• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Melalui

BAB IV. PEMBAHASAN

B. Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Melalui

Pemberdayaan masyarakat adalah suatu upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengatasi, memelihara, melindungi dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri. Pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan adalah upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran kemauan dan kemampuan dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan (Supardan, 2013).

Shardlow dalam Jackie Ambadar (2008) menyebutkan pemberdayaan masyarakat atau community development (CD) intinya adalah bagaimana individu, kelompok atau komunitas berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan

58

mengusahakan untuk membentuk masa depan sesuai keinginan mereka.

Pemberdayaan masyarakat juga diartikan sebagai upaya yang disengaja untuk memfasilitasi masyarakat lokal dalam merencanakan, memutuskan, dan mengelola sumberdaya lokal yang dimiliki melalui collective action dan networking sehingga pada akhirnya mereka memiliki kemampuan dan kemandirian secara ekonomi, ekologi, dan sosial.

Gerakan pemberdayaan masyarakat merupakan suatu upaya dalam peningkatan kemampuan masyarakat guna mengangkat harkat hidup, martabat dan derajat kesehatannya. Peningkatan keberdayaan berarti peningkatan kemampuan dan kemandirian masyarakat agar dapat mengembangkan diri dan memperkuat sumber daya yang dimiliki untuk mencapai kemajuan (Wahyudin, 2012).

Gerakan pemberdayaan masyarakat juga merupakan cara untuk menumbuhkan dan mengembangkan norma yang membuat masyarakat mampu untuk berperilaku hidup bersih dan sehat. Strategi ini tepatnya ditujukan pada sasaran primer agar berperan serta secara aktif.

Bidang pembangunan biasanya meliputi 3 (tiga) sektor utama, yaitu ekonomi, sosial (termasuk di dalamnya bidang pendidikan, kesehatan dan sosial- budaya), dan bidang lingkungan. Sedangkan masyarakat dapat diartikan dalam dua konsep yaitu masyarakat sebagai sebuah tempat bersama, yakni sebuah wilayah geografi yang sama. Sebagai contoh, sebuah rukun tetangga, perumahan di daerah pertokoan atau sebuah kampung di wilayah pedesaan.

59

Harry Hikmat (2001) menyebutkan pemberdayaan dalam wacana pembangunan selalu dihubungkan dengan konsep mandiri, partisipasi, jaringankerja, dan keadilan. Pada dasarnya, pemberdayaan diletakkan pada kekuatan tingkat individu dan sosial. Isbandi Rukminto Adi (2008) menyatakan pembangunan masyarakat digunakan untuk menggambarkan pembangunan bangsa secara keseluruhan.

Dalam arti sempit istilah pengembangan masyarakat di Indonesia sering dipadankan dengan pembangunan masyarakat desa dengan mempertimbangkan desa dan kelurahan berada pada tingkatan yang setara sehingga pengembangan masyarakat (desa) kemudian menjadi dengan konsep pengembangan masyarakat lokal.

Pemberdayaan masyarakat pada dasarnya bagaimana menjadikan masyarakat memiliki kreatifitas dan penghasilan tersendiri setiap individu memiliki potensi untuk kreatif, dengan berbagai macam bentuknya, pemberdayaan pada masyarakat khususnya dikalangan primitif atau pedesaan, diperlukan berbagai intrik dan cara tersendiri, sehingga memerlukan beberapa aspek yang ikut berpartisipasi didalamnya. Hal inilah yang mengacu pada sebuah inovasi dan kreatifitas yang harus dikembangkan, antara lain melalui anyaman bambu yang menjadi salah satu bahan atau objek dalam upaya pemberdayaan masyarakat, dimana harus ditopang oleh berbagai elemen :

1. Bantuan Dana

60

Dalam setiap kegiatan atau dalam dimensi kehidupan dana merupakan hal pokok dalam menunjang setiap aktifitas yang ada, tidak hanya sekedar kreatifitas akan tetapi selain itu perlu adanya dana yang dapat menopang segala aktifitas.

Demikian pula dengan pemberdayaan masyarakat dalam melalui kreatifitas anyaman bambu, masyarakat pada umumnya membutuhkan dana awal meskipun pada umumnya bahan dasar pembuatan bambu tumbuh subur di Desa Sawakung.

