Bab IX Penutup
4. Pengeluaran Per Kapita Disesuaikan
Pengeluaran Per Kapita Disesuaikan di Kabupaten Wonogiri mengalami peningkatan dari Rp. 8.589,00 pada tahun 2016 menjadi Rp. 9.286,00 pada tahun 2020. Kinerja tersebut menunjukkan bahwa tingkat pengeluaran per kapita penduduk Kabupaten Wonogiri mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan taraf hidup masyarakat Kabupaten Wonogiri. Namun, jika dibandingkan dengan Provinsi Jawa Tengah, Pengeluaran Per Kapita Disesuaikan Kabupaten Wonogiri masih dibawah rata–rata Provinsi Jawa Tengah. Dimana di tahun 2020 pengeluaran per kapita Provinsi Jawa Tengah sebesar Rp. 10.930,00.
Sumber: BPS Kabupaten Wonogiri, 2020
Gambar 2. 31 Pengeluaran Per Kapita Disesuaikan Kabupaten Wonogiri danProvinsi Jawa Tengah Tahun 2016-2020 (Ribu Rupiah)
Jika dibandingkan dengan Subosukawonosraten, Pengeluaran Per Kapita Disesuaikan Kabupaten Wonogiri menduduki urutan terakhir dengan Rp.
7,6
7,6 7,6
9.286,00. Urutan pertama dicapai oleh Kota Surakarta dengan Rp.
14.761,00, urutan kedua dicapai oleh Kabupaten Boyolali dengan Rp.
12.910,00. Pada urutan ke 3, 4, 5, dan 6 diduduki oleh Kabupaten Sragen (Rp. 12.589,00), Kabupaten Klaten (Rp. 11.921,00), Kabupaten Karanganyar (Rp. 11.428,00), dan Kabupaten Sukoharjo (Rp. 11.325,00).
Sumber: BPS Provinsi Jawa Tengah 2020 Gambar 2. 32
Pengeluaran Per Kapita Disesuaikan Subosukawonosraten Tahun 2020 (Ribu Rupiah)
b. Angka Kematian Ibu (AKI)
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi tingkat pembangunan kesehatan, sebab AKI mencerminkan banyaknya ibu yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penangannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan, melahirkan, dan dalam nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lamanya kehamilan per 100.000 kelahiran hidup.
Semakin rendah Angka Kematian Ibu (AKI), maka tingkat pembangunan kesehatan yang ada semakin baik.
Pada tahun 2020, jumlah kematian ibu sebanyak 12 jiwa dari 10.762 kelahiran hidup atau 111,5 per 100.000 kelahiran hidup, angka tersebut lebih tinggi jika dibandingkan provinsi Jawa Tengah sebanyak 98,60 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Dampak covid-19 mengakibatkan melonjaknya Angka Kematian Ibu pada tahun 2020 yang disebabkan imunitas ibu hamil mengalami penurunan sehingga mudah tertular atau terinfeksi. Selain itu, gangguan pelayanan kesehatan dan nutrisi esensial bagi ibu, bayi, anak-anak dan remaja berpotensi menyebabkan kesakitan dan kematian ibu, bayi dan anak. Tantangan kesehatan bagi ibu hamil di
masa pandemi covid-19 diperlukan kesadaran dan dukungan berbagai pihak terkait agar ibu hamil dapat melakukan pemeriksaan rutin, konsultasi online dengan dokter atau bidan dan mengikuti swab tes sebelum persalinan.
Kondisi pandemi covid-19 memberikan tantangan untuk menemukan program/kegiatan yang secara efektif dan efisien dapat mencegah kasus kematian ibu di Jawa Tengah mengingat selain kasus ibu melahirkan positif covid-19, kasus kematian ibu akibat pendarahan, hipertensi dalam kehamilan, infeksi, gangguan sistem peredaran darah, dan gangguan metabolisme masih ditemukan. Pelayanan persalinan dan rujukan ibu hamil di masa pandemi covid-19 perlu menjadi perhatian sesuai dengan kondisi ibu hamil.
Kabupaten Wonogiri telah melakukan usaha-usaha untuk menanggulangi kematian ibu, meliputi :
Audit Maternal Perinatal (AMP) dilaksanakan ditingkat Puskesmas, sebanyak 5 Puskesmas
IMD Pelaksanaan pada ibu Persalinan
Cakupan layanan Kelas Ibu Hamil mencapai 90,42%
Cakupan layanan pemberian PMT Ibu Kekurangan Energi Kronik (KEK) Anemia sudah mencapai 100%.
Cakupan Pelayanan Rujukan Lanjutan mencapai 90,30%
Cakupan layanan K-4 pada Ibu Hamil mecapai 90,37%.
