BAB II: KERANGKA TEORI
D. Semiotika
3. Jenis-Jenis Semeotika
42 Marcel Danesi., Semiotik Media., Penerbit, Yogyakarta: jalasutra. 2010. Hal 165.
45
1) Semeotika komunikasi menekankan pada teori tentang produksi tanda yang salah satu diantaranya mengasumsikan adanya enem faktor dalam komunikasi yaitu pengirim, penerima kode, (sistem tanda), pesan, saluran komunikasi, dan acuan (hal yang dibicarakan).
2) Semiotika signifikasi menekankan pada teori tanda dan pemahamannya dalam suatu konteks tertentu. Pada jenis yang kedua ini tidak dipersoalkan adanya tujuan berkomunikasi sebaliknya yang diutamakan adalah segi pemahaman suatu tanda sehingga proses kognisinya pada penerimaan tanda lebih di perhatikan daripada proses komunikasinya.43
4. Macam-macam semiotik yaitu:
a. Semiotik analitik, yakni semiotik yang menganalisis sistem tanda. Charles Sndres Pierce menyatakan bahwa semiotik berobjekan tanda dan penganalisisnya menjadi ide, objek, dan makna. Ide dapat dikaitkan sebagai lambang, sedangkan makna adalah beban yang terdapat dalam lambang yang mengacu kepada objek tertentu.44
43 Alex Sobur., Semeotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya Analisis. UNTAG Surabaya Repository, 2006. Hal 162.
44 Charles Sandres Pierce., Semiotik Comunication and Cognition., Remaja Rosdakarya Analisis. UNTAG Surabaya Repository, 2008. Hal 154.
46
Masyarakat Jonggat haji merupakan ibadah yang sangat penting sekali terhadap aktualisasi diri terhadap pernyempurnaan haji.
b. Semiotik deskriptif, yakni semiotik yang memperhatikan sistem tanda yang dapat kita alami sekarang, meskipun ada tanda yang sejak dahulu tetap seperti yang disaksikan sekarang. Misalnya, langit yang mendung menandakan bahwa hujan tidak lama lagi akan turun, dari dahulu hingga sekarang tetap saja seperti itu. Demikian pula jika ombak memutih di tengah laut, itu menandakan bahwa laut berombak besar. Namun, dengan majunya ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, telah banyak tanda yang diciptakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya.45
Dalam konteks memaknai semiotik seperti peci putih sebagai simbol haji sebagai begrond haji untuk mencapai status sosial masyarakat dalam memberikan ruangan khusus untuk menjadi khutbah jum’at.
c. Semiotik faunal (Zoo Semiotik), yakni semiotik yang khusus memperhatikan sistem tanda yang dihasilkan oleh hewan. Hewan biasanya menghasilkan tanda untuk berkomunikasi antara sesamanya, tetapi juga sering
45 Halliday., Language Social Semiotic. Amazon Business,1978. hal 160
47
menghasilkan tanda yang dapat ditafsirkan oleh manusia. Misalnya, seekor ayam betina yang berkotek- kotek menandakan ayam itu telah bertelur atau ada sesuatu yang ia takuti. Tanda-tanda yang dihasilkan oleh hewan seperti ini, menjadi perhatian orang yang bergerak dalam bidang semiotik faunal.
Dalam konteks ibadah haji selalu memiliki nilai lebih mulai dari simbol-simbol tata berbusana, budayanya dan tata bahasa yang sopan untuk mencerminkan ibadah haji yang seharusnya.
d. Semiotik kultural, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang berlaku dalam kebudayaan tertentu. Telah diketahui bahwa masyarakat sebagai makhluk sosial memiliki sistem budaya tertentu yang telah turun temurun dipertahankan dan dihormati.
Budaya yang terdapat dalam masyakarat yang juga merupakan sistem itu, menggunakan tanda-tanda tertentu yang membedakannya dengan masyarakat yang lain.
e. Semiotik naratif, yakni semiotik yang menelaah sistem tanda dalam narasi yang berwujud mitos dan cerita lisan (Folklore). Telah diketahui bahwa mitos dan
48
cerita lisan, ada diantaranya memiliki nilai kultural tinggi.
f. Semiotik natural, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh alam. Air sungai keruh menandakan di hulu telah turun hujan, dan daun pohon-pohonan yang menguning lalu gugur. Alam yang tidak bersahabat dengan manusia, misalnya banjir atau tanah longsor, sebenarnya memberikan tanda kepada manusia bahwa manusia telah merusak alam.
g. Semiotik normatif, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dibuat oleh manusia yang berwujud norma-norma, misalnya rambu-rambu lalu lintas. Di ruang kereta api sering dijumpai tanda yang bermakna dilarang merokok.
h. Semiotik sosial, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh manusia yang berwujud lambang, baik lambang berwujud kata maupun lambang berwujud kata dalam satuan yang disebut kalimat.46 Dengan kata lain, semiotik sosial menelaah sistem tanda yang terdapat dalam bahasa.
