BAB II PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER
3. Pengertian Pendidikan Karakter
Dalam buku Konsep dan Model Pendidikan Karakter, Anne Lockwood mendefinisikan pendidikan karakter—yang dikutip oleh Muchlas Samani31 dan Hariyanto32—sebagai aktivitas berbasis sekolah
30Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, h. 510-511
31 Muchlas Samani saat ini menjabat Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Sebelumnya, 2007-2010 menjabat Direktur Ketenagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Pada saat program Pendidikan Karakter digulirkan di Kementerian Pendidikan Nasional di tahun 2009, Muchlas ditunjuk untuk mengoordinasikannya. Saat Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mengembangkan program Karakter Bangsa, Muchlas terlibat aktif mewakili Kemdiknas dan bahkan menjadi koordinator saat menyusun Desain Induk Pembangunan Karakter Bangsa, yang menjadi naskah cetak biru bagi semua kementerian dan lembaga di Indonesia.
Saat kuliah, Muchlas aktif di organisasi kemahasiswaan dan sempat menjadi Ketua Dewan Mahasiswa (sekarang BEM Universitas) IKIP Surabaya (sekarang Unesa) dan terlibat aktif dalam Gerakan Mahasiswa 1978 yang mengantarnya berurusan dengan Kopkamtib di saat itu. Lulus S3 dengan predikat Cum Laude dari Universitas Negeri Jakarta dan diangkat sebagai guru besar bidang pendidikan pada 1 Desember 1997 pada usia 46 tahun. (Muchlas Samani dan Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter, Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2011)
32Drs. Hariyanto, M.S. lahir di Pacitan pada 1952, besar di Surabaya. Sejak lulus SMA pada 1970 di SMA Negeri 3 yang beralamat di Jl. Gentengkali 33 Surabaya (sekarang dipergunakan untuk Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur), melanjutkan ke IKIP Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya) Jurusan Pendidikan Kimia. Ijazah Sarjana Muda diperolehnya tahun 1975 dan ijazah sarjana diraihnya pada 1979. Pada 1987, ia melanjutkan ke program Pasca Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Gelar Magister Sains (M.S.) Kesehatan Masyarakat dengan majoring Kesehatan Lingkungan dan spesialisasi keahlian pengaruh bahan pencemar udara terhadap lingkungan, diperolehnya tahun 1990.
Sejak tahun 1979 banyak menulis opini, baik tentang pendidikan dan lingkungan di harian Surabaya Post, Jawa Pos, dan juga harian Surya. Karya tulis ilmiahnya baik tentang pendidikan maupun lingkungan pernah dimuat dalam Media Pendidikan IKIP Surabaya maupun majalah Media Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur. Kiprahnya dalam dunia pendidikan cukup beragam. Bersama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pernah diutus dalam rangka kerjasama G to G antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Australia sebagai instruktur dan penerjemah bagi instruktur yang berasal dari Australia tentang materi School-Based Management untuk wilayah Indonesia Timur. Pernah juga diutus untuk melakukan evaluasi dan pendampingan terhadap sejumlah sekolah swasta Islam
yang mengungkap secara sistematis bentuk perilaku dari siswa seperti ternyata dalam perkataannya: Pendidikan karakter didefinisikan sebagai setiap rencana sekolah, yang dirancang bersama lembaga masyarakat yang lain, untuk membentuk secara langsung dan sistematis perilaku orang muda dengan memengaruhi secara eksplisit nilai-nilai kepercayaan non- relativistis (diterima luas), yang dilakukan secara langsung menerapkan nilai-nilai tersebut.33
Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.
Pendidikan karakter dapat dimaknai pula sebagai upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil.
Pendidikan karakter juga dapat dimaknai sebagai suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Penanaman nilai kepada warga sekolah maknanya bahwa pendidikan karakter baru akan efektif jika tidak hanya siswa, tetapi juga para guru, kepala sekolah dan tenaga non-pendidik di sekolah semua
(SMP dan SMA) di seluruh Indonesia. Pernah pula diutus untuk melakukan verifikasi kesiapan sejumlah SMP di Indonesia sebagai Sekolah Berstandar Nasional maupun evaluasi terhadap pelaksanaannya setelah ditunjuk menjadi Sekolah Berstandar Nasional. (Muchlas Samani dan Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011)
33 Anne Lockwood dalam Muchlas Samani dan Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter, h. 45
harus terlibat dalam pendidikan karakter.34 Di ranah sekolah, secara sederhana pendidikan karakter adalah hal positif apa saja yang dilakukan guru dan berpengaruh kepada karakter siswa yang diajarnya.
Perwujudan pendidikan karakter sangatlah erat dengan perilaku manusia muda yaitu pemuda bangsa dan hal tersebut merupakan tanggung jawab bersama antara sekolah, orang tua dan masyarakat.
