• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori

2. Pengembangan Pariwisata

Pengembangan berasal dari kata “kembang” yang berarti berkembang atau mengembangkan dan berarti pula menjadi besar, luas, banyak, atau bertambah sempurna tentang pikiran, pengetahuan dan sebagainya.21 Dalam sebuah organisasi, pengembangan adalah merupakan usaha terencana, sistematis, terorganisir dan kolaboratif. Prinsip pengetahuan tentang perilaku dan teori organisasi diaplikasikan dengan maksud meningkatkan kualitas kehidupan yang tercermin dalam meningkatkan kesehatan dan vitalitas organisasional, meningkatkan kemampuan individu dan anggota kelompok dalam kompetensi dan harga diri semakin baik di masyarakat. Pengembangan organisasi berupaya untuk menciptakan perubahan yang diarahkan sendiri terhadap orang- orang yang merasa adanya keterkaitan (commited).22

Menurut Sondang P. Siagian, pengembangan organisasi sebagai teori menajemen, berarti serangkaian konsep, alat dan teknik untuk

20 Ibid., h. 42.

21 Abuddin Nata, Islam dan Ilmu Pengetahuan, (Jakarta:prenadamedia group, 2018), h.

390.

22 Ferryal Abadi, Pengembangan Organisasi Strategi Mengoptimalkan Sumber Daya Manusia,(Yogyakarta:Pohon Cahaya, 2019). h.27.

melakukan perencanaan jangka panjang dengan sorotan pada hubungan antara kelompok kerja dan individu, dikaitkan dengan perubahan yang bersifat struktural.23 Maka dari itu pengembangan pariwisata adalah salah satu bagian dari manajemen yang menitikberatkan pada implementasi potensi objek dan daya tarik wisata yang harus dilaksanakan dengan rentang waktu, berupa langkah sistematis yang dapat mengarah pada pencapaian hasil di suatu daerah yang akan membawa perubahan pada daerah tersebut. Perubahan yang dimaksud dapat bernilai positif jika pengembangan pariwisata dilaksanakan dengan mengikuti prosedur yang benar, yakni melalui perencanaan yang cermat dan matang supaya sesuai dengan kondisi setempat.24 Karena pengembangan wisata yang tepat dapat memberikan keuntungan secara ekonomi yang didukung dengan pengembangan infrastruktur dan menyediakan fasilitas rekreasi, wisatawan dan penduduk tentunya akan saling menguntungkan.25

Menurut Cooper dkk, menjelaskan bahwa kerangka pengembangan destinasi pariwisata terdiri dari komponen-komponen utama sebagai berikut:26

a. Attractions (daya tarik) yang mencakup keunikan dan daya tarik berbasis alam, budaya, maupun buatan/artificial

23 Ferryal Abadi, Pengembangan..., h. 13.

24 Bambang Supriadi & Nanny Roedjinandari, Perencanaan Dan Pengembangan Destinasi Pariwisata, (Semarang:Universitas Negeri Malang, 2017), h. 135.

25 Mill,Robert Christie, Tourism The International Business Penerjemah Tri Budi Sastrio, (Jakarta Utara : PT Rajagrafindo Persada, 2000), h.168.

26 Sunaryo, Bambang, Kebijakan Pembangunan Destinasi Pariwisata Konsep Dan Aplikasinya Di Indonesia,(Yogyakarta: Gava Media, 2013), h.159.

Atraksi atau daya tarik wisata merupakan komponen yang signifikan dalam menarik kedatangan wisatawan. Modal atraksi yang menarik kedatangan wisatawan ada tiga, yaitu 1) Natural Resources (alami) seperti gunung, danau, pantai, dan bukit. 2) atraksi wisata budaya seperti arsitektur rumah tradisional di desa, situs arkeologi, seni dan kerajinan, ritual, festival, kehidupan masyarakat sehari-hari, keramahtamahan, dan makanan. 3) atraksi buatan seperti acara olahraga, berbelanja, pameran, konferensi dan lain sebagainya.27

b. Accesability (aksesibilitas) yang mencakup kemudahan sarana dan sistem transportasi.

Menurut French faktor-faktor yang penting dan terkait dengan aspek aksesibilitas wisata meliputi petunjuk arah, bandara, terminal, waktu yang dibutuhkan, biaya perjalanan, frekuensi transportasi menuju lokasi wisata dan perangkat lainnya.28

c. Amenitas (fasilitas) yang mencakup fasilitas penunjang dan pendukung wisata

Sugiama menjelaskan amenitas meliputi serangkaian fasilitas untuk memenuhi kebutuhan akomodasi (tempat penginapan), penyediaan makanan dan minuman, tempat hiburan (entertainment), tempat-tempat perbelanjaan (retailing) dan

27 Suwena, I Ketut & Widyatmaja, I Gst Ngr, Pengetahuan Dasar Ilmu Pariwisata.

(Bali:Udayana University Press, 2010), h.88.