46 Halliday., Language Social Semiotic. Amazon Business,1978. hal 160
49
i. Semiotik struktural, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dimanifestasikan melalui struktur bahasa.
Teori semiotik lebih menekankan pada logika dan filosofi dari tanda yang ada di masyarakat dan seringkali Menurut Peirce, logika harus mempelajari bagaimana orang bernalar. Penalaran itu, menurut hipotesis teori Peirce yang mendasar, dilakukan Pemikiran pengguna tanda merupakan hasil pengaruh dari berbagai konstruksi sosial dimana pengguna tanda tersebut berada.47 Peirce membedakan tipe-tipe tanda menjadi ikon (icon), indeks (index), dan lambang (symbol) yang didasarkan atas relasi diantara representamen dan objeknya. Dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Icon: sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang serupa dengan bentuk objeknya (terlihat pada gambar atau lukisan);
2) Index: sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang mengisyaratkan petandanya; dan
47 Rahmat Kriyantono.,Teknik Praktis Riset Komunikasi. Penerbit, Jakarta: Kencana Perdana, 2006. Hal 96.
50
3) Symbol: sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang oleh kaidah secara konvensi telah lazim digunakan dalam masyarakat.48
48 Charles Sander Peirce. The Esential Writings. Penerbit, Harper dan Row, 1972.
Universitas Californi. Hal 201.
51 BAB III
METODE PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dimana penulis dituntut untuk lebih banyak menggunakan logika, karena data yang diperoleh dari lapangan lebih banyak yang bersifat informasi dan keterangan-keterangan yang berbentuk uraian, bukan dalam bentuk angka. Husaini dan Purnomo menjelaskan bahwa
‘’metodologi’’ penelitian kualitatif dilakukan dalam situasi yang wajar (natual setting) dan data yang dikumpulkan umumnya bersifat kualitatif.
Sejalan dengan itu Lexy j. Melong juga menerangkan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan prosedur analisis yang tidak menggunakan prosedur analisis statistik atau cara kuantifikasi lainnya.
Sedangkan menurut Jane Richie, penelitian kualitatif adalah upaya untuk menyajikan dunia sosial, dan persepektif di dalam dunia, dari segi konsep, prilaku, persepsi dan persoalan tentang manusia yang diteliti.
B. Lokasi Penelitian
Penelitian ini berlokasi di Lombok Tengah.Adapun sampel dalam penelitian kualitatif tidak disebut responden,
52
tetapi sebagai sumber, atau partisipan, informan, masyarakatdalam penelitian.Dalam penelitian ini.Peneliti memilihmeneliti di Kabupaten Lombok Tengah, disebabkan karena para informan yang menjadi sumber data berada di wilayah-wilayah tersebut.
C. Kehadiran Peneliti
Kehadiran peneliti yaitu sebagai instrumen kunci, untuk mengumpulkan data, kemudian peneliti mengajukan beberapa pertanyaan yang menyangkut isi dari penelitian.Dan peneliti langsung juga melibatkan diri dalam kehidupan subjek yang berkaitan dengan objek penelitian yang telah ditetapkan oleh peneliti sesuai jadwal penelitian.Sebagai pengumpul data maka peneliti berusaha mengumpulkan data-data yang diperoleh baik dari hasil interview, observasi dan metode dokumentasi, selain itu juga kehadiran peneliti di lokasi penelitian bertindak sebagai partisipan.
D. Sumber dan Jenis Data
Sumber informasi yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer dan sekunder.Menurut Lofland dan Lofland dalam Moleong, sumber data utama (primer) dalam
53
penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan.49Dalam tesis ini sumber data primer yang dimaksud adalah berupa hasil wawancara mendalam (dept interview) dan observasi.Wawancara langsung dilakukan dengan para informan penelitian.Sebagai data sekunder adalah dari sumber kepustakaan dan referensi-referensi lain, seperti artikel, jurnal, ataupun dokumentasi yang dimiliki yang dianggap relevan dengan topik yang sedang diteliti dan dapat menunjang sepenuhnya penelitian ini.
