• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengecekan Keabsahan Penelitian

Dalam dokumen MAHASISWA PAI ANGKATAN 2019 IAIN PONOROGO (Halaman 59-63)

BAB III METODE PENELITIAN

G. Pengecekan Keabsahan Penelitian

Pengujian validitas data dalam penelitian seringkali hanya berfokus pada pengujian validitas dan reliabilitas. Dalam penelitian kualitatif, desain penelitian sejak awal tidak sekaku penelitian kuantitatif. Isu-isu yang teridentifikasi dapat berubah setelah kunjungan lapangan karena isu-isu penting dan mendesak daripada isu-isu yang teridentifikasi, atau mungkin terbatas pada beberapa isu yang telah dirumuskan sebelumnya, serta selama observasi dan wawancara.

Untuk mempertimbangkan data penelitian kualitatif sebagai penelitian ilmiah, perlu dilakukan pengecekan keabsahan data. Teknik pengujian keabsahan data adalah sebagai berikut: Pengujian kredibilitas data atau kredibilitas data hasil penelitian kualitatif dilakukan dengan cara perpanjangan observasi kesinambungan penelitian dan triangulasi.12

1. Perpanjangan Pengamatan

Dengan memperluas observasi, peneliti akan kembali ke lapangan, melakukan observasi, mewawancarai kembali narasumber yang sudah

11Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D, 247-253.

12Umar Sidiq, et al., Metode Penelitian Kualitatif Di Bidang Pendidikan (Ponorogo: Nata Karya, 2019), 90.

ditemui atau yang baru di sini. Seiring dengan berkembangnya pengamatan ini, hubungan antara penyidik dan informan menjadi semakin akrab, akrab (tanpa jarak), terbuka dan saling percaya, sehingga tidak ada informasi yang tersembunyi. Waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan pengamatan ini tergantung pada kedalaman, luasnya dan keandalan data. Dengan memperluas kerangka pengamatan untuk memeriksa kredibilitas data, penelitian ini harus fokus pada penelaahan data yang dikumpulkan dan memverifikasi bahwa data yang dikumpulkan telah diverifikasi di lapangan.

Jika datanya benar, yaitu kredibel, periode tindak lanjut dapat dihentikan.

Untuk membuktikan benar atau tidaknya peneliti telah melakukan pemeriksaan kredibilitas dengan observasi yang mendalam, akan lebih baik jika dibuktikan dengan pernyataan perpanjangan.

2. Meningkatkan Ketekunan

Kegigihan observasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data berdasarkan “derajat kegigihan kegiatan observasi yang dilakukan oleh peneliti”. Perbaikan berkelanjutan berarti pengamatan yang lebih hati-hati dan terus menerus. Dengan cara ini, determinisme data dan jalannya peristiwa dapat direkam secara deterministik dan sistematis.

3. Triangulasi

Triangulasi dalam tes kreativitas ini diartikan sebagai pemeriksaan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan waktu yang berbeda, dengan penjelasan sebagai berikut :

a. Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber dilaksanakan untuk menguji kredibilitas data dengan cara memeriksa data yang diperoleh dari berbagai sumber.13 b. Triangulasi Teknik

Teknik triangulasi dilengkapi dengan penggunaan teknologi yang berbeda untuk meneliti sumber data yang sama untuk menguji keabsahan data.

c. Triangulasi Waktu

Triangulasi waktu juga kerap mengikis kredibilitas data. Di pagi hari, ketika informan masih segar, tidak banyak masalah dengan data yang dikumpulkan oleh teknologi wawancara, dan data yang disediakan lebih efisien sehingga lebih kredibel. Oleh karena itu, untuk menguji kredibilitas data, wawancara, observasi atau teknik lain dapat diperiksa pada waktu yang berbeda atau dalam situasi yang berbeda.14

H. Tahap Penelitian

Peneliti akan melaksanakan sesuatu penelitian dengan berbagai tahap yang harus dipenuhi, diantaranya:

1. Pengajuan proposal

Proposal ini direpresentasikan sebagai awal dari kegiatan penelitian peneliti. Dengan menerima proposal yang diajukan, peneliti telah mendapat izin untuk melakukan penelitian.