Berikut kutipan wawancara dengan bapak Baso Ewa selaku pengrajin anyaman bambu dan informan tentang bantuan dana :

“ Bantuan dana pada pengrajin anyaman bambu diperlukan karena para pengrajin membutuhkan modal untuk membeli perlengkapan anyaman”.

( Bapak Baso Ewa, pada tanggal 30 Agustus 2014).

Berikut juga adalah wawancara dengan Ansar Sila, selaku ketua kelompok pengrajin Desa Sawakong :

“ Pemberdayaan Masyarakat di Desa Sawakung pada dasaarnya bisa berkembang lebih maju jika dana yang ada dapat dipenuhi, sehingga kami dari kelompok pengrajin membutuhkan bantuan dana”.

(Wawancara 02 September 2014).

Dalam hal bantuan dana pengrajin memiliki sumber dana selain dana pokok pribadi adapula bantuan dari pemerintah setempat seperti halnya dana anggaran PNPM dan BUMdes yang telah dicanangkan oleh pemerintah guna mengembangkan kreatifitas pada pengrajin anyaman bambu. Hal ini senada dengan yang dikatakan oleh ibu Kamma selaku pengrajin anyaman bambu :

“ Masyarakat di Desa Sawakong khususnya para pengrajin anyaman bambu cukup dimudahkan dengan adanya bantuan dana dari pemerintah, seperti PNPM, meskipun berupa pinjaman tapi setidaknya bisa membantu ”. (Wawancara 02 September 2014)

61

Dari berbagai pendapat informan yang berbeda ternyata pemberdayaan masyarakat melalui kreatifitas anyaman bambu, diperlukan bantuan dana yang memadai, sehingga mampu menopang perkembangan pendapatan masyarakat yang ada di Desa Sawakung. Adapun hal yang merupakan sumber dana antara lain :

a. Pemerintah daerah b. Swadaya masyarakat 2. Diklat anyaman

Seni anyam sudah ada sejak dahulu kala, hingga sekarangpun masih akrab dalam kehidupan masyarakat. Bahkan hampir di seluruh nusantara terdapat home industri pengrajin barang anyam-anyaman. Maka bisa dikatakan seni anyam termasuk kategori warisan budaya yang harus dilestarikan.

Proses menganyam biasanya dijalankan oleh kaum perempuan, sedangkan kaum pria hanya membantu mencari dan mengumpulkan bahan anyam. Dahulu kegiatan produksi anyam biasanya dilakukan secara individu atau secara kecil- kecilan yang merupakan suatu usaha ekonomi bagi orang – orang desa.

Setiap daerah menggunakan bagan dan pola khasnya masing-masing.

Misalnya, karena di pulau Kalimantan, Sumatra dan Sulawesi banyak rotan, maka rotan dianyam menjadi tikar, topi, keranjang dan bermacam-macam perabot rumahan. Di desa Sawakong anyaman bambu dibuat dinding dan tirai. Supaya dapat digunakan sebagai dinding rumah dan penghalang hujan dan matahari.

Saat ini seni anyam bambu semakin berkembang. Bentuk anyaman dan polanya semakin menarik denganhiasan dan warna yang beragam. Banyak warga perkotaan yang tertarik dengan kerajinan anyam ini. Sekarang ini, seni anyam tidak

62

sekedar memenuhi kebutuhan rumah tangga saja. Tetapi juga sudah menjadi barang seni yang bernilai tinggi.

Dengan perkembangan seni anyaman bambu maka kulitas dan mutu juga harus ditingkatkan, seperti pengadaan diklat bagi kelompok pengrajin bambu.

Sehingga mereka tidak hanya vakum pada produk yang ada akan tetapi lebih meningkatkan kreativitas guna untuk pemasaran yang lebih baik.

Menurut Baso Ewa (pengrajin anyaman bambu mengemukakan bahwa):

“Pengarajin bambu yang ada pada umumnya hanya membuat anyaman bambu sesuai dengan keahlian yang monoton, akan tetapi dengan adanya diklat tentang anyaman bambu lebih meningkatkan kreativitas masyarakat” (wawancara 2 september 2014).