E. Teknik Pengumpulan Data
Dalam metode penelitian kualitatif, peneliti merupakan instrumen utama (keyinstrument).Hakikat peneliti sebagai instrumen utama diaplikasikan dalam penggunaan teknik pengumpulan data. Teknik pengumpulan data dalam metode penelitian meliputi: wawancara, observasi serta penggalian dokumen (catatan atau arsip).
1. Wawancara
Wawancara dilakukan terhadap informan sebagai narasumber data dengan tujuan memperoleh dan menggali sedalam mungkin informasi tentang fokus penelitian. Dengan kata lain, keterlibatan yang agak lebih aktif (moderat) yaitu dengan mencoba berpartisipasi,
49Lexy J Maleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), hal. 157.
54
melibatkan serta berusaha mendekatkan diri dengan para informan. Wawancara juga dilakukan untuk mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian, kebulatan merekonstruksi, kebulatan kebulatan demikian sebagai yang dialami masa lalu. Memproyeksikan kebulatan-kebulatan sebagai yang telah diharapkan untuk dialami pada masa yang akan datang, memverifikasi, mengubah dan memperluas informasi yang diperoleh dari orang lain, baik manusia maupun bukan manusia (triangulasi), dan memverifikasi, mengubah dan memperluas kontruksi yang dikembangkan oleh peneliti sebagai pengecekan.50
Proses wawancara dilakukan dalam lima tahap, yaitu (1)menentukan informan yang akan diwawancarai, (2)mempersiapkan kegiatan wawancara, sifat pertanyaan, alat bantu, menyesuaikan waktu dan tempat, membuat janji (3)langkah awal, menentukan focus permasalahan, membuat pertanyaan-pertanyaan pembuka (bersifat terbuka dan terstruktur), dan mempersiapkan catatan sementara (4) pelaksanaan melakukan wawancara sesuai dengan persiapan yang dikerjakan (5)menutup
50Ibid.,hal. 187.
55
pertemuan. Ditahap awal menyusun proposaltesis peneliti telah melakukan wawancara sekilas dengan beberapa informan haji yang sering terlihat dikalangan masyarakat sebagai sumber observasi khususnya di lingkungan masyarakat setempat. Dalam kegiatan wawancara unsur-unsur yang menjadi pegangan adalah (1) fokus permasalahan yaitu hasil observasi atau wawancara di lapangan (2)pertanyaan-pertanyaan bersifat terbuka dan terstruktur untuk diperdalam (3)tanggap terhadap situasi dan kondisi serta tempat wawancara, kesibukan tugas narasumber, kebosanan, dan variasi jawaban yang bisa mencerminkan unsur emosi (4)menciptakan keakraban (5)berpilaku merendah (low profile). Hasil wawancara ini dituangkan dalam satu struktur ringkasan. Unsur-unsur yang tercakup dalam ringkasan itu sama seperti ringkasan observasi. Dimulai dari penjelasan identitas, deskripsi situasi atau konteks, identitas masalah, deskripsi data. Dalam penelitian, peneliti akan mewawancari masyarakatyang sudah berhaji di Jonggat Kabupaten Lombok Tengah tahun 2018 dengan memilih yang akan di wawancarai criteria harus yang bergelar haji. Sejalan dengan itu, permasalahan penelitian ini dapat dijawab dengan
56
mencermatikata-kata dan melihat tindakan.Kata-kata dimaksud adalah keterangan para penyandang gelar haji.
Diawali dengan proses klarifikasi data agar tercapai konsistensi, dilanjutkan dengan langkah abstraksi- abstraksi teoretis terhadap informasi di lapangan, dengan mempertimbangkan pernyataan-pernyataan yang sangat memungkinkan dianggap mendasar dan universal.
2. Observasi
Observasi dalam sebuah penelitian diartikan sebagai pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan melibatkan seluruh indera untuk mendapatkan data.Jadi observasi merupakan pengamatan langsung dengan menggunakan penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, atau kalau perlu dengan pengecapan.Instrument yang digunakan dalam observasi dapat berupa pedoman pengamatan, tes, kusioner, rekaman, gambar, dan rekaman suara.