Thomas Lickona35 mendefinisikan orang yang berkarakter sebagai sifat alami seseorang dalam merespons sesuatu secara bermoral yang dimanifestasikan dalam tindakan nyata melalui tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati orang lain dan karakter mulia lainnya. Lickona menekankan tiga hal dalam mendidik karakter, di antaranya knowing, loving and acting the good. Menurutnya, keberhasilan pendidikan karakter dimulai dengan pemahaman karakter yang baik, mencintainya, dan pelaksanaan atau peneladanan atas karakter baik itu.36
Karakter dapat juga diartikan sama dengan akhlak dan budi pekerti.37 Pada masa Orde Baru, saat kebudayaan masih dikelola oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di bawah otoritas Direktorat Jenderal Kebudayaan, telah diterbitkan buku saku Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur (1997). Dalam buku itu ditegaskan bahwa budi pekerti dapat dikatakan identik dengan morality (moralitas). Namun juga ditegaskan bahwa sesungguhnya pengertian budi pekerti yang paling
34Muchlas Samani dan Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter, h. 46
35Thomas Lickona adalah seorang psikolog perkembangan dan profesor pendidikan di Universitas Negeri New York di Cortland, di mana ia mengarahkan “the Center for the 4th and 5th Rs (respect and responsibility)”. Penerima Sandy Lifetime Achievement Award dari Character Education Partnership, ia adalah penulis“Educating for Character”, yangdisebut
"Alkitab dari gerakan pendidikan karakter."
(http://www.simonandschuster.com/authors/Thomas-Lickona/19268358)
36 Thomas Lickona, Educating For Character: How Our School Can Teach Respect and Responsibility, (New York: Bantam Books, 1992), h. 12-22
37 M. Furqon Hidayatullah, Guru Sejati: Membangun Insan Berkarakter Kuat dan Cerdas, (Surakarta: Yuma Pustaka, 2010), h. 10
hakiki adalah perilaku. Sebagai perilaku, budi pekerti meliputi pula sikap yang dicerminkan oleh perilaku. Dalam kaitan ini sikap dan perilaku budi pekerti mengandung lima jangkauan sebagai berikut:
a) Sikap dan perilaku dalam hubungannya dengan Tuhan:
b) Sikap dan perilaku dalam hubungannya dengan diri sendiri;
c) Sikap dan perilaku dalam hubungannya dengan keluarga;
d) Sikap dan perilaku dalam hubungannya dengan masyarakat dan bangsa;
e) Sikap dan perilaku dalam hubungannya dengan alam sekitar.
Dalam desain induk pendidikan karakter antara lain diutarakan bahwa secara substantif karakter terdiri atas 3 (tiga) nilai operatif (operative value), nilai-nilai dalam tindakan, atau tiga unjuk perilaku yang satu sama lain saling berkaitan dan terdiri atas pengetahuan tentang moral (moral knowing, aspek kognitif), perasaan berlandaskan moral (moral feeling, aspek afektif), dan perilaku berlandaskan moral (moral behavior, aspek psikomotor).38 Bila kaitannya dengan moral maka karakter tersebut haruslah yang bernilai baik dan positif dalam pandangan agama, hukum, dan sosial yaitu masyarakat. Pendidikan karakter yang baik tidak bisa berhenti di ranah tahu dan paham saja tanpa adanya aktualisasi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk dapat menerapkannya, kita harus tahu apa dan bagaimana karakter yang baik itu. Karakter yang baik (good character) terdiri atas proses-proses yang meliputi, tahu mana yang baik (knowing the good), keinginan melakukan yang baik (desiring the good), dan melakukan yang baik (doing the good). Kecuali itu, karakter yang baik juga harus ditunjang oleh kebiasaan pikir (habit of the mind), kebiasaan kalbu (habit of the heart), dan kebiasaan tindakan (habit of action). Selanjutnya juga dinyatakan bahwa konfigurasi karakter dalam
38Muchlas Samani dan Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter, h. 49
konteks realitas psikologis dan juga sosio-kultural tersebut dikategorikan menjadi: olah hati (spiritual and emotional development), olah pikir (intellectual development), olahraga dan kinestetik (physical and kinesthetic development), dan olah rasa dan karsa (affective and creativity development).39
Dalam kaitan implementasi nilai-nilai dan proses-proses tersebut di atas, pendidikan bagi anak dilaksanakan dengan maksud memfasilitasi mereka untuk menjadi orang yang memiliki kualitas moral, kewarganegaraan, kebaikan, kesantunan, rasa hormat, kesehatan, sikap kritis, keberhasilan, kebiasaan, insan yang kehadirannya dapat diterima dalam masyarakat, dan kepatuhan. Jadi, pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa.