BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Keharmonisan Keluarga
1. Pengertian Keharmonisan Keluarga
Keharmonisan keluarga merupakan dambaan setiap pasangan suami istri karena dalam keharmonisan itu terbentuk hubungan yang hangat antar anggota keluarga juga merupakan tempat yang menyenangkan serta positif untuk hidup. Keluarga harmonis adalah sebuah anggota yang penuh cinta kasih, saling menghargai dan mensyukuri, sehingga keributan dan ketegangan antara anggota keluarga yang menyebabkan ketidak harmonisan dapat dihindari.
Secara terminologi keharmonisan berasal dari kata harmonis yang berarti serasi, selaras. Titik berat dari keharmonisan adalah keadaan selaras atau serasi. Keharmonisan bertujuan untuk mencapai keselarasan dan keserasian, dalam kehidupan rumah tangga perlu menjaga kedua hal tersebut untuk mencapai rumah tangga.
Menurut Daradjat, 1994 bahwa: keluarga harmonis adalah keluarga di mana setiap anggotanya menjalankan hak dan kewajibannya masing-masing. Terjalin kasih sayang, saling
pengertian, komunikasi dan kerjasama yang baik antara anggota keluarga.
Menurut Nick, 2002 bahwa: keluarga harmonis merupakan tempat yang menyenangkan dan positif untuk hidup, karena anggotanya telah belajar beberapa cara untuk saling memperlakukan dengan baik. Anggota keluarga dapat saling mendapatkan dukungan, kasih sayang dan loyalitas. Mereka dapat berbicara satu sama lain, mereka saling menghargai dan menikmati keberadaan bersama.
Kehidupan rumah tangga yang penuh kemesraan dan kebahagiaan, penuh ketentraman jasmani dan rohani, dan penuh dengan keimanan tentu merupakan dambaan semua orang. Namun kenyataan yang terjadi betapa banyak orang yang kehilangan kebahagiaan ini. Bahkan yang lebih parah, betapa banyak kehidupan rumah tangga yang harus berakhir dengan permusuhan di antara dua pasangan.
Sebagian rumah tangga bisa berjalan tanpa perpisahan, namun tidak ada aroma kemesraan, tidak ada kasih sayang, tidak ada canda, dan tidak ada tawa. Kehidupan ini terasa begitu kaku.
Bukankah rumah tangga adalah sarana yang sangat memungkinkan meraih kebahagiaan diantara dua pasangan yang menjadi pertanyaan, kenapa sering didapati rumah tangga yang kosong dari kemesraan dan yang ada hanya kelakuan, yang lebih aneh lagi
terkadang didapati kondisi seperti ini pada dua pasang sejoli yang dikenal berpegang dengan sunnah-sunnah Rasul.
Tentu sebab-sebab timbulnya hal ini banyak, namun sebab utama yang biasa terjadi adalah kedua pasangan atau salah satunya tidak menunaikan tugas-tugas rumah tangga dengan baik sesuai dengan syari’at Islam. Jika sang istri benar-benar menjadi istri shalehah yang sejati menunaikan tugasnya dengan baik, tidak diragukan lagi tentang janji Allah bahwa kebahagiaan dan kemesraan akan diperoleh dalam pernikahan.
Kehidupan keluarga yang penuh cinta kasih tersebut dalam Islam disebut mawaddah-warahmah, yaitu keluarga yang tetap menjaga perasaan cinta; cinta terhadap suami-istri, cinta terhadap anak, juga cinta pekerjaan. Perpaduan cinta suami istri ini akan menjadi landasan utama dalam berkeluarga. Islam mengajarkan agar suami memerankan tokoh utama dan istri memerankan peran lawan yaitu menyeimbangkan karakter suami. Allah berfirman dalam (Q.S Ar-Rum : 21), yaitu
Artinya :“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Marzuki, 2015: 46).
Maksud dari ayat di atas adalah setiap tanda-tanda kekuasaannya ialah Dia menciptakan untukmu istri supaya kamu cenderung merasa tentram kepadanya dan dijadikannya diantaramu rasa kasih dan sayang, Allah ialah nama zat yang Maha suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya.
Ar-Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk- Nya, sedang Ar-Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.Bagian ini akan mengkaji satu aspek kehidupan manusia yang sangat penting dan mendasar, yaitu kehidupan dalam keluarga. Perlu ditegaskan bahwa keluarga adalah miniatur Negara yang menjadi bagian penting dan tumpuan kemajuan atau bahkan kemunduran suatu Negara.