Cakupan layanan Pemberian Tablet Tambah Darah (FE) mencapai 89,27%
Pengecekan HB, HIV, Hepatitis dengan layanan cakupan pemeriksaan mencapai 87,99%.
Peningkatan Ketrampilan Bidan dengan Pelatihan, dilakukan pelatihan Contraceptive Technology Update (CTU) sebanyak 69 nakes, Pelatihan Midwifery Update (MU) kepada 589 nakes dan Pelatihan Asuhan Persalinan Normal sebanyak 570 nakes.
Berikut ini Angka Kematian Ibu (AKI) periode tahun 2016 sampai tahun 2020 di Kabupaten Wonogiri.
Sumber: Profil Kesehatan 2018, Dinas Kesehatan Tahun 2020 Gambar 2. 33
Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Wonogiri Tahun 2016-2020
c. Angka Kematian Bayi (AKB)
Angka Kematian Bayi (AKB) menunjukkan banyakknya kematian bayi usia 0-11 bulan dari setiap 1.000 kelahiran hidup pada tahun tertentu, atau probabilitas bayi meninggal sebelum mencapai usia satu tahun.
Kematian bayi dapat disebabkan berbagai faktor, seperti kekurangan asupan gizi selama di dalam kandungan yang menyebabkan berat badan lahir rendah, kelainan konginetal pada bayi, dan komplikasi kehamilan.
Angka kematian bayi di Kabupaten Wonogiri pada tahun 2020 adalah 6,04 per 1.000 kelahiran hidup, angka kematian bayi tahun 2020 lebih rendah daripada tahun 2019 yaitu 7,57 per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini masih lebih rendah daripada angka kematian bayi di Jawa Tengah, yaitu 7,79 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2020. Berikut ini angka kematian bayi di Kabupaten Wonogiri tahun 2016-2020.
Sumber: Profil Kesehatan 2018, Dinas Kesehatan Tahun 2020 Gambar 2. 34
Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Wonogiri Tahun 2016-2020
Terdapat berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya kasus kematian bayi pada tahun 2020, antara lain sebagai berikut :
Tabel 2. 17
Faktor Penyebab Kematian Bayi di Kabupaten Wonogiri Tahun 2020
No. Penyebab Kematian Bayi Jumlah
1. Asfiksia 19
2. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) 13
3. Kelainan Konginetal 8
4. Aspirasi 3
5. Sepsis 3
6. Pneumonia 5
7. Ikterus 0
8. Kelainan Jantung 9
9. Enclepalitis 0
10. Hydrochephalus 0
11. Kejang Demam 2
12. Kelainan Saluran Pencernaan 1
13 Dehidrasi 1
14 Hipoksia 1
Jumlah 82
Sumber: Profil Kesehatan 2018, Dinas Kesehatan Tahun 2020
d. Angka Kematian Balita (AKABA)
Angka Kematian Balita (AKABA) menggambarkan jumlah anak yang dilahirkan pada tahun tertentu dan meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun per 1.000 kelahiran hidup. Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir (2017-2020), Angka Kematian Balita (AKABA) menunjukkan trend atau angka yang menurun Pada tahun 2017, AKABA berada di angka 11,39, sedangkan pada tahun 2020 berada di angka 7,06. Terdapat beberapa penyebab kematian pada balita, antara lain asfiksia, berat badan lahir rendah (BBLR), pneumonia, kelainan jantung, dan faktor lainnya. Berikut ini angka kelahiran balita periode tahun 2016-2019 di Kabupaten Wonogiri.
Sumber: Profil Kesehatan 2018, Dinas Kesehatan Tahun 2019 Gambar 2. 35
Angka Kematian Balita (AKABA) di Kabupaten Wonogiri Tahun 2016-2019
e. Kasus Gizi Buruk dan Stunting
Kasus Gizi Buruk di Kabupaten Wonogiri mengalami trend kenaikan setiap tahunnya dari tahun 2016-2019. Kasus tertinggi terjadi ditahun 2019 sebanyak 81 kasus. Jika dibandingkan dengan kasus di wilayah Subosukawonosraten, kasus gizi buruk di Kabupaten Wonogiri tercatat paling tinggi disetiap tahunnya. Hal ini menandakan bahwa perlu adanya peningkatan program kesehatan dalam menangani kasus gizi buruk, seperti pemberian makanan tambahan (PMT) melalui Posyandu setiap desa dan pemantauan pertumbuhan balita secara intensif.
