Baru pada tahun 1976, madrasah Tsanawiyah dibuka kembali dan secara berangsur, pesantren Darunnajah Ulujami hanya
menerima anak yang bermukim saja, kecuali anak ulujami yang boleh pulang pergi. Bangunan yang pertama didirikannya adalah masjid dengan ukuran 11 X 11 meter dan beberapa lokal asrama, bangunannya meskipun sederhana, namun sudah sesuai dengan master dan plan yang dibuat oleh Ir. Eri Chayadipura.
Pada awal pembangunannya santri selalu dilibatkan untuk melakukan kerja bakti. Pada periode inilah ditata kehidupan di Pesantren Darunnajah dengan sunahnya yaitu:
a. Aktivitas santri dan kegiatan Pesantren disesuaikan dengan jadwal waktu shalat.
b. Menggali dana dari Pesantren sendiri untuk lebih mandiri.
c. Meningkatkan mutu pendidikan dan pengajaran, dengan dibentuknya Lembaga Ilmu Al-Qur‟an (LIQ), Lembaga Bahasa Arab dan Inggris (LBA/I) dan Lembaga Da‟wah dan Pengembangan Masyarakat (LDPM).
d. Beasiswa Ashabunnajah (kelompok santri penerima beasiswa selama belajar di Darunnajah) untuk kader-kader Darunnajah.
d. Periode Pengembangan (1987-1993)
Darunnajah mulai melebarkan misi dan cita-citanya, mengajarkan agama Islam, pendidikan anak-anak yang tidak mampu (fuqara dan masakin), dan bercita-cita membangun seratus Pondok Pesantren Modern. Masa inilah, saat memancarkan pancuran kesejukan ke penjuru-penjuru yang memerlukan.
e. Periode Dewan Nazir (mulai 1994)
Dengan niat yang tulus dan ikhlas, wakif tanah di Ulujami Jakarta K.H.
Abdul Manaf Mukhayyar atas nama diri sendiri, Drs. K.H. Mahrus Amin, dan Drs. H. Qamaruzzaman Muslim, yang keduanya mengatasnamakan para
dermawan untuk waqaf tanah cipining bogor seluas 70 ha, mengikrarkan wakaf kembali dihadapan para ulama dan pejabat (umara) dalam acara nasional di Darunnajah pada tanggal 7 Oktober 1994.
Dalam acara piaga wakaf tersebut, para wakif menguraikan niat dan cita- citanya mendirikan lembaga ini diatas sebuah piagam wakaf yang ditandatangani oleh para pemegang amanat, Dewan Nazir dan Pengurus Yayasan Darunnajah yang disaksikan oleh para tokoh masyarakat dan organisasi di masyarakat Indonesia.
f. Periode Kader (mulai 2012)
Meningkatkan keinginan masyarakat untuk memasukan putra putrinya ke lingkungan Pondok Pesantren , memberikan dampak kepada meningkatnya pendaftar dan jumlah santri di Pondok Pesantren Darunnajah. Keterbatasan lokasi, keterbatasan lahan dan keterbatasan sumber daya manusia mendorong para pengurus Pondok Pesantren Darunnajah untuk mengembangkan Darunnajah di berbagai daerah, baik dari hasil pembelian maupun melalui penerimaan wakaf dari para muhsinin (orang baik) yang memberi infaq dan mewakafkan lahan seluas 619 ha. Hal ini dibutuhkan untuk kelangsungan masa depan lembaga perlu mempersiapkan kader yang handal, ulet berkualitas.
Kelangsungan lembaga dan perkembangannya memerlukan sumber daya manusia yang berkualitas, Yayasan Darunnajah membuatnya di dalam program dan diaplikasikan dalam aturan-aturan bagi Kader Darunnajah, sehingga pola pengembangan lembaga dapat berjalan dengan maksimal.
2. Profil Pondok Pesantren Darunnajah1
Nama pesantren : Pondok Pesantren Darunnajah
Wakif :a).K.H. Abdul Manaf Mukhayya (Alm) b). Hj. Tsuraya manaf (Alm)
Pendiri :a).K.H. Abdul Manaf Mukhayyar(Alm) b). Drs. Kamaruzzaman (Alm)
c). Drs. K.H. Mahrus Amin Penyelenggara : Yayasan Darunnajah
Ketua Umum Yayasan : K.H. Saifuddin Arief, S.H., M.H.
Tahun berdiri : 1 April 1974
Pimpinan : a). Drs. K.H. Mahrus Amin
b). Dr. K.H. Sofwan Manaf, M.Si.