Keluarga yang kuat dan harmonis menjadi modal yang sangat berharga untuk memajukan dan memperkuat suatu Negara.
Sebaliknya, hancurnya suatu Negara bisa dimulai dari hancurnya keluarga, di sinilah pentingnya membangun keluarga yang kuat dan harmonis, untuk membangun keluarga seperti itu dibutuhkan kekuatan
dan aturan yang benar sehingga mengikat para anggota keluarga untuk mematuhi dan melaksanakannya.
Sebagai agama yang lengkap, Islam sudah pasti memiliki aturan tentang pembinaan keluarga, mulai dari bagaimana orang memulai untuk membangun keluarga dan bagaimana membangun relasi antar semua anggota dalam keluarga. Suami (laki-laki), sebagai pemimpin keluarga, harus mampu mengendalikan keluarga sehingga seluruh komponennya mematuhi seluruh aturan dalam keluarga.
Kesejahteraan dan kebahagiaan hidup rumah tangga atau keluarga selalu menjadi tujuan dan tumpuan harapan setiap insan khususnya kaum Muslim. Di mana kesejahteraan dan kebahagiaan hidup berumah tangga ini mempunyai pengertian terpenuhinya kebutuhan hidup rumah tangga lahir dan batin, jasmaniah, dan rohaniah, serta mendapat ridha Allah Swt.
Hidup sejahtera adalah suatu kehidupan yang mendapat limpahan nikmat Allah yang bersifat material bagi limpahan kebutuhan jasmaniah. Sedangkan hidup bahagia adalah suatu kehidupan yang mendapatlimpahan rahmat dan ridha Allah Swt yang dapat memberikan suatu ketentraman dan dan ketenangan terhadap seluruh ekspresi kejiwaan manusia. Semuanya itu merupakan suatu karunia Allah Yang Maha Besar dan tidak ada tolak bandingannya, sehingga
tidak ada seorang pelukispun yang sanggup menggambarkannya, dan tidak ada seorang pengarangpun yang sanggup menulisnya.
Pelaksanaan utama dari rumah tangga kuncinya terletak ditangan orang tua terutama ibu. Ibu mempunyai kedudukan yang strategis dalam lingkungan keluarga sehingga menjadi penggerak dalam proses pembinaan kesejahteraan keluarga pada umumnya, menciptakan keharmonisan dan kebahagiaan bersama.
Keharmonisan tersebut dapat terwujud keseimbangan dan kesesuaian alam pikiran, persamaan dan perbuatan masing-masing individu anggota keluarga sehingga tidak terjadi hal-hal yang menegangkan secara berlebih-lebihan. Sedangkan kebahagiaan keluarga ditentukan antara lain oleh kedewasaan jiwa suami istri dengan adanya rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri, terhadap masyarakat dan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, memiliki sikap terbuka tanpa prasangka, memiliki rasa sosial, tidak lekas putus asa, sanggup menciptakan keseimbangan antara kepuasan lahiriah dan kepuasan batiniah.
Oleh karena itu rumah tangga merupakan institusi penting dalam proses perkembangan manusia seutuhnya, maka pemegang peran utamanya yaitu ibu, yang secara biologis dan psikologis lebih dekat dengan anak-anaknya dituntuk untuk memiliki kesadaran yang tinggi dalam merealisir rumah tangga tersebut. Setiap anggota
keluarga dalam rumah tangga berkewajiban untuk membangun rumah tangganya sehingga menjadi rumah tangga atau keluarga yang sejahtera dan bahagia lahir bathin, di mana suasana dan ketentraman hidup tercipta di dalamnya. Pembangunan rumah tangga atau keluarga yang sejahtera ini merupakan kewajiban kedua setelah pembinaan diri pribadi. Pembangunan rumah tangga ini merupakan langkah pertama dalam melaksanakan hubungan pergaulan sosial (kemasyarakatan), atau hablun minannas.
Membangun keluarga yang sejahtera dan bahagia berarti mempertahankan terwujudnya kehidupan masyarakat dan negara yang sejahtera, adil dan makmur, maka harus diperhatikan oleh setiap Muslim. Oleh karena itu, dengan membangun atau mewujudkan satu pembinaan terhadap terwujudnya kesejahteraan keluarga itu, berarti turut meletakkan satu landasan yang fundamental terhadap usaha pembangunan satu masyarakat dan negara sebagaimana yang ditentukan oleh Dienul Islam. (Getteng, 1997: 72).