Sumber : Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2019 Gambar 2. 36
Kasus Gizi Buruk di Subosukawonosraten Tahun 2016-2019
Selain gizi buruk, permasalahan lain yang masih dihadapi oleh Pemerintah Kabupaten Wonogiri adalah adanya Stunting. Stunting adalah Kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak lebih pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal kehidupan setelah lahir, tetapi baru nampak setelah anak berusia 2 tahun. Data prevalensi stunting di Kabupaten Wonogiri, pada tahun 2017 sebesar 22,5%. Data ini berdasarkan Pemantauan Status Gizi (PSG), yang didapatkan dari sampling balita di Kab.
Wonogiri. Pada tahun 2018, tidak didapatkan angka prevalensi stunting ini, dikarenakan data laporan tidak lengkap. Sedangkan pada tahun 2019, didapatkan angka prevalensi sebesar 8,04%. Angka ini didapatkan dari penimbangan serentak pada bulan Pebruari 2019 dan sudah dilaksanakan validasi. Apabila dibandingkan dengan standar WHO sebesar 20%, nasional sebesar 30,8%, provinsi sebesar 31,2%, maka angka stunting tahun 2019 di Kabupaten Wonogiri sudah memenuhi standar. Pada tahun 2020 angka
prevalensi stunting meningkat menjadi 13,08%, dengan angka prevalensi tertinggi di Kecamatan Bulukerto sebesar 44,54% dan terendah di kecamatan Girimarto sebesar 1,69%. Angka Prevalensi Stunting tahun 2020 sebagaimana Tabel di bawah ini.
Tabel 2. 18
Angka Prevalensi Stunting Kabupaten Wonogiri Tahun 2020 Kecamatan Jumlah Balita
Timbang
Balita Dengan Status "Sangat
Pendek"
Balita Dengan Status
"Pendek"
Total Prevalensi
Baturetno 1.796 40 107 147 8,18%
Batuwarno 732 17 92 109 14,89%
Bulukerto 1.181 360 166 526 44,54%
Eromoko 1.749 78 215 293 16,75%
Girimarto 1.303 8 14 22 1,69%
Giritontro 735 9 71 80 10,88%
Giriwoyo 1.708 56 160 216 12,65%
Jatipurno 1.469 106 232 338 23,01%
Jatiroto 1.378 14 104 118 8,56%
Jatisrono 2.035 48 244 292 14,35%
Karangtengah 1.070 29 173 202 18,88%
Kismantoro 1.587 108 265 373 23,50%
Manyaran 1.748 52 229 281 16,08%
Ngadirojo 2.301 82 228 310 13,47%
Nguntoronadi 1.105 17 127 144 13,03%
Paranggupito 607 9 95 104 17,13%
Pracimantoro 2.899 32 102 134 4,62%
Puhpelem 528 32 80 112 21,21%
Purwantoro 1.582 83 163 246 15,55%
Selogiri 2.790 6 11 17 0,61%
Sidoharjo 1.455 126 203 329 22,61%
Slogohimo 1.944 25 40 65 3,34%
Tirtomoyo 2.427 114 291 405 16,69%
Wonogiri 2.074 88 123 211 10,17%
Wuryantoro 1.054 9 52 61 5,79%
Grand Total 39.257 1.548 3.587 5.135 13,08%
PREVALENSI
STUNTING 13,08%
Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Wonogiri, 2021
Intervensi atas kondisi stunting terdiri dari intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Intervensi spesifik, memiliki kelompok sasaran 1.000 HPK (ibu hamil, ibu menyusui, dan anak 0-23 bulan) dan kelompok sasaran usia lainnya (remaja dan WUS serta anak 24 s/d 59 bulan). Sedangkan intervensi sensitif lebih ke arah : (1) penyediaan air minum dan sanitasi; (2) peningkatan akses dan kualitas pelayanan gizi dan kesehatan; (3) peningkatan kesadaran, komitmen, dan praktik pengasuhan dan gizi ibu dan anak; (4) peningkatan akses pangan bergizi.
f. Penyakit Menular dan Tidak Menular
DBD, TB, dan HIV/AIDS adalah penyakit menular yang menjadi sasaran program Provinsi Jawa Tengah. Meskipun tingkat kesakitan (IR) DBD Kabupaten Wonogiri lebih rendah dari Provinsi Jawa Tengah dalam kurun waktu 2016-2019, namun persentase Case Fatality Rate (CFR) terbilang sangat tinggi. Hal ini menandakan bahwa DBD masih menjadi masalah serius yang harus ditangani. Persentase tingkat keberhasilan pengobatan untuk penyakit TB di Kabupaten Wonogiri meningkat tiap tahunnya dan selalu diatas target dari Provinsi Jawa Tengah. Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Wonogiri berhasil turun ditahun 2019 setelah sebelumnya ditahun 2016-2018 terus mengalami trend meningkat. Berikut tabel kondisi penyakit menular di Kabupaten Wonogiri dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2016-2019.