28 Sunaryo, Bambang, Kebijakan..., h.173.

layanan lainnya.29 French memberikan batasan bahwa amenitas bukan merupakan daya tarik bagi wisatawan, namun dengan kurangnya amenitas akan menjadikan wisatawan menghindari destinasi tertentu.30

d. Ancillary service (fasilitas umum) yang mencakup kegiatan pariwisata

Ancillary service lebih kepada ketersediaan sarana dan fasilitas umum yang digunakan oleh wisatawan yang juga mendukung terselenggaranya kegiatan wisata seperti bank, ATM, telekomunikasi, rumah sakit dan sebagainya.31 Tersedianya lembaga penyelenggara perjalanan sehingga kegiatan wisata dapat berlangsung, yang berupa pemandu wisata, biro perjalanan, pemesanan tiket, dan ketersediaan informasi tentang destinasi wisata.32 Sedangkan Sugiama menjelaskan bahwa ancillary service mencakup keberadaan berbagai organisasi untuk memfasilitasi dan mendorong pengembangan serta pemasaran kepariwisataan destinasi bersangkutan.33

e. Institutions (kelembagaan) yang memiliki kewenangan, tanggung jawab, dan peran dalam mendukung kegiatan pariwisata

29Khusnul Khotimah Wilopo, Luchman Hakim, Jurnal Administrasi Bisnis (Jab), Vol. 4, No. 1 Januari 2017, Administrasibisnis.Studentjournal.uc.ac.id, hlm.59. (Diakses Pada Tanggal 7 November 2019 Pada Pukul 19.46).

30 Sunaryo, Bambang, Kebijakan...,h.173.

31Ibid.,h. 159.

32 Gusti Bagus Rai Utama, Pengantar...,h. 5.

33 Khusnul Khotimah Wilopo, Luchman Hakim, Jurnal Administrasi Bisnis..., h. 59.

Kelembagaan kepariwisataan dijelaskan dalam UU tentang Kepariwisataan nomor 10 tahun 2009 sebagai keseluruhan institusi pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah, swasta dan masyarakat, sumberdaya manusia, mekanisme operasional serta regulasi yang terkait dengan kepariwisataan. Adapun peran dan fungsi dari komponen pelaku usaha maupun pemangku kepentingan pengembangan kepariwisataan sebagai berikut :

1. Pemerintah pusat maupun daerah

Peran pemerintah di Indonesia disamping berfungsi utama sebagai regulator dalam menentukan norma, standar, prosedur, dan kriteria pengembangan kepariwisataan, juga masih terlibat secara langsung dalam manajemen pengembangan kepariwisataan. Selain itu pemerintah adalah sebagai fasilitator dalam program promosi dan pemasaran kepariwisataan nasional serta pengembangan Destinasi Pariwisata pada tingkat Nasional (DPN), Kawasan Strategis Pariwisata tingkat Nasional (KSPN) maupun Kawasan Khusus Pariwisata Nasional (KPPN).34 Pemerintah daerah Provinsi mempunyai fungsi melaksanakan tugas pembantuan untuk melakukan promosi dan pemasaran kepariwisataan provinsi.

Sedangkan untuk Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, mempunyai peran utama untuk bekerjasama dengan pemangku

34 Sunaryo, Bambang, Kebijakan..., h. 117.

kepentingan yang lain (industri dan masyarakat) untuk menyusun Peraturan Daerah Kabupaten/Kota dan mengimplementasikan sesuai dengan amanah Undang-undang No. 10 Tahun 2009.35

2. Swasta atau industri pariwisata

Organisasi swasta/industri juga dijelaskan dalam UUD No. 10 tahun 2009 pasal 1 angka 7 dan 8 yang berarti orang atau sekelompok orang (pengusaha) yang menjadi penyedia barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan wisatawan dan penyelenggaraan kegiatan pariwisata. Menurut UU tentang kepariwisataan juga dijelaskan bahwa ada dua lembaga swasta yang ditetapkan sebagai mitra kerja pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah dan masyarakat dalam pengembangan serta pengelolaan kepariwisataan di Indonesia yakni :

a) Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI) dan Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD).

b) Gabungan Industri Pariwisata Indonesia, yang keanggotaannya terdapat unsur-unsur yang terdiri dari pengusaha pariwisata, asosiasi usaha pariwisata, asosiasi profesi dan asosiasi lain yang terkait langsung dengan pariwisata.

35 Ibid.

3. Masyarakat Pariwisata

Menurut penjelasan pasal 5 huruf e UU Kepariwisataan No. 10 Tahun 2009 menyebutkan bahwa organisasi masyarakat adalah masyarakat yang bertempat tinggal di dalam wilayah destinasi pariwisata yang berperan aktif mengorganisir kegiatan pariwisata dan diprioritaskan untuk mendapatkan manfaat dari penyelenggaraan kegiatan pariwisata di tempat tersebut.36

Komponen penting dalam pengembangan pariwisata menurut George Mclntyre, adalah suatu pengembangan pariwisata yang berkelanjutan memiliki keterkaitan antara wisatawan, warga setempat dan pemimpin masyarakat yang menginginkan hidup lebih baik. Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa dalam pengembangan pariwisata sangat membutuhkan adanya komponen-komponen tersebut untuk dapat menjadi suatu objek atau destinasi wisata yang baik dan menarik.37

Dokumen terkait