13Choiri, Metode Penelitian Kualitatif Di Bidang Pendidikan, 95.

14Choiri, Metode Penelitian Kualitatif Di Bidang Pendidikan, 98.

2. Terjun kelapangan

Setelah proposal diterima oleh pihak yang berwenang, peneliti memulai penelitian lapangan dengan menggunakan metode dan langkah-langkah yang telah disiapkan.

3. Mengolah serta menganalisis data

Setelah peneliti melakukan semua langkah di atas dan memperoleh data yang diperlukan dari informan, peneliti dapat mengolah data yang ditemukan untuk dijadikan sebagai hasil dan menarik kesimpulan tanpa mengurangi atau menambah jawaban informan.15

15Bugnin Burhan, Metodelogi Penelitian Sosial: Format-Format Penulisan Penelitian Kualitatif Dan Kuantitatif (Surabaya: Airlangga Press, 2001), 129.

54 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Latar Penelitian

1. Sejarah Berdirinya Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

IAIN Ponorogo berdiri pada tanggal 1 Februari 1968 yang dipelopori oleh ide dari KH. Syamsuddin dan KH. Chozin Dawoedy.

Selang beberapa tahhun kemudian diresmikan dalam bentuk negeri menjadi fakultas syaria Ponorogo IAIN Sunan Ampel yang dipimpin oleh R.M.H Aboe Amar Syamsuddin pada tanggal 12 Mei !970.akademi ini kemudian semakin tumbuh dan berkembang dengan mengadakan program Sarjana Lengkap dengan membuka jurusan Muammalah jinayah dan Qodlo’.1

Seiring dengan berkembangnya akademi ini, telah terjadi pula perpindahan lokasi. Setelah mengalami beberapa perpindahan, lokasi kampus akhirnya menetap di Jalan Pramuka 156 Desa Ronowijayan Kecamatan Siman Kabupaten Ponorogo. Di lokasi ini kampus berkembang cukup pesat, dan pada tahun 1997 kampus ini berubah status menjadi perguruan tinggi negeri menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ponorogo. Bahkan beberapa tahun kemudian semakin berkembang dan statuusnya meningkat menjadi Intsitut Agma Islam Negeri Ponorogo di tahun 2016.

1Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Ponorogo, Manual Mutu Institut Agama Islam Negeri Ponorogo (Ponorogo: LPM IAIN Ponorogo, 2018), 1.

Tuntutan pengembangan dan penyelenggaraan pendidikan tinggi tersebut berujung pada dikeluarkannya Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 11 Tahun 1997 tentang Pendirian Sekolah Tinggi Islam Negeri. Sejak saat itu, seluruh fakultas Institut Agama Islam Nasional di luar kampus utama berganti nama menjadi Institut Agama Islam Nasional (STAIN) dan tidak lagi menjadi bagian dari Institut Agama Islam Nasional (Surabaya) Sunan Ampel. STAIN adalah entitas yang otonom dan mandiri di lingkungan Kementerian Agama.

Upacara yang diadakan oleh Menteri Agama RI di Jakarta menjadi simbol peresmian terkait perpinndahan status tersebut. Dengan dilaksanakannya upacara peresmian ini, terjadi pemisahan secara ootomatis beserta beralihnya prinsip antara setiap kepala Institusi tersebut. Oleh karena itu, sejak tahun 1997-1998 semua urusan mulai dari ketenagaan dan hal lainnya diatur oleh masing-masing STAN..2

STAIN Ponorogo yang berdiri sejak tanggal 21 Maret 1997 ini merupakan salah satu fakultas daerah dari fakultas Syari'ah Negeri Sunan Ampel berlokasi di Ponorogo dan berubah nama menjadi Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri. Perubahan tersebut menjadikan kampus ini dapat membuka tiga jurusan yaitu Jurusan Syari'ah, Jurusan Tarbiyah, dan Jurusan Ushuluddin.