Tabel 2. 19
Kondisi Penyakit Menular Kabupaten Wonogiri 2016-2020 Tahun IR DBD per 100.000
Penduduk CFR DBD (%) CNR TB (%) SR TB (%) HIV/AIDS HIV AIDS
2016 6,6 6,94 77,77 87,46 20 35
2017 0,8 0 79,99 91,96 64 35
2018 2,2 12,5 101 92,52 60 37
2019 3,4 3,39 99,66 91,91 38 33
2020 2,81 0,00 62 91,8 22 39
Sumber : Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2020
Tabel 2. 20
Kondisi Penyakit Menular Provinsi Jawa Tengah 2016-2020 Tahun IR DBD per 100.000
Penduduk CFR DBD (%) CNR TB (%) SR TB (%) HIV/AIDS HIV AIDS
2016 43,4 1,46 118 68 1402 1867
2017 21,6 1,24 121 67,77 2033 1296
2018 8,68 1,25 143 77,13 2654 1879
2019 26,21 1,49 210,8 83,93 2704 2316
2020 16,30 1,9 118 84,5 2.749 1.549
Sumber : Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2020
g. Kesehatan Lingkungan
Perilaku hidup sehat merupakan salah satu perilaku yang penting untuk diterapkan pada masyarakat, terutama menumbuhkan perilaku hidup sehat pada anak usia dini. Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan perilaku hidup sehat adalah melalui program Sanitasi Total Bersama Masyarakat (STBM). Upaya yang dilakukan dalam STBM mencakup 5 pilar, yaitu pilar-1 bebas dari Buang Air Besar Sembarangan (BABS), pilar- 2 Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), pilar-3 pengelolaan air minum dan
makanan dengan baik, pilar-4 pengelolaan sampah rumah tangga dengan baik dan aman, dan pilar-5 pengelolaan limbah cair rumah tangga.
h. Kesehatan Usia Lanjut
Dalam rangka menanggapi bonus demografi, penduduk usia lanjut (penduduk usia 60 tahun ke atas) lima tahun kedepan yang jumlahnya diperkirakan sebanyak 213.091 jiwa perlu mendapat perhatian yang khusus dalam pelayanan kesehatan per individu dan rujukan agar lansia tetap menjalani aktivitas fisik, menjaga kesehatan, tidak menggantungkan kepada orang lain dalam kehidupan. Perkembangan pelayanan kesehatan untuk usia lanjut di Kabupaten Wonogiri tahun 2016 sebesar 79,03%, pada tahun 2017 sebesar 74,98%, tahun 2018 sebesar 63,50%, tahun 2019 sebesar 49,40% dan tahun 2020 sebesar 79,03 %.
Pelayanan kesehatan untuk usia lanjut di Kabupaten Wonogiri untuk setiap tahunnya mengalami penurunan. Peningkatan pelayanan kesehatan lanjut usia terus dilakukan melalui penguatan promosi kesehatan, meningkatkan akses pelayanan kesehatan untuk usia lanjut, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM yang terlibat dalam upaya kesehatan lanjut usia. Berikut tabel perkembangan pelayanan kesehatan usia lanjut di Kabupaten Wonogiri Tahun 2016-2029.
Tabel 2. 21
Perkembangan Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut di Kabupaten Wonogiri
Tahun Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut (%)
2016 79,03
2017 74,98
2018 63,50
2019 49,40
2020 79,03
Sumber: Dinas Kesehatan Kab. Wonogiri (2016-2020)
i. Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan
Peningkatan kualitas hidup perempuan diperlukan untuk meningkatkan pencapaian kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan dan memiliki hubungan dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDG’s). Indikator yang digunakan untuk mengetahui kondisi kesetaraan gender dapat dilihat dari Indeks Pembangunan Gender (IPG), yaitu pencapaian kemampuan dasar pembangunan manusia dengan memperhatikan ketimpangan gender. Pencapaian kesetaraan gender dapat
dilaksanakan melalui pemberdayaan perempuan dengan tujuan untuk capaian Indeks Pemberdayaan Gender (IDG).
Capaian IPG pada tahun 2017-2018 menunjukkan perkembangan yang meningkat. Peningkatan IPG menunjukkan dari angka 90,70 menjadi 91,13. Hal ini menandakan pembangunan berbasis gender membaik.