Alamat : Jalan Ulujami Raya No. 86, Kelurahan
Ulujami, Kecamatan Pesanggarahan, Jakarta Selatan 1225.
No Telepon : (021) 7350187, 73883665 No Fax : (021) 73880158, 73886529 Websaite : www.darunnajah.com
Alamat e-mail : [email protected]
1Tim Redaksi, Buletin Darunnajah Edisi Khusus 54 Tahun Darunnajah, 2015, h. 99
3. Visi, Misi dan Tujuan Pondok Pesantren Darunnajah
a. Visi: “Mencetak manusia yang muttafaqah fiddin untuk menjadi kader pemimpin umat/bangsa”.
b. Misi: “mendidik kader-kader umat dan bangsa yang bertafaqqah fiddin para ulama, zuama dan aghniya, cendikiawan muslim yang bertaqwa, berakhlak mulia, berpengetahuan luas, jasmani yang sehat, terampil dan ulet”.;
c. Tujuan
1) Panca Jiwa adalah pendidikan yang ditanamkan kepada setiap santri untuk membentuk dan melandasi kepribadiannya:
a) Jiwa Keikhlasan b) Jiwa Kesederhanaan c) Jiwa Mandiri
d) Jiwa Ukhuwah Islamiyah e) Jiwa Bebas Merdeka
2) Panca Bina merupakan arah pembinaan santri yang akan melahirkan sikap hidup yang nyata dalam langkah dan amaliah sehari-hari:
a) Bertaqwa Kepada Allah SWT b) Berakhlak Mulia
c) Berbadan Sehat d) Berwawasan Luas e) Kreatif dan Terampil
3) Panca Dharma adalah bakti santri sebagai makhluk anggota masyarakat dan warga negara, sehingga keberadaan santri tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang lain dan alam sekitarnya:
a) Ibadah
b) Ilmu yang berguna c) Kader umat
d) Dakwah Islamiyah
e) Cinta tanah air dan berwawasan Nusantara
4. Keadaan Guru di Pondok Pesantren Darunnajah
Pondok pesantren darunajah pada saat ini memiliki 268 Asatidz dan Ustaadzat yang terdiri dari 129 Ustaadzat dan asatidz 139. Asatidz dan Ustaadzat di Pondok Pesantren Darunnajah sebagian besar sudah menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 di perguruan tinggi di dalam dan luar negri, seperti sekolah tinggi Agama Islam Darunnajah, Universitas Islam Negri, Universita Negri Jakarta, Universitas Islam Internasional Malaysia, Universitas Islam Madinah, Universitas Al-Azhar, dan sebagainya. Dan pendidikan yang mereka miliki sangat menunjang kualitas pendidikan para santri di Pondok Pesantren Darunnajah.
5. Keadaan Siswa di Pondok Pesantren Darunnajah
Pondok Pesantren Darunnajah pada Tahun Ajaran 2018-2019 memiliki 2509 santri yang terdiri dari 1216 Santri putra dan 1293 santri putri yang sekolah dan tinggal di asrama Pondok Pesantren Darunnajah. Santri di Pondok Pesantren Darunnajah dari berbagai daerah dengan latar belakang sosial, budaya, ekonomi yang berbeda-beda, bahkan dari sabang sampai merauke, bahkan dari tetangga sebelah seperti dari malaysia, timor leste.
Pesantren tersebut menggunakan sistem kurikulum terpadu, menyediakan sistem berasrama 24 jam dan menjalani 24 jam pendidikan. Pagi hari santri belajar secara formal di kelas dan setelah itu santri belajar secara non-formal seperti kepemimpinan, organisasi, ekstrakurikuler dan sebagainya.
6. Sarana dan Prasarana di Pondok Pesantren Darunnajah
Pondok Pesantren Darunnajah termasuk pada kategori Podok Pesantren Modern, dimana hampir semua fasilitas di Pondok Pesantren Darunnajah ini sudah sangat cukup, baik dari segi fasilitas untuk pendidikan formal atau nonformal untuk memenuhi kebutuhan belajar santri selama di Pondok Pesantren.