Berdasarkan perpres 75 tahun 2016, STAIN Ponorogo telah sah menjadi IAIN Ponorogo. Hal ini bertujuan untuk menciptakan pendidikan

2 Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Ponorogo, Manual Mutu Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, 5.

yang profesional dan akademik dalam pengetahuan saja,namun juga lebih luas lagi. Keberadaan prodi di lingkungan IAIN Ponorogo mengalami peningkatan tidak hanya dari segi kuantitas, namun juga mengalamim peningkatan kualitas. Di tahun 2015 diadakan akreditas terhadap program studi yang baru maupun reakreditasi program studi lama. Dan melalui proses tersebut diperoleh lima program studi baru terakreditasi B dan program studi lama juga terakreditasi B. Di tahun berikutnya, STAIN Ponorogo memperoleh akreditasi B dari BAN-PT sesuai SK Nomor:

1146/SK/BAN PT/Akred/PT/VII/2016. Kerena perubahan dari STAIN Ponorogo menjadi IAIN Ponorogo maka dilakukan penilaian ulang oleh BAN PT yang memperoleh predikat B.3

2. Letak Geografis Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

IAIN Ponorogo merupakan satu-satunya kampus Negeri yang berada di Ponorogo, Jawa Timur. Kampus ini terletak di jalan Pramuka No.

156 Ronowijayan Siman Ponorogo.

3. Visi, Misi, dan Tujuan Institut Agama Islam Negeri Ponorogo a. Visi Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Sebagai Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu Keislaman Yang Unggul Dalam Rangka Mewujudkan Masyarakat Madani.

b. Misi Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

1) Menghasilkan sarjana di bidang ilmu-ilmu keislaman yang unggul dalam kajian materi dan penelitian.

3 Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Ponorogo, Manual Mutu Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, 6.

2) Menghasilkan sarjana yang mampu mewujudkan civil society.

3) Menghasilkan sarjana yang berkarakter dan toleran.

c. Tujuan Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

1) Memberikan akses Pendidikan Tinggi Keislaman kepada masyarakat dengan tata kelola yang baik.

2) Menyiapkan human resources yang terdidik.

3) Menghasilkan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang berkualitas.4

4. Keadaan Dosen dan Mahasiswa a. Keadaan Dosen

Dosen memiliki peran yang begitu penting dalam proses pembelajaran. Maka dari itu keadaan dosen harus di perhatikan. Jumlah dosen pada jurusan PAI terhitung pada tahun akademik 2022 sebanyak 475. Dengan rincian dosen tetap PNS IAIN ponorogo sebanyak 22, dosen berstatus Dosen Non Tetap PNS sebanyak 16, Dosen Luar Biasa sebanyak 46 dan dosen mahad sebanyak 9 dosen. Dengan perincian ada di lampiran.5

b. Keadaan Mahasiswa

Mahasiswa adalah salah satu komponen penting dalam proses pendidikan pada sebuah institusi. Jumlah mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam Angkatan 2019 di IAIN Ponorogo sebanyak 434 mahasiwa. Terdiri dari mahasiswa laki-laki sejumlah 127

4 Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Ponorogo, Manual Mutu Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, 8.

5Lihat Transkrip Keadaan Dosen

mahasiswa dan mahasiswa perempuan sejumlah 307 mahasiswa.

Adapaun mahasiswa jurusan PAI yang masih aktif sampai saat ini sejumlah 434 mahasiswa. Dengan perincian ada di lampiran.6

5. Sarana dan Prasarana Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Sarana dan prasarana adalah fasilitas yang mendukung proses pembelajaran sehingga memenuhi tujuan capaian mutu pembelajaran di IAIN Ponorogo.. Sarana dan prasarana di IAIN Ponorogo dikelola dengan sifaft terpusat dan terpadu dengan prinsip resource sharing, sehingga dengan mudah dapat diakses oleh semua prodi yang membutuhkan dengan ketentuan dalam pengelolaan dan pemanfatan sarana prasarana IAIN Ponorogo.