Observasi dilakukan melalui pengamatan langsung di masyarakat.Dimulai dari rentang pengamatan yang bersifat umum, kemudian terfokus pada permasalahan, baik menyangkut makna haji, status sosial.Pengamatan yang dilakukan selanjutnya dituangkan ke dalam bentuk catatan.Isi catatan hasil observasi berupa peristiwa-
57
peristiwa rutin, temporal, interaksi dan interpretasinya.Pengamatan lapangan dilakukan langsung dan terus menerus.51
3. Studi Dokumentasi
Dokumentasi dari asal katanya dokumen yang berasal dari bahasa latin yaitu docere, artinya mengajar, dalam bahasa Inggris disebut document yaitu yang tertulis atau tercetak untuk digunakan sebagai suatu catatan atau bukti. Dokumen merupakan sumber informasi yang bukan manusia (non human sources).52
Selain menggunakan pengamatan dan wawancara, upaya untuk memperoleh data dan informasi yang diharapkan dalam penelitian ini juga dilakukan melalui pengkajian yang mengumpulkan dokumen seperti data- data, foto, dan lain sebagainya yang berbentuk kertas dan gambar lainnya dan dokumen yang berhubungan dengan makna haji dan status sosial bagi masyarakat kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah.
F. Teknik Analisis Data
Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data,
51Nur Aedi. Bahan Belajar Mandiri Metode Penelitian Pendidikan (Instrumen Penelitian dan Pengumpulan Data (Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, 2010), hal.5
52Djam’an Santori,Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta,2014). hal. 1-46.
58
memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceriterakan kepada orang lain.53
Data yang diperoleh melalui observasi, wawancara maupun studi dokumentasi selama berada di lapangan dikumpulkan.Data yang diperoleh dari informan melalui wawancara pada dasarnya masih bersifat emik, yakni berdasarkan pada sudut pandang informasi sendiri.Oleh karena itu data ini masih harus dianalisis dan ditafsirkan oleh peneliti sehingga menjadi data yang lebih bersifat etik, yakni data yang didasarkan pada sudut pandang peneliti.Sedangkan data yang diperoleh melalui observasi dan dokumentasi masih perlu dideskripsikan terlebih dahulu menurut sudut pandang peneliti untuk dianalisis berdasarkan fokus penelitian.
Dalam penelitian kualitatif analisis data secara umum dibagi menjadi tiga tingkatan: (1) analisis data pada tingkat awal, (2) analisis data pada saat pengumpulan data lapangan, dan (3) analisis data setelah selesai pengumpulan data.54
53 Lexy J Maleong., “Metodologi Penelitian Kualitatif”Ṭ (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006). hal. 249
54Burhan Bungin., Analisis Data Penelitian Kualitatif. Raja Grapindo Persada: Penerbit, 2008, hal. 69.
59
1. Analisis Data pada Tingkat Awal
Tahap awal analisis data dimulai sejak pengembangan desain penelitian kualitatif.Pengembangan desain pada dasarnya untuk mempersiapkan reduksi data, semualangkah pada fase ini merupakan rancangan untuk mereduksi data, memilih kerangka konseptual, membuat pertanyaan-pertanyaan penelitian, memilih dan menentukan informan, penentuan kasus, dan instrumentasi.Batasan ini berfungsi untuk mengarahkan dan memfokuskan ruang lingkup penelitian.
Analisis pada tahap awal sifatnya masih terbuka, Pada tahap ini juga analisis dilakukan untuk memilih danmemperjelas variabel-variabel, hubungan-hubungan, serta memperhatikan pemilihan kasus-kasus lain. Upaya ini disebut dengan kerja kreatif peneliti kualitatif.Oleh karena itu desain kualitatif senantiasa dapat diperbaiki.Sesungguhnya analisis pada tingkat desain ini akan lebih baik jika peneliti telah akrab dengan informan, sudah mempunyai perbendaharaan yang dapat dipakai untuk mengembangkan desain.
Dalam proses ini peneliti menulis proposal dengan merumuskan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian dan garis besar isi
60
tesis, landasan teoritis sampai kepada penelitian acuan atau hasil penelitian terdahulu dan metodologi penelitian.
2. Analisis Data pada Saat Pengumpulan Data Lapangan
Setelah data dan informasi yang diperlukan terkumpul selanjutnya dianalisis dalam rangka menemukan makna temuan.Analisis data adalah proses menyusun data agar dapat ditafsirkan.
