• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Inklusif/Bhineka Tunggal Ika

Dalam dokumen Merajut Kebhinekaan dalam Pendidikan Inklusif (Halaman 113-119)

1. Memberi ruang untuk murid berkebutuhan khusus.

2. Melibatkan semua pihak untuk belajar.

3. Memahami tiap anak unik.

4. Memandang perbedaan sebagai hal keragaman dalam kebhinekaan.

5. Berbagi praktik baik bersama.

6. Melibatkan siswa dalam pengambilan kebijakan.

7. Kolaborasi antar sektor.

8. Adaptif terhadap perubahan.

9. Guru menjadi pendengar yang baik.

10. Belajar dari tantangan dan keunikan kelas.

11. Lingkungan sekolah yang empati.

12. Sistem pembelajaran, pengajaran, kurikulum, sarana dan prasarana, serta sistem penilaian mengakomodasi kebutuhan anak berkebutuhan khusus.

13. Siswa dapat beradaptasi dan menerima pendidikan sebaik mungkin.

14. Mendorong siswa untuk lebih percaya diri/berkarakter.

15. Meluaskan kesempatan belajar dan menjalin persahabatan bersama teman sebaya.

16. Sekolah membimbing siswa bisa terlatih dan terdidik untuk dapat menghargai, menghormati, dan menerima satu sama lain dengan penuh empati.

Siang itu SD Ja harjo II mengadakan rapat lintas sektor. Kepala Sekolah, Pak Suwita, Guru Sumardi, Bu Marsi , Bu Yatmi, Bu Susi dan beberapa guru sibuk mempersiapkan acara. Hadir pula Komite Sekolah dan orang tua calon siswa.

Beberapa bulan terakhir memang Tim Pe- nyusun Buku selalu disibukan dengan rapat dan pertemuan (baik formal maupun informal). Tema rapat kali ini adalah membuat tahapan rancangan penyelenggaraan pendidikan Inklusif di Sekolah Dasar Ja harjo II.

Hadir pada rapat pengawas sekolah, pihak kecamatan dan kepala-kepala dusun di sekitar SD Ja harjo II. Tak lupa, Pak Suwita juga mengundang Kepala-kepala desa pada zonasi sekolahnya.

Kolaborasi Merancang Sekolah Penyelenggara

Pendidikan Inklusif

Menurut Pak Suwita, ini dimaksudkan untuk mendorong pemerintah desa untuk lebih ak f mem- perha kan kebutuhan pendidikan bagi anak-anak di desa, turut membantu mengubah s gma masyarakat tentang penyandang disabilitas, dan mengeluarkan regulasi maupun kebijakan-kebijakan yang menga- komodasi kebutuhan penyandang disabilitas.

Jam 8.30 WIB rapat dimulai. Pak Suwita selalu Kepala Sekolah memberikan sambulan yang pertama.

“Bapak/Ibu yang terhormat, senang sekali kita bisa bertemu kembali pada acara rapat yang kesekian kalinya. Semoga kita tetap diberikan kesehatan.”

“Pertemuan kali ini kita akan membahas per- soalan menarik, yaitu bagaimana kita merancang dan mensukseskan penyelenggaraan pendidikan Inklusif di sekolah kita.”

“Ada beberapa hal yang perlu kita uraikan dalam pertemuan kali ini. Dari mana memulai pengembangan pendidikan inklusif? Apakah dari ketersediaan sarana prasarana? Apakah dari keter- sediaan guru dengan latar belakang pendidikan khusus? Apakah dari surat keputusan atau surat penunjukan sebagai sekolah inklusif? Ataukah dari adanya siswa berkebutuhan khusus di sekolah? “.

“Pertanyaan-pertanyaan tersebut menanda-

kan pen ngnya petunjuk prak s bagi sekolah yang akan mengembangkan sekolah menjadi lebih ink- lusif.” Begitu Pak Suwita membuka pembicaraan.

“Selanjutnya silahkan Pak Sumardi selaku ketua Tim memberikan paparanya dan temuannya”

kata Pak Suwita.

“Baik Pak,” Jawab Pak Sumardi sambil mulai membuka beberapa tayangan yang sudah dia per- siapkan.”

“Bapak/Ibu, Dua tokoh pendidikan inklusif Tony Booth dan Mel Ainscow melalui bukunya Index for Inclusion Developing Learning and Par cipa on in Schools, membuat seperangkat materi untuk men- dukung sekolah secara bertahap mengembangkan diri menjadi lebih inklusif.

Tahapan-tahapan berikut ini disarikan dari buku kedua tokoh tersebut, yang dapat diiku oleh se ap sekolah.” Jelas Sumardi.

“Hal pertama, yang pen ng untuk menjadi catatan kita semua. Calon sekolah penyelenggaran pendidikan Inklusif harus membangun Komitmen.”

“Kenapa ini pen ng?”

“Kebersamaan niat atau komitmen dari pe-

mangku kepen ngan di sekolah merupakan langkah awal yang sangat mendasar dalam mengembangkan pendidikan inklusif.”