Dalam mengembangkan sarana dan prasarana, IAIN Ponorogo mengacu pada 5 tahun ke depan dalam menciptakan lulusan yang mampu bersaing baik di tingkat nasional maupun internasional dan memiliki skill yang kompatibel dalam dunia kerja serta perkembangan IPTEK. Dalam hal ini perencanaannya pun memerlukan penyesuaian dengan kurikulum, pengabdian, penelitian, dan pelayanan pada masyarakat. Sarana dan prasara harus digunakan secara efektif dan efisien oleh seluruh sivitas akademika IAIN Ponorogo.7

Dalam membantu kelancaran kproses belahar mengajar di Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, kampus ini memiliki tanah seluas 31.540

6Lihat Transkrip Keadaan Mahasiswa

7LPM IAIN Ponorogo, Standar Mutu Internal Pendidikan Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, 2018, 39.

meter persegi yang menjadi bangunan gedung seluas 22.084 meter persegi dan sisanya untuk praktikum.

B. Deskripsi Data

1. Proses Pembelajaran Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan Pada Mahasiswa PAI Angkatan 2019 IAIN Ponorogo

Etika profesi keguruan merupakan salah mata kuliah yang diberkan kepada mahasiswa semester enam jurusan Pendidikan Agama Islam di Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Etika profesi keguruan ini merupakan Mata kuliah yang mengembangkan kepribadian dan bersifat mendasar untuk membangun pandangan serta kesadaran dalan dunia pendidikan. Mata kuliah ini mempelajari tentang dasar ajaran moral untuk mendapatkan pemahaman sebagai bekal mahasiswa dalam memahami personal branding guru yang berkualitas.

Sebagaimana peneliti telah melaksanakan penjajagan observasi yang digunakan untuk mengetahui proses pembelajaran mahasiswa tentang pembelajaran Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan pada mahasiswa PAI angkatan 2019. Penelitian ini diawali dengan pengamatan peneliti yang berkolaborasi dengan Dosen Etika Profesi Keguruan pada proses pembelajaran Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan, khususnya pada materi etika berpakaian.

Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana etika berpakaian Islami mahasiswa PAI angkatan 2019 sebelum dan sesudah mendapatkan Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan. Dari hasil

pengamatan tersebut diperoleh gambaran tentang proses pembelajaran sebelum dilaksanakannya mata kuliah tersebut yakni adalah dengan penyusunan pedoman perkuliahan Etika Profesi Keguruan. Pedoman perkuliahan merupakan ujung tombak dalam penyelenggaraan perkuliahan etika profesi keguruan dalam membina etika berpakaian Islami pada mahasiswa PAI angkatan 2019.

Sebagaimana dalam berlangsungnya Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan dosen melakukan pengembangan Rencana Pembelajaran Semester (RPS). Proses ini lakukan oleh tim dosen pengampu mata kuliah etika profesi keguruan untuk menganalisis kompetisi minimal mata kuliah etika profesi keguruan. Dalam hal ini akan menyesuaikan dengan kalender akademik agar dapat ditindak lanjuti dengan menganalisis RPS mata kuliah ini sehingga dapat menghasilkan RPS Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan.

Sebagai salah satu mata kuliah yang penting, Etika Profesi Keguruanini diberikan kepada mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam juga mempunyai capaian tujuan yang tidak hanya sebatas pertemuan antara mahasiswa dan dosen saja di dalam kelas diskusi dan lainnya, akan tetapi diharapkan juga mahasiswa mampu mempraktikkan sesuai tujuan dari Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan.

