menurunkan frekuensi kesulitan berperilaku dan meningkatkan kognitif pada siswa sekolah dasar. Selain terapi musik mozart adapula sejenis seperti terapi alqur’an yang dapat dijadikan alternatif yang aman dan terbukti lebih efektif.79
rendah, pendidikan yang buruk, peningkatan kriminalitas pada orang tua, penggunaan zat pada orang tua, penurunan dukungan masyarakat, prestasi sekolah yang buruk atau struktur keluarga yang buruk.
2. Sarkhel, S dkk. (2006). Prevalence of Conduct Disorder in Schoolchildren of Kanke. Indian Journal Of Psychiatry, 48, 159-164.
Penelitian ini membahas tentang 4 kategori utama bentuk perilaku yang dilakukan anak dengan penyandang tunalaras (Conduct Disorder). Adapun bentuk perilaku tersebut adalah agresi terhadap manusia dan hewan, perusakan property, penipuan atau pencurian dan pelanggaran serius terhadap aturan. Diagnosa mulai ditegakkan ketika terdapat 3 kriteria yang muncul selama 1 tahun terakhir, setidaknya 1 kriteria dalam 6 bulan terakhir.
Gangguan dalam perilaku harus menyebabkan kerusakan yang signifikan secara klinis dalam fungsi sosial, akademik, atau pekerjaan. Jika individu berusia 18 tahun atau lebih, kriteria gangguan kepribadian antisosial tidak boleh terpenuhi.
3. Tappeh, H dkk (2010). Prevalence Of Intestinal Parasitic Infections Among Mentally Disabled Children and Adults of Urmia, Iran. Iranian J Parasitol, 5, No. 2, 60-64.
Penelitian ini mengulas hal yang umum mengenai prevalensi infeksi parasit usus pada pasien retardasi mental di Urmia, Iran. Retardasi mental adalah gangguan perkembangan inteligensi, disebabkan oleh gangguan sejak di kandungan sampai masa perkembangan dini sekitar lima tahun. Infeksi akibat parasit tersebut menyerang sistem pencernaan dan mempengaruhi fungsi otak sehingga anak akan mengalami hambatan pada perkembangannya. Hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi parasit usus pada pasien dengan meningkatkan pembinaan, perawatan dan menciptakan suatu keadaan yang baik di
disabilitas agar selalu mendapat sosialisasi serta kontrol dalam kesehatan agar dapat melindungi diri dari infeksi parasit.
4. Jain, M. (2009). Oral Health Status of Mentally Disabled Subjects in India. Journal of Oral Science, 51, No. 3, 333- 340.
Penelitian ini membahas tentang status kesehatan mulut dan hubungannya dengan berbagai variabel sosio- demografi seperti usia, jenis kelamin, pendidikan orang tua, pendapatan dan klinis pada anak penyandang difabel. Anak dengan penyandang keterbelakangan mental biasanya berada pada status pendidikan dan IQ yang rendah. Rata-rata sebagian besar anak-anak dengan retardasi mental memiliki masalah dalam kesehatan mulut. Menurut penulis hal yang dapat dilakukan oleh orang tua agar kesehatan mulut anak lebih baik dan terjaga ialah dengan cara mengkonsumsi makanan yang sehat dan tidak menyebabkan gigi berlubang, sariawan, bau mulut dan sakit gigi.
Referensi
Cahyati, N. 2019. Permainan Ritmik bagi Perkembangan Sosial Emosional Anak Tunagrahita Ringan. Jurnal Golden Age Universitas Hamzanwadi, 3(2), 116-125.
Crider, H., Malhotra, K., & Singh, G. 2018. Aggression and Conduct Disorder in Young Children. A Case Report.
Journal of Biosciences and Medicines, 6, 57-61.
Desinigrum, D. R. 2016. Psikologi Anak Berkebutuhan Khusus.
Yogyakarta: Psikosain.
Efendi, M. 2006. Pengantar Psikopedagogik Anak Bekelainan.
Jakarta: PT Bumi Aksara.
Jain, M., Mathur, A., Sawla, L., Choudhary, G., Kabra, K., Duraiswamy, P., et al. 2009. Oral Health Status of
Mentally Disabled Subjects in India. Journal of Oral Science, 51(3), 333-340.
Komariah, F. 2018. Program Terapi Sensori Integrasi bagi Anak Tunagrahita di Yayasan Miftahul Qulub. Journal of Disability Studies, 5(1), 46-72.
Kusmawati, A., Hadi, C., & Putra, B. A. 2018. Terapi Al-Quran pada Siswa Tunalaras. Jurnal Sains Sosial dan Humaniora, 2(1), 55-67.
Mahabbati, A. 2014. Pola Perilaku Bermasalah dan Rancangan Interpensi pada Anak Tunalaras Tipe Ganguan Perilaku (Conduct Disorder) Berdasarkan Functional Behavior Assesment. Dinamika Pendidikan, 21(1), 1-21.
Padila, Setiawati, Inayah, L., Mediani, H. S., & Suryanigsi, C.
2020. Emosi dan Hubungan Antar Sebaya pada Anak Tunalaras Usia Sekolah Antara Terapi Musik Klasik (Mozart) dan Murrotal (Surah Ar-Rahman). Jurnal Keperawatan Silampari, 3(2), 752-762.
Rini, I. R. 2010. Mengenali Gejala dan Penyebab dari Conduct Disorder. Psycho Idea, 8(1), 1-17.
Rohmawati, U. B. 2017. Peran Keluarga dalam Mengurangi Gangguan Emosional pada Anak Berkebutuhan Khusus.
Jurnal Pendidikan Islam, 2(2), 108-127.
Sarkhel, S., Sinha, V. K., Arora, M., & DeSarkar, P. 2006.
Prevalence of Conduct Disorder in Schoolchildren of Kanke.
Indian Journal of Psychiatry, 48(3), 159-164.
Sunarya, P. B., Irvan, M., & Dewi, D. P. 2018. Kajian Penanganan Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus. Abadimas Adi Buana, 2(1), 11-19.
Sutinah. 2019. Terapi Bermain Puzzle Berpengaruh terhadap Kemampuan Memori Jangka Pendek Anak Tunagrahita.
Jurnal Endurance, 4(3), 630-640.
Tappeh, H., Mohammadzadeh, Rahim, N., Barazesh, Khashaveh, & Taherkhani. 2010. Prevalence of Intestinal Parasitic Infections among Mentally Disabled Children and Adults of Urmia, Iran: Iranian J Parasitol, 5(2), 60-64.
BAGIAN 7
DOWN SYNDROME
“Jangan pernah mengeluh atas kekuranganmu karena kekurangan mengingatkanmu untuk terus mencari kekuatan yang ada dalam
dirimu”
A. Pengertian Down Syndrome
Salah satu pengertian menurut Sulastowo mendefinisikan Down Syndrome atau sindrom down ialah kelainan kromosom, yaitu terbentuknya kromosom 21 (trisomy 21) akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan. Down Syndrome pertama kali dikenal oleh Dr. John Longdon Down pada tahun 1866, karena ciri-cirinya yang unik, contohnya tinggi badan yang relatif pendek, kepala mengecil, hidung yang datar menyerupai orang Mongolia, Amerika dan Eropa. Gangguan yang juga termasuk dalam kondisi cacat sejak lahir seperti retardasi mental, perbedaan fisik tertentu seperti bentuk wajah yang sedikit datar dan meningkatnya beberapa resiko pada kondisi medis termasuk gangguan hati, cacat yang berhubungan dengan usus dan kerusakan visual atau pendengaran.80
Definisi lain dari Batshaw tentang anak Down Syndrome merupakan salah satu anak berkebutuhan khusus yang mana merupakan suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental pada anak yang disebabkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom, disertai dengan pada umumnya mempunyai kelainan yang lebih dibandingkan anak cacat lainnya, terutama intelegensinya.81 Pada saat ini Down Syndrome merupakan cacat (abnormalitas) kelahiran yang paling banyak dijumpai dengan frekuensi satu dalam 600 kelahiran hidup,
80 Rina, A. P. Meningkatkan Life Skill pada Anak Down Syndrome dengan Teknik Modelling. Persona, Jurnal Psikologi Indonesia, 5(03), 215-225. (2016, September).
81 Mirawati, Trisnawati, & Arsyad, K. Distribusi Jumlah Anak Dengan Down Syndrome Pada Dua Kelompok Usia Ibu di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC)
akan tetapi hal ini tidak tergantung dari bangsa, kedudukan, atau keadaan sosial orang tua.82
Sindrom Down adalah suatu kelainan genetik dibawah sejak bayi lahir,terjadi ketika saat masa emberio (cikal bakal bayi) disebabkan kesalahan dalam pembelaan sel yang disebut
“nondisjunction” emberio yang biasanya menghasilkan dua salinan kromosom 21,pada kelainan sindrom down menghasilkan salinan 3 kromosom 21 akibatnya bayi memiliki 47 kromosom bukan 46 kromosom seperti lazimnya.83