Diklat anyaman merupakan sebuah pemberdayaan masyarakat yang harus senantiasa dilakukan dilingkungan masyarakat, khususnya di desa Sawakung yang kebanyakan dari masyarakat dilokasi tersebut merupakan warga penghasil anyaman bambu, sehingga selain melestarikan seni budaya tersebut juga dapat mengembangkan kreativitas masyarakat yang ada.

C. Faktor apa yang mempengaruhi seni anyaman bambu terhadap perekonomian masyarakat Di Desa Sawakong.

Dalam setiap kegiatan yang ada, apapun hal yang dilakukan akan muncul sebuah sebab dan akibat, karena akan ada umpan balik dari setiap keadaan, demikian halnya dengan seni anyaman bambu yang ada tidak sedikit kendala yang dihadapi dalam produksi anyaman tersebut, meskipun pada dasarnya juga memiliki

63

faktor pendukung yang menunjang pekerjaan tersebut. Adapun faktor yang mempengaruhi seni anyaman tersebut ada dua yaitu faktor pendukung dan penghambat yang meliputi sebagai berikut :

1. Faktor Pendukung

Ada beberapa faktor pendukung yang dapat membantu kelestarian seni anyaman yang menjadi salah satu budaya di Desa Sawakong, diantaranya :

a. Seni anyaman di desa Sawakung diwariskan secara turun temurun

Pada dasarnya seni anyaman di desa sawakong diwariskan turun temurun karena cara pembuatannya tidak langsung, melainkan harus dengan penguasaan tersendiri.

Berikut kutipan wawancara dengan Muh. Nur Rahman (pengarajin anyaman) mengemukakan bahwa :

“Anyaman bambu yang kami kelola selama ini didapat dari orangtua dan keluarga yang memang kebanyakan pekerja anyaman bambu”

(wawancara 2 September 2014).

b. Adanya konsumen yang masih tetap setia dengan barang kerajinan anyam bambu meskipun sedikit.

Meskipun anyaman bambu telah bergeser dengan perkembangan zaman dengan produk elektronik dan modern, akan tetapi anyaman bambu masih tetap ada dikalangan masyarakat, meskipun pada dasarnya minat pembellian dimasyarakat relatif sedikit yang berminat.

64

c. Adanya kesabaran dan keuletan dalam membuat berbagai barang kerajinan anyaman bambu

Anyaman bambu pada dasarnya tidaklah mudah dalam proses pembuatannya maka dari itu dalam proses pembuatannya sangat diperlukan kesabaran, ketelitian dan keuletan agar dalam proses pembuatan kerajinan tersebut bisa diselesaikan dengan baik dan menghasilkan hasil kerajinan yang bisa meningkatkan daya jual beli kerajinan dipasaran bisa lebih mahal dibanding dengan produk luar.

d. Adanya beberapa pengrajin yang bersedia membuka lapangan pekerjaan.

Sehingga memberi peluang bagi masyarakat di sekitar untuk bekerja.

Anyaman bambu yang memiliki macam – macam jenis kreasi, mampu bersaing di pasaran yang memiliki jumlah peminat cukup banyak membuat para pembuat nyaman bambu memperbanyak jumlah karyawan untuk menambah jumlah kerajinan yang lebih bayak dan memenuhi kebutuhan konsumen.

e. Kebiasaan Masyarakat

Kebiasaan masyarakat di daerah pembangunan sudah mengenal kerajinan bambu dan sebagian sudah menerapkan teknologi tepatguna, kondisi ini lebih akan cepat berkembang dalam arti bahwa masyarakat sudah mengenal lebih dahulu sehingga lebih cepat mengerti dan menerima untuk melaksanakan kegiatan tersebut.