Seperti yang diungkapkan oleh salah satu dosen Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan Institut Agama Islam Negeri Ponorogo Ibu Zahra Nugraheni, M.Pd bahwa mata kuliah Etika Profesi Keguruan ada untuk

memberikan bekal pada mahasiswa Jurusan Pendidikan Angama Islam Angkatan 2019

“Tujuan adanya Mata kuliah Etika Profesi Keguruan ini membekali mahasiswa dengan konsep dasar etika profesi guru, etika profesi keguruan, dan konsep etika keguruan, hakikat dan kedudukan guru, serta kompetensi guru. Dengan demikian, diharapkan mahasiswa mampu menjadi guru professional dan dapat menghindari kesalahan yang sering dilakukan guru. Melalui mata kuliah ini diharapkan mahasiswa mampu mengaktualisaikan peran guru dalam pembelajaran dan ketrampilan dasar mengajar yang bertujuan membimbing keberhasilan peserta didik serta meningkatkan kualitas pembelajaran”8

Seperti yang telah dilaksanakan, Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan ini tentunya sangat penting bagi mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam Angkatan 2019 sebagai bekal mereka untuk menuju jalan yang diimpikan yakni menjadi seorang pendidik atau guru agama Islam.

Pembekalan yang diberikan pada mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam tidak hanya sebatas tujuan dari Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan saja, akan tetapi pembekalan tersebut juga melalui materi- materi yang ada di mata kuliah ini yang telah di rangkum sebagaimana mestinya.

Seperti yang diungkapkan oleh dosen Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan Institut Agama Islam Negeri Ponorogo Bapak Annas Ma’ruf, M.Pd.I bahwa dalam membekali mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam pada Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan ini materi-materi yang telah disetujui dari pihak Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Ponorogo.

8Lihat Transkrip Wawancara 01/W/22-01/2023

“Materi yang saya ajarkan pada Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan seperti guru sebagai tenaga kependidikan, status,sifat dan peran guru, standar kompetensi guru, kode etik guru indonesia, organisasi profesi keguruan, sertifikasi guru, pembinaan dan profesi guru, pembinaan PIGP dan PPG, PKG, UKG, KKG, cara mengajar yg ideal”9

Materi-materi yang telah dijelaskan oleh salah satu dosen yang mengampu Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan, tentunya sudah ada kesepakatan antara dua dosen lain yang juga mengampu mata kuliah ini, sehingga pihak Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan juga menyetujuinya.

Memperoleh pendidikan merupakan awal langkah seseorang untuk menuju kesuksesan. Untuk mencapai kesuksesan tersebut , kita juga mengemban tanggung jawab yang salah satunya adalah tugas.

Seperti yang diungkapkan oleh dosen Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan Institut Agama Islam Negeri Ponorogo Ibu Zahra Nugraheni, M.Pd bahwa dalam Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan pemberian tugas sudah ada kesepakatan antara dosen dan mahasiswa.

“Tidak, pemberian tugas dilakukan dengan asumsi bahwa semua mahasiswa mempunyai kemampuan yang homogen. Dal ini dilakukan dengan alasan bahwa mata kuliah ini tidak memerlukan keahlian khusus atau memerlukan adanya penguasaan materi prasyarat”10

Mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam Angkatan 2019 IAIN Ponorogo dalam mengerjakan tugas memiliki karakter yang berbeda-beda seperti ada yang langsung dikerjakan, ada juga yang menunggu dekat dengan tenggat waktu yang diberikan baru dikerjakan. Sehingga tidak

9Lihat Transkrip Wawancara 02/W/01-02/2023

10Lihat Transkrip Wawancara 01/W/22-01/2023

perlunya keahlian khusus dalam mata kuliah ini memang benar, yang terpenting adalah kemauan dari mahasiswa tersebut untuk mengerjakan.

Dalam rangka terjun langsung dan memparaktikkan materi sekaligus tugas yang telah diberikan, mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam juga sudah semestinya memahami akan materi-materi yang ada di Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan dan mempraktikkan materi etika berpakaian yang baik.