Menyusun data berarti menggolongkannya kedalam pola, tema, atau kategori tafsiran atau interpretasi artinya memberikan makna kepada analisis, menjelaskan pola atau kategori, mencari hubungan antara berbagai konsep.55
Analisis data dalam penelitian kualitatif bergerak secara induktif yaitu data dan fakta dikategorikan menuju ke tingkat abstraksi yang lebih tinggi melakukan sintesis dan mengembangkan teori bila diperlukan.
Setelah data dikumpulkan dari lokasi penelitian melalui wawancara, observasi dan dokumen maka dilakukan pengelompokkan danpengurangan yang tidak penting.Setelah itudilakukan analisis penguraian dan penarikan kesimpulan.
55S. Nasution, Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, (Bandung, Tarsito, 1988). hal, 126.
61
Moloeng berpendapat bahwa analisis data juga dimaksudkan untuk menemukan unsur-unsur atau bagian-bagian yang berisikan kategori yang lebih kecil dari data penelitian.56
Data yang baru didapat terdiri dari catatan lapangan yang diperoleh melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi dianalisis terlebih dahulu agar dapat diketahui maknanya dengan caramenyusun data, menghubungkan data, mereduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi selama dan sesudah pengumpulan data.
3. Analisis Data Setelah Selesai Pengumpulan Data Esensi analisis data dalam penelitian kualitatif adalah mereduksi data, karena dalam penelitian kualitatif data yang dikumpulkan harus mendalam dan mencukupi sesuai fokus dan tujuan penelitian. Temuan-temuan yang diperoleh dari penarikan kesimpulan dan analisa data, dirumuskan menjadi suatu temuan umum tentang makna haji dan status sosial bagi Masyarakat Jonggat Kabupaten Lombok Tengah tahun 2018, Temuan umum inilah yang menjadi “benang merah” hasil penelitian.
56Lexy J Maleong.,Metodologi Penelitian Kualitatif.(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006). hal. 10.
62
Proses analisis data dilakukan secara sirkuler dan terus menerus sejak data awal dikumpulkan. Oleh karena itu, kesimpulan yang diambil pada awalnya bersifat sementara. Agar kesimpulan tersebut berdasarkan kepada teori (grounded) maka dilakukan verifikasi selama penelitian.
Verifikasi dilakukan untuk menjamin tingkat kepercayaan hasil penelitian sehingga prosesnya juga akan berlangsung dalam waktu yang sama dengan triangulasi. Setelah analisis data selesai dilakukan, maka ditarik kesimpulan dan merumuskan hasil penelitian mengenai makna haji dan status sosial bagi masyarakat Jonggat Kabupaten Lombok Tengah.57
G. Validitas Data
Dalam penelitian kualitatif, data dapat dinyatakan valid apabila tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan oleh peneliti dengan apa yang sebenarnya terjadi pada obyek yang diteliti. 58 Dalam penelitian kualitatif, pengujian validitas data dapat dilakukan melalui uji kredibiltas data dengan cara triangulasi, yaitu pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu.59
57Ibid hal., 128..
58Sugiyono, Penelitian Kualitatif, (Bandung: Penerbit Alfabeta, 2014), 119.
59Ibid hlm, 125.
63
Terkait uji kredibiltas data dengan cara triangulasi ini, menurut Sugiyono, terdapat tiga macam triangulasi, yaitu:
triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, dan triangulasi waktu.60 Dalam proses menemukan hasil validitas data yang maksimal, dalam penelitian ini peneliti memilih menggunakan pengujian validitas data melalui uji kredibiltas data dengan cara triangulasi sumber dan triangulasi teknik pengumpulan data. Tringulasi sumber data adalah pengumpulan data dari beragam sumber yang saling berbeda dengan menggunakan suatu metode yang sama. Minsalnya, wawancara mendalam tentang cara-cara pengobatan tradisional dapat dilakukan terhadap terhadap para dukun, orang lanjut usia, tukang jamu, dan lain-lain. Tringulasi metode adalah penggunaan sejumlah metode pengumpulan data dalam suatu penelitian.
60Ibid hlm, 127.
64 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PAPARAN DATA A. Gambaran Umum
1. Letak Geografis
Kecamatan Jonggat terletak dibagian barat dari wilayah Kabupaten Lombok Tengah dengan luas wilayah sekitar 71,55 ha atau sekitar 5,29 dari luas Kabupaten Lombok Tengah dan berada diurutan ke-6 dari 12 kecamatan dan terbagi menjadi 13 Desa. Yakni: Desa Labulia, Desa Sukarara, Desa Puyung, Desa Gemel, Desa Barejulat, Desa Bunkate, Desa Nyerot, Desa Batu Tulis, Desa Jelantik, Desa Ubung, Desa Bonjeruk, Desa Prina, dan Desa Pengenjek.