65 2. Faktor Penghambat

Ada beberapa faktor penghambat yang dapat memberikan dampak negatif dalam proses produksi kerajinan seni anyam bambu ini, diantaranya:

a. Pemasaran dan Permodalan

Modal dan manajemennya merupakan faktor pokok dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam memulai usaha produksi. Pada saat ini modal yang dimiliki masyarakat dirasakan masih kurang untuk mengembangkan usahanya. Maka pemenuhan permodalan ini sangat diharapkan oleh Para Perajin dalam mencukupi dan memulai usahanya (terutama dapat diperoleh dari Pihak Perbankan atau Bapak Angkat sebagai mitra kerja), sehingga pada akhirnya modal tidak lagi menjadi faktor penghambat.

b. Inovasi Teknologi dan Informasi Pasar

Gejolak dan fluktuasi pasar yang timbul secara mendadak biasanya mengakibatkan tekanan yang cukup besar terhadap sistem produksi dan perajin akan mengalami kerugian yang besar. Oleh karena itu berbagai macam jenis informasi pasar dan inovasi teknologi senantiasa diperlukan sedini mungkin untuk dapat diambil tindakan antisipasinya.

Sebagian dari masyarakat yang telah mengambil dana, itu tidak digunakan untuk modal usaha, melainkan digunakan untuk kepentingan keluarga.

66 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

1. Desa Sawakong merupakan wilayah dataran rendah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Gowa dengan jumlah penduduk pada tahun 2013 mencapai 3180 jiwa i terbagi pada jumlah laki-laki 1534 dan perempuan 1646. Jumlah

67

Kepala keluarga 766 KK. Desa Sawakong adalah wilayah yang dikelilingi oleh persawahan. Sehingga sumber utama mata pencaharian penduduk adalah bertani, hasil pertanian yang terbesar yang dihasilkan adalah padi. Disisi lain, Sarana pelayanan kesehatan yang ada di diantaranya Pustu 1 unit dan poskesdes 1 unit yang letaknya strategis sehingga memudahkan masyarakat dalam mendatangi tempat pelayanan kesehatan. Selain itu, Industri Mikro di desa Sawakong cukup beragam diantaranya: Anyaman songkok guru, anyaman gammacca, anyaman kalakka (Tirai), Percetakan batu merah, Kelompok menjahit, Pembuatan bosara’. Akan tetapi yang tepenting untuk semua industry tersebut diatas adalah kurangnya modal usaha yang dimilki dslsm mengembangkan usaha tersebut. Pemberdayaan masyarakat adalah suatu upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengatasi, memelihara, melindungi dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri. Pemberdayaan masyarakat pada dasarnya bagaimana menjadikan masyarakat memiliki kreatifitas dan penghasilan tersendiri setiap individu memiliki potensi untuk kreatif, dengan berbagai macam bentuknya, pemberdayaan pada masyarakat khususnya dikalangan primitif atau pedesaan, diperlukan berbagai intrik dan cara tersendiri, sehingga memerlukan beberapa aspek yang ikut berpartisipasi didalamnya. Hal inilah yang mengacu pada sebuah inovasi dan kreatifitas yang harus dikembangkan, antara lain melalui anyaman bambu yang menjadi salah satu bahan atau objek dalam upaya pemberdayaan masyarakat, dimana harus ditopang oleh berbagai elemen yaitu bantuan dana dan diklat anyaman.

68

2. Dalam setiap kegiatan yang ada, apapun hal yang dilakukan akan muncul sebuah sebab dan akibat, karena akan ada umpan balik dari setiap keadaan, demikian halnya dengan seni anyaman bambu yang ada tidak sedikit kendala yang dihadapi dalam produksi anyaman tersebut, meskipun pada dasarnya juga memiliki faktor pendukung yang menunjang pekerjaan tersebut. Adapun faktor pendukung yang dapat membantu kelestarian seni anyaman yang menjadi salah satu budaya di Desa Sawakong, diantaranya: Seni anyaman di desa Sawakung diwariskan secara turun temurun, adanya konsumen yang masih tetap setia dengan barang kerajinan anyam bambu meskipun sedikit, adanya kesabaran dan keuletan dalam membuat berbagai barang kerajinan anyaman bambu, kebiasaan masyarakat dan aparat penyuluh dan aparat desa. Disamping itu, ada pula faktor penghambatnya, seperti: pemasaran dan permodalan serta inovasi teknologi dan informasi pasar.