Seperti yang diungkapkan oleh dosen Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan Institut Agama Islam Negeri Ponorogo Bapak Zainur Rofikbahwa etika berpakaian adalah salah satu materi yang tertuang pada Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan.

“Lewat indikator terkait dengan pakaian yang sudah menjadi peraturan kampus bagi mahasiswa/mahasiswi. karena kebijakan tiap kampus itu berbeda-beda. dan fakultas tarbiyah juga punya kebijakan; seperti bagi perempuan tidak boleh pakai jeans dan dianjurkan pakai rok. itu bisa dilihat di etika berpakaian yang sudah ditetapkan oleh kampus”11

Etika adalah pedoman dalam bersikap yang di dalamnya berisi tentang garis besar nilai moral dan norma yang mencerminkan seseorang.

Dalam beretika berpakaian sebagai mahasiswa jurusan Pendididkan Agama Islam, sudah semestinya mengikuti peraturan kampus yang ada dan juga mencerminkan sebagai calon guru agama Islam.

Segala sesuatu yang bersifat penting bagi kehidupan kita sudah sepatutnya untuk kita kerjakan dengan fokus. Apa yang menjadi fokus kita akan menentukan penilaian dan sikap yang kita berikan. Seperti

11Lihat Transkrip Wawancara 03/W/02-02/2023

penilain yag dilakukan oleh dosen Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan kepada mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam setelah mendapatkan mata kuliah tersebut.

Seperti yang diungkapkan oleh dosen Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan Institut Agama Islam Negeri Ponorogo Bapak Zainur Rofikbahwa penilaian pada mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam angkatan 2019 perlu mempertimbangkan asepek-asepek yang telah ditetapkan.

“Menggunakan ujian dan pada aspek-aspek tertentu dapat menggunakan observasi dan angket pengukuran sikap, dan instrumen lainnya sesuai dengan keperluan. kebanyakan dengan menggunakan sistem Ujian. bahkan dosen sering bertanya langsung kepada mahasiswa secara acak untuk mengetahui penguasaan materi”12

Penilaian dalam pembelajaran pada Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan pada mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam IAIAN Ponorogo dilaksanakan setelah mahasiswa mendapatkan materi-materi yang telah dijelaskan dosen dan materi yang telah didiskusikan bersama antara dosen dan mahasiswa.

Demikian juga dengan catatan atau jurnal yang dimiliki oleh setiap dosen yang mengajar khususnya Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan.

Sudah semestinya setiap dosen mata kuliah tersebut memiliki catatan atau jurnal tentang apa saja kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing mahasiswa ketika pembelajaran Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan dilaksanakan.

12Lihat Transkrip Wawancara 03/W/02-02/2023

Seperti yang diungkapkan oleh dosen Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan Institut Agama Islam Negeri Ponorogo Ibu Zahra Nugraheni, M.Pd bahwa setiap dosen memiliki catatan tentang apa saja yang dilakukan mahasiswa Ketika pembelajaran Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan berlangsung.

“Ya, tentu saja. Catatan itu berupa catatan mahasiswa yg aktif dalam diskusi, catatan ini berisi mahasiswa yang menanggapi baik benar atau salah setiap pertanyaan yang muncul pada saat diskusi, catatan mahasiswa yangg terlambat atau tidak hadir”13

Dengan demikian, diharapkan mahasiswa mampu menjadi guru professional dan dapat menghindari kesalahan yang sering dilakukan guru.