Untuk membangun keluarga yang harmonis dibutuhkan aturan yang benar dan memiliki kekuatan untuik dipatuhi, Islam menawarkan aturan untuk hal tersebut. Alquran dan hadist Nabi, sebagai dua sumber pokok ajaran Islam, sudah menggariskan aturan-aturan untuk berbagai hubungan dalam keluarga tersebut, meskipun tidak secara detail yang kemudian diperjelas oleh pendapat ulama (fiqh). Akhlak merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang universal meliputi seluruh
aktivitas manusia baik dalam rangka berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, maupun lingkungan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan berdasarkan norma-norma Agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.
Dari konsep akhlak ini, muncul konsep pendidikan akhlak, Ahmad Amin (1995: 62) bahwa: menjadikan kehendak (niat) sebagai awal terjadinya akhlak (karakter) pada diri seseorang jika kehendak itu diwujudkan dalam bentuk pembiasaan sikap dan perilaku. Keluarga adalah satu-satunya sistem sosial yang diterima oleh semua masyarakat, baik yang agamis maupun nonagamis. Keluarga memiliki peran, posisi, dan kedudukan bermacam-macam di tengah-tengah masyarakat, keluarga juga memiliki peran yang sangat penting dan cukup luas.
Dari keluarga ini pula tumbuh masyarakat yang maju, peradaban modern, dan perkembangan-perkembangan lainnya, termasuk karakter manusia. Bagi anak, keluarga merupakan lingkungan pertama tumbuh dan berkembang, baik fisik maupun psikis. Oleh karena itu keluarga memiliki peran yang sangat penting bagi anak untuk membangun fondasi pendidikan yang amat menentukan baginya dalam mengikuti proses-proses pendidikan selanjutnya.
Diakui bahwa keluarga merupakan unsur terpenting dalam pembentukan kepribadian anak pada pase perkembangan. Berbeda dengan fase-fase berikutnya, fase perkembangan ini memiliki peran yang besar dalam penentuan kecenderungan-kecenderungan anak.
Pada fase perkembangan anak mampu mengenal dirinya dan membentuk kepribadiannya melalui proses perkenalan dan interaksi antara dirinya dengan anggota keluarga yang ada disekitarnya. Pola pikir anggota keluarga sangat memengaruhi perkembangan anak.
Oleh karena itu pada fase pertama perkembangan anak, keluarga (kedua orangtua) berperan sebagai pembentuk akhlak sosial yang pertama bagi anak. Pembentukan akhlak ini dilakukan dengan mengarahkan, membimbing, dan mendidik anak sehingga mengetahui berbagai nilai, perilaku, serta kecenderungan yang dilarang dan diperintahkan. (Mustafa, 2003: 42)
Keluarga juga bertanggungjawab untuk mempersiapkan anak siap berbaur dengan masyarakat, peran keluarga yang lain adalah mengajarkan kepada anak tentang peradaban dan berbagai hal yang ada di dalamnya, seperti nilai-nilai sosial, tradisi, prinsip, keterampilan dan pola perilaku dalam segala aspeknya, dalam hal ini keluarga harus benar-benar berperan sebagai sarana pendidik dan pemberi nilai-nilai budaya yang mendasar dalam kehidupan anak, untuk itu keluarga (kedua orang tua) harus membekali anak dengan
pengetahuan bahasa dan agama, mengajarinya berbagai pemikiran, kecenderungan dan nilai-nilai akhlak yang baik. (Mustafa, 2003: 43)
Anak menjadi komponen yang sangat penting dalam keluarga karena kelangsungan keluarga pada masa-masa berikutnya berada dipundaknya. Oleh karena itu, anak harus menjadi perhatian utama orang tua agar ia dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dengan segala potensi yang dimilikinya, para ahli pendidikan telah menyepakati pentingnya periode kanak-kanak dalam kehidupan manusia. Pada masa-masa awal kehidupan, anak memiliki kesempatan yang paling tepat, mengingat pada masa-masa ini kepribadian anak mulai terbentuk dan kecenderungannya semakin tampak. Masa-masa awal ini juga sangat tepat untuk memulai pendidikan Agama sehingga anak dapat mengetahui mana yang diperintahkan (wajib) dan mana yang dilarang (haram). Pada masa- masa ini pula proses pembentukan akhlak anak harus diperhatikan dengan baik. Lingkungan di sekitar anak harus benar-benar diperhatikan sebab anak dapat merespon berbagai pengaruh lingkungan dengan cepat. Anak akan merespon apa saja yang ada di sekitarnya tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu.