Wilayah Kecamatan Jonggat mempunyai struktur tanah yang cukup subur sehingga kegiatan di sektor pertanian sangat dominan dari aktifitas perekonomian masyarakat. Dilihat dari komposisi luas tanah sawah dengan tanah kering, terlihat luas tanah sawah mempunyai bagian relatif besar yakni sekitar 68,58 sedangkan lahan kering sebesar 31,42. Adapun batas-batas wilayah Kecamatan Jonggat adalah sebagai berikut:
a. Sebelah Utara : Kec. Pringgarata b. Sebelah Timur : Kec. Praya c. Sebelah Selatan : Kec. Praya Barat d. Sebelah Barat : Kab. Lombok Barat 2. Iklim
65
Iklim merupakan salah satu faktor alam yang sangat menentukan bagi kelangsungan pertumbuhan dan perkembangan dari flora dan fauna satu wilayah.Disamping itu iklim sangat berperan terhadap aktifitas perekonomian khususnya di sektor pertanian penggunaan lahan.
Seperti halnya dengan kecamatan-kecamatan lainnya., Iklim di Kecamatan Jonggat mempunyai iklim tropis ditandai dengan musim kemarau yang cukup panjang. Curah hujan tertinggi bulan November dan terendah bulan Agustus.61
3. Pemerintahan
Struktur pemerintahan kecamatan Jonggat sama dengan kecamatan lainnya yang telah dilengkapi dengan aparat pemerintahan sampai ketingkat desa. Pembagian wilayah pemerintahan terbagi menjadi 13 desa dan 129 kampung/dusun.Kelengkapan aparat pemerintahan desa khususnya sampai dengan saat ini telah terpenuhi.Sampai dengan saat ini berkat dukungan masyarakat dan kelengkapan aparat pemerintahan kegiatan pembangunan di bidang ekonomi maupun sosial berjalan dengan lancar dan terus berkembang yang didukung oleh prasarana dan sarana yang memadai.
Disamping itu harapan untuk meningkatkan mutu pelayanan aparat pemerintah terhadap masyarakat terus diupayakan semaksimal mungkin mengingat semakin lengkapnya sarana penunjang pelayanan.Untuk meningkatkan dan memberdayakan aparat pemerintah khususnya
61Katalog Dalam Penerbitan Kecamatan Jonggat Dalam Angaka 2018, (ISBN.979-599- 759-9, Diterbitkan Oleh : Koordinator Statistik Kecamatan Jonggat, 2018), h. 3.
66
pemerintah desa pada berbagai pendidikan dan pelatihan baik yang dilakukan oleh dinas/instansi pemerintah maupun lembaga non pemerintah (LSM, swasta).
4. Keadaan Penduduk
Dilihat dari populasi penduduk kecamatan Jonggat berada pada posisi ke 3 terbanyak dari 12 kecamatan yang terdapat di Kabupaten Lombok Tengah. Jumlah penduduk pada tahun 2017 sebanyak 94.736 jiwa yang terdiri dari 45.577 jiwa penduduk laki-laki dan 49.159 jiwa penduduk perempuan, sehingga rasio jenis kelaminnya (sex ratio) menjadi 93. Ini berarti bila penduduk perempuan berjumlah 100 jiwa maka penduduk laki- laki jumlahnya 93 jiwa.
Sementara itu tingkat kepadatan tahun 2017 sebesar 1.324 jiwa/km2.
Dilihat per desa tingkat kepadatan bervariasi dari yang paling jarang 949 jiwa/km2 yang terdapat di desa Batu Tulis sampai dengan yang paling padat yaitu desa Pengenjek yang mencapai angka 2.250 jiwa/km2.
Sedangkan rata-rata jumlah anggota rumahtangga di Kecamatan Jonggat pada tahun 2017 mencapai 3 orang.
Selanjutnya dapat dijelaskan jumlah penduduk menurut kelompok umur per desa, dari karakteristik ini dapat dihitung penduduk usia kerja atau produktif (15-64 tahun) serta tingkat ketergantungan (dependency ratio)yaitu perbandingan antara penduduk non produktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas) dengan penduduk produktif. Dari kedua jumlah indikator ini maka jumlah penduduk produktif adalah sebesar 58.855 jiwa,