Melalui Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan ini diharapkan mahasiswa mampu mengaktualisaikan peran guru dalam pembelajaran dan ketrampilan dasar mengajar yang bertujuan membimbing keberhasilan peserta didik serta meningkatkan kualitas pembelajaran.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh saudara Alfia Nuraini mahasiswa PAI angkatan 2019 IAIN Ponorogo tentang urgensi terkait Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan yang mengatakan bahwa:

“Urgensinya yakni dengan adanya mata kuliah etika profesi keguruan calon guru diharapkan mampu mengerti bagaimana mereka akan bertindak sebagai pengajar dengan etika yang baik sehingga dapat memberikan contoh atau teladan bagi siswanya nanti”14

Sebagai calon guru agama Islam yang notabennya akan menjadi panutan bagi siswa siswinya, tentunya mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam harus memperhatikan dalam segi tutur kata, sikap, sopan

13Lihat Transkrip Wawancara 01/W/22-01/2023

14Lihat Transkrip Wawancara 05/W/30-01/2023

santun, sampai gaya pakaian mereka yang akan mencerminkan sebagai calon guru agama Islam juga penting untuk diperhatikan.

2. Peran Dosen Etika Profesi Keguruan Sebagai Pendidik, Panutan Serta Pembimbing Dalam Membina Etika Berpakaian Islami Pada Mahasiswa PAI Angkatan 2019 IAIN Ponorogo

Dosen Etika Profesi Keguruan berperan dalam lingkungan kampus dimana memiliki kewajiban dalam pelaksanaan membimbing mahasiswa dalam upaya pembentukan pribadi yang berakhlak mulia, serta beretika baik di linkungan kampus, luar kampus hingga ke masyarakat. Dalam proses pendidikan para dosen khususnya Dosen Etika Profesi Keguruan sangat diharapkan agar bisa membimbing dan mengarahkan kepada mahasiswa, terutama dalam hal etika berpakaian Islamia tau sesuai dengan aturan agama Islam dalam kehidupan sehari-hari.Berpakaian yang baik sesuai dengan aturan mencerminkan kepribadian seseorang yang baik pula, meskipun tidak semua mahasiswa mampu menerapkan etika berpakaian yang baik sesuai ajaran Islam walaupun itu sudah dibimbing dan dibina di lingkungan kampus.

Peran Dosen Etika Profesi Keguruan di lingkungan kampus sangatlah di perlukan dalam membina etika berpakaian Islami yang sesuai dengan syariat Islam pada mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam angkatan 2019 yang pada tahun 2023 ini akan segera menyelesaikan studinya di kampus. Selain megajar Dosen Etika Profesi Keguruan juga diharapkan agar menanamkan nilai-nilai etika berpakaian pada

mahasiswa. Sebab pada era seperti sekarang ini banyak mahasiswa yang mengikuti trend dari busana yang press body sampai jilbab yang tidak menutup dada, sehingga aurat sudah berbentuk dan melanggar aturan yang sudah diajarkan dalam Islam.

Berdasarkan hasil observasi yang sudah dilaksanakan oleh peneliti di IAIN Ponorogo membina etika berpakaian Islami pada mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam angkatan 2019 dengan cara pembiasaan serta penyampaian materi terkait dengan etika berpakaian Islami. Sebab dengan adanya pembiasaan serta dibarengi dengan penyampaian materi terkaiat dengan etika berpakaian Islami dapat membantu mahasiswa akan kesadaran diri mereka dalam memperhatikan cara berpakaian mereka dengan sopan dan sesuai atauran agama Islam. Melalui cara pembiasaan serta materi yang diberikan pada mahasiswa terkait etika berpakaian Islami ini berupa pemberian contoh atau praktik serta penyampaian materi yang menyangkut dalam kehidupan sehari-hari, seperti etika berpakaian Islami.

Sebagaimana beberapa hasil wawancara dengan dosen Etika Profesi Keguruan IAIN Ponorogo Bapak Annas Ma’ruf, M.Pd.Imateri yang disampaikan pada mahasiswa PAI angkatan 2019 IAIN Ponorogo dalam membina etika berpakaian Islami di Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan mengatakan bahwa:

“Status, sifat dan peran guru, standar kompetensi guru, kode etik guru Indonesia”15

15Lihat Transkrip Wawancara 02/W/01-02/2023

Dalam dokumen MAHASISWA PAI ANGKATAN 2019 IAIN PONOROGO (Halaman 59-63)

Dokumen terkait