Seperti halnya sekolah, keluarga memiliki arti penting bagi pendidikan sekaligus perkembangan karakter anak. Namun, corak dan ragam keluarga memiliki kekhasan dalam melakukan pendidikan yang berbeda dengan corak pendidikan yang dilakukan di sekolah,
dalam keluarga, pendidikan berjalan bukan atas dasar tatanan ketentuan yang diformalkan, melainkan tumbuh dari kesadaran moral antara orangtua dan anaknya.
Oleh karena itu, pendidikan akhlak dalam keluarga dilakukan bukan atas dasar rasional semata, melainkan karena kesadaran emosional kodrati yang tidak lain karena adanya kewajiban dan tanggung jawab bagi orang tua terhadap anaknya, di sinilah perbedaan yang mencolok dalam pendidikan akhlak di sekolah yang dilakukan oleh guru terhadap para peserta didiknya dengan pendidikan akhlak dalam keluarga yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak-anaknya.
Sebagai lingkungan yang paling dekat dengan kehidupan anak, keluarga memiliki peran strategis dalam pembinaan akhlak anak. Ikatan emosional yang kuat antara orang tua dan anak menjadi modal yang cukup signifikan untuk pembinaan akhlak dalam keluarga.
Inilah keunggulan pendidikan akhlak dalam keluarga jika dibandingkan dengan pendidikan akhlak di sekolah. Nilai-nilai akhlak seperti kejujuran, kasih sayang, kedisiplinan, kesabaran, ketaatan, tanggung jawab, hormat kepada orang lain, dan kerelegiusan sejak dini sudah diajarkan dan dibiasakan orang tua kepada anak-anaknya dalam keluarga. Cara-cara alami pembinaan akhlak seperti sapaan, teguran, pertanyaan, pujian atau sikap diam dan mungkin juga hukuman orang
tua terhadap anak-anaknya merupakan pendidikan akhlak yang kondusif dan efektif bagi anak dalam keluarga.
Sebagaimana dipahami bahwa keluarga mempunyai pengaruh terhadap perilaku dan akhlak anak, maka keharmonisan keluarga sangat menentukan dan berpengaruh terhadap baik buruknya perilaku anak. Keluarga yang harmonis yaitu di mana dalam keluarga terdapat adanya permanensi yaitu lamanya perkawinan yang berada dalam suasana bahagia dan sejahtera bagi suami istri, adanya penyesuaian dalam kehidupan seksual dan penyesuaian terhadap sikap kepribadian masing-masing, adanya keselarasan dan perpaduan yang tercermin dalam cara dan usaha merencanakan mendidik anak, minat dan tujuan hidup serta adanya keakraban diantara anggota keluarga.
Dengan keluarga yang harmonis seperti ini akan memberikan pengaruh terhadap pembinaan pribadi anak yang tenang, terbuka dan mudah dididik karena ia mendapat kesempatan yang cukup dan baik untuk tumbuh dan berkembang. Sehingga akhlak anak akan mudah dididik dan dipengaruhi oleh suasana keluarga yang harmonis, tapi hubungan orang tua yang tidak serasi banyak perselisihan dan percekcokan akan membawa anak kepada pertumbuhan pribadi yang sukar dan tidak mudah dibentuk karena ia tidak mendapatkan suasana yang baik untuk berkembang sebab selalu terganggu oleh suasana orang tuanya.
Keharmonisan keluarga menjadi kunci suksesnya pendidikan akhlak pada anak. Keluarga yang harmonis menjadi lingkungan yang sangat kondunsip bagi anak dalam tumbuh-kembang fisik dan mental, sikap, serta perilaku sehari-hari. Anak-anak nakal yang melakukan tindakan kriminal di masyarakat juga banyak yang disebabkan oleh keluarga mereka yang tidak harmonis. Kenakalan ini muncul karena tidak adanya figur teladan di keluarga yang menjadi panutan (model) bagi anak dalam bersikap dan berperilaku. Sebaliknya, banyak juga bukti bahwa kesuksesan anak dalam pendidikan bahkan sampai sukses berkarier karena ditopang oleh keharmonisan keluarganya, meskipun keluarga ini tidak berlebih dalam hal ekonomi (tidak kaya).
Dalam pendidikan akhlak keluarga merupakan pembentukan akhlak utama bagi anak, dilihat dari beberapa pengertian ilmu akhlak dan unsur-unsur yang terdapat di dalamnya, ilmu akhlak sebagai ilmu yang tidak berdiri sendiri karena berkaitan dengan tingkah laku manusia, dan ilmu akhlak sebagai ilmu yang memiliki akhlak yang sama dengan cabang ilmu lainnya dalam ilmu-ilmu sosial dilihat dari berbagai pendekatan yang digunakan untuk mengetahui gejala jiwa manusia dengan mengacu pada segala sesuatu yang konkret untuk mengetahui segala yang abstrak, atau perbuatan sebagai gambaran isi hati manusia.
Ya’qub (1993: 12), menjelaskan bahwa secara terminologis ilmu akhlak adalah ilmu yang menentukan batas antara yang baik dan
buruk, antara yang terpuji dan yang tercela tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin. (Hamid. Ilmu Akhlak. 2010).
Dalam keluarga orang tualah yang menjadi tempat pertama pembentukan akhlak anak, di keluarga inilah anak-anak pertama kali mendapatkan pendidikian di samping juga mendapatkan sosialisasi berbagai hal yang tumbuh dan berkembang dalam keluarga, dalam keluarga anak banyak melakukan proses pendidikan nilai dari orang tuanya, seperti cara bertutur kata, berfikir dan bertindak. Orang tualah yang menjadi model utama dan pertama dalam hal pendidikan akhlak.
Untuk menjadi orang tua, hanya prasyarat biologis yang diperlukan sedangkan untuk menjadi pendidik dibutuhkan pengalaman, keahlian dan pemahaman tentang ilmu pendidikan (pedagogi). Doni Koesoema akhirnya menyimpulkan, visi pendidikan dan keyakinan filosofis serta pengalaman pribadi orangtua tentang pendidikan anak inilah yang menentukian berhasil tidaknya orangtua menjadi pendidik nilai dan akhlak bagi anak-anaknya (Koesoema, 2007: 181).
Kenyataannya, tidak semua orang tua memiliki kompetensi yang memadai untuk menjadi pendidik, meskipun mereka memiliki hak istimewa untuk menjadi pendidik dalam masa-masa awal pertumbuhan anak. Tidak sedikit anak yang mendapatkan pendidikan yang kurang baik dalam keluarganya sehingga proses penanaman
nilai dan pembentukan karakter anak tidak terjadi dengan baik. Ketika anak semakin tumbuh dewasa dan membutuhkan tambahan pengetahuan dan ilmu, ternyata orang tua tidak dapat memenuhinya.
Orang tua memiliki keterbatasan dalam hal kompetensi, metode, dan sarana yang dapat membantu anak menambah pengetahuan dan ilmunya. Oleh karena itu, yang terjadi sekarang adalah hadirnya lembaga-lembaga pendidikan yang membantu agar anak potensi dalam dirinya berkembang lebih baik.
Inilah alasan mengapa pendidikan akhlak menjadi perhatian penting pada masyarakat, terutama pemerintah. Karena banyaknya orang tua yang tidak dapat memberikan pendidikan akhlak dengan baik dalam keluarga, maka pemerintah merasa ikut bertanggungjawab untuk menyediakan pendidikan akhlak yang baik di sekolah untuk menutup kekurangan fungsi orangtua dalam pembentukan akhlak anak-anaknya.Jadi, masyarakat dan Negara harus ikut bertanggungjawab dalam kelanjutan proses pendidikan anak setelah ia memperolehnya dalam keluarga.
Persoalan utama yang muncul adalah relasi antara orang tua, sekolah, dan masyarakat yang tidak selamanya sejalan. Tidak jarang sistem nilai yang ditawarkan oleh masyarakat (juga Negara) tidak sesuai dengan sistem nilai yang diinginkan oleh sekolah dengan sistem nilai yang sudah dibiasakan dalam keluarga dan yang
berkembang di Masyarakat, inilah yang menjadi salah satu faktor kegagalan pendidikan akhlak.
Keberadaan anak dalam suatu keluarga menjadikan keluarga itu terasa hidup, harmonis, dan menyenangkan. Sebaliknya, ketiadaan anak dalam keluarga terasa hampa dan gersang karena kehilangan salah satu ruh yang dapat menggerakkan keluarga itu, di mata seorang ayah anak akan menjadi penolong, penunjang, pemberi semangat, dan penambah kekuatan, di mata seorang ibu anak menjadi harapan hidup, penyejuk jiwa, penghibur hati, kebahagiaan hidup, dan tumpuan di masa depan (Al-Hasyimy, 1997: 199).
Atas dasar kenyataan di atas adalah alqur’an menggambarkan anak sebagai perhiasan dunia sebagaimana harta.
Allah berfirman dalam (QS. Al-Khahfi (18): 46) yaitu:
Artinya: “ Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.”
(Marzuki,2015:71).
Keberadaan anak seperti itu dapat terwujud jika dipersiapkan sejak dini oleh orang tuanya. Pendidikan dan pembentukan kepribadian akhlak anak harus diperhatikan dengan sebaik-baiknya.
Jika tidak, anak justru akan menjadi yang sebaliknya, yaitu menjadi bencana (fitnah) dalam keluarga dan akan menjadi gangguan bagi masyarakat dan umat manusia secara keseluruhan.
Menurut Ibnu Qayyim, tanggung jawab terhadap anak, terutama dalam hal pendidikannya, berada dipundak orang tua dan pendidik (murabbi), apalagi jika anak tersebut masih berada pada awal masa pertumbuhannya. Pada awal pertumbuhannya, anak kecil sangat membutuhkan pembimbing yang selalu mengarahkan akhlak dan perilakunya karena anak belum mampu membina dan menata akhlaknya sendiri. Anak sangat membutuhkan pembina dan qudwah (teladan)yang bisa dijadikan panutan baginya (Al-Hijazy, 2001: 80).
Jadi pndidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam pembinaan akhlak anak.
Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang menjadikan pelatihan dan pembiasaan sebagai sarana dan metode untuk menanamkan karakter mulia dalam jiwa anak. Mewujudkan anak yang lebih baik dan berkualitas adalah tanggungjawab yang harus dipikul oleh orangtuanya. Anak merupakan amanah yang diberikan oleh Allah kepada orangtuanya yang harus dipertanggungjawabkannya nanti di akhirat. Oleh karena itu orangtua wajib menjaga, membesarkan, merawat, menyantuni,dan mendidik anak-anaknya dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang.
Tanggung jawab orang tua terhadap anak-anaknya merupakan tanggung jawab yang berat. Orang tua harus menjaga anak dan seluruh anggota keluarganya agar selamat dari siksa api neraka, dengan tanggung jawab seperti itu, Islam menjadikian orang
tua khususnya ibu, bertanggung jawab penuh penuh pada pendidikan agama Islam secara detail bagi anak-anaknya. Islam mengharuskan orang tua untuk mendidik anak-anaknya beribadah kepada Allah sejak usia mereka masih dini.
Secara praktis kedua orang tua (keluarga) memiliki peran dalam berbagai hal yang berkaitan dengan apa yang didengar dan disaksikan anak melalui berbagai sarana atau media audio visual yang berkembang sangat cepat sekarang ini, seperti televisi dan internet. Keluarga yang baik tentu ikut berperan dalam menentukan hal-hal yang pantas didengar dan dilihat oleh anak, dengan demikian, keluarga harus memperhatikan bahasa, penyampaian, dan bentuk materi yang hendak didengarkan dan diperlihatkan kepada anak.
Keluarga harus melarang anak menyaksikan berbagai pertunjukan yang dapat merusak berbagai pemahamannya tentang nilai-nilai dan norma-norma sosial.
Berbagai gambar, film, atau tayangan yang mengakibatkan kegelisahan dan ketakutan serta mengacaukan kemampuan berkhayal anak harus dijauhkan ini semua akan mengakibatkan berbagai khayalan yang irasional di benak anak. Terkait dengan pendidikan anak, Al-Ghazali mengingkari teori hereditas (naturalisme) yang terlalu mendewa-dewakan faktor keturunan.