Capaian IDG pada tahun 2017-2018 mengalami penurunan. Penurunan IDG menunjukkan dari angka 64,04 menjadi 63,30. Hal ini menandakan pemberdayaan berbasis gender mengalami penurunan
Sumber: Data Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2019 Gambar 2. 37
IPG dan IDG Kabupaten Wonogiri Tahun 2017-2018
Apabila dibandingkan dengan kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah, IPG Kabupaten Wonogiri pada tahun 2019 berada pada urutan 23 dan masih dibawah IPG Provinsi Jawa Tengah. Urutan pertama diduduki oleh Kota Surakarta dengan IPG 96,72 dan yang memiliki IPG terendah, yakni Kabupaten Blora (83,96).
Sumber: Data Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2019 Gambar 2. 38
Grafik IPG Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2019
Selanjutnya untuk IDG, apabila dibandingkan dengan kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah, IDG Kabupaten Wonogiri pada tahun 2019 berada pada urutan 27 dan masih dibawah IDG Provinsi Jawa Tengah. Urutan pertama diduduki oleh Kota Salatiga dengan IDG 82,16 dan yang memiliki IPG terendah, yakni Kabupaten Jepara (50,62).
Sumber: Data Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2019 Gambar 2. 39
Grafik IDG Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2019
Berdasarkan komponen pembentuk IPG tahun 2019, dapat diketahui bahwa Angka Harapan Hidup (AHH) perempuan lebih baik dibandingkan dengan laki-laki. Data lain, yaitu Harapan Lama Sekolah (HLS), Rata-Rata Lama Sekolah (RLS), dan pengeluaran perkapita yang disesuaikan menunjukkan bahwa perempuan lebih rendah dibandingkan dengan laki- laki. Harapan Lama Sekolah laki-laki, yaitu 12,49 tahun, sedangkan perempuan 12,22 tahun. Pada Rata-Rata Lama Sekolah laki-laki, yaitu 7,61tahun, sedangkan perempuan 6,71 tahun.Pengeluaran perkapita perempuan jauh dibawah laki-laki, yaitu untuk perempuan 8.492 juta rupiah dan laki-laki 12.995 juta rupiah Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi perempuan masih rendah dan akses ekonomi perempuan masih rendah sehingga perempuan belum bisa bersaing dengan laki-laki.
74,22
12,49
7,61 12,995
77,93
12,22
6,71 8,492
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
AHH (2019) HLS (2019) RLS (2019) PPP Disesuaikan (Juta Rupiah) Laki-Laki Perempuan
Sumber: Data Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2019 Gambar 2. 40
IPG Kabupaten Wonogiri Beserta Komponen Pembentuknya Tahun 2019
Komponen penyusun IDG menunjukkan bahwa kenaikan terjadi pada perempuan sebagai tenaga Profesional, yaitu dari angka 39,18 menjadi 39,22. Sedangkan Sumbangan Pendapatan perempuan mengalami penurunan dari 45,84 menjadi 43,12. Pada Keterlibatan Perempuan di parlemen tidak mengalami kenaikan maupun penurunan dan tetap di angka 8,89. Hal ini menunjukkan peran perempuan pada berbagai sektor masih lemah karena disebabkan dari berbagai aspek, yaitu pendidikan formal yang masih rendah dan pengetahuan berdemokrasi serta akses ekonomi yang terbatas.
Sumber: Data Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2019 Gambar 2. 41
IDG Kabupaten Wonogiri Beserta Komponen Pembentuknya Tahun 2016– 2019 Tabel 2. 22
Jumlah Korban Kekerasan terhadap Perempuan di Kabupaten Wonogiri Tahun 2016-2020
No Tahun Perempuan dewasa Anak Jumlah
1 2016 9 36 45
2 2017 7 60 67
3 2018 6 17 23
4 2019 9 10 19
5 2020 2 10 12
Sumber: Dinas PPKB dan P3A Kabupaten Wonogiri
2.2.3. Seni Budaya dan Olahraga
Perkembangan Seni, Budaya dan Olahraga Tahun 2016 s/d 2020 Tabel 2. 23
Jumlah Perkembangan Seni, Budaya dan Olahraga di Kabupaten Wonogiri Tahun 2016-2020
No Tahun Jumlah grup kesenian
Jumlah klub olahraga
Jumlah gedung olahraga
1 2016 906 48 118
2 2017 906 82 119
3 2018 906 934 172
4 2019 906 1253 172
5 2020 906 1128 172
Sumber : Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Wonogiri
2.3. Aspek Pelayanan Umum 2.3.1 Urusan Pemerintahan Wajib
2.3.1.1.Urusan Pemerintahan Wajib yang Berkaitan dengan Pelayanan Dasar