Sarana dan prasarana yang ada di Pondok Pesantren Darunnajah diantaranya yaitu:
a. Masjid/ sarana ibadah b. Gedung asrama
1) Asrama putra (terdiri dari 5 gedung yaitu: gedung Indonedia baru, gedung nusantara, gedung mekah, gedung madinah, dan gedung asean) 2) Asrama putri (terdiri dari 8 gedung yaitu: gedung robitoh, gedung
arafah, gedung mina, gedung al-hamra, gedung khadijah, gedung granada, gedung HI, dan gedung cordoba),
c. Gedung olah raga, lapangan futsal, lapangan basket, d. Sarana pembelajaran diantaranya:
a) Gedung kelas putra
b) Gedung rektorat (ruang guru, ruang kepala sekolah, perpustakaan putra, perpustakaan putra)
c) Gedung kelas putri
d) Laboraturium (yang terdiri dari laboraturium bahasa Arab, laboratuin bahasa Inggris, laboraturium fisika, laboraturium biologi, dan laboraturium matematika).
e) Fasilitas lain untuk kebutuhan santri seperti: mini market, bank, ATM, tabungan santri, klinik Darunnajah, production house, koperasi putri, koperasi putra, guest house (penginapan).
7. Sistem Pendidikan
Sistem pendidikan di Pondok Pesantren Darunnajah disebut dengan Tarbiyatul Mu‟alimin wal Mu‟allimat al-Islamiyah (TMI) selama 6 (enam) tahun yang setara dengan Madrasah Tsanawiyah (Mts) dan Madrasah Aliyah (MA). Pada jenjang menengah atas, para santri dapat memilih jenjang pendidikan: Madrasah Aliyah (MA) Program Studi IPS dan Keagamaan dan Sekolah Menengah Atas/ (SMA) Program Studi IPA. Semua jenjang pendidikan Mts, MA dan SMA sudah terakreditasi A.
Sejak tahun 1989, TMI Darunnajah telah mendapatkan mu‟adalah (persamaan)dari Universitas Madinah Saudi Arabia, Universitas al-Azhar Cairo Mesir, UIA Malaysia, Uni Emirat Arab, Pakistan, Yordania serta menjalin kemitraan dengan beberapa lembaga di Timur Tengah atau Eropa.2
B. Analisis Data
1. Penyelenggaraan OSIS di Pondok Pesantren Darunnajah
Pondok pesantren darunnjah merupakan salah satu pondok pesantren modern di Indonesia yang telah melahirkan banyak alumni yang sukses dibidangnya masing-masing. Sistem pendidikan dan pengajaran yang diterapkan adalah penggabungan antara sistem pondok pesantren dengan
2Tim Redaksi, Buletin Darunnajah Edisi Khusus 54 Tahun Darunnajah 1961-2015
pendidikan nasional. Sistem ini lebih dikenal dengan Tarbiyatul Mu’allimin/
mu’allimat al Islamiyah (TMI), TMI adalah sistem pengajaran yang khas dikembangkan oleh Pondok Pesantren Darunnajah yang fokus menyiapkan kader pemimpin agama Islam yang diadopsi dari sistem pendidikan dan pengajaran di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo.
Santri Pondok Pesantren Darunnajah berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dari sabang sampai marauke. Beberapa santri juga berasal dari Negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, Timor Leste, dan Brunei Darussalam.Semua santri diwajibkan untuk tinggal di asrama yang disediakan. Pondok Pesantren Darunnajah mengamalkan 24 jam pendidikan.
Pagi hari santri belajar secara formal di kelas, setelah itu santri belajar non- formal, seperti kepemimpinan, organisasi, ekstrakulikuler, dan sebagainya.
Dalam mengatur seluruh aktivitas siswa selama 24 jam di dalam Pondok, tentunya ada sebuah orgasnisasi siswa, yaitu Organisasi Santri Darunnjah (OSDN) atau kita lebih mengenalnya dengan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) disekolah pada umumnya.”OSDN adalah salah satu wadah terselenggaranya aktivitas dan wadah untuk menampung kreativitas para santri. Pengurusnya santri-santri kelas akhir (kelas VI) Tarbiyatul Mu’allimin/ mu’allimat al Islamiyah.3 sebagaimana yang disampaikan oleh Emah Maziyah, M.Pd. selaku ketua biro pengasuhan santri putri
Jadi di Darunnajah itu kan sebutan untuk OSIS sendiri bukan OSIS tetapi OSDN yaitu Organisasi Santri Darunnajah, yang dimana didalam Organisasi itu mempunyai banyak bagian dan setiap bagian memiliki tugasnya masing-masing untuk mengatur santri-santri dari kelas 1-5.4
3 Dikutip dari Panduan Santri Baru Pondok Pesantren Darunnajah 2018/2019. hlm. 44
4 Wawancara dengan Emah Maziyah, ketua Biro Pengasuhan Santri Putri Pondok Pesantren Darunnajah (13 Agustus 2018, 16.30 WIB) di Kantor Pengasuhan Santri Putri.