Pemberdayaan Masyarakat berbasiskan masyarakat Pedesaan Terpencil adalah kelompok miskin paling rentan diantara kelompok-kelompok miskin pada umumnya. Pemberdayaan masyarakat pedesaan terpencil perlu dilakukan dengan mengikutkan mereka dalam perencanaan program-program pembangunan, dan menyertakan mereka sebagai pelaku aktif proses perubahan yang dilakukan. Untuk itu mereka perlu mempunyai akses terhadap informasi tentang berbagai hal yang menyangkut kehidupan mereka, mendorong mereka mengorganisasikan diri dalam kelompok-kelompok yang mampu menyuarakan kepentingan dan menyelesaikan masalah yang dihadapi secara mandiri. Upaya pemberdayaan masyarakat perlu didukung oleh pelaku-pelaku

69

yang profesional, yang mempunyai kemampuan, komitmen dan perhatian pada masyarakat pedesaan terpencil yang relatif kurang pendidikan. Berbagai teknik dan bentuk-bentuk prasarana dan sarana serta pola-pola pelayanan khusus perlu diciptakan.

Perubahan-perubahan yang dihasilkan oleh upaya-upaya pemberdayaan masyarakat pedesaan terpencil lambat laun diharapkan akan meningkatkan kualitas kehidupan mereka, menjadikan mereka lebih berdaya, mampu melepaskan diri dari keterbelakangannya, dan menjadi masyarakat yang maju dan mandiri.

B. Saran

1. Bagi pemerintah: diharapkan mampu memberdayakan masyarakat melalui kerajinan anyaman bambu di Desa Sawakong Kecamatan Galesong Selatan Kabupaten Takalar.

2. Bagi masyarakat: memanfaatkan usaha kerajinan anyaman bambu di Desa Sawakong Kecamatan Galesong Selatan Kabupaten Takalar.

3. Untuk tetap melestarikan seni anyam bambu hendaknya dibentuk sebuah lembaga desa yang bisa memasarkan hasil produksi anyaman bambu.

4. Bagi para pengrajin hendaknya berusaha lebih kreatif lagi dalam membuat anyaman bambu.

70

DAFTAR PUSTAKA

Awang, Azam.2010, Implementasi pemberdayaan pemerintah desa. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar

Darwanto, Herry. 2012, Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan Berbasiskan Masyarakat Terpencil. Yogyakarta: Graha Ilmu

71

Drucker, Peter. 1970, Ilmu Bisnis. Bandung : Graha Ilmu

Fahmi, Irham. 2013, Kewirausahaan Teori, kasus dan solusi. Jakarta Selatan:

Alfabeta

Mustadjab, Widjajono, 1987, Salesmanship-Kecakapan Menjual, Penerbit Usaha Nasional, Surabaya

Solihin, Dadang. 2011, Konsep Pemberdayan Masyarakat. Yogyakarta: Graha Ilmu

Suharto, Edy. 2011, Konsep Pemberdayan Masyarakat. Yogyakarta: Graha Ilmu Wannamaker, Jhon. 1985, Ilmu Menjual. Yogyakarta : Alfabeta

Wiraatmaja, Didi., 2006, Seni Anyaman.

Yayung, Muhammad. 2010, Seni Anyaman.

Zulkarnain. 2012, Ilmu Menjual Pendekatan Teoritis dan Kecakapan Menjual.

Yogyakarta: Graha Ilmu

file:///C:/Users/gonggo/Downloads/Makalah%20_%20Bambu%20Indonesia.htm diakses pada hari Selasa, tanggal 11 Maret 2014 pukul 17.08

file:///C:/Users/gonggo/Downloads/Ade%20Rahayuningsih%20%20Anyaman%2 0Bambu.htm diakses pada hari Selasa, tanggal 11 Maret 2014 pukul 17.15 file:///C:/Users/gonggo/Downloads/materi%20contoh%20makalah%20tentang%2

0SENI%20ANYAMAN.htm diakses pada hari Selasa, tanggal 11 Maret 2014 pukul 17.20

file:///C:/Users/gonggo/Downloads/TUSRO%20MARDIO%20BLOG%20%20co ntoh%20skripsi%20seni%20rupa.htm diakses pada hari Selasa, tanggal 11 Maret 2014 pukul 17.45

Dokumen terkait