“Oleh karenanya menumbuhkan kesadaran semua warga sekolah, yaitu guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, orang tua, komite, siswa, untuk bersama-sama mengambil bagian sesuai peran dan tugasnya dalam pengembangan pendidikan inklusif.”

“Pendidikan inklusif bukan hanya tugas satu atau dua orang guru yang ditunjuk atau ditugaskan oleh sekolah, akan tetapi tanggung jawab semua pihak, termasuk tokoh masyarakat atau aparat pe- merintahan desa setempat.” Terang Pak Sumardi.

“Pada persoalan awal ini, membangun komit- men dari warga sekolah dapat dilakukan melalui beberapa cara, diantaranya adalah:

“Secara organisatoris agar memudahkan pro- ses kerja, sangat disarankan sekolah membentuk m atau kelompok kerja yang ber ndak sebagai motor atau penggerak pengembangan sekolah inklusif.

Dengan adanya m atau kelompok kerja di ngkat sekolah maka akan jelas penanggung jawab dan pelaksana program-program pengembangan pen- didikan inklusif.” Jelas Pak Sumardi.

“Nah, pada pokok persoalan ini, SD kita sudah membuat langkah ini, membuat Tim Kerja, dimana Tim ini mempersiapkan dari awal segala kebutuhan dan kelengkapan yang berhubungan dengan per- siapan penyelenggaraan.”

“Bagaimana? Sampai disini saya kira Bapak/

Ibu paham ya?”

Para peserta rapat menjawab.

“Paham Pak, monggo dilanjutkan.”

1

Diskusi atau curah pendapat tentang pendidikan inklusif;

2

Diskusi dengan mendengarkan secara langsung harapan orangtua yang memiliki anak dengan gangguan fungsi;

3

Diskusi dengan mendengarkan pengalaman anak dengan gangguan fungsi;

4

Diskusi mendengarkan pengalaman guru

atau kepala sekolah yang berpengalaman dalam menangani anak dengan gangguan fungsi.

5

Diskusi melibatkan semua pihak, mitra strategis lain dalam upaya saling membangun dukungan.

“Saya jelaskan pelan-pelan njih…

“Pada bagian kedua, setelah adanya komit- men bersama untuk menjadi sekolah yang lebih inklusif, yaitu melakukan telaah diri (Selfreview).

Telaah diri atau kadang disebut juga dengan asesmen diri atau evaluasi diri dilakukan oleh sekolah untuk menilai apa saja yang sudah dicapai atau apa saja yang perlu disiapkan lebih lanjut dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif.”

“Kenapa fase ini menjadi pen ng?” Tanya Pak Sumardi.

Bu Landri yang sedari tadi mencatat men- jawab.

“Iya Pak, karena dari evaluasi/telaah diri (selfreview) itu kita dapat mengukur. Ada di posisi mana sekolah kita dan kesiapan guru-guru khusus- nya. Karena pelaksanaan pendidikan inklusif mem- butuhkan support system yang kuat dan saling men- dukung.”

Support system yang dibutuhkan bukan hanya dukungan dana dan sumber daya dari pe- merintah, namun juga keterlibatan semua pihak dan stakeholder terkait. Adapun seluruh pihak yang dimaksud yaitu sekolah (kurikulum, sarana prasarana yang mendukung), guru, siswa, orang tua, dan masyarakat.” Jawab Bu Landi.

“Betul sekali Bu, telaah diri ini menjadi pen ng agar kita paham kedudukan dan peran tanggung jawab seper apa yang akan kita emban dan kembangkan nan di sekolah penyelenggaraan inklusif.” Jawab Pak Sumardi.

“Dalam melakukan telaah diri dibutuhkan instrumen sebagai acuan sehingga mudah melihat posisi sekolah seper apa. Instrumen berikut me- ngacu pada indikator-indikator yang disarankan oleh Tony Booth dan Mel Ainscow, yang lazim disebut dengan indeks pendidikan inklusif.” Jelas Pak Sumardi.

“Dan yang paling pen ng dari serangkaian proses itu adalah proses penerimaan peserta didik.

Penerimaan peserta didik, perlu diperha kan masalah iden fikasi untuk memperoleh siswa yang mengalami gangguan/keterbatasan, baik secara fisik, intelektual, sosial, perilaku, maupun secara emosional.”

Menurut Pak Sumardi, “Proses iden fikasi dilakukan untuk tujuan (a) penjaringan kemungkinan siswa mengalami masalah belajar, (b) pengalihtangan /referal (c) klasifikasi, terkait dengan pengelompokan

jenis keterbatasan/gangguan yang dialami siswa, (d) perencanaan pembelajaran, terkait dengan pem- buatan program pembelajaran secara individual sesuai dengan gangguan yang dialami siswa, dan (e) monitoring kemajuan belajar, terkait dengan evaluasi program yang sudah dilaksanakan.”

Sebagai contoh, dari aksi pendataan atau penjaringan yang sudah dilakukan, diperoleh be- berapa kesepakatan dan rencana ndak lanjut atau rencana aksi berikutnya.”

Dalam dokumen Merajut Kebhinekaan dalam Pendidikan Inklusif (Halaman 113-119)